Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 33 Tidak Ada Sore Pengantin


__ADS_3

Aku keluar kamar dan mendapati bang Zamy sedang menyisipkan sebuah pistol ke pinggangnya. Dia mengambilnya dari atas lemari jati ruang keluarga. Mungkin dia sedikit paranoid gara-gara kejadian yang menimpaku dan mbak Nindya pagi tadi. Dia kemudian membuka pintu teras depan. Aku ingin keluar namun dengan badannya yang bidang seperti dengan sengaja menghalangiku untuk melalui pintu ruang tamu depan.


"Iya bu, bisa dibantu?" Bang Zamy masih berdiri di pintu bertanya kepada tante Sofie yang sudah duduk di kursi teras depan. Dia mengutak-atik handphonenya sambil memeluk tas mahal berwarna biru.


"Saya berkepentingan dan ingin berbicara dengan Dora." Terdengar suara tante Sofie lantang, sedikit angkuh. Aku ingin sekali menjulurkan kepala melihatnya, namun tangan bang Zamy mendorong bahuku dengan lembut agar tetap berdiri di belakang pintu.


"Tidak ada Dora di rumah ini. Ibu mungkin salah alamat." Bang Zamy langsung saja menjawab ketus.


"Maksudku Nora." Tante Sofie mencoba membenarkan.


"Aku juga tidak mengenali ada nama Nora di rumah ini. Aku yakin ibu benar-benar telah salah alamat." Bang Zamy kembali menjawab cepat. Wajahnya yang biasanya sangat ramah kepada siapapun bahkan kepada orang gila sekalipun, sekarang dingin tanpa ekspresi. Ada raut ketidaksukaan terpancar dari wajahnya. Bukan karena terganggu tadi yang membuatnya begitu, namun memang dia kurang menyukai tante Sofie yang seperti dengan sengaja selalu salah memanggil namaku.


"Ih ya Allah kok orang tua dipermainkan. Saya ini istri kepala dinas di propinsi ini ya. Kau tahu kan siapa kepala dinas sosial sekarang? Dia suamiku. Dia tangan kanannya gubernur saat ini. Jadi jangan bermain-main dengan kami. Mana tuh si Nora? Lagian aku hanya ingin bicara dengannya, bukan denganmu." Tante Sofie bahkan sedikit mendorong bang Zamy yang masih menyilangkan satu kaki berdiri di pintu. Sementara tangan kirinya menopang ke salah satu kusen. Bang Zamy menghalangi tante Sofie yang ingin menerobos pintu.


"Aduh buuu..., beneran deh tidak ada seorang pun bernama Nora di rumah ini." Bang Zamy masih bertahan dengan emosinya juga. Beberapa kali aku memang pernah bercerita soal tante Sofie yang selalu salah memanggilku. Bang Zamy malah sebal mendengarnya. Kata bang Zamy itu sebuah pelecehan. Artinya tante Sofie tidak begitu respect denganku. Masa iya sudah kenal dan bertemu beberapa kali masih memanggil dengan nama yang salah. Berarti dia sengaja melecehkan. Itu menurut bang Zamy. Sedangkan aku lebih memilih untuk bersikap tidak peduli. Sengaja atau tidak, terserah tante Sofie.


"Eh jangan main-main ya, aku bisa saja lho menutup klinik kalian yang katanya ramainya melebihi rumah sakit umum itu. Asal kalian tau saja, 'cenel'ku banyak para istri pejabat di propinsi ini." Tante Sofie malah semakin marah mendengar jawaban bang Zamy. Dia mulai mengancam. Aku kembali mencoba keluar, namun bang Zamy malah memegang erat tanganku dan dari tarikannya, aku tahu dia melarangku menemui tante Sofie. Dia malah mengarahkan agar aku kembali saja ke dalam.


"Silahkan bu, kalau memang kami ada melanggar aturan hukum dan perundangan yang berlaku, silahkan ajukan pencabutan izin operasional kliniknya. Silahkan saja. Tidak perlu main ancam-ancam segala, lakukanlah dan buat kami terkaget-kaget karena kehebatan kalian." Bang Zamy sedikit emosi. Aku mencubit lengannya mengingatkan. Tidak sepantasnya dia malah menantang seperti itu. Tante Sofie meradang. Dia kembali berdiri dari duduknya.


"Hey masa ini dokter yang katanya sangat ramah itu? Yang terkenal cerdas dan dermawan itu? Hah! Masa iya kau wakil direktur yang hebat itu? Ternyata jauh berbeda sekali sikapnya dari berita yang sering terdengar." Tante Sofie marah-marah ke bang Zamy.


"Nauraaa.... Nauraaa..., ayo keluar sebentar. Ada yang penting sekali ingin tante bicarakan denganmu." Tante Sofie berteriak sekerasnya. Aku ingin menjawab. Namun lagi-lagi bang Zamy menghalangiku. Jemari telunjuk dan jempol kanannya malah asyik memainkan bibirku sambil berdiri. Aku melepaskannya.


"Tuh tadi tante bisa memanggil istriku dengan namanya yang betul." Bang Zamy kembali bicara. Tangan kanannya kembali meremas jari jemari kiriku.


"Mana suruh keluar istrimu itu. Gara-gara kamu, anakku masuk penjara! Cuih!" Tante Sofie semakin marah saja. Dia berjalan bolak-balik di teras rumahku dengan sendal yang tidak dilepas. Kulihat bang Zamy tetap santai mendengarkan. Kakinya bergoyang-goyang sambil tetap berdiri di pintu.


"Naura! Keluar dong sebentar. Tante mau bicara penting banget ni." Lagi-lagi tante Sofie meneriakiku. Tetangga sebelah kanan rumahku sudah mengintip satu persatu. Bahkan kak Nita anaknya tante Meri yang hanya berbatasan pagar samping rumah denganku ikut berdiri di pagar yang biasanya tempat kami bertemu, ngobrol di hari libur.


"Maaf tante..., mungkin tante tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Naura tidak pernah kok membiarkan tamu di luar rumah jika dia menerimanya. Dia itu orang paling baik yang pernah kutemui. Mungkin lebih baik tante pulang dulu...." Suara kak Nita halus mengingatkan tante Sofie.


"Tuh denger tuh buk. Bertamu ke rumah orang juga ada adabnya kali." Bang Zamy menimpali santai.


"Hey kau cewek nyinyir. Apa urusanmu aku mau bertamu ke rumah Naura atau tidak. Diam saja di rumahmu, tidak usah nimbrung-nimbrung!" Tante Sofie malah marah kepada kak Nita yang memberikan saran.


"Ya Allah tanteee..., tidak usah 'ngegas' juga kali. Huh tidak punya malu, sudah memaksa bertamu, berteriak-teriak lagi." Kak Nita berjalan menuju teras rumahnya. Beberapa orang tetangga kumpul di rumah tante Meri. Mereka mulai bisik-bisik dengan pandangan mencibir.


"Pantesan anaknya jadi oknum polisi penculik. Ibunya saja kayak gengster." Kudengar suara tante Meri yang seperti dengan sengaja ingin didengar tante Sofie. Seperti bensin yang dipercik api, seketika terdengar suara tante Sofie dengan bentakan.


"Apa kau bilang? Aku seperti gengster? Sini kau Anj**g! Makan kotoranku lebih pantas untukmu." Tante Sofie naik pitam. Dia mengambil pot hitam berisi kembang aster berwarna kuning kesayanganku, menariknya paksa sehingga akar yang menempel di tanah terpaksa naik menyisakan tanah menggelembur. Pot dan kembang itu sudah dibahu kanannya siap dilemparkan ke kerumunan tante Meri dan kawan-kawan di teras rumahnya.


"Eh eh eh tante..., jangan dilemparkan dong. Itu kembang kesayangan istriku." Bang Zamy mengambil pot kembang di bahu tante Sofie. Rombongan tante Meri tekakak bersama.


"Duuuhhh.... kasian...." Tante Wina mengolok tante Sofie.


"Anj**g lo semua!" Tante Sofie mengumpat sambil mengeluarkan handphone di tasnya. Dia memasang kamera dan mengambil gambar rombongan tante Meri berkali-kali.


"Nih wajah lo semua sudah gue simpen. Tungguin ya balasanku." Tante Sofie kembali mengancam.


"Buk gaya gini belooonnn...." Tante Ida memasang muka bergaya cibi-cibi dengan dua tangan melambangkan kedamaian. Serentak mereka tertawa. Tante Sofie semakin memerah mukanya.

__ADS_1


"Ta*k lo semua." Dia mengepalkan tinju kanannya. Aku tidak tahan lagi, lantas keluar. Kucubit pinggang bang Zamy yang masih mencoba menghalangiku di pintu. Bang Zamy menyingkir, memberikan jalan sambil tersenyum balik mencolek pinggangku. Kulihat tante Sofie dengan wajah masih memerah menahan marah dan emosinya. Kusempatkan mengambil sebotol minuman air putih kemasan sebelum keluar tadi.


"Tante Sofieee..., duduklah tante, minum dulu." Aku memanggil tante Sofie yang mencoba menelpon seseorang namun tidak diangkat. Kuletakkan sebotol minuman yang kubawa. Tante Sofie naik lagi ke teras dan duduk di kursi dekatku berbatasan dengan sebuah meja kaca segiempat. Dia langsung mengambil minuman yang kuletakkan tadi, menenggaknya dan menyisakan seperempat.


"Suruh dulu laki-laki itu masuk." Tante Sofie menunjuk bang Zamy yang bersenandung kecil sambil tersenyum-senyum kepada rombongan tante Meri dan kawan-kawan.


"Dia suamiku tante." Aku bicara halus dan sopan.


"Terserah suamimu atau bukan aku tidak ingin dia mendengar pembicaraan kita." Tante Sofie seperti memerintahku. Matanya menatap benci kepada bang Zamy. Sementara bang Zamy dengan sengaja tetap berdiri di dekat kami sambil menyenandungkan lagu-lagu Nissa Sabyan. Aku berusaha menahan tawaku. Menggelikan sekali melihat laki-laki yang baru menikahiku menggoda tante Sofie yang sombong.


"Bang masuk ke rumah lah abang tu." Aku bicara kepada bang Zamy sambil mengerlingkan mata kananku.


"Lha bicara saja, saya kan tidak mengganggu." Bang Zamy masih senang menggoda tante Sofie. Aku berdiri dari kursi dan menarik lengannya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa sih suka benar menggoda orang tua?" Aku mencubit perutnya. Bang Zamy meringis dan menahan tawa.


"Habisnya dia cepat sekali emosinya...." Bang Zamy terkekeh. Aku meninggalkan bang Zamy dan kembali menemui tante Sofie.


"Apa suamimu masih bisa mendengar pembicaraan kita?" Tante Sofie setengah berbisik ke telingaku. Dia menoleh ke pintu tempat bang Zamy berdiri tadi.


"Sepertinya tidak lagi tante, dia sudah nonton tivi." Aku menenangkan.


"Ada keperluan apa tante datang menemui Naura?" Aku bertanya perlahan. Tante Sofie bicara sambil menjulurkan badannya ke arahku.


"Naura..., pertama tante mohon maaf atas kejadian tadi pagi. Tante juga bingung sendiri, Irwan itu baik sekali sebenarnya orangnya. Tante tak habis pikir mengapa dia tega melakukan itu. Apa memang karena cinta. Entahlah, tapi dia tidak bod*h-bodo*h amat sih. Tidak mungkin dia akan nekat menyuruh orang menculikmu." Tante Sofie manatapku lekat.


"Iya tante, saya juga taunya Irwan itu sangat baik." Aku bicara perlahan.


"Memang tak habis pikir, mengapa dia berubah sejahat itu." Aku menyambung kalimatku.


"Iya anggaplah begitu tante." Aku tersenyum melenguh.


"Terus apa yang begitu penting ingin tante sampaikan pada Naura?" Aku bertanya lagi. Sejenak tante Sofie diam dan mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran kecil.


"Begini Nor, emmm..., kita kan tahu Irwan itu tidak benar-benar ingin berbuat jahat kepadamu. Dia orangnya baik banget kok. Maka tolonglah cabut laporanmu tadi. Dan ini ada uang seratus juta sebagai pengganti biaya pencabutan delik aduanmu." Tante Sofie memberikan amplop kepadaku. Aku tak bergeming. Hanya tertawa sumbang merasa geli dengan cara tante Sofie menyelesaikan masalah.


"Maaf tante ya..., untuk delik aduan kasus itu tadi, tante jangan pernah berharap Naura bisa melakukan pencabutannya." Aku menjawab santai. Nampak wajah tante Sofie seketika berubah.


"Hei nak, apa untungnya kau melakukan pelaporan itu. Mari kita selesaikan saja secara kekeluargaan, ambillah uang ini dan mohon segera lakukan permohonan tante." Tante Sofie kembali merayuku.


"Saya sudah katakan tante bahwa saya tidak akan mencabut laporannya. Dan uang ini tolong bawalah kembali karena aku jelas-jelas tidak akan mencabut laporanku." Suaraku mulai terdengar meninggi.


"Apa susahnya sih Nau?"


"Apa susahnya? Tanteee Sofie sayang..., begitu susahnya membuang sebuah rasa trauma. Dan karena trauma ini aku dan mbak Nindya mungkin akan konsultasi dengan psikiater atau psikolog, agar kejadian pagi tadi tidak benar-benar meninggalkan trauma psikologis yang mendalam kepada kami berdua."


"Ah masa begitu saja jadi trauma?" Tante Sofie merendahkan.


"Allahuakbar tanteee..., bagaimana jika yang diculik itu tante? Terlambat sedikit saja pergerakanku pagi tadi, mereka mungkin sudah membunuh mbak Nindya. Dan aku dengan telingaku ini langsung mendengar sendiri perintah Irwan agar segera menghabisi mbak Nindya." Aku kembali emosi berbicara dengan tante Sofie. Bang Zamy terlihat berjalan ke arah ruang tamu, sepertinya dia akan keluar karena mengkhawatirkanku yang berbicara dengan suara mulai meninggi. Aku memberikan kode dengan belakang punggung dan jari tangan kananku agar dia tetap di dalam rumah. Dia menurut saja. Hanya berdiri mematung di ruang tamu. Tante Sofie diam.


"Mungkin dia sedang benar-benar buntu akal Naura. Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang membahayakan atau menyakiti kamu. Tante tau benar kalau Irwan begitu mencintaimu. Dia melakukannya karena berharap pernikahanmu dan laki-laki itu gagal." Suara tante Sofie perlahan melunak. Mulutnya monyong sesaat karena menunjuk ke arah dalam rumah, bermaksud menunjuk bang Zamy. Aku kembali tersenyum tawar. Kutarik nafas panjang.

__ADS_1


"Tolong Naura, ambillah uang ini, lagian tante sudah melakukan pembicaraan dengan mamamu tentang hal ini."


"Mamaku?"


"Iya. Erlinda setuju sekali agar kau segera mencabut laporannya. Kasian Irwan, tante mengkhawatirkan masa depannya." Tante Sofie bicara lagi. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kebingungan. Aku mencoba menalar pemikiran mahkluk Tuhan di hadapanku ini.


"Yang diculik mama atau mbak Nindya dengan tujuan penculikan adalah aku?" Aku menatap tante Sofie yang hanya diam. Dia malah mengalihkan pandangan ke arah jalan raya.


"Sekali lagi ya tante, Naura tidak akan mengutak-atik laporannya. Kita tunggu saja sidang pertama tiga bulan mendatang. Jika dalam pandangan para penegak hukum, itu kesalahan ringan mungkin sanksinya juga akan ringan. Begitu pun sebaliknya. Jadi kita tunggu saja dan biarkan hukum yang bekerja." Aku bicara menjelaskan. Tante Sofie perlahan kembali melihat ke arahku.


"Dan mohon maaf tante ya, jangan pernah berniat untuk menyogokku. Aku tidak akan pernah tergiur dengan uang karena mohon maaf tante, uangku, uang suamiku dan uang keluargaku sudah lebih dari cukup untuk kami hidup layak." Aku sedikit menyombongkan diri kepada wanita sombong di sebelahku. Dia menatapku tidak suka.


"Ah sudahlah, mungkin kau menolak saat ini. Tolong pikirkan lagi. Irwan sangat mencintaimu Dora."


"Naura! Namaku Naura."


"Iya Nora."


"Naura!"


"Ah peduli amat mau Dora apa Nora. Permisi." Tante Sofie mengambil uang yang tadi diletakkannya di meja, memasukkannya kembali ke dalam tas birunya. Lalu berdiri dari duduknya, pergi meninggalkan aku yang masih keheranan.


"Tante! Maaf lahir batin yaaa..., semoga mulai besok puasanya lancar." Aku meneriakkan permohonan maafku. Tante Sofie terus saja berjalan tanpa mempedulikanku. Namun aku yakin dia mendengar teriakanku.


"Apa dia sudah pulang?" Bang Zamy mendekatiku.


"Itu sudah dijemput mobilnya...," Aku melihat sebuah mobil HRV hitam baru berhenti di pinggir jalan, persis dekat pintu pagar teralis. Tante Sofie segera masuk ke dalam mobil. Aku membuka tangan di hadapan bang Zamy sambil menggelengkan kepala.


"Apa yang dia bilang sayang?" Bang Zamy memeluk leherku dengan lengan kanannya, kami kembali masuk ke dalam rumah.


"Dia datang membawa uang seratus juta, meminta agar delik ajuanku segera dicabut." Aku menjawab sambil mendongak menatap bang Zamy yang langsung menunduk mencium wajahku.


"Hadadadaaaiii..., gaya orang kaya sombong. Uh mengganggu saja." Bang Zamy merutuk sambil menutup pintu


"Mengganggu apanya?" Aku bertanya sengaja memancing.


"Tadi lagi asyik-asyik tang teng tang teng tong mulu..., kita lanjut?" Bang Zamy mengerling kepadaku. Aku menunjuk ke arah luar rumah, terdengar suara tahrim sebagai pertanda sebentar lagi adzan Magrib.


"Hemzzz.... okelah." Bang Zamy menjawab lesu.


"Makanya abang sayaaanggg..., jangan terlalu semangat melakukan perubahan." Aku bicara perlahan. Bang Zamy menatapku.


"Perubahan apanya?"


"Yang ada sejak dari zaman purbakala, hingga kembali ke zaman purbakala lagi kan memang tidak ada Sore Pengantin, tetapi yang ada Malam Pengantin sayaaanggg." Aku menjelaskan.


"Haduuiii..., bener juga ya.... Okelah kalau begitu abang akan sabar menunggu malam tiba." Bang Zamy menangkapku dari belakang. Dia kembali menggendongku dan membawa ke kamar lagi. Dia menciumiku lagi, namun tidak dengan nafsu. Lalu aku berdiri, mengambil handuk putih di lemari, memberikan kepada bang Zamy.


"Mandi sana gih."


"Lha tadi kan sudah mandi." Bang Zamy bengong sendiri.

__ADS_1


"Mandi lagi." Aku memaksanya lagi. Bang Zamy manut saja sambil bergumam.


"Cobalah bilang ayo kita mandi bersama bang...." Aku terkikik dibuatnya. Kulempar dia dengan bantal, lalu akupun bergegas keluar kamar dan mandi ke kamar mandi belakang.


__ADS_2