Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 34 Gangguan Kedua


__ADS_3

Sehabis sholat Magrib aku menyiapkan makan malam. Mengambil empat potong rendang ayam kampung dari dalam panci di atas kompor dan menyusunnya di meja makan. Kusempatkan memasak dua ikat kangkung ala lamongan, kangkung saos tiram. Kusiapkan pula air putih suam-suam kuku untuk kami minum. Ditambah irisan 'ketimun darat' muda dibelah empat. Cukup simple menu makan malam kami.


"Assalamualaikum bidadariku...." Bang Zamy masuk setelah membuka pintu dengan kunci yang sengaja dibawanya tadi.


"Waalaikumsalam sayang. Adek masak kangkung saos tiram kesukaan abang ni." Aku menjawab sambil melepaskan celemek di badanku dan meletakkannya di gantungan samping kulkas.


"Hemz..., pantes harumnya sampai ke masjid sana." Bang Zamy menggodaku.


"Ah masa iya sih." Aku mencium tangan bang Zamy yang langsung memeluk dan merangkul bahuku, tak lupa dia mendaratkan sebuah ciuman di keningku. Hatiku berdebar-debar bahagia.


"Emmmuachhh...." Bang Zamy kembali mencium keningku.


"Abang mau ganti baju dulu ya, baru kita makan." Bang Zamy melepaskan pelukannya dan pergi menuju kamarnya. Mengambil bajunya yang memang belum dipindahkan ke kamarku. Aku mengisi nasi di piring dan mendinginkannya, kemudian mengelap-ngelap meja dan kompor setelah habis memasak. Tak lama kemudian bang Zamy kembali ke dapur dengan mengenakan celana katun pendek merk La Mirage bergaris-garis hitam, abu-abu dan putih. Atasannya hanya mengenakan kaus singlet putih dengan kerah meruncing pada tengah-depan kerahnya, kaus V-neck. Dia kelihatan begitu tampan. Aku kembali berdebar-debar menatapnya.


"Yuk sayang kita makan. Oh ya nanti kita sudah sahur lho kalau menurut berita, tuh lagi disiarkan di tivi." Bang Zamy memelukku dari belakang, aku yang masih berdiri dekat wastafel cuci piring dan baru selesai membasuh peralatan kotor sehabis mamasak menjadi susah bergerak. Kedua tangannya melingkar di perutku dengan dagu menempel di pundak dan leher kananku.


"Oke deh, yuk kita makan." Aku mengelap tanganku dengan serbet kotak-kotak biru seharga tiga ribuan rupiah. Lalu perlahan melepas tangan bang Zamy yang masih melingkar mesra. Namun dia tidak melepaskannya.


"Lha katanya mau makan...." Aku mencoba lagi melepaskan lingkaran tangannya yang semakin erat saja.


"Jangan lepaskan sayaaang, jangan lepaskan hingga dua menit lagi." Bang Zamy semakin erat memelukku dari belakang. Matanya terpejam masih dengan dagu di pundak kananku. Dia sedikit menarik badanku, kami bergerak ke kanan dan ke kiri seirama badan dan kaki.


"Owh..., nyaman sekali bau badanmu Bee....Abang jadi tidak kuat menahannya...." Bang Zamy mendesah perlahan. Dia mulai menciumi pundak dan kupingku. Aku merinding kegelian.


"Issshhh, yuk ah kita makan sayang." Aku melepaskan diri dari pelukan bang Zamy. Namun beberapa detik kemudian dia kembali menangkapku. Kali ini dia memelukku dari depan, perlahan mengangkatku lagi dan mendudukkan di meja masak persis di samping kompor. Dia memeluk pinggangku sesaat sambil sedikit membungkukkan badannya yang tinggi, lalu kedua tangannya perlahan bergerak. Tangan kirinya merengkuh pundak kiriku, sedangkan tangan kanannya kembali ke pinggang. Dia menciumku hangat berkali-kali, bibirnya mulai ******* bibirku penuh nafsu. Aku pun ikut bergairah dan mulai menikmati setiap cumbuannya. Desahan demi desahan lembut pun semakin membangkitkan suasana. Kami abaikan nasi di piring yang sudah sedingin hidung kucing. Kami semakin asyik tanpa peduli decakan dua ekor cicak di balik kalender. Semuanya tanpa direncanakan. Sepertinya hormon oksitoksin sudah menjalar ke seluruh aliran darah kami, serempak, kompak, bersama ingin mencapai kenyamanan yang menenangkan. Bang Zamy kemudian bersiap menggendongku, mungkin akan dibawanya aku kembali ke kamar pengantin. Namun baru saja aku mengalungkan tangan di lehernya, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu.


"Assalamualaikuuummm.... Nauraaa..., Zamyyy...." Tiba-tiba gangguan kedua kalinya datang lagi. Aku kaget dibuatnya, papa, itu seperti suara papa. Kami berpandangan dan tersenyum penuh arti. Bang Zamy mendekati pintu yang menghubungkan teras samping dan dapur utama. Mengintai sesaat melalui tirai lalu dia membuka pintu. Aku sudah melompat ke lantai dan merapikan baju dan rambutku yang berantakan.


"Bel kalian kok tidak menyala?" Papa langsung bertanya sambil menunjuk ke arah bel di pintu masuk.


"Mungkin lagi konslet pa." Bang Zamy menjawab, padahal aku tahu benar, tadi setelah tante Sofie pergi, bel sengaja di off kan karena tidak ingin diganggu.


"Owh begitu, maaf ya nak, mungkin papa mengganggu." Papa yang berkopiah dengan sajadah di pundak kanan, bersarung merah list hitam datang. Bang Zamy tersenyum ramah.


"Tidak mengganggu kok pa, silahkan masuk. Kebetulan kita baru mau makan, yuk makan bersama. Besok sudah puasa, kapan lagi makan barengnya." Bang Zamy mencium tangan papa lalu menuntunnya duduk di kursi meja makan. Aku tersenyum ikut mencium tangan papa.


"Tumben papa, malam-malam datang." Aku meletakkan sepiring nasi di hadapannya. Kuambilkan lagi lauk ayam kampung empat potong dan kuletakkan persis di hadapannya. Papa langsung berdiri lagi menuju wastafel, dia mencuci tangan dengan sabun cuci piring. Bang Zamy menatapku sambil mengangkat hidung dan mulutnya disertai tarikan nafas panjang. Dia berisyarat lesu sambil mengangkat bahu. Aku balas menggodanya dengan menjulurkan ujung lidahku ke pinggir bibir sebelah kanan. Dia hanya memberikanku kecupan bibir dari jarak jauh. Papa sudah duduk kembali.

__ADS_1


"Papa makan ya nak, ayo kita makan sama-sama, kebetulan papa memang sangat lapar. Di sini tadi tidak sempat makan. Di rumah juga tidak makan. Pikiran papa kacau." Papa mulai menyuap setelah aku mengisi piringnya dengan dua sendok makan sayur kangkung.


"Mikirin apa sih pa? Kayak ruwet amaaattt...," Aku mencoba menggoda papa. Namun papa tetap konsentrasi dengan makannya. Sekejap saja kulihat nasi di piringnya sudah hampir habis. Sedangkan lauknya belum habis sepotong.


"Tolong ambilin nasi tambah buat papa sayang." Bang Zamy mengingatkanku.


"Sudah-sudah nak, tidak usah, papa sudah kenyang." Papa mencoba menolak. Aku menatap bang Zamy.


"Lagilah pa, besok sudah mulai puasa lho...." Bang Zamy kembali bicara. Aku berdiri, mengambil sebuah piring lagi dan mengisinya dengan nasi tambahan. Kuletakkan sendok nasi di atasnya. Bang Zamy berdiri dan menuangkan sepiring nasi ke piring papa.


"Yaaahhh..., kalau sudah diisi nasi begini oleh Zamy tidak enak tanpa sayur lagi....," Ayah melihat lagi ke arah kangkung saos tiram. Aku tanggap dan menuangkan lagi dua sendok makan.


"Kangkungnya enak banget, beli di lamongan mana?" Raut wajah papa serius bertanya. Aku dan bang Zamy tersenyum berpandangan.


"Seriusan pa?" Kalau satu sampai sepuluh ini kangkungnya dapat nilai berapa?" Aku bertanya ke papa.


"Tambah irisan cabe rawit tujuh buah lagi, nilainya sempurna." Papa mengangkat kedua jempol tangannya.


"Wah kalau begitu kita buka warung lamongan saja pa...." Bang Zamy bicara sambil melirikku.


"Lho?" Papa menatap bang Zamy seketika.


"Seriusan nak?"


"Heeh." Aku mengangguk.


"MasyaAllah...,"


"InsyaAllah nanti bakalan Naura bawakan bekal makan siang deh buat papa." Aku semakin bersemangat karena telah dipuji menu kangkungnya.


"Entahlah, papa mungkin akan mengajukan pensiun dini." Papa menjawab memgejutkan kami.


"Lho kenapa? Bukankah masih empat tahunan lagi pa?" Aku bertanya. Namun papa tidak menjawab. Dia masih asyik dengan piring nasinya. Sejenak hening, bang Zamy dan ayah kembali ke pikiran mereka masing-masing. Aku menuangkan air hangat lagi ke gelas papa dan bang Zamy. Kutambahkan pula air biasa agar menjadi suam-suam kuku.


"Mereka makan dimana nak?" Tiba-tiba papa bertanya disela-sela keheningan.


"Mereka?" Aku balik bertanya. Kupandangi bang Zamy yang ikut memberikan aura wajah kebingungan.

__ADS_1


"Hemz maksud papa, Nisa, Nindy dan ibunya makannya dimana?" Papa menjelaskan maksud pertanyaannya tadi. Kami serentak mengangguk tanda mengerti.


"Owh mbak Nindy dan keluarganya. Sejak mereka di sini mereka pilih masak sendiri pa. Mbak Nindy ikut yuk Mairoh ke pasar pagi setiap harinya. Dia tidak bisa membawa motor sendiri soalnya. Kadang-kadang menunya sama dengan menu di sini. Tapi katanya mau masak sendiri. Naura biarkan saja." Aku menjelaskan panjang lebar. Papa serius menatapku.


"Bagaimana dengan biaya hidupnya?" Papa bertanya lagi. Dia menjauhkan piringnya yang sudah kosong, kemudian menopang dagu tegak dengan kedua jemarinya yang terkepal. Aku mengambil dan menumpuknya ke piring bekas makanku.


"InsyaAllah amanlah pa kalau masalah biaya hidup. Saya sudah sepakat sama Naura, sebulannya dikasih lima juta kecuali ada keperluan lainnya. Misalnya mau berobat tante Mira, atau si cantik Nisa mau masuk sekolah. Dan saya sudah sarankan agar Naura nemenin daftar sekolah kesetaraan saja. Ikut Paket C. Siapa tau mbak Nindy masih semangat nanti bisa melanjutkan kuliahnya. Saya sanggup kok pa, dan sudah komitmen sama Naura. Kepalang membantu ayo jangan setengah-setengah. Kita buat dia benar-benar sejahtera, kita usahakan dia bisa menggapai impiannya, bisa sukses seperti orang-orang lainnya." Bang Zamy sejenak berhenti. Ayah fokus mendengarkan.


"Dulu saat mereka masih tinggal di rumah kebun, saya pernah tanya mbak Nindy impiannya apa? Jawabnya sederhana sekali pa. Dia memimpikan bisa menjadi seorang guru taman kanak-kanak." Bang Zamy bicara lagi dengan santainya. Dia tampak begitu dewasa. Degup jantungku kembali naik saat menatapnya. Aku semakin jatuh cinta karena sikapnya. Ini bukan hal baru bagiku. Ayah mengenal dan mengasuh anak yatim Palestina karena menirunya. Bang Zamy lebih dulu memiliki bahkan sepuluh anak asuh di sana. Di negeri konflik, Palestina. Setiap bulan bang Zamy mengirimi ke sana melalui bang Onim, relawan Indonesia. Kulihat ayah tidak menjawab. Dia menunduk dan perlahan menarik selembar tisu di meja makan, mengelap matanya yang mulai basah.


"Ya Allah sesederhana itu impiannya, namun belum terwujud. SMAnya saja tidak tamat. Papa merasa sangat berdosaaa...." Papa sesenggukan, air matanya mulai berjatuhan. Aku mengangkat kotak tisu shaby itu, dan meletakkan persis di sebelah kanan depan papa. Sungguh tak terbayangkan, aku akan melihat direktur rumah sakit yang seringkali marah kepada bawahan di rumah sakit umum, kini menangis bak bocah meminta dibelikan permen. Bang Zamy menatapku sambil menepuk-nepuk pundak papa.


"Sudahlah pa. Kalau memang dulu pernah salah, yaaa..., mungkin sudah saatnya kita berbenah. Papa bisa memperbaiki semuanya kok. Berbuat baiklah kepada mereka selagi bisa." Kembali bang Zamy tampil sangat bersahaja. Ucapannya begitu dewasa. Papa mangangkat wajahnya.


"Terima kasih nak. Terima kasih telah menerima papa. Sebenarnya papa ke sini karena bingung sendiri tadi habis sholat di masjid, malas pulang ke rumah. Mamamu selalu marah-marah. Dia mengungkit-ungkit bagaimana caranya agar Mira tidak berada di sekitarku. Dia ingin Mira segera angkat kaki dari rumah kalian ini." Papa meluapkan isi hatinya ke kami berdua.


"Terus? Ucapan papa pagi tadi itu bagaimana?" Aku bertanya. Bang Zamy menatapku tak mengerti.


"Mungkin habis lebaran." Papa menjawab.


"Apa tante Mira mau?"


"Dia masih menolaknya."


"Pasti itu, papa harus lebih banyak bersabar dan menyiapkan diri lagi." Aku menjawab. Kulihat bang Zamy mengangkat dagu bertanya kepadaku.


"Papa bang. Papa mau menikahi tante Mira." Aku menjelaskan. Papa hanya menunduk malu. Sementara bang Zamy mencoba menahan senyumnya. Tak lama kemudian, adzan Isya terdengar. Papa langsung pamitan mau ke masjid. Bang Zamy mengikuti.


"Naura. Papa nanti langsung pulang ke rumah ya. Terima kasih jamuannya. Jujur kangkungnya mengalahkan lamongan 88." Papa berpamitan kepadaku. Aku mencium tangannya sambil tersenyum.


"Sering-seringlah berkunjung ke sini pa." Aku menjawab.


"Apa nggak terbalik sayang?" Bang Zamy mengingatkanku.


"Eh iya ya, harusnya kita yang sering berkunjung ke rumah papa." Aku tersenyum geli. Papa tidak begitu peduli lagi dengan ucapanku. Matanya lama menatap ke arah villa. Tampak Nisa sedang memukul-mukul betis tante Mira di teras. Mbak Nindy memijat lengan kanan tante Mira. Sementara tante Mira perlahan menyenandungkan lagu klasik penuh kenangan bersama papa. Matanya mendongak menatap langit dengan hiasan bulan dan bebintang. Lagu yang syahdu, membuat otak papa kembali menghadirkan memori-memori indah di masa lampau. Masa, dimana saat wanita yang sudah mengandungku sembilan bulan lamanya, belum hadir sebagai mahasiswa magang di rumah sakit tempat papa bekerja.


"Ayo pa, kita segera ke masjid." Bang Zamy mengingatkan sambil tersenyum, mengerling mata kepadaku.

__ADS_1


"Hehe iya." Papa tersadar dan tersenyum malu. Aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Kemudian menuju wastafel, mencuci piring lagi karena besok yuk Mairoh sudah minta izin selama tiga hari tidak masuk katanya anaknya yang SMP mau ujian online. Padahal dalam pikiranku dia sengaja membiarkan aku menikmati hari-hari cuti hanya berdua dengan kekasih hati, Zamy suamiku yang selalu membuat jantungku berdebar-debar. Aku masih berdiri, tersenyum sendiri, mengingat gangguan kedua tadi.


****


__ADS_2