Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 75 Tamu Istimewah ibu


__ADS_3

Jam Setengah tujuh malam, sehabis sholat Magrib di kamar rumah bang Zamy di belakang klinik, ibu menelponku. Aku segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum ibu...,"


Waalaikumsalamwrwb. Naura...."


"Iya bu..., kenapa?"


"Bu...? Halooo?" Aku mendengar suara ibu tidak jelas lagi. Kuulangi berkali-kali memanggil ibu, namun panggilan malah dihentikan. Aku kemudian menyusul Mak Yang naik kembali menuju ruang praktik sambil sesekali mencoba menelpon balik, namun tidak ada jawaban. Aku kembali ke ruang praktik dan kembali memeriksa pasien yang sudah antri hingga jam sebelas malam.


Sekarang aku benar-benar membatasi hanya 20 orang pasien kecuali yang darurat saja. Jadi yang sudah menelpon di atas nomor urut pendaftar 20 akan diurut langsung keesok harinya menjadi antrian pertama. Berbeda ketika belum hamil dulu, aku masih sanggup hingga jam satu dini hari bila malam Sabtu dan Minggu demi melayani pasien yang datang dari kabupaten lainnya.


*****


Mak Yang dan Santi sudah pulang. Aku pun keluar ruang praktik dan ngobrol sebentar dengan Dokter Jefri di apotik karena di dalam ruang praktik bang Zamy masih ada satu orang pasien lagi. Sekitar tujuh menitan menunggu akhirnya pasien bang Zamy pamit pulang. Dua perawat bang Zamy juga pamitan setelah selesai membereskan semua administrasi dan perlengkapan lainnya. Apoteker yang bekerja dengan dokter Jefri sudah pula pulang setelah mereka menutup pintu apotik barusan.


"Capek? Kalau cape kerjanya, mendingan adek istirahat dulu praktiknya." Bang Zamy memegang pundakku bicara.


"Nggak kok, adek malah takut bosan kalau tidak beraktivitas nanti." Aku menjawab.


"Baikkah kalau begitu. Ayo kita pulang sayang." Bang Zamy memegang jemari tangan kiriku menuju mobil yang diparkir di dekat pintu keluar. Namun belum sempat masuk ke mobil, tiba-tiba bang Fathur muncul di hadapan kami dengan motorku, rambutnya acak-acakan bekas tertiup angin di jalanan, dia tidak mengenakan helm sama sekali.


"Lha? Kenapa? Tumben malam-malam malah ke sini?" Bang Zamy yang kaget seketika mendekati bang Fathur. Aku mengekor di belakangnya.


"Zam kamu capek tidak kalau nemenin abang ke Mentok?" Dengan nafas tidak stabil bang Fathur langsung bicara.


"Kenapa buru-buru sekali? Apa yang terjadi?" Bang Zamy mulai ikutan cemas.


"Anu..., barusan ibu telpon diam-diam. Anu..., anu Zam...," Bang Fathur nampak sangat tidak nyaman menjelaskan. Dia gelisah sekali.


"Anu anu anu dari tadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan buat kami cemas." Bang Zamy mulai tidak enak hati. Dia seketika membayangkan sesuatu telah terjadi pada ayah atau ibu, atau mungkin juga sama bang Rahman di Mentok.


"Anu dek. Vioni naik travel dan sampai ke Mentok sendirian tadi jam setengah tujuhan." Akhirnya bang Fathur menjelaskan juga maksud kedatangannya ke klinik di malam yang dingin ini.


"Yuk Vioni? Ke Mentok?" Aku kaget mendengarnya, apalagi bang Zamy.


"Nekad amat dia mengejar abang sampai ke Mentok, pakai ninggalin Oyan lagi." Bang Zamy merutuk sendiri. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya alasannya karena covid-19 anaknya tidak dibawa." Bang Fathur menjawab.


"Sudah tahu musim begini, dia malah kelayapan, harusnya mikir dong. Dasar dosen agak...." Bang Zamy menghentikan omongannya. Dia menatapku.


"Adek boleh ikut?" Aku mengusulkan. Bang Fathur dan bang Zamy berpandangan sejenak.


"Apa tidak capek?" Bang Zamy menatapku lagi.


"Capek sih sedikit. Tapi nanti kan adek bisa tidur di belakang. Abang atur dulu kursinya biar adek bisa leluasa tiduran. Adek bawa bantal dan guling juga selimut nantinya."


"Ya Allah Bee..., kita bukannya mau kemping sayaaang...." Bang Zamy menatapku. Aku hanya nyengir saja.


"Ya sudah kita pulang saja dulu. Kalau menurutku sih, baiknya kita ke Mentok habis Subuh saja bang. Agak berbahaya kalau sekarang mah. Takutnya nanti ngantuk.


"Kita gantian nyopirnya Zam." Bang Fathur menjawab. Masih ada keinginannya untuk segera ke sana.


"Walaupun gantian kan tetaplah sangat berisiko bang...." Aku mencoba menenangkan bang Fathur. Kemudian mungkin karena kasihan melihatku yang sedang hamil, bang Fathur mengalah.


"Okelah besok saja, habis sholat Subuh kita berangkat. Ayo pulang." Bang Fathur mengajak pulang sambil menstarter motor.


"Yo...." Begitu saja ajakannya kemudian, lalu dia berlalu menembus gelapnya jalanan di musim penghujan. Kami mengiringi di belakang dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Ini apa lagi tujuannya datang. Kalau hanya mengejar bang Fathur kan jelas sudah ada akta cerainya dari pengadilan." Bang Zamy bicara sambil menyetir, aku hanya mengangkat bahu tak nengerti.


*****


Sementara di sebuah rumah besar dan mewah di Mentok. Ibu mencoba untuk menerima mbak Vioni yang datang secara mengejutkan dengan sebaik-baiknya. Meski dalam hati ibu bicara seharusnya dia datang dengan Oyyan dan bukan datang sendiri. Bagaimanapun namanya seorang ibu yang memang tidak banyak berintraksi dengan menantu setelah menikah, masih merasa iba dan kasihan kepada menantunya itu. Namun mendengar cerita bang Fathur ibu merasa sangat kesal juga, bagaimana mungkin wanita cantik itu pernah memukul wajah bang Fathur hanya karena tidak mau memberikan uang untuk mengganti mobil ayahnya di Palembang.


"Bu, maaf bu, Bener-bener maaf bu, Vioni tidak sanggup hidup tanpa kak Fathur. Tolonglah ibu bujuk lagi agar dia kembali bu. Kasihan Royyan bu...." Mbak Vioni terisak di hadapan ibu yang serba salah melihat mantan menantunya kembali membujuk untuk rujuk.


"Sudahlah Vio makanlah dulu nak. Masalah kalian ibu tidak pernah turut campur, semuanya sudah diputuskan oleh Fathur, ibu tidak bisa membujuk atau melakukan hal lain lagi. Itu keputusan Fathur. Pemikirannya sudah sangat matang untuk mengambil keputusan sendiri." Ibu bicara sambil mengangkat tangan mbak Vioni yang sudah bersimpuh dekat kakinya.


"Tapi ibu kan bisa membujukknya bu." Mbak Vioni merayu ibu lagi. Ibu tersenyum menggeleng.


"Untuk masalah ini ibu benar-benar tidak bisa Vio. Maafkan ibu ya nak." Ibu bijaksana bicara. Dia mencoba tetap tenang menghadapi tamu spesialnya ini.


"Kasihan sama Royyan bu." Mbak Vioni menitikkan air mata.


"Iya memang kasihan. Tetapi kan itu katakanlah sudah takdir Royyan. Nanti ibu bisa kok membiayai sekolahnya." Ibu bicara tentang tanggungjawabnya sebagai seorang nenek.


"Bukan hanya masalah uang bu, tetapi psikologinya. Kasian dia." Mbak Vioni kembali membujuk.


"Harusnya kalian lebih tanggap dari awal masalah psikologinya. Bukan malah bertindak semau-maunya, menurutkan ego masing-masing." Ibu tetap sabar menjawab meski dia menghela nafas dalam berkali-kali menahan kesal.


"Kak Fathur yang mau cerai bu, bukan Vio." Tamu istimewah ibu kembali merayu. Matanya benar-benar berharap.


"Iya kan pasti ada alasannya dia mau cerai. Tidak mungkin ujug-ujug langsung menceraikan." Ibu masih menjaga nada suaranya. Sementara Mbak Vioni diam sesaat.


"Ayah belum pulang ya bu?" Dia beralih menanyakan ayah setelah merasa sia-sia merayu ibu.


"Belum." Singkat saja ibu menjawab.


"Kak Fathur sangat menghormati ayah, sepertinya hanya ayah yang bisa membujuk kak Fathur balik lagi ke Vio. Vio mau kok bu berhenti kerja dan hanya mengurus rumah saja kalau kak Fathur mau balikan lagi." Dia bicara seperti anak nakal habis kena hukum. Dan namanya wanita, ibu memiliki sisi lemahnya. Dia merangkul mantan menantunya itu.


"Memangnya kak Fathur bilang apa?" Mbak Vioni melepaskan rangkulan ibu. Wajahnya nampak sedikit tegang.


"Entahlah. Siapapun saat ini yang membujuknya, kalau sudah keputusannya, kemungkinan besar tidak akan berubah lagi." Ibu pesimis meski mbak Vioni tadi nampak bicara merayu semanja-manjanya. Keduanya kemudian terdiam. Mbak Vioni memanggil Oyyan melalui panggilan video. Nampak bocah itu merengek melihat ibunya. Ibu hanya mampu menangis sambil memanggil Oyyan terus. Dia bahkan belum pernah menyentuh cucu pertamanya itu tetapi anak dan menantunya sudah keburu bercerai. Sungguh sangat menyedihkan.


*****


Ayah pulang pada pukul 20.13 menit. Dia tidak begitu terkejut ketika yang membukakan pintu depan adalah Vioni karena ibu sudah memberitahukan kehadirannya melalui pesan whatapp.


"Halo yah, bagaimana kabarnya?" Mbak Vioni yang tidak mengenakan jilbab itu tersenyum ramah menyambut kepulangan ayah.


"Kamu rupanya Vio. Kenapa Royyan tidak dibawa? Kami ingin menggendongnya."


"Nanti yah, nunggu semuanya kembali normal." Mbak Vioni menjawab singkat.


"Sekarang kan sudah Normal Baru." Ayah bicara sambil melepaskan kaus kakinya.


"Dia tidak dikasih neneknya ikut." Akhirnya mbak Vio menjawab jujur.


"Kamu kok dikasih pergi?" Ayah penasaran dibuatnya.


"Hehe yang kembali normal tadi maksudnya hubungan Vio dan kak Fathur yah. Ayah bantu Vio ya, bujuk kak Fathur biar bisa kembali lagi ke Vio." Dia tidak peduli capeknya ayah, penatnya ayah pulang kerja, baginya merayu bang Fathur jauh lebih berguna.


"Hehehe..., rayu sendirilah, masa ayah yang merayunya, mana mau dia...." Ayah terkekeh sejenak meski terasa sangat capek.


"Sudah makan kamu?" Ayah menatap mbak Vioni sambil melepaskan jas hitamnya. Ibu mengambil jas hitam itu dari tangan ayah dan membawanya ke tempat baju kotor di dapur belakang.


"Tolong ya yah. Tolonglah yah. Vio janji tidak akan mengecewakan kak Fathur lagi." Setengah merengek dia merayu.

__ADS_1


"Makanlah dulu dan istirahat, ayah mau mandi dan istirahat juga." Ayah berlalu masuk ke kamar, ibu mengambil tas kerja ayah yang diletakkan di atas meja ruang keluarga. Entah kenapa karena ada mbak Vio, ibu merasa perlu membawa tas ke kamar pribadi ibu. Tinggallah mbak Vioni yang hanya termangu kecewa sambil melihat ke layar handphone.


*****


Subuh yang dingin dengan suara adzan yang merdu, disusul lolongan anjing dari kejauhan membangunkan kami. Bang Zamy dan bang Fathur sudah pergi ke masjid. Aku sholat di rumah saja dan sudah mendapat izin dari kantor untuk tidak masuk sehari. Bang Zamy sudah pula memberitahukan ke pak Alwi kalau hari ini akan izin.


"Mau kemana Dok?" Pak Alwi menanyakan melalui sambungan telepon.


"Ada urusan keluarga di Mentok pak."


"Owh iyalah. Padahal jajaran dewan rapat pemantapan hari ini. Siap kan?" Pak Alwi tertawa menambahkan.


"Siap apa pak?" Bang Zamy bertanya.


"Naik satu tangga lagi." Pak Alwi bicara dengan kode.


"Amanah harus dijalankan. InsyaAllah selalu siap." Bang Zamy mengerti maksud pak Alwi. Dia akan menggantikan posisi pak Dirut Rumah Sakit Timah menggantikan yang lama karena tersandung kasus korupsi. Baginya apapun jabatannya yang penting bekerja sesuai tupoksi. Kepalang mengabdi maka dia harus totalitas mengabdikan diri.


*****


"Bismillah...," Bang Zamy menyetir menuju ke Mentok. Aku di belakang duduk sendirian.


"Dia tidur sama ibu semalam di kamar kita Bee...." Bang Zamy tertawa lucu.


"Kok ibu mau tidur sama dia? Nggak takut dicekiknya. Hehehe...." Bang Fathur bercanda. Kami tersenyum saja.


"Hati-hati nanti dia bawa sesuatu...." Aku menggoda bang Fathur.


"Entahlah, hatiku telah dikunci Nindya sekarang." Bang Fathur menoleh kepadaku yang hanya mampu menjulurkan lidah mendengar omongannya yang lagi mabuk cinta.


"Iya bener. Belum kenal Nindya saja, abang sudah bener-bener pergi dari kehidupannya. Apalagi sejak mengenal dan mendengar kisah pilu kehidupan Annisa dan ibunya. Rasanya kepengen saja gitu untuk membahagiakan keduanya." Bang Fathur melankolis kali ini. Dia menggeleng-gelengkan kepala menikmati setiap kata menyentuh yang keluar dari mulutnya.


"So sweet sekaliii...." Bang Zamy menggoda abang sulungnya. Kami kembali tertawa kecil bersama.


Begitulah, perjalanan kami dilalui dengan segala canda dan tawa, hingga tidak terasa kami telah sampai dengan waktu tempuh tidak sampai dua jam lamanya. Kami sudah tiba di rumah ibu. Nampak mobil ibu terparkir di garasi artinya ibu ada di rumah. Garasi ayah kosong, ayah pasti tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dan merasa kehadiran mbak Vioni sesuatu yang biasa-biasa saja tanpa harus dikhawatirkan apalagi ditakuti. Itu masalah rumah tangga, wajar saja dalam pandangan ayah. Kami memarkir mobil di garasi ayah.


"Ih ya Allaaahhh, sudah besar sekali perutmu mbak Doookkk....bocah lanang opo wedok iki....? " Bude Marni mengelus-elus perutku ketika aku naik ke teras pintu samping. Dia mengambil tas tangan yang kupegang.


"Rahasiaaaa...." Aku memeluk pinggang bude Marni.


"Owalaahh pake rusiah segalaaa..., bude yang bawa, wong hamil jangan bawa yang berat-beraaattt...."


"Ih bude nggak apa-apa, ringan kok, isinya hape dan dompet doang." Aku menjawab.


"Ibu mana bude?" Aku bertanya karena ibu belum nampak batang hidungnya.


"Deeeekkk..., kalian sudah sampai ya." Ibu buru-buru keluar dari kamar masih dengan kain mukenah. Sedangkan mukenahnya sudah dia pegang di lengan kanan. Dia menujuku. Lalu memelukku dengan sangat erat.


"Ibu nggak sabar mau pensiun. Biar bisa dekat dengan anakku ini. Sudah enam bulan ya nak. Ya Allah sehatkan cucuku ya Allah...." Ibu memelukku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan mengelus-elus perut buncitku.


"Itulah yo lemaknyo deket mertuo ni. Hamilnyo itu caknyo dimanja nian, beda nian oi cak tobo yang jauh...." (Itulah ya enaknya dekat mertua. Hamilnya seperti dimanja sekali, sepertinya berbeda sekali dengan kita yang jauh....). Aku melihat mbak Vioni sudah berada di dapur juga. Dia berdiri dengan tangan kiri di pinggang dan tangan kanan menekan ukiran kursi makan. Dia mengenakan jeans pinsil dan baju tunik kekuningan list hitam. Wajah cantiknya semakin cantik saja dengan riasan sempurna. Mata bulatnya berpadukan hidung mancung dan bibir tipis berbentuk indah dengan gincu merah merona. Ditambah alisnya yang meliuk ke ujung atas semakin dia nampak cetar membahana. Pipinya merona dengan blush on tipis. Rambutnya yang dicat merah dibiarkan sedikit berantakan bagian muka sungguh tidak mengurangi kecantikannya. Dia seperti seorang artis. Tapi sayang sikap dan sifatnya agak mengecewakan.


"Eh mbak Vio...." Aku berjalan mendekat, namun dia malah seperti sengaja menghindar dan berjalan menuju ke pintu. Ibu menyusulku melirik tidak suka ke arah mbak Vio.


"Mano kak Fathurnyo ini oiii..., ngapo lamo nian turunnyo, laju cak pengantin baru bae." (Kemana kak Fathurnya ini, kenapa lama sekali turunnya seperti pengantin baru saja.)


"Aku di sini kau nak ngapo?" Bang Fathur turun berkacak pinggang tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegang selembar kertas kemerahan mirip ijazah, namun bertuliskan 'Kutipan Akta Perceraian.' Mbak Vioni menutup mulutnya tidak percaya.


******

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2