Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 26 Melawan Guna-Guna


__ADS_3

Malam Minggu datang. Di tengah himbauan pemerintah untuk diam di rumah, jalanan di kota Pangkalpinang masih tetap riuh dengan suara kendaraan. Kami duduk di teras menikmati jagung dan kacang rebus yang dibawakan yuk Mairoh siang tadi. Kepulan asap dari arah corong teko dan gelas-gelas cantik berisi teh manis hangat bergoyang-goyang ditiup angin. Ini bukan jam sembilanan malam. Tetapi hampir jam 12 malam. Sepulang dari praktik di klinik Honey Bee, kami sempatkan mengobrol bersama ayah dan ibu yang setia menunggu kepulangan kami. Namun tak lama setelah aku dan bang Zamy datang, ayah malah meninggalkan kami ke pos penjagaan dan mengajak Fredy bermain catur. Mereka asyik dengan teh hangat dan sepiring rebusan kacang. Sementara aku, bang Zamy dan ibu asyik dengan cara kami sendiri.


"Tadinya ibu membayangkan, mamanya Naura akan bersitegang dengan ibu perihal pernikahan. Tetapi nampaknya dia cukup dewasa menyikapi hal itu." Ibu bicara sambil sibuk mengunyah.


"Iya saya juga khawatir tante Erlinda bakalan menolak rencana kita." Bang Zamy menjawab. Aku hanya diam mendengarkan.


"Tetapi apakah mereka benar-benar dengan omongannya?" Ibu kembali menyuarakan kekhawatiran.


"Maksud ibu?" Aku bertanya.


"Maaf Naura, maksud ibu, apa mamamu dan Nina benar-benar telah ikhlas dengan pernikahanmu dan Zamy? Bukannya tidak percaya mereka, tetapi kita masih perlu selalu waspada." Ibu mengeluarkan unek-uneknya.


"Tidak perlu khawatir bu, Nina gadis baik dan cerdas kok pada dasarnya, hanya mungkin belum dewasa saja." Bang Zamy menyahut ibu.


" Waw tahu benar ya soal Nina...." Aku menyela menatap bang Zamy. Bang Zamy tersenyum mendekati dudukku. Dia duduk di sandaran sofa teras depan sebelah kiriku. Matanya menatap ke depan tak seperti biasa.


"Asyeeekkk..., sepertinya ada yang mulai cemburuuu...." Bang Zamy meletakkan tangan kanannya di pundak kananku. Sesekali dia mengelus kepalaku.


"Ah siapa juga yang cemburu...." Aku sewot sendiri. Tiba-tiba bang Zamy menurunkan kepalanya, mencium persis di ubun-ubunku, lalu tangan kanannya ditekankan agak lama dan kuat persis di ubun-ubunku. Aku ingin menoleh ke arahnya karena heran. Namun telapak tangannya malah semakin kuat menekan.


"La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim..., La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim...,La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim...." Bang Zamy membaca lafadz hauqalah secara tiba-tiba. Ibu berdiri mendekat.


"Ayo nak kita masuk ke dalam." Ibu menyeret lenganku supaya segera masuk ke rumah. Wajahnya seketika memucat. Aku merinding seketika. Bau busuk tiba-tiba menyeruak membuatku ingin muntah. Bang Zamy mengambil gelas teh di meja. Lalu dengan membaca bismillah dengan keras, dia melemparkan gelas ke arah sepasang mata bulat kuning di antara bunga-bunga di bawah jendela kamarku.


"Plak! Dush!" Suara gelas berair menghantam daging mentah berbulu. Seekor kucing hitam terbaring seketika.


"Meonggg..., meooong..., meooonggg...." Suaranya tidak seperti kucing biasa. Ada nada halus tajam mengerikan. Bang Zamy mengambil sendal, lalu dengan senter di hape, dia mendekati sumber suara.


"Blashh..." Sekelebat bayangan kucing hitam yang sempat terbaring jatuh melompati pagar, menghilang ke arah jalan raya. Ayah dan Fredy sudah mendekat ke arah bang Zamy karena terkejut mendengar sedikit kegaduhan.


"Ada apa Zam?" Ayah memandang sekeliling.


"Ada yang tidak biasa yah. Entah darimana asalnya, tadi Zamy melihat seekor kucing hitam, bergerak-gerak diam seakan mau menerkam Naura. Biasanya kucing akan bersuara apabila mendekati manusia, apalagi jika dia kelaparan. Dan Zamy tidak mengada-ada, seketika saja tadi Zamy merasakan aura yang sangat berbeda. Menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding. Ada selain manusia ikut mendengarkan perbincangan kami." Bang Zamy menjelaskan. Kepalanya sesekali melongok ke dalam.


"Bee..., pergi tidur saja, sudah malam. Ini biar abang yang bereskan." Bang Zamy bicara padaku dengan nafas gelisah.


"Memang sudah malam, ayo kita tidur." Ayah ikut membawa gelas dan piring di luar menuju ruang tamu.


"Fred, nanti kita sambung ya..." Ayah kembali ke teras bicara dengan Fredy yang tampak kebingungan.


"Oke siap pak." Fredy menjawab dan kembali ke pos jaga. Kemudian..., ayah dan bang Zamy sudah bersamaku dan ibu di ruang keluarga. Pintu telah dikunci.


"Bismillahi tawakkaltu 'alallah la hawla wala quwwata illa billah...." Aku mendengar bang Zamy menutup pintu sambil membaca doa dengan keras.


Aku duduk di sofa dipeluk ibu. Bang Zamy menarik nafas panjang kemudian duduk di sebelah ayah. Kami berhadap-hadapan, bertatap-tatapan, bicara dari hati ke hati, menyambungkan perasaan dengan perasaan. Ada bahasa yang tidak ingin kami keluarkan, namun ada cerita yang ingin kami sampaikan. Sejenak hening. Hampir jam satu dini hari. Suara burung hantu di tanah kosong belakang pagar rumah ikut membumbui keheningan. Lolongan anjing bersahut-sahutan dari rumah-rumah tetangga semakin mencipta suasana kurang nyaman. Suara jangkrik pun seakan-akan mengisyaratkan ada kondisi dan emosi lain di sekitar kami.


"Hanya kucing biasa kok, Zamy hanya terbawa suasana yang sudah terlalu larut malam. Memang tidak bagus masih di luar jam segini." Ayah mencoba mencairkan ketegangan kami.


Ibu duduk tegak dan melepas pelukannya dariku. Lalu dengan suara tercekat di tenggorokan dia bicara.

__ADS_1


"Tidak yah. Ibu merasakan sendiri, seketika datang bau busuk, ibu langsung merinding, namun diam saja karena khawatir Zamy dan Naura ikut takut. Nah rupanya Zamy merasakan juga, ibu tahu ketika melihat Zamy mencoba menutup ubun-ubun Naura sambil membaca lafadz hauqalah. Ibu tidak tahu kalau di sana ada kucing." Ibu kelihatan tidak tenang.


"Bismillahilladzi la yadurru ma a ismihi shay’un fil-ardi wa la fis-sama’i wa huwas-sami ul-`alim-Dengan nama Allah; yang bersama nama-Nya tidak celaka sesuatupun yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Ayah membaca doa mengingatkan agar kami tidak terbawa suasana. Tiba-tiba bang Zamy membuka genggamannya. Nampak secarik kertas putih segi empat setelapak tangan bertuliskan huruf arab gundul di beberapa pinggirnya. Dan ada di tengah-tengah huruf arab tertulis 'Naura'. Ayah langsung mengambilnya, lalu membawanya ke wastafel, mengambil korek api, membakarnya kemudian menyiram sisa-sisa abu yang menghitam dengan air keran. Sebelumnya ayah membaca dengan khusu' Al-Fatihah, tiga surat terakhir dari Al-Quran : Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Nas dilanjutkan dengan Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255).


"Sudahlah, ayo lebih baik kita sholat sunnah, berdoa kepada Allah mohonkan perlindungan dari semua bentuk kejahatan jin dan manusia. Dan Naura, kau harus perbanyak dzikir dan mengaji nak." Ayah bicara kepada kami kemudian beranjak ke kamar induk, kamar terlengkap dan terbesar di rumahku. Persis di sebelah kamarku.


"Ibu tidur sama anak gadis ya yah...." Ibu bicara sebelum ayah menutup pintu.


"Oke!" Ayah menjawab. Aku dan ibu menuju kamarku, sedangkan bang Zamy masih duduk di sofa sendiri.


"Sudahlah nak, sholat sana dan istirahatlah." Ibu mengingatkan. Bang Zamy perlahan bangkit menuju kamar sambil bergumam.


"Zamy benar-benar heran. Kenapa dan siapa manusia busuk yang begitu ingin Naura hancur." Bang Zamy menoleh, mendekatiku yang masih berdiam diri di pintu kamarku.


"Tidurlah sayang, semoga Allah melindungi kita semua." Bang Zamy mencium keningku. Aku merasakan sentuhan hangat seorang kakak kepada adiknya.


"Boleh Naura mengatakan sesuatu bang?" Aku berbisik ke telinga bang Zamy.


"Katakanlah Bee...." Bang Zamy menjawabku. Masih berdiri di pintu kamarku, dengan pelan aku mulai bicara.


"Sejujurnya, tadi ketika masuk ke dalam rumah mama pertama kali, Naura merasakan ada sepasang mata terus mengikuti. Namun ketika Naura mencarinya, tidak ada siapa-siapa yang terlihat. Hanya saja, ketika akan pulang, mata Naura memandang aneh ke pak Anang, si penjaga malamnya di rumah mama papa."


"Yang pakai jaket hitam tadi?" Bang Zamy memotong.


"Iya. Itu ayahnya Rani yang dulu pernah Naura ceritakan ke abang."


"Kalian bahas apa kok belum pada masuk?" Tiba-tiba suara ibu membuyarkan obrolan kami. Ibu baru selesai berwudhu. Dia sudah mengenakan mukena bersiap untuk sholat.


"Iya bu, ini kami mau masuk dan sholat." Bang Zamy menjawab kemudian pergi menuju kamarnya. Aku pun begitu.


***


"Nauraaa..., Nauraaa..., Naura sayang bangun nak bangun, kamu kenapa?" Aku tiba-tiba terbangun. Ibu duduk persis di sampingku. Kulirik jam dinding, baru pukul 02.46. WIB. Aku mimpi buruk setelah tertidur kurang lebih dua jam.


"Kamu mimpi buruk?" Ibu mengkhawatirkanku. Aku hanya mengangguk memegang kepalaku yang seketika pusing.


"Mimpi apa? Kau mengingatnya?" Ibu menghidupkan lampu kamar. Mataku memicing menahan silau.


"Pertama kalinya ibu melihatmu mengigau lama dan tidak sadar-sadar ibu bangunkan. Ceritakan apa mimpimu nak." Ibu kembali bicara. Aku duduk, wajahku menelungkup di kedua paha yang aku tegakkan.


"Seram sekali bu...."


"Bagaimana nak? Kau ingat mimpimu? Besok kita ke tempat habib Umar ya. Kita konsultasikan hal ini. Kalau begini terus kau akan terganggu." Ibu menepuk-nepuk pundakku. Lalu merapikan rambut sebahuku yang berantakan.


"Dia mengikat kedua kaki dan tangan Naura." Aku mulai bercerita. Sekelebat mimpiku kembali hadir dalam benakku.


"Dia membawa besi tajam dan panjang, lalu menindihkan ke badanku yang terikat. Aku tidak bisa bernafas, aku kesempitan, aku ketakutan dibuatnya. Aku memanggil semunya meminta pertolongan, namun tak ada yang mendengar. Saat aku hampir lemas, bang Zamy datang, dia melawan wanita itu. Memukuli dan mencoba melepaskanku. Namun dia malah ikut terikat. Wanita itu menyeramkan. Dia berdarah-darah menakutkan. Dia duduk...." Aku ternganga sendiri.


"Duduk? Duduk dimana?" Ibu bertanya karena aku menghentikan ceritaku.

__ADS_1


"Wanita itu juga duduk terikat di kursi roda dengan wajah penuh noda darah...." Aku melanjutkan.


"Apakah wajahnya seperti tante Mira yang kau ceritakan?" Ibu menatapku nanar.


"Aku tidak mampu mengingat dan mengenalinya bu." Aku mendesah panjang. Ibupun menarik nafas dalam. Nampak dia semakin khawatir saja. Aku menarik selimut, ibu malah menarikku lagi.


"Bangun dan sholatlah." Ibu menyuruhku.


"Tadi sebelum tidur sudah sholat bu." Aku begitu mengantuk, enggan rasanya beranjak dari tempat tidur. Namun ibu kembali menarik tanganku.


"Sholatlah sayang, ayo kita lawan kiriman guna-guna dengan berlindung kepada Allah." Ibu membangunkanku agar segera berdiri. Lalu dengan kantuk yang masih melekat indah di ujung kelopak mata, aku terhuyung-huyung menuju kamar mandi, wudhu dan segera sholat tahajud. Begitu juga dengan ibu. Sehabis sholat tahajud aku tidak lanjut tidur lagi. Menunggu Subuh sambil melihat hape sebentar. Sementara ibu sudah keluar kamar dan menemui ayah yang sudah terbangun lebih dahulu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


***


Keesokan harinya, aku terbangun karena ibu sudah membuka tirai kamar. Sinar matahari pun sudah menerobos masuk dari jendela dan ventilasi kamar.


"Bangunlah nak, mandi lalu kita ke pergi ke rumahnya habib Umar di 'Kampung Ayip'. Ayahmu sudah menelpon. Beliau bisanya pagi-pagi. Soalnya siang sampai sore beliau ada pengajian." Ibu menjelaskan.


"Kenapa harus kesana bu?" Aku bertanya sambil menuangkan air putih ke gelas kosong di sebelahnya.


"Ibu meyakini ada sesuatu atas dirimu. Kita konsultasi saja." Ibu kembali menjelaskan. Aku tak menjawab lagi, segera ke kamar mandi dan bersiap. Ketika keluar dari kamar mandi, ibu sudah kembali ke dapur lagi. Suaranya kedengaran sedang bicara kepada yuk Mairoh.


"Ih ya Allah gustiii..., aku kok merinding eh buk...." Terdengar suara yuk Mairoh di dapur. Aku menebak dalam hati, pasti ibu sedang menceritakan tentang kejadian tadi malam.


"Iya untungnya si Zamy cepat tanggap. Kucing hitamnya tidak jadi menerkam Naura." Kudengar ibu bicara. Aku segera berpakaian, lalu menemui ibu yang sudah berada di teras samping pula bersama ayah.


"Ayo nak sarapan dulu, setelah itu kita pergi ke tempat habib Umar." Ibu kembali mengingatkan. Dia mengajakku kembali ke dapur. Sepiring potongan pepaya, dua buah telor rebus, sepotong roti dan segelas susu. Aku menghabiskan semuanya. Selesai sarapan aku mencari-cari sosok bang Zamy, mungkin masih tidur pikirku.


"Zamy ada operasi mendadak katanya. Dia pergi jam setengah enam pagi tadi." Ibu menjelaskan tanpa kutanya, rupanya ibu tahu apa yang sedang kucari.


"Operasi mendadak?"


"Iya katanya tadi ada pasien fatal stresss atau apa gitu...." Ibu menjelaskan. Aku tersenyum mendengarnya.


"Fetal distress bu atau gawat janin. Biasanya janin sudah tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Makanya harus segera dikeluarkan." Aku menjelaskan. Ibu tersenyum.


"Ya sudah ayo kita pergi. Ayah sudah menunggu di mobil." Ibu menarikku.


"Naura mau ambil dompet dan handphone dulu ya bu...," Aku melepaskan pegangan tangan ibu.


"Jangan lama-lama ya." Ibu duluan menemui ayah di garasi samping dapur. Aku kembali ke kamar, mengambil tas, memasukkan dompet dan handphone lalu menyusul ibu. Kami menuju Kampung Ayip yang dimaksud. Sebuah perkampungan yang penduduknya didominasi warga keturunan Arab. Tempatnya tidak jauh dari klinik Honey Bee. Kami berjalan ke arah belakang klinik menyusuri persimpangan jalan dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Ternak walet pengusaha Tionghoa. Sekitar dua puluh menit lebih, kami sampai ke rumah yang dituju. Sebuah rumah sederhana dengan lantai yang tinggi. Ada lima anak tangga menuju ke beranda rumah. Seperti rumah panggung, tetapi sudah permanen. Seorang wanita bercadar menyambut kami langsung menyuguhkan minuman dan kue kering. Sekitar dua menit menunggu keluarlah habib Umar. Rupanya kenal dekat dengan ayah. Mereka ngobrol sejenak, lalu ayah menceritakan secara detail kejadian demi kejadian yang terjadi atasku, termasuk mimpi buruk tadi malam.


"Pak Rey, memang hal-hal seperti itu tidak bisa lepas dari dulu sampai sekarang. Sihir, orang-orang bersekutu dengan setan. Itu sangat berbahaya, yang bekerja adalah jin-jin jahat. Namun sekuat apa pun dunia perdukunan itu, tidak akan mempan menembus orang yang hatinya selalu bersama Allah. Dimanapun, kapanpun dan apapun yang sedang dilakukan dia akan senantiasa meminta pertolongan Allah. Allah itu Maha Baik, Di Genggamannya segala yang ada di langit dan di bumi. Maka jangan takut, tetapi jangan pula terlalu diacuhkan. Intinya jangan lengah. Selalulah berdzikir pagi dan petang, minum air rebusan bidara, makan tujuh buah kurma ajwa. InsyaAllah teluh, pelet, guna-guna apapun itu namanya. Tidak akan mampu menembus tujuannya." Habib Umar menjelaskan sepintas perihal teluh. Kami menyimak. Ayah mengangguk-angguk, begitupun dengan ibu.


"Sekarang dik Nauranya ke sini." Habib Umar menyuruhku duduk di dekatnya. Ayah membimbingku mendekat.


"Mohon izin ya...." Habib Umar memegang ubun-ubunku. Dia kemudian membaca doa-doa, lalu kemudian meniupkan ke air mineral terbuka yang telah kami bawa sebelumnya.


"Dengan izin Allah, dan ikuti dengan perbanyak dzikir kepada Allah, mohon perlindungan hanya kepada-Nya, Allah yang Maha Melihat, insyaAllah teluh dan lainnya tidak akan sampai menyakitimu. Minumlah...." Habib Umar menberikan air mineral kepadaku. Aku meminumnya. Lalu setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun berpamitan. Habib Umar juga menyarankan agar aku dan bang Zamy segera saja menikah. Ayah dan ibu mengiyakan. Kemudian kami pulang dengan hati lebih lapang. Pagi pun perlahan hilang, matahari semakin menyengat. Hatiku semakin mantap, segera menikah dengan orang yang kusayangi, dokter Zamy.

__ADS_1


__ADS_2