
Langit sore begitu cerah, jam setengah empat masih nampak seperti jam dua belas siang. Sepasang burung elang nampak serasi terbang di atas pepohonan rindang menuju sarangnya. Segerombolan burung pipit bermigrasi dari arah Utara menuju Selatan, kompak, menderu dan meliuk-liuk beratraksi di udara. Angin masih bertiup kencang melenggak-lenggokkan pucuk dedauan menghijau. Separuh dedaun tua nampak berguguran pula karena angin, melayang di senja nan indah.
Mbak Nindya sudah selesai membereskan semua hasil panennya hari ini. Dia menyusunnya dengan rapi di atas bak mobil pickup yang dibawa Papa. Sekarung sayur pare besar, panjang hijau dan lurus, sedikit sisa tomat memerah di dalam keranjang berlubang, nanas hampir dua karung, pucuk ubi setengah karung, sedangkan ubinya jauh lebih banyak, ubi jalar ungu tersusun sudah, berderet dengan pepaya mengkal yang besar-besar. Mentimun lebih dua puluh kilo, cabe besar pun banyak, dan tidak nyampai dua kilo cabe rawit setan. Ada pula bertandan-tandan pisang kepok, pisang Raja dan pisang empat puluh hari, juga pisang ambon besar. Semua sudah tersusun rapi, siap didistribusikan. Termasuk sekitar dua pulih kilo terong bulat bercampur terong ungu panjang, lima kiloan kacang panjang dan sekitar dua puluh ikat tebu telor yang sedang kembangnya.
*****
Selesai menyusun semuanya, mbak Nindya minum yang banyak, setelah selesai pekerjaan, rasa haus mulai terasa. Kemudian dia mengibas-ngibaskan jilbab segi empat dan kembali memasangnya di kepala tanpa daleman jilbab, dan karena sudah sangat lelah, dia kembali duduk berteduh di bawah pinggir rumahnya, di atas dudukan papan dengan bambu sebagai penahannya. Sepintas dia mengenangkan apa yang baru saja terjadi antara dia dan bang Fathur. Dia memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengusir bayangan itu. Namun bahkan semakin lekat di otaknya sekelebat ciuman, kecupan dan sentuhan bang Fathur.
Bayangan yang masih bertahan dan tidak mau hilang dari benaknya. Dia membuka hape nokia lama berwarna hitam yang tadi selalu berada di saku celana kanannya. Nampak beberapa pesan dari pemilik-pemilik warung langganannya. Mereka menunggu barang dari mbak Nindya. Dengan gesit karena sudah hapal dimana tombol angka-huruf yang tak nampak lagi tulisannya, mbak Nindy membalas satu persatu pesan mereka. Setelah selesai, dia kembali meletakkan handphone ke saku celana panjang yang dia kenakan. Dan dengan kain panjang, dia mengelap-ngelap mukanya yang memerah dan berkeringat karena panas.
*****
"Ibuuu...," Mbak Nindya menatap anak kandungnya yang sudah berlari menuju ke arahnya.
"Hati-hati Annisa...," Papa memperingatkan karena melihat cucunya berlari sambil melenggak-lenggokkan kepala menatap langit. Kedua tangannya mengembangkan rok ping motif daun keputihan. Diterpa angin rok kembangnya semakin mengembang saja.
"Sudah dipanen semua nak?" Papa bertanya takjub melihat di mobil sudah tersusun rapi karung-karung hasil panen, tinggal tiga gepal daun bawang saja yang masih diletakkan sembarangan tanpa wadah di atas bak mobil itu.
"Ini kenapa ditaruh di sini?" Papa heran melihatnya.
__ADS_1
"Naura minta dibawakan daun bawang segar. Dia kepengen makan telur dadar khas warung padang bikinanku." Mbak Nindya menjawab. Dia mengabaikan seorang laki-laki yang serba salah dan berdiri sambil memegang spion mobil sebelah kiri. Di mulutnya nampak dia menggigit umbi rumput muda yang dicabutnya saat naik dari sungai tadi.
"Apa dia tidak menginginkan yang lainnya?" Papa kembali bertanya.
"Sudah Nindy tanya tadi, dianya hanya mau daun bawang saja. Tetapi di kantong merah itu sudah kusiapkan semua yang kira-kira disukainya. Dua sisir pisang ambon masak di batang dan sebuah pepaya besar yang sudah ranum. Juga ubi jalar ungu buat cemilannya. Dia sudah disuruh Zamy mengurangi makan nasi." Suara merdu, lemah lembut itu panjang menjawab. Papa hanya mengangguk, sementara Annisa berlari-lari menangkap belalang hijau di tengah kebun.
"Om, om Fathur Nisa dapat satu belalangnya. Besar sekali lho om, bahkan bagian bawahnya ini sudah berwarna kekuningan." Nisa mengangkat seekor belalang yang baru saja ditangkapnya. Belalang itu mengangguk-angguk seperti ingin terbang, namun kakinya dipegang erat Annisa.
"Mana? Wah besar sekali ya. Nisa pintar sekali berburu belalang." Bang Fathur mendekati gadis lincah itu. Papa kemudian mengunci penutup belakang mobil pickupnya. Sementara mbak Nindya mengambil daun bawang tadi dan menggabungkannya di kantong merah besar untukku. Sekilas melihat bang Fathur yang masih bermain belalang dengan Annisa, dia kemudian menggantung kantong merah besar itu ke motor yang dibawa bang Fathur tadi.
"Nisaaa..., sudah sore nak, ayo kita harus bergegas pulang karena banyak pemilik warung sayur yang sudah menunggu." Mbak Nindya memanggil anaknya sambil membereskan pisau besar, pisau kecil, dan kedik yang dibawanya tadi. Semua dia masukkan kembali ke bak mobil.
"Tuh, ibu ngajak pulang tu, ayo hari ini kita pulang dulu, besok-besok main lagi ya." Bang Fathur membujuk anak calon istrinya itu. Mbak Nindy menoleh saja sesaat tanpa melihat wajah bang Fathur sedikitpun. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa enggan menatap laki-laki yang sudah melamarnya itu. Dia mencoba menghindari debaran detak jantungnya yang menjadi tidak menentu saat menatap dosen ganteng itu.
"Iya bu sebentar Nisa ke sana deh." Nisa melepaskan belalangnya ke atas daun cabe. Kemudian dia berbalik menuju mbak Nindy dengan berpegangan tangan kepada bang Fathur.
"Thur, ayo mainlah ke rumah, kita makan pempek ikan gabus lagi malam ini...." Papa mendekati bang Fathur bicara ramah.
"Nindy belum sempat kalau mau bikin pempek yah." Mbak Nindy langsung menjawab sambil mengangkat Annisa duduk di kursi mobil pickup.
__ADS_1
"InsyaAllah lain waktu pak, Fathur juga mau ada hal penting untuk dibicarakan bersama Bapak." Bang Fathur menjawab sambil melirik mbak Nindya yang pura-pura tidak mendengarkan omongannya. Namun Mbak Nindy malah mengalihkan pandangan, mencoba menghindar dari tatapan bang Fathur.
"Owh iyalah kalau begitu, datang saja ke rumah kapan pun nak Fathur mau. Rumah selalu terbuka kok...." Papa menepuk pundak kiri belakang bang Fathur. Senyum ramah menyeringai mengiringi setiap tepukan itu.
"Om kalau ke rumah, tolong traktir Nisa lagi ya..., bawain Nisa es krim kayak dul...." Nisa menghentikan bicaranya, dia menatap ke arah ibunya yang seketika menutup mulutnya dengan tangan kanan. Papa pergi mengunci pintu pondok di kebun setelah memasukkan troli dan sebuah cangkul.
Melihat ulah mbak Nindya yang menutup mulut Annisa dengan tangannya, bang Fathur seketika mendekat ke arah keduanya yang sudah duduk di mobil pickup bagian depan. Dia melepaskan tangan mbak Nindy.
"Aku minta maaf, aku memang telah bersalah besar kepadamu. Tetapi jangan kau halangi hubungan gadis kecil ini dengan calon ayah sambungnya. Biarkan dia bersuara mengutarakan isi hatinya." Bang Fathur berbisik di telinga kiri mbak Nindya. Sementara tangannya mengelus rambut halus Annisa dari arah belakang mbak Nindya duduk.
"InsyaAllah kalau om ke sana bawa es krim itu lagi nak ya. Yang coklat campur vanila kan?" Bang Fathur tersenyum ramah bicara ke Annisa. Sementara mbak Nindya, menegakkan badan ke depan mencoba menjauh untuk menghindari wangi khas badan bang Fathur. Dia tidak ingin bayangan tadi kembali hadir.
"Maafkan abang ya sayang, jangan merajuk, karena itu hanya akan semakin membuat dada abang sesak merindukanmu." Bang Fathur kemudian berbisik lagi sambil menjauh. Papa sudah nampak kembali.
"Di kantong ada pisang dan pepaya, peramkan semalam dulu biar rasanya lebih manis, tolong bilangkan sama Naura." Mbak Nindya bicara pelan ke bang Fathur, dia hanya melirik sesaat lalu kembali memalingkan muka. Bang Fathur mengangguk dan melambai-lambaikan tangannya dari atas motor ke Annisa di dalam mobil yang perlahan berjalan menyusuri jalanan berpagar antara kebun mbak Nindy dan Haji Soleh. Bang Fathur dengan motornya mengiring di belakang. Di kepalanya ada banyak rencana yang ingin dia segerakan.
*****
(bersambung)
__ADS_1