Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 93 Pernikahan Bang Fathur


__ADS_3

Kesibukan kembali terjadi seperti saat aku dan bang Zamy dulu menikah, sebuah persiapan perhelatan pernikahan sedang berlangsung. Dari selesai sholat Subuh yuk Zaidar sudah mendandani sepasang calon pengantin di rumah mbak Nindya. Bekali-kali kejadian konyol terjadi. Mbak Nindya merasa


sangat tidak percaya diri dimakeup oleh yuk Zaidar. Ketika yuk Zaidar memasangkan alas bedak yang agak tebal menurutnya, mbak Nindya malah menghapusnya dengan tisu basah. Ketika dipasangkan lipstik agak terang, pelan-pelan mbak Nindya kembali mengelap dengan jilbabnya.


"Fathuuurrr..., sini Thuuurrr..., tolong ayuk." Yuk Zaidar kewalahan diulah mbak Nindya.


"Kenapa yuk?" Bang Fathur mendekat.


"Ini calon istrimu tolong pegangin tangannya biar dia tidak menghapus mek-apan ayuk di wajahnya." Yuk Zaidar mengeluhkan sambil bercanda. Mendengar penjelasan yuk Zaidar, segera Bang Fathur duduk bersila persis di samping Mbak Nindya. Kedua tangannya seketika memegangi kedua tangan mbak Nindya yang wajahnya langsung memerah menahan malu.


Kesempatan dalan kesempitan....


Mbak Nindya melepaskan pegangan tangan Bang Fathur. Dadanya berdetak kencang saat mereka bersentuhan. Ditambah ada yuk Zaidar, Mbak Nindya semakin malu dibuatnya. Malu bercampur debaran hangat yang tidak bisa ditahannya.


"Sudah ah lepaskan." dengan menarik tangannya Mbak Nindya menatap sepintas kepada calon suaminya itu.


"Pegangin saja Thur." sambil terkekeh yuk Zaidar malah senang menggoda mbak Nindya yang begitu pemalu.


"Lepasin bang ah! Nindya janji yuk, tidak akan main hapus-hapus 'mekapan' lagi. Terserah yuk Zaidar mau bagaimana, tapi jangan ketebalan." Mbak Nindya bicara langsung untuk keduanya. Bang Fathur memandang lucu calon istrinya itu.


"Nggak ketebalan kok, sudah ayuk buat sedemikian rupa sesuai wajah cantikmu Nindy...." Yuk Zaidar menjawab.


"Iya yuk, jangan tebal, nanti Nindy seperti ondel-ondel...." Mbak Nindya masih belum percaya diri dibuatnya.


"Hahaha..., tang neng nang neng nong neng nang neng nong...." Bang Fathur melenggak-lenggokkan kepalanya bergaya ondel-ondel.


"Mana ada kulit putih begini jadi ondel-ondel, malah kalau di 'mekap' jadi cetaaaarrrr membahana nanti. Diamlah Nin, ayuk akan membuatmu lebih cantik dari Syahrini...." Yuk Zaidar bercanda lagi. Bang Fathur nyengir saja mendengarnya.


"Oke, tapi lepaskanlah tangan Nindy..." tidak begitu jelas mbak Nindya bicara dengan siapa, menggantung saja kalimatnya. Intinya dia tidak ingin terlalu lama tangannya berada di genggaman Bang Fathur. Dadanya mulai sesak merasakan kenyamanan yang tidak nyaman saat itu.


"Lepaskan tidak yuk?" Bang Fathur dengan wajah tanpa dosanya bertanya kepada yuk Zaidar yang mulai konsentrasi membetulkan riasan di wajah mbak Nindya.


"Lepaskan saja, kau terlalu menikmati pekerjaan itu." Yuk Zaidar malah menggoda Bang Fathur yang memang dengan sengaja memanfaatkan momennya.


"Hahaha.... Yuk Zaidar panggil saja lagi kalau butuh bantuan Fathur ya...." Bang Fathur tertawa sambil berdiri. Yuk Zaidar hanya nyengir saja, sementara mbak Nindya menggerutu sendiri sambil dilanjutkan diriasnya oleh yuk Zaidar.


Kemudian, setelah sekitar dua jam dirias semuanya sudah selesai. Mbak Nindya sudah nampak begitu cantik, malah lebih cantik dariku dulu. Berkali-kali yuk Zaidar memuji kecantikannya.


"Fathuurrr...." lagi-lagi yuk Zaidar memanggil sulung ibu, sang calon pengantin yang buru-buru kembali mendekat setelah membantu bang Rahman merapikan karpet di ruang tamu.


"Iya yuk..., butuh dipegangin lagi?" dengan semangat laki-laki usil itu mendekat.


"Ngarep amat kamu mau pegang-pegang terus, nanti pegang-pegang itu, kini giliranmu yang ayuk dandan." Yuk Zaidar memutuskan semangat Bang Fathur untuk memegangi tangan mbak Nindya lagi.


"Pakai baju saja yuk, tidak usah didandan lagi, perempuan saja yang dandan." Dia memasang wajah memelas. Saatnya hal yang menggelikannya harus terjadi. Sesuai yang diceritakan Bang Zamy kepadanya, Bang Fathur sudah membayangkan, wajahnya yang berjambang halus seperti adiknya itu akan dibuat seklimis mungkin oleh yuk Zaidar. Pencukuran aneka bulu tumbuh di wajah masuk ketegori dari dandan bagi yuk Zaidar.


"Semua dandan!" Yuk Zaidar memutuskan.

__ADS_1


"Aduuuhhh, sudah ganteng begini kok yuk. Jangan didandani lagilaaah." Dia beralasan.


"Kenapa? Kalau sudah ganteng tidak perlu berdandan begitu?" sambil mendudukkan bang Fathur ke kursi plastik di kamar mbak Nindya, yuk Zaidar bertanya kepada bang Fathur.


"Takutnya nanti bertambah ganteng Yuk. Kalau sudah bertambah ganteng, takutnya lagi malah nambah pengantin wanitanya." dengan mata mengerling ke arah mbak Nindya yang sedang difoto oleh Bayu, Bang Fathur mencoba menggoda calon istrinya itu. Namun meskipun mbak Nindy mendengarnya, dia bersikap masa bodoh dan meneruskan dengan setengah grogi mengikuti arahan fotografer.


"Hah? Nambah pengantin wanitanya? Dasarnya kau yang niat nambah." Yuk Zaidar menarik telinga kiri bang Fathur.


"Hahahaha...." Bang Fathur tertawa lepas karena berhasil menggoda yuk Zaidar meski dicuekin calon istrinya. Tapi tidak dengan mbak Nindya yang sebenarnya. Sesaat setelah bang Fathur menyebut menambah mempelai wanita, hatinya langsung berdesir. Andai saja dia punya keberanian lebih mengekspresikan diri, mungkin kuping bang Fathur sudah dijewernya, lengan bang Fathur sudah dicubitnya, atau bahu bang Fathur bisa jadi sudah dipukulnya karena geram mendengar candaan mengenai wanita lain. Namun begitulah Mbak Nindya, dia hanya mampu menjewer, mencubit dan bahkan memukul bang Zamy lewat khayalan saja. Tidak untuk direalisasikan dalam dunia nyata, karena dia tidak punya cukup keberanian untuk melakukan semuanya.


*****


Begitulah suasana sehabis Subuh di rumah mbak Nindya. Setelah sepasang calon pengantin, gantian tante Mira dan ibu yang didandani, kemudian ayah dan Papa, lalu aku dan Afni yang sudah datang pagi-pagi sekali. Terakhir bang Zamy dan Bang Rahman. Kami selain sepasang calon pengantin mengenakan seragam yang sebelumnya diberikan ibu. Dan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, dengan dihadiri beberapa kerabat dan tetangga dekat, pernikahan berlangsung dengan wali hakim.


"Itukan ada ayahnya. Tapi kok bisa wali hakim? Apa ayahnya sudah pikun?" bisik seorang ibu pengajian kepada teman di sebelah kanannya yang duduk dan ikut menyaksikan jalannya pernikahan. Mereka diundang pak RT atas saran dari pengurus masjid.


"Ssstttt..., jangan berisik. Biasanya kalau sudah seperti itu, itu anak hasil hubungan diluar pernikahan." Ibu yang dicolek menjawab dengan berbisik pula. Mereka kemudian konsentrasi lagi mengikuti prosesi yang sakral itu. Pernikahan yang berlangsung di ruang tamu rumah Papa


"Eh, Itu kan yang heboh dulu ibunya sudah hamil di luar nikah, ditinggal pacarnya menikahi anak Gubernur waktu dulu...." lagi-lagi wanita yang bertanya pertama kali kembali berbisik ke teman di sebelahnya.


"Owhhh..., ituuu..., yang itu tho rupanya." Wanita di sebelahnya menjawab lagi.


"Ibu-ibu sudahlah, kita dengarkan saja ceramah singkat ustadz itu, dengar itu bukan hanya untuk calon pengantin saja khutbahnya, tetapi bagi kita semuanya. Tuh dengar, kita sebagai wanita bukan hanya siap menikah dan punya anak saja, tetapi kita harus selalu menjaga kesucian diri dan menyiapkan mental menjadi seorang ibu yang bisa menjadi madrasah pertama bagi anaknya kelak. Hingga kita bisa menghantarkan anak kita menikah dan memiliki anak di dalam pernikahan yang sah agar nasabnya menjadi jelas." Seorang ibu pengajian juga yang nampak jauh lebih bijaksana dari ibu di sebelah kanan dan kirinya bicara pelan langsung mengulang apa yang baru saja disampaikan oleh ustadz yang dihadirkan dari Kantor Urusan Agama.


"Itulah kerugian kalau anak hasil perzinahan...." Ibu yang lain berbisik mengimbangi bisik-bisik ketiga sahabatnya.


"Tapi masih banyak lho yang sudah tahu itu anak hasil zina masih saja dinikahkan oleh ayah biologisnya...." Wanita pertama kembali bicara.


"Beginilah kalau orang kaya, maharny emas sejempol-jempol...." Bisikan dari arah kaum perempuan kembali terdengar. Lalu cas cis cus yang lainnya kembali hadir. Mereka selain memuji keserasian sepasang pengantin juga merasa sangat kepengen memiliki emas besar-besar yang dibelikan bang Fathur untuk wanita yang dicintainya dengan tulus dan kini sudah sah menjadi istrinya. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan-makan saja tanpa bersalaman. Undangan yang hanya berkisar tiga puluhan itu kemudian menikmati hidangan yang istimewah dari tuan rumah. Sebelum pulang, mereka juga mendapatkan souvenir berupa piring keramik putih kecil yang biasanya dijadikan tempat menyajikan kue. Ide itu bersumber dariku karena ibu kebingungan mau menyiapkan souvenir yang bagus dalam waktu mendadak. Dan akhirnya jam sebelas siang di hari Jumat, bang Fathur telah sah menjadi ayah sambung dari Annisa. Dia begitu gembira.


Tak lama kemudian kami pun pamit pulang karena sudah ada orang khusus yang akan membereskan semua yang tersisa dari pernikahan kedua bang Fathur.


*****


Sesampai di rumah, ibu langsung menuju kamar, sholat dan keluar rumah bersama yuk Mairoh refreshing ke Ramayana dan Bangka Trede Centre (BTC) berbekal uang cash lima juta rupiah. Sedangkan ayah dan Papa sudah janjian habis Zuhur menghabiskan waktu bersama di pemancingan ikan bawal ke arah Sungailiat. Bang Rahman dan Afni? Mereka sudah pergi pula jalan-jalan ke Transmart dan Best Cinema, menonton dengan mengenakan masker. Tinggalah aku dan bang Zamy di rumah. Karena terlanjur sudah cuti, kami tidak pergi ke kantor, hanya menikmati siang yang indah di dalam kamar pribadi.


"Bagaimana perasaanmu sayang?" Bang Zamy bertanya kepadaku.


"Tentang apa?" dengan sedikit bingung aku bertanya.


"Semua tentang rasa yang ada padamu saat ini." seperti potongan lagu dia menjawab. Aku tersenyum manis mendengarnya.


"Adek bahagia, akhirnya kedua simpul yang terputus itu terjalin dengan pas." Aku menjawab.


"Menurutmu mereka cocok?" Bang Zamy bertanya lagi.


"Perpaduan sempurna, satunya pemalu, satu lagi 'petitilan' (usil kebangetan). Aku menyampaikan penilaianku.

__ADS_1


"Semoga mereka bahagia selamanya."


"Aamiin, begitu pula dengan kita." Aamiin....,"


"Rumah kami biarkan saja terbuka karena ada pak Rohim dan Fredy yang berjaga. Hanya kamar yang perlahan bang Zamy kunci sebelum mendekatiku.


"Mau konsultasi pra melahirkan?" Dia mulai usil mendekatiku yang terbaring saja di atas tempat tidur dengan handphone di tangan.


"Tidak perlu." Aku menjawab ketus. Dia hanya nyengir saja mendengarnya. Kemudian bang Zamy ikut merebahkan badan di sebelahku. Dia mengangkat kepalaku sejenak dan memindahkannya bersandar di bahu sebelah kanannya. Kurasakan nafasku semakin luwes saja saat berada di dekapannya. Kebahagiaan yang tidak pernah berkurang. Aku menoleh manja ke arahnya dengan memiringkan badan. Begitu pun dengannya. Bang Zamy memiringkan badannya ke sebelah kanan, persis menghadapku, kami berhadapan. Tangan kami saling mengelus bagian wajah. Aku bahkan gemas dan sempat menggigit hidung mancungnya.


"Sudah naik berapa kilo sayang?" Pelan bang Zamy bertanya sambil mengelus pipi kananku dengan jari tangan kirinya. Tangan itu kemudian berpindah ke perutku yang bergerak-gerak.


"Sudah dua puluh satu kilo."


"Waw...! Tapi tidak masalah kok sayang, dirimu semakin gendut malah semakin nampak seksi dan menggoda...." Bang Zamy merayuku.


"Halaaah..., bilang saja kalau ada maunya." Aku menggoda bang Zamy yang hanya tersenyum tampan mendengarnya. Dia tidak hanya mencium jidatku saja sekarang, tetapi ciumannya sudah mulai ke bibir dan leherku yang hampir tidak nampak lagi karena kegendutan. Lalu perlahan ciumannya semakin berat dan dalam. Lidahnya pun ikut bereaksi, perlahan mulai menari-nari di dalam mulutku, bersentuhan dan saling melilit ke lidahku. Aku tidak perlu lagi jual mahal, sudah tahu kemana arah tujuan dia mendekatiku kali ini.


"Masih sanggup?" Dia bertanya kepadaku. Aku mengerti pertanyaannya.


"Demi kamu, semuanya adek masih sanggup." Aku malah menggodanya.


"Benarkah? Dua ronde?"


"Jangankan dua ronde, tiga pun adek tidak akan menyerah." Aku menggodanya kembali.


"Ah yang benar?" Dia mulai melepaskan singletnya dan meletakkan ke lantai.


"Iya dong."


Lalu bang Zamy perlahan kembali melabuhkan, ciuman demi ciuman, pagutan demi pagutan, sentuhan demi sentuhan yang membangkitkan gairahku. Aku pun membalasnya meski tidak seagresif dulu. Kembali kami berpacu pada olahraga yang halal dan menyehatkan.


"Bee..., terima kasih masih semangat melayani suamimu ini." Perlahan bang Zamy berbisik di telingaku. Aku tersenyum menjawab.


"Ini pelayanan terenak di dunia. Bagaiamana mungkin adek akan menolaknya." Aku menantang Bang Zamy yang seketika mendengar bisikanku menjadi lebih liar lagi. Dengan kelembutannya dia membangkitkan gairah bercintaku. Dan akhirnya dengan keperkasaannya dia berikan aku kepuasan duniawi.


"Bee...." Bang Zamy memelukku lembut.


"Hemzzz...." Aku menjawab dengan deheman saja.


"Bang Fathur yang menikah, kenapa kita yang bulan madu?"


"Tanyakan saja.pada rumput yang bergoyang." Aku menjawab pertanyaannya yang entah kenapa bisa terpikirkan olehnya. Dia hanya tersenyum mendengarnya lalu beranjak ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Semenit kemudian dia datang lagi dan masuk ke dalam selimutku.


"Teng teng teng round two...." Bang Zamy menirukan gaya wasit petandingan tinju profesional.


"Beneran?"

__ADS_1


"Hemzzz...," Dia gantian menjawab pertanyaanku dengan deheman saja. Lalu tangannya usil menarik tanganku ke tempat persembunyian 'adiknya'. Kurasakan sesuatu yang masih menantangku untuk ditaklukkan.


(***bersambung***)


__ADS_2