Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 82 Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Bang Zamy sudah rapi di jam setengan tujuh pagi. Ini hari ulang tahunnya yang ke 35. Dia bersenandung kecil menuju meja makan untuk sarapan. Aku sudah menyiapkan makanannya. Hanya sepotong roti tawar panggang topping coklat dengan segelas susu putih hangat.


"Terima kasih ya sayang atas kado spesialnya semalam." Bang Zamy bicara sambil menarik kursi yang kemudian dia duduki.


"Kamu menyukainya?" Aku tersenyum cantik bertanya sambil duduk di sebelahnya. Aku meletakkan segelas air jeruk manis peras untuk kuminum.


"Iya Bee, tentu abang sangat menyukainya...." Bang Zamy mengerling nakal kepadaku sambil bicara.


"Kenapa tidak dipakai sekarang kalau menyukainya." Aku bingung, kutatap dia masih memakai jam tangannya yang lama. Bukan jam mahal pemberianku semalam.


"Mau dipakai sekarang?" Bang Zamy tersenyum berbinar bertanya.


"Boleh pasti lebih nyaman nantinya."


"Waw, mengapa kau menggodaku sepagi ini Bee....?" Bang Zamy seketika mengangkat tubuhku yang berat. Dengan berlari kecil dia langsung menidurkanku di atas sofa kamar yang sudah kurapikan. Dia merangkak di atasku dan mulai melabuhkan ciuman lembut dan hangat di bibirku. Aku kebingungan dibuatnya.


"Eh, abang mau ngapain sih sayang? Kan sayang pakaiannya sudah rapi begitu..., mau dibawa main beginian lagi." Aku berdiri, sementara bang Zamy malah menatapku dengan kerutan di kening.


"Lha katanya tadi mau dipakai lagi kadonya. Kok main nyetop-nyetop saja, untung anu abang belum begitu on." Dia mesem-mesem menjawab.


"Ih apaan sih, adek kan lagi membahas kado yang adek berikan semalam." Aku menjelaskan.


"Lha iya kado terindah semalam. Emang adek maksud kado apaan?" bang Zamy tersenyum menatapku.


"Jam tangan." Menyahut dengan sedikit kesal. Dalam hatiku sudah menduga ini pasti ada kesalahpahaman.

__ADS_1


"Ah itu mah bukan kado Bee...," Dengan senyum mempesonanya dia bertanya.


"Lha tadi yang abang bilang kado apaan?" Aku malah semakin kebingungan.


"Hehe..., goyanganmu semalam yang membuat abang dimabuk cinta Bee.... Itu kado istimewanya...." Bang Zamy telentang di sofa lagi. Kedua tangannya di belakang kepala.


"Ihhh..., kok pikirannya jadi mesum begini sih sekarang."


"Kalau sama istri itu bukan mesum yaaanggg...."


"Terus apa?"


"Mau sun." Dia bangkit dan melabuhkan kecupan di pipiku.


Dengan masih mengembangkan senyumannya, dia merapikan lagi pakaiannya, kembali ke dapur menyusulku dan kami menikmati sarapan bersama. Lalu dia pamitan duluan pergi ke kantor, menyusul aku pergi setelah yuk Mairoh datang ke rumah.


*****


*****


Dia masuk ke ruangan itu, nampak sudah sama persis seperti ruangannya kemarin. Tidak ada yang berbeda, bahkan susunan semua isi meja. Di tempel di tengah-tengah ruangan, sebuah pita bertuliskan,


NEW NORMAL, NEW DIRUT, SELAMAT DATANG DR. ZAMY. SEMOGA AMANAH MENJALANKAN TUGAS.


Bang Zamy menatap mereka bergantian.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun ya pak Dokter. Kami percaya Anda amanah dan mampu mengelola Rumah Sakit sebesar ini." Pak Alwi muncul dengan sebuah map batik kecoklatan di tangan. Nanti ada pelantikannya, ini hanya formalitas. Pak Alwi menyerahkan map di tangannya kepada bang Zamy. Beberapa karyawan memgabadikannya dengan handphone-handphone canggih. Selepas berfoto-foto, bang Zamy yang penasaran seketika membuka isi mapnya. Sebuah petikan keputusan bersama atas terpilihnya dia sebagai Dirut, menggantikan Dirut lama yang tersandung korupsi dana pengembangan pembangunan rumah sakit.


"Terima kasih pak, aku tidak menyangka akan secepat ini...." Bang Zamy menyalami dan memeluk pak Alwi berkali-kali. Karyawan kembali bernyanyi selamat ulang tahun, lalu dilanjutkan dengan bang Zamy meniup lilin yang disediakan di sana, menyuapi dan berbagi kue ultah dengan rekan kerjanya yang ada di sana. Semua nampak berbahagia, semua nampak menyukainya, semua nampak menikmati dan semangat dalam acara singkat penyerahan SK pergantian Dirutnya kecuali Dokter Jo. Dia bersama tujuh orang rekannya masih berada di ruangan Dokter Jo. Mendiskusikan hal penting yang menurut mereka sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin suaranya jatuh telak dibablas para dewan direksi yang suaranya hampir sembilan puluh persen memilih bang Zamy.


"Ini sungguh tidak disangka, bagaimana mungkin mereka lebih mempercayakan Dokter Zamy, dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang Dirut." Pak Jo masih mencak-mencak tidak setuju. Namun dia tidak bisa berbuat banyak.


"Kita ikuti saja gerak langkahnya. kawal kepemimpinannya, sedikit saja dia berbuat salah, maka kita wajib memblowup beritanya. Seoramg rekanan senior bang Zamy menimpali. Dia mengincar posisi Dokter Jo jika dia naik menjadi Direktur Utama, namun semua itu tidak kesampaian.


"Kurasa pak Henk, terlalu lama kita mencapai itu kalau harus menunggu, mari langsung saja kita jalankan misi kedua." Dokter Jo menyarankan. Matanya yang jahat kemudian makin nampak lagi.


"Kita tidak usah terburu-buru, kita mainkan saja di bagian manajemen. Kita buat dia kewalahan agar berhenti dengan sendirinya nanti. Kita bukan mendukungnya tetapi malah menghancurkan rencana-rencananya agar tidak ada peningkatan signifikan kinerja rumah sakit dalam masa kepemimpinannya." Dokter Nail memberikan pendapat.


"Sudah kubilang itu terlalu lama, keburu usia kita memasuki masa pensiun. Nah kapan lagi kita akan mendapatkan tempat yang strategis di rumah sakit ini." Dokter Jo berdiri mondar-mandir mencari ide lain. Dia sudah memantapkan hati pada pilihan keduanya. menyingkirkan bang Zamy. Wajahnya seketika berbinar lagi.


"Kenapa kau tersenyum sendiri Jo?" Dokter Nail kembali bertanya.


"Aku tersenyum karena merasa jalanku akan semakin mulus untuk menyingkirkannya." Dokter Jo bicara sambil mengangguk-angguk senang.


"Ayo kita bergerak ke ruangan pesta kemenangan mereka. Biar pak Alwi melihat kalau kita juga mendukung terpilihnya Direktur Utama." Dokter Jo menuju ruangan bang Zamy yang sedang ulang tahun diikuti olah semua dokter yang bersamanya tadi.


"Selamat ya Zam atas jabatan barunya sebagai Dirut. Semoga rumah sakit kita akan berubah lebih besar lagi." Dokter Jo menyalami dan memeluk bang Zamy. Namun sesiapa saja yang melihat raut wajah Dokter Jo pasti tahu bahwa dia hanya mencari muka saja, tidak benar-benar tulus.


"Terima kasih Dok. Mohon bantuannya nanti." Dengan santai bang Zamy menjawab. Dia tidak menyadari bahwa seseorang yang berpakaian tukang kebun pelan-pelan masuk ke bawah mobilnya dan entah dengan apa, dia sudah berhasil membuat mobil mewah bang Zamy terputus tali remnya.


*****

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2