Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 52 Anak Baik


__ADS_3

"Hey nak, apa yang kau lakukan. Jangan bermain dengan kekerasan. Letakkan senjatamu, dan kita bisa bicarakan secara kekeluargaan." Kakek memohon kepada Dirga. Namun Dirga malah mendekati kakek dan mengarahkan pistol tepat di keningnya.


"Secara Kekeluargaan? Apa kau mengakui aku bagian dari keluargamu kakek tua? Aku tidak membutuhkan semua harta yang kau miliki apalagi harta wanita yang sekarang telah menjadi hantu...."


"Hey...! Jangan bicara sembarangan. Jaga bicaramu." Aku tersinggung mendengar Dirga merendahkan mama.


"Diam! Tutup mulutmu! Atau akan kuledakkan kepala kalian di sini." Dirga membentakku marah. Moncong pistolnya dia arahkan kepadaku. Bang Zamy menarikku yang sempat berdiri karena emosi. Aku menurut saja. Kembali duduk di sebelahnya.


"Sekarang katakan saja, siapa ayahku? Siapa ayahku pak tua?" Dirga kembali meradang. Dia mondar mandir mengelilingi kakek dengan pistol di tangan mengarah ke kepala.


"Tenanglah nak, jangan emosi begitu, kita bisa bicarakan...,"


"Diam! dan cepat katakan! Siapa yang memperko*a mama. Mamanya Naura maksudku." Dirga emosi. Kami semua diam. Badannya yang tinggi atletis, putih, tampan berhidung mancung, sungguh tidak disangka memiliki amarah yang dalam. Sejenak hening.


"Pak Victor, kasih masukan kepadaku. Aku apakan mereka?" Dirga mendekati pak Victor.


"Terserah Dirga." Pak Victor menjawab pasti. Tidak ada nada menyarankan kebaikan. Sampah dari apa mulut pengacara satu ini. Aku marah dalam batin.


"Bagaimana jika aku membun*h ketiganya?" Dirga kemudian bertanya lagi.


"Silahkan saja. Tetapi jangan libatkan aku di dalamnya." Pak Victor kembali menjawab santai.


"Hey Victor, jawaban apa seperti itu? Seperti kacang lupa akan kulitnya. Kau lupa, kau besar karena aku. Kau dikenal banyak orang karena seringnya berkerja bersamaku. Lantas secara tersirat kau mengiyakan agar Dirga membun*hku? Membun*h kami? Apa yang kau inginkan?" Kakek melotot marah kepada pak Victor yang tersenyum menang.


"Masa itu berbeda pak Ezo, masa dulu dan sekarang tidak bisa disamakan. Sekarang tandatangani saja semuanya, pemindahan kepemilikan atas nama ahli waris." Pak Victor menyorongkan lembaran kertas ke kakek. Kakek perlahan membuka tutup pena, dan bersiap menandatangani dokumennya.


"Terima kasih pak Victor." Dirga bicara sinis.


"Sama-sama pak Dirga." Pak Victor membalas sambil menunjuk-nunjuk posisi tandatangan yang harus diisi kakek.


"Maksudku, terima kasih sudah menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya dan membawaku ke sini."


"Apa maksudmu?" Pak Victor sedikit curiga.


"Kakek berhentilah menandatangani dokumen itu." Dirga meletakkan senjata ke meja. Dia menepuk pundak kakek perlahan.


"Ini hanya mainan kek. Lihatlah, tidak ada pelurunya." Dirga menggoncangkan pistol itu kembali. Kakek bernafas lega. Aku dan bang Zamy berkerut kening tak mengerti, namun tetap dalam posisi siaga. Bang Zamy meletakkan tangan dekat pistol di pinggangnya. Di perjalanan dia sudah mengatakan harus berjaga-jaga, karena meninggalnya mama yang tidak wajar. Takutnya banyak yang menyalahkan aku sebagai istrinya.


"Sudah berapa lama kakek bekerjasama dengan pengacara kotor ini kek?" Dirga menunjuk muka pak Victor. Kakek kebingungan.


"Paling tidak sudah tiga puluh tahunan. Itu perkiraanku. Dan entah sudah berapa banyak harta benda disimpannya atas nama pribadi."


"Hey Dirga, apa maksudmu?" Pak Victor kaget mendengar Dirga berubah menjadi berpihak kepada kakek.

__ADS_1


"Aku hanya bermaksud melindungi aset keluarga ini pak Victor. Mungkin iya kelahiranku tidak dikehendaki banyak orang. Aku terlahir di panti asuhan, dididik di panti asuhan sekian lamanya. Di sana tidak ada yang mengajarkanku untuk membunuh sesama hanya demi warisan. Tidak ada yang mengajarkanku di panti asuhan untuk membenci orang yang membenciku. Agamaku cinta damai. Begini-begini aku penggemar Ustad Abdul Somad pak Victor. Aku dari usia tujuh belas tahun, sejak tahu kisahku. Yang dititipkan kelahirannya bahkan sudah di dalam panti, aku mencoba menerima ini sebagai takdirku. Bukti sayang Allah telah menempaku menjadi orang kuat. Aku ada, terlahir dan nanti mati, itu sudah takdirku, takdir itu ketika aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku berterima kasih pak Victor atas...."


"Hey Dirga jangan bertele-tele. Apa maksudmu?" Pak Victor berdiri


Wajahnya yang agak legam, seketika berubah menghitam karena marah.


"Sudah jelas kan?" Dirga bicara santai sambil duduk di sebelah kakek. Kakek menatapnya heran.


"Bagaimana dengan perjanjian kita Dirga?" Pak Victor bertanya melunak. Dirga hanya menggeleng tersenyum sinis.


"Perjanjian kita? Pak victor, meski aku pernah tertatih sambil berjualan keripik ubi di kampus dan menitipkannya di warung-warung untuk biaya kuliah. Sekarang aku seorang Sarjana Hukum. Aku paham betul di mana posisiku yang secara hukum negara maupun agama tidak berhak menuntut hak waris. Lagian itu adalah harta yang didapatkan mama dan papanya Naura, bukan dari ayah biologisku yang entah siapa." Dirga dewasa sekali menjelaskan. Aku kebingungan.


"Apa arti semua ini Victor?" Kakek membelalakkan mata tak mengerti.


"Ini kek, salinan perjanjian kami." Dirga memberikan kopian dokumen pra pemindahan hak waris. Dalam berkas disebutkan sebagai imbalan telah membantu Dirga mendapatkan yang bukan seharusnya, pak Victor berhak menerima tiga bidang tanah mama yang tanpa bangunan.


"Kurang ajar sekali kau Victor!" Kakek hendak menamparnya. Namun tak disangka-sangka, sekejap mata pak Victor menarik pistol di saku jas bagian dalam.


"Cepat tandatangani, atau kudor kepalamu pak Ezo." Aku melihat pistol pak Victor asli adanya. Aku begitu cemas, namun bang Zamy seketika melompat berpegang kepada sandaran sofa, menendang siku pak Victor yang seketika terjatuh. Dirga menendang pistol menjauh, hingga berputar dan sampai ke kursi ujung ruangan. Pak Victor bangkit akan mengambil kembali pistol itu. Namun bang Zamy kembali menendang kakinya. Pak Victor terjatuh telungkup, wajahnya mengenai lantai tanpa karpet, bibirnya berdarah.


"Pak Ezo..., kau akan mendapatkan akibatnya nanti. Semua dokumen palsu pelepasan kawasan DAS dan hutang lindung akan kubongkar!" Pak Victor memungut berkas-berkasnya dan segera pergi dengan membanting pintu kaca. Kami berpandangan.


"Terima kasih nak Zamy. Terima kasih banyak." Kakek Ezo berterima kasih kepada bang Zamy yang hanya mengangguk.


"Kakek istirahatlah. Kami akan pulang dulu, insyaAllah kami akan sering menemui kakek jika kakek mengizinkan." Aku mendekati kakek Ezo. Bagaimana pun jahatnya dia di masa dulu, sekarang dia sudah renta, dan dikelilingi orang-orang yang tidak jelas. Aku harus berdiri di samping, untuk menjaganya. Tak ingin ada kejadian kedua kalinya.


"Kek, nenek tidak pernah ada, apa beliau masih hidup?" Aku iseng bertanya sebwlum pulanh.


"Hehe..., nenekmu sudah lama meninggalkan kakek. Sejak kakek menikah lagi dengan orang lain." Kakek malu-malu menjawab.


"Jadi? Di rumah ini kakek dengan siapa?" Aku kembali bertanya.


"Kakek dengan para pelayan saja."


"Istri baru kakek?"


"Semua telah pergi, keempat-empatnya tidak ada yang betah."


"Empat? Istri kakek sampai empat?"


"Hehe iya. Itu yang secara hukum negara disahkan. Yang nikah siri ada tujuh kali. Kesemuanya sudah kakek tinggalkan. Mereka hanya mengincar harta kakek." Kakek terkekeh. Aku dan bang Zamy berpandangan bingung. Sehebat itukah seorang Gubernur yang diagung-agungkan dimasanya dulu? Sementara Dirga, dengan gayanya yang lucu, dia berdecak kagum mendengar kakek memiliki bahkan sampai sebelas istri.


"Apa ada jampi-jampi yang bisa diwariskan kepada bujang lapuk ini kek?" Dirga mendekati kakek.

__ADS_1


"Pergilah kau ini. Cari kamar yang cocok jika ingin tinggal di sini." Kakek mengusir halus Dirga, nadanya dia menerima bagian dari keturunannya itu. Aku bahagia melihatnya. Secara kasat mata, memang Dirga, tidak sedikitpun nampak seperti laki-laki jahat. Di awal dia hanya nampak sedikit misterius saja. Aku dan bang Zamy pulang.


"Hey, adindaku yang cantik. Sudikah membagi nomor handphone denganku?" Dirga tiba-tiba menghalangi jalanku. Bang Zamy mendorongnya segera.


"Mungkin boleh, tapi tidak saat ini." Bang Zamy menyingkirkan Dirga di dekatku. Saat berjalan akan keluar pagar rumah besar itu, kulihat dokter Nina turun dari mobilnya. Dia mengenakan gaun hitam selutut dengan pita terikat cantik di pinggang rampingnya. Sepatu hitam runcing berhak tinggi begitu menambah pesonanya.


"Naura!"


"Nin!"


Kami berpelukan.


"Saya baru mendapat kabar, mana susah mendapatkan tiket pesawat dari Jakarta." Nina menjawab.


"Kau di Jakarta selama ini?"


"Sebentar saja, mengisi waktu. Aku cuti kerja, dan akan masuk kembali pasca lebaran. Eh selamat Idul Fitri ya, mohon maaf lahir batin." Nina hangat sekali bertemu denganku.


"Zam? Kau tambah sehat sekarang, berapa kilo naik berat badanmu dijamu Naura?" Nina menyalami bang Zamy pula. Bang Zamy hanya tersenyum.


"Maaf lahir batin ya."


"Sama-sama."


"Saya pamit, mau ketemu kakek dan ke pusara mama." Nina bicara dengan raut wajah sedih.


"Mau ditemani?" Aku menawarkan.


"Tidak terima kasih Naura." Nina masuk menemui kakek. Bang Zamy menggandengku menuju pintu gerbang yang tinggi dan kokoh.


"Adek cantiiik, kalau minta nomornya cewek cantik tadi boleh?" Dirga kembali menghalangi jalanku. Bang Zamy menepisnya.


"Minta sendiri sana." Bang Zamy menjawab. Dirga cemberut sambil membantu satpam membukakan pintu gerbang.


"Aduuhh..., adik iparku seperti macan. Aggghhh!" Dia mencengkeramkan jari jemarinya. Bang Zamy menoleh.


"Iya iya saya akan minta sendiri nomornya." Dirga mundur-mundur melihat ekpresi bang Zamy.


"Siapa yang tadi kau rutuk seperti macan?" Bang Zamy bertanya.


"Nggak bukan seperti macan, seperti kucing, meooong...." Dirga menirukan suara kucing dengan ekpresi tangannya, dia tersenyum lucu. Aku dan bang Zamy tersenyum kecil, berpandangan, lalu berjalan menuju ke arah mobil kami di parkir.


"Kurasa dia anak baik." Bang Zamy bicara kepadaku.

__ADS_1


"Semoga saja. Biar ada yang menjaga kakek." Adzan berkumandang. Waktunya sholat Dzuhur. Bang Zamy memayungiku dari teriknya matahari dengan kedua telapak tangannya. Aku berpegang ke pinggangnya yang memang sudah mulai berlemak.


__ADS_2