
Hujan lebat disertai kilat dan petir melanda kota Pangkalpinang. Jam sembilan pagi sudah nampak seperti jam enam sore saja. Aku masih disibukkan menandatangani beberapa dokumen yang diberikan petugas rumah sakit, laporan bulanan.
"Dok, ada yang ingin bertemu dokter." Ratna bicara dari balik pintu, aku menatapnya penasaran.
"Siapa Rat?" tanyaku kemudian.
"Laki-laki tampan pokoknya Dok." Ratna tersenyum manis menjawab.
"Laki-laki tampan?" alisku naik mendengarnya.
"Iya."
"Suruh masuk saja." ujarku lagi. Ratna mengangguk dan keluar ruangan. Tak lama kemudian masuk Dirga dengan senyum mengembang. Akupun tersenyum menyambutnya. Sudah lama sekali kami tidak bertemu.
"Permisi Bu Dokter...." Dia menyapaku ramah.
"Ah Dirga, apa kabarmu?" dengan senyum manis pula aku membalas sapaan kakak seibu denganku namun beda ayah.
"Baik alhamdulillah." Dia mengangguk.
"Selamat atas kunjungan pak Gubernur ke kantor Notarismu yang sedang naik daun." dengan tersenyum ramah aku mendukungnya. Beberapa hari lalu sempat viral di internal Pangkalpinang, tingkahnya yang berhasil memenangkan kasus pembelaaan kepada seorang janda yang terusir karena tanahnya dipaksa untuk dibeli oleh keturunan kaum minoritas negeri ini untuk dijadikan asrama buat buruh timah inconvensional.
"Terima kasih, terbantu karenamu juga Nin." Dirga berterima kasih. Dia menangkupkan kedua tangannya di meja kerjaku. Lalu meletakkan handphone Samsung A71 yang dipegangnya sedari tadi ke meja.
"Iya, berawal dari rekomendasi kamu yang pertama kali kepada pejabat rumah sakit ini untuk berkonsultasi ke saya, kemudian ditambah kasus bu Devi masalah tanah, alhamdulillah sekarang kantor tidak pernah kosong sehari-hari." Dirga bicara dengan santai dan bahagia.
"Owh itu. Eh tumben ke sini?" tanyaku kemudian. Tidak biasanya dia langsung datang. Paling-paling whatapp atau menelpon dulu. Ini dia begitu yakin saya ada di kantor.
"Kau lagi sibuk?" sejenak setelah melihat-lihat isi ruangan, dia bertanya kepadaku.
"Tidak." dengan singkat langsung kujawab pertanyaannya.
"Ada banyak yang ingin aku sampaikan." dengan nada sedikit berat dan intonasi serius dia manatapku.
"Masalah apa? Kakek? Apa beliau sehat?" tak urung aku berpikir keras kenapa dia serius sekali.
"Iya Kakek sehat. Ehmmm..., begini Naura." perlahan dia memulai bicara.
"Kenapa?"
"Saya langsung saja, kemarin siang hingga sore, bahkan malam tadi juga, seorang klien saya datang dengan sebuah berkas perkara." Dirga menjelaskan.
"Terus?" Aku memotong tak sabar.
"Nah ini agak sedikit melanggar etika profesi sebenarnya. Tetapi karena menyangkut kehidupan kalian saya coba mengkonfirmasi yang sebenarnya." Dirga sejenak berhenti dan menarik nafas dalam.
"Apa maksudmu?" Aku semakin penasaran saja.
"Klien saya ingin membuat laporan, pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, fitnah dan sejenisnya tentang suamimu." mata Dirga tak lepas menatapku.
"Hah? Tentang Bang Zamy?"
"Iya. Sesuai keluhannya, dia merasa telah difinah dan dizholimi bahkan hingga ada surat pemberhentian dengan tidak hormat atas dirinya dari rumah sakit terbesar di kota ini, tempat dia sudah mengabdi bahkan lebih dari dua puluh tahun lamanya. Dia merasa benar-benar dihinakan dengan pemberhentian sepihak hanya karena kasus yang tidak terbukti dan tidak ada yang dirugikan." Dirga menguraikan semuanya.
"Hah? Aku menjadi bingung? Apakah Dokter Jo yang ingin melaporkan bang Zamy?" merasa yakin dengan orangnya, aku bertanya menyebut dokter jahat itu.
"Seperti yang engkau pikirkan Naura." disertai anggukan kepala Dirga menjawab.
__ADS_1
"Benarkah?" rasanya aku masih belum begitu yakin. Bagaimana mungkin seorang yang sudah berniat membahayakan bahkan membunuh suamiku, malah berniat memperkarakan pemberhentiannya atas hasil rapat Dewan Direksi PT. Timah terkait kasus sabotase mobil. Aneh, terkadang orang jahat, malah menjadi semakin jahat saja ketika diberikan sanksi, bukannya bertaubat ataupun meminta maaf.
"Exactly!" dengan cepat Dirga menanggapi.
"Jadi?" masih diliputi penasaran, aku akhirnya bertanya lagi.
"Awalnya aku menyanggupi untuk membantunya, namun begitu dia menyerahkan berkas, aku langsung menolaknya karena nama Zamy terpampang jelas masuk di laporannya. Memang dia marah besar, tetapi dia juga tidak berhak memaksa orang-orang seperti kami. Makanya dia segera pergi dari kantor dan bicara dengan gusar akan menghabisi kalian secara 'halus." Dirga bicara lagi.
"Apa? Secara halus?" tak urung aku membelalakkan mata. Ada-ada saja. Bukannya tidak percaya, tetapi aku hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang dokter, yang seharusnya lebih banyak memandang hal-hal yang terjadi secara ilmiah, tetapi ini sedikit aneh, Dokter Jo mau main secara halus. Dan orang sepertinya tipikal orang yang kejam. Orang yang hatinya rela melakukan apa saja untuk melampiaskan segala dendam. Dimanakah kedewasaannya tertinggal. Aku menggelengkan kepala.
"Iya, makanya aku sengaja datang menemuimu. Hal-hal seperti itu memang berbeda jauh dari pandangan kalian sebagai tenaga medis. Sangat tidak ilmiah terdengar, namun kita juga tidak boleh lengah dan tidak percaya sama sekali. Di Bangka ini, ada titik-titik tertentu tempat orang datang meminta melakukan teluh, santet, guna-guna apapun itu namanya. Jadi jangan takut dek, jangan juga diabaikan, perbanyak amalan, perbanyak sholat malam dan berdoa untuk keselamatan kalian." Dirga berpetuah panjang. Aku menatapnya sambil mengangguk dan menggigit kedua bibirku yang terasa kering.
"Terima kasih atas informasimu Dirga"
"Sama-sama, tapi pesan kakek mainlah sesekali ke tempat beliau."
"InsyaAllah." jawabku perlahan.
"Baiklah, hubungi aku bila ada yang bisa kulakukan untuk kalian. Jangan takut dengan teluh, tetaplah berzikir dimanapun kalian berada. Aku pamit pulang Naura...." Dirga berpamitan denganku, lalu dia pun pergi. Aku mengantarnya hingga di belakang pintu. Kemudian kembali duduk dan mencerna pesan yang disampaikan Dirga barusan. Meski aku tidak seharusnya khawatir, namun hatiku tidak bisa berbohong. Ada kecemasan melanda. Degup jantungku berusaha kutahan agar tidak bergejolak dan mengganggu bayiku. Aku mengambil handphone dan tiba-tiba saja merasa sangat membutuhkan suamiku. Dokter Zamy.
*****
"Kenapa sayang? Ditelpon tadi suaramu sedikit tegang. Apa ada hal yang mengganggu?" Bang Zamy menemuiku di Rumah Makan Pagi Sore semabung lama pada jam istirahat.
"Apa Abang ingat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu?" Aku bertanya dan menatap lemah ke matanya.
"Kejadian yang mana? Bang Zamy mencoba mengingat-ingat.
"Saat malam polisi menemukan barang-barang seperti guna-guna," Aku menjelaskan.
"Owh ya yang itu. Abang ingat-Abang ingat, memangnya kenapa sayang?"
"Hah? Dia masih berulah lagi rupanya. Abang sengaja tidak ceritakan. Dia diam-diam menyusup ke ruang kerja abang, dan dari CCTV nampak dia menyembunyikan boneka Tedy Bear yang adek berikan dulu waktu abang mau pergi kemah."
"Hah? Apa sekarang boneka itu sudah di dia?" Aku mulai khawatir.
"Iya. Dia menyelinap masuk dan mencuri boneka, juga usil menggunting lengan baju jas putih abang yang digantung."
"Dia bukan usil bang."
"Maksudmu?"
"Setelah Dirga menolak membantunya dia menggerutu dan marah-marah di kantornya, mengatakan akan menghancurkan kita 'secara halus."
"Dia sudah gila."
"Apa yang harus kita lakukan Bang?"
"Tenangkan hati, jangan panik. Jangan lalai, kita perbanyak istighfar dan mengingat Allah. Allah Maha Baik, Allah pasti akan menolong kita." Bang Zamy menenangkanku. Dia perlahan memeluk bahuku. Aku kembali melanjutkan makan siangku, meski seleraku sudah hilang. Kuraba bayi dalam perutku, dia masih bergerak menendang dan bergeliat-geliat sedikit membuatku merasa geli. Aku tidak boleh takut, demi bayiku, aku harus melawannya sehebat apapun ilmu hitam itu.
*****
Aku kembali ke kantor sehabis makan siang bersama bang Zamy. Sepanjang jalan aku memikirkan hal-hal yang baik dan menyenangkan saja, mencoba tidak perlu memikirkan hal-hal yang akan membuatku merasa buruk. Namun tak urung juga, meski berusaha semaksimal mungkin, pikiran tentang hal itu sesekali tetap hadir. Karena kami sudah berpengalaman, dikirim hal yang berbau guna-guna menjelang pernikahan.
Namun setengah perjalanan, aku merasakan hal yang tidak wajar terjadi di dalam mobilku. Dalam cuaca yang masih mendung disertai gerimis, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang menjadi penumpangku. Aku menggerakkan spion tengah dan menatap ke belakang. Bulu kudukku bediri seketika hingga ke tengkuk. Meski tidak nampak siapapun juga, aku seketika merasa melihat dengan hatiku, seorang wanita telah duduk di mobil dan menyeringai menatapku. Aku mendadak menginjak rem sehingga dua motor terjungkal karena terkejut mobilku berhenti mendadak. Aku menepikannya ke kiri. Tepat di pinggir jalan depan Buana Grafika Pangkalpinang. Badanku terasa lemas, aku gemetaran. Sungguh di luar nalar. Masih dengan kondisi ketakutan, aku berusaha menenangkan diri. Dan aku merasakan dengan batinku, seseorang masih menatapku dari dalam mobilku yang terparkir.
"Kenapa bu? Eh ini Dokter Naura ya?" Petugas parkir bertanya kepadaku. Aku tak mampu menjawab, hanya sebuah anggukan kepala kulakukan. Tidak mungkin, aku seorang Dokter Nuara, icon tenaga medis di beberapa spanduk anjuran kesehatan, banner ada dimana-mana baik sedang bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, maupun Walikota Pangapinang dan beberapa kepala daerah lainnya, tidak mungkin, aku akan mengatakan bahwa di mobil ada mahkluk tak kasat mata yang selalu menatapku. Mereka bisa-bisa menganggapku gila. Aku segera menelpon bang Zamy, minta dijemput di depan percetakan Buana Grafika. Aku menunduk selesai menelpon Bang Zamy. Tidak berani menatap ke arah mobilku sendiri karena batinku masih melihat wanita tua menatapku.
__ADS_1
*****
Hampir tiga puluh menit aku menunggu, namun Bang Zamy belum muncul juga. Aku mulai gelisah, keringatku bermunculan besar-besar di wajah. Tiba-tiba datang sebuah mobil Innova tahun lama, parkir persis di belakang mobilku. Turun sepasang suami istri, nampaknya mereka akan ke tempat penjualan tiket, di ruko yang bersebelahan persis dengan Buana Grafika. Menatapku, sejenak mereka berbisik-bisik. Lalu istrinya yang berpakaian syari dan mengenakan cadar mendekatiku.
"Assalamualaikum Dokter." sapanya seraya menarik tangan kananku. Aku berdiri mendekatinya. Dia nampak mengkhawatirkanku.
"Waalaikumsalam mbak. Saya tidak apa-apa, mungkin hanya kecapean saja, makanya istirahat sejenak di sini." Aku menjawab salamnya sambil langsung memberi penjelasan sebelum dia bertanya. Namun dia malah mendekapku erat, seperti orang yang lama terpisahkan dan baru bertemu. Aku merasakan dagunya sedikit menekan pundakku dengan kedua tangan erat mencengkeram badanku yang buncit. Baru kali pertama aku merasakan pelukan aneh ini.
"Saya Ismi, panggil Ismi saja, Sokter istighfar terus ya, Dokter sedang tidak baik-baik saja sekarang." seperti mengerti kebingunganku, Ismi menjelaskan.
"Maksudnya?"
"Ada energi jahat berada di belakangmu. Namun dia tidak bisa menyentuhmu. Tetap tenang dalam pelukan Ismi, sesaat saja." Aku menurut sementara mbak Ismi membaca surah-surah pendek, ada yang kuhapal ada pula yang tidak kuhapal. Dia kemudian menepuk-nepukkan telapak tangan kanannya ke bagian belakangku yang menembus ke hati sambil terus membaca ayat-ayat Alquran. Nadanya kadang lembut berdesir, terkadang kuat sekuat-kuatnya seperti sedang melawan sesuatu. Aku merasa mual, dan semakin mual saja. Serasa aku baru saja habis keracunan. Ingin muntah rasanya. Kemudian masih dalam dekapan mbak Ismi, aku melihat bang Zamy turun dari motor Fredy yang sekarang sudah kerja di rumah 24 jam atau sesekali dia izin keluar sesuai keperluannya. Fredy langsung balik.
"Bee...," Bang Zamy nampak terkejut melihatku dipeluk seseorang yang baru kukenal. Namun bang Zamy tidak jadi mendekatiku, dia malah mendekati suami mbak Ismi yang memberikan kode agar mendekat ke arahnya.
"Assalamualaikum akhi, kenalkan saya Farouk. Istri akhi nampaknya sedang bermasalah."
"Bermasalah? Dia menabrak?" Bang Zamy menoleh ke beberapa titik, namun tidak ada keramaian apapun selain beberapa pengunjung sekitar ruko yang menyaksikan aku meraung-raung seakan mau muntah.
"Bukan akh. Memang hal ini sangat sulit dinalar oleh logika, apalagi saya tahu akhi seorang dokter yang selalu bergelut dengan hal-hal ilmiah. Namun kebetulan Saya dikasih kelebihan oleh Allah untuk dapat melihat dan berinteraksi secara langsung dengan mahkluk astral itu." dengan santai Farouk menjelaskan.
"Maksudnya bagaimana bang?" dengan nada khawatir Bang Zamy bertanya.
"Istri akhir diikuti seorang mahkluk astral suruhan seseorang."
"Hah? Benarkah bang?"
"Sekarang dia menatap benci ke arahku dan Ismi."
"Dia seorang wanita tua?" tak kuat menahan penasaran, akhirnya aku bertanya. Mbak Ismi melepaskanku yang banyak berkeringat.
"Apa? Bu Dokter bisa melihatnya?"
"Iya, di lampu merah tadi, aku merasa seakan ada orang lain masuk ke mobil, saat aku menoleh melalui spion, aku merinding dengan mata batin menatap seorang wanita tua yang menatapku." Aku menjelaskan semuanya.
"Karena terkejut merasa kurang nyaman, aku menghentikan mobil secara mendadak dan tadi ada dua Pemotor yang terjungkal karenaku. Lalu berhenti di sini. Selama duduk di sini, aku merasakan wanita itu terus saja menatapku dari dalam mobil." lanjutku kembali dengan sekujur tubuh merasa merinding. Bang Zamy nampak kebingungan.
"Benar Bu Dokter. Bahkan sekarang dia masih menatap Dokter. Berarti bu Dokter bisa merasakan kehadiran makhluk Allah di dunia yang lain."
"Dia masih di mobil?" Bang Zamy yang tidak senang mendengar semuanya, seketika mengambil remote mobil di tanganku. Bang Zamy menuju mobil yang diparkir sekitar lima meter dariku duduk. Namun belum sempat bang Zamy menekan tombol apapun, mendadak mobil mendeteteksi potensi bahaya. Alarmnya mendadak berbunyi. Bang Zamy sempat menoleh ke arah kami, kemudian setelah memencet remote dia membuka pintu mobil geserku. Dan kosong, memang tidak ada siapapun di sana. Hanya sebuah tas kecil yang sebelumnya ada di atas kursi sebah kiriku, kini telah berpindah ke kursi bagian belakang. Aku merasakan lega, tidak ada kurasakan lagi seseorang berada di sana.
"Dia telah pergi." Farouk menjelaskan.
"Kemana?" dengan nada penasaran aku bertanya.
"Itu hanya sementara." Farouk menjelaskan sambil tersenyum.
"Ada potensi dia kembali mengikutiku?" Aku kembali bertanya.
"Banyak-banyaklah berzikir untuk adik berdua, berdoalah agar Allah selalu menjaga kalian. Ini catat nomor saya jika ada masalah. Dan memang karena Dokternya juga sedang hamil. Sebaiknya rumahnya di steril saja dulu."
"Steril?"
"Iya steril dari gangguan jin jahat atau setan yang terkutuk." Farouk tersenyum
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
"Rukyah, penghuni dan rumahnya perlu dirukyah juga." Farouk menjelaskan. Kemudian di memberikan nomor handhlphonenya untuk kami hubungi saat diperlukan. Setelah pamitan, pasangan tadi menuju loket penjualan tiket pesawat dan kami pun naik ke mobil. Kupastikan lagi tidak ada orang lain yang tidak nampak di dalam mobil. Lalu bang Zamy mengemudi menuju Rumah Sakit Umum, tempatku bekerja.
***(bersambung)***