
Siang yang panas, matahari terasa begitu teriknya, seolah hanya sejengkal saja berjarak dari kepala manusia.
Mbak Nindya bersama Annisa ditemani Papa sudah pergi kebun, kembali memanen aneka tanaman untuk dijual ke pasar. Nanas yang besar-besar sudah menguning pada bagian kepalanya. Pepaya kalifornia sudah pula menguning bagian buntutnya, masing-masing per batang ada sekitar tiga hingga lima buah. Pun ubi jalar unggu, sudah banyak harus diambil karena sudah banyak pula bekas tikus-tukus nakal mengorek-ngorek umbi berkhasiat itu. Mbak Nindya akan memanen semuanya. Sementara Papa dan Annisa kembali memancing ikan di sungai bersih persis di tanah bagian bawah kebun mereka.
“Kami mancing dibawah ya nak, nanti kalau ada sesuatu yang mencurigakan berteriaklah sekuat tenaga.” Papa menyarankan.
“Oke yah.” Mbak Nindya menjawab sambil mulai membawa bekas karung-karung beras ukuran lima puluh kilo.
Dia mulai memanen satu demi satu nanas-nanas yang besar dan manis itu, lalu memasukkannya ke karung, setelah karung berat dia meninggalkannya dan kemudian bolak-balik membawa nanas-nanas itu dan mengantarkan ke dekat karung berada.
Hampir setengah jam lamanya, akhirnya terkumpullah hampir dua karung besar nanas-nanas hampir masak itu. Mbak Nindya masih membiarkannya di tengah kebun. Dia kemudian menjolok kembali buah pepaya yang tidak begitu tinggi namun masih sulit dijangkau oleh tubuhnya tanpa bantuan galah.
“Butuh bantuan?” Tiba-tiba mbak Nindya dikagetkan oleh sebuah suara yang sudah dikenalnya. Dia berhenti menjolok buah pepaya itu dan menyandarkan galah ke batangnya, kemudian dia mendekat ke arah bang Fathur yang sudah berada di depannya.
“Sudah pulang ya bang? Bagaimana kabar keluargamu di Mentok.” Dia bertanya tersenyum ramah, wajah natural itu tetap bersinar meski tanpa sedikitpun riasan.
“Alhamdulillah semua sehat dan ibu kirim salam buat kamu.” Bang Fathur menjawab. Sementara Mbak Nindya mengibas-ngibaskan tangannya yang sudah kotor ke baju bagian samping, lalu dengan sisa keraguan dia mengulurkan tangan dan ingin menyalami bang Fathur. Namun bang Fathur tidak menerimanya. Dia malah menatap tajam ke arah mbak Nindya yang jadi serba salah dan menarik lagi uluran tangannya.
“Ayah dan Annisa sudah di bawah kalau abang mau memancing.” Mbak Nindya memberanikan diri membalas tatapan mata bang Fathur. Namun seberapa besarnya dia berusaha bertahan, mungkin hanya bertahan sepuluh detik, matanya sudah tertunduk kembali.
“Apa ayahmu bersama Dirga?” Dengan sedikit sinis bang Fathur bertanya.
“Kok bersama Dirga?” Mbak Nindya menampakkan wajah bingungnya.
“Kamu kan mulai dekat dengannya sekarang, kenapa nampak kaget?" Bang Fathur bicara sambil menunggu reaksi mbak Nindya.
“Tidaklah baaang, meski tidak sekolah, saya tahu kalau sudah dipinang orang, saya tidak boleh bersama laki-laki lain itu. Kecuali…,”
“Kecuali apa….?” Bang Fathur bertanya memotong. Gerahamnya begoyang-goyang.
“Kecuali abang yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan denganku.” Mata itu tulus berbicara. Dia tidak ingin menjadi beban bagi laki-laki yang berdiri di depannya. Jika memang itu yang terbaik.
“Kamu mau?” Sambil bersilang tangan di depan dada bang Fathur bertanya.
“Mau apa?” Mbak Nindya tidak mengerti sepenuhnya ke mana arah pembicaraan tunangannya itu.
“Apa kamu mau abang batalkan pernikahan supaya kamu bisa bersama si Dirga itu?” Muka bang Fathur masih datar bertanya, tidak nampak sedikitpun senyumnya saat dia datang ke sana. Mbak Nindya berjalan sedikit menjauh dengan alis terangkat, dia berpikir keras tentang apa yang membuat bang Fathur tidak seramah sebelumnya. Dia kemudian duduk di batu besar dekat pondok. Dia biarkan pertanyaan bang Fathur tanpa berniat menjawab, hanya sepintas nampak di matanya raut sedih mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut bang Fathur.
__ADS_1
“Siapa sih Dirga? Apa istimewahnya dia?” Bang Fathur berdiri di dekat salah satu bambu penopang pohon pisang dekat pondok. Dia kembali mendekati mbak Nindy.
“Heeeyyy…, ada nak Fathur rupanya, kenapa tidak mancing ke bawah bersama Bapak dan Nisa. Oh ya, maaf mengganggu, Bapak tidak sengaja mendengarkan obrolan kalian. Kau belum pernah bertemu dengan Dirga? Dia anak baik kok, dia seorang notaris, nasibnya kurang lebih sama dengan Nindya. Dia anak mantan istri Bapak sebelum dia menikah dengan Bapak. Bahkan, Bapak baru mengetahui kalau almarhum Erlinda, ibunya Naura punya anak sebelumnya.” Papa menjelaskan sambil menepuk bahu kanan bang Fathur yang hanya terdiam dan menampakkan lipatan di keningnya. Papa kemudian menuju ke mobil dan mengambil sebuah gunting, sarung tangan yang dipakainya ke telapak tangan sebelah kiri saja.
“Oh ya, Nindya sama Dirga tidak ada hubungan istimewah nak, mereka hanya kebetulan bertemu…, ayo turun ya kalau mau gantian sama Bapak memancingnya.” Papa berlalu meninggalkan keduanya yang hanya diam membisu.
"Iya pak, nanti saya menyusul ke sana. Bang Fathur menjawab ramah. Setelah Papa sudah tidak nampak lagi, dia tertegun menatap mbak Nindya yang sudah duduk di atas papan terbentang di atas tanah. Di sampingnya berdiri dua karung beras kecil ukuran lima kilo berisi ubi jalar ungu yang sudah digalinya tadi. Tangannya menggaris-garis tanah berdebu dengan potongan ranting yang mati. Entah apa yang ditulisnya dengan tangan kanan itu, sementara tangan kirinya bertopang di atas kedua lututnya yang duduk berdiri, menyatu dengan dagu di wajah yang bingung.
“Ada yang ingin kau katakan Nin?” Bang Fathur menjadi salah tingkah. Dia merasa serba salah dan sangat iba melihat wanita yang dirindukannya seperti tidak dia hargai. Mbak Nindya berhenti menggores-gores di tanah, dia membuang ranting di tanganya, matanya yang sedikit tertutupi anak-anak rambut menatap ke arah bang Fathur. Dia hirup udara segar sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan.
“Tidak ada pak. Nindy menerima kalau memang keputusan bapak mau membatalkan pernikahan.” Dengan lembut menusuk suara mbak Nindya keluar dari mulutnya yang jarang berbicara. Dia melepaskan penutup kepala yang sudah terlepas, lilitan kain panjang itu terurai sudah karena kebanyakan menunduk. Kemudian dengan jepitan rambut bergerigi yang sempat digigitnya, dia melipat rambutnya ke atas. Nampak leher jenjangnya dengan anakan rambut halus kemerahan. Tersingkap pula detak nadinya. Keringat halus mengalir di sana. Tidak ada kalung besar yang tergantung di leher jenjangnya, tidak ada pula anting-anting mewah di telinganya, tangannya pun nampak biasa saja, putih namun sedikit kotor karena bergelut dengan panas dan tanah, tanpa berbalut gelang emas permata. Bang Fathur mencatat itu semua dalam ingatannya.
“Katakanlah sesuatu Nin…, biarkan abang mendengarkannya.” Bang Fathur berjalan mendekat, sementara mbak Nindya selangkah mundur dan kembali mengambil galah.
“Berhentilah di sana sejenak, dan katakanlah sesuatu untukku, jika ingin marah, marahlah.” Bang Fathur semakin mendekat. Dia membuang galah yang tadi dipegang mbak Nindya. Lalu perlahan menyentuh jemari kedua tangan mbak Nindya yang kukunya sedikit menghitam karena tadi sudah selesai panen ubi jalar. Jarinya pun terasa kasar dan masih menyisakan getah dan tanah basah yang mengering.
“Aku bingung harus mengatakan apa. Aku pun tidak punya alasan untuk marah. Tetapi aku memaklumi jika memang Bapak mau membatalkan pernikahan dengan Nindy.” Mbak Nindya bicara lagi dengan nada halus menghanyutkan. Air mata bang Fathur seketika hadir di pinggiran mata elangnya. Tangannya semakin erat menggenggam jemari wanita yang selalu bekerja keras itu.
“Selain kalimat itu masih adakah yang bisa kau sampaikan sayang?” Bang Fathur menitikkan air mata.
“Apa yang ingin Bapak dengar dariku?” Dengan ekpresi menyerah mbak Nindya bertanya pelan.
“Apakah yang ingin abang dengar dari wanita hina ini? Wanita yang memang sangat tidak pantas untuk menjadi istrimu." Mbak Nindya mencoba melepaskan genggaman tangan bang Fathur, namun dia tidak cukup tenaga. Tangan laki-laki yang seketika berubah menjadi melankolis setelah datang dengan wajah kaku ketika mendengarkan penjelasan Papa tentang sosok Dirga.
“Apa hatimu tidak pernah merindukanku? Apa jiwamu tak pernah merintih ingin bertemu denganku? Apa hanya aku yang merasakan hal yang demikian? Apa kamu tidak pernah cemburu padaku Nin? Apa hanya aku yang cemburu melihatmu dengan laki-laki lain?" Bang Fathur meneteskan air mata lagi. Hatinya begitu terenyuh melihat calon istrinya. Entah kenapa, selain rasa sayang, rasa cinta dan rindu yang dalam, dia pun iba mengenang kisah kelam hidupnya. Dan barusan dia seperti menghakimi pujaan hatinya itu seakan telah berselingkuh dan melakukan kesalahan besar padanya, padahal itu hanya kecurigaan dan kecemburuannya semata.
“Dia Dirga, anak tiri ayah.” Mbak Nindya bicara.
“Aku tahu sekarang, tetapi apakah kamu tidak pernah merasakan apa yang sering aku rasakan?” Bang Fathur sok romantis masih mencoba mengintip hati mbak Nindy yang sedalam-dalamnya.
“Aku tidak mengerti, apa yang abang katakan. Berhentilah membingungkanku...." Wajah polos itu kewalahan.
“Maukah kau abang kasih pengertian sayang?” Bang Zamy melepaskan pegangan tangannya ke mbak Nindya. Dia seketika merengkuh tubuh lelah itu, memeluknya erat. Dan meletakkan tangan mbak Nindya ke pinggangnya. Dengan sedikit ragu, mbak Nindya kemudian melingkarkan kedua tangannya dan tenggelam dalam pelukan lelaki yang dirasanya masih tidak mungkin benar-benar akan menjadi suaminya.
“Kau tau Nin?”
"Apa?"
__ADS_1
“Aku tidak bisa tidur lelap ketika melihatmu begitu dekat dengan Dirga.” Pelukan mereka semakin erat saja.
“Dirga bukan siapa-siapaku bang.”
“Aku tahu, maaf sudah salah menilai dan bahkan mencemburuimu.” Bang Fathur mengendorkan pelukannya, mbak Nindya menatap sejenak ke wajah laki-laki tampan itu, mereka bertatapan. Mbak Nindya mundur lagi selangkah, berusaha menjauh namun bang Fathur malah menariknya hingga membuat mereka semakin erat saja berpelukan. Hati keduanya sama, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan cinta.
Kemudian, laki-laki mana yang akan tahan melihat bibir merah merekah basah tanpa gincu milik wanita yang disayanginya itu tanpa dibalur dengan bibirnya pula. Seketika mereka bercium bibir dengan bersama memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir dan hembusan nafas hangat. Bang Fathur dengan gesit mengulang-ulang membasahi bibirnya, memaguť bibir kekasih hati yang sangat dirindukannya, meski tak satu kalipun mbak Nindya melakukannya lebih dulu. Bang Fathur tiba-tiba saja menjadi sangat bernafsu, dia semakin semangat melumaț bibir sensual itu, lembut dan hangat saat keduanya bertemu. Dia terus berkali-kali membasahi bibir wanita tanpa banyak bicara itu dengan sentuhan hangat bibirnya, sentuhan dan emuťan yang membuat mereka sesak karena menahan nafas. Dan entah, setan mana yang telah menguasai jiwa bang Fathur, dia nekat menarik mbak Nindya ke belakang pondok yang tidak akan terlihat oleh Papa, jika pun mereka datang mendadak dari bawah.
“Sudah bang, jangan teruskan lagi, mancinglah bersama ayah.” Mbak Nindya mencoba melepaskan dengan lembut tangan bang Fathur yang mulai menyerang bagian payudara. Namun bang Fathur semakin kalap saja, dia masih berusaha menciumi leher jenjang itu.
"Bang..., bang Fathur tolonglaaah..., tolonglah berhenti di sini saja, turunlah dan bermainlah bersama Annisa." Mbak Nindya berusaha memalingkan wajahnya berkali-kali menghindari lumațan dan ciuman panjang bang Fathur. Namun lagi-lagi bang Fathur kebablasan. Dia masih saja menelusuri leher mbak Nindya dengan ciuman.
"Berhentilah bang, kita akan segera menikah." Mbak Nindya mendorong dada bang Fathur, namun kuatnya tidak mencukupi untuk mengusir nafsu laki-laki agresif ini. Merasa perlawanannya sia-sia karena bang Fathur bahkan sudah membuka dua kancing bajunya. Mbak Nindya berlinang air mata, dia biarkan sampai mana laki-laki itu akan berbuat kepadanya. Dia pasrah, tidak melawan lagi. Bahkan kedua tangannya sudah terkulai, dia terisak sedih.
"Nin? Nindyaaa..., Nindya jangan menangis sayang...." Mendengar isakan mbak Nindya, seketika bang Fathur tersadar. Dia menjauh mundur beberapa langkah dan menepuk jidatnya dengan keras.
"Kenapa berhenti? Lakukanlah bang, lakukanlah bila itu akan membuatmu bahagia." Masih terisak mbak Nindya terduduk menangis, dia bicara dalam, menusuk-nusuk dan mempermalukan perasaan bang Fathur. Mbak Nindya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Badannya bersandar ke dinding papan rumah yang ditinggalinya di masa silam.
"Nindya, tolong dek, tolong rapikanlah pakaianmu. Abang benar-benar minta maaf. Cepat kancingkan bajumu...." Bang Fathur mendongak menatap langit biru, kedua tangannya menggelung di atas kepalanya. Sementara angin berhembus kencang meniup awan berarak menuju Utara. Cuaca seketika mendung, memberi jeda untuk keduanya mendinginkan emosi.
Kemudian selesai menangis, mbak Nindya membenarkan kancing bajunya yang sempat telah terbuka, merapikan baju dan berbalik akan menuju ke pinggiran kebun. Beberapa tandan pisang, sudah masak satu dua buah. Dia akan menebangnya untuk dimakan dan separuhnya dijual.
"Aku akan berbicara langsung dengan ayahmu dan keluargaku...." Bang Fathur bicara sebelum mbak Nindya menjauh. Mbak Nindya menghentikan langkah sejenak tanpa menoleh, apalagi menjawab.
"Tidak usah menunggu berbulan-bulan. Abang akan menikahimu dalam waktu dekat." Bang Fathur melanjutkan bicaranya, sementara mbak Nindya berlalu meninggalkannya yang hanya bisa mematung.
*****
"Ooommm..., siniii..., Nisa dapat banyak ikaaaannn...." Di ujung perbatasan tanah yang miring ke arah sungai, Nisa mendaki perlahan. Dia sepertinya sudah merasa capek. Namun tangannya dengan lincah memanggil agar bang Fathur segera mendekat.
"Tunggu Ca..., om segera ke sanaaa...." Bang Fathur menjawab sambil menoleh ke arah mbak Nindya yang membelakanginya berjarak sekitar tiga meter darinya.
"Abang turun ya dek. Maafkan abang..., abang benar-benar khilaf." Bang Fathur bicara sama mbak Nindya yang seperti tak mendengarkan apa-apa sama sekali. Sesaat menunggu jawaban, dan melihat gelagat mbak Nindya yang tidak akan menjawab, bang Fathur berjalan lunglai menuju ke arah Papa dan Annisa yang sudah lama menunggu.
Awan berarak mengiringi langkah kakinya. Burung berkicau yang berteduh di dahan seakan mempermalukan keagresifannya. Dia seketika berjongkok dan mengambil segempal tanah kering, melemparkannya ke arah burung-burung yang seakan terus saja menghinanya yang hampir saja khilaf.
*****
__ADS_1
(bersambung....)