
Pukul 09.15 WIB, bang Zamy berpamitan denganku untuk pergi ke kantor. Dia menyempatkan diri berpamitan dengan Annisa yang pagi-pagi sudah bermain di gazebo. Dia memberi makan ikan-ikan dan bermain dengan bunga-bunga teratai. Bang Zamy juga pergi ke villa berpamitan dengan mbak Nindya. Dia mencium tangan tante Mira, perlakuannya sungguh mengagumkan. Dia memperlakukan orang-orang yang bahkan tidak ada hubungan darah sedikitpun dengannya dengan sangat baik. Mereka seperti keluarga sambung, yang dipertemukan karena sebuah peristiwa, dan kebetulan masih bertalian darah denganku.
"Baik-baik di rumah ya sayang, nanti kalau jadi keluar ke Istana Mebel minta sopirin sama mang Ridwan saja. Telpon saja beliau. Jangan nyetir sendiri." Bang Zamy mencium keningku dan aku mencium tangannya, kemudian dia berjalan menuju mobil di garasi samping.
"Om, nanti Nisa sama tante Naura mau jalan-jalan. Om kenapa tidak ikut?" Tiba-tiba Nisa datang, tangannya basah-basah karena bermain bunga teratai. Roknya pun sudah terkena percikan air sebagian. Bang Zamy balik lagi, dia duduk bicara sama Nisa.
"Omnya ada pekerjaan di kantor yang harus buru-buru dikerjakan sayang. Nanti kalau selesai om segera pulang, terus kita bisa cari takjil sama-sama ya." Bang Zamy mengelus-elus kepala gadis kecil cantik yang tidak mengenal ayahnya sama sekali.
"Kalau Nisa punya ayah, ayah Nisa kerja juga kayak oom ya....?" Dia bertanya lagi.
"Iya, mungkin dia kerja kayak om." Bang Zamy menjawab, dia menatapku.
"Ooom...," Nisa perlahan bicara, dia bergerak ke kiri dan ke kanan. Dia bolak balik meletakan kedua tangan dengan jemari terjalin, ke atas kepala, ke belakang dan kembali ke depan.
"Ya sayang....?" Bang Zamy menjawab.
"Om dokter mau bantu Nisa nggak?" Gadis itu pelan-pelan bicara kepada bang Zamy.
"Mau dong, kenapa? Om bisa bantu apa?"
"Bantu Nisa cari ayah Nisa. Kata ibu dia hilang diculik 'mukmuk' karena nakal." Matanya begitu berharap menatap bang Zamy. Bang Zamy lantas memeluknya.
"Sabar ya sayang. Eeem..., nanti misalnya ayahnya tidak ketemu, Nisa jangan sedih." Bang Zamy makin erat memeluknya.
"Iya jangan sedih kalau ayahnya tidak ketemu, Nisa kan bisa bermain sama om Zamy." Aku ikut menjawab.
"Tuh denger apa kata tante Naura. Kalau mau main, ya main saja sama om. Oke. Tosh dulu." Bang Zamy memberikan tinjunya. Nisa tosh dan bang Zamy pura-pura kesakitan.
"Oke ya. Om pergi Nisaaa, jangan main panas-panas biar tidak haus, kalau puasanya full om belikan sepeda paling bagus deh pokoknya." Bang Zamy berpamitan.
"Beneran ya om."
"Iya om janji. Oh ya jagain tante dokter ya. Bilang om kalau dia lirik-lirik abang-abang ganteng." Bang Zamy kembali ke mobil setelah mengerling kepadaku. Nisa tertawa memegang lenganku. Mbak Nindy datang, dia membawa hapenya kepadaku, kemudian perlahan berbisik.
"Dek, ini ayahnya Nisa dari tadi sms-sms terus." Aku menatap mbak Nindy yang khawatir.
"Dia bilang apa?"
"Dia ngajak rujuk atau Nisa diambilnya." Wajah lugunya semakin khawatir.
"Jangan dihapus sms-sms darinya. Misalnya nanti dibutuhkan kita ada bukti-bukti." Aku menjelaskan.
"Iya. Kita jam jadi pergi? Sebenarnya tidak perlu dek beli barang-barang baru. Yang di sana masih bagus-bagus kok." Mbak Nindya menunjuk ke arah villa. Aku tersenyum.
__ADS_1
"Bersiaplah sepuluh menit lagi om Ridwan akan datang, kita pergi dengannya." Aku bicara dan masuk ke dalam rumah. Nisa mengikutiku. Sementara mbak Nindy kembali ke villa lagi.
***
Sepuluh menit kemudian, kami pun pergi. Tante Mira tidak ikut, dia sendiri di villa dan mengunci pintu dari dalam, aku hanya menitipkan sama pak Rohim. Kami menuju Istana Mebel yang setelah lima belas menit menempuh perjalanan telah sampai ke tujuan. Nisa menungguku setelah turun dari mobil. Mbak Nindy malu-malu ikut berjalan di belakang. Kami diterima dengan baik oleh pegawai toko. Ditawarkan beberapa produk jati fiber baru yang berharga mahal.
"Dek masa iya kursi itu tadi harganya tiga puluh delapan juta?" Mbak Nindy berbisik sambil menyembilkan lidah dengan bahu terangkat. Aku hanya tersenyum mengangguk.
"Memang segitulah mbak harganya kalau jati fiber." Aku membalas bisikannya.
"Owhhh...." Mbak Nindy melongo. Aku terus melihat-lihat bersama dua orang pegawainya yang ramah. Tiba-tiba ada bliz kamera hape ke arah kami. Aku melongok dan membuka masker.
"Siapa yang mengambil gambar dek?" Aku bertanya kepada dua pegawai toko.
"Owh..., itu buk. Mungkin teman kami." Seorang pegawai menjawab. Dia melirik temannya yang lain.
"Apa semua pengunjung dipotret tanpa izin?" Aku mulai protes. Namun keduanya hanya berpandangan tak bisa menjawab.
"Mana boss kalian? Boleh saya ketemu? Atau cepat panggil temannya yang mengambil gambar." Aku mulai emosi. Tidak sepantasnya memoto berkali-kali tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Maaf bu, kami coba temui teman kami." Seorang pegawai menuju belakang. Kemudian dia datang lagi dengan seorang pegawai wanita yang lain.
"Maaf Siti ya yang ambil gambar? Buat apa?" Aku bertanya kepada pegawai dengan tanda pengenal Siti.
"Apa semua pelanggan begitu datang langsung difoto-foto begitu? Sembunyi-sembunyi begitu?" Aku duduk di salah satu kursi yang dijual. Nisa memegang tangan mbak Nindy yang mengerutkan kening melihat pegawai tersebut. Pegawai itu hanya menunduk sambil memainkan sepatunya. Tangan kanannya memegang tangan kiri yang memegang hp di telapak tangan. Tiba-tiba datang dari arah gudang belakang seorang wanita gendut, berkulit putih dan berambut pendek dengan baju tunik katun warna maron.
"Eh pengantin baru. Saya kok tidak dapat undangannya sih dokter cantiikkk..., selamaattt yaaa...." Dia berjalan dan bersalaman denganku. Aku berdiri dengan ramah.
"Musim covid-19 mbak Des, hanya tiga puluhan tamu yang dibolehkan." Aku menjawab tersenyum.
"Iya iya mbak pahamlah. Hehe. Tapi resepsi nanti kalau virusnya sudah hengkang undang mbak ya?"
"Insya Allah. Oh ya Naura nyari lemari buat di kamar mbak Des."
"Ada tuh yang baru, baru datang dari Jepara. Tinggal pilih warna nanti kita kerjakan langsung anter deh ke pelanggan lama." Mbak Des menunjuk ke arah gudang.
"Mbak Des, maaf sebelumnya. Apa setiap pelanggan yang datang selalu di foto sekarang?" Aku bertanya.
"Difoto? Nggak selalu sih. Paling kalau ada barang baru dan sudah dipasang di rumah pelanggan, kita kadang izin foto buat promosi begitu. Ada apa bu dokter?" Mbak Des menangkupkan kedua telapak tangannya. Dia menatapku dan pegawainya bergantian.
"Maaf buk. Siti tadi hanya terpanah melihat kecantikan ibuknya." Siti bicara perlahan sambil menunduk.
"Terpanah? Apa aku begitu mempesona di matamu? Kamu normal kan? Tidak lesbi kan?Tolong buka maskernya dek." Aku semakin penasaran.
__ADS_1
"Buka Ti buka maskernya. Kamu mengagumi dokter Naura rupanya." Mbak Desi bicara lagi dengan santai. Dia malah duduk di salah satu kursi di hadapanku. Kulihat kalungnya yang besar berkilauan di leher. Begitu juga dengan gelangnya berbalut emas. Jari-jari tangannya yang besar pun begitu, kuning menguning. Siti perlahan membuka maskernya.
"Siti...?" Mbak Nindya terpanah. Wajahnya berubah seketika.
"Mbak kenal dia?" Aku bertanya karena masih curiga melihat caranya mengambil gambar dengan sembunyi-sembunyi.
"Iya."
"Siapa dia?" Aku bertanya lagi. Mbak Nindya mendekatkan mulut ke telingaku, lantas dia berbisik pelan sekali.
"Dia adik kandung Rio, mantan suamiku." Aku mengangguk paham sedangkan Nisa hanya terbengong menatap tidak mengerti.
"Maaf mungkin mengganggu privasinya. Mbak Des mohon izin saya ingin melihat langsung hpnya Siti."
"Siti akan hapus kok buk, maaf buk, Siti hapus." Siti menangkupkan kedua tangannya, dia meminta maaf.
"Biar dokter yang hapus Ti." Mbak Des mengangguk ke Siti yang usianya kurang lebih seusiaku. Dengan ragu Siti memberikan hpnya yang memang tidak terkunci. Aku membuka galery dan menghapus foto-foto kami. Ada beberapa wajah Nisa dan mbak Nindy yang dizoom. Aku menggeleng. Saat aku menghapus foto-foto, muncul beberapa pesan WA dari atas layar. Mama nama si pengirim.
"Cu, bener ya dia sama dokter Naura?"
"Cu beneran mirip ya mereka?"
"Cu Nisanya sudah sebesar apa?"
"Cu kirim fotonya."
Aku dengan tidak sopan membaca rentetan pesan yang masuk di hp Siti tanpa membukanya. Namun aku tidak merasa bersalah, karena mereka yang membuat kesalahan.
"Ini pesan mamamu minta kirimi foto mbak Nindy sama Annisa." Aku memberikan hp ke Siti yang wajahnya berubah ketakutan.
"Maaf buk." Dia pergi menjauh.
"Mbak Des, maaf ya, moodku tiba-tiba saja hilang. InsyaAllah lain waktu kami ke sini ya."
"Oh iya bu dokter, tidak apa-apa, maaf ya dok kalau kurang berkenan dengan pelayanan kami." Mbak Des benar-benar minta maaf. Dia mengantarkan kami ke mobil yang sudah diparkir mang Ridwan persis di depan toko. Kami pergi dengan wajah kecewa.
"Mang Ridwan kita ke Kace saja mang. Nyari di sana saja." Aku bicara ke mang Ridwan.
"Baik buk." Kami pun pergi ke arah Kace. Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai ke sana. Kace itu tidak masuk wilayah Pangkalpinang lagi, tetapi sudah bagian dari Bangka Induk, Sungailiat, jalannya menuju jalan ke arah Muntok, Bangka Barat. Setelah sampai di sana aku dan mbak Nindya juga Nisa memilih beberapa barang dan membayarnya. Takut Annisa haus kami buru-buru segera pulang. Dan rupanya di perjalanan pulang Nisa pun tertidur.
"Dia itu jahat sekali dek dulunya. Mbak sudah nyapu dia nyapu lagi. Mbak ngepel, kemudian dia ngepel lagi. Mbak masak diambilnya banyak-banyak ke piring nasi, kemudian dibuangnya bilang nggak enak. Bahkan pernah dibilangnya. Makanan apa ini? Kok bisa rasa ta*i?" Mata Mbak Nindya kembali berkaca-kaca saat bercerita. Aku mengelus pundaknya.
"Yang bikin mbak benar-benar sakit hati. Di dapur mbak masak. Nisa kan baru belajar merangkak, eh sengaja disenggol tangannya, Nisa nyungsep ke keramik. Hidungnya memar. Tapi dianya malah marah-marah. Bilang kenapa anak ditaro sembarangan jalan-jalan. Dasar anak haram. Dasar bo**h tidak sekolah. Pokoknya mbak benar-benar tidak tahan lagi. Makanya langsung pergi dari rumah itu, kembali mengurusi ibu yang malah terkena struk. Beruntungnya dibantu pak Haji yang ada ternak ayam deket kebun itu dek. Dia bantu mbak agar Rio mentalak. Barulah ada surat cerai." Mbak Nindy kembali menangis mengingat masa kelamnya. Annisa terbangun karena terkena tetesan air mata, dia langsung kebingungan. Tapi dia diam saja.
__ADS_1
"Yang sabar mbak ya. Sekarang kita mulai hidup baru. Mbak Nindy sambil ikut paket C, bantu-bantu di klinik atau diam di rumah merawat tante saja. Kami menanggung semua biaya. Tante Mira juga kan sudah berangsur-angsur pulihnya." Aku menyemangati mbak Nindya yang berulang-ulang berterima kasih kepadaku. Siang menjelang, perut dan kerongkongan mulai tak nyaman. Beruntung kami tak lama sudah sampai di rumah. Aku mengajak Nisa tidur siang di rumah. Mbak Nindya ke Villa menemui tante Mira. Mendengar titik kelam kehidupan mbak Nindya, aku semakin membulatkan tekad untuk membantunya bangkit hingga bisa menggapai impiannya dan tidak dihinakan orang lagi.