
"Lho? Kapan datang?" Bang Zamy kaget melihat kedatangan bang Fathur bersama ayah dan ibu.
"Kami saja terkejut, tiba-tiba saja dia sudah nongol di teras, dia datang tidak bilang-bilang." Ibu langsung menjawab. Bang Fathur hanya tersenyum mendengar pernyataan ibu.
"Sore kemarin dik, dan dari bandara langsung sewa mobil ke Mentok." Bang Fathur menjelaskan. Mereka berdua berpelukan erat, saling menepuk bahu dan tosh tinju seperti kebiasaan mereka sejak dulu. Tetapi sudah lama momen itu tidak terjadi. Sejak bang Fathur menikah di Palembang dan memboyong mbak Vioni kembali ke Yogyakarta. Setelah itu mereka belum bertemu lagi.
"Mbak Vioni sama Oyan mana?" Bang Zamy bertanya setelah menyadari bang Fathur hanya datang sendirian. Bang Fathur masih tersenyum saja, mengabaikan pertanyaan bang Zamy, lalu mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Sempat menoleh-noleh ke arah mbak Nindya, bang Fathur akhirnya masuk dengan perasaan bersalah. Melihat semua sudah masuk, mbak Nindya malah diam saja di balai-balai. Dia berdiri dengan sebuah buku novel di tangannya. Setelah aku memanggil dengan lambaian tangan, barulah dia mendekat. Oh ya mbak Nindya sekarang sudah suka sekali membaca novel, berawal saat dia melihat koleksi novelku di perpustakaan pribadi yang ada di kamar kecil dekat dapur, dia sangat antusias membaca.
"Mbak Nindya sudah lama datangnya?" Aku menyapa mbak Nindy yang masih malu-malu ikut mendekat ke arahku. Ayah dan ibu sudah masuk ke rumah. Mereka masih cekikikan menggoda bang Fathur. Sementara bang Fathur merona merah karena malu berat, terutama kepada orang yang sudah diciumnya diam-diam. Dia masih mencuri-curi pandang. Dia yang seorang dosen sudah magister, merasa sangat tidak nyaman salah menggoda orang. Dalam hatinya minimal tadi dia minta maaf sama tuh wanita. Dia masih gelisah, dan sesekali menoleh ke arah balai-balai. Namun saat dia menatap ke balai-balai yang terakhir mbak Nindya tidak ada lagi di sana. Dia berdiri, pura-pura batuk sambil matanya lincah mencari keberadaan mbak Nindya.
"Kemana si Nindya kalau tidak salah namanya tadi begitu disebut ibu. Siapa gerangan dirinya? Bukankah itu yang kemarin menabrak mobil sewa yang ditumpanginya." Bang Fathur bergumam sendiri. Tiba-tiba ada langkah kaki melewatinya yang duduk sendirian.
"Cobain langsung saja ya mbak. Yang mana suka dibawa saja nanti." Aku bicara kepada mbak Nindya. Katanya dia mau mendatangi undangan temannya jam dua siang, tetapi dia tidak punya lagi pakaian yang layak dibawa ke undangan. Satu-satunya pakaian barunya adalah yang dulu dipakai saat pernikahanku dengan bang Zamy. Baju itu semua sudah koyak-koyak dan tak dapat dijahit lagi karena kasus penculikan. Dia mau membeli baju tetapi tidak berani sendirian.
*****
Selesai mencobakan satu baju, mbak Nindy kemudian keluar, dia tidak mau saat kusuruh mencoba beberapa pakaian lagi.
“Cukuplah dek yang ini sangat bagus, kupinjam dulu ya, nanti dikembalikan kalau sudah dicuci.” Dia bicara dengan polosnya. Aku seketika memeluknya.
“Mbak…, mbak, sebenarnya mbak boleh ambil beberapa pakaian yang mbak suka, dan tidak usah dikembalikan. Kita ini saudari kandung satu ayah.” Aku menciumnya penuh sayang.
“Haduh janganlah dek, baju mahal-mahal sayanglah. Mbak malah tidak berani pakai baju mahal-mahal. Takut nanti dibilangin orang….” Mbak Nindy menjawab polos.
“Kita nyiapin makan dulu yuk sebentar, yuk Mairoh sudah banyak memasak.” Aku mengajak mbak Nindya ke dapur.
“Okelah.” Dia berjalan duluan, sementara aku masih membereskan beberapa baju yang tadi sempat kukeluarkan.
****
Mbak Nindya berjalan dengan baju kondangan diletakkan di bahu kanan. Dia melewati bang Fathur yang seketika menutup mata dengan kedua telapak tangannya saat melihat mbak Nindya lewat. Bang Fathur merasa malu sejadi-jadinya. Mbak Nindya yang memang saat berjalan tidak bertoleh-toleh ke kanan dan ke kiri, dia santai dan tidak bereaksi berlebihan karena memang tidak menyadari ada bang Fathur yang menahan malu dan degupan di jantungnya.
“Dia cantik sekali meski tanpa sedikitpun polesan ‘mekap’….” Dia membantin sambil ujung mata mengikuti pinggul mbak Nindya. Beberapa menit kemudian, sesekali bang Fathur menoleh ke dapur melihat mbak Nindya yang sudah asyik berbincang dengan yuk Mairoh dan ibu. Ibu menahan senyum melihat putra sulungnya, dia sadar betul kalau mata bang Fathur masih lekat menatap ke arah mbak Nindy. Melihat keakraban ibu dan mbak Nindy, bang Fathur semakin penasaran dengan sosok yang nampak lemah lembut itu. Terakhir sambil melihat hape bang Fathur melihat mbak Nindy mengelap-ngelap meja, aku keluar kamar dan melewatinya.
“Bee…, sini dulu.” Bang Fathur menangkap lenganku. Aku mengernyitkan dahi mendekatinya.
“Ada apa sih, kok bisik-bisik.” Aku bertanya heran, bang Fathur seketika mendekatkan mulut ke kupingku.
“Yang sedang mengelap-ngelap meja itu siapa sih dek?” Bang Fathur bertanya kepadaku. Aku seketika menoleh.
“Ih becanda mulu.” Aku menepuk pundak kanannya.
“Serius ah dek, eh tapi jangan berisik.” Bang Fathur tidak berani menatap ke arah dapur. Dia pura-pura melihat ke ruang keluarga dan dinding ruangan. Aku semakin heran.
“Lha abang yang tidak serius, tuh lihat yang mengelap-ngelap meja itu kan ibu.” Aku menunjuk ibu dengan mulutku.
“Masa sih?” Bang Fathur pelan-pelan menoleh, benar saja, ibu sudah menggantikan mbak Nindya mengelap meja makan, sementara mbak Nindy mengaduk-aduk lauk di kuali atas kompor. Seketika bang Fathur menarik lenganku lagi, dia berbisik ke kupingku dengan pelan.
“Bukan yang mengelap meja, tapi yang sedang mengaduk-aduk sesuatu di kuali itu lho dek.” Bang Fathur meralat objek pertanyaannya. Aku kembali menoleh dan melihat yang sedang mengaduk-aduk lauk itu kan bang Zamy.
“Allahuakbaaarrrr..., bang Fathuuurrr…, kenapa sih matanya apa otaknya nih yang eror, tuh liat bang Zamy sedang mengaduk-aduk.” Kembali dengan mimik lucu, pelan-pelan sambil mengangkat sebelah kaki, bang Fathur kemudian menoleh perlahan ke dapur. Bang Zamy menatapnya sambil memegang can di tangan. Bang Fathur ternganga. Dia mengerjap-ngerjapkan mata.
“Apa iya di rumah ini ada hantunya? Jangan-jangan tadi yang dia cium bukan orang biasa, tetapi mahkluk astral yang tidak kasat mata. Jangan-jangan dia itu penghuni pepohonan rindang di sekitar rumah Naura….” Bang Fathur menutup mata dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kemudian dia mengacak-acak rambutnya bagian belakang dengan tangan kanan, sementara tangan kiri berkacak pinggang dengan menampakkan jam putih mahal.
__ADS_1
“Thur, ini cobain lempah kuning kepala ikan kakap merah kesukaan kalian….” Ibu tiba-tiba sudah ada di dekatnya dengan membawa semangkok lempah kuning kepala ikan kakap yang masih menghembuskan asap karena panas.
“Waw, siapa yang masak? Padahal semuanya baru tiba. Apa ibu bisa masak secepat ini?” Bang Fathur menarik mangkok yang ibu letakkan di meja depannya. Mulutnya menceracau saja sambil mengaduk-aduk.
“Ada deh…,” Ibu menjawab.
“Wawwww…, sedap sekali bu. Pasti yang masaknya sangat cantik dan ikhlas hatinya.” Bang Fathur mengira itu dimasak ibu, dia menghirup kuahnya sesendok. Sungguh perpaduan rasa, gurih, asam, pedas dan sedikit manis membuat dia menggeleng-gelengkan kepala.
“Mana sambel belacin dan nasinya Nin…,?” Ibu kemudian menoleh ke belakang. Nindya yang dari tadi berdiri di belakang ibu dan aku, menyodorkan sepiring nasi putih dan sepiring lagi berisi sambel belacin, goreng tempe, goreng ikan asin, lalapan ketimun, kencur dan rebus petai. Semua kesukaan bang Fathur. Melihat mbak Nindya memberikan nasi dan sepiring sambel dan lalap, seketika bang Fathur terbelalak. Hantukah? Dalam hatinya, tetapi tidak mungkin ibu bisa berbicara dengannya. Seketika dia menutup wajah lagi dengan kedua telapak tangannya. Ibu tersenyum.
“Kamu kenapa?”
“Ibu dan Naura pergilah menjauh, abang maluuu….” Bang Fathur menjawab.
“Lha malu kenapa, enak saja main usir-usir.” Ibu mengomel menggelitik ketiak kanan bang Fathur yang seketika membuka wajah dari telapak tangannya.
“Maaf….” Bang Fathur mengangguk dan memaksakan senyum ke arah mbak Nindya yang kembali berdiri di belakangku, masih saja wajahnya menunduk menahan malu. Bukan karena dicium orang asing saja, tetapi dalam suasana apapun dengan orang yang baru bahkan dengan saya, mbak Nindya masih tidak begitu berani. Mungkin masih ada sisa-sisa trauma di masa lalu. Kepercayaan dirinya belum sepenuhnya kembali.
“Maaf ke saya? Karena main-main tadi? Atau maaf ke ibu?” Aku menggerakkan alisku tak mengerti, heran dengan tingkah bang Fathur yang sepertinya kehilangan konsentrasi.
“Bukan sama kamu Bee, tetapi maaf sama….”
“Sama siapa!” Ayah tiba-tiba mengagetkan bang Fathur dari belakang.
“Sama hantu!” Bang Fathur menjawab seketika karena kaget. Akhirnya semua tertawa, bahkan bang Zamy yang baru saja mendekat dan menyaksikan ekspresi lucu abang sulungnya itu terbahak-bahak sampai terbatuk. Bang Fathur akhirnya duduk di kursi, dia diam menahan tawa, mencoba menenangkan hatinya yang tidak karuan. Tetapi senyumnya tidak bisa ditahan untuk keluar dari bibir seksinya. Ibu lalu menarik tangan mbak Nindya yang masih saja menunduk-nunduk, mendudukkannya di kursi yang berada persis di hadapan bang Fathur. Dan cukup dengan sekali kerdipan mata ibu, membuat kami kembali membubarkan diri. Ayah dan bang Zamy menuju halaman rumah, ibu dan aku kembali ke dapur menemani yuk Mairoh menyiapkan makan.
Mengetahui dia sengaja ditinggalkan berdua dengan mbak Nindya, bang Fathur semakin tidak karuan. Lalu dengan tatapan yang diberani-beranikan, dia mulai mengajak mbak Nindya bicara.
“Maaf ya bu…, eh mbak, apa dek. Maaf tadi saya menyangka situ adalah Naura, saya tidak bermaksud melecehkan. Aku sudah benar-benar merindukan Naura, makanya diam-diam tadi mau kasih kejutan atas kepulangan ke Bangka.” Bang Fathur mulai bisa menata nafasnya.
“Eh, nanti dulu, mbak siapa namanya? Nindya tadi ya ibu bilang? Maaf ya mbak Nindya.” Bang Fathur kembali bicara.
“Iya pak, Nindya.” Mbak Nindya kemudian menurunkan tangan dengan sopannya melewati sela meja dan kursi untuk kembali ke dapur. Bang Fathur hanya keheranan. Perasaan di zaman begini mana ada wanita yang begitu menunduk-nunduk tanpa berani menatapnya. Dia jadi ingat bagaimana mbak Vioni kalau ada tamu kadang ikut nimbrung dengan suaranya yang tegas, seakan semua pendapat hanya dialah yang benar. Bagaimana banyak mahasiswa yang selalu terpesona dan berusaha mencari perhatian lebih kepadanya. Bagaimana ramahnya mulut ibu-ibu muda menyapanya saat dia jogging di komplek. Bagaimana ada beberapa wanita yang dengan sengaja selalu menunggu dia membuat story WA agar bisa punya kesempatan chatting dengannya. Banyak sekali wanita, baik masih gadis maupun sudah bersuami yang dia sadari dengan sengaja mendekatinya untuk mendapatkan perhatian lebih. Badan dan wajahnya yang tampan dan sangat mirip dengan bang Zamy selalu menjadi perhatian dan primadona dimanapun dia berada. Tapi ini? Wanita ini bahkan menatapnya saja tidak berani. Dia istimewah, batinnya.
“Bagaimana motormu kemarin? Sudah diperbaiki?” Bang Fathur bertanya lagi saat dua langkah mbak Nindy menjauh darinya. Mbak Nindya berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatap bang Fathur dengan senyum.
Betapa manisnya....
Bang Fathur membatin.
“Oh berarti saya tidak salah ya pak, tadi saya berpikir saya salah orang saat tadi melihat bapak.” Mbak Nindya berbalik lagi.
“Bagaimana kabarmu? Kau tidak terluka? Motormu sudah dibetulkan?” Bang Fathur berdebar-debar bertanya. Entahlah ada rasa iba bercampur rasa yang tidak jelas perlahan merayap datang mengetuk-ngetuk perasaannya yang tulus.”
“Saya tidak apa-apa. Hanya masih sakit sedikit bagian lutut.” Mbak Nindya bicara.
“Sudah diperiksa?” Bang Fathur mengkhawatirkan.
“Hehe…, tidak perlu pak, nanti juga hilang sendiri.” Mbak Nindya mengeluarkan senyumnya yang cantik. Itu langka, soalnya dia jarang memberikan senyum kepada sembarangan orang.
“Di sini ada dua orang dokter, periksa saja.” Bang Fathur menyarankan.
“Saya cidera lutut saja pak, bukan hamil.” Mbak Nindya membalas dengan sedikit keberanian.
__ADS_1
“Hahaha…, nggak harus hamil kalau ada keluhan bisa juga sama mereka kok mbak.” Bang Fathur merasa lucu mendengar jawaban mbak Nindya yang entah untuk bercanda atau memang tidak mengerti.
“Nanti juga sembuh sendiri…, maaf ya pak, maaf sekali yang kemarin itu....” Mbak Nindya menunduk-nunduk meminta maaf dengan kedua tangannya.
“Tidak masalah, bagaimana dengan motormu?” Bang Fathur dewasa sekali menjawab.
“Belum sempat dibenarkan pak. Itu di bawah sana.” Mbak Nindya menunjuk ke arah motornya yang di parkir persis di samping motor unik pak Rohim. Bang Fathur seketika berdiri.
“Mana kuncinya mbak?” Bang Fathur seketika mencari panggung.
“Tidak usah pak. Nanti saja dibenarkan.”
“Tidak apa-apa, mana kuncinya.” Bang Fathur kepalang tanggung ingin mendekati wanita yang dalam pandangan pertamanya sudah berkesan. Dia menutup nasi dan lauk yang dibawakan ibu untuknya dengan koran. Saat dia sedang berdiri, tiba-tiba Nisa masuk dan langsung memeluk paha kanannya.
“Ooommm, oom harus lihat ikan baru di kolam dekat gazebo deh, Nisa baru memasukkannya.” Nisa tersenyum riang.
“Nisa…, nak itu bukan….”
“Bener bu, itu ikan.” Nisa ngotot kepada ibunya.
“Iya ikan, tetapi itu bukan om Zamy sayang….” Mbak Nindya perlahan menarik Annisa. Nisa mendongak dan terkejut, dia spontan melepaskan pelukan di paha bang Fathur. Annisa kemudian mundur mendekati ibunya dengan rasa malu bercampur takut (dimarah). Namun bang Fathur malah duduk, tersenyum manis dan mengulurkan tangan ke arah Annisa.
“Oooh…, rupanya ada gadis cantik di rumah ini. Ayo sini nak, kenalan, om ini kakaknya om Zamy, nama om Fathur. eF A Te Ha U eR, sudah sekolah belum?” Bang Fathur bicara ramah. Perlahan wajah Annisa berubah lebih bergairah, hilang ketakutan yang tadi hadir seketika.
“Maaf.” Annisa mendekat dan menerima pelukan bang Fathur.
“Mana papamu? Kenalkan sama om dong…,” Seketika bang Fathur berpikir mereka keluarga utuh dan niatnya untuk mulai mendekati mbak Nindya dia buang jauh-jauh. Annisa tidak menjawab, dia malah menatap ibunya. Mbak Nindya tersenyum.
“Nisaaa…, kemana tadi kok baru muncul, kata ibunya ikut ke sini….” Bang Zamy datang dan langsung membuka kedua lengan. Annisa menghambur ke pelukan bang Zamy. Bang Fathur berdiri mendekati keduanya.
“Om Zamy, kenapa om Zamynya ada dua….?” Dengan polosnya Nisa bertanya.
“Hah? Dua?” Bang Zamy menjawab dengan senyuman.
“Iya, om itu seperti om Zamy.” Nisa menunjuk bang Fathur.
“Dia bukan om Zamy, tapi kakaknya om, namanya om Fathur.”
“Owh….” Annisa mengangguk, dia merebahkan kepala sebelah kiri ke bahu kanan bang Zamy.”
“Apa dia juga baik sama seperti om?” Nisa bertanya lagi.
“Iya dong…, om Fathur juga sangat baik orangnya.” Bang Zamy menjawab lembut pertanyaan gadis kecil ini.
“Kalau dia baik, jadikan dia ayah Nisa saja…, om kan janji, mau carikan oom yang baik buat ayah Nisa.” Dengan lugunya Annisa menjawab. Mbak Nindya sudah tidak mendengar lagi, dia sudah kembali bergabung dengan ibu, aku dan yuk Mairoh menyiapkan makan.
Alhamdulillah aku ada kesempatan….
Bang Fathur bergumam dalam hati.
“Coba tanya sama omnya, mau nggak menjadi ayahnya Annisa….” Bang Zamy menjawab Annisa dengan senyuman. Bang Zamy sudah mendengar semua tentang kehidupan rumah tangga bang Fathur.
“Dengan senang hati oom Fathur siap Nisaaa….” Bang Fathur menjawab serius. Nisa tertawa kegirangan sambil menutup mulutnya. Sementara bang Fathur dan bang Zamy kembali tosh dengan tinju mereka.
__ADS_1
*****