
Subuh yang dingin, waktu masih menunjukkan pukul 03.12 WIB, belum terdengar suara kokok ayam satu kalipun. Tiba-tiba aku terbangun dengan perut sakit seperti diaduk-aduk. Sakitnya bahkan sampai ke ulu hati. Aku duduk menahan sakit dan mual. Ingin muntah rasanya namun belum ada yang keluar.
"Bang...." Aku memanggil bang Zamy, mundur sedikit dari dudukku dan menghidupkan lampu kamar. Aku terkejut. Tidak ada sosok suamiku di tempat tidur. Hanya nampak dua bantal guling dan selimut kami yang setengahnya tergeletak di atas lantai.
"Baaanggg," kembali aku memanggil suamiku. Namun tidak juga ada sahutan.
"Bang Zamy...," Aku menaikkan suaraku. Namun tidak ada sahutan juga. Aku kemudian sambil menahan sakit menuju ke kamar mandi. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Aku kembali memanggilnya. Rasa sakitku semakin melilit saja. Seakan diaduk-aduk oleh kuku-kuku yang tajam. Rasa sakit, nyeri, mual ingin muntah tapi tidak termuntahkan. Aku mulai keringatan. Kuraih handphoneku di meja samping tempat tidur, aku menelpon Bang Zamy. Namun suara getaran malah terdengar di sebelahnya tidur.
"Ibuuu...! Bang Zamy...! Ayaaahhh...! Bang Rahman...! Bang Fathur...!" Aku memanggil semua anggota keluargaku yang sudah datang untuk persiapan pernikahan bang Fathur besok lusa. Namun tidak ada satu orang pun yang mendengarnya, aku tersadar ini kamar kedap udara. Jika tidak terbuka pintu sedikit saja, maka tidak ada suara yang akan sampai keluar.
"Sayaanggg..., sabar ya nak...." Aku mencoba berbicara dengan bayiku yang terasa menggelinjang kuat. Aku memang seorang dokter, tetapi dalam keadaan sendirian seperti ini, aku sangat tidak berdaya. Perutku semakin menjadi-jadi sakitnya, aku berkeringat dingin. Dengan sisa tenaga aku mengambil handphone di atas bantalku, kali ini aku mencoba menghubungi ibu.
"Halo dek?" terdengar suara ibu menyapaku.
"Ibu dimana? Adek sakit perut, sakit luar biasa ibu." Kukeluhkan sakitku dengan suara yang pecah menahan tangis.
"Ibu ada dii villa sama yang lain nak...," Ibu menjawab.
"Kenapa di sana? Naura benar-benar sakit perut bu..., melilit sakit sekali." tangisku tak bisa ditahan lagi.
"Tinggulah nak, kami ke sana." Ibu menjawabku dengan nada khawatir. Aku meletakkan handphoneku sembarangan, perutku masih benar-benar terasa sakit. Melilit seakan diaduk-aduk rasanya.
*****
Semenit kemudian semuanya sudah berada di hadapanku dengan wajah tegang dan khawatir. Bang Zamy segera meraba keningku.
"Kau demam sayang. Tunggu abang ambilkan obat." Bang Zamy mengambil obat di tas kerjanya. Lalu meminumkannya kepadaku. Aku menurut saja.
"Perut adek sakit, serasa diubek-ubek dengan tangan berkuku panjang." Aku mengeluhkan kepada semuanya. Ibu langsung berubah rona wajahnya menjadi semakin khawatir. Bang Zamy masih berusaha tenang.
"Sebelah mana yang sakit?" sambil bertanya dia dia menekan sekitar perutku, dada kiri atas, kiri bawah dan bagian lainnya yang biasa kami lakukan dalam menanggapi keluhan sakit pada wilayah tertentu dari tubuh pasien.
__ADS_1
"Tidak pas dimana sakitnya bang, tapi adek merasa sakit sekali....," aku berair mata. Mungkin Bang Zamy berharap, hanya sakit sedikit disebabkan karena hal-hal medis. Namun rasanya memang sakit sekali, dan aku merasa ini ada kemungkinan memang tidak berhubungan dengan dunia medik.
"Permisi ya, mau bawa masuk pak ustadz Zulkifli...." tiba-tiba ayah masuk dengan seorang ustadz di sebelahnya. Begitu
melangkahkan kaki, dia langsung istighfar berkali-kali lalu meminta bang Zamy mengambil kantong kresek. Ustadz itu perlahan mulai membaca ayat-ayat AlQuran.
"Bu Dokter, mohon terus istighfar dan mohon perlindungan dari Allah." Ustadz itu menyarankan kepadaku. Dia terus saja membaca ayat-ayat AlQuran. Bang Zamy dan seluruh anggota keluargaku juga ikut berzikir. Aku merasakan perutku semakin sakit saja, namun terus hatiku konsentrasi mohon agar Allah membantuku memenangkan pergulatan dengan segala bentuk sihir yang datang. Suasana tegang, ibu dan Bang Zamy menggenggam kedua tanganku.
"Sabar sayang..., istighfar ya...." Ibu dan Bang Zamy terus bergantian menyemangatiku. Dan akhirnya, setelah pergolakan rasa sakit dan dibantu ustadz Zulkifli, perlahan-lahan perutku mulai hilang sakitnya. Bayikupun sudah kembali tenang. Aku menarik nafas perlahan dan duduk. Aku meminum meminum segelas air putih. Bang Zamy dengan cekatan mengikat rambutku, memasangkan jilbabku dan mengelap keringat di sekujur tubuh.
"Maaf meninggalkanmu sendirian...." Dia memelukku erat. Bau tubuhnya yang juga basah oleh keringat.
"Mengapa dijam seperti ini semua pergi ke villa?" rasa penasaranku tak bisa dibendung lagi. Setelah sejenak istirahat menenangkan diri dan mengatur nafas aku bertanya.
"Hemzzz..., anu dek..., tadi Fredy tiba-tiba saja berteriak yang kencang, kebetulan ibu bangun mau tahajud mendengarnya. Ibu membangunkan kami semua." Bang Zamy bercerita sambil tangannya mengelap-ngelap keningku yang berkeringat.
"Fredy kenapa?" Aku penasaran.
"Dia hampir kecolongan, ada dua orang laki-laki menyelinap masuk ke halaman lewat pintu teralis yang tidak dikunci karena Fredy dan kawannya ada namun asyik main domino.
"Sepertinya dia kembali melewati pagar belakang. Atau ada kemungkinan dia masih di sekitar rumah dan bersembunyi mencari jalan keluar." Bang Zamy melanjutkan ceritanya.
"Abang jangan pergi ya...."
"Iya abang nggak pergi. Abang di sini saja, manjagamu sayang." Bang Zamy menciumku. Aku kembali merasakan ketenangan saat berada dalam dekapannya.
"Tapi bagaimana mungkin tiba-tiba ada seorang ustadz tadi...." Kucoba menanyakan isi kepalaku kepada suami tercinya yang duduk di sebelahku berbaring. Dia menatapku.
"Yang datang masuk berlari kata Fredy dua orang, larinya ke arah villa. Namun ketika dicari yang ada hanyalah keranjang seperti dulu berisi kain putih, tiga duri landak, gumpalan rambut dan paku-paku besar yang ditancapkam pada ayam mati."
"Hah? Yang benar saja bang. Masa isinya begitu."
__ADS_1
"Iya, makanya begitu menemukan hal yang janggal itu, ayah menelpon temannya minta nomor handphone ustadz Zulkifli yang pernah ceramah di kantornya ayah. Ustadz Zulkifli tadi bisa merukyah."
"Owh." Aku hanya mengangguk sejenak. Sangat tidak kusangka, aku yang selama ini tidak begitu peduli dengan sejenis teluh itu, benar-benar mengalaminya sudah dua kali hampir dikenakan guna-guna. Benar kata beberapa orang Bangka, jangan tidak percaya dengan hal yang tidak bisa menyentuh namun bisa membunuh.
******
Sebelum adzan Subuh, ustadz dan beberapa anggota keluargaku memusnahkan alat-alat yang dipakai orang mengirimkan guna-guna. Semua sudah terbakar habis, tinggallah kenangan pahitnya yang mungkin tidak akan terlupakan olehku seumur hidup. Biarlah menjadi cerita, bumbu kehidupan antara aku dan bang Zamy yang mengalami hal yang sedikit menyulitkan.
*****
Pagi pun datang setelah aku melewati sakit perut sebelum sholat Subuh. Matahari telah menyelinap dari celah-celah pepohonan rindang di depan rumahku. Ayah sudah membantu pak Rohim menyapu halaman. Ibupun sudah menemani yuk Mairoh masak di dapur. Dan Aku bolak-balik melihat ibu dan yuk Mairoh memasak, kadang ke teras melihat ayah dan lainnya. Terkadang juga ke kamar berbaring sendiri sambil menyetel tivi, menonton sambil bermain hape dan sesekali lanjut membaca novel lawas yang belum sempat kubaca. Sementara Bang Zamy pagi-pagi sekali sudah pergi ke rumah sakit. Kembali yang dia mengatakan ada banyak berkas harus diverifikasi. Sementara Bang Rahman sudah pula pergi membantu kesibukan di rumah mbak Nindya bersama bang Fathur, rumah yang akan menjadi tempat menikahnya bang Fathur dan mbak Nindya esok pagi. Semua berjalan normal tanpa ada hal-hal aneh lainnya. Meski terasa agak membosankan tanpa Bang Zamy, aku menikmati hari bahagia karena sangat diperhatikan ibu yang juga ibu mertuaku.
*****
"Nauraaa...," saat sedang serius membaca novel ibu mengetuk pintu kamarku.
"Iya bu, masuk saja." Aku menjawab.
"Ini nak baju buat acara besok, sudah disetrika Mairoh." Ibu memberikanku baju setelan keluarga lagi untuk acara pernikahan bang Fathur esok pagi.
"Ini yang Zamy. Mudah-mudahan tidak sempit karena ukuran L tidak ada, adanya M inilah." Ibu kemudian memberikan pula pakaian Bang Zamy. Ibu belinya di butik Jalan Baru yang tidak begitu jauh dari rumahku. Biasanya untuk acara-acara penting keluarga kami akan membuat baju dengan mengukur langsung, tetapi kali ini karena Bang Fathur nikahnya dimajukan jauh-jauh hari dari jadwal sebelumnya makanya ibu pun spontan hanya mampu mencari di butik saja.
*****
Sementara di tempat lain, pada saat yang bersamaan, bang Fathur dan mbak Nindy bersama-sama menyiapkan dan merapikan rumah. Masih dengan riasan menyewa yuk Zaidar, pelaminan sudah dipasang setelah tenda selesai terlebih dahulu. Kamar pengantin juga sudah dihias secantik mungkin dengan nuansa perpaduan dari warna hijau ping dan putih.
"Ya Allah semoga tidak terjadi hal-hal buruk lagi seperti waktu nikahnya Zamy dan Nuara." Yuk Zaidar bicara dengan mbak Nindya yang sedang dipasangkan hena.
"Aamiin" Bang Fathur menjawab dengan senyuman.
"Insya Allah tidak akan yuk. Wong Naura dulu karena ada yang naksir berat, nah kalau Nindy? Siapa yang mau?"
__ADS_1
"Abang yang mau...," Bang Fathur nenatap mbak Nindya yang hanya diam. Sementara pikiran bang Fathur sudah jauh melayang ke esok malamnya, bersama Nindya dalam kamar pengantin, berdua saja. Lha Annisa???
(bersambung)