Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 98 Terasing Sendirian


__ADS_3

Pukul 19.03 WIB


Aku siuman dengan sendirinya dalam pangkuan Elza yang kebingungan. Kulihat matanya sembab karena tangis.


"Kak, alhamdulillah kakak sudah bangun. Elza takut sekali kakak lama bangunnya, Elza bingung mau menelpon siapa. Elza tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong kakak." Elza masih menangis sesenggukan.


"Lain kali kalo ada kejadian di rumah, Elza panggilkan Fredy ya dek. Terima kasih sudah menjaga kakak." Aku bangkit dengan sedikit merasakan pusing di bagian kepala atas. Aku kembali duduk sesaat karena tubuhku belum mampu berdiri seimbang, lalu mencari handphoneku yang terjatuh tadi dan sudah berada di atas meja.


"Elza boleh kembali ke luar, kakak tidak apa-apa kok." Aku bicara lembut ke Elza yang nampak sangat mengkhawatirkanku.


"Beneran? Apa kakak membutuhkan sesuatu?" Dia masih enggan meninggalkanku.


" Nanti kakak bisa panggil kamu kalau membutuhkan sesuatu." Aku bicara sambil tersenyum meyakinkan. Lalu kutuangkan air putih di samping tempat tidurku, segelas tinggi penuh habis membasahi kerongkonganku yang terasa serak dan tercekat.


"Elsa duduk di ruang tamu depan ya kak. Panggil saja bila perlu sesuatu." Gadis baik itu keluar dan menutup pintu, sementara tanganku mulai kembali membuka foto-foto yang kulihat sebelum pingsan.


Nampak bang Zamy tanpa mengenakan baju dengan mata tertutup, di bagian bawah perutnya tertutupi selimut putih khas sebuah kamar hotel. Di setiap gambar, nampak seorang gadis hanya mengenakan BH dan celana dalam merah berenda cantik menempel di tubuhnya. Hatiku teriris melihat semunya dan kuulang-ulang membaca caption dari pengirimnya.


"Dia kelelahan setelah selesai ronde ketiga. Suamimu begitu hebat di ranjang Naura."


Aku kembali mencoba menelpon nomor pengirim, tersambung tetapi tak sekalipun diangkatnya. Kukirim beberapa pesan, dia hanya membaca tanpa membalasnya. Aku tetap mencoba tenang, berusaha tenang dan tetap tenang. Aku tidak boleh terpengaruh.


Aku seorang yang cerdas, namun tetap saja melihat foto suamiku bersama wanita lain di sebuah kamar, rasanya mau meledak saja hatiku dibuatnya. Ditambah dengan perutku yang semakin terasa mules luar biasa.


Aku ke kamar mandi, membasuh wajahku dengan air wudhu. Aku segera sholat Magrib yang hampir terlewati. Lalu kuambil kembali handphoneku. Meski sakit karena kontraksi dan melihat foto yang dikirimkan orang kepadaku, aku masih ingin melihat foto-foto itu lagi. Dan yap! Aku merasakan kejanggalannya. Foto itu diambil oleh orang lain karena ada nampak sebuah bayangan, aku perhatikan lebih seksama, bayangan-bayangan itu nampak samar di kaca lemari, dan itu bukan bayangan wanita yang berpose dengan laki-laki kesayanganku. Dan lagi sebuah kejanggalan nampak, Bang Zamy di foto selalu dengan mata terpejam. Jika dia benar berbuat, dia terbangun, pasti ada foto dia akan menghindari kamera. Namun sebanyak foto yang ada, aku hanya melihat foto seorang laki-laki yang sedang tidak sadarkan diri.


*****


Aku gelisah dan mencoba menghubungi Bang Fathur agar dia bisa segera datang ke rumah. Namun nomornya tidak aktif dan aku menelpon Mbak Nindya, katanya Bang Fathur sedang pergi melayat karena sebelum Magrib, mendadak seorang mahasiswanya meninggal di tempat, persis di lampu merah depan kantor Timah Pangkalpinang. Adu kambing dua pemotor yang sama-sama menerobos lampu merah.


"Kalau dia pulang, tolong segera hubungi Naura ya Mbak." Aku hanya mampu berpesan begitu. Jiwaku kalut, tak tahu lagi harus berbuat apa. Jalan pikiranku pun seakan buntu tak menemukan ide. Aku hanya mampu terduduk menahan sakitnya kontraksi tanpa ada keluarga di samping. Kulemparkan handphone ke ujung tempat tidur dan aku menumpahkan tangisku dibatas kasur. Sekitar dua belas detik kemudian, handphoneku berdering. Aku memungut benda cerdas membodohkan itu, Dirga! Seketika aku tersadar, ada saudaraku yang lain, yang mungkin bisa kumohonkan bantuan. Kuterima panggilannya.


"Halo Bang?"


"Halo Naura..., dek jangan panik ya. Tadi abang tidak sengaja melihat Zamy dibawa tiga orang laki-laki dan satu perempuan masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Zamy mereka seret berjalan seolah-olah sedang mabuk berat. Sempat abang tanya dia kenapa? Kata mereka dia mabuk berat. Abang yang seketika tanggap ada masalah, berpura-pura tidak mengenali Zamy. Namun menelpon polisi dan wartawan. Sekarang kami lagi menunggu waktu yang tepat untuk menggerebeknya." Terdengar suara Dirga dengan sangat pelan. Aku menarik nafas lega.

__ADS_1


"Di hotel apa?" Aku seketika kembali terlintas foto-foto tadi. Mengapa aku tidak menyadari hiasan dinding berupa ukiran batik kayu jati di setiap tengah-tengah dinding. Itu pasti hotel yang pernah kami datangi dulu. Hotel Menumbing Heritage yang berada di kawasan pasar induk Pangkalpinang. Aku segera beranjak, mengambil jilbab dan jaket kulit yang panjang. Tujuanku satu, aku ingin segera menemui Bang Zamy dan melihat para pelakunya.


Mengapa mereka melakukan hal tidak masuk akal terhadap keluargaku? Kami sudah terlalu baik kepada semua orang. Kali ini, aku merasa waktunya melawan atas kejahatan mereka, siapapun itu. Siapa pun pelakunya. Aku wajib melawan. Aku pun bergegas mengambil kunci mobil.


"Apa ayah dan ibu belum pulang dek?" Aku bertanya kepada Elza yang seketika menggeleng. Dia berdiri menghampiriku.


"Kakak mau kemana? Elza ikut ya." Dia nampak sangat mengkhawatirkanku.


"Kakak pergi sendiri saja, di sana sudah ada Dirga, abangnya kakak yang se-ibu. Kalau ayah ibu pulang bilang saja kakak pergi ke Menumbing Heritage Hotel dan bilang kak Naura menunggu mereka." Aku menjelaskan sambil menyisipkan sebuah pistolku yang berlisensi. Kuselipkan di saku bagian dalam jaket cream yang kukenakan. Aku berlalu meninggalkan Elza yang nampak sangat takut dan kebingungan.


"Kak! Izinkan Elza ikut bersama kakak."


"Tidak, tunggulah ayah dan ibu, kamu bisa pergi bersama mereka." Aku segera berlalu, kuhidupkan mesin mobil dan tak sabar menunggu panas mesinnya, aku segera keluar rumah menuju lokasi Bang Zamy seperti yang disampaikan Dirga. Kutahan dan mencoba mengabaikan sakitnya kontraksi yang semakin lama dan sering. Aku menelusuri jalanan yang lengang dan gelap. Pencahayaan lampu jalanan tak cukup membuat suasana lebih benderang.


Dan setelah berkendara tidak sampai setengah jam, aku pun tiba di gerbang hotel. Suasana nampak sangat ramai di sana. Tiga buah mobil sedan patroli polisi nampak bersiaga dengan lampu berkedap-kedip. Aku tidak bisa masuk, lantas memutar dan memarkir mobil di luar gerbang hotel. Aku turun dan berjalan tergesa menerobos keramaian dan kegelapan. Kulihat satu orang sudah diborgol dan digiring masuk ke dalam mobil. Tidak salah lagi, ini pasti kejadian yang berhubungan dengan keberadaan suamiku.


"Pak, mana korbannya pak, dimana dia?" Aku bertanya kepada lima orang polisi yang berjaga di gerbang masuk hotel.


"Bu, kenapa hamil-hamil begini datang ke sini?" Mereka malah balik bertanya. Tak satu pun yang mungkin mengenali wajahku yang bermasker.


"Dia sudah dibawa dengan ambulan ke rumah sakit bu." Polisi itu menjawab.


"Bagaimana keadaannya?" Aku semakin khawatir.


"Beliau meninggal dunia di tempat kejadian bu. Kepalanya tertembus peluru, beliau telah syahid, mereka yang menyandera rupanya memiliki senjata api. Ibu naik apa ke sini? Mari kami antar saja agar aman." Seorang polisi menawarkan bantuan. Aku terdiam, kaku. Tak ada yang mampu aku pikirkan lebih baik lagi.


Di tengah temaram lampu hias gerbang hotel, nampak sorot mata mereka menatapku kasihan. Aku menurut saja, setelah sempat menelpon seseorang, polisi yang sudah berada di kursi kemudiku, membawaku menyusul ambulan yang baru saja meninggalkan lokasi. Aku tercekat, dadaku berdebar tak karuan. Badanku terasa melambung jauh, entah kemana. Dan entah kenapa, aku sudah tidak mampu lagi mengeluarkan air mata. Seperti robot, aku menurut saja turun menuju ruang dimana jenazah diletakkan. Ini kantorku, di sini, di rumah sakit ini tempatku sehari-hari menghabiskan waktu. Aku tahu seluk beluk semuanya. Aku tidak yakin lagi, apakah di rumah sakit ini pula, aku akan menerima kenyataan terpahit dalam hidupku. Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Ini bukan kenyataan, hanya sebuah mimpi. Aku harus terbangun.


Namun tidak, aku tidak sedang bermimpi, ini nyata, aku sedang berjalan menelusuri koridor menuju ruang autopsi jenazah, aku terhenti di depan pintu kayu berkaca persegi empat tempat mata melihat ke dalam ruangan. Aku melihat sekujur tubuh terbaring kaku di atas meja periksa berselimut kain plastik kuning. Aku mendadak merasakan kontraksi lagi. Sebelum sempat membuka pintu ruangan itu, nampak dari ujung lorong berlawanan arah serombongan orang datang dengan terburu-buru. Beberapa laki-laki berpakaian polisi dan tenaga medis, aku mengenali mereka. Beberapa wanita berjalan tertatih sambil menangis meratap. Mereka masuk ruangan, sedangkan aku memundurkan langkah dan mengikuti di barisan belakang.


"Romiii..., mengapa kau pergi begitu cepat nak. Mengapa kau yang menjadi korban kebiadaban para penculik dokter itu. Mengapa kau bisa tewas tertembak peluruuu..., bangunlah Romi, kasihan istrimu hamil tua naaakkk...." terdengar jelas di telingaku, ratapan sang wanita tua sambil perlahan menggoyang-goyangkan kaki yang kaku itu. Tersingkap sejenak pakaian yang dikenakan jenazah. Meski aku terkesan jahat. Hatiku sedih melihat korban itu, tetapi ada kegembiraan muncul lagi, seberkas harapan untuk melanjutkan hidup bersama kekasih hati datang dengan sendirinya. Dia polisi, jenazah itu berpakaian polisi. Hatiku bersorak di dalam hati. Perlahan aku mundur teratur, membuka pintu dan menjauh dari ruangan jenazah polisi itu.


"Zamyku masih hidup. Dia mungkin sudah pulang dan mencariku." bisikku di tengah-tengah gelapnya koridor rumah sakit. Aku menuju parkiran, tidak ada lagi kulihat polisi yang tadi mengantarku. Namun perutku terasa begitu sakitnya. Aku rasa aku akan segera melahirkan. Kucoba menelpon Bang Zamy, namun panggilanku tetap tidak tersambung. Aku menelpon ibu.


"Nauraaaa...? Naura nak. Kau dimana sayang, maafkan ibu. Kau dimana sekarang? Ibu masih di hotel Menumbing dan mencarimu sayang. Zamy sudah dibawa ke rumah, dia sempat siuman dan mencarimu, lalu tidak sadar kembali." Kudengar suara ibu menangis cemas di telepon.

__ADS_1


"Iya Naura pulang, ibu juga segeralah pulang ya..., Naura lagi di...." Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku. Tiba-tiba di parkiran yang gelap, aku merasakan seseorang telah menutup mulutku dengan sebuah sapu tangan berbius. Aku sempat meronta dan ingin melawan melepaskan diri, namun seorang wanita hamil tua sepertiku hanya menyisakan sepersekian dari tenaga asliku. Aku merasakan wajahku ditutupi kain, sedangkan badanku digotong dua orang. Aku mencoba berteriak minta tolong, namun suaraku tak mampu keluar lagi. Dalam lemas, seakan bermimpi, aku merasakan badanku sudah dinaikkan dan dibawa ke atas mobil dengan kedua tangan terikat ke belakang. Air mataku meleleh membasahi kedua belah pipi.


"Baaaanggg Zamy, tolong bantu adek. Tolong maafkan adek jika ini adalah hari terakhir aku bisa bernafas dan menatap dunia yang penuh kepalsuan." Aku berbisik dalam hati. Air mataku mengalir tanpa henti.


"Ya Allaaahhh..., berilah aku kesempatan untuk melihat wajah bayiku, jangan biarkan aku mati tersia-sia karena ulah orang jahat...." Aku menangis sambil berdoa dalam hati. Aku dalam setengah kesadaran merasakan kontraksi kembali. Namun kedua tangan dan kakiku tak mampu lagi bergerak. Tubuhku seakan ditutupi dengan karung dari atas, samar kudengar dan kurasakan mereka mengikat karung tersebut setelah merobohkan badanku.


"Apa salahku kepada kalian? Siapa kalian? Tolong lepaskan aku." Aku menangis lagi dengan mata separuh terpejam. Pertanyaanku tidak keluar dari tenggorokan. Hanya air mataku yang tak henti menetes. Mengapa aku harus berakhir seperti ini ya Allah.... Aku kembali terisak dalam hati.


"Kita letakkan di sini saja, tidak ada yang akan lewat di sini malam-malam begini. Sebelum dia ditemukan orang, pasti nafasnya sudah terhenti dengan sendirinya." kudengar suara seorang laki-laki berbicara.


"Baiklah, ayo kita turunkan." Lalu kurasakan dua orang kembali menggotongku dan meletakkanku ke semak-semak pinggir jalan. Aku merasakan sedang berada pada mimpi buruk yang panjang. Tidak. Ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan. Aku berada pada nuansa tersedih dalam hidupku. Aku mencoba menggerakkan kakiku, aku merasakan sakit luar biasa pada perutku. Air mataku mengalir terus. Nafasku terasa akan berhenti. Namun demi anak di kandunganku. Aku berusaha terus bertahan dan berdoa, Allah pasti akan mengirimkanku seorang penolong. Allah tidak akan tega melihatku mati konyol di dalam ikatan karung seperti ini. Aku kembali mencoba membuka mata, kulawan rasa yang seperti mengantuk berat. Aku mencoba terbatuk, aku terus berusaha membuka mata. Aku mencoba berbicara. Aku terus berusaha menghitung angka berulang-ulang dalam hati, demi menjaga kesadaranku. Satu..., dua..., tiga..., empat..., limat.... Kuulang-ulang agar aku tak tertidur.


"Naaakkk..., kita pasti bisa melalui semua ini. Ayo bantu mamimu sayang, bantu mami agar segera tersadar." Aku bicara dari hati. Aku yakin si hebat dalam perutku mampu mendengar suara hatiku. Nampak tak masuk akal. Siapa mengira akan kejadian seperti ini, aku yang memiliki kasur di kamar mewah bak hotel bintang lima. Aku, Naura Gie Divanka, seorang Dokter Anak yang cantik dan kaya raya, yang sudah siap dengan segala perencanaan melahirkan sang buah hati tercinta, aku istri Dokter kandungan yang hebat, seorang Direktur rumah sakit ternama di kota Pangkalpinang ini, terpuruk di sini, di tempat gelap dan sepi, di tempat yang tidak ada satupun kendaraan pun yang lewat. Aku menjerit dalam hati, memanggil Dia Yang Maha Melihat untuk memberikanku pertolongan. Allaaahhh..., aku milikMu, dengarkanlah jeritanku. Bantu aku ya Allaaahhh.... Air mataku semakin deras mengalir.


"Apakah? Apakah? Apakah aku sedang melihat karung ayam orang terjatuh?" dadaku berdetak kencang. Di tengah gelapnya malam, kurasa seseorang sedang menendang-nendang kecil karung yang membungkusku. Aku mempertahankan agar perutku tidak terlindas saat dia menyibak, membolak balikkan karung itu.


"Apa ini hantu? Apa ini berisi ayam? Apakah ini bukan ayam? Jangan-jangan ini manusia." kembali terdengar suara laki-laki yang tidak begitu jelas. Aku mencoba bersuara, kurasakan kesadaranku sudah mulai pulih sedikit. Namun tetap kerongkonganku tak mampu mengeluarkan suara.


"Dia tak boleh mati." Aku kembali mendengar orang itu berbicara, nampaknya dia sendirian. Lalu aku kembali merasakan badanku digotong seseorang menjauh dari sana. Aku diam saja, berdoa semoga orang yang sedang menggotong karung berisi aku yang merasa mulai tersadar sedikit adalah bukan orang jahat.


Sekitar sepuluh menit digotong, aku merasakan orang itu meletakkanku dengan hati-hati di sebuah tempat. Dia kemudian mengambil sebatang kayu yang runcing, menusuk karung dengan perlahan. Aku menarik kakiku yang terlipat agar tidak mengenai benda yang menerobos ke dalam karung. Terdengar suara orang merobek karung yang menyelimutiku. Setelah terbuka aku mencoba bertahan membuka mata dengan kepala yang pusing dan perut mual dan sakit sekali.


"Kau orang? Kau orang hidupkah? Kau wanita? Kau kasihan wanita. Kau terikat? Kau orang?" Aku melihat orang yang menolongku menjauh dan mendekat berulang-ulang ke arahku. Wajahnya heran, namun langsung aku menangkap dia laki-laki berusia paruh baya nampak kurang sehat akalnya. Rambutnya panjang sebahu dengan kumis dan janggut tebal tak beraturan, di kepalanya terikat sobekan kain bekas. Di temaram sinar rembulan, aku melihat sekelilingku. Rupanya aku berada di bawah sebuah gubuk yang dikelilingi rerimbunan ilalang seleher manusia dewasa. Aku mengangguk ke arah laki-laki yang kebingungan itu. Aku mendekat ke arahnya dengan perut besarku. Mules kembali hadir, sakitnya luar biasa. Aku berbalik di hadapannya menyodorkan kedua tanganku yang terikat, namun dia malah mundur.


"Manusiakah? Kamu orang hidup?" Dia bergumam seperti orang kurang akal kebanyakan. Langkahnya kembali mundur. Dia seperti orang gila. Namun kurasa dia tidak gila.


"Tolong bantu lepaskan ikatannya." Aku bicara lemah sekali sambil menahan mual dan sakit mules perutku. Perlahan aku pun merasakan air meleleh di antara kedua pahaku. Ketubanku pecah. Aku harus siap melahirkan. Aku terduduk di tanah basah tanpa alas apapun. Laki-laki yang setengah waras telah menolongku mengerti apa yang kukatakan. Setelah sejenak ragu-ragu dia mendekat, menggigit simpul tali yang seperti tali sumbu kompor hock jadul. Dia lepaskan talinya, kemudian dia mundur selangkah dan kembali melihatku keheranan.


"Terkencingkah?" Dia mengambil karung yang membungkus tubuhku tadi, menarik pelupuh bekas (bambu yang dilebarkan) di dekat tiang gubuk dan memberikan kode agar aku duduk di sana, beralaskan karung putih berlist merah biru.


"Ini bukan kencing, aku akan melahirkan, pergilah dari sini, tolong carilah seseorang, siapa pun untuk menolongku. Tolonglaaahhh...." bicaraku bergetar, inilah kesedihan terdalam di kisah perjalanan hidupku. Aku seorang dokter anak, suamiku seorang dokter kandungan, namun entah mengapa, kini aku berada pada kondisi yang sangat mengenaskan. Kontraksi hebat di tengah padang ilalang yang tidak kutahu dimana persis lokasinya, ketubanku sudah pecah di malam buta, tanpa penerangan lain selain sinaran sang ratu malam dan kerlipan bintang gemintang. Aku mengerang merasakan sakit luar biasa, hanya ditemani sosok baru, manusia yang nampak tak sempurna akalnya. Allaaahhh..., mampukan aku melewati ujianMu.... Aku menggigit bibir bawahku menahan sakit yang semakin menjadi. Tangan kananku berpegang ke salah satu tiang gubuk terbuat dari bambu besar dan masih kokoh. Aku memejamkan mata, mendekatkan hati kepada Sang Pemberi Soal dalam ujian hidup. Aku siap dengan jawaban SEMPURNA meski pun itu akan terasa sangat sulit.


"Aku akan ke sini nanti. Kamu jangan mati ya wanita...." Laki-laki tak sempurna akalnya itu berpamitan kepadaku dengan suara rendah terpatah-patah. Aku hanya mengangguk dalam kesendirian. Takutkah aku? Sedikitpun tidak ada lagi rasa was-was dan ketakutan. Jiwaku mengembang besar, aku WAJIB berusaha maksimal menyambut sang buah hati dalam keterbatasan ini. Keberanianku berada di puncak tertinggi. Aku akan menang, batinku berbisik tegar. Pergumulan hidup ini, harus mencatat AKU lah sebagai sang jawaranya.


***bersambung***

__ADS_1


(menuju dua episode terakhir)


__ADS_2