
Tiga bulan kemudian...,
Waktu berlalu begitu saja, menjejak segala rasa dalam jiwa para pelaku kehidupan. Bang Rahman sudah pula menikah dengan Afni sebulan setelah pernikahan Bang Fathur dan Mbak Nindya. Meski sempat diwarnai insiden pembakaran restoran seafood milik Bang Rahman yang hanya melalap bagian dapur yang terbuka saja, pernikahan tetap berlangsung hikmat. Sementara Rian, sang mantan kekasih Afni sudah mendekam di penjara karena jelas nampak di CCTV sedang menyiramkan minyak tanah ke arah dapur resto. Kabar baiknya pula Mbak Nindya sudah positif hamil empat minggu. Semua keluarga sangat bahagia mendengar kabar baik tersebut. Dan aku?
Saat ini kehamilanku sudah sembilan bulan lebih beberapa hari. Tinggal menunggu waktu kelahiran. Aku sudah dua minggu cuti. Klinik diisi dokter Nina yang sedang dekat dengan Dokter Zein. Kabarnya tanteku itu sudah dilamar dokter Zein. Sikapnya? Semua kembali seperti awal kami bertemu, dia begitu baiknya kepadaku dan kepada orang-orang di sekeliling kami. Dia benar-benar menganggapku adalah sisa bagian keluarga terdekat yang harus berada dekat pula dalam kehidupannya. Dia sudah kembali ke rumah tante Sofie yang kini sudah normal kembali setelah selama empat belas hari berada di Rumah Sakit Jiwa Sungai Liat. Setelah menjalani serangkaian tes psikologi, dia dikembalikan ke rumah. Sikap Dokter Nina alias bibiku yang kupanggil Aunty Cantik sekarag telah melembutkan hati tante Sofie.
"Maafkan tante ya Nora, maafkan tante yang sempat ingin menembakmu dan Dokter Zamy. Tante kecewa dengan keadaan, tante sakit dengan perasaan sendiri, anak kesayanganku, si Irwan mendekam di penjara, ditambah suami tante ketahuan berselingkuh, sedangkan Nina tidak tahu dimana rimbanya. Maka tante kehabisan akal dan menganggap kalianlah awal penyebab semuanya terjadi. Tetapi tidak, setelah kembali sholat lima waktu dengan benar seperti saran ustadzah yang didatangkan psikiater ke Rumah Sakit, tante mulai menyadari bahwa kalian sedikit pun tidak bersalah. Bahkan kalianlah orang yang dikorbankan selama ini. Maafkan tante...." Begitu pertama kali dia berbicara sambil memelukku dengan tangis yang pecah. Aku memeluknya erat, kuberikan sentuhan hangat sebagai seorang sahabat, kupahami kondisinya yang rapuh dengan memposisikan diri sebagai anak. Kubisikkan kata-kata sebagai penyemangat hidupnya. Kejadian itu di Rumah Sakit Jiwa Sungailiat Bangka, sore hari Sabtu saat aku berkunjung.
"Semua orang pernah berbuat salah tante, dan saat tante mulai menyesalkan kesalahan masa lampau, artinya tante sudah berada pada fase yang indah. Bukankah taubat itu butuh perjuangan serius dan keridhaan Allah?" Aku membiarkan wanita itu membenamkan wajahnya ke dadaku. Seperti aku adalah ibunya, dia menangis tersedu hingga gamisku menjadi basah.
"Maafkan aku cu, maafkan nenek yang bodoh ini." Tante Sofie mengelus perutku yang bergerak-gerak ikut terbawa suasana.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan tante, tante orang baik kok, kembalilah. Biarkan kesalahan masa lalu menjadi pengingat kita saat ini agar kita lebih hati-hati dalam bertindak." Aku berbicara lembut sambil ikut melonggarkan pelukanku ketika kulihat tante Sofie perlahan menegakkan kepala.
"Kau begitu dewasa Dora, nanti, tolong bantu tante mengembalikan Ninaku yang hilang." itu kata-kata bermulanya Dokter Nina kembali kucari, kutemui, kubujuk disebuah rumah mewah kawasan Taman Bunga Pangkalpinang.
"Kembalilah, dan hiduplah bersama tante Sofie..., dia membutuhkanmu, membutuhkan tempat berbagi kasih sayang dan cinta, mari kita mulai manisnya masa depan dengan melupakan sepahit apapun masa lalu." Aku dengan nafas terengah-engah bernafas dengan perut besar membujuknya, berkali-kali, berulang-ulang hingga pada pertemuan keempat dia pun menangis tanpa suara juga memelukku. Sedu sedan dia berurai air mata dengan bahu bergetar. Aku pun kembali memeluk wanita kesepian itu. Siapa bilang wanita cantik dan nampak sangat enerjik dan mandiri itu tidak kesepian, hanya saja disaat-saat seperti itu dia alihkan dengan sebuah kepura-puraan. Hingga tiga hari kemudian, dia menyambangi rumah tante Sofie dengan sebuah mobil pengangkut barang. Pertemuan yang mengharukan. Keduanya berpelukan, melepaskan tangis dan semua rasa tegang. Lalu kemudian suasana mulai nampak normal, perlahan-lahan mereka mulai saling menerima keberadaan belahan jiwa yang sempat saling mengabaikan. Dokter Nina dan Tante Sofie mulai nampak akur.
*****
Aku sudah cuti, namun masih sering ikut Bang Zamy ke tempat praktik. Aku setia menunggu di dalam rumah belakang bersama Elza sambil nonton tivi atau baca-baca buku, Elza itu seorang anak sepupu ibu dari Bengkulu. Dulunya dia ikut orang di Bekasi, namun pabrik tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan dikarenakan covid-19. Akhirnya dia meminta bantuan ibu dicarikan pekerjaan apa saja di Bangka demi menghidupi ibunya yang sudah menjanda dan bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan dia masih punya dua orang adik yang harus di sekolahkan. Usinya belum genap dua puluh tahun, dia berkulit putih dan berwajah manis, lembut dan sangat pengertian. Setelah sampai di Bangka dia menawarkan diri sendiri untuk menjadi pengasuh anak kami kelak. Aku dan Bang Zamy pun menyetujui. Dia tinggal di rumahku, di Villa sendirian.
"Kak, mau dipijit betisnya?" seringkali dia menawarkan bantuan saat melihatku seperti kelelahan. Aku senang dia datang dan bekerja di rumah, minimal ada yang menjadi temanku disaat Bang Zamy pergi ke kantornya. Dia juga jago masak. Menu-menu yang sesekali dibuatnya bersama yuk Mairoh mirip sekali dengan masakan ibu. Katanya dia sudah bisa memasak nasi dan lauk bahkan saat kelas dua Sekolah Dasar. Aku takjub.
Pantas saja dia begitu mahir mengolah aneka bumbu masakan....
*****
Mentari telah lama bersinar, yuk Mairoh dan Elza kudengar sudah riuh saja tertawa bercanda di dapur. Elza memang sangat suka melucu, diam-diam dia suka menyeletuk dan membuat kami tak mampu menahan tawa. Aroma masakan sudah pula tercium dari kamarku yang sudah terbuka. Bang Zamy sudah dari jam tujuh pagi berangkat ke kantor katanya mau ada rapat tim covid lagi karena di Bangka Belitung per September sudah tercatat ratusan orang kembali positif covid-19. Bangka Belitung kembali tidak hijau lagi. Bahkan periode ini yang positif banyak anak Sekolah Dasar yang terpapar dari temannya yang ayahnya positif covid sepulang dari dinas luar kota.
"Sayang Papi kerja dulu ya...," Dia mencium kening dan perutku saat mau pergi tadi pagi. Aku menggeliat manja setelahnya.
*****
Aku melirik jam di dinding kamarku, hampir jam sepuluh, namun badanku enggan beranjak dari tempat tidur, apalagi mandi. Hamil tua hari ini, benar-benar membuatku menjadi malas. Enak dan nyaman sekali rasanya rebahan di kasur yang empuk.
"Dok jusnya sudah lama ayuk letakkan di meja makan, apa mau disimpan ke kulkas dulu?" Yuk Mairoh kembali mengetuk pintu dan mengingatkanku.
"Jangan yuk, ini sudah mau diminum kok." Aku perlahan bangkit dan menuju kamar mandi, sikat gigi dan segera ke dapur. Sejenak duduk aku langsung menyeruput jus jambu biji hasil panen kebun di belakang rumah. Yuk Mairoh menyiapkan roti panggang dan susu, juga kentang goreng, telur rebus dan saosnya.
"Kak tadi waktu Elza buang sampah keluar, Elza liat ada bapak-bapak mondar-mandir di luar pagar. Dia agak mencurigakan." Gadis Bengkulu itu tiba-tiba bicara membuatku tersedak. Yuk Mairoh menatap tak senang ke arah Elza sambil segera menepuk-nepuk pundakku.
"Elza, lain kali jangan membicarakan hal-hal seperti itu disaat sedang makan." Yuk Mairoh mengingatkan.
"Iya yuk maaf, maaf kak Dokter." merasa bersalah Elza kembali melanjutkan mencuci sayuran untuk dimasak.
"Tidak masalah. Eh ngomong-ngomong bapak yang katamu mencurigakan itu, apa Fredy tau?" Aku menjadi penasaran.
__ADS_1
"Elza tidak berani kasih tahu bang Fredy, mana dia lagi ngobrol sama pak Rohim Elza tidak enak mengganggu." Dia bicara lagi menatapku.
"Mencurigakannya bagaimana dek?" Aku menjadi kepikiran.
"Dia berpakaian seperti seorang pemulung kak. Pakai caping lebar, sebentar-sebentar dia menoleh ke arah rumah. Aku menegurnya ramah, dia malah menatapku dalam dan bertanya. Apakah di rumah ada Naura? Aku mengangguk saja. Sekali kutoleh dia sudah hilang, beberapa mobil lewat, termasuk truk pengangkut sampah." dengan leluasa Elza yang lugu itu merinci kejadian. Akupun segera menyelesaikan sarapan dan menemui Fredy.
"Dy, apa kau melihat ada bapak-bapak mencurigakan di trotoar depan rumah pagi tadi?" Begitu dekat pos satpam, aku bertanya.
"Bapak-bapak? Sejauh ini tidak ada bapak-bapak mencurigakan di depan rumah bu." Fredy menjelaskan.
"Kalau pemulung?" Aku bertanya lagi.
"Pemulung? Oh iya kalau pemulung sudah beberapa hari ini memang ada, mengambil beberapa sampah plastik di sana." Fredy menunjuk lokasi dekat tembok tinggi rumahku yang menuju lampu merah simpang DKT.
"Apa dia mencurigakan?" Aku masih menyelidiki.
"Mencurigakan? Nampaknya biasa saja seperti kebanyakan pemulung." Fredy menggeleng setelah sesaat mengernyitkan keningnya.
"Owh baiklah. Kalau dia ada lagi, tolong panggil saya ya." Aku berpesan dan segera berlalu.
"Oke bu Dokter." Fredy mengangguk ramah. Kemudian aku kembali ke rumah dan menuju ruang CCTV. Benar saja, nampak samar karena pantauan terlalu jauh, bahkan malam hari seseorang berpakaian pemulung nampak mondar-mandir di trotoar depan rumahku. Memang di tangannya nampak sesuatu seperti karung, namun tidak satu kalipun dia memasukkan sampah ke sana. Dan kehadirannya pun di pagi hari rata-rata pada jam yang sama, sebelum atau lewat jam delapan pagi. Aku harus lebih waspada, aku kembali lagi menemui Fredy dan pak Rohim, mengingatkannya agar memperhatikan gerak-gerik pemulung itu jika datang lagi. Fredy dan Pak Rohim mengangguk.
*****
Pukul 15.17 menit, Bang Zamy pulang, kubiarkan dia menikmati kopi susu hangat dan goreng pisang lilin kesukaannya dan ibu. Tak ingin sedikitpun mengganggunya meski hatiku ingin sekali berdiskusi segera perihal kehadiran pemulung beberapa hari ini.
"Apa ya? Adek pagi tadi malah bangun sudah jam sepuluh sayang." Aku tersenyum manja menjawab.
"Hah? Yang benar saja? Apa nggak pusing tidur sampai jam segitu?" Bang Zamy yang sudah terbiasa mandi sebelum Subuh ternganga mendengar penjelasanku.
"Tidak terlelap lagi sih bang, tapi ya bawaannya malas benar mau bangun, main hape saja, baca-baca berita." Aku menjelaskan.
"Yang lagi viral?" Suamiku memotong bertanya.
"Yang mana? Kan banyak yang lagi viral." Aku tersenyum lagi balik bertanya.
"Yang minta sumbangan melunasi hutang di bank dan minta mahar mobil metik sama uang dan emas sesuai usinya itu lho sayang...." Dia menjelaskan.
"Idiiihhh, abang suka gosip juga ya sekarang...," Aku menggodanya. Tangan kananku memainkan dagunya yang berjambang tipis.
"Bukan ngegosip weee..., tapi kan karyawan tuh pada heboh, di ruang manapun pada sibuk ngomongin itu, kadang mereka berolok-olok pada yang masih bujangan agar segera melamar, ya mau nggak maulah tau deh abang informasinya itu." Bang Zamy tersenyum dan kembali menyeruput kopi susunya. Dia mengambil sepotong pisang lilin goreng, menggigitnya sekali dan menyuapiku pula. Tak lupa sebuah ciuman tipis di pipiku dia labuhkan.
"Hehe iya habis baca beritanya, lihat kolom komentar pada lucu-lucu meski banyak juga yang menghujat. Ya Allah yaaang adek tidak habis pikir mengapa dia bisa begitu."
"Satu almamater ya sama adek?" Bang Zamy bertanya.
"Hemzzz, tidak salah almamaternya sih. Dia agak depresi sepertinya."
__ADS_1
"Iya, sepertinya bermasalah dengan Direkturnya juga dia, berbau-bau masalah keuangan segala."
"Hem kamu agar lebih hati-hati ya sayang, jabatan tinggi godaan pasti akan semakin tinggi pula." Aku bicara sambil memeluk erat lengannya yang kokoh.
"Selalu iringi dengan doamu ya Bee...," Dia mencium pipiku lagi hingga basah.
"InsyaAllah...."
"Hemzzz..., Papi mau mandi dulu ya deeekkk, mau ikut Papi lagi ke klinik?" Bang Zamy mengajak insan di dalam rahimku berbicara. Benar saja, seketika ada geliat terasa, dia sudah mengenal suara laki-laki yang setiap malam mengajaknya berbicara, perutku yang agak tebal nampak bergerak bergelombang-gelombang karenanya.
"Ayo dedeknya segera keluar biar bisa ketemu Mami Papi, Nyai dan Atok-atoknya...." Bang Zamy duduk bersimpuh seperti biasa. Dia memegang kedua pahaku sambil bermain dengan mahkluk Allah di rahimku. Menciumku dan mencium perutku yang besar. Mungkin kalau ada yang melihat tingkahnya, mereka akan merasa aneh. Tetapi kami setiap saat bila ada kesempatan, selalu mengajaknya serta berbicara. Dia merespon, terasa kembali pergerakan di alamnya sebelum turun ke dunia. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya.
*****
Aku menarik tangan Bang Zamy yang sudah rapi dan siap pergi ke klinik. Dia menurutiku masuk ke ruang CCTV.
"Kita lihat CCTV sebentar ya sayang." Aku bicara.
"Kenapa? Ada yang mencurigakan lagi?" Dia bertanya heran dan mengikuti langkahku.
"Lihat saja." Aku mulai menunjukkan hal-hal yang kuanggap tidak wajar. Bang Zamy serius menatap layar, tangannya sesekali menggerakkan mouse komputer, memutar video, mereplay bagian-bagian ketika pemulung nampak melihat ke arah rumah. Tangan kirinya sesekali mengusap-usap dagunya. Keningnya sesekali berkerut-kerut dengan mata memicing. Dia replay berkali-kali nampak pemulung naik sebuah mobil dan pergi.
"InsyaAllah tidak apa-apa, jangan takut tetapi tetap selalu waspada. Nanti Abang akan bicarakan ini sama Fredy. Jangan takut sayang ya."
"Apa Abang mencurigai seseorang? Apakah kita masih ada yang memusuhi?" Aku bertanya beruntun kepada suamiku yang kemudian melihatku dengan tenang.
"Mungkin masih ada yang dendam atau sakit hati melihat kebahagiaan kita, tetapi yakinlah ini tidak akan lama."
"Siapa?" Aku merasakan Bang Zamy mencurigai seseorang.
"Entahlah, mudah-mudahan itu hanya pemulung biasa yang kebetulan mendapat banyak sampah berharga di dekat rumah kita." Dia mencoba mengalihkan perhatianku. Aku hanya diam, kalau sudah begitu lebih baik aku diam saja. Aku yakin, suamiku mampu menyelesaikan semuanya. Jika memang itu sebuah masalah.
"Tetapi sikapnya itu mencurigakan lho bang, Abang juga harus lebih hati-hati." tambahku pula.
"Ehmmm...." Dia hanya bergumam mengangguk. Lalu mencium keningku lagi dan berpesan agar selalu berhati-hati.
"Tidak ikut ke klinik?" Dia mengalihkan topik.
"Bosan menunggu di sana, lebih enak di rumah." Aku menjawab.
"Oke deh, jangan takut sayang ya. Mudah-mudahan pasien tidak terlalu banyak, abang bisa lebih cepat pulangnya." Dia pun menuju garasi, menyalakan mesin mobil, sesaat memanaskan mesinnya dan lama berhenti di dekat Fredy lalu pergi ke klinik praktik di Honey Bee. Aku mengiringinya dengan untaian doa.
*****
(bersambung)
*tulisan disela-sela zoom meeting
__ADS_1