Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 77 Sisa Rahasia


__ADS_3

Bang Rahman pulang dari mengantar mbak Vioni ke Pelabuhan Tanjung Kalian. Menurut informasi keberangkatan kapal yang ditumpangi mbak Vio satu jam lagi.


"Sudah dianter?" Bang Fathur seketika bertanya kepada bang Rahman. Dia menunggu di depan pintu ketika mengetahui mobil bang Rahman yang datang.


"Nggak, saya lempar ke jurang."


"Ah kamu...."


"Kenapa tidak antar sendiri sih?" Bang Rahman bertanya.


"Takut mewek ya? Hahaha...." Dia melanjutkan.


"Halah, mewek kenapa, emang abangmu ini tipe cowok apaan?" Bang Fathur meninju bahu bang Rahman.


"Dek, Nauraaa...," Bang Rahman memanggilku yang sedang berada di kamar. Aku segera keluar disusul bang Zamy.


"Sudah pulang? Bagaimana mbak Vio? Sudah dianter?" Aku memberondongnya dengan pertanyaan.


"Sudah dong. Nasib-nasib, saya terus yang jadi sasaran kalo hal-hal begituan." Bang Rahman pura-pura mengeluh.


"Kau sehat Bee? Sudah berapa bulan kehamilanmu?" Bang Rahman duduk sambil mengusap rambutku yang memang masih agak berantakan.


"Enam bulan habis bang."


"Sudah kelihatan jenis kelaminnya?"


"Sudah, perempuan."


"Wuuuaahhh senangnya ibu dengar beritanya." Bang Rahman menoleh ke ibu yang ikut duduk di sebelahku. Dia malah mengusir bang Zamy agar menjauh.


"Iya dong. Kamu tu ayo cepatlah, lamarlah itu siapa tu yang guru SMA kamu bawa ke sini." Ibu bicara sambil menepuk bahu kanan bang Rahman dari belakangku.


"Apa? Rahman sudah ada dekat cewek lagi?" Bang Zamy bertanya.


"Iya malam apa itu dia bawa ke sini."


"Cantik nggak bu?" Bang Fathur bertanya.


"Hemzzz..., cantiklah, tapi tidak ada seorang pun yang secantik putriku Naura." Ibu bicara sambil membelai rambutku. Aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dicintai ibu angkat sekaligus seorang mertua yang sangat peduli.

__ADS_1


"Pastiiii...." Bang Zamy menjawab menatapku.


"Nindya mirip sama kamu Bee..., kalau dia sudah dandan, kalah cantik kamu." Bang Fathur tak mau kalah memamerkan calon istrinya itu. Ibu hanya mencibirkan mulut pura-pura tak setuju.


"Halaahhh..., dulu saja bilangnya Vioku segalanya, Vioku yang tercantik, Violah yang terbaik." Bang Rahman menggoda bang Fathur.


"Iya benar memang. Mereka memang tercantik, terbaik, tersayang, tercinta di waktu yang berbeda...." Bang Fathur menjawab santai sok bijaksana. Nampak sekali kalau sebenarnya dia kasihan melihat mantan istrinya itu pergi sendiri tanpa hasil. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, hatinya kini sudah terisi dengan wanita lain. Wanita yang sepertinya tidak banyak menuntut dan hanya tampil apa adanya. Tidak memerlukan dandan yang berlebihan. Bertani dan bertahan hidup dengan semampunya.


*****


Sementara itu, Dirga duduk dengan paha yang sudah diperban. Dia mengenakan kain sarung entah punya siapa. Dengan tertatih dia berjalan keluar puskesmas. Dia sudah diperbolehkan pulang. Hanya perlu kontrol luka saja tiga hari lagi.


"Ke rumah Bapak dulu ya nak." Papa menawarkan kepada Dirga yang sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Tidak perlu pak, saya ada yang jemput nanti."


"Motor kamu bagaimana? Katanya kamu bawa motor tadi?"


"Sudah diambil sopirnya kakek Pak."


"Owh Bapak malah nggak lihat mereka mengambil kunci darimu ya."


"Owh begitu." Papa kemudian diam. Dia juga ikut duduk dekat Dirga menunggu di kursi panjang terbuat dari stainles berlubang-lubang bagian yang diduduki dan sandaran. Sementara puskesmas tidak ramai, Dirga leluasa mengangkat kaki kanannya yang terluka di atas kursi. Hanya ada beberapa orang petugas yang nampak bolak balik membawa berkas.


"Owh ya, tadi waktu di ruang perawatan kamu bilang ibumu sudah meninggal dan ayahmu di penjara, sekarang kamu tinggal sama siapa?" Papa bertanya lagi.


"Sama kakek pak. Kakek juga sendirian di rumah. Pas menemaninya yang kesepian. Hehe" Dirga terkekeh sambil menahan luka di pahanya.


"Owh begitu. Kamu sangat baik kalau mendengar cerita Nindy, pasti orang tuamu dulu telah mendidikmu dengan baik nak." Papa menepuk-nepuk pundak kiri Dirga.


"Nggak pak. Saya sedikitpun tidak pernah merasakan didikan orang tua. Saya dilahirkan di panti asuhan sama ibu saya. Setelah melahirkan dia malah pergi tanpa sekalipun membelaiku."


"Lha kok bisa begitu?" Papa kaget mendengarnya.


"Waktu itu ayahmu sudah dipenjara?" Papa penasaran sekali nampaknya. Dirga tertawa kecil.


"Aku bahkan hanya bertemu dan melihat wajah ibu di hari dia masuk ke liang lahat."


"Astaghfirullah...." Papa terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa itu terjadi, batinnya haru.

__ADS_1


"Iya, dan saya juga baru sebulanan ini tahu siapa ayah biologis saya pak. Sini pak." Dirga mendekatkan mulutnya ke kuping kanan Papa.


"Katanya aku ini anak hasil dari perkos@an laki-laki bejad tak bertanggung jawab." Dirga kembali menjauh sehabis berbisik. Dua orang petugas administrasi puskesmas di depan sebelah kiri mereka melirik kebingungan. Namun mereka tetap tersenyum ramah meaki sedikit curiga melihat mereka berbisik-bisik.


"Astaghfirullah...." Papa kembali terkejut. Dia memegang dadanya secara mendadak pula.


"Kasihan juga kamu ya, kisahmu agak mirip dengan anakku Nindya. Bedanya aku tidak memaksa ibunya dulu, kami terlanjur melakukannya atas dasar suka sama suka. Tapi Bapak tergiur wanita lain dan meninggalkan pacar tadi tanpa mengetahui bahwa pacar saya sudah hamil dan dia pergi menjauh dengan membawa semua luka sendirian Sedangkan Bapak malah menikmati indahnya menikahi seorang anak Gubernur waktu itu." Papa menampakkan wajah sedihnya saat bercerita. Air matanya kembali menggenang mengingat kisah hidupnya yang berlika-liku.


"Wah Bapak menikahi anak Gubernur? Apa dia tidak tahu Bapak punya pacar?" Dirga menyipitkan kedua matanya sambil menunggu jawaban.


"Iya. Dia anak tunggal. Tapi sikapnya yang dulu sangat baik perlahan-lahan mulai berubah. Dia sangat egois. Aku punya satu orang putri dengannya. Tetapi kami bercerai setelah begitu banyak keributan yang dia lakukan. Bahkan sama anak sendiri dia malah sering sekali bertengkar. Sering sekali membuat masalah. Terkadang bapak sangat kasihan dengan Naura...,"


"Naura? Dokter Naura?" Dokter Naura maksud Bapak?" Dirga sempat mau berdiri karena sangat bersemangat. Namun karena kakinya dia kembali duduk dan meringis menahan sakit.


"Iya, dia anakku bersama Erlinda."


"Jadi?"


"Kenapa?"


"Bapak ini adalah suami ibu?"


"Apa? Suami ibu?"


"Ini tidak salah lagi. Benar kata kakek, bahwa suami ibu bahkan tidak tahu kalau sebelum menikah dengannya, ibu sudah punya aku, laki-laki yang hadirnya karena sebuah keterpaksaan...."


"Maksudmu? Kamu juga anak Erlinda dari hasil yang kamu sebutkan tadi?"


"Iya. Tepat sekali pak."


"Rasanya tidak mungkin sekali. Dia bahkan tidak satu kalipun salah ucap akan hal ini." Papa tertegun sejenak. Dia masih ragu-ragu tentang sekelumit masa lalu almarhum istrinya.


"Atau jangan-jangan kita sedang membicarakan orang yang berbeda." Papa menatap Dirga yang kembali tersenyum manis.


"Bisa jadi pak. Owh itu kakek sudah datang." Dirga menunjuk semua mobil mewah dan penumpangnya yang turun. Seketika papa terpanah melihat kakek berjalan mendekatinya. Kakek juga terpanah melihat adanya Papa. Mereka saling menatap untuk beberapa menit, lalu bersalaman. Papa menunduk takzim. Dalam hatinya mengatakan kalau dia dan Dirga sedang membicarakan orang yang sama.


*****


(bersambung, Authornya ngantuk berat 😀)

__ADS_1


__ADS_2