
Malam telah larut, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Bang Zamy sudah berkali-kali menepuk nyamuk yang hinggap di pipi. Menggeliat ke kiri dan ke kanan karena pegal melanda. Biasanya dia sudah berselimut hangat di kamarnya yang nyaman bersama istri tercinta. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Entahlah, sedikit saja jauh dariku dia merasakan sesak karena rindu.
“Biasanya Shelly pulangnya masih lama tidak Pid?” Bang Zamy bertanya sama Opid yang menemaninya duduk di teras rumah Opid yang merupakan tetangganya Shelly. Dia sudah berada di sana sejak jam sepuluh malam tadi. Sementara bunyi dengkuran dari beberapa penghuni rumah itu sudah terdengar seperti kerbau beradu tanduk berebut betina. Dari kejauhan, suara burung hantu dari lahan kosong di sekitar dua ratus meter dari belakang rumah Opid pun sudah bersahutan. Beberapa ekor jangkrik dari segala sumber memecah keheningan malam. Ditambah bunyi ‘sia-sia’ binatang bertanduk panjang ke atas seperti kepik besar menempel di kulit-kulit kayu menambah aroma mistis yang seketika singgah. Hembusan angin laut semakin membuat dingin melanda. Bang Zamy kembali duduk santai sambil menatap empat gelas kopi yang sudah kosong oleh mereka berdua. Martabak Bangka yang dibawa bang Zamy masih tersisa setengah kotak, sedangkan satu kotak setengahnya sudah mereka habiskan.
“Tidak lama lagi pak, biasanya dia datang diantar mobil bagus.” Opid membalas.
“Owh, pernah turun yang mengantar?” Bang Zamy menatap ke arah Opid
“Jarang sih, paling turun sebentar buat ciuman doang.”
“Waw!” Bang Zamy tersenyum mendengarnya sambil kembali menyandarkan badannya ke sandaran kursi sambil menyilangkan kedua tanganya di atas perut. Bosan sekali yang dia rasakan. Namun demi mencari sebuah kebenaran, dia rela melakukan apapun. Mereka sengaja tidak memainkan hp karena biar tidak nampak dari luar kalau di beranda rumah itu masih ada orangnya.
Sedetik berganti menjadi menit, menit pun berlalu menjadi jam, namun Shelly belum ada nampak tanda-tanda akan pulang hingga jam menunjukkan pukul dua dini hari.
“Kalau begitu malam lain saja saya ke sini ya Pid.” Bang Zamy sudah tidak kuat lagi menunggu, namun baru saja dia berdiri sambil berpamitan, tiba-tiba saja ada mobil Innova plat merah dengan lampunya yang menyala menerobos kegelapan berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari mobilnya diparkir. Setelah berhenti sejenak lampu itu kembali padam. Nampak turun Shelly dengan pakaian seksinya. Mobil segera pergi, sedangkan Shelly menuju jalan setapak di sebelah rumah Opid. Dia kemudian berjalan tanpa rasa takut, bahkan bersenandung kecil melangkahkan betis jenjangnya di atas sepatu hak tinggi dengan rok putih pendeknya bergoyang-goyang saat berjalan. Sesekali dia juga membenarkan tali baju hijau keputihan yang dipakainya. Dia mengikat rambutnya yang tergerai sambil terus berjalan.
“Hai Shel…, apa kabarmu?” Bang Zamy muncul dari balik timbunan sampah pohon di tanah kosong. Dia dan Opid berjalan melalui dapur demi membuat Shelly berhenti.
“Hantukah? Apa kau Zamy?” Shelly terkejut, namun tidak ada nampak takut sama sekali.
“Iya saya Zamy.” Bang Zamy berjalan mendekat.
“Ada apa kok tiba-tiba ke sini?” Shelly nampak keheranan.
“Mencarimu.” Dengan nada dibuat sehalus mungkin bang Zamy menjawab.
“Kau pasti sangat merindukanku Zam, merindukan legit manisnya ciuman bibirku hingga datang sepagi ini.” Bangga, Shelly begitu nampak polos. Dia belum berpikir apa yang sebenarnya bang Zamy inginkan.
“Sangat merindukanmu.” Bang Zamy menyindir. Dia tersenyum sinis. Namun Shly tidak memperhatikan.
“Kenapa? Mulai bosan dengan istrimu?” Dia tidak paham makna nada sindiran yang diluapkan bang Zamy.
“Iya.”
“Kau mau ke rumahku? Ayo kita hilangkan dinginnya udara Subuh ini.” Shelly menggoda bang Zamy.
“Tidak Shelly! Di sini saja, berhenti sesaat saja dan cukup sebutkan siapa yang sudah menyuruhmu menyebarkan rumors kau terkena corona dan kami ikut terjangkit karena reuni.”
“Hey Zam, bagaimana mungkin kau bisa menuduhku. Apa hanya aku temanmu saat itu?” Shelly baru menyadari maksud kehadiran laki-laki yang selalu menghindarinya. Yang bahkan melepaskan diri ketika sudah digodanya bahkan di tempat tidur di kontrakannya dulu dengan berpura-pura minta belikan obat karena sakit.
“Aku sudah mempunyai bukti, cobalah jangan mengelak lagi dan urusan kita tidak akan menjadi panjang.” Bang Zamy bicara melenyapkan kenangan yang sempat kembalu hadir.
“Kau jangan berbohong, aku tidak pernah menyebarkan rumors.”
“Benarkah?” Tersenyum sinis, di bawah cahaya rembulan, bang Zamy menampakkan gigi-giginya yang putih.
“Iya. Untuk apa aku melakukannya? Bagiku kau sudah menjadi masa lalu.”
Shelly bicara sok puitis, padahal pacaran saja tidak….
“Itu wajib, tapi rumors ini siapa yang menyuruhmu menyebarkan semuanya?” Bang Zamy bicara lagi.
“Aku tidak melakukannya. Aku bisa menuntutmu dengan kejahatan terencana, kau sengaja menungguku untuk membunuhku. Bukankah itu berita yang bagus? Aku punya teman wartawan lho.” Shelly jumawa mencoba kembali berjalan. Namun bang Zamy menahan tangannya.
__ADS_1
“Lepaskan! Atau aku akan berteriak.” Dia mulai mengancam.
“Silahkan saja, biar tetanggamu pada tahu apa yang telah kau lakukan sehingga baru pulang selarut ini.”
“Itu urusanku, bukan urusanmu!” Shelly meradang. Dia malah memukulkan tas di tangan kanannya ke badan bang Zamy.
“Kenapa kau menuduhku? Apa buktinya?” Shelly menantang bang Zamy.
“Aku tidak bisa menutupi lagi, keluargaku terancam Shel.” Opid tiba-tiba keluar dari balik pohon di belakang bang Zamy berdiri. Shelly terkejut.
“Bagaimana mungkin kau…,” Tergagap Shelly menatap Opid penuh kebencian.
“Aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku.” Opid merasa tidak enak hati.
“Bukankah aku sudah membayarmu anj!ng….!” Shelly melepas sepatu sebelah kanannya dan melemparkan ke arah Opid. Opid menangkapnya dan membawanya mendekat.
“Aku tidak ingin masuk penjara Shel, dan aku tidak punya pilihan lain." Opid bicara sambil meletakkan sepatu tadi ke dekat kaki Shelly yang segera memakainya kembali.
“Set*n kau!” Shelly memperlihatkan jari tengahnya ke arah Opid.
“Hei gadis cantik, sayang sekali kau mengumpat begitu, tidak akan ada lagi yang merubahnya. Bukti sudah tertulis. Kau harus bertanggungjawab atas perbuatan tidak menyenangkan ini.” Bang Zamy bicara pelan.
“Masa bodoh dengan ancamanmu.”
“Aku tidak mengancam, hanya mengingatkan bahwa ada pasal yang bisa membuat kita dipenjara hanya karena melakukan satu hal yang sangat tidak menyenangkan pelapor. Dan kau tahu? Sejak berita itu diturunkan, benar klinik saya menjadi sepi, bahkan saat kami berjalan, orang mencoba menghindar. Itu yang kau inginkan?” Bang Zamy menunduk memandang benci ke wanita yang pernah merayunya saat kuliah dulu. Wanita dengan tubuh mungil jauh berada di bawahnya.
Beruntung aku tidak meninggalkan jejak di laman terlarangnya….
“Semua tidak akan terjadi jika saja kau mencabut laporanmu.” Shelly dengan kesal akhirnya membuka mulut.
“keluarkan Irwan dari penjara, maka semua selesai."
“Kau kekasih Irwan?” Bang Zamy mengernyitkan dahi keheranan. Shelly hanya terdiam. Dia mencoba akan pergi meninggalkan dua laki-laki yang menghadangnya.
“Saya paling tidak suka mengancam, tetapi jika kau tidak buka mulut dengan benar, maka aku juga akan melaporkanmu.”
“Laporkan saja, aku tidak takut.”
“Baik, setelah itu, ibumu yang stress akan semakin stress jika tahu kau dipenjara. Adikmu yang berkebutuhan khusus itu akan menunggu-nunggu kau kembali untuk memberinya makan…, dan bapakmu yang….”
“Bagaimana kau tahu semua tentang keadaan keluargaku?” Shelly memotong ucapan bang Zamy.
“Aku bisa menyewa informan bahkan sepuluh dalam satu malam.”
“Dasar seta*n kau.”
“Sekarang katakan saja, siapa yang menyuruhmu?” Bang Zamy terus mendesak Shelly dengan rekaman di hape selalu menyala.
“Jika kukatakan, berjanjilah bahwa masalah kita telah selesai.”
“Aku pikir itu keputusan yang tepat.”
“Bang Bay.”
__ADS_1
“Bang Bay? Siapa dia?” Bang Zamy kembali dibuat bingung.
“Pak Wahyu Kepala Dinas Sosial propinsi.”
“Waw mesra sekali kau memanggilnya Shel...,” Bang Zamy tersenyum geli.
“Bukan urusanmu!”
“Baik urusanku sekarang, mengapa dia ingin aku jatuh?”
“Kau cari tahu saja sendiri.” Shelly menjawab judes.
“Baik, pulanglah. Eh…, seleramu aneh sekarang apa karena sudah bosan mengejarku?” Bang Zamy masih sempat menggoda. Opid hanya tersenyum di tengah gelapnya Subuh.
“Bukan urusanmu!” Shelly pergi dengan muka cemberut. Dia sudah melihat dari arah kejauhan, ibunya yang strees karena ayahnya menikah lagi itu melambai-lambaikan tangan di terpa lampu teras. Bang Zamy berterima kasih kepada Opid lalu segera pulang. Sambil berjalan bang Zamy memutar otak, bagaimana cara yang tepat untuk melumpuhkan kejahatan pak Bayu, sedangkan untuk melaporkan kasus pembuangan bayi (aku), itu tidak memungkinkan lagi soalnya kejadiannya sudah hampir 30 tahun yang lalu.
Tapi pasti ada cara lain, aku yakin itu….
*****
Sementara itu, di sebuah rumah besar. Nampak semua barang berserakan dan berterbangan di udara, kemudian berhenti, turun dan makin menambah kekacauan.
"Bagaimana mungkin kau punya gundik hah?"
"Siapa yang mengatakan kepadamu?"
"Tidak perlu kau tau, tapi semuanya dia perlihatkan buktinya kepadaku. Kau bahkan pernah membantunya aborsi Bayuuu...." Wanita itu histeris sambil mencengkeram kerah baju di leher laki-laki yang dituduhnya sudah menyimpan seorang wanita lain selain dirinya.
"Hei pelankan suaramu, malu sama tetangga...." Pak Bayu mengingatkan dengan mata memerah.
"Kenapa harus pelankan? Biarkan saja tetangga tahu siapa kau sebenarnya. Di luar kau begitu dihormati. Tapi lihatlah, masa baru pulang jam tiga pagi. Apa itu layak untuk seorang suami beristri?"
"Diam kataku. Atau kubun*h kau nanti." Pak Bayu mengancam.
"Bun*h saja biar kau puas. Biar kau bisa menikahi puluhan wanita lainnya. Dasar laki-laki brengsek! Dari dulu tidak pernah berubah."
"Siapa yang brengsek? Bukannya menikah dengan perut berisi bayi bukan darah dagingku itu yang lebih brengsek?" Pak Bayu memukul meja makan dengan keras.
"Masih mending menikah sudah hamil, daripada sepertimu, memperk☆sa teman sendiri saat dia mabuk dan tidak mau bertanggungjawab sama sekali, bahkan sampai dia meninggal kau tak peduli."
"Diam! Jangan mengungkit masa laluku Sofie."
"Kau yang duluan mengungkit masa laluku!" Tante Sofie menunjuk muka pak Bayu.
"Diam kubilang diam, kau mengerti diam tidak?" Pak Bayu mendekat dengan emosi, tangannya memukul dinding di sebelah tante Sofie berdiri.
"Dasar biadab!" Tante Sofie masih mengumpat.
"Diam!" Plak! Pipi kiri tante Sofie seketika mendapat tamparan keras dari pak Bayu yang semakin kalap.
Cicak berlarian di dinding dapur, mencari tempat bersembunyi agar tidak nampak sedang menguping....
Tante Sofie menangis mengelus pipinya yang mulai memerah.
__ADS_1
"Aku akan membuka rahasiamu Bayu...." Hatinya bicara menahan perasaan sakit sekali.
*****