
Sabtu yang dinanti pun tiba. Sabtu Minggu adalah hari liburku di rumah sakit, sedangkan aku tidak mengambil shift dokter jaga maka aku punya banyak waktu di rumah. Dan sejak mempekerjakan satpam, tidak ada lagi kejadian aneh yang terjadi. Fredy terkadang berjaga sambil asyik menonton tivi 10 inc yang dipasang di ruang pos jaga. Pak Rohim pulang selepas Magrib saat Fredy datang. Meski sudah menambah pemasangan CCTV dan penjaga Fredy di malam hari, namun bang Zamy malah sedikit demi sedikit membawa pakaiannya ke rumahku.
"Kok tiap hari bang Zamy malah tidur di sini sih, kan sudah ada CCTV dan Fredy buat berjaga-jaga." Aku menanyakan beberapa jam lalu. Bang Zamy menatapku seakan tak suka. Aku tahu dia hanya bercanda.
"Sepertinya seseorang sedang mengusir abang ya...?" Bang Zamy balik menanyaiku.
"Bukan mengusir sih..., tetapi bingung saja...." Aku bicara santai.
"Hemz..., dulu sih abang takut orang jahat itu datang lagi. Tapi sekarang, abang malah takuuuttt...," Bang Zamy sengaja menghentikan bicaranya biar aku penasaran.
"Takut apa?" Aku langsung bertanya.
"Takut kekasih hati kecantol sama satpam muda dan ganteng...." Bang Zamy bercanda. Aku hanya nyengir sinis sambil mencubit lengannya. Dia mengaduh kesakitan namun aku tak peduli, lalu beranjak menuju dapur, membantu yuk Mairoh memasak.
***
Pukul sebelas siang aku sudah selesai mandi habis membantu yuk Mairoh memasak. Aku berdiri di teras samping yang terhubung dengan dapur, bolak-balik menunggu kehadiran ayah dan ibu dari Mentok. Sedangkan bang Zamy belum pulang kerja. Dia jadwal kunjungan pasien rawat inap di RSBT. Sesekali aku duduk di kursi plastik sambil bermain hp. Sesekali juga aku menggunting pokok bunga mawar yang sudah menghitam dan layu. Kucabut rumput-rumput halus liar di sekitarnya. Puas menunggu aku pun mengambil sapu, menyapu halaman lagi, membersihkan bekas potongan-potongan mawar layu yang sengaja kuhamburkan.
"Bapak dan ibu ke sini dalam rangka apa mbak dok....?" Yuk Mairoh iseng bertanya melihatku gelisah dari tadi. Aku menoleh ke arah yuk Mairoh yang sedang asyik mencuci piring.
"Hanya ingin melihat kami yuk Mai. Biasalah orang tua selalu khawatir kalau mendengar anaknya diganggu orang." Aku menjelaskan point ke duanya. Point pertama yang sebenarnya adalah, ayah dan ibu ingin membahas perihal pernikahan kami dengan orang tua kandungku. Mama Erlinda dan ayah kandungku dari perrnikahan yang sah, pak Ram.
"Denger-denger mbak dokter sama pak dokter Zamy mau menikah ya?" Yuk Mairoh tersenyum menatapku. Aku sedikit heran mengapa yuk Mairoh tahu sedangkan aku belum pernah menceritakannya.
"Lho ayuk kok tahu? Dari siapa?" Aku penasaran.
"Ih.... ya Allah mbak dokter, namanya juga tinggal di kampung, di kota kecil, dan mbak dokter sama pak dokter juga orang terpandang dan terkenal di sini. Lha jangankan berita perihal pernikahan, wong kalian kentu* saja mungkin ada yang rekam." Yuk Mairoh menjelaskan. Aku hanya diam, separuh hatiku membenarkan yang dikatakan yuk Mairoh. Hidup di lingkungan masyarakat yang lebih dominan mencari tahu cerita orang lain dari orang asing, bukan dari sumbernya langsung. Sehingga menyebabkan bergesernya fakta dan opini di masyarakat. Aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk sedikit.
"Namanya juga tinggal dengan masyarakat heterogen yuk..., terkadang...."
Baru saja aku ingin menjelaskan lebih, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobilnya ayah. Seketika aku menghambur ke luar lagi seperti anak taman kanak-kanak kegirangan mendapatkan orang tuanya pulang kerja dengan oleh-oleh di tangan. Ibu langsung menujuku, sedangkan ayah sehabis memarkir mobil ke garasi langsung berjalan menuju pos penjagaan. Ayah berkenalan dengan Fredy. Tak butuh lama, mereka sudah kelihatan akrab dan akur. Sesekali terdengar suara mereka tertawa lepas.
"Ibuuu...," Aku memeluk ibu dengan kemanjaan yang tersisa. Ibu pun masih dengan perlakuannya dulu, mencium kepalaku berkali-kali.
"Kamu sehat kan sayang? Kamu tidak apa-apa kan? Mana Zamy? Apa Zamy juga sehat?" Ibu tampak khawatir.
"Baik ibu, alhamdulillah kami sehat semua." Aku menjelaskan.
"Bagaimana dengan benda-benda yang disebutkan Zamy itu? Apa sudah dimusnahkan?" Ibu kembali bertanya dengan raut kekhawatiran.
"Barang buktinya dibawa ke kantor polisi bu...." Aku menjelaskan sambil keheranan. Kapan bang Zamy menceritakan kejadian kepada ibu. Sedangkan dia tidak pernah memberitahuku. Biasanya dia akan menceritakan kalau dia sudah ngomong sama ibu.
"Kantornya dimana? Jauh apa tidak?" Ibu kembali bicara.
"Tidak begitu jauh sih bu, paling juga setengah kilo meter dari sini. Aku menjelaskan.
" Yaaahhh...." Tiba-tiba ibu berteriak memanggil ayah. Ayah dan Fredy sontak menoleh. Kemudian dengan muka masam ayah mendekati kami.
"Kenapa memanggil ayah kayak orang kesurupan?" Ayah menatap ibu.
"Hidupkan lagi mobil, antar ibu ke polsek taman sari, ibu mau musnahkan teluh yang dikirimkan orang jahat itu." Ibu menjelaskan. Ayah hanya tersenyum.
"Aiihhh..., sudahlah bu, ayo masuk saja istirahat. Nauraaa..., tolong buatkan ayah kopi hitam pahit." Ayah mengelus kepalaku dengan sayang, aku kemudian mencium tangannya. Lalu ayah menggandeng kami berdua masuk ke dalam rumah.
"Tapi yah...." Ibu ingin protes.
"Teluh itu akan hancur sendiri menembus benteng pertahanan yang kuat bu."
"Bagaimana bisa?"
"Iya, perbanyak sholat, zikir dan sodaqah, maka itu bisa menolak bala." Ayah menjelaskan sepintas. Ibu diam menurut. Dia meletakkan tas pakaiannya ke kamar induk.
"Harusnya dimusnahkan. Sebelumnya Naura dan Zamy suruh langkahi dulu tujuh kali barang kiriman itu sambil mengucapkan 'Tinggi nasibku dari yang ngirim teluh....'" Ibu mengomel lalu mendesah perlahan menahan kekecewaan. Ayah malah tertawa sambil mencubit pipi ibu.
"Apaan sih ayah, sakit tahu...." Ibu menjadi sewot.
"Habisnya ibu sih, masa iya seorang kepala dinas percaya hal begituan...." Ayah menertawakan ibu yang semakin cemberut. Aku ikut tersenyum sambil berjalan menuju dapur, membuatkan ayah kopi hitam pahit dan kental.
"Sudah tenanglah bu..., Zamy sudah mengambil langkah yang tepat dengan mempekerjakan satpam dan petugas kebersihan sekaligus membantu jaga siang, Lagi pula CCTV sudah bertambah. Kita tinggal berdoa saja, semoga anak-anak kita dilindungi Allah." Ayah membujuk ibu yang masih khawatir. Tak lama berselang, suara adzan Dzuhur sudah berkumandang. Ayah bangkit dari duduknya.
"Mana sarung ayah bu?" Ayah bertanya sambil melirik-lirik keberadaanku. Ibu membuka tas, lalu mengeluarkan sebuah sarung dan peci hitam dengan lis keemasan.
"Nauraaa..., letakkan saja kopinya di meja, ayah mau ke masjid dulu. Eh mana kunci motormu?" Ayah celingukan mencari. Biasanya kugantung di cantelan shabby sebelah pintu ruang keluarga. Aku segera membawa kopi pesanan ayah, meletakkannya di meja dan mencari kunci yang tidak ada di tempat biasanya.
"Pagi-pagi sih bang Zamy yang memakainya, dia keluar beli fusui dan kue-kue." Aku berkisah sambil mencarinya. Lalu aku pergi ke garasi tempat dimana motor diparkirkan. Tidak ada juga kunci tertinggal di sana.
"Ah sudahlah, ayah pinjam motornya sih Mairoh. Maaaiii...." Ayah memanggil yuk Mairoh.
"Iya pak. Apa bapak membutuhkan sesuatu.?" Yuk Mairoh datang terburu-buru. Tadi dia sedang menyiapkan makan siang untuk kami.
"Bapak pinjam motormu sebentar...." Ayah berjalan ke arah yuk Mairoh yang langsung kaget.
"Ah anu pak anu..., eeeehhh..., maaf pak, anu.... gimana ngejelasinnya pak, anu...." Yuk Mairoh ragu-ragu menjawab.
"Anu anu anu dari tadi kenapa Mai?" Ayah kebingungan sendiri.
__ADS_1
"Motor Mairoh dipakai suami kemarin pak. Habis bensiiinnn nah Mai ndak tau..., tadi Mai sudah ndorong-ndorong dari sana. Rencana Mai mau beli kantongan biar diisi di sini. Tapi belum sempaaattt...." Yuk Mairoh menunjuk ke arah depan jalan tempat katanya dia sudah mendorong motor.
"Yah salaaammm...." Ayah berlalu dengan wajah menahan tawa.
"Siapa nama tukang kebunmu Naura?" Ayah berbalik bertanya kepadaku.
"Pak Rohim yah." Aku menjawab. Ayah kemudian menepuk-nepukkan kedua tangannya, memanggil pak Rohim dengan motor antiknya keluar dari pagar rumahku untuk pergi ke masjid sholat berjamaah.
"Tunggu pak, numpang bonceng...." Ayah langsung naik ke belakang pak Rohim yang nampak ragu-ragu. Benar saja, begitu ayah naik, motor pak Rohim yang tidak jelas merknya lagi itu seketika mati. Ayah menoleh ke arah kami di teras yang terkakak kegelian. Fredy memberikan kunci motor balapnya. 'Ninju Kauskaki' merah, namun ayah menolak dengan tangannya, lalu dengan setengah berlari menyusuri trotoar menuju masjid. Sebelum jauh ibu meneriaki ayah menggoda.
"Yah...." Ayah menoleh atas panggilan ibu.
"Chayooo yah..., pahalanya berlipat ganda lho...." Ibu melanjutkan. Ayah tersenyum geli. Di belakangnya menyusul pak Rohim mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah ayah yang panjang. Motornya sudah diambil Fredy, dimasukkan kembali ke halaman rumahku. Ibu, aku dan yuk Mairoh seketika berpandangan lalu tertawa bersama karena lucu sambil masuk ke dalam rumah. Kemudian, aku mengambil hp lalu menelpon bang Zamy.
"Kenapa Bee? Abang sebentar lagi selesai dan pulang...." Terdengar suara bang Zamy melalui sambungan seluler.
"Abang tidak pulang juga tidak apa-apa. Kasih tahu saja dimana kunci motor abang letakkan?" Aku menjawab pura-pura sadis.
"Hahaha..., " Bang Zamy malah ngakak.
"Lho kok malah tertawa? Dimana abang meletakkan kunci motornya?" Aku kembali menanyakan.
"Iya abang lupa kasih tahu. Tadi abang meletakkan dompet di bawah jok habis beli kue. Hahahaaa...," Kudengar suara bang Zamy semakin besar ketawanya.
"Nah terus?" Aku menjadi heran.
"Nah, pas di garasiii, hahahaaaa..., abang buka joknya mengambil lagi tuh dompet. Pas ngambil dompet, kunci yang sudah abang tarik setelah jok motor terbuka, jatuh ke bawah jok dan abang terlanjur menekannya. Hahaha...,"
"Jadi?" Aku kebingungan.
"Jadi yaaa..., kuncinya ada di bawah jok motor hahahaaa...." Bang Zamy kembali dengan tawanya.
"Allahuakbaaarrr...," Aku gregetan mendengarnya.
"Eittthhh..., jangan marah ya Bee sayaaang, kan ada kunci serapnya." Bang Zamy menggodaku.
"Itulah masalahnya." Aku menjawab.
"Masalah kenapa?" Bang Zamy balik bertanya mendengar jawabanku.
"Itulah kunci serap. Kunci yang satu dulu malah tidak tahu dimana rimbanya...." Aku menjelaskan.
"Oooww ooowww...." Bang Zamy terdiam.
"Nantilah tunggu abang pulang ya Bee..., jangan cemberut. Aih..., abang jadi kangen lagi nih...." Bang Zamy mulai berulah menggangguku. Namun aku malah sangat bahagia mendengar setiap kali dia mengatakan merindukanku. Ada desiran hangat menusuk jantungku. Aku juga merindukanmu bang Zamy..., Itu bisikanku dalam hati. Senyumku seketika mengembang penuh arti dan pengharapan.
***
"Anak bujang kok ceroboh sekali...." Ibu bicara sambil mencubit bahu bang Zamy.
"Awww..., ibu bagaimana sih, kok langsung main cubit saja. Salah Zamy apa coba?" Bang Zamy pura-pura bingung. Matanya menatapku penuh arti.
"Laporan apa yang sudah sampai ke telinga ibu?" Dia mendelik mendekatiku. Aku malah bergeser duduk menjauhi bang Zamy dan semakin mendekat ke arah ibu.
"Laporan apa? Wong Naura hanya mengkonfirmasi perkara kunci motor. Soalnya ayah tadi mau pakai..., weekkk!!!" Aku mengoloknya dengan menjulurkan lidah. Bang Zamy melototiku lalu dia mengetok kepalaku sedikit.
"Dasar manjaaa...."
"Bu lihatlah bang Zamy...." Aku berdiri dan duduk di sebelah kanannya ibu. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Masih seperti kemarin. Anjing dan kucing berebut ingin menang mendapatkan sepotong tulang." Ibu menggumam. Aku dan bang Zamy berpandangan lalu sama-sama tersenyum. Entah untuk ke sekian kalinya kembali datang getaran-getaran nakal yang indah. Aku bahagia menatap wajahnya yang seringkali usil.
"Zamy kalau sudah makan siang, cepat mandi, lekas juga berpakaian yang rapi. Kita akan ke rumah pak Ram dan bu Erlinda. Ibu mau melamar anak kandung mereka untuk menjadi menantu kesayangan di rumah ini." Ibu penuh semangat berbicara. Terdengar aneh memang, kami sudah bersama 28 tahunan rasa sebagai anak kandung, sekarang ibu akan melamarku untuk menjadi menantunya. Ah..., inilah perputaran hidup. Tidak bisa ditebak apa yang akan terjadi esok dan lusa. Bang Zamy segera masuk kamar meninggalkan kami yang sudah siap untuk silaturahmi ke rumah mama papa.
***
Sepuluh menit menunggu, bang Zamy sudah keluar kamar dengan memakai celana jeans biru yang halus dipasangkan kemeja lengan pendek bermerk Dunhill warna biru gelap bercorak putih lembut. Wajah segarnya semakin tampan. Jam tangan mahal melekat di pergelangan tangan kirinya. Sementara rambut hitam lebatnya tertata dengan rapi. Kaus kaki abu-abu gelap sudah dia kenakan pula. Wangi lembut dari semprotan parfum bermerk pun mengharumkan ruangan. Aku terpanah. Wajahnya yang tampan berhidung mancung dengam bibir seksi sungguh menggoda iman. Tubuh atletisnya dengan gaya sporty ditambah kulit putih bersih melemahkan jiwaku yang terlanjur matang sempurna. Sedikit jakunnya yang menyembul semakin memukauku saja. Dia teristimewah bagiku. Dia membangkitkan getaran aneh lagi.
"Oke pangeran telah siap." Suara bang Zamy sambil merentangkan kedua tangannya menyadarkanku. Aku mengerjap beberapa kali mengusir angan dan hayal yang terlanjur menyelinap.
"Begitu saja? Bukankah lebih rapi kalau pakai celana bahan dan kemeja panjang....?" Ayah menanggapi penampilan bang Zamy yang sangat trendy. Aku tersenyum mengangkat bahu ke arah bang Zamy.
"Apakah kemejanya warna putih yah?" Bang Zamy bertanya kepada ayah dengan menengadahkan kedua belah telapak tangan. Bahunya mengangkat tinggi.
"Terserahlah." Ayah serius menanggapi.
"Apa yang akan kita promosikan hari ini?" Bang Zamy duduk di dekat ayah.
"Kok promosikan?" Ayah bingung sendiri karena ulah bang Zamy.
"Zamy ini seorang dokter apa sales?" Bang Zamy tersenyum menggoda ayah yang terkekeh sendiri.
"Maksud ayah, jangan terlalu ganteng begitu, nanti dikira kamu bukan anak ayah...." Ayah balas meledek bang Zamy. Kami tertawa lepas, sungguh bahagia bersama mereka. Kami keluar rumah bersama. Pak Rohim dan yuk Mairoh membantu membawa aneka kue dan parsel buah-buahan sebagai buah tangan. Ibu tak lupa membawa satu set kain songket merah hati untuk mama, mirip dengan yang sedang dia kenakan. Sedangkan hadiah untuk papa sudah pula disiapkan sebuah kain sarung merk 'Wadimpor' dan jaket kulit bermerk dibeli di 'Ramayani'. Aku memakai gamis cantik elegan berwarna ping tua dengan sedikit list merah hati. Berkali-kali ibu memuji kecantikanku. Sedangkan ayah perfecto dengan celana bahan dan kemeja biru disampul jas hitam baru yang juga berharga 'wah'. Kami naik mobil bang Zamy, ayah yang nyetir, aku dan ibu di jok belakang sedangkan bang Zamy duduk di sebelah kiri ayah. Kami berangkat dengan bismillah.
"Ngomong-ngomong, misalnya nih misalnya. Orang tua kandungnya Naura tidak setuju...." Ayah mulai bicara di perjalanan kami.
__ADS_1
"Papa sudah setuju kok yah." Aku memotong pembicaraan ayah.
"Ibumu?" Ayah menatapku melalui kaca spion tengah.
"Nah entahlah yah." Aku tidak tahu bagaimana dengan keputusan mama nanti. Melihat gelagat waktu dia ke rumahku, aku yakin sekali dia akan menentang pernikahanku dan bang Zamy. Dia lebih memilih Naura untuk dinikahkan dengan bang Zamy.
"Nah, okelah misalnya papamu sudah setuju. Bagaimana kalau mamamu melarang?" ayah kembali melanjutkan.
"Biar mamamu tak sukaaa..., Papamu juga melaraaang..., Walau dunia menolaaakkk..., ku taaak takuuuuttt..., Tetap ku katakan ku cintaaa..., Naaauuuraaaaa...." Tiba-tiba dokter ganteng yang duduk di sebelah ayah bernyanyi bak seorang penyanyi profesional, Judika. Dia menggunakan hp seolah-olah sebuah microphone. Aku tak tahan dibuatnya. Perlahan aku berdiri dari kursi belakang, dan mencubit bahunya dengan kencang.
"Lebaaaayyy...." Aku bicara lalu kembali duduk dekat ibu yang tertawa bahagia. Ayah tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Bang Zamy meringis mengelus bekas cubitanku.
"Apa ibu juga mau ayah nyanyikan sebuah lagu?" Ayah kemudian meminta persetujuan.
"Eeeiitthh tidak usah, dokter TeHaTe jauh, nanti gendang telinga kita pada rusak." Ibu berseloroh. Lalu berderailah tawa itu. Kami kembali lupa dengan pembicaraan awal. Bagaimana nanti kalau mamaku tidak setuju. Mobil terus melaju di teriknya pancaran sinar matahari, tetapi kami semakin dekat kepada tujuan.
***
Sesampainya di rumah papa dan mama, kami disambut pembantu, tukang kebun dan penjaga malamnya mama papa. Kami disuruh masuk ke rumah besar bernuansa klasik itu. Di ruang tamu berjejer foto-foto keluarga berbingkai cantik dengan satu kaligrafi Al-Fatihah yang besar. Tidak ada orang lain karena memang kami tidak mengundang orang lain. Ini hanya silaturahmi, bukan lamaran.
"Assalamualaikum...," Ibu bersalam. Tak lama kemudian mama keluar dengan dandanan yang mengalahkan tampilan istri Presiden saat jamuan kenegaraan. Dia mengenakan setelan terbaiknya berwarna coklat keemasan. Wajahnya berias cantik maksimal. Rambutnya disanggul tinggi menjulang dengan jilbab kekinian. Anting emasnya mungkin ada setengah kilo. Gelang menjuntai-juntai, kalung di luar kerudung membandul-bandul sebanyak tiga lapis. Aku berpandangan dengan ibuku, menyembunyikan sebuah senyuman.
"Silahkan masuk pak, bu, Zamy dan Naura. Eh Naura harusnya dia yang menyambut kedatangan tamu, bukan malah disambut sama mama papa." Papa keluar langsung bersalam menyapa semuanya. Papa mengelus kepalaku.
"Bagaimana kabarnya nih?" Papa mengajak kami berbincang. Sementara mama, dia hanya sibuk menyajikan aneka kudapan. Namun belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Silahkan pak, bu, nak Zamy dinikmati kue alakadarnya." Papa dengan ramah menawarkan.
"Masuklah nak, temui mamamu, peluk dan ciumlah wanita yang sudah melahirkanmu." Ibu membisikkan sesuatu ke telingaku. Karena setelah selesai menata aneka makanan dengan gaya cantik hypermaksimal, mama tidak keluar lagi. Aku berdiri, kaku rasanya walaupun berada di rumah orang tua kandung sendiri.
"Masuklah nak, jangan sungkan. Temuilah mamamu." Papa ikut menyarankan melihat keraguanku. Ayah dan bang Zamy mengangguk setuju ketika kupandang. Aku masuk ke dalam rumah. Ada was-was di dada. Kutinggalkan tas di dekat ibu. Aku lantas masuk ke ruang keluarga yang luas. Satu set sofa jati lama berada si tengah-tengah ruangan. Di belakangnya lemari jati empat pintu penuh dengan aneka 'tupperwore' dan keramik-keramik cantik di dalamnya. Sebuah telivisi menyala tanpa seorang pun menontonnya.
"Maaa..., Mamaaa...." Aku celingak-celinguk mencari keberadaan ibu kandungku itu.
"Mama..., Mamaaa...," Aku kembali memanggilnya. Tiba-tiba ibuku muncul di depan pintu kamar tepat aku berdiri
Aku kaget dibuatnya.
"Nauraaa...," Mama mendekati dan memelukku dengan hangat.
"Kenapa kamu begitu asing nak? Masuk saja, ini rumahmu. Kaulah satu-satunya ahli waris semua ini...." Ibu mendekapku erat. Kutatap matanya lebih teliti lagi, seperti aku menatap mataku di masa yang akan datang. Kami begitu mirip.
"Mama sedikit kecewa denganmu. Harusnya kau sudah kembali ke rumah ini sejak tahu Naura adalah anak kandung mama dan papa. Tetapi kau masih di luaran sana. Minimal kemarin kau menginaplah di rumah ini. Kau sambut orang yang akan memintamu menjadi istrinya beserta keluarga. Tetapi malah kami hanya berdua bahkan ikut menyambut kedatanganmu." Mama menjelaskan unek-uneknya.
"Maafkan Naura ma...." Aku bicara sopan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang. Bagaimanapun perbedaan pendapat di antara kita, kau tetap sama, darah daging kami yang tak kan tergantikan oleh keberadaan orang lain." Mama bijaksana bicara. Berbeda sekali dengan cara bicaranya ketika pergi menemuiku beberapa hari lalu.
"Ayo kita keluar." Mama menggandengku.
"Akhirnya bu Nia sama pak Rey ke rumah kami juga. Dulu berapa kali kami mencoba membahas tentang pernikahan Nina dan dokter Zamy malah tidak digubris." Mama langsung membahas inti permasalahan. Wajahnya belum mengisyaratkan senyuman.
"Maafkan kami bu Erlinda. Yang menikah bukan kami, tetapi si Zamy, jadi dialah yang menentukan." Ibu menjawab.
"Apa bedanya sih si Nina sama Naura? Perasaan sama-sama dokter, sama-sama cantik...." Tante Erlinda menggumam lagi. Kami berpandangan.
"Maaf tante, kita tidak bisa menyamakan seseorang hanya tampak luar. Bagi Zamy Naura sudah segalanya. Dia mengenalku lebih dari aku mengenalnya. Begitupun denganku. Aku sudah khatam ilmu untuk menghadapinya. Sifatnya dari A sampai Zed sudah dalam genggaman. Aku pun siap mengalah, siap selalu ada, siap menjaganya sampai kapanpun. Ini soal rasa bu. Maaf bukan hanya rasa, tetapi kita bicara soal perasaan. Perasaan itu erat sekali dengan kenyamanan. Kalau kita sudah nyaman. Apa lagi sih yang dibutuhkan?" Bang Zamy bicara halus memberikan pengertian kepada mama yang hanya manggut-manggut menatap bang Zamy bicara.
"Sebenarnya tante bukan tidak setuju, tetapi lebih kepada kasihan melihat pengharapan Nina yang pupus di tengah jalan." Tante Erlinda mulai melembutkan suaranya.
"Iya buk, kami juga maklum. Kalau kami sebagai orang tua hanya mendukung keputusan anak-anak. Dan mereka berdua memang sudah bersama sejak bayi hingga sekarang. Pasti banyak rasa dan kenangan sudah tertanam." Ibuku ikut bicara lagi. Ayah ngobrol sendiri dengan papa. Aku diam. Beruntung ibu yang cerdas tidak membahas sedikitpun perkara nazarnya.
"Jadi bagaimana ini bu Erlinda? Apa kita bisa menikahkan mereka sebelum masuk puasa seminggu lagi?" Ibu langsung ke inti permasalahan. Mama menatapku bergantian ke bang Zamy. Ayah dan papa sudah fokus ke percakapan kami lagi.
"Apa masalahnya bu Nia. Kita segerakan saja menikahkan keduanya. Apalagi katanya ada teror dengan Naura dan Zamy. Biar mereka lebih leluasa bersama untuk saling menjaga." Papa menjawab. Mama diam mendengarkan.
"Sebenarnya sih kalaupun Nina yang dinikahi Zamy kita tetap bisa jadi keluarga...." Mama setengah hati menjawab.
"Tidak ma, Naura dan Zamy sangat cocok untuk menikah. Jangan lagi hubung-hubungkan Zamy dengan Nina. Nina sudah ikhlas dan kami sudah selesai kok sama Nina. Iya kan Nin?" Tiba-tiba Nina masuk ke ruang tamu. Kami tidak mendengar suara mobilnya sama sekali. Nina bergelayut manja di bahuku yang duduk di sofa ruang tamu. Ibu menatapku sedikit bingung. Mama menampakkan ekspresi keheranannya. Bergantian menatapku dan dokter Nina.
"Apa benar Nina?" Mama menatap Nina masih terbengong.
"Iya dong Ma. Nina yakin akan mendapatkan yang lebih dari seorang Zamy." Nina bicara sambil mengedipkan mata ke bang Zamy. Bang Zamy tersenyum mengamiinkan.
"Owh, yah sudah kalau begitu tidak ada masalah lagi bu Nia. Kapan? Kapan? Kapan rencananya?" Mama malah lebih antusias setelah mendengar penjelasan Nina. Kami bergantian saling pandang. Dalam hatiku, semoga tidak ada rencana Nina yang lainnya dibalik semua ini.
"Baiklah, anggaplah saya tetuanya pak Rey ya. Izinkan saya bicara. Kita dimusim covid ini tidak perlu mengundang siapapun. Segerakan saja anak kita menikah. Nanti kalau suasana sudah seperti sediakala, kita resepsi, baru mengundang masyarakat." Papa bicara serius. Kami mendengarkan pula dengan serius.
"Ya benar pak Ram, yang penting cukup syarat dan memenuhi rukun nikah saja dulu. Saya malah berharap mereka menikah sebelum mulai puasa. Biar Zamy menikmati sahur bersama Naura. Masa bertahun-tahun menikmati sahur sama pak Ridwan dan istrinya...." Ayah berpendapat. Kami semua tertawa mendengar ayah menggoda bang Zamy
"Saya setuju sekali. Biarkan mereka segera menikah." Ibu menyahut. Mama masih menatap ke arah Nina yang sudah duduk persis di sebelahku.
"Bagaimana ma? Mama?" Papa menggamit lengan mama yang sedang fokus menatap Nina. Nina mengangguk tersenyum ke arah mama.
"Ya mama juga setuju." Mama gelagapan menjawab.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati hidangannya pak bu, Zamy." Mama kemudian melanjutkan.
Kami pun menikmati menu yang disajikan mama, aku ikut membantu menyiapkan. Lalu makan bersama hidangan kelas berat, ada nasi rendang, lempah ikan kepala kakap merah, aneka sayuran dan ada juga tekwan ikan tenggiri tersaji di meja. Suasana mulai akrab. Kami mulai bersenda gurau ramah termasuk dengan Nina. Waktu berlalu, karena hampir jam 4 sore, kami segera berpamitan pulang. Aku dan bang Zamy harus segera ke klinik. Pasien Sabtu Minggu biasanya membludak datang dari luar kota. Aku tersenyum, lega. Tidak ada lagi masalah dengan rencana pernikahan kami. Seminggu lagi, tepatnya 17 April 2020 aku akan menjadi nyonya Zamy. Hatiku bergetar penuh kegembiraan.