
Pagi-pagi sekali bang Zamy sudah pergi ke kantor, dan pulang lagi menjelang pernikahan papa di KUA. Sementara aku, memang aku izin sehari dengan pak Rianto, Plt. Direktur RS Umum pengganti papa yang sudah resmi mengundurkan diri dari ASN aktif dan menjadi pensiunan.
Dengan mobilku disopiri bang Zamy, kami pergi ke KUA. Dan sungguh, tidak butuh waktu yang lama kami menunggu, karena jadwal pernikahan di hari Rabu, hanyalah papa dan tante Miranti dengan wali hakim. Pernikahan papa hanya dihadiri aku, bang Zamy, mbak Nindya, Nisa dan dokter Hilmi saja. Pernikahan pun berlangsung dengan hikmat, bang Zamy menjadi salah satu saksi pernikahan.
"Selamat ya pa, semoga bisa saling melindungi di masa tua." Aku memeluk papa yang matanya berkaca-kaca menahan haru.
"Semoga kalian sama-sama berbahagia di ujung usia tante. Dan mohon dimaafkan semua yang pernah mama perbuat. Ampuni semua kesalahnya. Dia sudah dipenjara, mudah-mudahan dia bertaubat di dalam sana. Semoga sakinah mawaddah warahmah untuk kalian berdua, lupakanlah semua kenangan pahit selama dua puluh delapan tahun lamanya. Jodoh ini memang milik kalian, maka nikmatilah hingga maut menjemput." Aku memeluk tante Mira yang terisak menangis. Mbak Nindy ikut meneteskan air mata, sedih bercampur bahagia. Nisa yang kebingungan juga berair mata melihat orang-orang dekatnya menangis. Tidak berlama-lama kami di KUA, akhirnya pulang ke rumah. Lucunya di hari pernikahan itu pula, ayah ikut memindahkan kopernya dari rumahku menuju villa. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya, aku tidak akan menceritakannya karena aku tidak tahu apa yang mereka nikmati di malam penyatuan dua hati yang pernah terpisah karena keegoan papa diusia mudanya dulu.
*****
Idul Fitri 1441 H
Hari demi hari telah kami lewati dengan segala warnanya. Pahit manisnya kehidupan kami coba imbangi dengan bijaksana. Papa sudah pindah ke rumah barunya di dekat ruko. Dia memboyong sekalian tante Mira, mbak Nindya dan Annisa. Jarak rumah yang tidak begitu jauh membuat kami masih sering kumpul bersama. Kalau mereka tidak datang ke rumah, kadang kami yang pergi ke rumah papa. Dengan demikian aku jadi begitu menikmati rasanya punya keluarga lain selain keluargaku di Mentok. Sementara villa, kembali ditempati pak Rohim dan Fredy untuk beristirahat.
Seiring berjalannya waktu dan berputarnya roda kehidupan manusia, maka tidak terasa usia kehamilanku memasuki usia enam minggu. Bang Zamy semakin memanjakanku. Apapun keinginanku langsung dipenuhinya. Dia juga aktif mengontrol kesehatanku. Sungguh beruntung memiliki suami yang kompeten sebagai dokter kandungan, serta penyabar dan penyayang.
Sehari menjelang lebaran, kami sudah pulang lagi ke Mentok, kami kumpul di sana. Bang Fathur tetap belum bisa pulang ke Muntok disebabkan covid-19. Jadi kerinduan kami kepada mereka hanya dilampiaskan melalui panggilan video. Sesampainya di Mentok ibu sudah siap dengan segala masakannya. Kari bebek, rendang daging sapi, sambel kerang kupas campur petai dan nanas, ada juga bakso sapi lengkap dengan empat kilo tulang iga, tak lupa lontong sayur dipadukan dengan kuah gulai nangka campur tetelan sapi. Dan yang selalu ada setiap tahun itu sambel asem. Di lemari ibu juga sudah berbaris rapi aneka kue kering dan kue basah, ada yang beli dan ada juga yang dibuat sendiri. Setiap jenis kue kering sudah dimasukkan ke toples masing-masing, aku mencicipi semuanya.
"Makan yang banyak ya nak. Mendengar kalian akan pulang ke Mentok, ibu langsung segera beli bahan-bahan dan masak semua yang adek senangi." Ibu menjelaskan saat aku disuruh mencicipi aneka masakan ibu, Ibu dan bude Marni keduanya berpuasa. Walaupun dibolehkan mencicipi tanpa ditelan, ibu masih saja inginkan semua masakan harus pas di lidahku.
"Kalau banyak mah bukan nyicip kali bu." Aku menjawab. Sementara bang Zamy di hari menjelang lebaran pergi bersama pak RT membagi-bagikan zakat fitrah dan Infaq. Di masjid dekat rumah ibu, saat musim covid-19 tidak dibentuk amil zakat. Namun jika ada yang mau membayar zakat biasa bisa langsung menyalurkan ke orang-orang yang berhak menerima, dan yang tahu persis itu pak RT. Makanya bang Zamy minta ditemani oleh pak RT.
"Sudah habis pak dokter kalau di RT kita. Semua yang berhak sudah dibagikan paket zakat dan infaqnya. Tapi ini masih belasan paket lagi." Pak RT bicara dengan Zamy setelah puas berkeliling dan memberikan paket ke orang terakhir yang berhak di wilayah RT 003 RW 002. Zakatnya memang terhitung sebatas keberadaan kami di rumah, namun ditambah infaq paketnya ada 100 paket. Mobil Hilux bang Rahman yang capek mesinnya hidup mati terus.
"Sisanya kasihkan saja ke pengurus masjid yang biasa menjadi amil zakat pak erte...." Bang Zamy mengusulkan. Dan akhirnya masih dibantu pak RT untuk anggaplah panitia amil zakat paket yang berupa 10 kg beras merk 118 bungkus berwarna biru, 2 liter minyak goreng, 1 kaleng biskuit Konghuan, 1 kg gula pasir dan 1 dus teh kotak itu di drop di rumah pak RT. Mereka disuruh pak RT ambil sendiri di rumah.
"Masih bersisa juga dok...." Pak RT berdiri melihat masih ada 3 paket lagi.
"Owh..., ada yang baru lapor, mau pindah jiwa. Mereka ada di ujung gang Kenari, rumahnya agak angker dok karena sudah puluhan tahun tidak ditempati sejak kakeknya meninggal. Dan baru sekitar seminggu lalu salah satu anaknya datang dengan anak laki-lakinya yang sudah menikah dan miliki dua orang anak."
"Itu yang kata ibu dijauhi anak-anak dan tetangganya dulu ya pak RT." Bang Zamy mengingat cerita ibu dulu. Ada seorang kakek baru ketahuan meninggal dunia setelah warga mencium bau busuk menyengat khas bangkai manusia. Kakeknya bahkan ditinggal istrinya juga karena tidak tahan dengan perangainya. Dan di akhir hayat dia hanya hidup sendiri, kemudian meregang nyawa tanpa didampingi anak dan keluarga lainnya, dia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dengan tubuh sudah membengkak dan mengeluarkan ulat. Kulitnya bahkan sudah lengket di sarung tangan petugas yang mengangkatnya. Semasa hidupnya dengan tetangga tidak pernah akur. Kata ibu pernah waktu tetangga persis sebelah rumahnya sedang membangun rumah. Dia menutup akses jalan dengan meletakkan aneka kayu, seng bekas dan ranting-ranting berduri agar mobil pengangkut material tidak menggunakan jembatan beton depan rumahnya yang memang dia buat sendiri.
"Iya dok, benar itu." Pak RT menjawab tersenyum. Lalu mereka segera pergi ke sana. Aku melihat sebuah rumah tua yang nampak baru dibersihkan dan dicat ulang. Penghuni rumah adalah seorang ibu paruh baya bersama anak laki-laki tertuanya, menantu dan dua orang balita. Berkali-kali bang Zamy menatap ulang wajah ibu paruh baya itu, otaknya dejavu. Bang Zamy merasa pernah melihat kejadian yang sama. Bang Zamy mengatakan dalam hatinya dia pernah melihat ibu itu. Tapi dimana? Bang Zamy belum mampu mengingatnya.
"Assalamualaikum...." Bersalam pak RT yang langsung dijawab tuan rumah. Bang Zamy mengikuti langsung menggotong paket infaq.
"Wah kebetulan pak RT sudah datang. Saya sudah motokopi KTP Pangkalpinang kami pak RT, mohon bantuan untuk mengurus pindah jiwa." Laki-laki seusia bang Zamy itu segera masuk ke dalam rumah dan memberikan fotokopi KTP sebanyak tiga lembar. Karena pak RT sedang mengobrol dengan ibunya, laki-laki yang agak gendut itu memberikan fotokopinya kepada bang Zamy. Sepintas bang Zamy membaca nama yang tertera di fotokopi KTP paling atas.
"Rio Rahardi." Bang Zamy baru menyadari siapa wanita di hadapannya ini. Dia sudah pernah bertemu sewaktu membeli takjil di depan masjid Jamik Pangkalpinang. Wanita ini, dia yang pernah berbicara serius dengan Irwan. Dia yang memberikan Nisa uang dua puluh ribu selembar. Dan Rio Rahardi? Bukankah itu nama mantan suami mbak Nindya di dokumen pernikahan? Bang Zamy kebingungan dibuatnya.
"Maaf ibu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Bang Zamy bertanya sambil memberikan fotokopi KTP ke pak RT. Ibu paruh baya itu menundukkan kepala, raut wajahnya bercampur antara terkejut, sedih dan malu.
"Apa ibu neneknya Annisa?" Apa ibu adalah ibunya Siti yang bekerja di Istana Mebel?" Apa ibu mantan mertuanya mbak Nindya?" Bang Zamy memberondol pertanyaan. Namun si ibu malah semakin tertunduk. Anaknya, Rio yang memperhatikan mendekat kepada bang Zamy.
"Apa bapak mengenal ibuku?" Rio serius menatap bang Zamy.
"Iya, aku mengenalnya secara terbatas. Dan apakah kamu mantan suaminya mbak Nindya?" Bang Zamy balik bertanya. Kening pak RT bergulung-gulung kerutannya karena kebingungan.
"Mbak Nindya? Siapa? Siapa mbak Nindya buk?" Rio malah bertanya kepada ibunya. Ibunya terdiam, dia hanya menatap sesaat ke arah bang Zamy.
"Maaf mungkin bapak salah orang." Wanita paruh baya itu menjawab pelan. Namun gesturenya menyiratkan bahwa dia hanya mencoba menyangkal dan menghindari pertanyaan.
"Maaf bu, kenapa harus ditutupi, bukankah ini bulan puasa, besok sudah lebaran. Ayolah jangan ada kebohongan di antara kita." Bang Zamy tersenyum mencoba mencairkan suasana namun tetap serius menanggapi kebetulan ini.
"Pak Rio bukankah Anda punya anak bernama Annisa?" Bang Zamy balik bertanya ke arah Rio lagi. Namun raut wajahnya semakin kebingungan. Apalagi istrinya, wajahnya langsung berubah pias merah.
__ADS_1
"Maaf pak. Duduklah dulu. Aku menjadi sangat bingung mendengar semua ini." Rio benar-benar kebingungan. Bang Zamy mohon izin sebentar. Dia menanyakan nama lengkap suaminya mbak Nindya melalui sambungan telepon. Dan benar, menurut mbak Nindy berdasarkan surat cerai yang ada padanya nama suaminya memang Rio Rahardi.
"Pak, siapa namanya bapak pak?" Rio bertanya ke bang Zamy.
"Zamy itu Yo, dia adalah dokter kandungan di Pangkalpinang, tapi rumah orang tuanya ada di dekat gang Mantri. Yang rumah besar berpagar beton nomor dua paling ujung itu." Pak RT menjelaskan. Bang Zamy hanya mengangguk dan tersenyum.
"Begini pak dokter Zamy, saya ini baru selesai melaksanakan isolasi mandiri. Saya baru datang dari Kalimantan beserta keluarga. Saya bertahun-tahun memang tidak pulang. Merantau ke sana sejak tamat SMA, buruh kasar pemanen sawit dan sekarang anak saya sudah dua, saya baru pulang lagi. Ini istri saya pertama kali menginjak tanah Bangka. Mohon jangan bingungkan dia. Dan si Siti, iya dia adikku satu-satunya. Memang dia bekerja di Istana Mebel. Tapi Nindya? Annisa? Mereka siapa?" Rio kembali berulang-ulang menatap ibunya. Namun ibunya malah menarik nafas panjang berulang-ulang tanpa berani menatap bang Zamy.
"Terus apa hubungan ibu dengan Irwan?" Bang Zamy kembali bertanya kepada ibunya Rio.
"Irwan? Irwan yang dipenjara karena kasus penculikan?" Rio bertanya.
"Betul Rio, Irwan itulah yang aku maksud." Bang Zamy antusias lagi menjawab.
"Tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya teman saya sekolah waktu SMA dulu. Karena sering ketemu menjemput kami sepulang sekolah, makanya ibuk sama ibunya Irwan kenal bahkan menjadi akrab." Rio menjelaskan. Bang Zamy mengangguk-angguk sedikit mengerti meski masih sangat kebingungan. Kemudian Bang Zamy melalukan panggilan video kepada mbak Nindya dan memperlihatkan wajah Rio Rahardi.
"Mbak Nindy, ini kan mantan suami mbak? Ayahnya Annisa?"
"Bukan Zam, mbak nggak kenal dia."
"Tapi ini KTPnya benar namanya Rio Rahardi lho mbak...."
"Owh gitu, tapi dia bukan ayahnya Annisa lo dek." Mbak Nindya meyakinkan. Kemudian bang Zamy memutar kamera ke arah ibunya Rio.
"Kenapa ibu ada di sana?" Mbak Nindya langsung mengenali.
"Tapi kalau dia mbak Nindy kenal?"
"Wajahnya tidak akan terlupa sampai mbak menghembuskan nafas terakhir." Mbak Nindya menjawab. Bang Zamy dan Rio keheranan, pak RT bingungnya semakin menjadi-jadi. Umpama mengikuti rombongan berjalan. Pak RT baru bergabung di saat mereka hampir sampai pada tujuan. Pak RT tidak sepenuhnya tahu tentang apa-apa saja yang ditemui rombongan di perjalanan sebelum dia berjumpa mereka. Alis dan kening pak RT balapan menaik ke atas.
"Iya buk katakan saja. Apa yang ibu lakukan selama saya pergi?" Rio menimpali.
"Buk, saran saya, ibu jawab saja dengan jujur pertanyaan pak dokter. Dia orang baik kok. Lagian sebagai Ketua RT, saya juga wajib tahu warganya. Apalagi ibu baru pulang lagi setelah bertahun-tahun tidak pulang ke sini. Bahkan waktu menguburkan almarhum ibuk tidak pulang." Pak RT akhirnya ikut nimbrung. Ibu Rio kemudian menarik nafas dalam. Dia mulai membuka suara.
"Sebelumnya maaf ya dok. Saya banyak salah terhadap keluarga dokter."
"Iya tidak masalah." Bang Zamy menjawab. Mereka semua, termasuk istri Rio yang dari tadi hanya diam kebingungan ikut bersiap menyimak mertuanya bicara.
"Sebenarnya yang tertangkap tangan oleh warga orang yang memperk*sa Nindya itu adalah Irwan."
"Hah? Irwan?" Bang Zamy sangat kaget mendengarnya.
"Iya si Irwan. Dia waktu itu sedang mabuk minuman keras. Nah karena tertangkap akhirnya oknum polisi itu dipaksa warga agar menikahi Nindya. Karena tidak ingin reputasi keluarganya hancur, waktu itu pak Wahyu masih menjabat sebagai kepala BKD Propinsi, akhirnya dicarikanlah penyelesaian. KTP Rio yang lama dan mati diolah oleh pak Wahyu menjadi KTP baru yang aktif. Dan berbekal KTP palsu itulah Irwan menikahi Nindya. Agar sempurna kebersihan reputasi keluarganya bu Sofie, Nindya pun dititipkan ke rumah. Irwan juga ikut tinggal dan menetap di rumah sekali-kali. Dan kami memang dibayar bu Sofie agar menyakiti dan membuat Nindya tidak betah dan segera pergi."
"Waktu ketemu di pasar ramadhan kenapa ibu berpura-pura baik?"
"Ibuk baru tahu beritanya kalau Nindy itu rupanya anak pak Ram, seayah dengan dokter hebat di klinik Honey Bee kata orang-orang."
"Ibuk mau menjilat berarti y?" Bang Zamy menanggapi. Ibunya Rio semakin tertunduk.
"Terima kasih ibu informasinya, nanti jika ibu dipanggil sebagai saksi, bicaralah yang sejujurnya di kesaksian. Ibu akan dilindungi hukum, jadi tidak perlu takut." Bang Zamy bicara tegas.
"Nak dokter, tolong jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu. Ibu takut karena Sofie memang selalu mengancamku agar tidak buka mulut."
"Ibu jangan takut, kami bersama ibu nantinya. Oh iya ini kita turunkan saja semuanya pak erte paket infaqnya." Bang Zamy bicara kepada pak RT yang langsung mengangkat 2 sisa paket ke rumah Rio.
__ADS_1
"Sekarang Rio kerja dimana?" Seperti sudah akrab bang Zamy bertanya kepada Rio yang nampak pusing mendengar cerita ibunya.
"Belum dok, mau beres-beres rumah sebentar, kemudian mau mencari pekerjaan. Saya pulang ke sini karena di Kalimantan sudah tidak dipekerjakan lagi di perkebunan sawit. Rumah di Pangkalpinang sudah dikasihkan ke Siti oleh ibu. Ya mau tidak mau pulang ke sini karena hanya ini yang tersisa. Minimal tidak ngontraklah begitu." Rio ramah sekali menjelaskan.
"Kalau butuh pekerjaan nanti coba datang ke rumah ya. Adik saya ada restoran berlokasi di eks Cikulur. Nanti telpon saja saya." Bang Zamy memberikan kartu nama. Rio gembira sekali mendengarnya.
"Terima kasih banyak dok, saya memang benar-benar butuh pekerjaan." Rio tersenyum lebar beserta istrinya. Hanya ibunya yang masih menampakkan kekhawatiran.
"Ibu jangan khawatir, saya tidak akan mencelakakan ibu. Dan ini sekedar THR dari saya bu, terimalah." Bang Zamy mengeluarkan uang ratusan ribu lima lembar dari dompet hitamnya yang ditaro di saku celana sebelah kanan. Dengan sisa rasa malu, ibunya Rio menerima uang dan berterima kasih. Kemudian bang Zamu menyelipkan juga di kantong pak RT dengan jumlah yamg sama. Sebelum pulang bang Zamy juga memberikan dua lembar seratus ribuan kepada anaknya Rio yang tua, sedangkan yang kecil masih berada di gendongan ibunya.
"Kalau sempat main ke rumah om ya lebaran, di rumah om nanti, om kasih vitamin. Tapi jangan lupa pakai masker." Bang Zamy mengelus kepala Rayhan, anak Rio yang pertama. Kemudian bang Zamy pamitan segera pulang.
****
Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga, dan sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga.
Dua pepatah kuno yang masih relevan dengan keadaan Irwan dan keluarganya saat ini. Sesampainya di rumah bang Zamy menceritakan kisah terbongkarnya suami mbak Nindy yang tidak disangka sama sekali.
"Tapi bagaimana mungkin mbak Nindy tidak mengenali Irwan saat penculikan itu terjadi?" Bang Zamy berpikir-pikir tidak mengerti.
"Saat Irwan masih membentak-bentak itu kan mbak Nindynya masih pingsan bang."
"Oh iya ya. Tetapi kan waktu Irwan dibawa ke kantor polisi?"
"Mbak Nindy kan ketakutan, dia bahkan tidak berani melihat ke arah para penculik. Sepertinya dia ada trauma juga bang." Aku menjelaskan. Aku mengingat kembali saat terjadinya penculikam di hari pernikahanku. Mbak Nindy kaget dan dengan raut wajah ketakutan saat kupeluk. Jemarinya menggeruk-geruk ke baju yang aku kenakan. Matanya menunduk saja tanpa berani melihat ke arah mereka yang digiring polisi.
"Iya. Tetapi begitu sangat kebetulan, rupanya yang ngaku-ngaku neneknya Annisa itu adalah orang sekitar sini yang karena sebab ekonomi kembali ke Mentok." Bang Zamy masih tak habis pikir.
"Allah itu kan tidak tidur sayang. Allah tunjukkan kebenaran dengan cara-Nya sendiri." Bang Zamy diam. Dia melihat aku yang sedang sibuk berselancar di dunia maya. Membuka facebook mencari profil Irwan di pertemananku. Kusimpan beberapa fotonya lalu kukirimkan melalui whatapp ke mbak Nindy.
"Mbak, ap mbak mengenal orang ini?" Pesan dibaca, dan terlihat mbak Nindy sedang mengetik pesan.
"Iya dek. Kok bisa kamu dapat fotonya. Itu fotonya Rio, ayahnya si Nisa." Begitu balasan dari mbak Nindya yang lugu. Aku dan bang Zamy berpandangan. Tidak salah lagi. Mbak Nindya yang lugu diperdaya seorang garong tengik seperti Irwan. Betapa banyak dustanya laki-laki yang materialistis, yang selalu mengejar-ngejar untuk menjadi kekasihku. Dia memalsukan identitas di pernikahan setelah sebelumnya memperk*sa. Lalu menindas mbak Nindy bahkan bersama keluarganya.
"Abang tidak habis pikir, berarti Annisa itu anak biologisnya si Irwan...."
"Iya bang, adek juga berpikir begitu. Kita harus merahasiakan hingga usianya Nisa dewasa nanti. Kita harus bekerja sama dengan mbak Nindy dan tante Mira." Bang Zamy mengangguk mendengar jawabanku.
"Dek dimana kamu ketemu si Rio?" Masuk lagi pesan mbak Nindy. Aku memperlihatkan isi pesannya kepada bang Zamy.
"Jawab saja nanti kami ceritakan semuanya saat bertemu." Bang Zamy bicara kepadaku. Lalu aku menulis seperti yang dia katakan.
"Oke." Hanya itu balasannya.
"Nauraaa..., coba cicip ini nak." Mama datang ke ruang keluarga tempat aku dan bang Zamy duduk. Dia membawa semangkok kecil bakso bening dan sepotong iga sapi.
"Hadooohhh..., ibu ini menggoda iman saja." Bang Zamy pergi meninggalkanku yang langsung lahap menyendok sesendok demi sesendok bakso yang sudah didinginkan ibu untukku. Dan akhirnya yang tersisa hanya mangkok kosong dan sendoknya saja.
"Bagaimana rasanya? Sudah pas belum?" Ibu bertanya di sebelahku.
"Hemz..., nggak tau bu. Enak saja rasanya."
"Ya Allah Nauraaa, nyicip sudah semangkok rasanya nggak tau. Gimana sih sayaaaanggg...." Ibu meninggalkanku setelah menggelitik pinggangn dan tengkukku. Aku merinding kegelian.
"Dia baru tau rasanya kalau sudah habis satu panci buuu...." Zamy berteriak dari dalam kamar. Aku tersenyum geli sementara ibu hanya geleng-geleng kepala karena ulahku.
__ADS_1
****