Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 90 Owh Bang Fathur


__ADS_3

Annisa sudah selesai dengan baju tidur cantiknya. Dia kemudian keluar dan bersalam dengan ayah.


"Hai cantik..., kakek lupa siapa namanya cu?" sapa Ayah saat Annisa bersalam padanya. Ayah mengus-elus rambut si gadis kecil nan cantik.


"Annisa kek." balas Nisa dengan sopan. Kemudian dia pamit menuju ke arah bang Fathur di ruang tamu yang mengarahkan tangan memanggilnya.


*****


Mbak Nindya pun sudah keluar. Dia sejenak kebingungan mau menuju ke mana. Namun dengan bismillah dia menuju ruang keluarga dan mendapati ayah yang duduk menonton televisi sehabis mandi, sendirian.


"Assalamualaikum pak," sapa Mbak Nindy kepada ayah. Dia mencium tangan laki-laki ramah calon mertuanya itu.


"Waalaikumsalam nak, sudah lama datangnya?" Papa bertanya ramah.


"Sudah lumayan lama pak." dengan tersenyum mbak Nindya menjawab.


"Bagaimana di perjalanan tadi nak? Ngebut tidak Fathur membawa mobilnya? Dia itu suka


ngebut dari dulu, sejak dia masih SMA." Papa bertanya.


"Sedanglah pak." Mbak Nindya menjawab dengan tersenyum. Sementara ngobrol sejenak dengan ayah, sekilas mbak Nindya melihat ibu sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Dia segera pamit ke ayah dan menuju ke arah ibu di dapur.


"Buk, apa yang bisa Nindy bantu?" Mbak Nindya mendekati ibu dengan tersenyum ramah.


"Duduklah nak, duduk saja, semuanha hampir siap kok. Oh ya itu di teras samping ada Afni duduk, kenalanlah dengannya, kalian akan jadi keluarga nantinya." Ibu bicara sambil menatap mbak Nindya. Sejenak termangu dan berdecak kagum.


"Kau cantik sekali Nindya, wajahmu begitu mirip dengan Naura." Ibu menggelengkan kepala seakan tak percaya.


"Aduh bu..., semoga mata ibu sehat-sehat saja. Orang yang bilang Nindy cantik biasanya sudah mendekati rabun jauh." sembari tersenyum manis, Mbak Nindya sedikit bergurau.


"Kok bisa begitu? Kau pandai bergurau juga rupanya sayang." Ibu bicara sambil mengangkat ikan gurami bakar yang besar-besar. Dia meletakkannya ke atas piring keramik besar persegi empat. Sekejap mata mbak Nindy menangkap kesibukan ibu. Dia melihat kotak tisu shabby terbuka di atas meja dapur dan belum diisi. Di sebelahnya nampak sekotak besar tisu belum dibuka sama sekali. Lalu tanpa dikomando, mbak Nindya mulai bergerak cekatan. Dia mengisi kotak tisu dan meletakkannya ke atas meja makan. Nampak pula olehnya tumis ampla, udang, petai dan nanas masih bertengger dalam kuali di atas tungku.


"Buk, boleh Nindya mengisi mangkok dengan sayur di kuali ini?" tanyanya lembut kepada ibu. Ibu spontan menoleh dan tersenyum.


"Boleh sayang, terima kasih. Itu tuh di situ tempat mangkok keramik yang putih-putih, isikan di sana ya." ujar Ibu yang merasa senang sekali dibantu. Dia menunjuk dengan jempol kanannya ke arah laci kitchen set sebelah kiri bawah. Dalam hatinya sedikit membandingkan, kalau Afni disuruh duduk ya duduk langsung. Tetapi kalau Nindya disuruh duduk, tetap saja melirik-lirik bantuan yang bisa dia kerjakan. Wajarlah, Afni masih muda usianya, sedangkan Nindya sudah seumuran dengan Fathur.


"Bu, hehe, piring makan ibu ada di laci yang mana? Mau dikeluarkan, bukan?" tanya Mbak Nindya lagi kepada ibu yang sibuk mengiris ketimun dan kol untuk lalapan makan. Mbak Nindya berdiri tegak di depan kitchen set mewah.


"Itu nak, di laci lebar paling kiri." Ibu menunjukkan tempatnya. Mbak Nindy kemudian mengambil tujuh buah piring makan keramik yang indah. Dia meletakkan pula ketujuh piring tadi ke atas meja makan. Kemudan dia melihat kabel colokan magicom sudah dilepas, perlahan dia membukanya dan melihat nasi masih rata belum tersentuh di dalamnya. Dia kemudian melirik ke arah lemari empat pintu di ujung dapur, tepat di dinding sebelah Barat, tempat aneka jenis dan bentuk tupperware ibu tersusun rapi.


"Bu, bolehkah nasi Nindy letakkan ke wadah taperwer?" tanyanya kepada sang calon mertua.


"Boleh sekali, pilihlah nak, ambil sendiri tuh di lemarinya." Ibu menjawab sambil menunjuk ke arah lemari yang menjadi objek tatapan mbak Nindya. Ibu melanjutkan mengulek sambel tomat di sebuah ulekan kayu kecoklatan. Sedangkan Mbak Nindya berjalan menuju lemari dimaksud, lalu memilih blossom hijau paling besar untuk wadah nasi. Selesai diisinya, dia letakkan pula ke atas meja makan, diaturmya sedemikian rupa. Sementara Afni, gadis cantik itu masih sibuk di kursi teras dengan sebuah handphone di tangan.


*****


Setelah merasa semua sudah selesai disiapkan, mbak Nindy mulai mengelap-ngelap meja keramik tempat ibu memasak sebelumnya. Hingga kembali meja itu menjadi bersih dan rapi seperti baru lagi.


"Tok!!!" Mbak Nindya yang sedang menata gelas terkejut dengan sebuah jitakan di kepala. Bang Fathur lewat dengan membawa sebuah sangkar burung berisi sepasang love bird hijau kekuningan berparuh merah dan orange di tangan kirinya.


"Iiihhh...," dengan sedikit menggerutu Mbak Nindya menatap punggung kokoh itu berlalu menuju teras samping, dia menggantung sangkar burung tidak jauh dari posisi Afni sedang duduk ditemani bang Rahman. Tidak lama kemudian dia lewat lagi dan mencolek bahu kanan mbak Nindya dari belakang sambil bersiul-siul kecil. Mbak Nindya menoleh ke arah bang Fathur yang berlalu begitu saja seperti tidak melakukan sesuatu. Mulut Mbak Nindya seketika monyong ke arah laki-laki yang sudah beberapa kali bersentuhan bibir dengannya. Ibu yang diam-diam menatap keusilan anak sulungnya kepada calon istri itu, menggeleng-gelengkan kepala tersenyum simpul.


"Kau akan sering mendapatkan keusilannya Nin...," ucap ibu kemudian. Mbak Nindya mendekat ke arah ibu.

__ADS_1


"Dia memang usil dari dulukah bu?" tanya Mbak Nindya kemudian.


"Begitulah...." Ibu tersenyum kembali. Begitu pula dengan Mbak Nindy. Senyumnya ikut mengembang, dia malah semakin mengagumi dosen tampan itu.


*****


Tidak menunggu lama, tangan Mbak Nindya yang terlatih sedari kecil begitu cekatan membantu ibu. Ibu berdecak kagum melihat kesemuanya. Bukannya menghinakan seperti ketakutan dalam diri janda beranak satu itu, ibu bahkan nampak mengagumi sosok wanita yang penuh tempaan hidup di masa kecilnya.


"Ayo kita makan!" Ibu sedikit berteriak memanggil seluruh anggota keluarga. Dan tidak sampai dua menit, semunya sudah berada di meja makan.


"Biasanya kita harus menunggu sekitar tiga puluh menit lebih untuk kesiapan makan malamnya. Ini baru sepuluh menit kok sudah siap semua ya? Ibu kalian ada kemajuan sekarang." Ayah membercandai ibu sebelum duduk di kursi. Padahal dia tahu persis kalau yang cekatan membantu adalah mbak Nindya.


"Alhamdulillah ada Nindya membantu yah." Ibu menjawab pernyataan ayah. Afni seketika menunduk, ada rasa galau mendekat. Menyesal dia tidak ikut membantu kesibukan ibu di dapur.


"Juga ada Afni menjadi penyenangat ibu bergerak lebih cepat." Ibu secepat kilat membaca suasana. Afni kemudian tersenyum. Lalu mereka mulai menikmati hidangan yang ada. Baik ayah, ibu, dan bang Fathur, semua bergantian memberikan daging gurami bakar kepada Annisa yang makan dengan lahapnya. Tidak banyak kata terucap, mereka diam menikmati makan malam keluarga. Hingga setengah jam kemudian, hidangan di meja habis sudah. Yang tersisa hanya kepala dan tulang tengah yang keras dari ikan-ikan besar itu. Ayah, Bang Fathur, Bang Rahman membawa piring mereka ke wastafel sambil mencuci tangan pakai sabun demi menghilangkan bau amis. Afni pun ikit meletakkan piring ke dalam wastafel. Dia kemudian meletakkan handphone di tangan kirinya ke atas kompor di sebelah wastafel, lalu menyingsingkan lengan baju gamisnya.


"Eh eh eh biarkan saja, besok ada bude Marni yang akan membantu membereskan." Ibu mencegah Afni mencuci piring. Afni pun menurut saja. Dia kemudian mengikuti arahan ibu untuk langsung istirahat saja di ruang keluarga bersama yang lain setelah selesai mencuci tangan. Dia duduk di sofa persis sebelah bang Rahman.


Ibu pun telah selesai makan dan ikut mencuci tangan setelah meletakkan piring kotor ke wastafel. Sementara mbak Nindya langsung menumpuk sisa-sisa perkakas kotor di meja, membawanya pelan-pelan ke wastafel. Dan setelah selesai membantu Annisa mencuci tangan, dia menyibakkan lengan bajunya ke atas dan kembali mengambil berulang-ulang semua perkakas kotor yang belum terbawa sebelumnya dari atas meja. Sesekali terdengar bunyi piring-piring dan perkakas lainnya yang beradu.


"Nindy sini! Sudahlah biarkan saja nak, besok pagi ada bude Marni yang membantu membersihkan semuanya." Ibu meneriaki mbak Nindya yang spontan menjawab.


"Iya bu."


Hanya sebuah jawaban saja, namun badannya masih tegak berdiri di dapur, mengelap semua sisa-sisa makanan yang tercecer di meja. Bahkan dia membilasnya dengan serbet yang dibasahkan. Lalu mengelap lagi dengan serbet lainnya yang kering. Serbet itu diambilnya di rak stainless yang didesain khusus untuk mengetoskan cucian di atas wastafel.


"Niiinnn.... Ayo ke sini!" kembali ibu memanggilnya dari ruang keluarga.


"Oke bu...," lagi-lagi hanya sebuah jawaban mbak Nidnya saja. Dia bahkan mulai menuangkan mama melon eh lemon ke ember mungil berwarna biru berisi jaring pencuci piring. Lalu dia memutar kran, membilas semua sisa makanan di piring, membuangnya ke tirisan plastik untuk menyaring air kemudian mencuci dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga tidak sampai sepuluh menit, dapur ibu sudah nampak rapi, bersih dan kering kembali. Bahkan serbet yang dipakai mengelap-ngelap tadi sudah pula dicucinya dan dikeringkannya di rak piring yang kosong.


"Ya Allah nak, ibu merasa kita sedang berada di negeri dongeng, kau menyulap semuanya dalam waktu sekejap." Ibu mendekati Mbak Nindya yang tersenyum bahagia karena bisa membantu.


"Ayo bu kita ke dalam." Mbak Nindy giliran mengajak ibu menuju ruang keluarga. Tangannya yang masih terasa basah dia lapkan ke baju tuniknya direntang pinggang. Sederhana sekali bukan?


Ibu merengkuh lengan kiri mbak Nindya. Dia memeluknya dengan kedua tangan.


"Ibu mulai merasakan, benar-benar akan mendapatkan menantu rasa anak kandung lagi." Ibu bahkan bersandar ke bahu mbak Nindya sambil berjalan menuju ruang keluarga, mendekati anggota keluarga lainnya.


"Oh ya kalian sudah berkenalan sayang? Afni, ini Nindya nak, calon istri Fathur, dan Nindy, ini Afni nak calon istrinya Rahman." Ibu melepaskan pelukan tangannya dari lengan kiri mbak Nindya, dia malah membuat kedua calon menantu berkenalan. Afni dan mbak Nindya pun bersalaman, saling mengangguk dan tersenyum ramah.


"Thur! Ow Fathur!"


"Iya bu," jawab Bang Fathur.


"Kau duluan melamar Nindya, tapi Rahman dan Afni yang akan segera menikah." Ibu melanjutkan perkataannya.


"Hah? Kapan?" Bang Fathur terkejut mendengarnya.


"Minggu depan dong." Bang Rahman menjawab bangga. Matanya mengerling ke bang Fathur yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Afni tersipu, sedangkan Mbak Nindya berusaha tenang.


"Hemmzzz..., Bu, owh ibu." dengan lucunya Bang Fathur menirukan intonasi ibu sebelumnya.


"Kenapa? Apa pula alasanmu?" Ibu tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Waktunya sangat pas kalau begitu. Sekalian saja kita nikahnya serempak." Bang Fathur berpindah tempat duduk mendekati Ibu dan Mbak Nindya. Matanya berbinar bersemangat. Memang tujuan utamanya pulang adalah meminta izin untuk melakukan pernikahan lebih cepat dari jadwal sebelumnya.


"Lhooo? Kan kalian masih lama." ucap Ibu sembari mengernyitkan keningnya.


"Iya sih jadwal lamanya gitu, tapi tidak jadi, Kami mau Minggu depan saja bu nikahnya." sedikit merengek lucu Bang Fathur menjelaskan.


"Kok bisa main maju-maju begitu?" tanya ibu lagi.


"Hemzzz..., Ibu kan pernah muda juga bu, iya kan ayah?" Bang Fathur meminta dukungam ayah yang tersenyum menatapnya.


"Ehmmm...," Ayah hanya mendehem saja tanpa jawaban yang jelas.


"Kami beneran mau izin agar bisa menikah sesegeranya ya bu, ya yah."


"Siapa yang melarang?" Ibu kemudian menjawab.


"Tapi kenapa kok tiba-tiba mau sesegeranya? Ini mencurigakan. Ibu mau semua cucu ibu lahir dari pernikahan yang sah ya sayang...." Ibu bicara gamblang sembari menggoda kedua pasangan di ruangan itu. Tangan ibu berganti-ganti mencolek bahu bang Fathur dan Mbak Nindya.


"Yaaahhh..., biar ada yang lebih menjaga abanglah bu. Gitu saja alasannya." ujar Bang Fathur kemudian.


"Menjaga apanya? Sudah tua begitu," lagi-lagi Ibu menggoda anak sulungnya.


"Makannya, pakaiannya, jam tidurnya dan lain-lainlah...."


"Haaaaaalllaaahhh, alasamu Thur. Ngomong saja ada yang sudah terbang-terbang tinggi mencari sarangnya untuk berteduh...." Ibu menjitak kepala bang Fathur. Ayah tersenyum simpul, sementara bang Rahman tertawa ngakak. Bang Fathur manyun dan dengan ekspresi manja dia menatap Mbak Nindya. Tangan bang Fathur meraih tangan Mbak Nindy, namun segera dilepas paksa oleh Ibu.


"Nikah dulu, grapa ***** grapa ***** tangannya. Siapkanlah sendiri ya, sudah berpengalaman juga. Segera Senin besok ke KUA, segera daftarkan pengajuan pernikahan, Masalah ketring, dan lain-lain biar ibu yang urus." ujar Ibu lantang. Senyum bang Fathur mengembang sempurna.


"Jadi deal ya bu, yah?" Dia masih menyangsikan.


"Ihhh..., sudah ngebet banget yang satu ini." Ibu menarik kuping bang Fathur lalu kemudian menuju ke dapur lagi, menjerang air dan membuat teh manis dan kopi hitam untuk teman ngobrol santai bersama anak dan dua orang calon menantu.


"Eh Thur Thur..., kamu izin dulu sama adikmu dan Afni, mau nggak mereka diundur pernikahannya. Soalnya tidak mungkin kalian menikah di hari yang sama. Nindy pasti mau nikah di Pangkalpinang, dan Afni mau di rumahnya." Ibu bicara panjang dari arah dapur.


"It's Okay bu...," Bang Rahman menjawab cepat.


"Nah tosh dulu, gitu dong sama saudara." Bang Fathur mendekati adiknya. Mereka tosh dan mengerling penuh makna.


Malam yang dingin terasa hangat dalam ruang keluarga kami di Mentok. Dan jika ditanya, siapa yang merasa paling bahagia saat itu? Bang Fathurlah orangnya. Seperti kata ibu, benar saja, sebagai seorang duda muda, emosinya masih begitu bergejolak. Maka sangat dianjurkan untuknya segera menikah lagi.


*****


Jam sebelas malam. Afni sudah diantar pulang oleh bang Rahman, dia sudah masuk ke kamar, begitupun dengan ayah. Annisa sudah lama tertidur pulas. Ibu dan Mbak Nindya masih terjaga bercerita tentang banyak hal.


"Tidurlah nak, kalian pasti capek tadi duduk lama di mobil." Ibu menyudahi obrolan. Bang Fathur segera bangkit dan menarik tangan mbak Nindya untuk menggoda ibu.


"Ayo sayang kita tidur...," ujarnya kemudian. Ibu seketika menangkapnya dan melabuhkan satu cubitan dalam di perut sebelah kanannya.


"Aaawww...." Bang Fathur meringis menuju kamar bang Rahman, sementara Mbak Nindy membawa nampam berisi gelas-gelas kotor ke wastafel lalu masuk menuju kamar tidur bang Fathur. Begitu masuk dia melihat banyak pesan bertabur emoticon ciuman dan pelukan yang masuk di handphonenya.


"Kangeeeennnn kamu sayang. Pengen segera Minggu depan." Mbak Nindya tersenyum kecil tanpa berniat membalas. Dia mengunci pintu kamar dan memeluk Annisa yang sudah lama terlelap.


"Semoga sikapnya tidak berubah ya nak...." Mbak Nindya berbisik lirih. Dua bulir air matanya jatuh. Dua insan sedang jatuh cinta. Meski baru semenit mereka berpisah, namun denyut kerinduan sudah kembali menyapa di nadi masing-masing.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2