Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 39 Duduklah di Kursi Milikmu Sendiri


__ADS_3

Jam sepuluh pagi, di musim pandemi covid-19. Laki-laki gagah itu mendatangi kapolsek Taman Sari. Suasana kantor masih sepi, di meja depan hanya ada tiga orang petugas jaga sambil mengobrol dengan asyiknya. Dua orang duduk di kursi besi tinggi seperti kursi yang biasa ada di kafe-kafe. Hanya satu orang duduk di kursi biasa, dia menghadap laptop dan satu buah printer yang di atasnya ada satu rim kertas kosong. Di meja ada sebuah buku tamu besar dengan satu pena terselip di dalamnya.


"Selamat pagi, permisi pak. Saya mau ketemu sama Kapolseknya bisa?" Laki-laki itu bicara ramah. Dia dipersilahkan duduk oleh salah satu petugas yang seketika berhenti dari obrolannya. Dia memantapkan kursi yang tadi diputar-putar saja saat mengobrol.


"Maaf pak, ada keperluan apa? Namanya siapa pak?" Petugas bernama Budiman membuka buku tamu, mengambil pena dan mulai menulis.


"Zamy. Saya hanya ingin bertemu dengan Kapolseknya. Pak Ervan ada?" Mendengar laki-laki itu menyebutkan namanya, seketika ketiganya saling berpandangan dan mengangguk.


"Owh ini tho pak dokter yang terkenal itu. Tunggu ya pak. Kita menghadap pimpinan sebentar." Pak Budiman seketika masuk ke dalam ruangan dalam. Zamy menunggu sambil berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku. Dia membaca-baca spanduk besar berisi slogan-slogan anjuran dan pelayanan kepolisian. Beberapa menit kemudian pak Budiman datang lagi mendekat ke arah Zamy berdiri. Pak Budiman mempersilahkan masuk.


"Baik pak, bapak ditunggu pimpinan kami di ruangan beliau. Ayo saya antar bapak." Pak Budiman bicara kepada Zamy dengan ramah. Zamy kemudian mengikuti pak Budiman yang berpakaian polisi dengan tangan baju yang digulung. Zamy menebak-nebak dalam hati pangkat apa pak Budiman ini.


"Bagaimana Irwan bisa secepat itu bebas?" Zamy menyempatkan bertanya kepada pak Budiman sambil berjalan. Pak Budiman seketika menoleh dan mengangguk.


"Maaf pak dokter, bukan kapasitas saya menjelaskan. Silahkan nanti bertemu ke komandan." Zamy diam. Benar saja, istrinya tidak salah lihat kemarin sore. Soalnya dia juga menyaksikan Irwan masih dengan pakaian dinas bicara serius ke neneknya Annisa. Namun karena tidak ingin menjadi beban pikiran istrinya dia berpura-pura tidak melihat.


"Tok tok tok!"


"Pagi Komandan. Saya datang dengan tamu." Pak Budiman mengetuk pintu sebuah ruangan dengan tulisan di depan pintu, Kapolsek di garisbawah dan ada nama AKBP Ervan Tarmudi, S.I.K.


"Silahkan masuk pak dokter." Terdengar sahutan dari dalam ruangan.


"Silahkan masuk pak. Mohon izin saya kembali ke meja piket." Pak Budiman pergi meninggalkan Zamy yang masuk ke ruangan kapolsek Taman Sari.


"Terima kasih."


"Ah pengantin baru, bagaimana kabarnya pak dokter,?" Pak Ervan berbasa basi sambil beridiri dan mempersilahkan Zamy untuk duduk di kursi seberang mejanya.


"Baik pak Ervan alhamdulillah. Bapak juga nampaknya sehat-sehat saja ya?" Zamy menjawab.


"Yaaa..., beginilah pak. Disyukuri saja. 'Bay de wey', ada gerangan apa ke sini pak dokter? Ada masalah?" Pak Ervan masih nampak begitu ramah. Dia duduk tegak dengan kedua siku tangan menekan meja kerja. Tangannya di dagu.


"Saya langsung ke point ya pak. Saya hanya mau meminta konfirmasi saja. Sejak kapan dan bagaimana bisa si Irwan sudah bebas?"


"Sudah bebas?" Pak Ervan nampak terkejut. Zamy tidak akan mau dibodohi dengan ekspresi murahan.


"Bapak benar-benar tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Kemarin saya melihatnya ada di pasar ramadhan depan masjid Jamik. Jangan-jangan begitu kami selesai membuat pengaduan, Irwan lantas dibebaskan." Zamy menahan emosinya. Pak Ervan terdiam. Dia memandang ke meja sambil menyatukan kedua tangan di depan perut.


"Pak Ervan, saya ini memang hanya seorang dokter yang tugas utamanya sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan untuk membantu kesembuhan orang-orang yang sakit. Namun di luar itu, kami adalah rakyat yang membutuhkan transparansi hukum dan keadilan. Kenapa bisa terjadi?" Pak Ervan masih saja diam.


"Katakanlah pak, kenapa hanya diam. Saya datang sendiri untuk konfirmasi masalah itu. Jangan sampai saya datang dengan puluhan wartawan." Pak Ervan duduk tegak seketika saat Zamy menyebut kata wartawan.


"Sabar pak dokter. Mari kita tidak melibatkan jurnalis dalam menyelesaikan masalah ini. Emmm.... Sebenarnya ini hanya sebentar saja. Saya mendapatkan pesan dari pak Kapolda supaya membiarkan Irwan bersahur dan puasa bersama keluarga. Setelah itu dia akan tetap di sel sambil menunggu proses hukum." Pak Ervan memegang tangan Zamy. Perlahan Zamy menariknya dan ikut duduk tegak di kursinya.


"Bapak tidak usah berbohong pak. Kalau hanya membiarkan Irwan sehari bersama keluarga karena alasan seperti bapak jelaskan, tidak mungkin dia dengan pakaian dinas. Kalau dia berpakaian dinas artinya dia sudah aktif bekerja. Bagaimana mungkin seorang oknum penculik yang hampir melakukan pembunuhan tidak tersentuh hukum sama sekali? Kalau sudah begini apa bisa kita selesaikan tanpa adanya jurnalis?" Zamy mencoba menjelaskan dengan sabar. Pak Ervan hanya diam dan menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Begini pak, hari ini saya terima laporan bapak secara lisan. Memang kasus pengaduan bapak dan istri kemadin, masuk kategori perkara sulit, jadi perkaranya biasanya akan ditangani di tingkat Polda. Kami berjanji deh, Irwan akan mendapatkan sanksi atas apa yang telah diperbuatnya."


"Agak susah dipercaya pak. Mohon maaf kalau besok saya datang ke sini dengan wartawan kota. Permisi" Zamy berdiri karena merasa kurang puas dengan jawaban pak Ervan.


"Duduklah dulu pak dokter. Jangan terburu-buru, nanti kita malah semua dapat masalah. Sebenarnya ya mau bagaimana menjelaskannya. Itu ehmmm.... Pak Irwan itu, kemenakannya pak Karo. SDM Polda Babel. Ibunya Irwan itu adiknya pak Rasdi, yaaa.... susah juga kita pak." Pak Ervan agak terbata menjelaskan. Zamy tersenyum.


"Terima kasih informasinya pak. Saya mau langsung menemui siapapun yang beusaha mengintimidasi hukum." Tanpa rasa takut Zamy berpamitan dan berjalan tergesa akan pergi ke kantor Polda Babel.


"Pak Zamy, tolong pak, jangan sampai kita kena masalah semua. Biar saya yang jelaskan perkara ini ke pak Rasdi." Pak Ervan bicara keras. Namun Zamy tidak menjawabnya. Dia tetap pergi meninggalkan kapolsek Taman Sari yang kebingungan. Zami kemudian pergi. Sementara pak Ervan mengeluarkan hp dan langsung menelpon seseorang.


***


Setangah jam di perjalanan Zamy sampai d Polda Babel. Zamy kembali menemui dua orang polisi yang piket di depan ruang pertama.


"Selamat siang pak. Bisa kita bantu?" Seorang polwan bertanya ramah sambil tersenyum.


"Saya mau bertemu pak Karo. SDM, pak Rasdi bu." Zamy menjawab tegas.


"Maksud kedatangannya pak?" Polwan itu bertanya lagi.


"Iya bertemu pak Rasdi." Zamy menjawab singkat. Kedua polisi jaga malah berpandangan dan tersenyum.


"Maksud kami, permasalahannya yang kira-kira akan dibahas dengan pak Rasdi, begitu pak." Polwannya kembali bicara dengan deskripsi kedua tangannya.


"Oohhh.... Sudah buat janji dengan bapak?" Polwan itu lantas bertanya lagi.


"Belum." Zamy menjawab.


"Tunggu ya pak, kami konfirmasi dulu ke beliau. Kebetulan beliau baru datang dari Bangka Selatan. Mungkin masih capek." Lantas polwan menuju pintu kaca dan masuk ke dalam ruangan. Zamy duduk di kursi plastik pelayanan. Dua menit menunggu akhirnya dia pun dibawa masuk menuju ruang Komitmen Biro Sumber Daya Manusia Polda Babel. Sesampai di sana dia dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu. Zamy melirik ruangan yang luas itu. Nampak sebuah tivi layar datar menempel di dinding sedang menyiarkan kasus corona. Sebuah galon dan kulkas satu pintu berdiri dekat pintu masuk. Lemari besar berdiri gagah berisi ratusan buku tebal-tebal dan rapi. Di atasnya ada kemoceng menyembul.


"Halo pak dokter. Maaf agak lama menunggu ya. Saya ganti baju, baru pulang dari Toboali." Pak Rasdi duduk di hadapan Zamy sambil mengelap wajahnya yang berkeringat.


"Maaf pak jika mengganggu."


"Tidak apa-apa. Ini kan kantor negara, negara ini milik rakyat hehehe.... Ada perlu apa?" Pak Rasdi tertawa dipaksakan.


"Saya tidak tahu harus memulainya dari mana pak. Saya tahu bapak pasti tahu permasalahan saya dengan kemenakan bapak."


"Maksudnya? Kemenakan?" Pak Rasdi seperti bingung.


"Peristiwa penculikan ipar saya dengan sasaran sebenarnya istri saya kemarin oleh Irwan sudah saya buat pengaduan di polsek Taman Sari. Tetapi...."


"Oh perkara itu. Yaaa..., beginiii..., sebenarnya Irwan itu anak baik lho. Rasanya tidak mungkin dia melakukan itu. Nah buktinya juga tidak terlalu kuat kalau dia dalangnya."


"Tidak kuat bagaimana? Saksi hidupnya ada. Barang bukti rekaman percakapan ada." Bang Zamy mulai tak nyaman.

__ADS_1


"Percakapan yang mana?" Pak Rasdi santai bertanya.


"Itu di hape Irwan."


"Tidak ada, sedikitpun tidak ada percakapan-percakapan mengarah ke penculikan. Kami sudah menelusuri handphonenya." Pak Rasdi masih santai menjawab.


"Beruntung saya punya istri yang cerdas pak. Sebelum hpnya diberikan kepada pak Ervan, semua data penting, percakapan-percakapan yang menyebutkan nama sudah ada di kami. Jika pihak kepolisian tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini. Biarkan saya upload semuanya di sosial media."


"Hey apa maksudmu pak? Kalian malah bisa dituntut sudah mengambil data tanpa izin. Itu melanggar undang-undang lho." Pak Rasdi bicara dengan kalimat mengancam.


"Bagaimana dengan perintah-perintah membunuh? Apakah itu diizinkan?" Zamy emosi.


"Hehehe..., nak Zamy fokus sajalah dengan profesimu, jangan terlibat dengan perkara hukum." Pak Rasdi terkekeh kecil.


"Jika tidak berkaitan dengan kami, kami tidak akan pernah masuk ke masalah ini." Zamy kembali bicara.


"Ah! Sudahlah bapak agak capek sekarang pak dokter. Lupakanlah, berdamai lebih baik, saling memaafkan di bulan baik sangat besar pahalanya." Pak Rasdi membuat kantuk palsu. Dia berpura-pura menguap beberapa kali.


"Maaf pak, tidak usah menasihati saya untuk masalah memaafkan. Saya hanya ingin keadilan. Ipar dan istri saya hampir mati karena ulah oknum tak bertanggung jawab. Tetapi kemarin sore saya sudah melihat dia berseragam lagi. Artinya dia sudah aktif bekerja lagi. Lantas apa arti laporan kami? Apa arti jargon-jargon instansi ini?" Zamy mulai emosi. Pak Rasdi berdiri dan meninggalkan Zamy yang masih duduk di sofa tamu.


"Pak Rasdi? Apa bapak tahu nama ayah kandung saya?" Zamy bicara sambil membuka hp. Pak Rasdi tersenyum.


"Apa perlunya tahu riwayat keluargamu."


"Aku merasa perlu tahu riwayat keluarga Irwan karena kasus ini. Ibunya adik kandung bapak. Makanya bapak bisa sewenang-wenang mengolah aturan dan hukum demi membebaskannya."


"Terus apa masalahnya pak dokter? Kalau bisa membantu kenapa tidak? Siapa yang tega melihat adik kandung menangis tersedu sedan karena hal itu. Apa kau tega? Kalau kau di posisiku, kau juga akan melakukannya." Pak Rasdi menjawab pongah.


"Pak Rasdi, ayahku Rey Fardan, kerjanya di Mentok Bangka Barat, hanya seorang kepala cabang salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia ini."


"Aku tidak butuh informasi keluargamu."


"Mungkin bapak butuh informasi saudara ayah. Dia Roy Fardan, dan bapak pasti mengenalnya."


"Semua orang bisa mengaku saudara siapapun sesuai keinginannya."


"Mungkin bapak mau video call sebentar sebagai buktinya. Ini saya sudah mengaktifkan videonya." Zamy memperlihatkan wajah seseorang di layar sedang video call dengannya. Nampak sumringah tersenyum ramah seorang Jenderal Bintang Tiga. Dialah Wakapolri, Komisaris Jenderal Polisi. Roy Fardan.


"Halo nak Zamy..., hahaiii pengantin baru, selamat ya nak. Maaf tidak bisa hadir di musim seperti ini. Waktu hari kamu nikah om lagi di Bali, ada agenda dengan Kapolda Bali."


"Iya om tidak apa-apa." Zamy menjawab. Sementara pak Rasdi menangkupkan kedua tangan memohon agar Zamy tidak membicarakan perihal kasus yang sedang dihadapinya. Setelah sekitar empat menit bicara dengan pak Wakapolri, kakak kandung ayahnya, Zamy pun mematikan telponnya lalu mendekati pak Rasdi.


"Ingat pak, harimau itu terkadang tidak menampakkan taringnya, tetapi ketika diganggu, taring itulah yang akan merobek-robek tubuhmu. Segera proses hukum sesuai perundangan yang berlaku si Irwan. Atau bapak tidak akan duduk nyaman lagi di kursi ini. Pak Rasdi, duduklah di kursi milikmu sendiri. Jangan duduk di kursi orang lain. Hukum itu tidak tebang bulu. Ingat ya pak, nama ayahku Rey Fardan, dan bapak sudah tahu siapa nama Wakapolri kita sekarang."


"Iya pak Zamy, iya pak. Cukup selesai di kita ya pak masalahnya, saya berjanji akan kembalikan Irwan seperti seharusnya." Pak Rasdi bicara tidak sesombong tadi. Ada nada getir dalam intonasi suaranya. Zamy berlalu, pulang dengan hati gembira. Harimau kok dilawan.... Walaupun suaranya tidak mengaum nyaring, dia bukan berarti ompong.

__ADS_1


__ADS_2