Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 6 Rahasia Besar


__ADS_3

Sehabis sholat Magrib aku rebahan lagi di atas kasur dengan mukena belum dilepaskan, tanganku sibuk mengutak-atik handphone. Sementara koper yang kubawa dari perjalanan tadi masih terbuka di lantai bekas mengambil beberapa baju kotor dan meletakkannya di ruang cuci.


"Sudah sholat nak?" Aku spontan menoleh ke arah suara dan secepat kilat mengambil posisi duduk. Ibu sudah berada di depanku. Kulepaskan handphone di atas kasur. Tanganku meraih tangan ibu, menciumnya dengan santun. Salah satu kebiasaanku dari kecil. Mencium tangan ibu setiap habis sholat. Ibu duduk di hadapanku dan melepaskan mukena yang kupakai. Kutatap matanya audah tidak ada lagi sisa kemarahan.


"Maafkan Naura bu, Naura masih saja membuat ibu marah padahal sudah setua ini." Aku mulai menitikkan air mata. Ibu langsung menghapus air mataku dengan jemarinya.


"Ssttt.... ssttt.... sudahlah sayang, ibu yang minta maaf karena terlalu berlebihan mencemaskanmu. Ibu tadi hanya sedikit kecewa kepada kakakmu yang tidak mengindahkan untuk menjemputmu." Ibu kembali bicara lembut. Nada yang sama, seperti saat menenangkanku di usia 3 tahunan dulu. Irama yang menenangkan itu masih tetap sama bahkan setelah aku berusia 28 tahun ini.


"Ibu...." Aku lantas teringat percakapan ketiga kakakku tadi.


"Iya sayang." Ibu menyibak-nyibakkan anak rambutku yang halus.


"Ada apa? Katakankah." Ibu bicara lagi sambil memegang tangan kananku.


"Mungkin ibu telah salah. Sebenarnya tadi aku tidak sengaja mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Tadi katanya bang Zamy sudah datang ke bandara bahkan sudah memanggilku. Namun aku yang tidak mendengarnya dan bahkan mataku hanya terfokus kepada lambaian tangan Irwan." Lalu aku menceritakan secara detail apa yang tadi kudengar melalui pintu kamar bang Zamy. Ibu menatapku lekat. Mata itu mencari kebenaran dari apa yang baru saja terucap dari bibirku. Lalu ibu bergegas menemui segerombolan laki-laki yang baru bersalam dan masuk ke dalam rumah. Mereka baru pulang dari masjid melaksanakan sholat Magrib berjamaah. Ketika melihat ibu, semua mendadak berhenti.


"Maafkan ibu Zamyku, ibu sudah salah. Ternyata kamu tadi pergi ke bandara, dan pulang naik ojol karena telah melihat adikmu dijemput orang lain. Aku percaya kamu tidak mungkin menomorduakan ibu dan adikmu Naura. Maafkan ibu nak. Ibu telah salah sangka kepadamu." Sambil memeluk bang Zamy ibu mulai terisak. Sedikit melankolis suasananya saat itu.


"Ini judul sinetronnya : Ibu yang salah prasangka." Ayah terkekeh sambil masuk ke dalam rumah. Kulihat dia melepaskan peci dan sajadah di leher. Meletakkannya ke atas sofa ruang keluarga. Lalu kami berpandangan satu sama lain, kemudian tertawa bersama.


****


10 menit kemudian ibu memanggilku yang sedang berganti pakaian untuk bersiap ke klinik. Hari Sabtu, biasanya pasien ramai dan bahkan datang dari jauh. Banyak pasienku yang datangnya dari kabupaten lain membawa anak mereka berobat. Bersyukur klinik Honey Bee walaupun belum berumur 4 tahun sudah ramai dan dikenal banyak orang. Aku yang ingin bergegas ke klinik seketika menajamkan telinga mendengar panggilan ibu.


"Iya ibu." Aku menuju dapur. Kulihat di sana ada dua piring singkong goreng dan seteko teh manis siap saji. Ketika melihatku sudah berganti baju kerja, ibu langsung saja bicara.


"Eh! eh! ehhh..., Nauraaa..., kamu mau kemana sih sayang sudah rapi begini. Belum lagi jam 7 malam. Ibu hanya butuh waktu 1 jam-an saja untuk mengatakan rahasia yang ibu bilang sore tadi. Maka tunggulah sebentar." Ibu mendudukkanku di kursi. Tangannya cekatan mengambil beberapa gelas keramik di laci lalu menaruhnya di nampan plastik berbunga-bunga dengan nuansa merah.


"Tolong kamu bawa keluar nak. Kita minum teh bersama." Aku langsung menuruti perkataan ibu. Kubawa teko dengan tangan kanan. Sementara tangan kiriku membawa gelas-gelas keramik di atas nampan. Aku menuju ruang keluarga. Kulihat ayah dan ketiga kakakku sedang asyik menonton acara di tivi. Berita seputar corona virus desease/covid-19 yang sedang marak menyerang manusia di dunia. Kami yang berkecimpung di dunia medis merasakan sekali kekhawatiran penularannya. Bagaimana kami tidak khawatir, dalam rentang waktu dua bulan sejak pandemi ini merebak, rekan sejawat kami sudah 17 orang meninggal dunia. Belum lagi di kalangan perawat. Kurangnya APD salah satu pemicu mengapa para medis di Indonesia tercatat di WHO menjadi negara paling banyak dokternya yang meninggal dunia akibat virus ganas ini. Sambil ikut menatap tivi, aku meletakkan teh di atas karpet, lalu perlahan menuangkan tehnya ke gelas-gelas yang kubawa.


"Eh ini dia teh hangatnya. Pakai jahe tidak ini nak?" Ayah langsung mengambil segelas teh yang baru saja kutuang dan meletakkan di dekatnya duduk.


"Pakai dong yah, itu teh asli Pagar Alam yang dibawa Rahman dulu lho..., ibu campurkan dengan jahe merah yang dibawa yuk Maisyaroh siang tadi. Katanya suaminya baru panen." Ibu menjawab sambil meletakkan ubi goreng.


"Ini ni..., menu penangkal virus corona...." Bang Rahman berseloroh sambil mencomot sepotong ubi goreng lalu memakannya.


"Lho bagaimana bisa ubi goreng menjadi penangkal virus?" Ibu bertanya sedikit sinis.


"Bisa dong bu...," Bang Zamy menimpali.


"Eithhh... hati-hati dokter tidak boleh sembarangan bicara. Nanti dikira seriusan ubi menjadi penangkal corona." Ibu mendelik ke arah bang Zamy yang dengan santainya mulai menikmati ubi goreng.


"Benar ibu, yang dikatakan Zamy itu benar." Bang Fathur sok serius menjawab. Tangannya masih asyik menjawab pesan-pesan whatapp dari yuk Vioni yang tidak ikut ke Bangka. Dia di Yogyakarta karena kondisi kehamilannya. Tadi bang Fathur bilang sebenarnya belum mau pulang kalau bukan ibu yamg memaksa.


"Lho kok bisa?" Lagi-lagi ibu bertanya.


"Syarat dan ketentuan berlaku ibu." Aku ikut menimpali.


"Apa pula syarat dan ketentuannya nak?"


"Makan ubi di dalam rumah selama 14 hari tanpa keluar sedikitpun. InsyaAllah kita bisa terbebas dari corona." Aku menjelaskan. Sejenak kami berpandangan lalu Ibu mencubit lengan kananku.

__ADS_1


"Awh sakit bu."


"Makanya jadi dokter jangan suka ngelantur ah...." kini pipiku yang menjadi sasarannya tangan ibu. Aku kena cubit lagi. Kamipun tertawa bersama. Bahagia rasanya menikmati momen kebersamaan ini, momen yang sejak kami besar sudah jarang terjadi. Entah apa yang ibu agendakan, kenapa kami hari ini kembali dikumpulkan. Ruangan sejenak hening, tiba-tiba ayah berdiri sambil menarik sarungnya ke atas. Tangannya meraih remote tivi di atas meja shabby. Lalu menekan tombol off. Kami lantas membetulkan posisi duduk masing-masing. Kulihat ayah dan ibu berpandangan, lalu keduanya mengangguk kecil.


"Kenapa sih ayah sama ibu? Kok sepertinya serius sekali." Bang Rahman meletakkan hapenya di sofa kembali. Dia ikut bersilah di lantai bersama kami. Senyap sesaat, hanya terlihat dua ekor cicak berkejaran keluar dari bingkai foto keluarga di saat wisudaku dulu. Kulihat beberapa kali ayah batuk kecil lalu ibu memberikan segelas air putih. Ayah menelan beberapa tegukan.


"Baiklah anak-anakku, kita tetap santai. Ayah juga bingung harus memulainya dari mana." Ibu melihat kami bergantian dan lama menatap ke arahku. Aku hanya tersenyum ke arahnya. Lalu kulihat ibu kembali mengejapkan mata seakan menyuruh ayah melanjutkan.


"Iya ayah bicaralah, pasti ada hal penting yang perlu ayah ibu sampaikan. Kami siap mendengarkan." Bang Fathur mewakili kami.


"Benar nak, ini memang hal penting dan harus kalian tahu." Ayah melanjutkan.


"Beberapa hari yang lalu, orang tua dokter Nina pergi menemui kami berdua di Mentok. Mereka bukan hanya silahturahmi biasa, tetapi dari arah pembicaraannya, mereka berharap agar hubungannya Nina dengan Zamy segera menuju pelaminan." Sejenak ayah berhenti, matanya bergantian menatap kami. Aku langsung membayangkan wajah dokter Nina. Dia dokter yang sangat cantik. Wajahnya tirus, bulu mata lentik, dengan mata sedikit bulat memanjang. Hampir seperti berby. Tubuhnya putih, tinggi dan langsing. Saat rambutnya dikuncir kuda seadanya saja dia pun masih kelihatan elegant. Apalagi ketika beberapa kali dia berkunjung ke rumah ayah ibu di Mentok saat cuti. Kecantikan sempurna. Sepintas wajahnya mirip artis Jihan Fahira. Aku tahu bang Zamy memang sudah lama dekat dengannya. Mereka satu almamater. Sama-sama berasal dari Bangka Belitung menjadikan pertemuan mereka menjadi lebih intens saat kuliah dan berlanjut sampai sekarang. Dokter Nina ASN sepertiku. Dia juga Dinas di Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkalpinang. Sama sepertiku. Aku juga kenal baik dengannya. Mendengar penjelasan ayah kulihat bang Zamy hanya diam mematung.


"Bagaimana Zamy? Kalian sudah berencana untuk menikah?" Ayah bertanya.


" Hemzzz sebenarnya ayah. Zamy masih...." Bang Zamy menjawab sedikit terbata.


"Baguslah. Ayah dan Ibu melihat sepertinya memang kamu tidak menyukainya...."


"Bukan begitu juga ayah. Hanya saja Zamy masih butuh waktu. Nina memang gadis yang baik, cantik, seorang dokter, anak tunggal dari keluarga terpandang di kota Pangkalpinang ini, tetapi untuk saat ini, menjadikannya seorang menantu di rumah ini rasanya abang butuh waktu lagi untuk memikirkannya." Bang Zamy bicara serius.


"Jadi maksud ayah mengumpulkan kami untuk membahas itu saja?" Bang Fathur kelihatan kurang senang. Mungkin karena dia meninggalkan yuk Vioni sendiri di Yogyakarta.


"Tidak nak. Ada yang lebih penting dari itu." Ayah kembali bicara sambil melihat ibu, dan ibu hanya mengangguk kecil. Mereka kembali memasang kode-kode yang tak kupahami.


"Sebenarnya, Zamy tidak akan menikahi Nina atau gadis lainnya nanti." Ayah bicara serius. Kami terperanjat. Entah apa maksud ayah kali ini. Ayah sosok yang sangat bijaksana. Tak mungkin menjadi otoriter seperti ini.


" Iya nak, kamu tidak akan menikahi wanita manapun, kecuali...." Ayah berhenti sejenak. Lagi-lagi menatap ibu yang kembali mengangguk.


"Kecuali apa ayah? Apa ayah dan ibu sudah punya gadis lain untuk Zamy?" Bang Fathur bertanya. Dia menatap tajam ke arah ayah.


"Kalau hanya membahas itu kan, Saya sebenarnya cukup dikabarkan melalui telepon ayah. Musim virus corona ini Saya sudah bela-belain pulang karena hal yang tidak begitu penting ini." Bang Fathur tersenyum sedikit sinis.


"Tidak Fathur. Bukan hanya karena itu. Ayah dan ibu ingin terbuka tentang sebuah rahasia besar yang kami tutup rapat hingga saat ini."


"Apa itu yah? Bilang saja." Bang Zamy bicara sambil melirik jam tangannya. Jam tujuh lewat. Seharusnya kami sudah ada di klinik sejak jam 4 sore tadi. Kasian pasien yang menunggu.


"Kamu Zamy, kamu tidak akan menikahi wanita lainnya, karena kamu dan kami sudah terikat janji untuk menikahkanmu dengan seseorang."


"Seseorang? Siapa?" Bang Rahman memasang muka serius. Begitu juga denganku. Seperti dalam sebuah sinetron. Ayah dan ibu rupanya telah menjodohkan bang Zamy dengan seseorang.


"Siapa yah? Apakah dia dokter seperti bang Zamy dan aku juga? Apakah aku mengenalnya? Cantik nggak yah? Cie... cie...cie.... yang dijodohkan...." Aku mencoba mencairkan suasana yang terlanjur serius. Menggoda bang Zamy yang menatapku tak suka. Ibu malah menatapku tajam. Begitu pula ayah.


"Ufttt! Maaf ayah, maaf ibu, Aku hanya bercanda." Aku merasa bersalah.


"Aku sudah terikat? Sudah dijodohkan? Dengan siapa? Ya Allah ayaaah..., ibuuu... ibuuu, masa sih kalian kembali ke zamannya Siti Nurbaya. Sabarlah ayah dan ibu, aku bisa menghadirkan menantu terbaik di rumah ini, tapi belum sekarang. Ada saatnya nanti. Bisa jadi dokter, dosen, arsitek, polwan atau ayah ibu mau aku menikah dengan siapa yah? Aku bisa saja menggaet seseorang dengan profesi yang ayah ibu inginkan. Tapi nanti. Sekarang Zamy masih sangat menikmati pekerjaan." Bang Zamy serius setengah bercanda bicara panjang lebar.


"Tidak Zamy, kamu itu akan menikahi orang yang sudah kami sepakati." Ibu mulai bicara. Sementara kami kembali diam.


"Siapa yang harus kunikahi ibu?" Bang Zamy menatap ibu. Dia tak sabar menunggu jawaban dari ibu.

__ADS_1


"Ah sudahlah. Aku mau ke klinik dulu. Kasian ini si Ella bilang ada pasien Hipertensi kronik dengan preeklamsia. Datang dari Mentok juga." Bang Zamy mengantongi hape setelah membaca pesan whatapp dari perawat yang menjadi asistennya. Dia berdiri bersiap mau pergi. Namun ibu malah dengan serius menarik tangannya.


"Tidak Zamy, tunggulah sebentar. Ini rahasia kalian. Rahasia semuanya yang kami tutupi sudah 28 tahun lamanya." Ibu bicara serius sekali. Bang Zamy berhenti. Dia duduk di sandaran sofa sambil memutar-mutar hp dengan tangannya.


"Rahasia apa sih ibu?" Bang Zamy bertanya lagi.


"Sudah saatnya kamu menikah nak. Menikah dengan orang yang telah kami sepakati puluhan tahun lalu. Ini keputusan final, tidak bisa dirubah lagi." Ibu lantang bicara. Bang Zamy menatap ibu dan mengangguk.


"Baiklah ibu, ibu tau kan bahwa aku tidak pernah membantah ibu. Untuk hal inipun, aku tidak akan membantah kalian. Aku akan menuruti keinginan ayah dan ibu. Sekarang biarkan aku pergi. Ada pasien butuh penanganan secepatnya. Ibu katakan saja siapa wanita yang harus kunikahi itu." Bang Zamy bicara datar. Nadanya serius. Jika dia sudah bicara setuju artinya dia benar-benar setuju dan tidak akan gampang berubah pikiran. Aku paham betul wataknya. Dokter cerdas ini dari kecil selalu konsisten dengan ucapannya.


"Siapa yang harus kunikahi bu?" Bang Zamy kembali bertanya.


"Agak susah ibu mengatakannya nak.... Tetapi, ibu harus mengatakannya saat ini juga. Semakin lama kami menutupi rahasia ini, kami malah semakin tersiksa."


"Baiklah bu, katakan saja, aku akan menuruti permintaan ayah dan ibu. Dia orang mana bu? Apa aku mengenalnya?"


"Iya nak kau sangat mengenalnya." Ibu menjawab.


"Aku mengenalnya? Siapa bu?" Bang Zamy memegang bahu ibu. Mata mereka bertemu.


"Iya kau lebih dari sekedar mengenalnya. Kau bahkan lebih mengenalnya daripada dirinya mengenal diri sendiri. Kalian lebih dari saling mengenali diri masing-masing." Ibu bicara lagi. Kami semua serius mendengarkan sambil menatap ibu. Hanya ayah yang berpura-pura santai. Namun matanya tak bisa bohong, hatinya sedang gelisah.


"Mereka saling kenal?" Siapa? Zamy dijodohkan dengan siapa sih?" Bang Fathur nanar menatap ibu.


"Iya nak. Zamy akan menikah dengan...."


"Siapa bu?" Rahman memotong tidak sabar.


"Naura!" Ibu bicara sambil menatapku. Deg! Jantungku seakan mau copot. Kami semua terkesiap.


"Naura bu?" Bang Zamy menunjuk ke arahku kebingungan. Kerutan di keningnya jadi kelihatan. Bang Zamy kaget. Semua kaget. Hanya ayah dan ibu yang sesekali saling pandang dengan anggukan-anggukan kecil.


"Iya nak, kalian akan menikah!" Ayah yang menjawab. Kami semakin bingung.


" Apa yang sedang ibu dan ayah bicarakan? Apa kalian tidak malu bercanda keterlaluan? Sungguh sangat tidak masuk akal pembicaraan ini ayah ibu. Orang tuaku yang sangat hebat dan berpendidikan malah menjadi gila membicarakan pernikahan incest. Bercanda seenaknya saja tanpa memikirkan...," Aku meluapkan emosiku langsung. Mataku menitikkan air mata. Wajahku pias karena amarahku naik ke ubun-ubun.


"Tidak nak, tidak Naura. Fathur, Zamy, dan kamu juga Rahman. Inilah rahasia itu nak. Begitu sulitnya kami harus memulai menjelaskan. Kami tahu, pasti kalian butuh waktu mencernanya. Naura..., bukan saudari kandung kalian. Naura..., bukanlah anak kandung kami." Ayah menjelaskan. Dan bagai tersambar halilintar aku terbengong. Bekali-kali aku mengernyitkan dahi hingga mataku menyipit. Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku mencubit lenganku sendiri, sakit rasnya, artimya aku tidak sedang bermimpi. Aku berdiri. Air mataku mengalir deras. Tak percaya dengan semua pendengaranku kali ini. Bagaimana mungkin aku bukan anak kandung mereka. Kalau anak angkat bagaimana mungkin perasaanku tak sedikitpun curiga selama ini. Jika aku anak angkat mengapa tak satu kalipun mereka menyakitiku. Kalau aku anak angkat mengapa tak sedikitpun aku dibedakan dengan ketiga saudaraku. Aku pusing. Aku berlari menuju kamarku. Aku harus mencari sesuatu. Akte Kelahiran! Iya akte kelahiran dan Kartu Keluarga. Aku masuk ke kamarku, dan menutup pintu.


"Auhh!" Aku menjerit, jempol kaki kananku berdarah terjepit pintu.


"Naura!"


"Naura!"


"Naura!"


"Naura!"


"Naura!"


Mereka serentak memanggilku. Aku tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2