
Seperti sebuah syair lagu lawas, malam Minggu adalah malam yang panjang. Meski tak harus menjadi malam yang asyik buat pacaran. Malam yang penuh dengan kegiatan-kegiatan terencana. Banyak orang yang menikmati malam Minggu dengan bakar-bakar jagung, otak-otak, sate, ayam atau bahkan sambil kemping keluarga. Mengasyikkan memang, namun hal itu masih sangat sulit terjadi padaku dan Bang Zamy.
Malam Minggu bagi kami memang menjadi malam yang sangat panjang, karena pasien kami akan membludak bahkan sampai dua kali lipat yang mendaftar, namun tetap dibatasi agar pelayanan kami bisa optimal.
Biasanya malam Sabtu dan malam Minggu, pasien kami datang bukan hanya datang dari wilayah kota Pangkalpinang, melainkan dari beberapa kabupaten lainnya. Jujur saja, kami bekerja non stop bukan karena materi. Materi sudah cukup melimpah bagi kami untuk sekedar hidup diatas kata sederhana, bahkan untuk menafkahi anak asuh bang Zamy di Palestina. Namun, karena sudah begitu mencintai dunia yang kami geluti, maka kami akan merasa bersalah saat beberapa pasien mengeluhkan klinik Honey Bee tutup walaupun hanya sehari.
Seperti malam Minggu ini, aku dan bang Zamy dari jam empat sore, sudah berjibaku dengan para pasien yang semakin banyak saja dalam masa yang memasuki perubahan cuaca. Beruntung belahan jiwa kami di dalam perutku, tidak membebaniku dengan rasa tidak nyaman sama sekali, karena memang aku sangat menikmati fase dimana aku mulai menjadi madrasah pertamanya bagi anakku.
Sejak memasuki trimester kedua, aku sudah membiasakan berbicara dengan ayi di kandunganku. Karena dalam dunia medis, hal tersebut secara ilmiah memang membantu meningkatkan kecerdasan sang buah hati nantinya.
“Masuk dulu yuk….” Bang Zamy mengajakku periksa sebelum jam empat tadi. Aku mengangguk kemudian mengikutinya. Dan dari monitor yang besar tertempel di dinding ruang praktik bang Zamy, nampak bayi kami sudah berkembang sesuai usia kehamilanku, aku dan bang Zamy sangat bahagia melihat semua itu. Kesehatan mahkluk Allah di rahimku itu semakin menguatkan aku untuk tetap mengabdi kepada masyarakat sesuai sumpah janjiku sebagai seorang dokter anak.
*****
Berbeda dengan malam Mingguku pekan ini, Mbak Nindya sudah diculik bang Fathur menuju kota Mentok untuk bertemu ibu dan ayah, dia pergi bersama pula Annisa sehabis Ashar tadi. Setelah sempat merasa ragu-ragu untuk ikut bang Fathur ke Mentok, akhirnya aku berhasil menjelaskan ke mbak Nindya yang sengaja menelponku minta pendapat. Kujelaskan niat baik bang Fathur meminta restu kedua orang tua kami di Mentok untuk segera mempercepat waktu pernikahan.
“Bang maaf ya...," Di pertengahan perjalanan, mbak Nindya bertanya dengan suara pelan kepada bang Fathur.
“Iya kenapa dek?” Sempat menoleh sesaat, bang Fathur menjawab.
“Kenapa kok Nindy semakin berdebar mau bertemu ibunya abang ya?” Dengan nada suara mengandung vibra mbak Nindy sedikit menepuk-nepuk dadanya bicara jujur.
“Lha dulu kan pas malam lamaran sudah penah ketemu sama ibu.” Bang Fathur merasa heran. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya.
“Iya sih bang, tetapi kan malam itu berbeda, Nindynya terbantu dengan suasana yang agak ramai.” Sambil menghembuskan nafas panjang, mbak Nindya menyahut. Bang Fathur lebih melebarkan senyumnya.
"Pernah juga kita makan bareng di rumahnya Naura Zamy kan?"
"Iya sih..., tapiii...."
“Sudahlah Niiin..., tidak apa-apa, ibu baik kok orangnya...,” Bang Fathur menenangkan.
“Bukan begitu bang...," Sedikit ragu mbak Nindya bicara lagi. Namun kalimatnya menggantung tak begitu jelas.
“Bukan begitu apanya? Apalagi lagi yang kamu risaukan?”
“Adek takut nanti ibumu menjadi malu bermenantukan Nindya yang janda beranak satu, tidak sekolah dan tidak ada apa-apa yang bisa dibanggakan sama sekali.” Mbak Nindya mulai lebih santai mengutarakan isi hatinya.
“Ada banyak sisi penilaian pada seorang individu itu Nin. Semangat, kerja keras dan kejujuranmu sudah lebih dari cukup buat ibu memahami kondisimu.” Dengan intonasi menenangkan bang Fathur kembali menjelaskan. Mbak Nindy terdiam. Dia tersenyum manis sekali mendengar kalimat yang keluar dari mulut bang Fathur. Sementara bang Fathur berdecak sekali sambil mngedipkan mata sebelah kiri karena merasa ditatap mbak Nindya. Dia begitu iseng menggoda, namun mbak Nindya tetaplah dirinya sendiri, cuek dan tak begitu menanggapi godaan bang Fathur.
*****
Selang beberapa puluh menit kemudian, bang Fathur menepikan mobil agak jauh ke sebelah kiri, mampir untuk sholat di Simpang Tiga kecamatan Simpang Teritip karena meski dari dalam mobil, sayup-sayup sudah terdengar suara adzan Magrib. Bang Fathur, meskipun pernah main nyosor-nyosor begitu saja, dia tetap rajin sholatnya. Mungkin masih ada sisa-sisa kenakalannya di waktu muda, masih sedikit membekas dalam keaktifannya saat berdekatan dengan wanita pujaan hati. Dengan menikahi mbak Nindya, semoga saja dia menjadi seorang laki-laki yang jauh lebih baik lagi perangainya.
“Kamu sholat di rumah saja ya Nin, kasian tuh si Nisa sudah tidur pulas di pangkuanmu....” Bang Fathur menyarankan kepada mbak Nindya yang langsung mengangguk.
“Iya bang, tetapiii..., apakah kami tidak apa-apa berada di mobil berdua saja begini?” Ada lagi nada kekhawatiran dari mbak Nindya yang masa lalunya dari kecil selalu dibully.
“Tidak apa-apa Nin, insyaAllah aman kok.”
“Nanti kalau tiba-tiba ada orang jahat masuk dan melarikan mobil membawa kami bagaimana?”
__ADS_1
“Ah, tidaklaaahhh....”
“Tappiii…,”
“Ya sudahlah, ini kalau abang sudah keluar dari mobil nanti, kamu pencet tombol ini. Kalau abang sudah kembali pencet yang ini. Bisa kan ya?” Bang Fathur memberikan petunjuk pemakaian remote mobil yang tergeletak di rak kecil tengah antara dia dan mbak Nindy. Lalu dengan sedikit keberanian mbak Nindya mengangguk. Matanya mengikuti Bang Fathur yang setengah berlari menuju masjid di tempat berwudhunya laki-laki. Kemudian dia mulai memencet tombol yang dijelaskan tadi. Mobil seketika mengunci. Barulah Mbak Nindya merasa lega kembali.
Selang delapan menit kemudian, nampak Bang Fathur sudah kembali dan dia pun sesuai instruksi langsung memencet bagian yang ditunjukkan bang Fathur.
“Wah sudah hebat sekarang. Gitu dong jangan takut.” Bang Fathur bicara tersenyum ramah ke mbak Nindya yang merasa sangat bergembira sudah bisa memencet tombol kunci dan buka.
“Kita lanjut ya, estimasi perjalanan masih setengah jam lagi. Ibu sudah menunggu.” Dihiasi senyum menggodanya, bang Fathur menjelaskan.
“Owh, adek semakin berdebar.”
“Halaaahhh…”
“Bagaimana kalau beliau tiba-tiba berubah pikiran?”
“Tidak ah, ayo percaya diri, kamu itu baik sekali, juga jujur. Ibu menyukaimu kok.” Sedikit keras Bang Fathur kembali menjelaskan.
“Nanti kalau ditanya kenapa meski nikah buru-buru jawab apa?” Lagi-lagi Mbak Nindya bertanya.
“Ibu tidak akan bertanya. Nanti abang yang akan menjelaskan sayaanggg...," Bang Fathur masih saja sabar menjelaskan lagi. Sementara Mbak Nindya kembali diam sejenak. Memang usia mereka sama, namun secara fisik, mbak Nindy Nampak lebih tua dari bang Fathur. Mungkin karena beban hidup dan beban pikiran.
“Jangan takut, ibu baik kok dek. Dulu kan dia tidak menyepelekanmu.”
“Iya bang, tapi tetap saja Nindy takut.”
“Sudah ah, tidur saja biar nanti abang bisa bangunkan kalau sudah sampai.” Bang Fathur menyarankan.
“Kenapa malu?”
“Hihihiiii…, Nindy kalau tidur kadang suka mendengkur karena capek.”
“Kalau begitu nanti kita balapan, abang juga mendengkur bahkan di saat tidak capek.” Bang Fathur berbohong hanya demi meninggikan kepercayaan diri mbak Nindya. Yang sebenarnya, Bang Fathur tidak mendengkur sama sekali tidurnya.
*****
Mobil terus melaju dengan santai. Bang Fathur sesekali melirik mbak Nindya yang nampak semakin tegang. Lalu perlahan jemari bang Fathur mencari dan memegang jemari mbak Nindy dengan tangan kirinya. Mbak Nindya sesaat menoleh, namun dia tidak berusaha menepis pegangan itu. Dia bahkan merasakan sentuhan bang Fathur sedikit membantunya menguatkan hati untuk tidak minder dan merasa malu serta rendah diri di hadapan kedua orang tuanya. Melihat mbak Nindya semakin tenang, bang Fathur bahkan menarik tangan kanan mbak Nindy dan memeluknya hingga sampai ke bawah ketiak kirinya.
“Jangan merasa terbebani, anggaplah ibu seperti tante Mira. Dia tidak pilih-pilih kok orangnya. Ibu wanita paling bijaksana di dunia ini. Nanti kau juga akan merasakannya.” Bang Fathur melepaskan perlahan pegangananya, dia memegang kemudi dengan kedua tangannya lagi karena sudah memasuki wilayah yang jalan aspalnya berkelok-kelok.
*****
Malam beranjak naik. Suasana jalanan yang pekat di bumbui kisah mistik di wilayah tikungan yang mereka lalui membuat bang Fathur membawa laju kendaraan semakin pelan. Tikung S Pal 6 Muntok, sebuah jalanan dekat SMK Negeri 1 Muntok, dipercaya banyak warga setiap tahun wajib ada tumbal, meninggalnya gadis atau bujang secara tragis dalam sebuah kecelakan. Tikungan yang di sepanjangan pinggiran jalan, banyak ditumbuhi bambu-bambu kuning yang konon kata warga sekitar seringkali mendengar bunyi tangisan yang begitu menyayat hati. Tikungan yang artinya sudah semakin mendekati ke arah kota Muntok.
“Di tikungan tadi agak angker dek, sering orang kalau malam bahkan sore-sore melihat ada makhluk bergelantungan di pohon-pohon bambu tepat tikungan tadi. Kadang kalau mereka berdua hanya satu orang yang mampu melihat, satu orangnya tidak melihat.” Bang Fathur membuka obrolan kembali setelah agak jauh dari tikungan itu.
“Nindy memang takut karena hal seperti itu bang, bikin merinding. Namun bertemu ibu kamu jauh lebih menakutkan rasanya.”
“Eh jangan begitu sayaaanggg…, ibu baik banget orangnya. Percaya deh.” Keluar logat masa-masa kuliah bang Fathur. Mbak Nindya kemudian terdiam lagi. Mereka sudah memasuki kawasan hutan lindung Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. Sementara mbak Nindya kembali merasa deg-degan dan malu untuk menemui ibu dari laki-laki yang nampaknya benar-benar mencintainya apa adanya itu. Bismillah saja, bisiknya dalam hati sembari menarik nafas dalam dan mengehmbuskan perlahan-lahan.
__ADS_1
*****
Sesampainya di depan rumah, bang Fathur langsung memarkir mobilnya di garasi yang kosong. Ibu segera keluar menyambut mereka. Mbak Nindya membangunkan Annisa perlahan. Dengan rambut dan pakaian yang kusut, Annisa menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan kanan.
"Kita dimana bu?" Nisa bertanya heran. Dia baru bangun setelah sebelumnya hampir dua jam tidur pulas di pangkuan mbak Nindya.
"Hai Nisa, masuklah cu..., Nisa di rumah nenek sayang, rumahmu juga. Ayo masuuuk...." Ibu menyahut langsung ketika mendengar pertanyaan gadis kecil cantik itu kepada mbak Nindy yang terperangah lagi melihat rumah mega di hadapannya.
"Bu..., apa kabar?" Mbak Nindy membungkuk dan mencium punggung tangan ibu. Sehabis bersalaman, mbak Nindy akan menarik tangannya kembali, namun ibu malah menahan bahkan menarik mendekat kepadanya. Ibu memeluk mbak Nindy dengan begitu hangatnya. Mbak Nindy merasakan aliran darahnya begitu indah mengalir. Seketika rasa sungkan, malu dan kekhawatirannya hilang. Dia merasakan pelukan ikhlas seorang wanita yang berhati mulia.
"Masuklah nak ke dalam rumah, jangan sungkan, anggaplah rumahmu sendiri." Ibu bicara sambil melepaskan pelukan.
"Kebetulan, di dalam ada Rahman membawa Afni juga, sekalian kalian berkenalan. Ayah kalian tidak akan lama lagi pulang. Kalau mau mandi, mandilah dulu, lalu makan dan istirahat sambil mengobrol."
"Mau numpang sholat dulu bu...." Mbak Nindy minta izin.
"Jangan bilang numpang nak, ini juga rumahmu." Ibu segera meralat kalimat calon menantunya ini. Dia paham benar dengan semua karakter dan pengalaman hidup yang pahit mbak Nidnya di masa lalu. Maka ibu pun paham pula bagaimana cara memperlakukan wanita pemalu itu agar bisa membaur dalam keluarganya nanti.
"Ini kamarnya Fathur nak, masuklah." Ibu meletakkan pula dua buah handuk putih baru dan wangi ke atas tempat tidurnya yang sangat tertata rapi. Mbak Nindya kembali menatap takjub, kamar yang istimewah ke dua setelah kamar Naura, batinnya.
"Terima kasih banyak ibu." Mbak Nindya membungkukkan badan.
"Jangan begitu ah, nggak perlu terlalu membungkuk-bungkuk seperti orang Jepang. Ibu ini orang Indonesia nak." Ibu mencubit lengan mbak Nindya sejenak, lalu dengan tersenyum ramah dia meninggalkan mbak Nindya yang tertawa dalam hati, bahagia sekali rasanya diperlakukan secara baik oleh orang yang disangkakannya akan merendahkan dirinya pula seperti mertua gadungannya dahulu.
Sebelum masuk ke kamar mandi di kamar bang Fathur, mbak Nindya memandang ruangan berukuran lima kali enam meter itu. Luas dan mewah, gumamnya. Dinding kamar berwarna cream yang dicat rapi. Jam dinding canggih hampir setengah ruangan besarnya. Lemari dan tempat tidur berbahan HPL mewah sekali. Itu hanya di kamar ini dia bisa nikmati, untuk pertama kalinya. Dia masuk ke kamar mandi dan kembali berdecak kagum. Nuansa kamar mandi yang rapi, bersih dan semerbak mewangi. Closet duduk, rak sabun cantik, dispenser odol dan tempat gigi stainless steel, tempat tisu, kran air mewah bertuliskan Panasonic 3NDP1 home shower. Wastafel kamar mandi mewah lengkap dengan kacanya, pengharum ruangan elektrik, rak handuk, aneka peralatan mandi semua tidak luput dari jangkauan matanya. Beginikah kehidupan orang kaya. Semua alat yang belum pernah dijumpainya selain di rumah Naura rupanya ada di rumah Fathur.
"Fathuurrr....!" Mbak Nindya kaget mendengar suara ibu.
"Ya bu."
"Kau jangan ikutan masuk ke kamar itu nak, bahayaaa..., kau tidur sama Rahman malam ini."
"Iya iya iya bu taulah abaaang. Tapi ini nganter Annisa cari ibunya." Suara bang Fathur menjawab. Sementara mbak Nindya kembali meraih handuk dan melilitkan ke badannya. Cekrek! Terdengan suara putaran kunci aluminium di kamar mandi terkunci.
"Tenanglah..., abang akan segera keluar. Jangan takut Nin." Bang Fathur menjawab arti terkuncinya kamar mandi dengan tenangnya. Dia langsung mengerti kegelisahan calon istrinya itu.
"Om Fathur keluar ya, kalau mau keluar saja main sama nenek atau om dan tante tadi di ruang tamu. Nanti kalau ibumu sudah selesai sholat ajak keluar, kita makan."
"Iya om. Eh om, Nisa beneran boleh tidur di sini?"
"Boleh dong."
"Di kasur empuk ini?"
"Iya dimanapun Nisa suka, itu ada sofanya, main di sana juga boleh." Bang Fathur msnunjuk ke berbagai sudut ruangan.
"Owh. Terima kasih banyak om Fathur."
"Sama-sama sayang. Om keluar ya, nanti ibumu pingsan kalau om kelamaan di sini."
"Iya cepat keluarlah!" Mbak Nindya menyahut dari arah kamar mandi. Bang Fathur tersenyum geli.
__ADS_1
"Iya sayaaaanggg...." Bang Fathur berlalu.
***(bersambung)***