
Sesampai di garasi aku melihat bang Zamy sudah membukakan pintu mobil untukku. Aku nurut saja, duduk di depan, di samping kursi sopir. Di samping abang kesayanganku.
"Oke..., ready?" Kebiasaan lamanya selalu begitu. Dia akan bertanya kepadaku sudah siap berangkat atau belum. Bang Zamy tersenyum kepadaku seolah-olah tidak ada yang terjadi. Seolah-olah malam ini masih seperti malam-malam sebelumnya, malam sebelum aku tahu statusku dalam keluarga. Malam sebelum aku tak tahu bahwa aku bukan anak kandung ayah dan ibuku, malam sebelum aku tahu bahwa ketiga saudaraku bukan saudara sedarahku. Aku mencoba tersenyum.
"Ready nona?" Bang Zamy mengulangi. Namun aku malas menjawab, kumonyongkan saja bibirku ke arahnya pertanda siap berangkat. Dia hanya mengacungkan jempol kanan.
Mobil mulai keluar dari rumahku, kami menelusuri jalan raya yang lengang. Cuaca habis hujan ditambah musim penyakit virus corona 19 membuat masyarakat kota Pangkalpinang enggan beranjak dari peraduan. Mungkin sebagian mereka sedang asyik bercengkerama dengan keluarga. Atau mungkin separuh dari mereka sedang pusing memikirkan pendapatan yang semakin minim saja saat ini. Tak urung virus corona telah memporak-porandakan perekonomian masyarakat dunia termasuk perekonomian Indonesia dan pasti Bangka Belitung sebagai negeri penghasil timah terkena dampaknya.
"Bee...," Tiba-tiba bang Zamy memanggil nama kesayangannya padaku saat berhenti di lampu merah DKT. Aku berhenti menunduk memainkan hape. Aku menatapnya sesaat lalu kembali mengalihkan pandangan ke jalanan yang basah.
"Kenapa adek jadi sangat pendiam?" Bang Zamy bertanya kepadaku. Aku hanya tersenyum kaku sambil mengangkat bahu.
"Nggak ada yang pendiam kok Bang Zamy. Naura masih sama, adiknya bang Zamy yang ceria." Aku mencoba mengelak. Padahal benar, aku merasa kurang bersemangat dan kurang konsentrasi. Seandainya saja 2 orang perawat asistenku belum menerima pendaftaran pasien di klinik, mungkin aku ingin istirahat saja di kamar. Tidur-tiduran sambil mengenakan headset memutar lagu-lagu sendu. Ya, setelah mengetahui statusku yang menjadi rahasia selama 28 tahun lamanya. Seakan ada bagian penting dari hidupku yang telah hilang. Ada kekecewaan mendalam yang tidak jelas untuk siapa. Ada amarah besar yang harus kusimpan sendiri. Ada sesal mendalam yang seakan tak mampu aku menerimanya. Aku, anak pungut, yang selalu banyak menuntut kepada orang tua dan saudara-saudaraku. Aku ingat dulu sewaktu SD, melihat bang Rahman mendapat sepeda baru, aku langsung merengek minta ganti sepeda baru, dan ayah ibu menurut saja dengan tak sedikitpun ada amarah. Betapa tak malunya diri ini, padahal hanya anak pungut. Pernah waktu SMA lagi booming motor matic keluaran terbaru, akupun langsung minta dibelikan motor matic kepada orang tuaku. Lalu tanpa banyak tanya mereka membelikan motor impianku. Kalau dipikir-pikir, sungguh aku tak bisa menempatkan diri pada posisiku. Bagaimana bisa seorang anak pungut, mengajukan keinginan kuliah di Fakultas Kedokteran Unsri Palembang dengan biaya ratusan juta. Tapi hatiku bicara aku tidak salah. Karena aku tidak pernah terpikirkan bahwa sebenarnya aku bukan anak kandung mereka.
"Bee..., jangan ngelamun dek dokter. Tak baik tau." Tiba-tiba bang Zamy kembali mengusik lamunanku. Aku hanya tersenyum.
__ADS_1
"Tidak kok bang. Naura tidak sedang ngelamun." Aku mencoba berkilah.
"Bagaimana tidak ngelamun, abang lihat matamu nanar melihat hape, tapi hapemu tidak bergerak sama sekali...." Bang Zamy kembali melanjutkan. Lampu merah telah berganti hijau. Kami kembali melaju perlahan.
"Masa bang?" Aku malah mengernyitkan dahi.
"Sudahlah Bee, abang tidak ingin melihatmu berubah seeee... diiii... kiiittt pun. Siapapun kamu ketika bayi, yang abang tahu kamu adik abang yang sangat abang sayangi. Jadi apapun kebenarannya saat ini jangan terlalu dipikirkan, jangan kamu terbebani." Bang Zamy kembali bicara, dia ingin mengelus kepalaku seperti biasa. Namun aku memajukan badanku, menghindar. Benar saja bang Zamy hanya tersenyum melihat tingkahku.
"Naura mencoba tidak memikirkannya bang, tetapi malah kepikiran terus. Naura bukan sedarah dengan abang. Naura bukan anak kandung orang tua abang. Dan abang tau kan? Bagaimana selama ini Naura bersikap? Bagaimana Naura bertingkah laku bahkan melebihi seorang anak kandung...." Aku mencoba sekuat tenaga agar air mata tak kembali jatuh. Namun sia-sia sudah. Kristal bening itu kembali bergulir perlahan.
"Mumpung lampu merah dek. Basuh sedikit mukamu. Kasihan nanti pasien-pasienmu akan bertanya-tanya melihat dokter favorite mereka berwajah sembab." Bang Zamy berhenti lagi di lampu merah jalan Mentok. Lalu tanpa menjawab, aku mengambil botol air mineral, menumpahkan ke saputanganku dan mengelap-ngelapkan ke wajah seputar mata. Kemudian di spion tengah kulihat wajahku yang sudah lebih cerah.
"Nah begitu jauh lebih cantik."
"Apaan sih abang, kan dari dulunya memang sudah cantik...."
__ADS_1
"Tapi kalau tanpa menangis akan semakin cantik Bee...."
"Tauk ah. Abang nanti parkirnya lewat jalan belakang saja. Ke dekat arah kamar abang. Aku mau masuk lewat apotik." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Baik nona!" Bang Zamy memutar mobil menuju garasi di samping. Kulihat mobilnya terparkir juga di sana. Mobilku tidak bisa masuk, parkirnya di pinggir jalan saja. Sebelum masuk ke ruang praktik kulihat ruang tunggu sudah penuh. Separuh pasien bang Zamy dan separuh pasienku. Beberapa orang anak bahkan terdengar menangis, mungkin sudah bosan menunggu.
Aku meminta perawat agar kembali mengatur jarak pasien sesuai aturan social distancing dalam usaha memutus mata rantai penularan penyakit virus corona 19/covid-19. Kusuruh separuh meraka menunggu di samping ruangan, separuh lagi di halaman depan dekat pagar. Walaupun gerimis tetapi sudah menggunakan atap baja ringan, jadi mereka tidak akan kebasahan. Perawat membawa beberapa kursi plastik ke sana. Sekali lagi kupastikan mereka tidak bergerombol dan agar tetap menjaga jarak dengan sesama pasien antara 1-2 meter. Memang sesama keluarga pasien masih bekumpul sekitar 2 atau 3 orang. Karena yang dibawa mereka anak kecil wajar jika ada yang mendampingi. Aku melihat sekeliling, selalu mengangguk dan tersenyum ramah kepada mereka yang baru melihat dan langsung memanggilku begitu aku muncul.
"Dokteeerrr...."
"Dokteeerrr...."
"Dokteeerrr...."
Setelah perawat memberikan rekam medis pasien-pasienku, mulailah aku dengan tugas dan sumpah dokterku. Selain untuk memberikan tindakan pencegahan penyakit pada anak yang sehat, juga memberikan pengobatan pada anak yang sakit, baik penyakit sudah akut maupun kronis. Kuyakin mereka sudah lama menungguku. Maka aku tidak boleh mengabaikan lagi. Saatnya bekerja, konsentrasi dan melupakan beban pikiran yang hanya membuatku menjadi lesu saja. Aku dokter Naura, dokter hebat yang sudah terkenal di kota ini. Aku harus bekerja profesional. Aku membuka hoodie yang kukenakan. Menggantungnya di gantungan belakang kursi tempatku duduk. Pasien pertama masuk. Aku menyambutnya dengan senyuman termanis.
__ADS_1