Dokter Naura

Dokter Naura
Ban 72 Lamaran Bang Fathur


__ADS_3

Pagi yang cerah, bang Zamy beraktivitas seperti biasa. Di koridor rumah sakit menuju ruang kerjanya dia bertemu dengan dokter Zein yang langsung memegang pundak sebelah kanannya.


"Zam, kamu merasa ada yang janggal tidak dengan Dokter Jo?" Dokter Zein membuka percakapan.


"Janggal kenapa Dok?" Bang Zamy tersenyum ramah bertanya balik ke Dokter Zein.


"Banyak yang meragukan surat penunjukan Dokter Jo, sepertinya hal itu penuh permainan." Dokter Zein, sahabat akrabnya di rumah sakit itu berbisik di telinganya.


"Entahlah, semoga nanti semua orasinya menjadi kenyataan...." Bang Zamy tidak begitu antusias membahas masalah Dokter Jo. Dia menuruti saja seperti keinginan pengelola dan penguasa.


"Harusnya kan kamu Zam, kamu jauh lebih kompeten dalam segala hal, itu pandangan kami rekan sejawat dan mungkin hampir seluruh pekerja di rumah sakit ini." Dokter Zein nampak menyesalkan. Nada suaramya menyimpan kekecewaan.


"Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan hal begituan. Bekerjalah dengan hati, dibawah kepemimpinan siapapun, selama kita mengoptimalkan kemampuan, semua akan menjadi lebih baik. Saya masuk ya." Bang Zamy bicara menuju ruangan Wakil Direktur, gantian dia yang menepuk pundak kanan Dokter Zein yang hanya mampu bergumam dalam hati.


"Memang dia lebih pantas memimpin rumah sakit sebesar ini daripada maniak s€ks seperti Dokter Jo...." Dokter Zein berlalu.


*****


"Tok tok tok....!" Bang Zamy melepaskan handphone di tangannya. Sekretarisnya masuk.


"Kenapa Ri?" Dia bertanya ke Riri yang sudah hampir satu bulan menjadi sekretarisnya menggantikan bu Lidya yang sedang cuti.


"Bapak dipanggil ke Ruangan Atas, kita kedatangan pak Alwi." Riri menginformasikan.


"Siapa yang memberitahu kamu?" Bang Zamy bertanya sepintas.


"Kepala SDM baru saja menelpon Dok." Riri tersenyum ramah menjawab.


"Terima kasih Ri, iya nanti sebentar lagi saya ke sana." Bang Zamy berpikir sejenak. Bukankah yang dia dengar setelah menerbitkan surat pelaksana tugas, pak Alwi berangkat ke Jakarta menemui pak Erick Tohir langsung untuk membahas permasalahan manajemen rumah sakit yang sudah mengalihkan kepemilikan saham di rumah sakit yang dikelola PT. Timah, tbk kepada holding rumah sakit BUMN, PT Pertamina Bina Medika IHC/Pertamedika IHC ini.


Bang Zamy menuju Ruang Atas yang dimaksud sekretarisnya. Dengan hanya mengenakan baju kemeja pendek dan celana Chinos panjang warna navi, dia sampai ke ruangan yang dimaksud dalam tiga menit saja. Dia mengetuk pintu, seseorang membukanya dari dalam.


"Assalamualaikum...." Bang Zamy bersalam dan mengangguk tersenyum ramah ke pak Alwi yang berjenggot panjang duduk di salah satu kursi pertemuan. Di sebelah pak Alwi nampak dua orang yang tidak asing lagi baginya. Pak Sukirta dan Zulkarnain, mereka adalah termasuk bagian dari 'pasukan merah'. Salah dua penentu suara dalam keputusan rapat-rapat penting rumah sakit.


"Waalaikumsalam, duduk Dok." Pak Alwi mempersilahkan bang Zamy duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Dua orang dekat pintu keluar, tinggal mereka bertiga saja di ruangan itu.


"Bagaimana kabarnya Dok?" Pak Sukirta berbasa-basi.


"Baik pak alhamdulillah. Apa gerangan saya dipanggil ke sini....?" Bang Zamy duduk mantap menatap mata ketiganya bergantian. Dia tidak terlalu suka berbasa basi dengan para pejabat di atasnya.


"Anu, kita kan tahu sekarang rumah sakit kita sedang dalam sorotan. Artinya rumah sakit kita saat ini dalam kondisi tidak baik-baik saja." Pak Alwi bicara sambil membuka buku agenda hitam kecil di hadapannya. Dia menggeser handphonenya yang sebelumnya berada dibatas buku agenda itu. Bang Zamy diam saja mendengarkan tanpa sedikitpun menyela. Wajah cerdasnya nampak begitu tenang menanti pak Alwi berbicara.


"Dan kemarin saya sudah bertemu langsung dengan utusan pak Erick Tohir membicarakan perihal ini dan diambil kesimpulan bahwa pengambilan keputusan pemilihan Direktur Utama dikembalikan ke Dewan Internal, termasuk di dalamnya Dewan Komisaris, Direksi dan Dewan Medik." Pak Alwi masih bicara serius, tangannya bergerak-gerak di atas meja mengimbangi bicaranya. Sementara bang Zamy, sedikitpun belum menyela.


"Dokter mungkin kaget mengapa PLt. Dirutnya bukan pak Zamy ya?" Pak Alwi tersenyum ramah. Bang Zamy tersenyum menjawab pelan.


"Sedikit kaget sih pak biasanya kan minimal ada konfirmasilah sedikit ke saya...."

__ADS_1


"Baik, begini Dok, jujur saja, secara kualitas kami totalitas mendukungmu. Namun sebelum wacana pergantian Dirut ke kamu, beberapa barisan sudah terlebih dahulu menghadang kami. Mereka malah mengusulkan Dokter Jo yang menggantikan posisi Dirut. Nah rupanya, ini baru diketahui kita saja ya, sekarang Auditor sedang membidik siapa-siapa saja yang juga menerima aliran dana pengembangan pembangunan gedung itu. Dan bukan hanya itu, pengadaan alat kesehatan tahun kemarin juga bermasalah. Sudah benar secara administrasi, namun setelah tender keluar ada pembayaran pelunasan transaksi janji-janji sebelum pemenang di umumkan."


"Maksudnya pak?"


"Kami sengaja membuat Plt. Dirutnya pak Jo dulu, itu agar kami juga bisa melakukan bersih-bersih dewan direksi, dewan pengawas, dewan pengembangan dan dewan medik itu sendiri."


"Saya tidak begitu berambisi sebenarnya pak. Jika diamanahkan ke saya saya juga tidak akan menolak, insyaAllah bekerja sesuai tupoksi dan mengoptimalkan usaha untuk kebaikan rumah sakit ini. Siap bertanggungjawablah istilahnya. Jika pun amanahnya ke Dokter Jo, saya baik-baik saja, sebagai wakil, siap mendampingi menjalankan program-program yang telah diwacanakan saat pemberian bantuan ke karyawan kontrak."


"Hahaha..., saya juga sudah mendengar hal itu. Agak lucu, tetapi biarkan sajalah, mereka berusaha maju, kita usahkan saja bisa bertahan." Pak Alwi bersandar ke kursi sambil membenarkan kopiahnya.


"Intinya di rapat nanti kami sengaja akan melihat keberpihakan mereka. Karena yang sudah dicurigai menerima aliran dana gelap itu banyak, bukan seorang dua orang. Yang bermasalah pasti akan memihak Dokter Jo, karena masing-masing ingin minta dilindungi karena mereka tahu kalau Dokter Zamy tidak mungkin mau menyembunyikan kesalahan mereka." Pak Alwi semakin jauh berbicara. Bang Zamy kembali hanya bisa diam, mendengarkan dengan serius kata demi kata.


*****


Hampir satu jam mereka melanjutkan pembahasan, tiba-tiba Dokter Jo masuk setelah empat kali sudah mengetuk pintu.


"Silahkan Dokter Jo, bagaimana kabarnya nih? Ketiga anggota pasukan merah menyambut ramah."


"Sehat pak alhamdulillah, terima kasih sebelumnya sudah mempercayakan ke saya meski baru pelaksana tugas." Dokter Jo menatap bang Zamy yang tersenyum ramah. Sementara perpaduan mata dan mulut serta raut wajah Dokter Jo nampak begitu percaya diri dan seperti sengaja sumringah menyombongkan diri di hadapan Bang Zamy.


"Hehe...." Hanya itu yang terdengar keluar dari mulut pak Alwi diikuti kedua rekannya. Selebihnya hanya basa basi biasa tanpa sedikitpun menyinggung lagi permasalah pergantian Dirut baru. Hingga mereka bubar, tidak ada lagi sedikitpun pak Alwi menyinggung masalah Direktur Utama, yang ada mereka sengaja mengalihkan pembicaraan saat Dokter Jo kembali memposisikan diri me jadi orang yang paling pantas menduduki jabatan Direktur Utama.


*****


Malam Minggu, waktu yang ditunggu-tunggu bang Fathur tiba juga. Ibu dan ayah sudah datang ke Pangkalpinang dari Mentok sejak Jumat sore, mereka datang untuk melakukan lamaran secara resmi. Aku sudah menyiapkan segala keperluan. Satu set sprei cantik dibuat laksana bebek dan anak-anaknya. Handuk putih dibuat seperti kelinci. Sepasang sepatu, sepasang sandal, payung, kain panjang, satu set perlengkapan makeup sudah semua disiapkan, aku meminta dibuatkan hantaran itu dengan seorang pegawai honor di rumah sakit. Tak lupa aku juga memesan 2 buah parcel buah dan 2 keranjang cantik aneka kue basah. Aku tidak tahu, aku sedang menyiapkan ini semua untuk siapa. Bang Fathur serasa kakak kandung bagiku, mbak Nindya memang kakak seayah denganku. Jadi karena keduanya adalah orang terdekatku, aku begitu semangat menyiapkan segala keperluan.


"Sudah yah, ayo kalau mau berangkat." Bang Fathur yang menjawab. Dia paling cepat mandi sore tadi. Seperti pernikahan bujang gadis, bang Fathur nampak begitu bersemangat.


"Ini yang terakhir ya Thur..., setelah itu tidak ada perceraian dan pernikahan lain." Ibu mewanti-wanti. Dia tidak ada masalah sama sekali ketika bang Fathur menginginkan mbak Nindya sebagai istrinya. Bagi ibu, Mbak Nindya sudah sepertiku, perangainya juga sangat mirip jika saja mereka sama-sama mengenyam bangku sekolah hingga lanjut.


"InsyaAllah deh bu." Bang Fathur memperlihatkan jempol jari kanannya ke ibu yang tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Bang Zamy dan ayah sudah memasukkan semua hantaran ke dalam mobil. Aku, Yuk Mairoh dan suami, Uwak Rangga, abang kandung ibuku beserta istrinya ikut juga. Bang Rahman tidak ikut karena ada kegiatan bersama karyawannya.


Kami pun pergi menuju rumah mbak Nindya yang memang tidak begitu jauh dari rumahku. Sepuluh menit kemudian kami sampai, masing-masing kami memegang keranjang hantaran. Kami disambut papa, tante Mira, beberapa wanita paruh baya dan laki-laki tetangga rumah, teman ayah yang tidak kukenal. Sofa ruang tamu dikeluarkan dan diganti karpet merah bersih dan wangi. Begitu datang aku langsung menuju ruang keluarga menyajikan aneka buah dan kue basah untuk ikut disajikan. Di jalan aku seperti seorang tamu-bersikap menjadi keluarga pihak bang Fathut, namun ketika sampai aku menjadi tuan rumah. Selesai menyajikan buah dan kue aku masuk ke kamar mbak Nindya yang sepertinya sangat gugup. Sejak seleai Isya katanya dia suda kencing lebih sepuluh kali. Aku tertawa nendengarnya.


"Dek, bagaimana nanti tanggapan orang, kasihan sama bang Fathur, dia menikah denganku yang serba kekurangan. Apalagi segi pendidikan, aku hanya tamatan SMP karena tidak selesai sampai lulus SMAnya." Mbak Nindya masih khawatir saja.


"Yang mengutarakan keinginan menikah siapa?"


"Itu si Fathur, bahkan mbak tolak berkali-kali, eh dia masih ngotot dan bahkan melamar langsung ke ayah."


"Nah kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi. Mbak menikah dengan bang Fathur bukan dengan tanggapan orang." Aku menyemangati.


"Dek, bagaimana tanggapan ibunya Fathur? Aku merasa malu sekali." Mbak Nindya kembali bicara dengan suara pelan dan hati-hati. Dia mengenakan gamis Riyani warna ping tua dengan jilbab panjangnya. Entah siapa yang sudah mendandaninya, tapi menatapnya seakan aku sedang bercermin. Dia cantik sekali. Aku memujinya berkali-kali.


"Ibu orangnya sangat baik."


"Dia menerimaku atau tidak dek?"

__ADS_1


"Pasti dong kamu diterima di keluarganya ibu."


"Ah yang benar dek?"


"Iya."


Saat kami sedang di kamar, tiba-tiba seorang ibu datang dan langsung membawa mbak Nindya keluar.


"Nindy ayo keluar" katanya kemudian, lalu aku mengikuti dari belakang.


"Jadi..., maksud kedatangan kami ke sini pak Ram, tidak lain dan tidak bukan, berharap kita bisa menyambung tali kekeluargaan lebih erat lagi. Mewakili anak sulungku, yang seorang duda beranak satu kami melamar putrimu untuk kelak bisa mendampingi Fathur mengarungi bahtera rumah tangga hingga maut yang memisahkan." Papa bicara sangat yakin. Dia tampil setelah sekitar sepuluh menit berbaur, berbasa basi dengan beberapa warga yang juga hadir diundang Papa.


"Nah terima kasih atas niat baik keluarga pak Rey kepada salah satu warga saya. Sekarang kami semua ingin mendengar jawaban dari pak Ram sebagai orang tuanya Nindya. Silahkan pak Ram." Pak RT sebagai penyambung lidah acara lamaran ini, bicara dengan senyum mengembang.


"Eehhmmm begini pak Rey, Bapak melamar saya apa melamar putri saya tadi?" Papa mulai memancing. Beberapa orang mulai tersenyum.


"Owh kalau begitu, demi menghindari salah paham, kita ulangi lamarannya oleh yang bersangkutan saja pak Ram." Ayah seperti sengaja menggoda bang Fathur yang terkejut. Perjanjian di rumah yang melamar adalah ayah, kenapa bisa berubah? Meski seorang dosen, bang Fathur seketik salah tingkah mendengarnya.


"Setuju, setuju, setuju. Masa sudah besar masih minta dilamarkan ayah?" Seorang warga menimpali. Mau tidak mau, bang Fathur harus membuka suara.


"Baiklah, assalamualaikumwarahmatullah...." Bang Fathur duduk lebih tegak. Dia menarik nafas panjang sekali lagi sementara seiisi ruangan menjawab salamnya.


"Begini om Ram..., Saya sudah memikirkan dengan matang, mendiskusikan dengan keluarga dan diridhoi oleh kedua orang tua, bermaksud meminang putri om Ram bernama Nindya untuk menjadi istri saya." Bang Fathur lancar berbicara. Kulihat ibu mencubit paha yuk Mairoh sambil berbisik melihat ekspresinya bang Fathur. Entah apa yang ibu bisikkan.


"Nah kalau begini kan jelas kalimatnya pak Rey...." Papa menjawab yang langsung ditertawakan semua yang hadir.


"Nah jawabannya gimana ini pak? Jangan membuat jantung anak muda berdebar-debar tak sabar...." Pak RT melanjutkan setelah kebisingan terhenti.


"Begini pak eRTe, pak Rey, bu Nia dan semuanya. Saya ini sudah tua, suka sekali makan ikan gabus, kebetulan Fathur suka sekali mancing ikan gabus. Jadi saya berpikir, akan sangat menyenangkan kalau punya anak laki-laki suka memancing...." Papa sengaja bernarasi.


"Jadi diterima tidak ini lamarannya?" Pak RT kembali bertanya.


"Pastilah diterimaaa...." Papa menjawab.


"Alhamdulillahirabbil'alamiin...." Ayah dan ibu berayukur. Bang Fathur nampak begitu senangnya.


"Ada cincinnya tidak?" Pak RT mengingatkan. Bang Fathur yang hanya menggeleng.


"Cincin nanti saja pak untuk pernikahan saja." Bang Fathur seketika menjawab dan bisa dimengerti oleh pak RT.


*****


Begitu saja prosesnya lamaran untuk bang Fathur dan mbak Nindya. Ditambah basa basi yang sedikit lama, akhirnya disepakati pernikahan akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Entah duluan aku melahirkan atau duluan mereka menikah nantinya. Yang pasti jalan keseriusan bang Fathur benar-benar sudah dia buktikan. Dia mencintai mbak Nindya dan sudah terbukti dengan sebuah lamaran. Hanya soal waktu, kebahagiaan sudah menanti keduanya.


*****


(bersambung....)

__ADS_1


__ADS_2