
Bang Fathur mampir di sebuah bengkel mobil sederhana yang pertama mereka temui setelah kejadian ditabrak motor mbak Nindya. Mereka ingin memastikan saja bahwa mobil masih layak digunakan sampai ke Mentok meski tadi sempat sedikit mengeluarkan asap. Tetapi untuk penyok-penyok bagian depan, butuh waktu dan bengkel khusus untuk memperbaikinya. Sekitar tiga puluh menit istirahat sambil menikmati kopi di bengkel saat menunggu perbaikan, mobil rental yang ditumpangi bang Fathur kembali melaju menuju Muntok Bangka Barat.
"Haaahhh?" Tepat jam lima ibu sangat kaget dengan kehadiran bang Fathur di depan rumah lengkap dengan mobil rental yang hancur bagian depannya.
"Fathur? Kok pulang tidak kasih kabar-kabar dulu sih nak?" Ibu berdiri di kursi ingin memeluknya, namun bang Fathur seketika mundur.
"Nanti saja bu, Fathur mau mandi dulu dan meletakkan pakaian semua ke belakang." Bang Fathur meletakkan kantong kresek merah besar yang dibawanya. Kemudian dia mengeluarkan koper kecil tempat pakaiannya dari kantong tersebut, lalu dia membuang kantong plastik ke tempat pembuangan sampah yang ada di seberang jalan rumahnya. Ibu menuruti, melongok ke kamar mandi belakang dan memastikan masih ada handuk baru, kering dan terlipat di rak kamar mandi.
"Ya sudah mandi sana. Tapi kok heran kemana Vioni sama Oyan?" Ibu menanyakan menantu dan cucu pertamanya. Bang Fathur segera ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan ibu. Saat mencari-cari siapa tahu ada menantu dan cucunya di dekat mobil, ibu melihat sopirnya asyik merokok di belakang mobil sambil mengibas-ngibaskan topi ke lehernya. Dia duduk longgar di pinggir pot besar Anthurium Plowmanii Croat kesayangan ibu.
"Eh, kamu duduklah dulu di teras, ibu buatkan kopi." Ibu berbasa-basi kepada sopir mobil rental yang disuruh bang Fathur menunggu.
"Terima kasih tante, saya menunggu di sini saja." Sopir itu menjawab ramah. Ibu ke dapur akan membuatkan kopi untuk sopir yang menunggu, dan setelah selesai, ibu mengantarkannya ke dekat sopir beserta cemilan ringan. Sekembalinya ke dapur lagi, ibu mendapati bang Fathur sudah selesai mandi dan berganti baju. Dia mendekati ibu sambil mengelap-ngelapkan handuk ke rambutnya yang habis keramas.
"Bu, sopirnya belum pergi ya?" Bang Fathur bertanya ke ibu, dia berpura-pura tidak tahu, padahal dialah yang dengan sengaja menyuruhnya menunggu.
"Belum." Ibu menjawab sambil matanya tetap menatap wajah putra sulung yang lama tidak berjumpa dengannya.
"Kau kurus sekali nak?" Di video nggak kurus-kurus banget perasaan." Ibu menatap bang Fathur lagi penuh selidik. Di kepalanya mulai berkecamuk praduga-praduga yang menimpa anak sulungnya. Fathur hanya berdehem mengiyakan kekurusannya. Dia tidak menjawab dengan jelas.
"Bu, ibu ada uang kes?" Kemudian dia meletakkan handuk di atas kursi makan, lalu memeluk ibu dengan hangat. Seperti memeluk bang Fathur di usia balita, ibu memeluknya dengan iba. Ibu mampu membaca kegelisahan dari nada suara putra tertuanya itu.
"Berapa? Untuk apa?" Ibu melepaskan pelukan anaknya.
"Tolong bayarkan ganti rugi kerusakan mobil dong bu." Bang Fathur menunjuk depan mobil rentalnya yang sudah penyok sana sini bagian depan. Beruntungnya kaca tidak pecah.
"Berapa?" Ibu menjawab.
" Paling mahal tiga juta sih bu membenarkan itu." Bang Fathur kembali menunjuk mobil yang terparkir di belakang mobil ibu.
"Kenapa bisa begitu nak? Kalian tabrakan? Harusnya kan bisa fifty-fifty dong sama sopir...." Ibu menyarankan dengan arti protes.
"Dia nggak salah lho bu." Bang Fathur menjawab.
"Kalau begitu siapa yang salah?" Ibu penasaran.
"Nggak ada yang salah bu, tadi ada wanita tidak sengaja menabraknya dari arah depan." Bang Fahur menjelaskan.
"Mobil juga?" Ibu antusias dan khawatir.
"Motor bu, dia membawa banyak barang." Bang Fathur kembali bicara.
"Bagaimana keadaannya nak?" Ibu semakin khawatir.
"Tidak apa-apa." Bang Fathur menjelaskan.
"Owh sukurlah...." Ibu membawa bang Fathur berjalan menemui sopir.
"Dek nanti kalau sudah dibenarkan mobilnya kirim struk dari sana ya." Seperti sudah sepakat, ibu kemudian menuju kamarnya. Dia membuka brangkas dan mengambil uang tiga juta rupiah. Dia kembali menemui sopir bang Fathur.
"Ini dek ibu kasih untuk ganti rugi mobil tiga juta. Misal kurang kirim nota dan lainnya, nanti kami bisa menggantinya lagi. Dan kalau lebih, adek ambil saja tidak perlu dikembalikan." Ibu memberikan lembaran kertas berharga itu. Sopir menerimanya dengan sedikit keraguan.
"Terima kasih bu. Tetapi...," Sopir tergagap bicara.
__ADS_1
"Tetapi apa? Kurang?" Ibu menatap mata sopir yang ingin mengatakan sesuatu.
"Kalau ini untuk bayar ganti rugi, uang sewanya belum termasuk kan bu?" Sopir bertanya lagi dan ibu mengerutkan keningnya sambil menatap putra kesayangan.
"Apa sewanya belum dibayar sayang?" Ibu bertanya pelan ke bang Fathur yang hanya mampu menunduk malu. Ibu ke dalam lagi, memberikan sewa kendaraan seharga lima ratus ribu dan mengajak bang Fathur masuk ke dalam rumah setelah sopir pamitan dan pergi.
"Mau makan?" Ibu sudah merasakan gelagat tidak baik, melihat keadaan anaknya.
"Nanti saja, abang sudah makan tadi di Kelapa." Bang Fathur menjawab, Ibu diam lagi sejenak.
"Bagaimana kabarnya Vioni dan Oyan? Kenapa mereka tidak bersamamu?" Ibu mulai memancing.
"Jangan tanyakan Vioni lagi bu, aku sudah menceraikannya."
"Menceraikan? Apa yang terjadi nak?" Apa kau tidak ada pilihan lain lagi selain bercerai?" Ibu nampak panik.
"Tidak bu, aku sudah sangat lelah. Dia begitu hedonis, memanfaatkan kelemahanku dan ibu."
"Bagaimana bisa begitu nak?" Ibu heran.
"Iya, buktinya memang seperti itu." Bang Fathur bernada kesal menjawab. Sesaat suasana hening.
"Bagaimana mungkin nak, kau tak punya uang sedikitpun bahkan hanya untuk sekedar bayar rental mobil." Ibu bicara sambil menggeleng-gelengkan kepala beberapa detik kemudian.
"Rekening abang tidak dia kembalikan bu. Mohon jangan diisi lagi." Bang Fathur menjelaskan kembali. Nampak dia benar-benar telah bulat untuk menceraikan istrinya.
"Jadi selama ini bagaimana belanjamu?" Ibu semakin mencemaskan anak sulungnya itu.
"Abang ngajar di beberapa kampus bu, yang di almamater abang kan sudah kontrak, jadi penggajian melalui rekening. Rekening dipegangnya. Minta lima ratusan saja susahnya minta ampun. Uang habis dia kirimkan ke keluarganya di Palembang. Kirim mamanya, sebentar kirim uang kuliah adiknya, sebentar ayahnya mau ganti motor, benarkan rumahmya. Jadi honor kes dari kampus lain itu yang abang pegang...."
"Ya dia yang pakai...." Bang Fathur nampak kesal. Sementara ibu hanya tersenyum.
"Kenapa ibu tersenyum?" Bang Fathur bertanya melihat ibu memasang senyum dari tadi.
"Bukankah dulu saat kalian masih pacaran, ibu sudah ingatkan. Dia itu matre Thur, cari yang lain saja..., ibu bisa melihatnya. Tapi apa katamu? Nggak bu, ibu belum kenal saja sama Vioni. Dia bahkan sering membayar saat kami makan bersama. Membelikan barang mahal dan selalu memberikan hadiah." Perkataan ibu kembali membuka flashback tentang Vioni di masa lalu. Bagaimana dulu saat lamaran dan uang hantaran yang sangat besar dipinta keluarga itu dan dia menyanggupi.
"Dulu dia tidak seperti itu." Bang Fathur bicara lesu.
"Yah sudahlah, tapi bagaimana mungkin kau menceraikan istrimu, sedangkan ibu belum sekalipun memeluk cucu ibu. Dia pasti tidak akan memberikan kesempatan jika dia benar-benar kau ceraikan." Ibu mengeluhkan keinginannya memeluk Oyan, cucu pertamanya yang selama ini hanya dia lihat melalui panggilan video.
"Tenanglah bu, nanti pasti ada kesempatan." Bang Fathur menjawab. Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba saja ayah pulang.
"Lho kapan datangnya?" Ayah keget melihat kehadiran bang Fathur yang tiba-tiba.
"Ibu juga terkejut tadi yah." Ibu menjelaskan. Tak lama kemudian adzan Magrib berkumandang, ayah segera membersihkan diri dan mengejar ke masjid untuk sholat berjamaah. Kali ini dia ke masjid bersama bang Fathur, duda keren yang sangat tampan namun nasib cintanya belum beruntung.
*****
Sepulang dari masjid, ayah mendekati ibu yang sedang menyiapkan makan malam.
"Katanya sudah kangen Naura, dan habis Magrib mau ke Pangkalpinang. Jadi tidak?" Ayah bertanya kepada ibu.
"Fathur baru pulang yah, dia pasti capek." Ibu menjawab.
__ADS_1
"Nggak apa-apa ibu, pergi saja kalau mau pergi malam ini. Abang menyusul besoknya biar ketemu Zamy dan Naura." Bang Fathur menjawab.
"Lagian abang masih lama kok di Bangka, kalau sudah laku mobil dan rumah, insyaAllah Abang menetap di Bangka deh. Abang diam-diam ikut tes di UBB dan keterima." Bang Fathur tersenyum bahagia kali ini.
"Benarkah? Dulu kamu tidak mau sama sekali mengabdi di Bangka, maunya di kampus almamater, setelah ketahuan borok istri baru mau pulang." Ibu mengingatkan bang Fathur.
"Kalau di Pangkalpinang, kau bisa tinggal di rumah klinik atau di villa rumahnya Naura." Ibu langsung menyarankan.
"Iya bu, nantilah." Bang Fathur menjawab lelah.
"Sehabis makan malam, istirahatlah dulu nak, kau pasti lelah." Ibu menyarankan.
"Iya bu, tapi abang mau surprise kepada Rahman dulu.
"Terserah kalian saja." Ibu masuk ke ruang nonton tivi.
*****
Keesok harinya, kebetulan Sabtu, ayah, ibu dan bang Fathur berkunjung ke Pangkalpinang. Mereka merahasiakan kepada Zamy dan Naura tentang kepulangan bang Fathur yang bahkan membawa cerita telah bercerai dengan Vioni dan akan menetap di Bangka Belitung setelah semua properti terjual.
"Mereka pasti akan terkejut, melihat kehadiranku tiba-tiba. Semoga saja mereka tidak sedang di rumah sakit ya bu." Bang Fathur bicara saat mobil yang dikendarai ayah sudah berada di depan MAN Pangkalpinang di jalan Mentok.
"Iya-iya, pasti kaget. Lebih-lebih Naura bisa pingsan mendengar kau bercerai." Ibu bicara mangut-mangut. Di hatinya bercampur aduk perasaan antara sedih dan bahagia atas kepulangan bang Fathur dari Jogyakarta ke Pangkalpinang.
"Rumahnya sudah semakin dekat. Abang tidak sabar ingin melihat wajah cantik Naura." Bang Fathur kembali tersenyum.
"Iya, tapi sekarang dia bukan hanya sebagai adikmu, tapi dia juga adik iparmu." Ibu mengingatkan.
"Iya bu, tenang saja." Bang Fathur menjawab. Ayah sudah membelokkan mobil, masuk ke pekarangan. Fredy tersenyum ramah membukakan pintu teralis.
"Kok tumben sekarang sudah pakai satpam." Bang Fathur bicara ke ibu dengan pandangan keheranan.
"Iya sejak kejadian almarhum ibu kandungnya Naura berkirim teluh segala ke dalam rumah untuk memisahkan Naura dan Zamy." Ibu menjelaskan. Bang Fathur kembali mengangguk mengerti. Tiba-tiba matanya melihat seorang wanita berayun-ayun kaki, bersender santai di balai-balai bawah pohon rambutan, bang Fathur seketika meminta agar ayah menghentikan mobil dan dia turun berjalan mengendap-endap mendekati wanita yang sedang membaca novel sendirian itu.
"Thur...," Ibu memanggil bang Fathur dan ingin mengatakan kalau itu bukanlah Naura. Namun seketika bang Fathur menutup mulut dengan jemarinya. Ibu kebingungan bagaimana lagi menjelaskannya karena dalam sekejap saja, bang Fathur secara mendadak telah merapatkan kedua tangannya menutupi mata wanita itu. Dia tersenyum-senyum bahagia merasa telah mengagetkan adik kesayangan mereka sejak kecil itu.
"Siapa?" Terdengar suara wanita itu bertanya. Seketika ada keraguan di hati bang Fathur mendengar suaranya berbeda dari suara Naura yang khas. Namun otaknya seketika bicara, mungkin wanita hamil sedang berubah suaranya, atau Naura sedang pilek. Wanita itu melepaskan buku novel yang sedang dibacanya dan tangannya berusaha melepaskan tangan yang menutupi kedua matanya.
"Tolong lepaskan." Dia bicara lagi. Namun Bang Fathur semakin senang menggoda adiknya. Dia selain menutup mata wanita itu, juga mulai mencium rambutnya yang wangi. Kemudian seketika tangannya dia pindahkan ke leher, menekan pundak dan mencium pipi wanita itu.
"Hei lepaskan." Wanita itu berteriak lagi.
"Coba tebak siapa yang datang?" Bang Fathur kembali meletakkan tangannya ke mata. Mengabaikan hardikan wanita yang sedang marah.
"Siapa kau? Lepaskanlah tanganmu. Sebentar lagi Zamy dan Nuara akan datang. Mereka akan menebas tangan usilmu. Dasar mesum!" Wanita itu marah dan dia menghempaskan tangan bang Fathur yang keheranan. Nampak olehnya dari mobil yang baru datang, turun aku dan bang Zamy. Dengan raut wajah penuh tanya, bang Fathur berjongkok memastikan. Kepalanya dia julurkan lebih dalam melihat siapa yang telah dia cium kening dan pipinya. Mbak Nindya menoleh dengan muka memerah.
"Kamu?"
"Kamu?"
Ibu menahan senyum menarik perut bang Fathur yang seketika wajahnya pias menahan malu.
"Maafkan ibu Nindy, dia tadi mengira kamu adalah Naura." Mbak Nindya menunduk mengiyakan. Bang Fathur mengerutkan kening, bergantian menatapku dan mbak Nindya yang perlahan mulai berjalan menuju rumahku. Jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
"Naura? Nindya? Mereka nampak seperti pinang dibelah dua, hanya yang sudah kucium tadi, nampak sedikit lebih tua dan hitam. Bang Fathur menggeleng-geleng sendiri, mencoba menata wajah karena sudah terlanjur malu. Ayah tersenyum kecil bersama ibu. Sementara aku dan bang Zamy masih kebingungan belum mengerti apa yang telah terjadi di antara mereka sebelum kami datang.
*****