Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 68 Akhir Petualangan Irwan


__ADS_3

Adzan Subuh telah berkumandang, bang Zamy telah siap sholat berjamaah ke masjid dekat rumah. Dengan mengenakan kaos putih berkerah dan sarung kotak-kotak merah list hitam, dia menuju masjid dengan kopiah hitam list keemasan di tangan. Bunyi sendal jepit Daimatu mencericit karena telapak kakinya masih menyisakan air habis berwudhu. Di perjalanan dia bertemu dengan beberapa tetangga laki-laki yang juga menuju masjid. Mereka pergi bersama sambil sesekali berbincang.


*****


Pagi yang dinantikan telah tiba. Setelah sempat ditunda hingga dua hari lamanya. Persidangan akhir Irwan akan dilaksanakan hari ini. Bang Zamy pergi sendiri untuk menghadirinya, aku tidak diperkenankannya ikut serya. Sedangkan papa, tante Mira, dan mbak Nindya pergi bersama menuju tempat perkara penculikan dan pemalsuan dokumen akan diputuskan.


Ketika sampai di ruang sidang, bang Zamy melihat pak Bayu juga ada duduk di dekat enam buah bangku kosong menyaksikan persidangan dengan pakaian khas tahanan. Dia dikawal oleh dua orang anggota polisi berseragam lengkap dengan senampan laras panjang. Tidak banyak orang yang hadir di persidangan itu, hanya pak Bayu dan beberapa orang anggota keluarga Irwan yang tidak dikenal oleh bang Zamy. Irwan Nampak lebih kurus selama dipenjara. Kepalanya yang plontos ditambah dengan matanya menatap tajam ketika dibawa polisi ke kursi pesakitan membuat dia jauh berbeda dari rekan seprofesi yang mengawalnya. Dia nampak dekil. Tatapan tajam dari matanya masih menyiratkan sebuah amarah dan dendam yang belum dia lunaskan.


*****


Setelah hampir dua jam menunggu, sidang dimulai yang diramaikan oleh media, baik cetak maupun elektronik. Puluhan wartawan hadir untuk meliput jalannua sidang dan hasil keputusan karena perkara ini memang sempat menjadi viral di wilayah Kepulauan Bangka Belitung beberapa bulan yang lalu. Di sela-sela prosesi yang berlangsung, bang Zamy memutar kepala, sambil terbatuk-batuk kecil dia menoleh ke segala arah dalam ruangan, namun dia tidak menemukan kehadiran tante Sofie.


“Kemana wanita itu? Kok di saat persidangan anaknya dia malah tidak hadir.” Bang Zamy bergumam dalam hati. Dia duduk di sebelah papa mengikuti prosesi dari awal hingga Pengadilan Negeri Pangkalpinang menyebutkan bahwa terdakwa didakwa dengan dua pasal berlapis.


“Pertama disebutkan dalam keputusan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana membawa pergi seseorang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara dengan maksud untuk menempatkan orang itu secara melawan hukum dibawah kekuasaannya atau kekuasaan orang lain, atau untuk menempatkan dia dalam keadaan sengsara, yang dilakukan secara bersama-sama melanggar pasal 328 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP sebagaimana dalam dakwaan yang pertama. Ditambah…, kedua…, Irwan terbukti melanggar Pasal 263 KUHP yang berbunyi barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan kedua diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.” Maka pengadilan pun memutuskan hukuman penjara selama dua puluh tahun kepada Irwan atas dua dakwaan disebutkan.


*****


Aku bernapas lega, dipenjara selama itu Irwan bisa dipastikan akan diberhentikan dari kepolisian. Karena melihat ke putusan pidana terhadap oknum polisi yang telah berkekuatan hukum tetap, ia terancam diberhentikan tidak dengan hormat berdasarkan Pasal 12 ayat (1) huruf a PP No. 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (“PP 1/2003”):


“Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diberhentikan tidak dengan hormat dari dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia apabila: dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan menurut pertimbangan pejabat yang berwenang tidak dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia.”


Tinggal menunggu Pemberhentian anggota kepolisian itu setelah melalui sidang Komisi Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Pasal 12 ayat [2] PP 1/2003). Itu tidak akan menunggu lama. Kuyakin masa akan terjadi nantinya.


*****

__ADS_1


Bang Zamy, papa, mbak Nindya yang selesai bersaksi juga tante Mira kemudian pulang dengan hati puas. Hanya mata Irwan dan pak Bayu semakin tajam saja memendam dendam kesumat yang semakin bertambah besar.


*****


“Alhamdulillah ya Bee, Irwan dipenjara dua puluh tahun akhirnya. Dan kedua teman yang membantunya dulu juga divonis meski hanya enam tahun dengan banyak pertimbangan lainnya.” Bang Zamy bicara kepadaku sepulang dari pengadilan. Dia meletakkan kunci mobil ke meja, dan setelah selesai berganti pakaian dia kembali mencium perutku penuh sayang.


"Sehat-sehat sayang papi ya..., kini kita bisa tenang."


“Syukurlah kalau keputusan sudah ketuk palu.” Aku menjawab dan merasa ikut bahagia mendengar pengganggu itu sudah mendapatkan putusan pengadilan. Meski pengacaranya sempat mengatakan akan mempertimbangkan lagi dalam masa tujuh hari untuk naik banding.


“Bagaimana reaksinya tante Sofie?” Aku penasaran, karena mengingat karakternya yang keras aku membayangkan dia akan mengamuk di sejadi-jadinya di pengadilan.


“Dia tidak ada tadi Bee..., memang agak aneh dan janggal. Bagaimana mungkin dia tidak hadir di persidangan akhir anaknya.” Bang Zamy menjawab yang membuatku terheran-heran.


“Owh, mungkin dia sudah pasrah dan tidak ingin menampakkan kesedihan di depan anak dan suaminya.” Aku mencoba berpikir positif.


“Abang mau ganti baju karena mau ke kantor, tadi ngasih info ke Direktur hanya sebentar saja Bee….” Bang Zamy menatapku.


“Oke, adek pun mau pergi….” Aku menjawab dan segera mengikuti langkahnya menuju ke kamar, juga untuk berganti pakaian. Aku akan mengantar Annisa ke rumah papa dan lanjut ke Rumah Sakit menggantikan jadwal Nina yang juga tidak bisa masuk kerja hari ini.


“Oh ya bang Fathur kemana Bee? Bukankah dia belum ada jadwal ngampus….” Bang Zamy bertanya kepadaku sambil mengenakan sepatu. Dia menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan, bahkan sempat membuka pintu kamar bang Fathur namun tidak ada sosok yang mirip sekali dengannya.


“Tidak tau kemana perginya, yang pasti dianya pergi membawa pancing lagi tadi.” Aku menjawab mengingat bang Fathur pagi-pagi sekali sehabis ngopi dan makan kue langsung kabur dengan tas pancing di belakang. Dia membawa motorku dengan bersiul-siul kecil meninggalkan pekarangan.


*****

__ADS_1


Bang Fathur kembali mengisikan ikan hasil tangkapannya ke ember putih bekas kaleng cat. Ember kapasitas dua puluh liter itu hampir setengah terisi ikan gabus. Dia memancing sambil bersiul-siul kecil pula. Sesekali di bayangannya muncul senyuman mbak Nindya yang cantik. Dia menghela napas dalam mengingat wajah polos itu. Mengapa dia merasakan kerinduan yang sangat dalam kepada wanita yang telah membuatnya jatuh cinta. Berkali-kali dia menoleh ke atas, berharap ada Annisa dan ibunya mendekat ke arahnya, memanggilnya.


“Om sudah banyak belum dapat ikan? Ayo kita bersama-sama bikin pempek lagi….”


Dia menggelengkan kepala sekalian mengerjap-ngerjap kecil mengusir bayangan lincah dan kebahagiaan anak wanita yang telah mengecewakannya. Jenuh memancing sendiri akhirnya dia pulang membawa ikan gabus dan ikan selincah, juga beberapa ekor ikan lele liar. Namun dia tidak membawanya ke rumahku, melainkan datang ke rumah mbak Nindya yang pintu rumahnya masih terkunci. Karena bingung akhirnya ember itu dia letakkan saja ke dekat pintu rumahnya, kebetulan teralis halaman tidak dikunci. Dia pulang meninggalkan ikan hasil tangkapan dan kerinduan hatinya. Saat sedang bersantai menikmati kesepiannya, tiba-tiba handphonenya kembali bordering, mantan istrinya menelpon. Dia mengangkatnya dengan lesu.


“Halo….”


“Kak, tolong kami, tolong jemputlah anak kakak yo, Plembang kini lah masuk zona itam kaaakkk, adek takut nian kagek anak kito keno virus corona, adek takut kagek tejadi apo-apo samo anak kito ni, jemputlah kak e….” (Kak tolong kami, jemputlah anakmu ya, Palembang sekarang sudah masuk zona hitam, adek takut sekali nanti anak kita terkena virus corona, adek takut nanti terjadi apa-apa sama anak kita ini, jemputlah ya kak.)


Bang Fathur terdiam, ada rasa kasihan di hatinya atas nasib anaknya yang harus menerima keadaan perpisahan kedua orang tuanya. Namun jika harus kembali kepada Vioni, dia merasa tidak mungkin lagi karena semuanya sudah tidak bisa ditahannya lagi. Vioni sudah berkali-kali berjanji dan dia selalu mengulangin kesalahan yang sama. Dia terlalu menikmati fasilitas keluarganya. Lalu dengan sedikit geram karena ingat perkataan-perkataan kasar mantan istrinya, bang Fathur mematikan handphone, lalu pergi memutar santai di atas motor mengitari wilayah Pangkalpinang dengan tas pancing masih di belakang. Puas memutar tidak tahu arah, dia kemudian mampir ke sebuah warung es doger depan masjid jamik sebelum pulang. Dia memesan dua cup besar. Baru saja dia hendak menghidupkan motor, ada suara klakson mobil panjang, dia menoleh dan menatapku dengan tersenyum lebar. Aku melambaikan tangan ke arahnya, dia seketika turun tanpa melepaskan helm datang mendekatiku.


“Kenapa Bee?"


“Saya ada telponan mendadak, ada kecelakaan di depan bank Danamon, pasien anak dua orang kritis.” Aku menjelaskan.


“Terus?”


“Tolong anter Annisa pulang ke rumah papa nanti, mereka belum sampai di rumah ketika saya ke sana barusan, tadinya mau saya bawa ke rumah sakit, karena melihat abang, sekalian saja, kan mau pedekate sama ibunya….” Aku tersenyum menggoda.


“Oke deh, mana dia gadis cantik itu…?”


“Om Fathuuurrr…, ayo kapan kita mancing lagi.” Annisa bicara setelah turun dari mobil. Lalu dia digendong bang Fathur menyeberangi jalan raya, dinaikkan ke motor dan keduanya pergi menghilang di jalanan ramai berlawanan arah denganku. Aku memacu mobilku kembali dan berlalu tanpa mempedulikan bang Fathur yang malah senang sekali mendapat amanah menjaga Annisa dariku. Dia serasa telah melepaskan setengah kerinduannya. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil, sesekali tangan kirinya bang Fathur melepaskan stir dan mengelus rambut halus gadis kecil yang diboncengkan di depan motor yang dikendarainya. Annisa tersenyum sepanjang jalan, dia mendapatkan kebahagiaan bersama seorang laki-laki dewasa yang menyayanginya dengan ikhlas, dan selama ini, hal seperti itu tidak pernah dia temukan.


*****

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2