
Malam ini cuaca dingin sehabis hujan. Ayah dan bang Rahman masih belum juga pulang kerja. Setelah selesai sholat, kami berkumpul di ruang keluarga. Belum ada yang berminat makan nasi karena sudah menyantap aneka jajanan takjil yang disiapkan ibu pada saat berbuka tadi. Saat aku duduk di karpet depan tivi, bang Zamy datang dengan baju dan singlet yang sudah di tangan.
"Haduuuhhh, abang pegel-pegel dek habis nyetir. Tolong dong pijitin sedikiiittt...." Bang Zamy merebahkan badan, telungkup di paha kananku. Dia hanya mengenakan celana pendek. Aku sejenak menatap ibu yang berulang-ulang menyuruhku melakukan test pack.
"Ayay luuyyy.... Baru juga sebentar bawa mobil sudah alasan pegel segala. Bilang saja mau ngemooong terus sama istri. Huh!" Ibu mencubit bahu kanan bang Zamy yang hanya meringis kesakitan tanpa menjawab.
"Bu Ge Pe U kita dimana? Ada nyimpen kan?" Aku bertanya kepada ibu.
"Ada nak, kamu di situ saja, biar ibu yang ambilkan." Ibu berdiri ke kamar dan kembali dengan minyak urut di tangan. Bang Zamy menoleh ke mukaku.
"Halah halah halah..., jangan pakai GPU lah sayang. Panas sekali rasanya. Pakai handbody sajalah." Bang Zamy duduk dan merebut minyak urut yang sudah kubuka.
"Sini abang tutup. Tunggu ya, abang ambilkan handbody dulu." Bang Zamy pergi ke kamar kami. Mengambil handbody di dalam tas pakaiannya.
"Cerewet sekali suamimu sekarang." Ibu bicara kepadaku sambil memindah-mindahkan channel tivi.
"Biasanya dia sangat penurut. Eh nak, ayo kita test pack sebentar. Ibu tidak sabar lagi menanti." Ibu berbisik-bisik kepadaku.
"Apaan sih berdua, kalau sudah ketemu sibuk sekali, bisik-bisik segala." Bang Zamy datang dengan sebotol handbody di tangan. Begitu sampai, dia kembali merebahkan badan di karpet dengan wajah menelungkup di paha kananku. Tangannya menarik-narik jemari kakiku. Terdengar bunyi kletukan dari peretakan tulang jari kaki yang ditariknya.
"Kenapa tidak tidur di kamar saja sayang?" Aku bertanya ke bang Zamy.
"Itu jatah malam." Dia mnyahut santai.
"Halaaaahhh kalian ini...." Ibu ngedumel kesal sendiri. Dia memasang kode lagi agar aku segera periksa. Namun aku menolak dengan alasan masih ada bang Zamy.
"Zam, Naura juga capek nak, kenapa disuruh memijit begini?" Ibu kemudian duduk sambil memberikan sebuah bantal kepada bang Zamy. Namun bang Zamy tidak bergeming sama sekali. Bibirnya sudah mengembuskan nafas teratur, ada dengkuran halus meniup gamis yang kukenakan. Bang Zamy sudah tertidur. Mama duduk menunduk, memastikan bang Zamy tidur benar atau hanya sekedar berpura-pura, ilernya mulai turun dalam hitungan menit.
"Ya ampuuunnn..., begitu cepatnya dia terlelap. Sepertinya memang dia kelelahan. Ibu menyangka dia hanya berpura-pura." Ibu berdiri, duduk di sofa lagi sambil kembali mengutak-atik tontonan di telivisi. Kami menyaksikan acaranya Baim Wong.
"Dek, ayo testpack dulu...," Setelah diam beberapa saat ibu kembali mengingatkanku.
"Ini tidur begini bagaimana bu?" Aku menjawab.
"Pindahkan pelan-pelan tuh ke bantal." Ibu menyarankan. Tetapi melihat wajah lelapnya di pangkuan, aku merasa tidak tega. Biasanya jika dia tertidur begitu, dia memang sedang capek dan membutuhkan tidur walaupun hanya beberapa menit. Dia akan bangun sendiri setelah membuang kantuk.
"Nanti saja bu, lihatlah wajah polosnya seperti bayi tanpa dosa. Naura tidak tega membangunkannya." Aku menjawab.
"Oke deh..., semoga saja positif ya Allah..., ibu sudah pengen sekali menimang cucu. Anaknya si Fathur belum bisa dibawa ke sini, gara-gara covid-19." Ibu berbaring di sofa menjawab. Sementara aku, sesekali mengelus rambut laki-laki pulas yang sangat menyayangiku. Debaran jantungku tak berkurang sedikitpun setelah menikah dengannya. Menatap wajah polosnya semakin membuatku jatuh cinta. Memandang wajah lelahnya semakin membuatku ingin berbakti kepadanya. Dia sungguh sangay istemewah terasa bahkan hingga di dalam setiap denyut nadiku.
****
Jam delapan malam, bang Zamy terbangun dari tidurnya di pangkuanku karena mendengar suara bel pintu berbunyi. Ayah pulang dengan membawa 6 kilo jeruk peras. Jeruk lokal dari daerah Mentok yang rasanya lebih dominan asam daripada manis. Di musim seperti ini, harganya bisa hanya lima ribu rupih per kilo.
"Sudah jam berapa?" Bang Zamy duduk melihat jam dinding. Dia terkejut melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Sudah adzan Isya ya sayang?" Dia bertanya kepadaku.
"Sudah, mungkin tarawih juga sudah hampir selesai." Aku menjawab.
"Kenapa tidak membangunkan abang Bee?" Bang Zamy duduk mendekap kedua kalinya.
"Sudah dibangunkan beberapa kali kok, tapi kamunya saja tidur mati." Ibu menjawab.
"Masa sih bu?" Bang Zamy tak percaya. Dia menatapku, dan aku hanya mengangguk.
"Ah, bohong ibu sama adek sama saja." Bang Zamy bicara lagi sambil mengambil sebuah jeruk di meja yang baru diletakkan ayah. Ibu menahan senyum, dan tertawa lebar setelah bang Zamy memakannya. Matanya memejam karena menahan asam kecut.
"Ini jeruk apa sih yah? Kok asam banget." Bang Zamy meletakkan kembali jeruk yang sudah dibukanya.
"Itu jeruk peras Zam, kasian ada ibuk-ibuk jualan sambil jalan kaki bawanya." Ayah menjawab.
"Pantes rasanya seperti cuka." Bang Zamy membuang sisa-sisa asam di lidah.
Aku mengambil jeruk yang tadi dimakannya, mengupasnya lagi dan mulai memakannya. Enak sekali di mulut, tidak ada terasa asam seperti bang Zamy. Jeruk sebuah sisa yang tidak jadi dimakan bang Zamy habis tak bersisa. Aku lantas berjalan dengan lutut, memilih-milih lagi jeruk di kantong yang ada di meja, mengambil tiga buah besar yang sudah hijau kekuningan dan ada bercak-bercak hitamnya. Mengupas dan kembali lahap memakannya. Bang Zamy meringis menahan ngilu dengan pipi yang berasa kemeng atau mengeluarkan ludah. Sementara ibu, berkali-kali mencubit ayah, menunjuk-nunjuk ke arahku sambil menahan tawa bahagia.
"Lihatlah yah, Naura kok doyan sekali makan yang asam. Pas banget ayah beli jeruk perasnya. Ya Allah..., semoga saja dia benar-benar hamil." Ibu melonjak kegirangan. Ayah hanya ikut tersenyum. Sementara aku telah menghabiskan jeruk yang kedua dan di tanganku sudah terkupas lagi jeruk ketiga. Bang Zamy menggeser duduknya mendekatiku.
"Sayaanggg..., ayo kita ke dalam sebentar." Bang Zamy merangkul leher kiriku. Matanya bolak balik menatapku mengambil jeruk di tangan dan memasukkan ke mulut, mengunyah tanpa sedikitpun merasa dan berekspresi keasaman.
"Kenapa?" Aku bertanya heran. Masa iya dia mau begituan di rumah ibu, pikirku.
"Yuk ke kamar yuk. Sebentaaarrr saja." Bang Zamy semakin mesra menatapku. Aku semakin kurang nyaman kalau dia mengajakku untuk 'anu'.
"Abang mau apa ngajak ke kamar? Adek sebentar lagi mau makan nasi barengan ayah." Aku menjawab. Bang Zamy mencium keningku.
"Sayaaaanggg..., kapan haid terakhir?" Bang Zamy memandangku begitu mesranya, seakan kasih sayangnya sudah cukup untuk menghidupiku selamanya, tak perlu ada nasi lagi. Halah, lebay. Aku menjauhkan wajahnya karena tak tahan melihat tatapannya yang begitu menghujam relung hati.
"Hemzzz..., kok tiba-tiba bertanya siklus?" Aku bertanya balik sambil memencet hidung mancungnya. Mulutku lanjut mengunyah jeruk peras lagi. Bang Zamy tersenyum berbinar cerah.
__ADS_1
"Ayolah yanggg.... Kapan terakhir haidnya? Kalau tidak jawab dengan sebenar dan sesegeranya adek akan abang gendong sambil cium di depan ayah."
"Ehhh..., ngga mau." Aku menjawab cepat. Aku merasa biasa saja jika di hadapan ibu, tapi entah kenapa aku merasa sangat sungkan dan risih kalau bang Zamy mesra-mesraan denganku di hadapan ayah. Misalnya pegang tangan, mengelus rambut atau mencium pipi. Malu rasanya.
"Bee..., kamu sudah delapan hari puasa, belum haid juga. Makanmu sedikit aneh, biasanya hanya rendaman lemon air hangat, ini jeruk peras asem banget sampai sudah habis empat buah. Sepertinya kamu hamil deh sayang." Bang Zamy memelukku sambil duduk. Aku hanya mengangkat bahu saja, membiarkan dia penasaran. Bang Zamy ke kamarnya, aku tahu di tas kesehatan yang selalu dia selipkan kemanapun dia pergi, selain alat kesehatan wajib di tas kecil itu, dia juga selalu siap alat testpack. Dan benar saja, dia keluar dengan Sensitif strip yang diklaim mampu memberikan hasil 99% akurat di tangannya.
"Ayooo..., ke kamar mandi kita, ke kamar mandi ibu apa ke kamar mandi belakang?" Bang Zamy menepuk-nepukkan ke telapak tangannya alat testpack itu. Akupun berdiri.
"Iiiihhh..., nggak sabaran sekali sih yaaang.... Ayo ke kamar mandi kita saja." Aku meraih tangan bang Zamy yang membantuku untuk berdiri. Namun dia malah menggendongku lagi menuju kamar. Belumlah sampai ke pintu kamar, terdengar suara bel pintu. Bang Zamy menoleh ke dapur, baik ayah maupun ibu tidak ada yang bergerak mereka asyik kembali menikmati otak-otak ikan tenggiri. Dengan lesu bang Zamy meletakkanku dan meletakkan alat testpacknya ke atas bufet di kamar. Dia ke depan membukakan pintu. Aku ikut mengintai dari pintu ruang keluarga.
"Eh ada Maya juga. Ayo masuk." Terdengar suara bang Rahman dan Maya yang datang.
" Beee..., ada Maya tuh...." Bang Zamy memanggilku, padahal aku telah mendengarnya. Aku segera keluar menemui Maya.
"Ayah sudah pulang?" Bang Rahman bertanya kepadaku. Aku tersenyum mengangguk. Bang Rahman pergi ke kamarnya. Aku duduk berbasa basi dengan Maya. Sedangkan bang Zamy menemui ayah dan ibu di meja makan, ikut nimbrung duduk dan makan otak-otak lagi.
"Ayah, ibu, Rahman sudah pulang tuh." Bang Zamy memberitahu.
"Mana dia? Mandi ya? Kok belum langsung ke dapur. Biasanya langsung cari masakan ibu walaupun sudah punya lima orang koki di restonya." Mama bertanya.
"Dia datang dengan Maya bu." Bang Zamy menjawab.
"Dengan Maya? Maya mana?" Ayah langsung merespons.
"Tuh di luar. Ayah mengenalnya pasti." Bang Zamy menjawab.
"Maya teller BRI yang ibu ceritakan kemarin?" Ayah bertanya lagi.
"Hehe...." Bang Zamy mengangguk. Ayah melanjutkan makannya. Sementara ibu buru-buru menghabiskan makanan di mulutnya.
"Itu sih Rahman sudah dua kali bilang sama ibu, mau nikah sama si Maya. Tapi ibu belum tahu dia beneran suka sama Rahman apa suka sama duitnya." Ibu bicara sambil mengelap-ngelap mulutnya dengan tisu.
"Kok ibu bicara begitu?" Bang Zamy bertanya.
"Lha iya dong, ibu cukup punya si Vioni yang selalu memanfaatkan Fathur kakakmu." Ibu agak sewot.
"Ibu...." Ayah mengingatkan agar hati-hati bicaranya. Jangan kebablasan.
"Lha iya menantu ayah yang di Jogja itu kan dosen, berpenghasilan, masa minta kirimin terus mau gonta ganti kendaraan. Ini si Zamy sama Naura saja yang uangnya banyak bawaannya santai. Mobil satu dinikmati, gak perlu gonta ganti mau update terus mobilnya. Penghasilannya dikirim semua sama keluarganya yang di Palembang." Ibu mulai kumat lagi. Bang Zamy hanya diam saja. Memang ibu sudah mengeluhkan bang Fathur yang terlalu menuruti keinginan istrinya. Gonta ganti mobil baru tetapi tidak mau menabung. Maunya yang instan. Minta kirimi sama ibu, mentang-mentang ibu memang memegang rekening pembagian hasil usaha kami di klinik Honey Bee.
"Ibuuu...," Bang Rahman datang ke dapur dan langsung memeluk ibu.
"Ada di luar sama Naura."
"Makanlah, itu masih banyak otak-otak." Ibu berdiri menuju ke ruang tamu.
"Tante...," Maya berdiri langsung dan menyalami ibu. Ayah menyusul dari belakang.
"Pak. Hehe...." Maya tersipu malu.
"Wah kok ayah tidak tahu beritanya ini." Ayah duduk di sofa.
"Makan May, Naura ajak Maya makan otal-otak ke dalam." Ayah menawarkan
Sementara ibu membuka tirai yang sedari Magrib sudah ditutup. Jika ada tamu tirai yang tertutup akan selalu dibuka ibu.
"Dari tadi Naura ajak yah, katanya sudah berbuka di restonya bang Rahman. Aku menjelaskan.
"Owh begitu. Silahkan lanjut ngobrolnya May, jangan sungkan ya, santai saja." Ayah berpamitan ke dalam.
"Iya pak." Maya masih malu-malu.
Bang Rahman datang. Dia membawa sepiring otak-otak dan juga sambel kacang tauchonya.
"Makan beibh...." Bang Rahman menawarkan.
"Halah beibh." Ibu menyahut. Kami kemudian tertawa. Setelah selesai membuka tirai dan membiarkan pintu juga teralis dalam keadaan terbuka, ibu ikut duduk di sofa.
"Makanlah nak, kalau mau makan nasi di dalam, ibu masak sendiri."
"Halah sendiri." Bang Rahman yang nyeletuk menggoda ibu. Ibu mencubit bang Rahman.
"Kan sendiri tadi memanaskannya. Mbak Marni sudah pulang habis masaknya...." Ibu membela diri. Sejenak hening. Ibu sesekali menilai bakal calon menantu. Point pertama yang ibu bilang kepadaku sebelumnya, ibu kurang suka Maya karena, pertama belum berhijab. Kedua kata ibu, nampaknya dia suka melorotin duitnya bang Rahman. Dia sudah minta beliin Iphone 11. Dan dituruti bang Rahman. Aku sempat melirik hpnya Maya waktu di kantor, ketika dia datang ke rumah sakit, memang tipe handphonenya sama dengan yang kupunya. Tetapi aku tidak tahu kalau itu dibelikan bang Rahman.
Sebenarnya ibu tidak begitu cerewet jika tidak berlebihan. Namun kalau masih pacaran sudah banyak permintaan, ibu tidak bisa membayangkan nanti setelah menikah. Ibu takut akan ada mbak Vioni kedua.
"Bu, bagaimana kesimpulannya yang Rahman bilang tempo hari? Deal kan?" Bang Rahman bertanya sambil mengunyah otak-otak. Bicaranya memecah keheningan sesaat.
"Apa itu?" Ibu balik bertanya.
__ADS_1
"Ibu pura-pura lupa nih."
"Ibu kan tidak tahu yang mana. Kamu kan ada banyak diskusi sama ibu." Ibu menjawab datar saja.
"Hemz..., ibu sudah setuju kan kalau kita berdua menikah?" Bang Rahman menunjuk dirinya sendiri dan juga Maya. Maya hanya diam saja, menunduk. Sesekali dia meletakkan kedua tangannya di sela-sela paha. Dia masih mengenakan pakaian kerja mengenakan rok hitam pendek, baju kemeja modern dimasukkan, dan dilapisi dengan sweater abu-abu.
"Ibu sih setuju saja. Bagaimana dengan Maya?" Ibu malah bertanya kepada Maya yang hanya tersenyum. Aku permisi ke dalam agar mereka leluasa bicara.
"Kamu sudah siap belum menerima Rahman apa adanya?" Ibu menyelidik.
"Siap tante."
"Kamu lebih muda dari Rahman. Rahman beginilah orangnya. Kadang pergi pagi pulang malam. Kadang tidak pergi kemana-mana sama sekali kalau dia lagi bosan. Dibiarkannya restoran bekerja sendiri. Kadang tidak pulang-pulang ke rumah kalau lagi asyik dengan bisnisnya. Karena dianya seperti itu, ibu mau menantu yang benar-benar akan mendukung dia apa adanya." Dari ruang keluarga, aku dan bang Zamy masih bisa mendengar suara ibu.
"Saya mengerti tante." Maya menjawab.
"Dan ini rumah sudah kami jatahkan untuk Rahman. Bila ada pertemuan keluarga atau lebaran kami semua kumpul di sini. Harap dimaklumi. Ibu tidak ingin seperti teman ibu, bila keluarga kumpul semua, menantu yang menetap di rumah tua, cemberut saja tidak suka." Ibu sudah merinci kembali beberapa syarat berlaku.
"Maya malah senang kalau rumah ramai tante." Maya menjawab dengan santai. Dia tidak begitu kikuk lagi.
"Kalau kalian sudah saling cinta, ya ibu setuju, kapanpun kalian mau menikah, ibu akan siapkan." Ibu bicara ramah. Sejenak kembali hening. Kemudian ibu masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi membawa sepotong kertas.
"Ibu membawa apa?" Bang Zamy bertanya kepadaku.
"Mana adek tahu." Kamipun diam. Bang Zamy kembali duduk di karpet dan menyandarkan badan di badan sofa tempatku duduk.
"Sebelum Maya benar-benar memutuskan, ibu tidak ingin ada penyesalan nanti di suatu hari." Ibu kembali bicara.
"Apa lagi bu?" Bang Rahman terdengar bertanya kurang suka.
"Ini nak, lihatlah foto bayi ini." Ibu memperlihatkan sebuah foto bayi pada selembar kertas yang diambilnya tadi.
"Ini siapa tante?" Terdengar suara Maya bertanya. Aku dan bang Zamy berpandangan. Masalah itu lagi. Ibu benar-benar selektif memilih menantu untuk bang Rahman.
"Ini salah satu anak istemewah ibu. Dia lahir kurang lebih dua puluh sembilan tahun yang lalu dengan kondisi fisik yang cacat lahir, ini dalam dunia medis bilangnya labio palato. Bibirnya sumbing bahkan sampai menembus ke gusi. Dalam dunia medis kasus seperti ini dikatakan karena ibu kekurangan asam folat. Ini ibu bantah, tidak hamil saja ibu selalu makan sehat bergizi seimbang, apalagi ketika tahu ibu hamil. Separuh lagi orang bilangnya, ini non medisnya ya, ini karena ayahnya sering pergi mancing ke laut melepas penat sehabis bekerja pada saat ibu sedang hamil. Ibu lebih percaya ini terjadi karena alasan yang non medis."
"Owh...." Maya melongo. Sementara bang Rahman memelintir rambutnya mendengarkan.
"Dan kasus labio palato ini, bibir sumbing katanya bisa menurun kepada keturunannya. Nah ibu mau semuanya terbuka sekarang. Siapkah Maya jika nanti menikah dengan Rahman dan Allah berkehendak ada anak Rahman yang mengikuti gen ayahnya?" Ibu bertanya kepada Maya yang seketika kebingungan.
"Maksud ibu, itu fotonya bang Rahman ya?" Dengan ragu-ragu Maya bertanya.
"Iya nak. Dia lahir sumbing"
"Tetapi tidak ada sedikitpun tampak bekas sumbing?" Maya menatap bang Rahman yang hanya diam saja.
"Iya, ayah dan ibu mencarikan dokter terbaik untuknya, kami rela berhemat demi biaya operasinya yang tidak sedikit zaman itu. Sebenarnya bisa saja kalau kami mau operasi di Bangka dengan dokter bedah mulut biasa, tetapi ibu ingin anak ibu ditangani oleh dokter yang tepat. Kami memilih dokter estetik dari Palembang. Dokter kecantikan dengan biaya yang lumayan besar." Ibu kembali menjelaskan dengan serinci-rincinya. Aku dan bang Zamy berpandangan ingin segera mendengar kelanjutan kisah bang Rahman dan Maya. Sejenak hening, yang terdengar hanya suara ketukan jari tangan kanan bang Rahman di sandaran kursi diselahi dengan suara cicak yang risih karena penerangan masih hidup.
"Bagaimana kira-kira nak Maya? Tidakkah hal itu tidak menjadi kendala bagi hubungan kalian nanti?" Ibu meminta jawaban. Maya menatap bang Rahman yang duduk santai dengan sebelah kakinya berada di sandaran kursi.
"Eeehhh..., emmmhhh..." Maya mulai ragu menjawab.
"Jika Maya tidak keberatan karena hal itu, ibu sangat meridhoi pernikahan kalian sehabis lebaran nanti." Ibu masih menunggu jawaban Maya.
"Kok diam? Jawab saja, kan kamu yang selalu mendesak untuk segera menikah." Bang Rahman sedikit kesal melihat respon Maya setelah mengetahui kondisi masa kecil bang Rahman.
"Kamu mau menikah habis lebaran dengan Rahman?" Ibu kembali menatap Maya.
"Mungkin kami masih belum siap tante." Maya menjawab pelan. Aku dan bang Zamy lemas. Si cantik Maya rupanya tidak bisa menerima kondisi masa lalu bang Rahman. Ibu hanya diam menatap bang Rahman.
"Bagaimana nak?" Ibu menatap bang Rahman. Dia seketika berdiri.
"Ayo kuantar kamu pulang." Bang Rahman menarik tangan Maya yang menunduk-nunduk berdiri, berpamitan kepadaku dan bang Zamy yang sudah keluar menemui mereka. Ayah tetap di dalam. Dia sudah tahu karakter Maya. Ayah memang tidak begitu setuju setelah mendengar bisikan-bisikan ibu tentang hubungan mereka. Menurut ayah, Maya sering gonta ganti pacar. Mulai dari karyawan PT. Timah, Polisi, ASN di Bangka Barat, bahkan pernah dokter yang sudah beristri. Modalnya memang pas. Dia cantik dan menarik. Beruntungnya bang Zamy tidak pernah jatuh ke perangkapnya.
Kemudian terdengar suara mobil Hilux bang Rahman pergi keluar. Dia pergi mengantar Maya pulang. Entah apa yang terjadi pada keduanya di dalam mobil. Namun firasatku berkata mereka akan putus. Maya tidak bisa menerima masa lalu bang Rahman.
"Apa perlu ibu membuka semuanya seperti itu?" Bang Zamy bertanya pelan ke ibu.
"Ibu tidak ingin anak ibu disepelekan orang apabila nanti ada keturunannya yang ikut gennya. Dan semoga saja tidak." Ibu menjawab. Aku hanya diam.
"Nauraaa...." Tiba-tiba ayah memanggilku.
"Kenapa yah?" Aku menuju dapur.
"Ayo kita makan nasi nak. Mana ni lauknya." Ayah mencari-cari di meja. Sop iganya masih kompor.
"Ayah tunggi dua menit ya yah, Naura panaskan sebentar sambil buang lemak jahatnya." Aku bicara sambil membuang lemak-lemak jahat yang mengeras di bagian paling atas. Lalu kupanaskan sebentar dan menyajikanya untuk makan malam setelah sebelumnya sudah berbuka dengan aneka tajil. Bang Zamy dan ibu pun sudah ikut ke dapur. Kami mulai makan tanpa banyak bicara. Kemudian karena merasa punya beban atas kemungkinan berakhirnya hubungan Maya dan bang Rahman, ibu berpamitan untuk segera tidur. Akupun istirahat ke kamar, sementara bang Zamy dan ayah nongkrong di teras samping sambil memandikan burung Murai kesayangan. Tak ada lagi yang memintaku untuk segera melakukan teatpack
Aku pun hanya bermalas-malasan dengan handphone saja. Sementara tanganku menggenggam jeruk peras dua buah yang sudah kukupas di dapur tadi. Aku menikmatinya di atas tempat tidur. Tak berapa lama kemudian mobil bang Rahman telah kembali. Dan seperti tidak ada yang terjadi, bang Rahman langsung nimbrung bersama ayah dan bang Zamy.
__ADS_1
****