Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 84 Selamat dari Maut


__ADS_3

Bang Zamy memutar arah kemudi, kami akan kembali ke rumah sakit. Aku asyik dengan handphoneku. Membalas pesan-pesan whatapp yang masuk.


"Kenapa diam terus?" Bang Zamy mencoba membelai kepalaku. Aku menepisnya perlahan. Wajahku datar saja tanpa ekspresi berarti. Entah kenapa rasa kesal masih saja menyelimuti hati.


"Kok?" Bang Zamy menatapku sepintas. Aku tetap bungkam, hanya sesaat saja melirik ke arahnya. Selanjutnya aku kembali berkutat dengan gadgetku. Kulihat dia tersenyum tipis menggeleng, nampak lesung pipinya yang sering kukecup dengan bibirku.


"Masih marahkah sayang?" Bang Zamy kembali merayuku. Jemari kirinya bergentayangan di jemari kanan dan lenganku. Lagi-lagi aku menyingkirkannya dengan pelan tanpa melepaskan tatapan mata dari si kotak kecil nan canggih itu. Dia tersenyum kembali....


"Kenapa? Cemburu ya? Ayu mah memang begitu orangnya beibh. Dia sangat ramah...," Bang Zamy bicara perlahan.


"Sangat ramah? Kamu suka keramahan seperti itu? Kau tau? Keramahan itu berbeda dengan keganjenan. Pantes kamu diam saja saat dia mencolek-colek bahu kiri. Kamu suka keramahannya rupanya." Aku memotong pembicaraannya.


"Lha? Terus bagaimana lagi? Posisi abang kan duduk di sebelahmu, dianya mendekat ngobrol biasa." Bang Zamy masih berkilah. Seakan yang salah adalah suasananya, bukan dia yang menikmati tingkahnya Ayu yang berlebihan.


"Apa susahnya menghindar? Atau bilang langsung supaya tidak colak-colek suami orang." Aku masih panas hati mengingat tangan legamnya tadi memanggil-manggil bang Zamy sambil mencolek-colek tak henti.


"Zaammm...." Dia mencolek bang Zamy." Bayangannya begitu lekat. Entahlah aku sedikit cemburu dibuatnya.


"Maafin abang ya sayang, jangan dibawa marah. Abang serba salah jadinya. Dia itu memang begitu tipe orangnya. Kalau bicara harus nyentuh-nyentuh begitu. Nah beruntung dia bicaranya agak serius, dulu ketika sekolah kalo pas lagi lucu, dia akan menepuk bahkan menerjang orang dengan semangatnya. Terkadang kalau lama ngobrolnya, badan kita jadi sakit semua ditepuk, ditinju, dicubitnya, nah lucunya pas dia ngobrol sama orang banyak, semua menghindar dia jadi menepuk apa saja yang ada di dekatnya, dinding, kayu penyanggah atap sekolah di koridor, pernah sekali waktu, kami sedang menunggu kunci laboratorium dari guru, jadi kami menunggu di dekat meja bapak Ibnu, guru biologi, kami tidak sengaja melihat pak Jumhori keluar dari WC guru reslitingnya lupa ngancing, eh dia ketawa-tawa sambil memukuli akuarium karena kami menghindar, eh blaaarrr! Kacanya pecah. Dia yang kaget malah memukuli bu Desi yang seketika mendekat melihat kejadian, setelah dia menoleh baru dia tersadar sudah memukul-mukul dengan tinjunya bahkan terkena payudara bu Desi. Hahaha...." Bang Zamy terkekeh dibuatnya mengingat masa lalu yang menggelikan. Sementara aku, hanya tertawa dalam hati, bibirku masih kaku.


"Ah sudahlah, kalau memang penyakit sih, tidak ada yang bisa disesali. Nggak usah dibahas lagi. Tapi jangan terlalu menikmatilah, diam saja dicubit-cubit, kenapa tidak menghindar coba?" Dengan intonasi yang berubah, aku membalas tentang kisah bang Zamy saat bersekolah dulu. Aku tersenyum sedikit, masa iya ada orang seperti itu.


*****


Sesampainya di rumah sakit tempatnya bekerja, bang Zamy kembali memarkir mobil di bawah pohon rindang. Dia tidak mematikan mesin mobilnya.


"Mau mampir melihat ruang kerja abang yang baru?" Dia menatapku bertanya. jari tangan kirinya meremas mesra jemari kananku. Kali ini kubiarkan saja. Bahkan aku merasakan bahagia hanya karena hal yang nampak sepele itu.


"Lain kali saja, sudah waktunya masuk jam kerja." Aku menjawab sambil menatap mata tajamnya. Duh mata itu selalu membuatku bergetar lembut.


"Oke deh. Tapi nggak marah lagi kan?" Dia menunduk kemudian mengelus dan mencium perutku.


"Masih!" Aku berpura-pura ketus menjawab, padahal hatiku tidak bisa marah kepadanya. Rasa sayangku teralu berat untuknya dan sangat disayangkan dikotori hanya karena hal sepele tadi. Otakku kembali sadar. Tak seharusnya aku terlalu cepat cemburu.


"Terus?" Sambil mengelus-elus kepala bagian belakangku, dia tersenyum manis bertanya. Ah, mata itu, rasanya menghujam ke jantungku, bagaimana mungkin aku akan bisa merajuk sampai lama. Aku bahkan ingin selalu menatapnya.


"Apanya?" Aku masih berpura-pura cetus.


"Kita sudah damai kan?" Matanya mengerling menaklukkan sedikit kemarahanku.


"Damai dengan syarat." Kesempatan bagiku untuk mengerjainya.


"Kok pakai syarat?" Dia bingung sendiri.


"Iya. Mulai sekarang, jangan terlalu manis sama cewek di rentang usia delapan belas sampai empat puluh tahun."


"Maksudnya?" Dia sengaja memasang wajah bingung tetapi menggemaskan.


"Abang boleh ramah kepada cewek di bawah dan di atas usia itu." Aku iseng saja memberikan syarat. Dalam hatiku tidak benar-benar harus diterapkan. Asalkan saja dia tidak ganjen atau menikmati keganjenan dengan gadis-gadis seperti Ayu.


"Bilang saja hanya boleh manis-manis sama nenek-nenek."


"Cakeeeppp...." Aku memberikan jempol kananku sambil tersenyum lebar. Kalau sudah begitu, lesung pipiku pasti nampak di matanya.


"Terus? Bagaimana kalau mau ngobati pasien?"


"Kecuali sama pasien." Aku cepat menjawab.


"Hahaha..., kamu agak aneh sekarang sayang." Dia mengecup pipi kananku. Aku mengelapnya dengan selembar tisu sisa basah yang ditinggalkannya.


"Kok dilap?" Dia bertanya sambil menghujaniku dengan semakin banyak kecupan. Aku mendorong bahu kirinya.


"Sudah turunlah sana, ingat ya..., jangan terlalu ramah dengan cewek usia diatas delapan belas dan dibawah empat puluh tahun yang cantik."


"Kalau yang biasa saja?"


"Boleh. Karena dirimu tidak akan tertarik." Aku tersenyum turun dari mobil dan menuju kursi kemudi. Dia membantuku duduk.


"Pakai sopir ya sayang. Sama si Fredy saja siangnya, malam dia jaga rumah."


"Nggak usah, adek masih mampu menyetir sendiri." Aku mulai memundurkan kursi kemudi, mengepaskan agar tidak terlalu sempit dan menyentuh perut buncitku.


"Okelah, hati-hati sayang..., Papi sayang kaliaaannn...." Dia menyempatkan diri menunduk dan mencium paha kananku karena kepalanya terhalang kemudi ketika akan mencium perutku. Aku perlahan mengelus rambutnya yang pendek rapi, lalu meninggalkannya yang terus dada-dada dengan tangan kiri di pinggang. Aku menuju RSUDH Pangkalpinang kembali.

__ADS_1


*****


Bang Zamy berjalan sedikit menunduk di teriknya matahari siang. Dia menuju pintu utama rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika di koridor depan, tempat biasanya pasien darurat diturunkan, seorang nenek-nenek ditunggui cucunya sedang menangis. Beberapa anggota keluarganya pun nampak mencoba dan terus menyadarkan agar segera berhenti menangis.


"Halo ibu, maaf lancang, boleh bertanya kenapa neneknya menangis?" Bang Zamy menghentikan langkah dan mengeluarkan handphone di saku kanan sambil bertanya ke wanita di sebelah sang nenek.


"Anu pak, kami lagi nunggu jemputan, adik saya sedang nyari rental mobil. Kami mau pulang karena barusan kakak saya meninggal dunia dan sudah dibawa ambulan didampingi saudara kami. Tapi nampaknya si Hardi belum dapat rental mobilnya." Wanita itu menjawab pertanyaan bang Zamy. Mereka nampak tegang dan sedih.


"Pulang kemana ini?" Bang Zamy bertanya lagi. Kali ini ke seorang tukang kebun dengan seragam rumah sakit yang dipimpinnya. Namun dia tidak mengenalnya sama sekali. Matanya tidak berani lama menatap bang Zamy. Dia nampak mengkhawatirkan sesuatu.


"Pulang ke Puput Bangka Tengah pak." Dia menjawab. Bang Zamy kemudian menelpon seseorang yang setelah selang berapa detik kemudian seorang karyawan rumah sakit keluar dari pintu utama dengan tergopoh-gopoh mendekatinya.


"Iya pak." Laki-laki itu menunduk sopan sekali.


"Mobil operasional kantor eL-tiga ratus ada yang parkir?" Bang Zamy serius bertanya.


"Tiga jalan, satu parkir tetapi kondisi tidak siap pakai pak."


"Kenapa?"


"Ban belakang kempes dua-duanya dan sangat goyang bahkan hanya di kecepatan enam puluh...,"


"Sudah lapor ke bagian keuangan?"


"Sudah sebulanan lebih lapornya tetapi belum diperintah masuk bengkel." Laki-laki itu menjawab. Bang Zamy mengangkat alis tinggi lalu kembali menatap nenek yang tersedu menangis bahkan meratap.


"Andiii..., cepat benar kau pergi nak. Coba ibu yang duluan meninggal. Kau masih muda, siapa yang akan mengurusi istri dan anakmu...." Nenek tua itu tersedu dan meratap. Air matanya tak henti mengalir.


"Sakit apa yang meninggal pak?" Lagi-lagi bang Zamy bertanya.


"Diabet basah pak, sudah amputasi yang kedua." Seseorang menjawab. Di sana, selain tukang kebun, tidak satu orang pun yang mengenalnya sebagai seorang Direktur Utama Rumah Sakit itu. Disangka mereka, bang Zamy hanyalah orang asing yang tak sengaja lewat.


"Pak, kamu sudah lama kerja si sini?" Bang Zamy tiba-tiba bertanya kepada tukang kebun berseragam.


"Sudah pak Direktur." Dia menjawab. Seketika keluarga nenek yang masih menangis terisak menatap ke arah bang Zamy.


"Nek, saya turut berduka cita atas meninggalnya putra nenek, nenek berdoa saja, biar almarhum husnul khotimah. Aamiin. Kalau memang belum dapat mobil rentalan, naik mobil saya saja, biar diantar ke sana ya nek." Bang Zamy menawarkan.


"Benarkah nak, kau mau meminjamkan mobilmu?" Nenek seketika terhenti terisak. Dia menatap bang Zamy penuh harap.


"Tidak usah pak, tidak usah kami akan segera mendapatkan mobil rental. Adik saya sedang mencarinya. Dengan cepat tukang kebun menolak tawaran bang Zamy. Dia malah nampak gugup dan begitu khawatir.


"Lho kamu kenapa Im? Sudah kelamaan si Hardi cari mobil rental hampir satu jam. Nanti keburu jenazah sampai rumah kita belum siap apa-apa." Nenek malah membentak anaknya yang berseragam. Bang Zamy sedikit menjauh, dia kemudian menelpon seseorang lagi.


Itu mobilnya Saya parkir di situ nek, tunggulah sebentar ya." Bang Zamy mengabaikan penolakan sang tukang kebun. Dia sangat kasihan melihat orang tua yang sudah berkeriput kulitnya menangis tersedu.


"Iya terima kasih banyak nak, mudah-mudahan sehat, umur panjang dan banyak rejekinya." Nenek berterima kasih dan mengelap air matanya dengan kain sarung merah kehijauan yang dia kenakan.


"Sama-sama, silahkan itu, mobilnya yang di tempat teduh itu." Bang Zamy menunjuk mobilnya yang diparkir di tempat khusus Direktur. Semua yang ada di sana seketika bergerak mengangkat tas-tas, kantong-kantong, bantal dan lainnya menuju mobil. Yanto, tukang kebun berseragam nampak pucat mukanya. Dia malah membentak orang yang ditelponnya karena tidak segera datang dengan mobil hasil rental.


"Tidak-tidak-tidak, jangan ada yang naik ke mobil itu, tolong jangan." Pak Yanto menghadang anggota keluarganya menuju mobil bang Zamy.


"Kenapa?" Nenek bertanya.


"Itu mobil boss saya, saya malu." Pak Yanto masih berusaha menghalangi.


"Kenapa malu?" Bang Zamy bertanya menatap pak Yanto.


"Jangan pak, tidak usah. Saya malu kalau begini." Dia menjawab menunduk-nunduk. Usianya jauh lebih tua dari bang Zamy.


"Kau naik motor saja pulang sendiri ke sana. Atau kalau tidak mau pulang ya di sinilah. Tidak punya perasaan, adik kandung sendiri meninggal ditawari tumpangan sama orang baik malah menolak dengan berbagai alasan." Nenek marah-marah kepada Yanto yang semakin nampak ketakutan. Separuh barang keluarganya sudah masuk ke bagasi mobil Pajero Sport keluaran terbaru.


"Turun semuanya, tunggulah sebentar, aku yang akan mencari mobil rentalnya." Yanto kembali bicara.


"Jangan menghalangi kami, kasihan almarhum Andi dia sampai di rumah, sedangkan keluarganya masih di sini." Nenek, ibunya almarhum Andi menjadi marah.


"Jangan naik ke mobil ini. Tolonglah tunggu sebentar."


"Jangan hiraukan dia, kita mau segera sampai ke rumah. Sudah bagus ada yang mau menolong." Nenek bicara.


"Jangan maaakkk." Yanto gelagapan sendiri.


"Berisikkk...." Wanita tua yang dipanggilnya emak menjawab marah.

__ADS_1


"Mak jangan maakkk, turunlah...." Namun sang nenek tidak mempedulikan lagi. Dia sudah naik ke mobil bersama keempat anaknya yang lain dan dua orang cucu. Sementara bang Zamy, kebingungan menatap petugas kebersihan yang sepertinya benar-benar tidak ingin keluarganya naik ke mobil itu.


"Tidak apa-apa pak Yanto. Saya sendiri yang akan mengantarkan mereka karena sopir kita semua berhalangan." Bang Zamy bicara lemah lembut. Dalam hatinya mungkin petugas itu terlalu malu atau sungkan karena harus naik mobil pribadi pemimpin sebuah rumah sakit besar tempat dia bekerja.


"Sudah siap semua? Tidak ada yang tertinggal lagi?" Bang Zamy naik ke mobil duduk di kursi kemudi. Dia meletakkan remote di sebelah kiri dan siap untuk menghidupkan. Tiba-tiba pak Yanto menarik paksa pintu yang memang belum dikunci.


"Pak tolong turunlah pak. Maafkan saya pak. Ampuni saya...." Yanto bahkan mulai menarik paksa bang Zamy agar segera turun dari kursi kemudi. Keningnya berkerut karena sangat kebingungan.


"Bapak terlalu berlebihan, saya hanya mau menolong keluarga bapak, kok dihalangi terus. Kenapa?"


"Pak, pak, tolonglah pak jangan bawa keluargaku dengan mobil Bapak."


"Iya tapi alasannya kenapa?"


"Mobil Bapak sudah di...,"


"Sudahlah pak Yanto, seperti tidak mengenal kebaikan Dokter Zamy. Biarkan saja dia mengantar keluargamu...." Tiba-tiba saja Dokter Jo ikut nimbrung. Beberapa detik yang lalu dia datang terengah-engah karena dikasih tahu seorang tukang kebun lainnya.


"Dokter Jo?" Pak Yanto serba salah untuk melanjutkan omongannya.


"Iya. Biarkan saja mereka di mobil itu. Aman kok, Dokter Zamy sendiri sopirnya." Dokter Jo mencubit pak Yanto dari belakang. Namun dari arah bang Zamy dia nampak hanya mengelus-elus saja. Mendengar penuturan Dokter Jo, bang Zamy kembali naik ke mobil. Pak Yanto mendekat.


"Pak, lindungi Saya dan keluarga saya tolong. Mobil bapak sudah disabotase untuk sebuah kecelakaan." Pak Yanto seketika bicara. Demi menyelamatkan ibu dan anggota keluarga lainnya, dia berani menentang keinginan Dokter Jo.


"Apa maksudmu?" Bang Zamy semakin dibuat bingung.


"Pak, tadi saat kantor sepi, aku masuk seolah-olah mau membenarkan mobil bapak. Pas bapak parkir di sini (tempat parkir yang nampak seperti tempat cucian mobil), aku bisa menyelinap di bagian tengah dengan leluasa. Dan aku telah melepaskan kedua kampas rem belakang dengan sebuah obeng pak." Pak Yanto hampir menangis, dia benar-benar ketakutan.


"Hah? Yang benar saja kamu?" Bang Zamy kembali turun dari mobil. Sementara nenek dan keluarga saling menatap karena bingung.


"Iya pak benar pak. Ini pun belum sempat ku buang kampas remnya karena takut dan ragu mau cari kesempatan untuk dipasang kembali. Tetapi aku takut karena orang sudah banyak berlalu lalang...." Pak Yanto menitikkan air mata.


"Sudahlah pak Yanto, katakan saja terus terang kalau bapak mau belajar mbengkel." Dokter Jo lagi-lagi memotong ucapan pak Yanto. Bang Zamy mulai curiga. Dia mengambil dengan paksa besi sedikit berbentuk jajar genjang setelapak tangan itu. Bagian belakang berwarna abu-abu muda, sedangkan sebelahnya berwarna hitam.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Atau hari ini juga silahkan keluar dari sini, tunggu surat pemberhentian dengan tidak hormat." Bang Zamy bicara tegas bercampur amarah.


"Apa yang akan terjadi kalau saya sudah menjalankan mobil dan dalam keadaan seperti ini. Mengapa kau ingin mencelakaiku?" Bang Zamy sedikit menunduk mendekatkan wajahnya yang memerah menahan emosi kepada pak Yanto. Tangannya terkepal akan meninjunya, namun dia urungkan karena anggota keluarganya sudah turun semua.


"Kenapa nak? Kenapa malah berantem?" Nenek bertanya kepada bang Zamy.


"Anak nenek ini, pak Yanto ini dari tadi menghalangi nenek dan keluarga diantar dengan mobil ini. Rupanya dia telah merusak rem belakang dengan mencabut cakramnya." Bang Zamy menjelaskan. Sementara nenek dan keluarga lainnya memandang marah kepada pak Yanto.


"Yanto? Benarkah?" Nenek bertanya.


"Aku diancam mak."


"Diancam siapa?"


"Pak Dokter Jo." Pak Yanto menunjuk Dokter Jo yang buru-buru meninggalkan lokasi mereka berada.


"Kamu yakin?" Bang Zamy memastikan lagi.


"Ini di hp masih ada ancaman-ancaman pemecatan dan lainnya pak." Pak Yanto mengeluarkan handphonenya dan memberikan kepada bang Zamy yang langsung membacanya. Betapa mengerikan, dalam sebuah pesan panjang dibilangkan kalau dalam kecelakaan bang Zamy sampai meninggal, mereka akan memberikan upah dua ratus juta rupiah. Bang Zamy tidak ingin gegabah. Dia mencocokkan nomor pengirim di hape pak Yanto dengan hpnya, dan benar saja. Itu nomor Dokter Jo juga tersimpan di handphonenya. Bang Zamy segera mengejar Dokter licik itu menuruni anak tangga. Dia berbelok masuk ke ruangan Nusa Indah, ruangan dimana tempat anak-anak sakit semua. Bang Zamy menariknya masuk ke dapur dan langsung plak! plak! plak! Tiga kali tamparan beruntung dia hadiahkan kepada orang tua itu.


"Aku tidak menyangka kau akan selicik ini. Bahkan kau sudah berniat dan berkhayal membunuhku. Kau sebenarnya dokter atau set*n?" Bang Zamy tak mampu menahan marahnya. Dokter Jo terperangah dan tidak bisa berkutik lagi.


"Sabar Zam, kau pasti telah salah paham." Dia bicara seolah berada pada posisi yang benar. Beberapa orang perawat di ruangan Nusa Indah keluar.


"Ingat, aku sudah punya bukti, jangan mau mengelak lagi." Bang Zamy akhirnya meninggalkan ruangan itu dan naik kembali menuju ke dekat mobilnya keluarga pak Yanto berada. Mereka sudah menurunkan semua barang. Nenek kemudian menangis lagi. Beruntung, tak lama kemudian Hardi, adik pak Yanto sudah datang dengan sebuah mobil Avanza hitam tahun lama. Mereka naik mobil setelah berterima kasih dan memohon maaf. Pak Yanto bahkan bersujud meminta pengampunan. Bang Zamy tak mampu berkata-kata. Dia kemudian menelpon orang bengkel langganan agar bisa datang menemuinya. Dia berkacak pinggang dengan gelisah.


"Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku melalui Naura yang merajuk. Jika saja kami tidak pulang buru-buru dari tempat makan siang, bisa jadi aku tidak berjumpa dengan rombongan keluarga itu. Dan aku akan pulang sendiri menggunakan mobil, dan kecelakaan terjadi, aku mati, anakku menjadi yatim dan Naura menjadi janda...." Bang Zamy meringis berbisik lirih. Dia tak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Segera dia menelponku.


"Ya Abang ganteng kenapa? Naura tidak marah lagi kok sayang, bekerjalah dengan benar Papi Direktur...." Aku membercandainya dengan kalimat.


"Kamu tidak jadi menjadi janda sayaaanggg..., alhamdulillah." Dia menjawab aneh.


"Maksudmu? Masa gara-gara gitu doang mau bunuh diri?" Aku heran mendengar pernyataannya barusan. Namun dia malah menghentikan panggilan setelah mengatakan.


"Nanti abang akan ceritakan semuanya saat pulang."


Aku hanya bisa mengedikkan kedua bahu. Dan kembali melanjutkan memeriksa pasien. Melupakan sejenak kebingungan sang laki-laki tampan.


Setiap kejadian di muka bumi pasti ada hikmahnya.

__ADS_1


*****


(bersambung)


__ADS_2