Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 86 Sudahi


__ADS_3

Bang Fathur menghentikan mobilnya di pinggir jalan depan rumah mbak Nindya. Melihat pintu teralis terbuka dan mobil papa terparkir semua di dalam dia dengan penuh percaya diri ikut memasukkan mobil ke dalam pagar. Papa, Annisa dan tante Mira berlarian ke teras melihat siapa gerangan yang datang. Bang Fathur turun dengan setelan rapi, dia mengenakan baju kaos keabu-abuan tua berkerah dan celana Chino abu-abu gelap.


"Fathur...?"


"Fathur...?"


Papa dan tante Mira keheranan. Sementara Annisa terpesona melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.


"Assalamualaikum pak, tante, Nisa sayang...." Bang Fathur bersalam sambil mencium punggung telapak tangan keduanya.


"Waalaikumsalaaammm...." Papa menjawab kencang, tante Mira menjawab pelan sedangkan Annisa menjawab sangat pelan. Dia kemudian turun ke halaman setelah mencari sandalnya. Lalu dengan lembut dia menempelkan telapak tangan ke mobil bang Fathur.


"Ooommm..., ini mobil siapa?" Tiba-tiba Nisa berteriak bertanya. Bang Fathur yang sudah duduk di teras bersama Papa tersenyum menjawab.


"Mobil om Ca, tapi boleh kok sama-sama dengan Nisa."


"Nanti ajak Nisa jalan naik ini ya om. Sebentaaaarrr saja, secuil jalan om."


"Aih bagaimana pula Ca yang secuil jalan tu? Nanti habis Ashar kita jalan yaaa...." Bang Fathur tersenyum menjanjikan. Sementara tante Mira sudah menyajikan dua cangkir kopi hitam dan kue kering di ruang tamu.


"Thur ngopi dulu ni. Nisaaa..., jangan dulu ganggu om, dia mau istirahat. Jangan deket-deket mobil nanti lecet cuuu...." Tante Mira meneriaki cucu kesayangan. Bang Fathur tersenyum.


"Nggak apa-apa tante, nggak bakalan lecet kok. Caaa..., nanti kita jalan sayang ya...." Penuh sayang nada suara bang Fathur ke Annisa. Setelah bicara dia menuju ke ruang tamu tempat Papa sudah menunggu dekat kopi yang mengepulkan asap.


"Bener ya om...."


"Iya bener. Kita ke pantai Pasar Pagi, makan otak-otak sama es kelapa muda ya."


"Horeeee...." Nisa segera kabur dari dekat mobil bang Fathur. Dia segera masuk ke dalam rumah, melanjutkan bermainnya seperti sebelum bang Fathur datang. Membiarkan kakek dan neneknya mengobrol dan berbasa basi setelah beberapa hari tidak ketemu.


*****


Sekitar satu jam lebih mereka mengobrol, mbak Nindya datang dengan motor NMaxnya beserta keranjang rotan kiri kanan. Dia parkir di bawah sawo depan teras, tempat yang sangat teduh. Setelah mengepaskan standar, tubuhnya yang sedikit nampak kurus dan kelelahan, mengangkat keranjang rotan panjang yang didesain khusus untuk tipe motornya. Meletakkannya di balai-balai papan di bawah pohon sawo. Mendengar Mbak Nindya datang, Bang Fathur segera keluar.


"Nindyyy...." Bergetar suara bang Fathur memanggil wanita pujaan hatinya itu. Dia turun ke tanah tanpa konblok itu dengan tidak mengenakan sandal. Tangannya mencoba membantu mengambil katong kresek merah berisi tiga sisir pisang ambon hampir masak yang tergantung di motornya. Namun tangan lelah dengan urat-urat nampak hijau besar itu terlanjur lebih dulu meraihnya. Jemari mereka bersentuhan. Bang Fathur merasakan lega sekali. Dadanya kembali berdebar damai. Ada kebahagiaan menelusuri nadi kehidupannya.


"Kau datang pak? Sudah lama?" Mbak Nindy dengan wajah berpeluh namun tidak menguragi kecantikannya menyapa dengan suara halusnya. Dia mengangguk dan memandang sesaat ke arah bang Fathur.


"Belum lama paling satu jam lebih. Nindy ke kebun sendiri?" Bang Fathur nampak sangat mengkhawatirkannya. Sambil mengelap wajah dengan kain lapis luar jilbab kaosnya mbak Nindy menjawab.


"Iya, hanya sebentar."


"Kenapa tidak sama Bapak?"


"Nggak apa-apa, hanya sebentar tadi, langsung mengatar ke warung-warung langganan. Permisi ya pak." Mbak Nindya berlalu dengan sekantong pisang di tangan. Dia meninggalkan laki-laki yang belum puas melampiaskan kerinduan kepadanya. Laki-laki yang barusan sudah mengiris-ngiris ulu hatinya. Laki-laki yang sedikit bingung harus berbuat apa kepadanya.

__ADS_1


*****


"Habis nak?" Tante Mira bertanya kepada putrinya.


"Alhamdulillah habis bu. Bahkan mang Zafar pesan ubi Thailand yang lebih banyak untuk besok. Katanya ada langganan butuh ubi banyak untuk gethuk varian rasa."


"Owh alhamdulillah kalau begitu. Mandilah nak, makan dan temani Fathur ngobrol. Dia sudah lama menunggu kepulanganmu."


"Tidak bu, Nindy agak kurang nyaman badan. Mau istirahat, ini uang hasil hari ini tolong ibu hitung ya." Mbak Nindya memberikan semua uang hasil dia berjualan aneka hasil kebunnya hari ini. Lalu dia beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan tante Mira yang kebingungan sendiri melihat tingkahnya sangat jauh dari biasanya.


*****


"Nin, ini nak hasil daganganmu hari ini, hampir tujuh ratus ribu, kurang enam puluh lima ribu lagi." Tante Mira memberikan uang ke mbak Nindya kembali. Mbak Nindya yang baru keluar dari kamar mandi singgah mengambilnya.


"Ambil di tempat biasa kalau ibu butuh uangnya bu...." Mbak Nindya bicara kemudian berlalu. Iya tiga hari sekali sekitar itulah pendapatan mbak Nindya. Dia punya uang selalu ditabung dan ditabung, tidak di bank tetapi di tempat-tempat unik. Waktu di kebun uangnya dimasukkan ke dalam tanah setelah di taroh di dalam bekas kaleng biskuit. Dia memiliki simpanan yang sudah puluhan juta, namun untuk belanja selembar baju saja dia tidak punya keberanian utuh. Seakan-akan semua orang akan memandangi dan kembali mempermalukannya yang tak punya ayah dan lahir dari perkawinan yang tidak sah. Pembullyan di masa kecilnya masih menyisakan trauma baginya. Hingga kepercayaandirinya jauh di bawah rata-rata. Beruntung sekarang semua itu berangsur-angsur berkurang. Dia sudah berani masuk-masuk ke toko-toko untuk berbelanja kebutuhan. Untuk baju dia sudah mengambil sendiri di butik miliknya sendiri yang dibangun Papa. Namun sekarang, hatinya kembali terluka. Dia berganti baju lalu tiduran di atas tempat tidur kamar pribadinya sambil melanjutkan membaca karya sastrawan besar Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana dengan Layar Terkembang.


*****


Namun baru saja mau menginjak tiga lembar membaca, Papa tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya yang tidak terkunci.


"Nin, tolong temani Fathur nak, ayah mau bersih-bersih kandang burung di belakang, sementara ibumu lagi ngobrol ke tetangga sekalian membawa Annisa beli es krim." Papa sengaja membuat alasan agar mbak Nindya segera keluar dan menemui bang Fathur yang merasa tak enak hati melihat tingkah mbak Nindya yang seakan begitu cuek kepadanya.


"Nindy sangat capek dan mau istirahat yah. Suruh saja Fathurnya pulang." Air matanya tiba-tiba saja menitik menyebut laki-laki di ruang tamunya. Rasa sesak tiba-tiba menyeruak. Dia begitu merindukan laki-laki berkharisma itu, dia mulai memaafkan dan memahami kondisi laki-laki muda menduda yang hampir bebuat salah kepadanya. Dia merindukan panggilan bernada sayang kepada anak dan dirinya. Namun entah kebetulan untuk apa sehingga dia harus melihat laki-laki yang sebenarnya sangat dia sayangi dan rindukan itu, nampak dicium wanita cantik dan lebih segalanya darinya.


"Nin, keluarlah nak. Tidak boleh seperti itu." Papa masih membujuk. Sementara mbak Nindya hanya diam saja. Dia menutup bacaannya dan mengambil handphone pemberian laki-laki yang sedang menunggunya di ruang tamu. Pesan whatapp masuk dari bang Fathur.


Membaca pesan keramat dari laki-laki yang memesona hatinya. Ada getaran halus menjalar di sekujur badannya, bahkan sampai menembus ke organ intimnya. Getaran berdenyut hangat, menyelipkan kerinduan membuncah yang ingin pula dia tumpahkan. Getaran yang membawa hatinya yang ingin merajuk, berkemas pergi karena cemburu dan merasa redah diri, kembali bangkit melahirkan rasa penasaran dan perlunya konfirmasi utuh. Dia harus menemuinya. Dia tidak boleh merasa sudah tersingkir bahkan di saat peluit pertandingan belum ditiup wasit pertandingan. Dia bangkit, berganti baju tunik bahan jagung berwarna merah hati list hitam dipadukan jeans pinsil biru. Dia menyisir rambutnya, sedikit menekan spons bedak wardah eksklusif tanpa menekan ke bedak padatnya lagi. Dia membersihkan lubang hidung dengan tisu, mengoleskan sedikit saja lipgloss Wardah pemberianku. Dan memasang jilbab segiempat tanpa daleman jilbab hingga masih nampak bulu-bulu halus di keningnya.


"Nin...," Kembali suara Papa memanggil.


"Iya ayah, ini Nindy sudah mau keluar." Akhirnya mbak Nindya menjawab yang melegakan Papa.


"Baiklah. Ayah ke belakang ya."


"Iya yah."


Mbak Nindy sedikit menyemprotkan parfum Estee Lauder Pleasure, wangi bunga yang lembut ke bajunya. Lalu dengan hati yang sedikit kacau dia menyibak tirai kamar dan menuju ruang tamu. Nampak bang Fathur terpanah lagi melihat kecantikannya. Namun karena ada terlintas pikiran agresifnya dia segera mengerjap-ngerjapkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala.


"MasyaAllah kau cantik sekali Nin...." Bang Fathur tak urung memuji calon istrinya itu. Mbak Nindy tersenyum lalu duduk di depan bang Fathur. Mereka berhadap-hadapan dan hanya dibatasi meja ruang tamu.


"Tapi jauh lebih cantik pacar barumu Fathur." Meskipun dengan suara halus lembutnya, jawaban mbak Nindya mampu menggetarkan otak dan pikiran bang Fathur. Wajahnya sedikit memucat, nampak dia terkejut bukan kepalang.


"Apa maksudmu Nindy? Abang tidak ada pacar selain kamu. Percayalah, abang tidak akan melamarmu jika tidak bersungguh-sungguh." Bang Fathur menatap heran dan khawatir kepada lawan bicaranya. Mbak Nindya tersenyum hambar.


"Kalau bukan pacar, siapa gadis yang sudah melabuhkan bibir merahnya ke pipi kamu bang?" Dengan tersenyum tipis mbak Nindy balik bertanya. Sementara bang Fathur semakin kebingungan saja dibuatnya.

__ADS_1


"Siapa dek? Beneran abang tidak akan mengkhianati Nindy."


"Hemzzz...."


"Percayalah...."


"Iya Nindy percaya."


"Abang serius dek, saking seriusnya abang tadi sudah minta izin dan konsultasi sama ayahmu, pernikahan kita dimajukan jauh menjadi minggu depan. Ayah dan ibumu setuju. Orang tuaku pun setuju."


"Ah yang benar saja? Terus Betty? Akan abang apakah gadis cantik dan setara denganmu itu bang?"


"Betty? Bagaimana adik tau tentang Betty?" Bang Fathur sangat kebingungan.


"Asal abang tau, sejak mobil abang...,"


"Itu juga mobilmu."


"Sejak mobil abang berhenti, hingga pergi lagi mata Nindy tak sedikitpun mengerjap menyaksikan kalian berdua. Abang bukakan pintunya, abang tuntun dia hingga dia mencium pipimu bang. Tadi, kebetulan Nindy sedang mengantar barang pesanan bu Rohaya di warung sayur tempat abang berhenti bersama pacarnya."


"Dia bukan pacar abang. Memang dia gadis tua sepertinya sengaja mau cari gara-gara...."


"Kau bisa membuat alasan lain bang kepada ayah dan ibuku, jika ingin membatalkan menikah denganku, silahkan saja, jujur abang lebih pantas berjalan bersama Betty, sama-sama ASN dan bekerja dengan pakaian rapi. Dia cantik dan terpelajar. Lha Nindy? Saking kumal dan lusuhnya, abang bahkan tak mengenali sama sekali."


"Bukan tidak mengenali dek, abang memang sengaja tidak ingin melihat ke sana kemari."


"Iya wajarlah, lagi fokus sama Betty."


"Nindy berhentilah dek. Abang tidak ada hubungan apa-apa dengan cewek itu, dia sengaja nunggu abang pulang biar bisa nebeng. Lain kali abang tidak akan menaikkan penumpang wanita kecuali keluarga sendiri. Percayalah Nindy, abang sangat mencintai adek. Jangan pikirkan yang lain lagi. Jika tidak serius, abang tidak akan sejauh ini. Abang bahkan menahan malu kepada ayah ibumu minta agar dimajukan pernikahan kita, semua karena abang sangat menyayangimu Nindy." Bang Fathur mendekat ikut duduk di dekat kursi mbak Nindy duduk. Mbak Nindy melihat ketulusan ucapan kekasihnya. Dan sepintas memang dia melihat ekpresi tak senang bang Fathur saat dicium Betty tadi.


"Maafkan abang Nin, jangan lagi salah paham ya sayang. Abang tulus benar-benar tulus mencintaimuuu..., abang ingin berketurunan bersamamu, abang ingin menua bersamamu Nindy...." Bang Fathur seperti ABG labil kembali. Sementara mbak Nindy merasa lega mendengarnya. Hatinya bersorak girang. Dia tersenyum manis.


"Nin...." Melihat mbak Nindya tersenyum, suara berat itu kembali hadir.


"Kenapa?"


"Boleh meluk? Abang kangen berat, benar-nenar kangen."


"Boleh."


"Terima kasih."


"Seminggu lagi tapi...."


"Haduuuhhh...." Bang Fathur nampak lesu mendengarnya. Dia berdiri dari tempat duduknya dan akan kembali ke tempat semula. Namun karena tak tahan, bang Fathur kembali berbalik, dia menunduk dan mencium bibir berlipgloss itu. Sekali saja, bibir mereka bertemu, lama dan hangat setelah itu saling melepaskan. Tak ingin kebablasan bang Fathur segera pamit pulang dan meyuruh mbak Nindy bersiap, dua jam lagi akan dijemput jalan-jalan ke pantai Pasir Padi bersama Annisa.

__ADS_1


*****


(bersambung)


__ADS_2