Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 66 Karma


__ADS_3

Keesokan harinya, bang Zamy sengaja mondar-mandir di teras sehabis Subuh untuk menunggu pengantar koran datang. Dia yang semalaman pulang Subuh sehabis meminta konfirmasi dari Shelly hanya sempat tidur tidak sampai dua jam. Menghilangkan kejenuhan saat menunggu, dia kemudian olahraga di lingkungan rumah saja dengan berlari kecil sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki. Fredy yang melihat bang Zamy dari tadi berjalan mendekat.


“Pagi pak dokter, tumben pagi-pagi sudah olahraga?” Dia tersenyum sambil membuang sisa rokok di tangannya ke tanah. Lalu kakinya menginjak-injak bara api kecil yang masih tersisa di puntung rokok yang dibuangnya. Asap yang sebelumnya mengepul berhenti seketik.


“Hehe…, iseng saja sambil menunggu pengantar koran datang Dy.” Bang Zamy menjawab sambil menghentikan gerakannya.


“Ooohhh..., dokter lagi menunggu koran ya? Hehe Fredy ambilkan dulu dok, sudah dianter tadi tetapi saya kan biasa baca dulu baru anter ke teras.” Fredy berbalik ke pos jaga. Tak lama kemudian dia memberikan koran harian B@ngkapos kepada bang Zamy.


“Kamu sudah selesai belum bacanya?” Sambil mengambil koran, bang Zamy bertanya kepada Fredy.


“Sudah dari tadi kok dok.” Fredy kemudian memutar badan kembali ke pos melanjutkan permainan di handphonenya.


“Okelah, makasih ya Dy.” Bang Zamy kembali masuk ke dalam rumah. Dia duduk di sofa ruang tamu yang bersebelahan dengan dapur. Kaki kanannya naik ke kaki kiri yang menjejak di lantai rumah.


“Ini kopinya sayang.” Aku datang dengan segelas kopi susu hangat di meja hadapan suamiku membaca koran.


“Alhamdulillah Bee..., Opid takut juga dipenjara.” Bang Zamy menatapku kegirangan.


“Ada apa?” Aku lupa.


“Nih baca sendiri....” Bang Zamy memberikan Koran kepadaku.


"Males ah baca. Ceritakan saja." Aku cemberut.


"Eeiitthhh tidak boleh malas sayaaanggg..., wanita hamil itu kan bagusnya banyak membaca, dan belajar, agar dedeknya nanti tumbuh jadi anak pintar dan rajin." Bang Zamy memaksaku. Akhirnya kubaca dengan cepat isi artikel. Sebuah headline news yang berbunyi : Pasangan Wakil Direktur rumah sakit Timah, pemilik klinik Zee Queen rupanya sengaja dirumorskan positif covid-19 agar pasien tidak datang berobat”, dalam artikelnya penulis menjelaskan, karena permasalah pribadi seseorang sengaja menelpon pihak media cetak memberikan rumors yang merugikan pihak terkait. Media mengungkapkan permohonan maaf atas ketidakprofesionalan telah memberitakan berita dari satu sumber yang tidak jelas kebenarannya. Aku menghela nafas lega.


“Sekarang tinggal membuat jerat yang bisa menangkap sumber kekacauan ini. Setelah itu hidup kita akan damai tanpa gangguan lagi.” Bang Zamy bicara sambil menyeruput kopi susu yang kusajikan.


“Aku hanya bisa mendukungmu honey…,” Aku melepaskan koran di tangan. Dan menuju dapur mengambil minumanku, minuman ibu hamil. Namun belum sempat aku sampai di meja, bang Zamy mengikutiku.


“Kenapa sih…,?”


“Abang agak stress, ditambah kurang tidur semalam....” Dia mulai tersenyum-senyum mencurigakan.


“Terus? Tidur lagi sana, nanti adek bangunkan kalau sudah waktunya bersiap ke kantor.” Aku bicara sambil kembali minum minuman ibu hamil rasa mocca itu. Namun bang Zamy malah bergelayut manja di pundakku. Tangannya mengelus-elus perutku yang mulai nampak membuncit.


“Dek, dedek sehat kan? Papi mau periksa sedikit boleh?” Bang Zamy mulai merayuku.


“Ah, sudah-sudah sebentar lagi yuk Mairoh datang. Mendingan temenin adek olahraga sebentar.” Aku menepis tangannya sambil mengajaknuya berjalan.


“Ini juga olahraga lho Bee.... Abang mau melepaskan mumet di kepala nih.” Suami tersayangku masih saja berusaha merayu. Aku sudah paham benar olahraga apa yang dia maksudkan.


“Malam saja, adek kasih bonus…,” Aku mencium pipinya lalu beranjak menuju ke kamar untuk berganti baju olahraga dan jogging sedikit di sekitar kebun belakang sambil menghirup udara segar. Bang Zamy tersenyum berbinar mengikutiku dari belakang. Tanpa mempedulika tatapan nakalnya aku pun melepaskan daster tidur yang kukenakan dan mengambil baju stelan olahraga berwarna merah hati untuk ibu hamil di lemari. Dan ketika aku berbalik, seseorang sudah menangkap tubuhku yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.


“Ayolah sayang, kita bercinta dulu sebentar, abang benar-benar butuh refreshing.” Bang Zamy memasang muka memelas. Hati siapa yang tak akan luluh, melihat kesayangan menatap dengan wajah penuh gairah. Jika aku tidak melayaninya, dia akan susah lepas dari belenggu s3ksual itu. Dia sering kali mengatakan kalau sudah berdiri hormat, dia tidak bisa menurunkan tangan tanpa melihat bendera dulu. Aku pun melebarkan senyum sambil memastikan kalau pintu kamar sudah terkunci. Dia sudah menghidupkan AC kembali.


“Makanya jangan terlalu cantik dong sayang, jangan setiap hari malah menjadi semakin cantik…, kan abang jadi kepengen begituan terus….” Bang Zamy berbisik beralasan. Aku mencubitnya. Dia menarik tanganku, mengajakku ke Sofa yang biasa kami pakai untuk bersantai di kamar. Tivi dia besarkan volumenya dengan channel berita mewanti-wanti kalau yuk Mairoh sudah datang dan mulai beres-beres di ruangan dekat kamar itu. Kemudian dengan sangat bersemangay dia mulai melepaskan kaos putih Supreme dan training hitam yang dia kenakan, lalu perlahan mulai beraksi dengan hangat hingga membuatku ikut terhanyut dan terbuai asmaranya yang matang. Kami kembali merengkuh kenikmatan bersama di pagi yang indah. Pagi yang menyajikan sejuta semangat bagi anak-anak manusia. Pagi yang menjanjikan adanya perubahan hidup yang akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


*****


Pemuda tampan bertubuh tinggi itu tidak berputus asa. Dia kembali mengejar langkah kaki jenjang yang lincah menapaki halaman rumah kakek. Gadis itu habis berolahraga dengan kakek.


“Ayolah Nin, Berikan aku kesempatan sekali saja. Kita makan malam berdua yuk.” Dirga masih memberikan senyum menawannya. Kakinya mengimbangi langkah cepat wanita yang dipujanya.


“Maaf Dirga, sepertinya aku tidak punya waktu untuk bersama orang yang tidak aku inginkan sama sekali. Bahasa kasarnya kau tidak memenuhi kriteriaku sama sekali....” Dengan masih bersikap cuek Nina menjawab sambil berjalan. Sediitpun dia enggan menatap laki-laki yang mencoba mensejajarkan langkah dengannya.


“Minimal untuk tanda persahabatan sajalah Nin kalau pun engkau menolak untuk menjadi lebih.” Dirga menahan diri untuk tidak menangis sedih selalu diacuhkan. Dia begitu sabar selama ini, meski dikata-kata kasar dia masih mencoba lagi. Meski tidak mendapat jawaban dia ulangi lagi merayu. Meski sering dicibir dia tetap berbaik sangka. Dia benar-benar mencintai Nina, namun nampaknya Nina tidak membuka hati sedikitpun untuknya.


“Kalau tidak mau makan malam, kita makan siang saja yuk Nin….” Dirga tersenyum merayu lagi. Tidak ada kamus putus asa dalam benarknya, minimal untuk saat ini.


“Apa bedanya?” Nina menoleh sambil berdiri di samping mobilnya.


“Mungkin kalau makan malam terlalu romantis. Kau malu….” Dirga tersenyum menjelaskan.


“Dan kalau siang?” Nina bicara nampak angkuh seperti mengejek. Padahal memang ituah sikap aslinya.


“Mungkin orang akan menyangka kita hanya rekan kerja, atau minimal sopirmulah.” Dirga tersenyum menampakkan harapannya.


“Tapi tetap tidak ada bedanya. Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada orang sepertimu Dirga.” Nina memegang kedua tangannya di depan pintu mobil kiri depannya. Kakinya bersilang dengan sebelah kaki menekuk.


“Kenapa?”


“Dirga, kau sudah tahu keadaanku. Aku hanya memiliki seorang ibu yang sifat dan sikapnya sangat di luar harapanku. Ayah? Aku bahkan tidak pernah tahu siapa ayahku.”


“Apa hubungannya denganku?”


Aku akan melupakan orang yang bahkan tidak berniat mengenangku sedikit saja....


Dia bergegas naik ke rumah kakek, lalu mengambil sepucuk senampan, mengambil topi dan masker, lalu bergegas pergi. Kakek menatapnya heran.


“Kau mau kemana pujangga lapuk? Siapa yang akan kau eksekusi?”


“Menembak burung di tempat kakek pernah mengajakku tempo hari. Aku pinjam motor ya kek.” Dirga bicara sambil memakaikan tali pada sepatu boot hitam kakeknya.


“Pakai saja, hati-hati nak. Salam ya sama haji Soleh kalau dia ada di peternakan.”


“Oke kek.” Lalu Dirga pergi memakai salah satu motor kakek menuju ke area perkebunan orang. Hatinya merasa sangat sakit, mendapat pandangan yang sangat tidak adil. Bukankah kelahirannya bukan dia yang menghendaki? Bukankah perkos**n orang kepada ibu yang baru dilihatnya menjelang ke liang lahat bukan hal yang menyenangkan. Jika ada pilihan lain, dia tidak akan memilih nasib seperti itu. Hatinya menjerit, batinnya merintih, namun dia tetap tidak akan pernah menyalahkan Tuhan.


Pergilah mengisi kekosongan hati dan obati luka yang dia torehkan…, harusnya tidak ada penghinaan atas nasibnya karena takdir itu tidak ada pilihan lain….


*****


Pukul 09 pagi, di hari yang sama dengan beberapa kejadian, seorang laki-laki gendut bekepala botak mengetik sebuah pesan pada sebuah aplikasi berbayar.


“Ayo ke hotel, aku lagi ingin bercinta denganmu beibh….” Gadis itu melihat ke layar hapenya sambil menyuapi saudaranya yang menderita downsindrom berusia tiga belas tahun.

__ADS_1


“Ke mana yank? Sudah di booking?” Dia membalas pesan dengan satu tangan karena tangan kanan dia gunakan menyuapi adiknya.


“Belum, kamu booking sendiri ya, kabarkan kalau sudah oke. Gadis itu kemudian berdiri, mengambil hapenya yang satu lagi. Dia memesan satu kamar hotel yang sudah menjadi langganannya. Kemudian segera menyuruh adiknya segera menghabiskan nasi d piring lalu pergi dengan sebuah ojek online. Sementara laki-laki tadi segera keluar dari kantor dan berbicara dengan sekretarisnya akan pergi melakukan tinjauan lapangan penyaluran beras bulok. Lalu dia membawa mobil pribadinya yang dia bawa dari kantor. Sebuah sedan Vios hitam tahun lama yang sering dibawa istrinya. Dan tak butuh waktu lama, sekitar empat puluh lima menit di perjalanan dia masuk ke sebuah hotel dengan masker dan topi, berjakan santai layaknya tamu hotel menuju kamar di mana gadis tadi telah menunggunya. Di dalam tasnya sudah terselip sebuah pisau dapur yang diambilnya di kantor saat menuju parkiran belakang.


“Halo honeyku, mau berapa ronde hari ini?” Gadis mungil itu menyapanya dengan genit.


“Hemz….” Laki-laki itu tidak menjawab.


“Kenapa wajahmu tak segairah sebelum-sebelumnya? Apa yang terjadi honey….? Apa istrimu kembali marah-marah?” Gadis itu memegang kedua belah pinggul bandot tua yang baru datang. Lalu dengan perlahan tangannya mulai menurunkan resliting celana coklat PDH ASN yang dikenakannya. Laki-laki itu menelan ludah seketika merasa menginginkan. Namun otaknya berusaha menahan agar tidak naik birahi.


“Shelly berhenti.” Laki-laki itu mendorong tangan wanita itu dan mengeluarkan gulungan koran yang terselip di pinggang kanannya. Shelly ikut berdiri, dia sangat terkejut melihat tingkah orang yang selama ini bahkan sudah menunggunya di kamar hotel dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.


“Kamu kenapa?” Dengan mimik wajah memucat Shelly bertanya.


“Kamu kenapa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu. Kamu kenapa? Kamu kemanakan uang yang kukasih agar media memblowup berita Zamy dan Naura positif corona. Tapi lihatlah. Sehari muncul di koran, besoknya malah keluar klarifikasi seperti ini. Ini nih ini, kamu baca. Plak! Gulungan Koran itu dipukulkan sekuat tenaga ke kepala Shelly. Berkali-kali sampai korannya terkulai-kulai. Memang di fisik tidak begitu sakit, namun di hati? Hanya wanita malang itu yang tahu.


“Maaf pak, uangnya saya kasih sebagian, separuhnya saya mau pakai buat berobat ibu….” Shelly nampak ketakutan. Dia duduk menunduk dekat kaki bandot tua itu. Berharap akan ada belas kasih.


“Selalu begitu, kau habiskan uangku hanya untuk keluargamu. Dasar tidak berguna!” Bandot tua itu bahkan menginjak kepala Shelly yang menahannya dengan kedua tangan sambil menangis.


“Maaf pak, maaf.”


“Maaf-maaf-maaf. Anak kesayangaku akan disidang dalam hitungan jam lagi, dan tidak ada tanda-tanda Zamy dan Naura itu akan mencabut laporannya. Kalau sudah begini semuanya sia-sia. Irwanku akan dipecat dari kepolisian dan dia akan dihukum lebih lama.” Sambil bicara membentak, pak Bayu menendang, menginjak kepala bahkan nenerjang ******** dan wajah Shelly. Shelly yang bertubuh mungil itu tidak bisa melawannya. Dia hanya mencoba melindungi sekuat tenaga dengan kedua tangannya, apa-apa yang bisa dia lindungi.


“Kalau kau begini, statusku juga sudah diketahui istriku, karirku juga bisa berakhir. Lebih baik kau mat! saja.” Begundal gendut itu semakin lupa diri.


“Jangan pak, ampun pak, maafkan aku pak.” Shelly berlutut dengan wajah memar dan berdarah terkena tendangan kerasnya sepatu laki-laki itu. Namun bandot tua sudah tidak memperdulikan lagi rengekan dan permohonan ampun gundik yang selama ini menemaninya. Perlahan tangannya mengambil pisau dapur dari dalam tas.


“Lebih baik kau kuhabisi sebelum semuanya terbongkar!” Bandot tua itu mengangkat pisau dengan tangan kanannya ke arah leher Shelly yang dicekiknya dengan tangan kiri.


“Tok-tok-tok…!”


"Housekeeping!" Terdengan suara dari luar pintu. Pak Bayu sejenak berhenti. Dia melepaskan leher yang sudah memerah itu. Shelly perlahan menata nafasnya yang tersengal. Matanya memerah karena sesak. Sementara pak Bayu, meletakkan pisau ke laci meja rias di belakangnya. Shelly menjauh menuju pintu untuk membukanya, namun kaki kirinya ditarik bandot tua. Shelly terjatuh dan mulutnya yang mau berteriak seketika disumpal dengan tangan kiri penjahat kelamin itu.


"Housekeeping!" Lagi-lagi terdengar suara petugas layanan kebersihan. Dengan geram pak Bayu mendorong Shelly ke arah kepala sofa agar tersembunyi dari balik pintu. Shelly meringkuk ketakutan. Lalu setelah menahan kemarahan dan menyiapkan sebuah senyuman kepada petugas yang di depan pintu, pak Bayu membuka pintu perlahan. Senyum yang telah dia persiapkan enggan melebar. Mulutnya kaku dengan nafas sejenak terhenti. Sungguh di luar dugaannya, yang mengetuk pintu memang seorang petugas hotel, namun serentak dengan menahan suara berisik, bahkan lebih dari dua puluh orang terdiri dari anggota polisi, wartawan dan tante Sofie beserta kerabatnya, juga kerabat pak Bayu sendiri yang langsung masuk dan menempelengnya berkali-kali. Dia kena gerebek. Seorang polisi ikut masuk dan melerai. Dia memperlihatkan surat tugas.


"Selamat siang pak. Atas laporan dari pasangan sah Anda atau istri Anda ke kantor polisi atas dasar perbuatan perzinahan yang diatur dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), kami menangkap Anda dengan bukti yang ada." Polisi itu memborgol pak Bayu yang menatap tajam ke arah istrinya. Wartawan seketika masuk kamar dan memotret semua yang bisa dijadikan bahan berita. Shelly menunduk.


"Sofie! Apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" Dia berjalan digiring petugas sambil menoleh-noleh penuh emosi. Matanya seakan ingin menguliti istrinya.


"Itu akibat dari kelaminmu yang kegatelan." Tante Sofie menjawab sambil menampar suaminya.


"Lepaskan pak, aku tidak bersalah. Aku hanya mendengar keluhannya, gadis itu bukan selingkuhanku, dia itu korban perdagangan manusia. Dia hanya mau berbicara dari hati ke hati." Pak Bayu mencoba lolos dari jerat hukum pidana. Dalam keadaan terdesak dia seketika masih mampu merangkai kata.


"Nanti dijelaskan saja di kantor. Kami melaksanakan perintah tugas"! Seorang polisi yang menggenggam lengannya menenangkan. Namun bidikan demi bidikan lensa kamera terus memburunya, termasuk lensa kamera dari laki-laki dekil yang menemani bang Zamy membuat Shelly berbicara. Shelly juga dibawa oleh polisi wanita. Dia hanya menurut dan malah merasa bersyukur atas penangkapan ini, karena minimal nyawanya terselamatkan dari cengkeraman bandot tua yang kejam dan dia masih bisa kembali ke rumah untuk menyuapi makan adiknya yang berkebutuhan khusus. Dia ingin kembali ke rumah dan mengajak bertukar pikiran ibunya yang sedang stress berat ditinggal ayahnya menikah lagi.


Tak perlu dibalas kedzaliman orang kepada diri kita, karena karma tau kemana tempatnya harus membalas....

__ADS_1


*****


(bersambung)


__ADS_2