
Setelah kepergian mama, aku melepaskan tirai dan menoleh kaget ke arah bang Zamy.
"Eeehhh...., Abang berbuka?" Tanyaku yang sontak membuat bang Zamy melepaskan gelas di tangannya. Dia berdiri dan berlari menuju ke wastafel, terbatuk kecil dan mencoba untuk mengeluarkan airnya. Namun tidak ada lagi air yang keluar, air yang hampir segelas tadi mungkin sudah terlanjur masuk melalui pembuluh kapiler ke dalam darah yang akan dialirkan ke seluruh tubuh bang Zamy. Atau bisa jadi air tadi telah membantu jantung bang Zamy yang berdegup kencang ke seluruh tubuhnya. Hingga perlahan dia mulai bernafas secara teratur.
"Astaghfirullah...," Bang Zamy menepuk kening lalu menengadah tangan dan mengangkat pundaknya ke arahku. Matanya membesar hingga alisnya pun ikut naik.
"Benar-benar lupa kan?" Aku tersenyum geli melihat ekspresinya.
"Lha iya. Masa abang pura-pura." Bang Zamy menatap gelas di meja, tersenyum.
"Atau ini balasan Allah karena abang tidak berniat sedikitpun membalas ketika ditampar mamamu." Bang Zamy kembali menaikkan alis saat bicara lagi kepadaku.
"Maybe yes!" Aku mengangguk sambil memegang pipi kirinya.
"Maafkan mamaku ya sayang...." Aku merasa tidak enak hati dibuatnya.
"Sudahlah sayang, lupakanlah. Selama bukan kamu yang disakiti, abang akan baik-baik saja." Bang Zamy duduk lagi. Aku berjalan membuka kulkas Sharp empat pintu di sebelah kanan aku berdiri, kemudian mengeluarkan semangkok es batu. Lalu dengan handuk kecil putih, aku mengompress bekas pukulan mama yang menyisakan merah di pipi kiri bang Zamy. Selesai dikompress, akhirnya dia berbaring di sofa ruang keluarga. Bang Zamy menutup mata dengan lengan kanannya. Sementara kakinya naik tinggi di atas sandaran sofa.
***
Beberapa menit kemudian, aku berpamitan untuk ke villa. Aku tahu bang Zamy tidak benar-benar terlelap, dia hanya istirahat saja.
"Bang, adek pergi ke villa ya. Mau lihat kondisi papa." Aku mencolek bahu kanannya. Seketika dia bangun dan mengambil dua lembar tisu, mengelap bekas basah karena ditempel es batu.
"Yuk abang ikut." Bang Zamy bangun dari berbaringnya.
"Abang tidak apa-apa?" Aku memastikan.
"Tidak. sudah hilang rasa kebas perih tadi. Tangan mamamu kuat sekali." Bang Zamy menggenggam tanganku dan kami keluar menuju villa lagi. Sesampainya di sana pintu masih tertutup. Aku mengetuknya.
"Tok! Tok! Tok! Assalamualaikum...." Aku bersalam. Langsung terdengar suara balasan dari dalam. Muncullah mbak Nindya beberapa detik kemudian untuk membukakan pintu.
"Apa tante itu tadi sudah pulang?" Mbak Nindya bertanya padaku. Wajahnya masih menampakkan kekhawatiran.
"Sudah. Dimana papa?" Aku bertanya.
"Di sini dek, di kamar ini, masuklah." Mbak Nindya bicara kepadaku sambil berjalan. Aku dan bang Zamy menuju ke sana. Dari pintu kamar aku melihat papa dengan wajah pucat masih terlelap di atas sofa jati yang baru dibeli pada puasa pertama. Diselimuti badcover kuning bercorak bunga matahari, pergelangan kaki kanan ayah nampak sengaja tidak diselimuti, dibalut perban tidak rapi dan masih menyisakan darah.
"Pa. Papaaa..., papa bangun dong, ini kakinya kenapa?" Aku bertanya. Bang Zamy ikut mendekat dan perlahan memegang pergelangan kaki papa. Mendengar panggilanku dan sentuhan tangan bang Zamy, perlahan papa membuka mata. Dokter senior itu kemudian bangkit dan duduk di tempat tidur.
"Kalian sudah pulang nak?" Papa menatapku dan bang Zamy bergantian.
"Naura tidak kemana-mana kok pa hari ini di rumah terus." Aku menjawab.
"Tadi papa panggil-panggil dan memencet bel hingga beberapa kali, mungkin Naura tidak mendengar ya?" Papa menatapku.
__ADS_1
"Naura dengar pa kalau belnya berbunyi, tetapi Naura pikir itu si Nisa yang iseng. Dia berhari-hari suka iseng pencet bel." Aku tersenyum. Papa pun begitu.
"Kenapa pipimu Zam?" Ayah nenatap bang Zamy dan aku bergantian. Bang Zamy tersenyum meraba kembali pipinya yang merah.
"Tidak apa-apa pa." Bang Zamy menjawab. Papa nanar menatapku.
"Apa kalian bertengkar? Kau juga suka menampar suami nak?" Papa mencurigaiku. Aku menatap bang Zamy sesaat.
"Pa, apa yang terjadi sama papa? Mama baru saja pulang dari sini mencari papa. Mama marah-marah bahkan sampai memukul bang Zamy...."
"Hah? Itu bekas pukulan mamamu?" Papa terbelalak. Aku hanya bisa mengangguk.
"Ayah sudah mentalak tiga wanita yang memiliki gangguan kepribadian itu." Papa pelan menjelaskan. Namun masih tersimpan kemarahan dalam nada suaranya.
"Apa? Talak tiga? Yang benar saja pa? Masa iya sudah setua ini mau bercerai?" Aku bertanya heran. Papa mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Ini memang sudah jauh terlambat. Tetapi papa benar-benar sudah tidak tahan lagi." Papa perlahan menjelaskan.
"Kenapa bisa begitu pa?" Aku bertanya serius.
"Iya. Sejak semua kejadian demi kejadian tersibak kebenarannya. Dia semakin sering tidak bisa mengontrol emosinya. Dia yang salah, dia yang memukul papa. Di puasa pertama kemarin saja dia malah datang dan ngamuk-ngamuk di kantor, membuat malu papa saja." Papa menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa bisa begitu?" Aku bertanya lagi. Bang Zamy diam ikut mendengarkan.
"Dia yang mengancam papa terus, jika tidak bisa mengusir Nindy dan ibunya di rumah kalian katanya akan menceraikan papa. Papa tidak tahan lagi, akhirnya setelah merenung lama, mempertimbangkan segalanya papa memilih untuk bercerai darinya. Papa dalam keadaan sadar langsung menjatuhkan talak tiga pagi tadi." Papa mantap menjelaskan. Aku menatap bang Zamy. Kami bingung sendiri mendengarnya.
"Papa akan segera menikahi tante Mira?" Aku bertanya. Papa langsung menganggukkan kepala.
"Apa tante Mira sudah setuju?" Aku bertanya lagi.
"Selamanya mulut Miranti pasti akan bilang tidak usah, tidak perlu, jangan lakukan, jangan kasihaninaku....Tetapi aku tahu, hatinya yang terlalu sakit karena terlalu mencintai papa."
"Aduh pa..., kok jadi begini? Terus bagaimana reaksi mama setelah papa menjatuhkan talak?"
"Lihatlah kaki papa. Pagi tadi saat dia masih marah-marah sambil menggunting mawar yang layu papa mentalaknya. Dia kaget dan langsung marah. Dia langsung melempar gunting besar itu ke teras, karena terlalu cepat, papa tidak bisa mengelak, gunting yang menggelinding dalam keadaan terbuka menancap ke pergelangan kaki. Beuntung tidak terkena nadi, hanya menyentuh sedikit tendon." Papa menjelaskan.
"Sudah dijahit pa?" Bang Zamy bertanya iba.
"Sudah tetapi tidak maksimal. Papa jahit sendiri di rumah dengan pintu digedor-gedor mamanya Naura." Papa bicara santai. Kami terdiam sesaat. Dari raut wajahnya nampak ayah lelah. Mungkinkah mama selalu memperlakukan papa seenaknya saja.
"Papa juga dalam waktu dekat akan mengajukan pensiun dini Naura." Tiba-tiba papa bicara lagi perlahan.
"Kok pensiun?" Aku bertanya.
"Iya, dua tahun lagi juga pensiun normal. Papa mau pensiun dini saja, membayangkan bisa menikmati hari tua bersama Mira. Mengganti waktu memberikan kasih sayang ke Nindya, menemani Nindya berkebun pasti sangat membahagiakan." Mata papa berkaca-kaca sambil bicara. Ada senyum tertahan di balik impian hari tuanya.
__ADS_1
"Keputusan papa ada di tangan papa. Pilihlah yang terbaik, kami akan mendukung." Aku menjawab. Papa hanya mengangguk.
"Tetapi ayah mohon pertolongan kalian berdua nak." Papa bicara lagi setelah sesaat terdiam.
"Apa pa?" Bang Zamy yang bertanya.
"Jika resmi bercerai papa akan keluar rumah dengan baju di badan. Itu perjanjian pranikah yang diajukan Erlinda dulu."
"Kok pakai janji pranikah begitu?"
"Entahlah, papa buta kala itu, karena dia anak Gubernur masa itu, papa tandatangani saja tanpa pernah kepikiran akan bercerai seperti ini. Jadi rumah dan kendaraan yang memang semua atas namanya papa akan tinggalkan tanpa menuntut. Hanya mohon bantuan kalian, berikan papa tumpangan sementara papa mencari rumah untuk ditinggali bersama mereka. Kami tidak bisa terus-terusan di sini. Nanti juga papa akan bicarakan hal ini dengan orang tuamu Zamy." Papa kembali bicara. Raut wajahnya menyimpan optimisme.
"Tidak masalah pa, tinggalah di rumah kami sebelum benar-benar papa menikahi tante Mira. Kalau sudah resmi menikah papa bisa tinggal di sini kok bersama mereka." Bang Zamy bicara sambil memijit-mijit betis papa. Aku keluar kamar dan mencari tante Mira.
"Tan..., tanteee....? Tante Mira cantiiikkk...."
"Nenek di kamarnya tante." Nisa menarik tanganku menuju kamar tante Mira.
"Tante, Naura boleh bicara?" Aku bertanya menyembulkan kepala di pintu.
"Masuklah nak." Tante Mira menyilahkanku. Aku duduk di pinggir kasur depan tante Mira duduk. Kupegang kedua tangannya.
"Tante..., emmm.... Papa kan berencana...,"
"Oh itu, Ram hanya terbawa suasana saja. Jangan pedulikan omongannya."
"Maksud tante?"
"Dulu saja di saat tante masih muda dan lincah, dia masih berpindah ke lain hati. Betapa konyolnya tante jika mempercayai omongannya sekarang. Ingin menikahi wanita tua lumpuh sepertiku? Aaahhh..., terlalu mengada-ada." Tante Mira tertawa kosong menatapku.
"Bagaimana jika papa serius tante?" Aku bertanya lagi. Tante Mira langsung diam dan mengalihkan pandangan dari tatapan mataku.
"Tidak mungkin nak. Apa yang dia harapkan dari tante yang sudah bau tanah ini?" Tante Mira bicara lagi. Aku makin erat memegang tangannya.
"Mungkin sebuah penyesalan dan permohonan maaf tante. Itu yang sepertinya ingin papa tunjukkan." Aku memastikan. Tante kembali menatapku.
"Tidak perlu lagi. Biarkanlah tante seperti ini. Bantuan dan perlakuan kalian kepada kami selama ini sudah membuat tante banyak berhutang budi. Bahkan kebaikan kalian ini sudah membuat tante tidak terlalu takut lagi meninggalkan Nindya dan Nisa jika mati esok nanti. Mereka ada yang memperhatikan. Saudarinya yang baik hati." Tante Mira berkaca-kaca.
"Jadi? Nanti Naura akan memanggil mama baru ke tante ya?" Aku berdiri menggelitik telapak tangan tante Mira.
"Apaan sih nak? Mustahil itu." Tante Mira tersipu. Aku ikut tersenyum melihat tante Mira yang tersipu malu. Kemudian aku pamit keluar kamar. Sayup-sayup terbawa angin, dari arah masjid Al-Islah telah terdengar kumandang adzan. Aku dan bang Zamy membopong papa menuju rumah. Kemudian mengantar membaringkan ke kamar bang Zamy.
"Ini kamar kosong sekarang pa. Papa bisa tinggal di sini. Hanya pakaian pemiliknya belum diambil." Bang Zamy melirikku tersenyum.
"Memangnya ini kamar siapa nak?" Papa bertanya.
__ADS_1
"Ini kamar Zamy dulunya pa. Sekarang Zamy sudah indekos di kamar sebelah sana." Bang Zamy menunjuk ke arah kamar kami. Papa tersenyum bahagia. Sementara aku melayangkan cubitan ke lengan bang Zamy yang segera setelah membersihkan diri sejenak ke kamar mandi, bergegas menuju masjid.