
Aku, di tengah usaha maksimal untuk bertahan hidup, terselip di hati yang tidak bisa berbohong. Ada kesedihan menyelimuti, ada selintas bayangan kengerian di benakku. Esok hari, akankah berita berseliweran di media cetak maupun online, Dokter Anak yang ikut diculik meninggal dunia di tengah hutan karena melahirkan sendirian. Ah..., aku seketika menggelengkan kepalaku. Aku melenguh sendiri dan istighfar berkali-kali. Tidak boleh ada berita begitu. Aku harus bertahan, meskipun sendirian dalam kegelapan malam.
Kurogoh saku bagian dalam jaketku, tidak ada lagi pistol yang tadi kuselipkan. Handphone? Sejak tadi dibekap orang tidak dikenal, aku tidak tahu lagi, dimana keberadaan benda itu. Sakit perutku semakin menjadi-jadi. Aku tetap berusaha tenang. Sementara air ketuban semakin banyak saja yang keluar. Sambil duduk sedikit menyandarkan diri di kayu yang tersandar di bawah gubuk, aku berusaha melepaskan jaketku. Jaket tebalku itu tidak boleh basah. Persiapan untukku menyambut mahkluk yang sama-sama sedang berjuang bersamaku.
*****
Saat aku sedang berjuang mati-matian itu, di antara ketuban dan darah yang ikut keluar, kudengar ada suara orang mendekat ke arahku. Itu bukan suara penolongku tadi, tetapi suara mereka yang tadi telah menyeretku. Dia mengibas-ngibaskan senter kamera hapenya ke arahku. Jaraknya semakin dekat saja. Mereka berjumlah tiga orang, sepertinya semua laki-laki dewasa.
"Dia pasti berjalan ke arah sini jika dia berhasil keluar dari karung. Hanya ini gubuk yang ada di sekitar sini." Seseorang berbicara mirip gumamam di belakangku. Aku menahan nafas.
"Tidak mungkin dia bisa lolos bang, paling juga dia bergerak-gerak dan akhirnya terguling ke arung (jurang berair di dalamnya) yang dalam." seseorang menimpali.
"Coba kau cek lagi di dalam gubuk itu." Seseorang kembali memerintahkan. Satu orang lainnya naik ke tangga dan mengecek ke gubuk yang tidak berpintu lagi.
"Kosong bos, lagian dia hamil besar begitu, mana kuat berjalan sampai ke sini."
"Ya sudah kalau begitu, kita kembali ke rumah Yayan, pesan tiket, kita harus berpencar mulai besok, atur strategi masing-masing dan jika tidak ingin tertangkap, kita mesti harus lari keluar kota karena orang-orang suruhan pak Viktor sudah tertangkap pula di rumah pasangan dokter itu."
"Sudah tertangkap? Bagaimana bisa?"
"Iya, satpamnya tak bisa dikalahkan oleh mereka saat mau mencuri dokumen-dokumen kepemilikan hak atas tanah di rumah Dokter Naura. Dokumen yang diincar Pak Victor pemberian pak Ezo tidak pula berhasil dicuri. Sekarang pak Victor sedang dalam pengejaran polisi."
"Bagaimana bisa rencana yang sudah matang disusun oleh bu Risma, bekerja sama dengan pak Victor dan Dokter Jo akan berakhir hancur-hancuran begini. Sial! Uang kita hilang jadinya." Aku merinding mendengarkan obrolan sesaat mereka. Benar dugaanku, semua kekacauan ini pasti ulah Dokter Jo atau pak Victor, namun hebatnya rupanya mereka berkolaborasi buat menghancurkan keluarga kami hanya karena mengejar kenikmatan dunia. Apa salah kami? Tiba-tiba saat hatiku gemerutuk hangat menahan emosi, namun aku tetap berusaha diam, bernafas perlahan tanpa menimbulkan suara. Jika aku keluar, mereka pasti akan menghabisiku. Saat aku berusaha menahan sakit dan nyerinya perutku, salah satu handphone mereka berbunyi.
"Halo Dokter Jo? Apa? Bu Risma? Kenapa? Saya diberitakan adalah orang yang menembak mati polisi Romi? Tapi kan itu ulah Bapak? Kenapa harus saya kambing hitamnya? Bukankah Bapak yang menyerang polisi itu hingga tewas? Oke oke, kami ke sana? Kalian dimana? Owh di rumah bu Risma? Baik-baik-baik. Mayatnya Naura? Sudah pak sudah, ada nampak karungnya di arung, seperti memerah dengan darah. Sepertinya dia terjatuh dan sudah tewas. Oke pak. Halo pak? Halo? Rumah bu Risma yang di Bukit Merapin kan? Owh yang belakang kontrakan Kacang Pedang? Oke oke oke." Kemudian mereka pergi setelah menyalakan masing-masing sebatang rokok.
Aku yang dari tadi menahan nafas bersembunyi di bawah tumpukan rumput ilalang mati mendengarkan semua percakapan mereka. Entah mereka suruhan siapa, namun aku sudah tahu siapa dalangnya. Tapi Bu Risma? Aku bahkan baru mendengar nama itu barusan. Siapa dia? Mengapa dia menginginkan kematianku pula? Aku tidak habis pikir.
*****
Kemudian dengan langkah tertatih aku kembali menyusun serpihan anyaman bambu dan kualaskan kembali karung yang kupakai tadi menutupi badanku. Aku kembali merasakan denyutan hebat, sakitnya semakin terasa, leher rahimku sepertinya sudah membuka semakin lebar. Air ketubanku semakin banyak keluar, sekarang disertai darah. Aku merasakan tekanan yang semakin kuat. Kucoba mengepaskan napas dengan sisa-sisa tenaga yang kukumpulkan untuk mengedan. Aku yakin serviksku sudah berada pada ambang 9 hingga 10 senti. Aku mengedan kembali, berusaha mendorong keluar bayiku. Dan entah karena keadaan, akhirnya kepalanya sudah nampak menyembul. Aku berusaha memegang belakang kepalanya perlahan sambil mengedan lagi. Dengan lancar mengikuti kepala, badan hingga kaki semua sudah keluar. Air mata bahagia dan sedihku bercampur keringat terasa pedih masuk ke mata. Kebahagiaanku bercampur rasa sesak di dada. Aku kembali mengedan teratur seperti yang kupelajari untuk mengeluarkan plasenta. Aku tergagap seketika, plasenta keluar dan aku tidak punya apapun untuk memotong talinya. Akhirnya bayiku kuselimuti jaket tebal yang kukenakan tadi, aku perlahan-lahan mendekati tiang bambu. Beruntungnya, ada sedikit bekas sayatan pada tiang bambu itu, segera kugigit dan kutarik perlahan kulit bambu yang keras itu, dengan penuh perjuangan, aku menggunakan sembilu yang baru kudapatkan dari tiang gubuk untuk memotong plasenta. Aku menarik nafas dalam. Kubawa berdiri sesaat bayiku yang belum menangis juga. Kugoyangkan sedikit badannya. Dan di malam remang-remang itu, bisa kulihat mulutnya membuka dengan suara tangisnya yang pecah dikeheningan malam. Aku pun begitu. Aku berteriak memanggil Allah dengan nada kecewa bercampur bahagia.
"Ya Allaaahhh..., terima kasih atas ujianmu. Aku tidak akan kalaaaahhh...." Aku menangis dan kembali duduk karena merasakan kepalaku mulai puyeng, berdenyut tak nyaman. Kupeluk dengan erat di atas dadaku, kuberikan inisiasi menyusui dini, tangisnya sudah berhenti. Dia nampak tertidur kembali. Kuselimuti sekujur tubuhnya, hanya wajahnya saja yang nampak. Kubuka daleman jilbabku, kupakaikan sebagai pengganti kupluk di kepala bayiku.
"Naaakkk..., kelak insyaAllah kau akan menjadi orang hebat. Maafkan Mami ya sayang, kehadiranmu sangat kami nantikan, namun Allah menguji kita semua. Rumahmu besar nak, besar dan mewah, harta kita pun berlimpah sayang, semua itu untukmu. Semua keperluanmu sudah ada Mami siapkan untukmu. Jika beruntung, malam ini kita akan pulang, dan jika Allah masih ingin menguji Mami, agar lebih lama lagi bersabar, kita akan menunggu hingga esok pagi di sini. Terima kasih sayang, terima kasih telah menemani Mami berjuang. Terima kasih telah menempa kenangan bersama Mami meskipun ini pahit. Dengarkan Mami ya sayang, ikuti Mami dengan hatimu. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullaaah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".
Aku membisikkan syahadat di telinga kanan dan kirinya, hatiku mengiringi khusu'nya syahadat itu, beserta untaian doa dan tangis. Bahuku bergetar hebat, namun bayiku diam saja, dia tidak terganggu, nafasnya teratur dan tetap pulas bersama mimpinya.
"Maafkan Mami dan Papi ya sayang. Kita akan segera pulang, bertemu Papimu. Papimu pasti akan sangat senang berjumpa denganmu, seperti yang Mami rasakan saat ini." Tiba-tiba aku merasakan pusing dan mulai lemah, darah masih terus keluar. Aku pendarahan. Air mataku terus menganak sungai.
*****
Aku berusaha bertahan, kupikirkan jika aku mencari jalan pulang, belum tentu aku sanggup, bisa saja aku malah jatuh di perjalanan. Maka kuputuskan untuk bertahan di gubuk itu hingga pagi menjelang. Sambil menggendong bayiku, aku mengecek keberadaan gubuk bagian atas, aku meragukannya, takut nanti malah roboh atau aku terjatuh. Tetapi jika aku bertahan di bawah? Bagaimana jika aku terlelap dan ada hewan buas yang datang? Aku kebingungan. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang panjang, aku terasing dalam kesendirian.
Tiba-tiba, dalam keadaan kebingungan panjang, aku melihat cahaya berkerlipan dari arah ujung jalan, tempat orang-orang jahat tadi menghilang. Cahaya-cahaya itu mengarah kepadaku. Aku bersiap untuk kembali bersembunyi. Jangan-jangan mereka yang jahat akan kembali mencariku. Kugendong bayi mungilku. Aku berdiri dan beringsut mundur ke arah persembunyian tadi. Sungguh terasa tidak manusiawi sekali jika harus membawa bayiku yang belum setengah jam lahir sembunyi dibawah potongan ilalang mengering Aku kebingungan. Kupejamkan mataku, kembali berdoa kepada Allah. Kucium wajah mungil yang belum begitu jelas aku melihatnya.
"Nauraaaaaaa..., Nauraaaaa..., Nauraaaaa...." Aku terlonjak girang, lamat laut suara tadi semakin jelas terdengar. Arahnya sekitar seratus meter lagi ke arahku. Aku ingin berteriak, namun sisa suaraku sudah habis karena tangis. Suaraku serak, kerongkonganku kering dan perih.
__ADS_1
"Beeeeeee..., adeeeekkkk..., Nauraaaaa... Nauraaaaa...." Tidak salah lagi, aku mendengar suara Bang Zamy, ibu, ayah, bang Fathur dan orang-orang mendekat ke arahku. Namun, tiba-tiba saja, sekelebat bayangan tiba-tiba menarikku untuk segera bersembunyi. Tetapi aku menahan tanganku sekuat tenaga, mencoba menatap mata orang yang menarikku dalam temaram sinar rembulan. Aku memegang bahu kirinya.
"Mereka sedang mencariku, mereka keluargaku, mereka orang baik." Aku menjelaskan dengan pelan.
Dia mengangguk, melepaskan pegangannya, berlari dan melesat pergi menerobos lebatnya padang ilalang di gelapnya malan.
"Tunggu..., ke sinilah jangan pergiii...," Aku mencoba memanggilnya, namun bayangannya sedikitpun tidak nampak lagi.
"Nauraaaa..., Nauraaaa..., Nauraaaa...." Bayi di gendonganku terkejut mendengar panggilan-panggilan yang semakin dekat itu, dia mencoba membuka mata lalu tangisnya seketika pecah di depan sekitar tiga puluhan manusia yang menatap takjub bayanganku di tengah malam buta. Tanpa sepercik cahaya api sedikit pun.
"Naura?"
"Bang Zamyyy...."
"Naaaakkk...?"
"Ibuuu..., ayaaahhh...,"
"Bu Dokter?"
"Iya pak."
Bang Zamy dan ibu segera memelukku. Bayiku terkejut lagi, dia pun menggeliat dan menangis.
"Bagaimana mungkin ini terjadi Bee?" Bang Zamy mengarahkan lampu hapenya ke arah perut dan bayi di gendonganku, tiba-tiba dia terbelalak melihat bagian bawah bajuku penuh dengan darah.
"Cucuku sayang..., kenapa bisa begini nak ya..., semua sudah takdir Allah. Kalian dua beranak sungguh luar biasa." Ibu menangis memeluk dan menciumi bayi yang masih berselimut gumpalan-gumpalan darah. Beberapa orang siaga di sekitar ibu, bahkan beberapa orang anggota polisi meminta membantu menggendongnya. Namun ibu tidak mau. Dengan jalan berhati-hati, bayi kami diam dan pulas dalam gendongan neneknya.
"Bang Fathur, tolong berlarilah ke depan siapkan mobil, kita ke klinik saja." Bang Zamy menggendongku di depannya. Aku mulai merasa lemah sekali, badanku terasa menggigil, perutku ingin sekali muntah. Keringat dingin mulai keluar.
"Bertahan ya sayang, pejamkan matamu. Percayalah, kita pasti bisa melewati ini semua." Sambil berlari kudengar Bang Zamy bergetar berbicara. Dia tak kuasa menahan tangis. Beberapa orang dari rombongan berlarian memberikan pencahayaan kepada Bang Zamy yang mampu berlari menelusuri jalanan terjal dan dipenuhi rimbunnya rerumputan. Dan setelah sekitar lima belas menit berjalan kaki dengan langkah panjang dan cepat, akhirnya aku dan ibu beserta bayiku dinaikkan ke mobil Bang Zamy yang telah siaga dengan Bang Fathur di kursi kemudi.
"Sebentar bang..." Aku menahan Bang Fathur agar sejenak menahan untuk memulai berkendara.
"Kenapa sayang?" Bang Zamy yang memangku badanku bertanya heran.
"Apa dalang semua ini sudah ketemu?" Aku menatap mata Bang Zamy yang basah.
"Separuh sudah tertangkap dan sisanya dalam pengejaran. Sudahlah sayang jangan pikirkan itu dulu, keselamatanmu dan bayi kita lebih utama. Jalan bang Fathur." Bang Zamy bicara menegaskan.
"Panggil polisi sejenak ke sini karena adek mau berbicara kepada mereka." Aku sedikit memaksa.
"Baiklah." Bang Fathur turun sejenak dan memanggil polisi dengan lambaian tangannya.
Tak lama kemudian beberapa orang polisi mendekat.
"Tolong bapak-bapak ke rumah kakekku, kakek Ezo, tanyakan siapakah bu Risma, dan cari mereka di rumahnya yang berada di belakang kontrakannya di daerah Kacang Pedang. Semua pelaku yang kalian kejar sekarang sedang berkumpul di sana." Aku membeberkan sebuah rahasia yang tadi kudengar.
__ADS_1
"Baiklah bu. Terima kasih ibformasinya."
Mobil pun segera melaju, menuju klinik Honey Bee dengan kecepatan tinggi.
*****
Begitu sampai di klinik, Dokter Nina dan Dokter Husni yang menggantikan kami terkejut. Aku dibaringkan segera, pasien yang sedang berobat segera diminta keluar dulu. Aku semakin pusing dan lemah ketika menyaksikan Bang Zamy melakukan tindakan berusaha menyelamatkan nyawaku akibat perdarahan. Sebelum tak sadarkan diri, aku pun masih sempat melihat Bang Zamy yang segera memberikanku cairan infus. Selanjutnya, aku tidak ingat lagi, apa tindakan medis yang dia lakukan untukku. Aku tak sadarkan diri.
Hingga jam dua dini hari aku tersadar sudah berada di ruang rawat inap klinik kami sendiri. ruangan steril yang jarang kami gunakan meski dibersihkan setiap hari. Karena setiap ada pasien mau rawat inap di klinik kami rujuk ke RSUD Depati Hamzah atau Rumas Sakit Bakti Timah.
Aku melihat Santi dan Mak Yang berdiri di sampingku. Mereka serentak berdiri.
"Dok, sudah sadar? Dokter sudah berhasil transfusi dua kantong darah. Beruntung semua dimudahkan Dok." Mak Yang memegang tanganku yang diinfus. Aku masih lemah.
"Dok, bu Dokter sudah siuman." Santi membuka pintu dan memanggil Bang Zamy. Sekian detik kemudian, suami tercintaku sudah berdiri di depan pintu kamar dengan menggendong buah hati kami. Dia mendekatiku, sementara Mak Yang dan Santi segera keluar. Kemudian dengan hati-hati, kekasih hatiku meletakkan bayi kami yang masih terlelap, sudah bersih dan dengan mengenakan pakaian bayi yang sudah lama kami siapkan. Aku segera memeluk dan mencium buah hati yang menemaniku di saat-saat paling menyedihkan. Entahlah jika bukan karena dia, apa yang telah terjadi terhadapku.
"Dia tampan dan sehat sekali sayang...." Bang Zamy bicara padaku sambil melirik bayi kami.
"Tampan?" Aku keheranan mendengarnya.
"Iya."
"Kok bisa tampan?"
"Kejutaaannn..., secanggih apapun alatnya, sehebat apapun dokternya dia pun bisa salah. Untuk pertama kalinya kecanggihan teknologi telah mengecoh mata Abang."
"Beneran dia laki-laki?" Aku belum percaya.
"Ini lihatlah...," Bang Zamy membuka sedikit pampersnya, dan benar saja, dia seorang laki-laki. Aku tersenyum bahagia. Bagiku, laki-laki atau perempuan tidak ada masalah. Anakku adalah asetku, dia wajah masa depanku.
"Bagaimana tanggapan ibu?"
"Tentang apa?"
"Jenis kelaminnya."
"Ibu bahagia sekali nak. Mau laki-laki atau perempuan ibu sangat menyayanginya. Ibu sudah bulat tekad akan segera mengusulkan pensiun dini. Tak ada lagi yang ibu inginkan, harta ibu sudah berlimpah, jabatan ibu sudah sangat istimewah. Ibu akan tinggal bersama kalian, mengasuh cucu ibu yang sholih. Si tampan yang hebat, yang sudah berjuang bersama Maminya. Nenek akan pensiun dini dan mengasuhnya, nenek ingin menjaganya agar dia tidak pernah merasakan sakit dan terluka sedikitpun." Ibu masuk diiringi ayah dan Bang Fathur. Mata ibu bengkak dan basah lagi. Dia menunduk mendekatiku, memelukku erat dengan bahu bergetar. Lalu memeluk buah hati kami yang bibirnya bergerak-gerak seperti sudah lapar.
"Dia ingin menyusu nak. Kau bisa bangun sayang?" Ibu bertanya kepadaku. Dan Bang Zamy membantuku bangun untuk menyusui anak kesayangan kami yang pertama.
"Sudah ditimbang dedeknya?" Aku bertanya kepada Bang Zamy yang seketika mengangguk.
"Alhamdulillah 3.95, bayi yang sehat, bukan bayi karena gula." Aku mengangguk dan kembali memuaskan diri menatap wajah tampan generasi kami. Muhammad Ayaaz Giezamy. Ayaaz artinya pemberani. Dia memang seorang yang pemberani. Menemani Maminya dalam kesakitan dan kesulitan di tengah kegelapan malam.
Terima kasih Ayaaz, Mami mampu bertahan karenamu. Aku memeluknya kembali, kuciumi wajah bersihnya dengan hidung mancung. Kutatap matanya yang seperti mataku, persis. Namun rahangnya yang kokoh turunan gen Papinya dengan bibir yang seksi. Kupeluk lagi penuh sayang tubuh mungil dengan panjang 56 senti. Pipiku kembali menyentuh pipi mulus putih dan halus mewangi.
***bersambung***
__ADS_1