Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 44 Berbuka Di Rumah Ibu


__ADS_3

Seminggu sudah kami menjalankan ibadah puasa. Seperti permohonan ibu, aku dan bang Zamy pulang ke Mentok di weekend kedua kami setelah pernikahan. Klinik Honey Bee pun tutup selama tiga hari. Jumat, Sabtu, dan Minggu. Aku tak lupa memberikan uang libur buat kedua perawat yang membantu praktikku, Santi dan Mak Yang. Kusangu mereka delapan ratus ribu per orang. Mang Ridwan dan perawat bang Zamy pun begitu. Tetapi apotik dokter Jefri masih tetap buka seperti biasanya.


****


Aku pun sudah menawarkan mbak Nindya sekeluarga untuk ikut liburan ke Mentok, namun mereka menolaknya karena alasan malu. Papa juga ingin kuajak ke Mentok, namun alasannya ingin istirahat. Padahal mungkin bukan itu alasan sebenarnya. Aku dan bang Zamy melihat mereka mulai tertawa bersama ditemani Nisa dan mbak Nindya. Mereka biasanya menghabiskan waktu di gazebo belakang atau dibalai-balai bawah pohon taman belakang. Terkadang aku juga ikut nimbrung kalau lagi tidak begitu sibuk. Sementara mama sudah lama tidak tahu kabarnya. Tetapi menurut papa, mama sudah kembali ke rumah gedongnya di daerah Kampak. Sebuah rumah besar seperti rumah artis bernilai fantastis. Rumah yang dihuni keluarga mantan pejabat yang pernah booming dengan kasus pelepasan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) kepada pihak swasta keturunan Cina. Kekayaan kakek dari pihak mama yang dicurigai di dapat dari hasil-hasil yang tidak sesuai aturan. Mama sudah tinggal di sana dan sudah mengiklankan semua properti yang didapatnya bersama papa di forum jual beli Bangka Belitung. Papa hanya diam, membiarkan mama berbuat sesuka hatinya.


"Terserah dia, secara agama dia sudah bukan istri sah papa. Namun secara hukum negara, papa dan mamamu belum resmi bercerai." Begitu jawaban papa saat kucoba memancing perihal iklan penjualan properti mereka. Selain rumah, mereka punya usaha pemotongan daging di pasar induk. Kios sertifikat pribadi selama 25 tahun, dan akan kembali ke pemkot jika sudah habis masanya juga atas nama mama. Ada sebuah mobil Innova tahun 2010 atas nama mama juga, Sedan vios tahun 2007 sebuah, dua buah kendaraan bermotor. Satunya NMax silver tahun 2019 dan satunya lagi Firza 2015, ada tiga lokasi berbeda tanah tanpa bangunan bersertifikat, dan kesemuanya atas nama mama.


"Kenapa sih pa semua properti kalian atas nama mama?" Aku pernah menanyakan saat papa menceritakan kepemilikan aset-asetnya.


"Agak susah dijelaskan nak. Tetapi begitulah laki-laki pada umumnya, hanya banyak membuat nama untuk hutang saja, tetapi tidak dengan aset-asetnya." Papa menjelaskan. Nah saat bang Zamy investasi emas Antam atas namaku, barulah aku membenarkan omongan papa.


"Jadi papa tidak memiliki apapun?" Aku bertanya heran bercampur iba.


"Ada sih. Dia bahkan tidak tahu. Papa punya ruko di dekat simpang Gedung Nasional arah ke hotel XinLu. Ada butik tiga buah berderet itu punya papa. Dan papa punya dua rekening deposito di dua bank BUMN." Papa bicara lepas. Ada kemenangan dari mama yang dia tunjukkan kepadaku.


"Alhamdulillah pa, tapi kok bisa yang itu lolos, mama tidak tahu?" Aku penasaran.


"Iya, itu dulunya punya Yan Samsu. Diam-diam tanpa sepengetahuan mamamu, papa mengambil alih saat dia pulang ke Palembang. Itu sekarang sertifikatnya sudah lama atas nama papa." Papa kembali menjelaskan.


"Owh." Aku merasa lega mendengarnya.


****


Aku dan papa masih duduk di teras menunggu bang Zamy menyiapkan mobil yang akan dipakai untuk pulang ke Mentok. Dia akan membawa mobilku, dan tidak ingin dibantu membawa tas pakaian dan laptop, juga beberapa jenis kecap saos aneka mie pesanan bang Rahman.


"Yuk sayang, kita berangkat." Bang Zamy mengajakku setelah semuanya selesai.


"Pa, semua makanan untuk sahur saya sudah minta yuk Mairoh siapkan. Yuk Mairoh tiap hari pasti masuk, tetapi agak siang. Papa jangan nyuci sendiri lagi. Naura sudah bicara sama yuk Mairoh. Papa letakkan saja baju kotor di ruang cuci." Aku berpamitan kepada papa yang hanya mengangguk. Sedih rasanya hatiku melihat senjanya yang agak redup. Orang tua seharusnya bersama saling mendampingi di sisa usia. Namun papa malah terseok-seok sendiri karena kesalahan masa mudanya. Andai saja, ini andai saja kita boleh berandai, dulu jika saja papa menikahi tante Mira, berpegang teguh pada satu hati, tidak terselip rasa untuk mengkhianati ataupun berpaling kepada orang lain hanya karena jabatan dan materi. Mungkin saja kehidupannya tidak akan seperti ini.


"Sayang pesanan ibu sudah dibawa?" Bang Zamy mengagetkan sekelebat andaiku yang hadir tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh iya apa bang? Apa?"


"Allahuakbar yaangg..., masa masih jam empat sore sudah ngelamun." Bang Zamy bicara sambil berpamitan sama papa.


"Pa, sabar ya, kan hari Ha nya tidak berapa lama lagi." Bang Zamy menggoda papa yang tersirap malu.


"Senin ya nak, papa minta temani mencairkan deposit. Papa sudah menemukan rumah yang bagus, tidak jauh dari sini. Dekat rukonya papa. Rencana papa, nanti sehabis kontrak salah satu rukonya, papa tidak akan perpanjang lagi. Papa mau modalin dan mengajar Nindy berniaga. Nanti kebunnya biar papa yang urus dengan mengupah orang lain." Papa menjawab panjang. Bang Zamy tersenyum dan mengangguk. Kemudian kami pun pergi. Nisa dada dada dari villa. Kata papa dia sedih karena kami akan pergi ke Mentok walaupun hanya tiga hari. Tak lupa bang Zamy memberikan uang sekedarnya untuk pak Rohim beli takjil. Pak Rohim yang sibuk membuat kandang kelinci untuk Nisa sangat gembira menerimanya. Barulah kami menuju mentok, Bangka Barat.


*****


Kami menyusuri jalan aspal menuju kota tua, kota bersejarah yang menjadi destinasi wisata turis asing saat berkunjung ke Bangka Barat. Kota kecil tempat kami dibesarkan ini memiliki banyak agenda tahunan yang bernilai sejarah. Salah satu yang melegenda adalah Napak Tilas yang dilakukan rutin setiap tahun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat. Acaranya selalu dihadiri oleh keluarga dekat bapak Soekarno dan Hatta. Di masa SMA saya pernah menjadi pemberi nampan bunga untuk dikalungkan kepada ibu Megawati Soekarno Putri. Betapa bangganya ibu waktu itu. Difotonya aku berkali-kali dengan tustel zaman dulu. Ibu sengaja membeli satu roll film berisi 30 an foto. Lalu sampai sekarang masih saja foto bersama ibu Megawati dipajang di ruang tamu rumah ibu di Mentok. Tujuan dari Napak Tilas ini tak lain adalah mengingat kembali perjuangan para tokoh perjuangan Republik Indonesia yang diasingkan ke Pulau Bangka termasuk di kota kecilku, kota Muntok. Salah satu tempat pengasingan itu bernama wisma atau pesanggerahan Menumbing. Terletak di puncak bukit Taman Hutan Raya Gunung Menumbing. Pengasingan mantan presiden Indonesia, Soekarno ini memiliki satu bangunan utama dengan beberapa fasilitas umum lainnya. Bangunan bertingkat yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1928 sampai 1933 itu memiliki fasilitas hotel, kolam renang, lapangan tennis dan restaurant. Hampir setiap hari dari saya kecil hingga sekarang tempat itu selalu dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun luar negeri. Tempat pengasingan para pemimpin Indonesia saat terjadi agresi Belanda kedua pada tahun 1948 sampai 1949 selain dikenal karena keindahan alam dan sejarah bangunannya, ada banyak cerita mistik di dalamnya. Tetanggaku yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sana sering bercerita katanya ada penampakan wanita none-none Belanda. Terkadang ada bunyi telapak sepatu tumit tinggi, namun tak nampak orangnya. Beberapa barang yang bergerak sendiri. Percaya atau tidak percaya, tetapi saat aku mengunjungi kamar tidur pak Soekarno, memang terasa hawa yang berbeda. Sejuk dengan aura lain. Kata orang tua-tua, kalau ke sana jangan banyak celoteh. Dinikmati saja. Di sana juga, pada bangunan utama ada sebuah mobil VW BN 10 yang dipakai bung Hatta saat di pengasingan. Terakhir kejadian besar terjadi saat kedatangan tim Tukul Arwana untuk syuting Mister Tukul Jalan-Jalan. Namun saat uji coba lokasi, banyak orang yang kesurupan. Akhirnya acara dibatalkan dan tim hanya jalan-jalan biasa tanpa kamera dihidupkan.


*****


Tidak sampai dua jam di perjalanan, kami pun tiba di rumah, ibu sudah siap dengan hidangan di meja makan. Baru saja kami masuk rumah, adzan Magrib berkumandang, aku dan bang Zamy dijamu ibu berbuka bersama.


"Mana Rahman bu?" Bang Zamy bertanya karena hanya mendapai ibu sendirian. Kalau ayah kami tidak bertanya lagi karena memang lebih sering pulang malam.


"Makanlah yang banyak sayang. Kenapa kamu kok agak kurusan?" Ibu memandangku penuh selidik.


"Perasaan masih seperti kemarin-kemarin kok bu." Aku menjawab sambil kembali melahap pempek ikan tenggiri.


"Sudah timbang belum?" Ibu masih saja tidak percaya. Dia meraih pergelangan tangan kiriku.


"Tuh ibu bilang juga apa. Kamu kurus sekarang. Kok habis menikah malah kurus begitu. Orang kalau bahagia itu semakin gendut..., Lihat urat-urat nadimu menyembul begitu." Ibu semakin sewot. Lalu matanya menuju bang Zamy yang sedang berdiri mengambil tisu di dekatku. Ibu memperhatikan dari bawah hingga ke atas.


"Lhaaa..., ini Zamy yang malah nambah chabby pipinya. Perutnya..., owh..., lihatlah..., perutnya sudah menyembul begitu. Orang puasa makin kurus ini malah makin berisi...." Ibu berkomentar lagi.


"Dia makan malam sama sahurnya tidak berubah lho bu, malah semakin lahap saja." Aku melirik bang Zamy. Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia memegang telapak tangan kiriku, aku duduk berhadapan dengannya. Ibu menjorokkan badan dan setengah berbisik dia bicara.


"Kamu sudah ada batal puasa belum?" Ibu bicara sambil melirik bang Zamy yang asyik dengan martabak karinya.

__ADS_1


"Belum bu, full dari pertama." Aku menjawab perlahan, dalam hati aku bisa menebak kemana arah pembicaraannya.


"Kapan biasa datangnya?" Ibu kembali menatapku serius. Aku menaikkan hidungku tersenyum.


"Biasanya akhir bulan."


"Nah kamu kan teratur tuh."


"Iya hehe...."


"Harusnya kalau akhir bulan, sekarang lagi gitu dong, tetapi kamu masih puasa kan sayang? Kamu belum dapat kan?" Ibu antusias sekali bertanya kepadaku, bahkan sampai berdiri-diri menggenggam jemariku. Bang Zamy tersenyum sambil berdiri.


"Mana kunci motor bu? Zamy mau ke masjid." Bang Zamy sengaja membiarkan mama bicara leluasa kepadaku.


"Tuh tuh tuh... di gantungan dekat shabby kamar Rahman." Ibu kemudian mendorong kursinya ke belakang dan berjalan ke arahku, berjongkok dan memeluk leherku.


"Kamu belum cek ya sayang?" Ibu berbisik di telingaku. Aku menggeleng tersenyum.


"Ayo kita cek saja sayang. Ibu suruh si Rahman mampir beli di apotik ya." Ibu bahagia sekali. Sementara aku hanya tersenyum saja. Sebagai seorang dokter, walaupun bukan di bidang kandungan seperti bang Zamy, aku mulai merasakan ada yang tidak biasa dalam tubuhku. Namun aku tidak ingin terburu-buru. Telatnya juga baru beberapa hari. Namun aku mulai merasakan adanya perubahan fisik dan emosional. Mual sudah mulai sejak beberapa hari kemarin. Aku coba mendiamkan dulu tanpa memberitahukan kepada bang Zamy.


"Eh kamu kan dokter sayang, kira-kira sudah positif belum?" Ibu kembali memeluk bahuku dari belakang.


"Eeeehhhmmm...." Aku masih sibuk dengan pempek dan otak-otak. Tak tahu harus menjawab bagaiamana.


"Okelah. Ibu mau telpon Rahman, biar beli test pack duuuluuuu sebelum pulanggg...." Ibu bernyanyi-nyanyi kecil menuju kamarnya.


"Bu. Ibu! Tidak usah telpon bang Rahman. Di tas Naura ada kok."


"Apa? Beneran ada?" Ibu meletakkan kembali hapenya di rak kitchen set. Aku hanya mengangguk.


"Harus dicek sayang, segera setelah sholat Magrib ya. Kalau positif kamu jangan puasa lagi. Kamu beneran kelihatan kurusan deh sayang." Ibu menasihatiku. Aku kembali mengupas otak-otak dan mencoletkan ke sambel jeruk kuncinya. Nikmat sekali. Lebih nikmat dari biasa-biasanya.

__ADS_1


__ADS_2