Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 57 Pertemuan


__ADS_3

Jam dua siang, mbak Nindya pergi ke kebun sendirian. Beruntungnya sekarang dia sudah bisa mengendarai sepeda motor. Aku pernah menyewa teman yuk Mairoh untuk mengajarkan sampai mbak Nindya benar-benar mahir. Dan sekarang semuanya telah selesai. Dia sudah mahir bersepeda motor. Meskipun secara pribadi, aku tidak pernah berani naik diboncengkannya.


"Buk..., Nindya pergi ke kebun ya, sayang pasti sudah banyak pepaya yang masak. Terus sukun juga, mumpung masih bisa 'dijolok' Nindy mau bawa ke pasar Pagi." Mbak Nindya berpamitan kepada tante Mira.


"Hati-hati ya nak. Jangan jauh dari pisau." Tante Mira memperingatkan. Lantas dengan membawa dua buah karung putih besar, mbak Nindy pergi ke kebun mengendarai motor sendiri, Annisa dia tinggalkan bersama papa.


Setelah lebih dari setengah jam berkendara, dia mulai memanen buah pepaya Kalifornia yang ditanamnya dulu. Pohon yang pendek dengan buah besar-besar dan panjang memudahkannya dalam memanen. Dalam sekejap saja satu karungnya hampir penuh. Jika dulu dia hanya memanen buah yang sudah siap untuk dikonsumsi langsung, masak sempurna. Namun setelah diajarkan papa, dia mulai memanen pepaya asalkan sudah ada sedikit saja list merahnya. Dia menjual ke pasar pagi dan juga warung-warung langganan.


Sehabis memanen pepaya, mbak Nindya lantas memanen sukun dengan menggunakan galah dari bambu panjang. Di ujung galah dia pasangkan sebuah paku panjang yang sudah dia pipihkan dengan palu. Sekali tarik, sukun-sukun itu jatuh ke tanah. Mbak Nindya memungutinya dan terkumpul hampir enam puluh buah. Tak selesai sampai di situ, dia kemudian menebang dua puluhan batang tebu hijau untuk diantarkan ke penjual air es tebu di Lapangan Merdeka. Dia sudah punya langganan di sana, di simpang dekat penginapan Sabrina. Melihat banyak cabe keriting memerah, dia pun memungutnya, dapat sekitar tiga ons. Lalu mbak Nindy menggali laos, jahe, serai, kunyit dan kencur, semua untuk dijual. Begitulah rutinitas pilihannya. Dia menolak ketika diajak membantu di klinik, katanya itu untuk orang sekolahan, sedangkan untuk orang sepertinya cukup bertani dengan baik saja agar tetap ada penghasilan.


"Aku tidak bisa membawa ini sekaligus, ini terlalu banyak, karungnya juga besar." Mbak Nindya bicara sendiri. Kemudian dia mengangkat karung berisi pepaya, dia meletakkan ke motor bebek besar yang dibelikan papa untuknya. Ketika diletakkan di depan kursinya karung melorot ke bawah, nampak depan paha mbak nindy masih kosong. Lalu dia mencoba menaikkan lagi satu karung yang berisi serba-serbi aneka hasil tanamannya dulu.


"Beres! Lebih enak langsung dibawa sekaligus, merepotkan kalau harus bolak-balik ke rumah. "Mbak Nindy kembali bicara dalam hati saja. Mbak Nindy mulai menstarter motor, setelah agak bersusah payah karena banyaknya beban, mbak Nindya akhirnya keluar dari kebun, dengan pergerakan kaki agak terhalangi dengan banyaknya barang. Mbak Nindya duduk di kursi motor bagian belakang, semua bagian depan habis untu sekedar meletakkan karung-karung untuk jualan. Dengan kondisi seperti itu, dia kemudian keluar dari jalanan sempit arah kebunnya menuju jalan raya yang merupakan jalan pintas dari arah Tua Tunu menuju ke Mentok melalui daerah Petaling. Persis setelah sampai di mulut gang jalan yang dia lalui, tebu yang dia bawa menyangkut ke pagar bambu milik Haji Soleh, sang juragan ayam. Mbak Nindya kaget, dia kemudian tanpa sadar menarik gas sampai full. Motor meski dengan beban berat di bagian depan tetap sempat melayang sejenak dengan kecepatan sempurna. Mbak Nindya terjatuh beberapa detik sebelum motor yang ditungganginya terbang dan menghantam ke kepala mobil Avanza hitam yang kebetulan lewat dengan kecepatan tinggi.


"Duuuuaaarrrrr....!!!" Motor mbak Nindya terbalik, isi karungnya berhamburan di jalan. Mbak Nindy tergagap berdiri. Mobil Avanza masuk siring pinggir jalan yang tidak diplester. Kepala mobil bahkan merobohkan sekitar tiga batang anakan pisang di depan lokasi ternak ayam Haji Soleh. Enam orang yang sedang berada di dalam peternakan seketika mendekat. Mereka menarik motor mbak Nindy yang masuk ke dalam semak belukar. Lalu mereka mendekati mobil yang sedikit berasap bagian depan.


"Pak, bapak nggak apa-apa pak?" Rupanya sopir masih sadar, dia menatap cemas laki-laki berkacamata di sampingnya.


"Saya tidak apa-apa mas, tapi tolong lihat pemilik motor itu." Laki-laki itu menunjuk ke arah kejadian. Badan Mbak Nindya gemetar karena takut.


"Mbak? Kamu tidak apa-apa?" Sopir mobil Avanza mendekati mbak Nindya yang semakin gemetaran saja.


"Kamu gemetaran begitu kenapa?" Sopir itu semakin mendekati Nindya.


"Maaf pak, maaf, maaf bener-bener maaf. Saya yang salah, saya lepas kendali motornya." Mbak Nindya meminta maaf kepada sopir. Dia nampak sangat ketakutan.


"Nggak apa-apa." Sopir menjawab, kemudian memutar arah untuk menemui laki-laki muda berkaca mata di depan. Dia telah turun dari mobil dan membantu keenam orang yang datang dari peternakan pak Haji Soleh mendorong mobil kembali mundur ke jalan raya. Karena bibir jalan masih datar, maka tidak begitu sulit mengembalikan mobil ke pinggir jalan.


"Ini bagaiamana pak nantinya dengan mobil saya?" Sopir menanyakan perihal kerusakan mobilnya bagian depan.


"Jangan khawatir, nanti akan saya ganti." Laki-laki putih bersih, tinggi berhidung mancung itu menjawab. Dia melepas kacamatanya yang berembun karena dia berkeringat.


"Kirimkan saja foto bukti perbaikan di bengkel, nanti saya yang akan menggantinya." Laki-laki itu kemudian menambahkan lagi.


"Bukankah dia yang salah?" Sopir bertanya lagi sambil menunjuk ke arah mbak Nindy.

__ADS_1


"Maksud kamu?" Bang Fathur menjawab.


"Bukankah dia yang menabrak kita?" Sopir itu mencoba bersikokoh.


"Apakah dia nampak seperti orang punya banyak uang?" Bang Fathur memperingatkan.


"Bukan begitu pak. Mungkin dia bisa mengganti setengahnya. Saya hanya kaaihan kepada bapak." Sopir memandang mbak Nindya dan laki-laki itu bergantian.


"Dia tidak akan membawa barang-barang seperti ini jika berasal dari keluarga yang mampu." Laki-laki itu memunguti semua jenis bahan jualan mbak Nindya yang berserakan di jalan aspal. Dia membantu meletakkan ke dalam karung.


"Maaf pak. Saya akan menggantinya, tapi mungkin bukan sekarang. Saya tidak punya uang sekarang dan tidak juga membawa handphone." Mbak Nindya memelas kepada laki-laki itu.


"Jangan cemaskan, kesalahan kami adalah ingin cepat-cepat sampai ke Mentok jadi saya minta sopir buru-buru, dia memacu laju kendaraan dengan cepat." Mbak Nindya mengangguk lega. Laki-laki itu kemudian mengangkat karung ke pinggir jalan.


"Bawalah, kami tidak bisa membantu mengantarmu, maaf." Laki-laki itu kemudian naik kembali ke dalam mobil, yang seketika melaju dengan kecepatan sedang. Mbak Nindya berterima kasih berkali-kali, kemudian menyusun kembali tatanan buah dan sayuran ke dalam karung.


*****


Seminggu lalu, di sebuah rumah mewah di Jogyakarta. Vioni menghempaskan kunci mobil Toyota Rush tahun 2014 ke lantai. Gantungan dengan kuncinya tercerai berai, pecah berhamburan. Pembantu mereka membawa putra lucu di gendongannya menuju kamar.


"Ini tadi macet lagi saat distarter. Memalukan." Vioni marah-marah kepada bang Fathur yang juga sudah jengah dengan kemarahan demi kemarahan. Wanita asal Palembang itu tidak pernah puas dengan pemberiannya.


"Tukar mobil dengan mobilmu itu sama saja dengan tidak ditukar. Siapa mau pakai grand livina 2018. Tidak menarik." Vioni yang berwajah cantik berkumis tipis walaupun perempuan itu masih marah-marah.


"Jangan takabur, di luar sana masih banyak kok dosen yang ke kantor bahkan hanya dengan sepeda." Bang Fathur mencoba menenangkan. Mbak Vioni malah memasang muka menyebalkan.


"Mereka kan memang tidak ada uangnya. Lha kamu? Kamu itu anak tertua. Kamu bahkan bisa mengambil semuanya sesukamu. Masa mau minta ganti mobil meski nabung dulu...." Vioni masih beratap merasa menang sendiri.


"Lha apa salahnya menabung? Gajimu dan gajiku tabung saja sepuluh juta sebulan. Masih leluasa kita makan dan bayar pengasuh...."


"Angsuran mobil mamaku di Palembang bagaimana?" Kalau gajiku ditabung bagaimana dengan mama?" Vioni semakin marah. Bang Fathur masih mencoba meredam amarahnya.


"Bertahun-tahun alasanmu mama mama mama. Pernahkah kau memikirkan alasan lainnya?" Bang Fathur marah.


"Pokoknya aku mau beli Pajero! Titik!"

__ADS_1


"Beli saja sendiri, ngumpul uang sendiri." Bang Fathur tidak ingin menyanggupi.


"Apa katamu? Ngumpul dulu? Bagaimana dengan Rahman yang dibuatkan restoran dan diberikan modalnya. Zamy kau lihatlah, punya uang milyaran mobilnya bagus, Naura juga punya segalanya. Mau apa saja dia tinggal beli. Lha saya?"


"Makanya nabung sendiri." Bang Fathur mengingatkan.


"Aku tidak mau tahu, mintakan sama mamamu atau biar aku yang menelponnya." Mbak Vioni masih cemburu dengan keluargaku.


"Hei..., aneh sekali. Kenapa kamu sibuk mengurus harta keluargaku?" Bang Fathur tidak juga menyanggupi permintaan mbak Vioni.


"Wajar dong, kan kamu anak yang pertama, harusnya dapat bagian yang lebih besar dari mereka." Mbak Vioni masih menceracau marah.


"Mana ada wajarnya? Mobil mau gonta ganti, gajimu bukan ditabung, dikirim semuanya ke keluargamu...,"


"Kamu tidak setuju?" Mbak Vioni memotong. Wajahnya menantang tak sopan.


"Sudah lama." Cuek jawaban bang Fathur.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka kalau kamu selalu mengungkit-ungkit dan menginginkan harta keluargaku." Bang Fathur bicara dengan nada tinggi.


"Wajar dong...."


"Wajar apanya?"


"Kan kamu suamiku..., jadi aku minta bagian suamiku."


"Jika aku tidak memberikan apapun?" Bang Fathur bertanya.


"Kita cerai saja." Mbak Vioni mengancam.


"Baik. Kurasa itulah yang ingin kudengar. Bang Fathur sudah benar-benar geram. Dia sudah lama diam, menuruti dan bertahan hidup dikendalikan oleh istrinya yang asli orang Palembang. Dan karena masa perkuliahan memang sedang libur semester, dia lantas memesan tiket pulang kampung ke Pangkalpinang. Sebelum pulang dia telah memasang iklan penjualan rumah dan dua buah mobil yang dibeli dari uang pemberian ibu.


*****

__ADS_1


Kemudian karena sudah merasa bosan hampir seharian duduk di pesawat ke pesawat lain. Bang Fathur menuju Mentok yang tiba-tiba saja di perjalanan melalui jalan tikus. Dan kejadian sesuatu pun terjadi. Mobil yang ditumpamginya malah menabrak seorang wanita di areal perkebunan.


****


__ADS_2