
Hari Raya Idul Fitri tiba. Meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, masjid di dekat rumah ibu telah menggemakan takbir.
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"
Merdunya alunan suara takbir yang berkumandang, berulang dan bersamaan para jamaah itu membuatku tersibak-sibak kepada masa lalu. Betapa hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Di awal perjalananku, aku menemukan diri ini terhempas tiada arti seperti sampah membusuk. Dibuang orang yang tak punya hati. Aku yang dulu ditukar seseorang yang dendam kepada ayah biologisku, telah mengantarku menjadi sosok yang disayang dalam keluarga baru. Meski di ujung-ujung perjalanan aku pun baru mengerti bahwa semua kisah panjang ini, semua kisah menyedihkan di awal adalah cara Allah menyelamatkanku dari orang-orang yang gila harta, berhati busuk dan terlalu cinta dunia. Sebuah kisah panjang yang hingga membuatku jatuh kepada pelukan hangat orang tua angkatku dan kasih sayang saudara-saudaraku. Ada sesak mengingat semuanya. Ada kesedihan menyelinap di sanubari membayangkan wanita yang telah melahirkanku harus mendekam di jeruji besi di hari raya, semua hanya karena keegoisannya. Bagaimanapun jahatnya dia, tetap ada cinta bersemayam di dalam jiwaku. Aku tetap bagian dari darah dagingnya. Bagaimanapun aku tidak menyukai sikap dan sifatnya, aku tetap tidak bisa menghilangkan perasaan cinta kepadanya. Lalu tanpa kusadari air mataku menetes perlahan membasahi pipi.
"Sayang? Kenapa menangis? Adakah yang membuatmu bersedih?" Bang Zamy tiba-tiba mengagetkan lamunanku. Kuusap air mata seketika. Aku tersenyum.
"Eh, iya bang. Tidak..., tidak ada yang membuat adek bersedih." Aku berkilah. Bang Zamy yang sudah siap ke masjid berhenti duduk di sebelahku.
"Adek kasihan dengan mamamu ya. Namanya juga anak baik, pastilah adek merasakan itu. Kalau mau mencabut laporan...."
"Tidak tidak tidak bang. Biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Jika tidak begitu, mungkin mama tidak akan berubah hingga tutup usianya." Aku menjawab cepat. Dia bisa mengerti bahasa yang bahkan tidak kuucapkan sama sekali.
"Ya sudah kalau begitu, jangan bersedih lagi. Abang mau sholat Id ke masjid ya." Bang Zamy pun pergi ke masjid bersama ayah dan bang Rahman. Subuh tadi diumumkan yang mau sholat Id wajib membawa sajadah sendiri, tidak membawa anak kecil dan para lansia disarankan sholat sendiri di rumah masing-masing. Setelah mereka pergi, aku beranjak dari dudukku. Kulihat ibu sibuk menata kembali segala kue dan menu lain di hari raya. Meski masih bergejolak kasus covid-19, ibu masih menyiapkan hidangan seperti biasa. Karena rumah ibu, meskipun bukan asli warga Mentok merupakan rumah tempat orang-orang yang jarang menyantap daging menikmati daging. Tempat orang berpuas diri menikmati segala hidangan yang ada. Mulai dari tetangga, keluarga besar Panti Asuhan Aisyah, teman-teman dan staf kantornya, teman arisan, teman-teman ayah dan warga yang dulu pernah ngontrak di rumah dekat kami. Semua masih menjalin silaturahmi yang baik dengan ibu. Terbukti, saat sudah menjelang jam 10 pagi, tamu-tamu berdatangan tiada henti. Apalagi anak-anak, kenal atau tidak berganti-ganti berombongan hadir mengharapkan THR. Ibu tidak pelit, dia sudah menyiapkan bahkan 150 amplop karakter anak-anak berisi sepuluh ribu rupiah.
"Bu, Naura bantu apa?" Aku masih seperti ABG labil yang tidak tahu harus membantu bagian mana. Karena dari kecil aku tidak diperkenankan bude Marni bahkan untuk mencuci sebuah piring.
"Duduk saja nak. Atau susun minuman kaleng ke meja depan. Biar ibu yang angkat dus-dusnya."
"Oke.!" Aku pun menuruti perkataan ibu. Menyusun minuman kaleng ke meja. Walet, teh kotak, cincau, dan Bolesa gelas(salah satu merk air mineral kemasan di Bangka Belitung). Setelah selesai aku membantu ibu menyusun mangkok-mangkok keramik cantik, meletakkannya di dekat panci bakso yang sangat besar. Siapapun bisa mengambil sendiri, sepuasnya, sementara menu lainnya juga telah siap dinikmati. Tak lama berselang ketiga laki-laki kesayangan sudah pulang dari masjid. Kami bersalam dan berpelukan, saling maaf memaafkan. Bahagia di hari raya sambil menyantap hidangan yang lezat. Tiba-tiba saja, di tengah badai bahagia, dadaku terasa sesak. Ada ngilu di ulu hati, ada debaran mendadak bergelombang hingga terasa sampai ke kepala. Ada detakan jantung yang menghentak tajam, perlahan menurun dan hilang. Aku gelisah, namun mencoba menyembunyikan semuanya. Pertanda apakah ini? Mengapa aku merasakan hal yang tidak nyaman? Dadaku masih saja berdebar cemas, aku semakin gelisah tanpa alasan. Namun tetap mencoba tersenyum dan menikmati kebahagiaan keluarga.
*****
Pada saat yang bersamaan. Seseorang nun jauh di sana sedang menulis sebuah pesan di sebuah kertas pemberian sipir wanita. Dia berada di penjara untuk menunggu penyelesaian Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh polisi ke kejaksaan. Namun menurut lima orang kuasa hukum yang disewa keluarganya, kali ini kecil sekali peluang untuknya bisa lolos dari jeratan hukum.
"Untuk anakku Naura...,
Selamat berbahagia di hari raya ini. Sebenarnya, nun jauh di lubuk hati mama yang terdalam, ada rindu yang terhalang, ada cinta yang membuncah namun dipaksa sirna oleh hati yang mati.... Di jiwa mama yang kosong kerontang, ada ruang untuk kau tempati, namun selalu hinggap amarah sehingga bahagia perlahan pergi. Mama menyesal, mama terlalu egois.... Mama sangat menyayangimu, namun engkaulah orang yang paling mama benci hingga saat ini setelah Miranti.... Engkaulah yang paling mama harapkan namun kebaikan hatimu terbagi.... Mengapa kau hadirkan Mira lagi? Mengapa kau hancurkan mama? Mengapa kau biarkan papamu tak kembali ke sisi mama di sisa usia? Padahal tidak banyak harapanku kepadamu, mama ingin kau tinggal bersama mama dan papa di rumah kita, di rumah tempat engkau dijadikan. Di rumah, tempat mama berbagi rasa dengan papamu. Namun sejak mengetahui semua faktanya. Papamu berubah, dia sangat membenci mama. Dan mama sangat membenci itu. Dan kau tau nak, jika mama sudah membenci sesuatu. Maka hancurlah semuanya. Siapapun yang mencintai kebencian itu, maka dia harus ikut merasakan derita.
Naura sayang....
Mama tidak begitu banyak mengenalmu, karena kita bertemu dalam waktu yang singkat dan selalu salah. Maafkan mama atas semua masalah yang melibatkanmu. Hiduplah dengan cinta. Karena jika cinta itu pergi darimu, tiada guna lagi engkau bernafas di dunia ini. Seperti mama yang saat ini merasa bagaikan sampah yang tak pernah terurai.
Salam sayang dari mama
Titip salam untuk Ram, tolong katakan hingga maut menjemput mama tidak akan merestui pernikahannya.
__ADS_1
Mamamu, Erlinda
NB: Semua aset atas nama mama, mohon ubah atas nama Naura."
Wanita itu melipat kertas dan meletakkan ke saku celana panjang biru yang dia kenakan. Dia membawa dua kain panjang yang baru diantar keluarganya atas permohonannya sendiri. Dia beralasan dingin sekali di penjara, jadi butuh selimut lebih tapi bukan bedcover. Dia pergi menuju toilet tahanan wanita. Hampir saja dia muntah, tak terbayangkan memasuki toilet napi di usia senja, sedangkan dari kecil dia sudah dimanja dengan limpahan harta, toiletnya sekelas hotel bintang lima. Dia tak mampu membayangkan, jika saja hukuman yang harus dia terima sampai bertahun-tahun lamanya, sedangkan kekuasaan ayahnya tak mampu lagi memutus hukum atas dirinya. Dia tersenyum gelisah.
"Tak kusangka, menantuku punya koneksi orang nomor dua di kepolisian republik ini. Aku orang yang memalukan." Batinnya sambil mulai mengunci pintu toilet. Dia menyibakkan aneka perlengkapan mandi yang menghalanginya mengikatkan kain panjang ke teralis atas kamar mandi.
"Tak ada lagi artinya aku hidup. Ram sudah pergi, Nina memang bukan milikku. Naura? Dia malah menjebloskanku ke penjara. Ah, tidak! Naura tidak berhak atas warisanku." Dia masih sempat mengomel. Kemudian membuka kembali lipatan kertas. Dan menambahkan di bawahnya.
"Menjelang kematianku, aku membatalkan wasiat hartaku ke Naura. Semua harta yang kumiliki untuk panti asuhan." Dia meletakkan pena dan kertas ke sakunya lagi. Dia tersenyum sendiri, merasa telah memenangkan isi wasiatnya sendiri. Dengan menaiki tumpukan baju orang yang terjemur di kamar mandi, kemudian dengan perlahan dia menginjak sebuah ember penampung air, menyinjit, dia menyentuh lubang teralis, memasukkan ujung kain dan membuat simpul mati.
"Aku penat ya Allah, ampuni aku...," Wanita itu kemudian mengikatkan kedua ujung kain panjang, lalu mengikatkan simpul kain kedua ke lehernya. Setelah yakin, dia melepaskan pegangan tangan dan menendang ember menjauhi kakinya. Terdengar suara ember terjatuh. Seorang sipir yang berada di dekat situ segera mendekat, dia mengetuk pintu.
"Bu, Bu Erlinda. Anda tidak apa-apa?" Tak ada sahutan.
"Bu..., apakah ibu baik-baik saja?" Wanita itu ingin menjawab, namun kerongkongannya sudah terlalu tercekik. Sejenak sipir berdiri dekat pintu, kemudian ada bunyi kentut, maka sipir pun perlahan menjauh.
"Mungkin dia sakit perut." Batinnya.
*****
Seorang sipir jaga datang ke kamar bu Erlinda, namun teman sekamarnya mengatakan dia pergi ke WC.
"Ke WC? Sudah berapa lama?" Sipir itu bertanya.
"Sudah lumayan lama, mungkin sudah ada lima belas menit."
"Itu nasi siapa tidak dimakan?" Sipir itu mulai curiga.
"Itu punya bu Erlinda, di keranjang itu belum dibuka sama sekali titipan keluarganya."
Sipir Rianti kemudian menuju toilet wanita dan melihat pintu terkunci dari dalam.
"Bu Er, Bu Er, ada tamu, pengacara dan keluarga ibu datang." Rianti berteriak agak kencang, namun tidak ada sahutan dari dalam, yang ada hanya suara kran air di kamar mandi terbuka dan langsung jatuh ke lantai.
"Bu Er, Bu Er yang cantiiiikkk..., meski ibu tidak boleh bertemu secara fisik dengan keluarga ibu yang datang ke sini, ibu kan boleh melakukan video call dengan keluarga melalui hangout. Ayo keluar ditunggu vicall bu...." Tak ada jawaban. Rianti mendorong pintu itu, terkunci. Dia lantas menoleh ke belakang. Nampak seorang sipir wanita yang tadi mendengar kentut dari dalam kamar mandi datang bersama seorang sipir laki-laki.
__ADS_1
"Rianti, ada sahutan tidak?"
"Nggak ada Put."
"Iya makanya aku panggilkan pak Gilang. Aku sudah dari tadi nungguin, kirain sakit perut, soalnya tadi ada suara kentut besar, tapi ibunya tidak keluar-keluar juga." Putri menjelaskan. Pak Gilang mencoba menggedor dengan keras sambil memanggil. Namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya datang lagi dua sipir laki-laki. Mereka mendobrak pintu, dan semua terkejut mendapati bu Erlinda sudah tergantung kaku.
"Buuu...."
"Buuu...."
"Buuu...."
"Buuu...."
"Buuu...."
Namun tak kan pernah ada lagi jawaban. Wanita itu telah memetik buah dari kemanjaan orang tua dan keegoisannya sendiri. Dia menikmati hasil kebiasaan yang selalu mudah dan dimudahkan dalam hidupnya, tak peduli salah atau benar. Dia yang telah depresi berkepanjangan ketika bertemu masalah kecil sekalipun. Kini memberikan kisah akhir dari kerasnya hati yang salah asuhan. Semoga para orang tua tidak hanya mencukupkan anak-anak dengan harta dan dunia saja. Namun bekali, lembutkan hati agar mereka mampu beradaptasi dengan masalah. Karena hidup, tak selalu mulus sesuai keinginan. Ada lika-liku, onak duri yang terkadang menghalangi perjalanan kita.
*****
"Tarrr!!!"
Tanganku gemetar, bahkan tak sanggup mengangkat gelas kaca ke wastafel. Bang Zamy berlari ke arahku.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bang Zamy memegang tanganku, lalu beralih ke wajahku yang pucat. Ibu dan ayah serentak datang.
"Kau terluka Naura?" Ayah dan ibu serentak bertanya. Mereka semua mencemaskanku. Aku hanya menggeleng lemah mencoba berjalan mengambil serokan untuk membersihkan serpihan kaca.
"Zamy, bawa Naura ke kamar, biar ibu yang bereskan. Aku menurut saja. Kepalaku berkunang-kunang dan mulai gelap.
"Bee..., Bee..., kamu pusing?" Terdengar olehku suara bang Zamy bertanya. Aku tak kuasa menjawab lagi. Seperti mengantuk yang sangaaaattt mengantuk, aku ingin sekali tidur.
"Naura!"
Seperti suara lalat berdengung, samar aku mendengar suara suamiku. Namun mataku tak mampu lagi membuka.
*****
__ADS_1