
Aku kembali mengutak-atik hp setelah selesai sholat, membaca beberapa berita dari link sponsor di facebook. Mengikuti perkembangan covid-19 yang semakin hari semakin menjadi musuh manusia di bumi. Seperti ABG labil sesekali aku menatap langit-langit kamar bersantai menikmati malam dengan dada yang rasanya sudah lega, namun hp tetap di genggaman. Tidak ada lagi beban di hati. Bahagia rasanya setelah bertemu dengan bang Zamy. Entahlah, perasaanku juga berubah sejak tahu aku bukan adik kandungnya. Ada debaran-debaran menggairahkan semangat. Ada perasaan halus ingin menyayanginya lebih dari sekedar seorang kakak.
"Naura...." Tiba-tiba ibu kembali membuyarkan ilusi dan fakta dalam benakku.
"Iya bu...." Aku melompat segera keluar kamar.
"Makan nasi dulu sedikit nak, tadi kamu belum jadi makannya." Kulihat ibu sudah membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Beginilah cara ibuku melepas kerinduan denganku yang kadang hanya pulang ke Mentok sebulan sekali. Dia menyuapiku makan sesendok dua sendok, selebihnya aku melanjutkan sendiri makanku.
"Eh ibu bawa nasi mau nyuapin siapa?" Rupanya bang Zamy sudah pulang dari masjid. Aku saja yang tidak mendengar suara motornya. Ibu mengangkat sesendok nasi ke arahku.
"Aaaa mam...." Bang Zamy menggodaku. Aku mengurungkan diri untuk disuapi. Kuambil piring dan sendoknya dari ibu dan menyuap sendiri sambil menonton program televisi.
"Sepertinya sudah akur ya anak-anak ibu?" Ibu memeluk pundakku dengan tangan kanannya.
"Memangnya siapa yang berantem? Kita memang akur ya Bee...." Bang Zamy mengangkat tangan kanannya mengajakku tosh.
"Tooooshhh!" Kami kompak tertawa. Ibu mencibirkan bibirnya.
"Halaaahhh.... Kemarin datang satu laporan nangis-nangis menahan kesal tapi nggak bisa marah sama adiknya. Tadi ada lagi yang datang-datang kata bude Marni dengan muka kusut, barusan ke meja makan malah nangis-nangis lagi, juga kesal dan merasa bersalah sama abangnya..., sampai makan saja tidak jadi. Gimana sih kalian ini...." Ibu menggerutu melihat kekompakan kami.
"Hehe..., kami kan memang kompak dari dulu bu...." Bang Zamy mengerling nakal ke arahku. Ibu hanya mencibir saja.
"Alhamdulillah kalau sudah akur...." Ibu menjawab sambil memindahkan channel telivisi, menonton acara makan-makan oleh artis gembul yang doyan makan.
"Naura memang tidak mau ribut-rubut kok bu...." Aku menimpali.
"Hanya mau merajuk." Bang Zamy memotong ucapanku.
"Mana ada?" Aku urung menyuap nasiku dan menatap ke arahnya yang tersenyum-senyum bersama ibu.
"Ih sukanya memang ngambekan, salah sedikit abangnya didiemin...." Bang Zamy kembali nyerocos. Aku kesal dibuatnya. Ibu mulai menarik nafas panjang.
"Naura ngambek kalo abang sudah kelewatan." Aku ngotot.
"Kelewatan apanya wong sering abang tidak tahu salah apa tiba-tiba dia diam bu...." Bang Zamy membuat pembelaan. Dalam hatiku sedikit membenarkan aku memang suka merajuk, apalagi kepada bang Zamy. Itu sudah dari TK sampai kami sama-sama menjadi dokter spesialis.
"Ah tidak pernah ah perasaan." Aku bertahan dengan pendirianku.
" Sering." Bang Zamy membantahku.
"Kapan?" Aku menjawab sambil pura-pura mikir.
"Pokoknya sering."
"Bohong ah...."
"Tanya ibu coba, siapa paling sering merajuk?" Bang Zamy melempar pertanyaan ke ibu. Namun ibu tidak menjawab, malah berdiri menatap kami bergantian. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya bergumam sambil berjalan menuju pintu depan. Ayah sudah pulang.
"Bagaimana kalau nanti sudah menikah..., kalian gak bosan apa ribut-ribut terus...." Ibu memoyong-moyongkan mulutnya sambil berjalan. Kami hanya saling bertatapan penuh arti.
"Assalamualaikum...." Ayah bersalam.
"Waalaikumsalam ayah. Aku berjalan ke ruang tamu dan memeluk ayah seperti ketika masih menjadi gadis kecil dulu. Terbiasa menyambut ayah pulang kerja. Kuambil tentengan kantong kresek putih di tangannya. Martabak manis khas Bangka.
"Kenapa pulang sendiri-sendiri? Kenapa tidak barengan Zamy kemarin lusa?" Ayah mengelus rambutku.
"Bang Zamy mana mau ngajak Naura. Dia sok sok-an kemarin-kemarin itu." Aku melirik usil ke arah bang Zamy saat melewatinya sedang duduk di ruang keluarga. Bang Zamy mengancamku dengan tinjunya. Aku membalas dengan menjulur-julurkan lidahku ke arahnya. Ibu malah mencubit gemas ke kuping bang Zamy.
"Sudahlah.... sama adik sendiri kayak kucing rebutan tulang saja."
"Dia sih bu yang selalu cari gara-gara." Bang Zamy mengambil remote dan channel pun berganti ke film Barat. Aku meletakkan martabak ke piring, waw rasa coklat dan keju. Menggoda seleraku, ayah paling tahu kesukaan anak gadis selain sate padang.
"Jam berapa Naura datang tadi? Lain kali jangan bawa mobil sendiri nak ya. Ayah sangat khawatir mengetahui kamu bawa mobil sendiri lagi. Ayah bisa minta tolong orang kantor buat jemput kamu." Ayah membuka jas hitam yang dikenakannya lalu meletakkan ke kursi makan. Ibu memungutnya. Ayah menatapku penuh sayang. Perhatiannya itulah salah satu yang membuat hatiku tertipu selama puluhan tahun. Menyangkakan dia ayah kandungku.
"Oke ayah." Aku menjawab.
"Atau seperti Zamy kalau malas nyetir sendiri, dia naik rental mobil, sendirian, sampai, aman." Ayah masih saja mengkhawatirkan.
"Siap ayah...." Aku mengacungkan jempol ke arah ayah yang mengangguk.
"Ayah mau mandi air panas tidak?" Aku bertanya kepada ayah sambil menggigit sepotong martabak.
"Airnya hampir masak kali dek...." Ayah menunjuk dengan mulutnya sambil membuka kancing kemeja. Aku menoleh ke arah ibu yang sudah berdiri di dekat kompor. Aku melongokkan kepala melihat ke dalam panci di depan ibu. Airnya sudah mulai bergelembung kecil, sedikit lagi pasti mendidih. Jiwaku merintih malu.
"Hahahahaaa...." Bang Zamy mendekatiku tertawa lebar.
"Kenapa sih bang?" Aku gregetan dibuatnya.
"Kenapa tidak sekalian nunggu ayah selesai mandi dulu, baru Naura tanya 'yah mau mandi air hangat apa air dingin? Atau air es lemon?' Bang Zamy mengolokku. Mulutnya monyong-monyong menirukanku. Ibu dan ayah tertawa lepas. Mereka bertatapan lalu menggeleng-gelengkan kepala. Entah apa yang ada dibenak mereka. Sedangkan bang Zamy masih saja mengolok-olok menirukanku menawarkan masak air panas untuk mandi ayah. Merasa kesal kukejar bang Zamy yang mulai menjauh ke arah teras samping dekat sangkar-sangkar burung ayah bergelayutan. Kugelitik pinggang dan tengkuknya. Tak puas menggelitik maka kucubiti lengan tangannya sampai memerah.
"Ayah ibu tolong Zamy, Nauranya kerasukan. Mencubit sampai merah benar...." Bang Zamy berteriak. Aku tak peduli, dan terus mencubitnya.
"Hahaha ampun dek ampun, abang nyerah, maaf maaf maaf. Hahaha.... Lagian sih mata ke martabak terus, masa tidak lihat ibu mengisi panci dengan air keran tadi...." Bang Zamy terduduk lemas. Nafasnya terengah-engah. Aku berkacak pinggang di depannya.
"Jangan coba-coba mengganggu tuan puteri lagi." Aku pura-pura marah lalu menjulurkan tangan kananku ke arah bang Zamy. Bang Zamy menangkap tanganku lalu berdiri, kemudian menggandengku berjalan kembali dekat ibu. Ayah tak ada lagi, mungkin sudah ke kamarnya untuk mandi. Hanya ibu duduk sendiri menikmati martabak yang dibawa ayah.
__ADS_1
"Tetaplah akur nak, dan tetaplah kalian bersama." Ibu bergantian menatapku dan bang Zamy tanpa berhenti mengunyah martabak. Aku dan bang Zamy saling berpandangan lalu tersenyum bersama. Ibu hanya berpura-pura tidak melihat kemesraan kami.
***
Tepat pukul 10 malam. Di sela-sela senda gurau kami. Tiba-tiba ayah meminta waktu untuk bicara serius. Kami siap mendengarkan sambil sesekali menikmati aneka buah segar yang dibelikan ibu sepulang dari kerja. Tivi dimatikan, itu tanda ayah akan berbicara serius, dan itu sudah terjadi.
"Zamy dan Naura...." Ayah memulai bicara sambil melepas kantong makanan ikan di tangannya. Ayah memang baru selesai memberi makan ikan-ikan hias di rumah. Kami tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pertanda siap mendengarkan. Aku duduk di karpet dekat ibu, sedangkan bang Zamy duduk di sofa sendiri. Perlahan ayahpun berpindah duduk di dekatnya.
"Alhamdulillah ayah bersyukur kalian ribut kali ini. Bisa kumpul berdua di rumah dan tampaknya sudah tidak ribut lagi." Ayah berhenti sejenak. Kami semua diam. Aku hanya bergantian menatap ayah dan sesekali melirik ke arah bang Zamy. Ibu mengupas apel dan menyuapkannya kepadaku.
"Menyambung untuk membahas nazar ibu kalian dulu..., ayah merasa sudah saatnya kalian menikah nak. Kalian sudah dewasa, eh bahkan sudah tua, sebentar lagi ubanan...." Ayah tertawa disambut cubitan tangan ibu ke bahunya.
"Naura masih muda yah, bang Zamy yang sudah ubanan." Aku menyahut tersenyum.
"Enak saja, biasanya yang paling cerewet itu yang cepat tua." Bang Zamy mengejekku. Ayah dan ibu kembali hanya mampu tersenyum dan saling bertatapan.
"Sudah-sudah..., intinya karena kalian sudah berumur dan sangat mapan, maka kami berharap kalian segera menikah...." Ayah melanjutkan dengan nada cepat.
"Menikah di musim covid yah?" Bang Zamy menanggapi.
"Ya tidak apa-apa nak. Yang penting sahnya saja dulu. Resepsinya nanti saja. Jadi puasa sebentar lagi kalian sudah sah suami istri." Ayah menjawab.
"Iya biar enak tinggal sama-sama, sahur dan berbuka bersama-sama. Ini satu di klinik sahur sama mang Ridwan dan istri. Satu di Jalan Baru sahurnya sendiri." Ibu menambahkan. Dia menatapku bergantian dengan bang Zamy. Aku dan bang Zamy saling pandang.
"Bagaimana nak? Kalau ayah malah nyuruh hari ini...." Ayah bicara lagi.
"Tapi yah..., maaf sebelumnya ya ayah dan ibu. Hemzzz..., Naura kan sudah bertemu orang tua kandungnya tuh, apa tidak sebaiknya ayah dan ibu membicarakannya dulu sama mereka." Bang Zamy duduk tegak menjelaskan. Kedua jemari tangannya terjalin. Aku hanya diam. Ayah dan ibu mengangguk-angguk.
"Iya bu, Zamy benar. Atau kita ke Pangkalpinang lagi Sabtu depan untuk membahas ini dengan orang tua kandungnya." Ayah setuju dengan pendapat bang Zamy. Ibu diam saja. Tangannya masih asyik mengupas setengah pir jambu.
"Bagaimana bu? Kok diam?" Ayah mencolek bahu ibu. Ibu hanya diam saja. Mukanya sedang memikirkan sesuatu.
"Bu bagaimana?" Zamy ikut bertanya melihat bisunya ibu.
"Ibu malah takut mereka tidak setuju kalian menikah." Ibu perlahan menjawab.
"Lho kenapa?" Ayah langsung bertanya. Ibu melepaskan pisau dan irisan pir jambu ke piring. Dia lebih mendekat ke arahku. Dipegangnya paha kananku.
"Ayah kan tahu, si Erlinda, eh maksud ibu, si ibu kandungnya Naura itu malah ngotot sekali ingin menikahkan Nina sama si Zamy. Sudah berapa kali dianya mau buat acara lamaran-lamaran segala." Wajah ibu mulai terbebani dengan pemikirannya sendiri.
"Lhaaa..., tapi yang yang bakalan menikah Zamy. Zamylah yang berhak menentukan siapa untuk dijadikan istrinya." Ayah bicara sambil menatap bang Zamy. Bang Zamy malah menatap Naura.
"Jujur saya tidak pernah berpikir untuk menikahi Nina. Aku tahu dia sejak mulai kuliah. Aku tahu persis sepak terjangnya bersama banyak laki-laki."
"Tapi sepertinya kalian sempat pacaran ya?" Ibu memotong pembicaraan bang Zamy.
"Maksudnya Naura jelek gitu?" Aku menatap bang Zamy kesal.
"Yaaahhh..., abang kan tidak bilang begitu..., tapi kalau ada yang merasa mungkin memang faktanya begitu kan bu...." Bang Zamy tersenyum menatap ibu. Ibu malah melemparnya dengan bantal kursi.
"Ihhh.... Dibelain terusss...." Bang Zamy miso-miso sambil memungut bantal yang jatuh di dekat kakinya.
"Sabtu nanti kami akan ke Pangkalpinang untuk membahasnya bersama orang tua kandungmu Naura. Tapi ayah berharap pernikahan segera dilaksanakan sebelum masuk puasa." Begitu ayah menyimpulkan percakapan kami yang belum membuahkan hasil.
"Atau ditelpon saja yah pak Ramnya." Ibu memberikan ide.
"Enaknya kalau membahas hal yang penting bertemu langsung bu. Kalau hanya melalui telponan takut ada yang kurang pas nantinya." Ayah menjawab. Ibu pun mengangguk. Aku berpandangan lagi dengan bang Zamy.
"Minggu depan saja kita bahas bersama orang tua kandungnya Naura." Ayah kembali bicara.
"Oke." Bang Zamy menjawab. Aku mengangguk, begitu pun dengan ibu.
"Tidurlah kalian nak, katanya besok mau ke Pangkalpinang lagi. Ingat jangan ribut terus, kalian itu sudah....tua!" Ayah bicara dengan memberikan penekanan pada kata tua. Aku dan bang Zamy tersenyum. Ibu mengembalikan piring yang sudah kosong bersama pisau menuju dapur.
"Sudahlah kalian tidurlah ďua meong...." Ibu mampir ke sofa lagi mencium pipiku.
"Semoga Allah membangunkan kita dalam keadaan sehat ibu...." Aku balas mencium pipi ibu. Bang Zamy menatap kami dengan senyuman.
"Tidurlah Bee, besok kan kamu mau ke Pangkalpinang nyopir sendiri...." Bang Zamy bicara kepadaku sambil berdiri.
"Nyopir sendiri? Ogah ah, kan ada bang Zamy." Aku membalas.
"Enak saja, giliran susah saja abang boleh menumpang mobilnya. Giliran abang benar-benar butuh gak dibolehin." Bang Zamy menjawab acuh. Aku mulai cemberut.
"Bukan begitu bang...." Aku memelas.
"Ogah! Besok abang minta tolong anter sama pegawai di kantornya ayah. Biar bisa tiduran di mobil." Bang Zamy lagi-lagi bicara menyebalkan.
"Huh! Harusnya abang berterima kasih ke Naura!" Aku bicara ke bang Zamy.
"Atas dasar apa?" Bang Zamy mendekati dan duduk di sebelahku.
"Terhindar dari corona." Aku bicaranya mulai galak.
"Lho kok bisa?" Bang Zamy pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Bukannya kemarin dua orang direktur rumah sakit yang hadir di Bogor dalam pertemuan yang mau abang hadiri meninggal dan puluhan terkonfirmasi Positif sekarang." Aku serius bicara.
"Lho kok nona tahu?" Bang Zamy nyengir ke arahku.
"Dokter Ilham cerita pada Naura." Aku menjawab ketus. Wajah bang Zamy seketika berubah memerah.
"Eh kenapa bisa bicara sama Ilham? Kapan ketemunya? Dimana? Membahas apa saja?" Bang Zamy mulai tak karuan pertanyaannya seabreg-abreg tanpa jeda.
"Cemburu ya?" Aku menggoda bang Zamy.
"Ngapain cemburu. Wong abangnya suka sama Nina." Bang Zamy mengetok kepalaku, lalu buru-buru pergi menuju kamarnya. Aku menyusulnya. Kubuka pintunya yang tidak terkunci.
"Mbak Nindya we a Naura menanyakan abang." Aku menyampaikan pesan.
"Sudah abang telpon, ibunya pun sudah mau minum obat." Dengan santai bang Zamy menjawab. Dia sudah rebahan di atas kasur.
"Kok bisa abang kenal sama mereka? Sejak kapan?" Aku kembali bertanya dari depan pintu. Bang Zamy duduk.
"Haruskah abang menjelaskan ke depan pintu atau Naura masuk." Bang Zamy menjawabku.
"Sekilas saja, Naura hanya penasaran." Aku masih melongokkan kepala dari pintu. Bang Zamy bangkit dari duduknya. Dia melepas hp di tangan lalu menujuku, di depan pintu kamarnya.
"Kenapa Naura mau tahu?"
"Yah karena penasaran saja."
"Tidak ada alasan seperti itu, pergilah tidur. Bang Zamy akan menutup pintu. Aku menahannya.
"Naura pengen tahu karena dia kakak Naura." Aku membenarkan alasanku.
"Nah gitu dong." Bang Zamy menarikku kembali duduk ke ruang keluarga.
"Dulu sekali ketika si Nindya hamil tua. Waktu itu abang bertamu ke rumah anaknya pak haji Soleh yang ada peternakan ayam di depan jalan rumahnya Nindya. Abang diajak ke peternakan. Nah nggak sengaja abang lihat dia berjalan kesakitan memegang perut dan pinggulnya. Abang bersama si Ridho anaknya pak Soleh itu mendekatinya. Rupanya Nindya hampir melahirkan, dia baru pulang dianter ojek habis berjualan sayuran di pasar pagi. Ojeknya tidak mau mengantar ke dalam takut mengantar orang hanya pura-pura hamil dan dikira Nindya komplotan begal. Abang naikkan Nindya ke mobil, abang bawa ke rumah sakit. Sekitar sepuluh menit sampai di rumah sakit, Nindya lahiran spontan. Harusnya dia diuruskan biar bisa menginap semalam tapi dia ngotot mau pulang. Setelah mendengar penjelasannya barulah abang paham. Dirumahnya ada wanita lumpuh yang menunggu dia pulang. Dia khawatir. Akhirnya abang bersama bidan dan perawat membawa Nindy dan bayinya masuk ke rumah dalam kebun itu. Luar biasa. Dan di rumahnya tidak ada selembar pun pakaian bayi. Jadi bayi masih pakai kain dari rumah sakit. Abang lantas mengantar bidan dan perawat pulang ke rumah sakit, lalu mampir ke Junior.
"Abang membeli perlengkapan bayi?" Aku memotong.
"Iya. Lucunya abang bingung mau beli apa dulu. Akhirnya abang bilang. 'Ce..., cece..., tolong siapin semua selusin-selusin perlengkapan untuk orang baru melahirkan.' Akhirnya kurang dari satu jam menunggu semua kebutuhan sudah terkumpul. Pempers juga abang langsung belikan 5 pack yang ukuran S isi 44 buah."
"Habis berapa abang belanjanya?" Aku penasaran.
"Kurang dua ribu lima ratus jadi tujuh juta."
"Terus?" Aku semakin penasaran.
"Terus abang antar ke rumahnya di kebun. Mereka kaget. Tidak menyangka sama sekali abang bakal datang kembali. Nindya dan ibunya tak henti menangis berterima kasih. Kau tahu bayi itu dek?"
"Kenapa?"
"Dia sudah pipis dan ee, kain dari rumah sakit sudah diganti. Tapi dipakaikanlah dengan kain sarung saja. Abang tanya kenapa tidak ada persiapan, kata mereka semua perlengkapan bayi ada di rumah mantan suaminya. Mulai saat itu abang dekat dengan mereka. Abang sebulan sekali belanja kebutuhan pokok untuk mereka. Dan Naura tahu tidak?"
"Apa bang?"
"Abang merasa nyaman dengan mereka karena pertama kali melihat Nindya, abang merasa telah melihatmu. Abang merasa menjaga mereka seperti menjagamu. Waktu itu Naura masih ambil dokter spesialis."
"Abang kok tidak pernah bercerita? Pantas saja dulu Naura heran ada struk belanja beli sembako jatuh di lantai dekat abang menggantung jaket. Kutanya yuk Mairoh dia tidak belanja sebanyak itu." Aku mulai mengingat-ngingat. Entah kenapa, kekagumanku kepada dokter ganteng ini semakin bertambah. Rasa sayangku juga menjadi-jadi untuknya. Aku menatap laki-laki yang sudah menjagaku dari kecil ini. Kembali bilur-bilur kenyamanan mengalir, hadir menghiasi relung hati yang paling dalam.
"Terima kasih banyak." Aku memeluk bang Zamy yang kebingungan.
"Untuk apa?" Dengan tenang bang Zamy menjawab.
"Telah menjaga Saudariku." Aku bicara lagi.
"Aku tidak merasa dan tidak tahu dia Saudarimu."
"Terima kasih...." Aku kembali berterima kasih.
"Untuk apa lagi?"
"Telah mengajariku banyak hal-hal baik." Aku melepas pelukanku, menatap penuh sayang kepada bang Zamy yang mengusap-usap kepalaku.
"Tidurlah..., besok mau nyetir sendiri ke Pangkalpinang."
"Ogah!"
"Lho siapa yang akan bawa mobilmu?"
"Calon suamiku?"
"Emang ada yang mau jadi suami gadis cerewet begini?"
"Ada."
"Siapa?"
"Hantu."
__ADS_1
"Eh aku bukan hantu...."
"Lagian kepedean ngaku sendiri jadi calon suami Naura, wekkk...." Aku pergi setelah mengoloknya. Bang Zamy pun pergi ke kamarnya. Malam semakin larut. Sesekali suara cicak mendesis-desis mencari remah-remah makanan. Perlahan kupejamkan mata sambil menikmati begitu banyak kisah berseliweran di otakku menjelang hadirnya mimpi malam.