
Sehabis sholat Ashar aku langsung bergegas ke Honey Bee klinik. Aku sudah menghubungi Mak Yang sejak berangkat pagi tadi dari Mentok untuk buka layanan kliniknya. Sepanjang kepergian ibu kandungku, terngiang-ngiang selalu apa yang telah diucapkannya. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin mama akan bicara seperti itu. Katanya setiap kali aku ke rumahnya tidur bersama dokter Nina selalu ada getaran di hati. Melihatku selalu menyenangkan baginya. Tetapi keinginannya agar aku membiarkan bang Zamy menikah dengan dokter Nina sungguh sebuah pemaksaan. Tidak etis rasanya mengatakan hal seperti itu. Memang aku menyadari, kedekatan kami, kurasakan tidak benar-benar menembus kalbuku. Masih kurasakan tawar walaupun sudah berkali-kali memeluknya, meski dia ibu kandungku. Berbeda jauh ketika bersama ibu, memeluknya adalah sebuah ketenangan bathin dan kebahagiaan bagiku.
"Yuk Mairoh..., Naura pergi ke klinik ya...." Aku menemui yuk Mairoh yang sedang bersenandung menyetrika pakaianku.
"Ah iya dok..., jangan lupa bawa kunci." Dia mengingatkan. Aku mengambil kunci rumah yang tergantung di dekat pintu.
"Oke." Aku menjawabnya.
"Eh dok, mau disiapin menu makan malam tidak?" Yuk Mairoh bertanya lagi.
"Tidak usah yuk. Pasiennya sudah 30 an yang daftar, baru juga sehari liburnya. Pasti Naura pulang larut." Aku menjelaskan. Iya, mak Yang sudah menerima tiga puluh lebih pasien mendaftarkan anaknya berobat. Sejak kasus virus corona melonjak tinggi di Bangka Belitung, pasienku semakin banyak saja. Aku menuju garasi, yuk Mairoh sudah membukakan pintu pagar untukku. Aku mengklaksonnya lalu berlalu menuju klinikku di jalan Bangka. Sepanjang jalan masih terbayang raut wajah mama yang menyuruhku mengalah demi kebahagian bang Zamy dan dokter Nina. Dalam hatiku berpikir, mungkin iya dokter Nina bisa bahagia karena keinginannya tercapai. Tetapi bagaimana dengan bang Zamy? Apa dia akan ikut berbahagia? Dia sepertinya tulus ingin bersamaku lebih dari sebagai seorang adik kakak. Dan aku juga bermimpi bisa menjadi bagian penting dalam mengisi hari-harinya nanti hingga masa itu tiba, kami terpisah karena tak bisa bernafas lagi.
Sekitar lima belas menit di perjalanan. Aku tiba di klinik. Sudah ada lima pasien antri. Tetapi karena Mak Yang masih menyiapkan segala sesuatu tetap mulai praktikku jam empat sore. Sebelum masuk ruang praktik kulihat ruang praktiknya bang Zamy masih tutup, dua orang perawatnya sudah berjaga di depan pintu. 3 orang ibu hamil bersama suami mereka pun sudah duduk di kursi tunggu. Baru saja aku mau menutup pintu, tiba-tiba di gerbang klinik berhenti sebuah mobil yang kukenal. Dokter Husni turun membukakan pintu, lalu bang Zamy turun di belakangnya. Jantungku berdesir bahagia. Entahlah, susah diungkapkan dengan kata-kata, tetapi melihatnya sekarang sangat berbeda ketika aku melihat bang Zamy dulu. Mereka berbincang sebentar lalu kulihat dokter Husni melambai dan tersenyum ke arahku. Aku membalasnya. Dokter Husni salah satu rekanan terbaik kami. Dia juga seorang dokter anak kontrak di tempat kerja bang Zamy. Dia belum ada tempat praktik mandiri, kendala belum mendapatkan tempat yang strategis. Jadinya, bila bang Zamy ada kesibukan yang menyebabkan dia tidak sempat ke klinik, dokter Husni selalu siap menggantikan. Dengan klaksonan besar satu kali, mobil dokter Husni perlahan menjauh dan hilang dalam pandangan. Bang Zamy memutar badan dan tersenyum melihatku.
"Wah tumben datangnya sebelum jam empat...." Bang Zamy mendekatiku. Ada sedikit malu dalam hati, mengapa sudah ada di klinik setengah jam lagi sebelum buka. Biasanya Mak Yang selalu menelpon mengatakan, bu dokter pasiennya sudah banyak. Dok, pasiennya sudah lama ngantri. Selalu datang telat walaupun hanya lima menit.
"Habis di rumah sendiri lama-lama makin bosan." Aku membalas.
"Kok mulai bosan? Apa abang harus pindah ke sana biar tidak bosan?" Bang Zamy menggodaku dengan menaikkan alisnya berkali-kali.
"Tidak usah, berisik." Aku menjawab singkat.
"Lha kenapa bosan?" Bang Zamy menarikku, dia mengangguk ke arah beberapa pasien yang melihat kami. Kami menuju kursi tunggu yang kosong, di halaman samping.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu Bee?" Bang Zamy duduk sambil meletakkan tas di bahunya. Dia menatapku serius. Aku sedikit cemberut ikut duduk di dekatnya.
"Tadi mama datang ke rumah Naura." Aku mulai bicara. Mata kami bertatapan. Namun aku segera mengalihkan pandangan tak sanggup lama menatap bang Zamy. Bang Zamy memegang bahuku.
"Mama? Maksudnya si...."
"Iya ibunya dokter Nina, ibu kandungku." Aku memotong pertanyaan bang Zamy.
"Dia kan ibu kandungmu, tidak masalah kan dia datang ke sana?" Bang Zamy sedikit keheranan.
"Iya sih bang kalau datangnya baik-baik." Aku bicara sambil menatap matanya lagi.
"Lha? memangnya kenapa?"
"Mama malah datang hanya mau mengatakan agar Naura menjauhi bang Zamy dan membiarkan bang Zamy menikahi dokter Nina." Aku menjelaskan. Bang Zamy tersenyum hampa. Dia menatap ke atas sambil memain-mainkan bibir yang sedikit kering. Kemudian dia menaikkan kaki kanan di atas kaki kiri, tangan kanannya menepuk-nepuk betis kanan. Sedangkan tangan kiri bersandar ke sandaran kursi.
"Aneh juga ya sifat dan sikap orang-orang di sekeliling kita. Kehidupan saya, mengapa mereka yang harus atur? Heee..." Bang Zamy tertawa hambar kembali.
"Menurut abang bagaimana?" Aku menatap bang Zamy yang masih kelihatan santai.
"Bawa santai sajalah dek, jangan terlalu dipikirkan." Begitu saja jawabnya sambil menurunkan kaki. Dia tersenyum dan mengangguk kepada beberapa pasien yang baru datang.
"Bawa santai bagaimana bang?" Aku malah pusing dibuatnya.
"Iya santai, abang juga santai saja waktu Nina ke rumah tadi. Kamu sih tidak mau ikut abang ke rumah."
"Oh iya dia bilang apa tadi?" Aku penasaran.
"Lucu juga dia, padahal seorang dokter, masa iya tidak bisa membedakan mana pacar mana teman." Bang Zamy tersenyum miris. Dia membetulkan jilbabku bagian belakang yang tertiup angin.
"Maksud abang?" Aku bertanya sambil memgang ujung jilbab bagian belakang.
"Dia benar-benar menganggap abang sebagai pacarnya. Padahal tidak sekalipun abang mengatakan cinta kepadanya, tidak sekalipun abang bilang sayang sama dia. Abang juga tidak pernah menjanjikan sesuatu yang berarti untuk hidupnya."
"Hemz..., atau itu hanya sekedar hubungan tanpa status. Abang mau jujur nggak sama Naura?" Aku memelankan suaraku.
"Jujur apanya?" Bang Zamy mendekat.
"Biasanya walaupun hubungan tanpa status, banyak juga pasangan yang secara fisik sudah...." Aku menghentikan kalimatku. Bingung sendiri mau melanjutkan. Harus memakai bahasa apa aku menanyakan apa bang Zamy pernah menggenggam tangannya dokter Nina, pernah tidak bang Zamy menciumnya, atau mungkin lebih dari itu.
"Secara fisik apanya?" Bang Zamy memegang tanganku yang gelagapan.
"Maksud Naura apa bang Zamy pernah..., ah sudahlah ayolah Naura mau masuk ruang praktik. Hampir jam empat sore, pasien sudah nambah tuh." Aku tidak bisa lanjut menanyakannya. Terasa sangat janggal dan memalukan. Bang Zamy memegang jemariku. Dia membiarkan beberapa pasien menatap kami sekilas dan mengalihkan pandang. Mereka sudah tahu kami bukan saudara kandung. karena beberapa hari kemudian berita di koran menyebutkan perihal kami dengan berbagai judul komersil.
__ADS_1
"Pertanyaanmu belum selesai. Pernah apa?" Bang Zamy malah duduk berjongkok dan memegang kedua jemari tanganku di paha. Kepalanya mendongak dengan mata tajam mengawasiku. Aku malah menjadi semakin kikuk dibuatnya.
"Sudahlah lupakan." Aku menarik tanganku, namun bang Zamy tak membiarkan itu terjadi dengan mudah. Aku tidak dapat menghindar.
"Jelaskan dulu baru pergi." Dia malah menarikku agar duduk kembali di kursi.
"Apan sih bang? Malu tau, nanti nggak enak sama pasiennya."
"Makanya bilang dulu. Tadi nanya apa?" Bang Zamy masih memegangku. Aku kalah.
"Maksud Naura. Dokter Nina kan menganggap abang sebagai pacarnya sedangkan abang bilang tidak pernah bilang apa-apa sama dia, apa iya hubungan kalian sebatas hubungan tanpa status, tetapi secara emosi kalian pernah berpegangan tangan, berciuman atau bahkan lebih dari itu?" Akhirnya dengan segala keberanian keluar juga pertanyaan itu. Mukaku memerah, sedangkan bang Zamy tersenyum lebar. Dia melepaskan sendiri kedua tanganku.
"Owh itu tho yang mau ditanyanya dari tadi. Hemzzz..., katakan apa tidak ya?" Bang Zamy pura-pura berpikir dengan telunjuk di bibir.
"Tidak usah!" Aku segera beranjak menuju ruang praktikku. Bang Zamy mengejarku dengan senyumnya yang mengembang penuh kemenangan. Kami sama-sama tersenyum ramah kepada pasien yang sudah datang bahkan sebelum jam empat.
"Hai Mak Yang? Hai San?" Aku menyapa Mak Yang dan Santi yang bergantian menyalin beberapa data pasien.
"Ha dok. Alhamdulillah lebih sumringah setelah selesai cuti sehari. Mak Yang menjawab sambil tersenyum.
"Alhamdulillah tidak jadi libur 3 hari...," Santi malah bersyukur tidak libur. Maklum selain kugaji bulanan, mereka juga setiap hari kukasih uang saku sesuai dengan banyaknya pendapatan.
"Iya Mak Yang. Santi sudah kangen ya sama dokter?" Aku tertawa masuk ruang praktik. Setelah berapa detik di ruangan aku melongokkan kepala keluar.
"Mulainya lima menit lagi ya Mak Yang..., San." Aku melihat jam masih jam empat sore kurang tujuh menit.
"Oke dok." Mereka berdua kompak menjawab. Aku duduk di kursi tanpa memakai jas kerjaku, kembali membuka hp dan menenangkan nafas. Baru saja aku membuka layar, tiba-tiba bang Zamy masuk dan langsung menutup pintu.
"Kenapa abang ke sini?" Aku langsung gelisah dibuatnya.
"Mau ngasih tahu jawaban yang tadi." Dia duduk di kursi pasien di hadapanku sambil tersenyum.
"Tidak penting! Tidak usah!" Aku melengos.
"Hahaha..., apa Naura cemburu?" Bang Zamy mengucapkan kalimat dengan pelan persis di depan kuping kiriku.
"Eh ini abang nitip pegang dulu." Bang Zamy malah meletakkan amplop coklat yang dibawanya barusan. Kubaca tulisan tangan di luarnya. Rp11.750.000,-. Bawahnya ada paraf dengan tulisan Husni. Aku mengambil uangnya dan meletakkan ke dalam tasku. Tidak bertanya pun aku sudah tahu. Itu pasti hasil dari bagi hasil dengan dokter Husni selama 3 hari. Biasanya kami menerapkan sistem bagi hasil dengan dokter pengganti. Bagi dua setelah membayar lembur dua orang perawat dan menyisihkan langsung untuk mang Ridwan dan istrinya membersihkan dan menjaga klinik. Jika bersama dokter pengganti maka perawat dianggap kerja lembur.
"Naura, yang tadi itu...," Bang Zamy bicara sebelum membalikkan badan menuju keluar ruanganku.
"Ah sudahlah bang...." Aku menghindar lagi dari pembicaraan yang membuatku risih.
"Abang bahkan tak sekalipun berniat memegang jemarinya Nina."
"Susah dipercaya." Aku membalas sinis.
"Kau tahu kenapa abang tak tertarik sedikitpun kepadanya?" Bang Zamy bertanya kepadaku.
"Kenapa?" Tak urung aku menatap mata laki-laki yang membuat hatiku bergetar.
"Terlalu banyak mantannya."
"Owh...." Aku mengangkat alis tinggi, keheranan. Namun memang dari penampilannya yang sangat hedonis, bisa dipercaya jika dia suka gonta ganti pacar. Sedangkan aku? Aku tidak punya seorang pacar pun selama ini. Tetapi yang dekat dan mencoba menjadi kekasihku ada beberapa orang. Mengenangkan hal itu aku tersenyum sendiri, kemudian memanggil Santi agar mulai memanggil pasien.
***
Sudah hampir jam satu dini hari. Aku selesai dengan seluruh pasienku. 41 orang yang datang. Rata-rata hanya membawa anak diare, batuk pilek, muncul ruam, mual-mual dan satu orang pasien dengan kuping berdarah karena dikorek terlalu dalam oleh si anak. Covid-19 membuat banyak para orang tua menjadi paranoid. Batuk pilek sedikit sudah sangat khawatir terkena virus corona, sehingga pasienku menjadi membludak. Aku memberi uang saku ke Mak Yang dan Santi masing-masing tiga ratus ribu.
"Makasih dok, pulang ya...." Mereka berpamitan. Mak Yang dijemput anaknya sedangkan Santi pulang sendiri dengan motor, rumahnya tidak begitu jauh. Sementara aku bersiap untuk pulang juga.
"Sudah pagi Bee, tidur di sini saja." Tiba-tiba bang Zamy sudah membuka pintu.
"Naura pulang saja bang, susah tidur di kamar sini, jarang Naura tempati soalnya." Aku menjawab bang Zamy. Rumah bang Zamy ada tiga kamar besar. Masing-masing dengan satu kamar mandi. Tetapi jarang sekali ditempati, karena ayah dan ibu pun sejak aku membeli rumah di Jalan Baru selalu menginapnya di tempatku.
"Ayolah kalau begitu biar abang yang antar." Bang Zamy menengadahkan tangannya. Aku paham maksudnya dan langsung memberikan kunci mobilku.
"Mang pulang mang ya...." Aku berpamitan kepada mang Ridwan yang bersiap mengunci pintu klinik.
__ADS_1
"Iya bu dokter. Terima kasih rambutannya." Dia mengangguk sopan. Aku menatap bang Zamy perihal rambutan.
"Abang mengatakan itu bawaanmu." Bang Zamy menjelaskan. Aku hanya diam mengikutinya naik ke mobilku. Kami bersiap melaju, namun tiba-tiba saja mobilku dilempar orang dengan sebuah batu sekepalan tangan, kaca di bagian belakang. Kaca tidak pecah, namun sudah retak sedikit. Bang Zamy menatapku yang duduk di sebelahnya.
"Abang jangan keluar, kita pergi saja. Jangan lupa telpon mang Ridwan, agar mengunci semua pintu dan memastikan CCTV tidak ada kendala." Aku bicara tegas seperti seorang detektif. Bang Zamy mengangguk dan menelpon mang Ridwan. Sekitar lima meter mobil bergerak, kulihat melalui spion seseorang berlari-lari menuju seseorang di atas sebuah motor yang menunggunya. Mereka kabur dengan jalan yang berlawanan arah dengan mobil kami.
"Siapa ya? Kok tiba-tiba ada kejadian seperti ini. Kinik ini sudah berdiri hampir lima tahun tetapi tidak pernah ada kejadian...." Bang Zamy bertanya-tanya di perjalanan.
"Kau harus lebih waspada Bee..., abang mulai mencurigai satu atau dua orang di sekitar kita...." Bang Zamy memegang tangan kananku. Aku segera menariknya.
"Pistolmu masih aktif kan?" Bang Zamy kembali mencemaskanku.
"Masih. Tetapi mungkin mereka tidak sengaja bang." Aku mencoba menenangkan prasangkaku sendiri.
"Tidak Bee..., mereka pasti sudah lama mengintai. Besok-besok parkirmu di dalam pekarangan saja." Bang Zamy menambahkan.
"Terkadang tidak enak parkir di dalam soalnya pasiennya sudah banyak yang datang. Melewati mereka Naura segan bang."
"Makanya datangmu harus lebih cepat dari pasien." Bang Zamy menyarankan. Aku hanya mengangguk. Di kepalaku mulai bergentayangan prasangka siapa dan apa motif mereka melakukan itu.
"Haruskah kita lapor polisi?" Bang Zamy bertanya serius.
"Naura rasa tidak perlu sekarang. Namun jika besok-besok terjadi lagi, kita harus lebih waspada." Aku menjawab bang Zamy.
Sekitar lima belas menit perjalanan kami pun nyampailah di rumahku. Namun lagi-lagi sebuah kejadian janggal terjadi. Kami menangkap sesosok bayangan melompat keluar pagar menuju ke lahan kosong belakang rumah. Bang Zamy bersiap mengejar namun aku menahan tangannya.
"Terlalu berbahaya, mungkin mereka sudah ada persiapan menjebak. Abang jangan terpancing." Aku mengingatkan. Bang Zamy mengangguk. Dia memarkir mobil dan menutup garasi sambil memegang tanganku. Matanya awas, dengan masih sekali-kali menoleh ke arah bayangan tadi menghilang, bang Zamy menjagaku membuka pintu. Setelah berada di dalam rumah, dia lantas menelpon kapolsek Taman Sari, AKP Ervan Ramadhan, melaporkan kejadian.
"Apa tidak terlalu berlebihan melaporkan kejadian sekarang?" Aku mencoba mengingatkan.
"Keselamatan Naura terancam."
"Tapi kan sekarang sudah larut. Nanti tetangga malah pada datang kalau ada polisi."
"Sudahlah, Naura masuk kamar sana, kunci pintunya, abang mau menunggu polisi dan kawan-kawan." Bang Zamy menyuruhku masuk kamar. Lututku bergetar, aku mengalami Palpitasi jantung. Dari klinik tadi menahan takut, sepanjang jalan mulai berkurang, dan kemudian kembali lagi setelah sampai di rumahku. Namun karena pistol di mobilku sudah dipegang bang Zamy, kekhawatiranku berkurang.
"Abang sendiri bagaimana?" Aku mengkhawatirkan bang Zamy.
"Abang tidak akan pulang ke klinik, nanti nginap di sini. Naura istirahatlah dulu. Abang nunggu rombongan Zein menuju kemari. Abang rasa polisi juga sedang di perjalanan." Bang Zamy menjelaskan. Aku tidak langsung masuk kamar. Kudekati bang Zamy yang duduk sendiri di sofa ruang keluarga. Dia melepas handphone dan meraihku untuk duduk di sampingnya. Aku menurut, bang Zamy merebahkan kepalaku ke bahu kanannya.
"Jangan takut, besok abang akan cari dua orang satpam untuk berjaga di rumah ini. Dan mulai besok abang akan tinggal di sini." Bang Zamy masih mencoba santai bicaranya. Namun aku tahu dia sangat mengkhawatirkan kejadian ini. Aku hanya diam. Bang Zamy kemudian membelai kepalaku.
"Kalau Naura risih di rumah hanya dengan abang. Naura bisa ajak teman tidur di sini." Bang Zamy mengingatkan.
"Siapa?" Aku malah bingung sendiri.
"Mungkin ada perawat ASN dari luar kota yang masih ngontrak. Ajak saja ke sini. Di sini kan banyak kamarnya." Bang Zamy menjelaskan. Aku kembali diam. Tidak tertarik untuk memasukkan orang asing ke dalam rumahku. Namun jika kami hanya tinggal berdua di dalam rumah besarku, bukan hanya risih dengan suasananya, tetapi tetangga pasti akan menggunjing, soalnya mereka sudah tahu kalau kami bukan saudara kandung.
"Coba ajak Santi ke sini, tidur di kamar sana." Bang Zamy menunjuk kamar di sebelahnya kamar bang Zamy. Aku hanya menggeleng. Belum terpikirkan siapa yang akan kuajak menemani di rumah ini jika bang Zamy akan pindah ke sini.
"Nanti kalau polisi sudah memeriksa, dan dinyatakan aman, Naura kan tidak apa-apa sendiri bang." Aku bicara kepada bang Zamy yang hanya menggeleng tidak setuju. Tiba-tiba saja bang Zamy berdiri setelah mendengar sirene polisi dan beberapa buah mobil temannya telah datang.
"Lebih baik kita segera menikah." Bang Zamy bicara serius menatapku. Setelah itu, tanpa menunggu persetujuanku, dia membuka pintu depan dan menyambut polisi dan beberapa rekan dokter yang datang. Tidak ketinggalan beberapa orang dengan memakai kartu identitas media cetak dan online ikut hadir dengan kamera mereka. Kemudian aku ikut dipanggil memberikan beberapa keterangan yang dibutuhkan, siapa yang dicurigai dan lainnya. Setelah sekitar setengah jam dengan laporannya, polisi dan romongan bang Zamy pergi ke belakang memeriksa beberapa tempat di taman belakang rumah. Mereka menemukan sebuah bambu panjang untuk menaiki pagar beton rumahku. Tidak ada jejak apapun lagi yang ditemukan karena suasana hanya dengan penerangan lampu taman, 2 buah lampu emergency dan masing-masing dengan senter hapenya.
"Lapor komandan, ada benda mencurigakan di sini." Seorang polisi tiba-tiba berteriak dari arah gazebo. Sontak semua berkumpul menuju ke sana. Tak ketinggalan aku pun datang menyaksikan. Polisi Ervan membawa barang temuan ke teras setelah selesai mengambil beberapa foto di lokasi penemuan. Sebuah kantong hitam berbau busuk, isinya sebuah tempurung kelapa yang berisikan beberapa helai rambut tergulung kusut, tujuh lembar kain putih digulung, sebuah boneka serem chucky kecil yang dibuat berdarah-darah dengan 7 buah jarum ditusukkan di badannya. 3 lembar daun sirih basah dan setengah pinang muda. sekelumit tembakau dan 3 potongan kuku, sebuah jeruk purut dicincang-cincang. 1 benda lagi agak basah, polisi dan lainnya tidak bisa menebak namanya, seperti usus ayam, namun beberapa dokter bilang itu tali pusat bayi kering dibasahi. Bulu kudukku seketika merinding. Semua saling pandang antara bingung dan rasa menyeramkan.
"Perbanyak zikir ya dokter Naura, sepertinya ini guna-guna." Dokter Husni mengingatkan. Aku hanya mengangguk. Bang Zamy memandangku.
"Ada yang tidak menyukaimu dok...." Dokter Zein ikut berkomentar. Aku juga masih diam. Tidak ada yang bisa kukatakan. Yang ada hanyalah sedikit rasa menyeramkan. Sihir apa yang telah mereka kirimkan. Apa tujuan mereka?
"Ini barang bukti akan kami bawa ke kantor. Dan sekarang kami mau melihat rekaman CCTV." AKP Ervan menjelaskan. Bang Zamy mengajak mereka masuk ke kamar bang Zamy tempat DVR berada. Namun karena lampu taman di belakang tidak begitu terang, sedangkan orang yang datang dengan pakaian hitam bertutup kepala, maka CCTV pun tidak membantu banyak. Pak Polisi Eevan menyarankan agar sistem keamanan manual digiatkan. Bang Zamy mengiyakan, akan mencari dua orang satpam besok. Dan sekitar jam 3 pagi semua sudah pulang, tidak ada lagi polisi dan teman-teman bang Zamy. Hanya kami berdua. Aku tidak bisa tidur lagi, begitu juga dengan bang Zamy, dia malah menyetel tivi.
"Tidurlah dek, insyaAllah semua aman."
"Bang Zamy mau kopi?" Aku mencoba menawarkan.
"Nanti abang buat sendiri." Tanpa menoleh dia menjawabku. Aku menuju kamarku. Mengunci pintu, sholat sunnah, berdoa meminta perlindungan kepada Allah, dan mulai meninabobokkan diri sendiri.
__ADS_1