
Pulang dari kampus UBB tanpa tatap muka dengan mahasiswa, hanya menyelesaikan administrasi, absensi online dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan beberapa orang dosen juga tenaga kepegawaian, bang Fathur menuju parkiran. Dia membuka mobil barunya dari jarak dua meter. Sebuah mobil Honda CRV 1.5L Turbo Prestige seharga 543,7 juta rupiah berwarna hitam, atas izin ibu dan ayah dia membelinya dari hasil penjualan properti di Jogya.
"Pak Fathur!" Sebuah suara memanggilnya dari belakang. Seketika bang Fathur menoleh. Dia melihat seorang gadis tua berumur empat puluh satu tahun memanggilnya dengan senyum mengembang.
"Iya bu Nur?" Bang Fathur menjawab dan berbalik ramah.
"Jangan panggil Nur dong Thur, panggil saja Betty..., Be e te te ye.... Betty. Okay...." Gadis cantik dan judes itu bicara di hadapannya. Jelas namanya Nurbaetty, dan dia meminta dipanggil Betty.
Mereka paling berjarak sekitar empat puluh senti saja. Bang Fathur selangkah mundur, menghindari bau shampo dari rambutnya yang tergerai sebahu, rambut tanpa poni yang bercat keorange-orange-an.
"Mau pulang kan?" Betty sok akrab bertanya. Dia adalah seorang tenaga administrasi di Universitas Bangka Belitung, seorang Sarjana Ilmu Pemerintahan.
"Iya." Bang Fathur mengangguk.
"Rumahku di Selindung, mobilku dari kemarin di Bengkel, shockbreakernya mau diganti, aku boleh menumpang kan Thur?" Bu Betty menodong sambil mendekati mobil mulus itu. Platnya saja belum ada, masih locis seperti di showroom kemarin. Mulutnya berdecak-decak kagum melihat kemulusan mobil bang Fathur.
"Eehmm.., boleh bu, silahkan." Sempat ragu, namun karena sungkan dan bu Betty sudah banyak membantunya di kampus karena pindah dari Jogya, bang Fathur mengajak naik gadis tua itu. Padahal dalam hatinya dia mau Mbak Nindya, Annisa atau ibu yang pertama naik setelah kemarin dia mengajakku dan bang Zamy berjalan keliling kota Pangkalpinang, test drive.
"Silahkan bu...," Bang Fathur menurunkan kaca sebelah kiri dan mengajak masuk bu Betty yang berharap dibukakan pintu, namun sayang sekali bang Fathur sudah duduk di kursi kemudi. Betty membuka pintu dan duduk di depan, sebelah kiri bang Fathur. Beberapa orang dosen yang kebetulan melihat bahkan sempat mengambil gambar. Mereka mengira pasti keduanya sudah jadian, maksudnya pacaran. Bang Fathur keluar dari areal kampus, ingin secepatnya pulang dan mengajak mbak Nindya naik mobil barunya. Dia sudah berapa hari menahan hati tidak berjumpa dengan tunangannya. Dia tidak sanggup lagi menahan kerinduan yang sudah meronta-ronta. Meski berjanji tidak akan menyentuhnya, bang Fathur ingin sekedar menatap wajah lembut keibuannya.
Mobil melaju memasuki jalan raya menuju ke Pangkalpinang karena kampus UBB letaknya sekitar setengah jam dari arah kota.
*****
"Thur, kok tidak membalas WA dari saya sih?" Di perjalanan Betty bertanya dan menatap ke arah bang Fathur.
"Yang mana?" Bang Fathur malah bertanya.
"Pernah saya WA malam-malam, nanyain SK Jabatan Akademik dari Pemerintah waktu kamu di Jogja...." Betty menjawab sambil terus menatap ke arah bang Fathur yang malah hanya fokus saja mengemudi.
"Owh itu nomor ibu ya. Karena merasa sudah melampirkan, saya hanya menunggu jeda pihak kampus biar mencari lagi di berkas saya. Soalnya saya yakin sekali sudah melampirkan SK itu." Bang Fathur sedikit tersenyum. Dia tidak nampak bersalah. Betty hanya diam menghela nafas.
__ADS_1
"Simpan ya itu nomor saya." Dalam kegelisahan merasa Bang Fathur tidak begitu antusias menjawabnya, Betty akhirnya diam. Namun kepalang tanggung ingin mendapatkan idolanya, dia malah berbuat tidak etis. Perlahan dia menarik roknya agak ke atas, semakin menampakkan putih mulusnya paha sebelah kanan. Namun bang Fathur tak menoleh sedikitpun. Dengan kecepatan sedang dia mengemudi dan sesekali mengikuti alunan lagu dari musik yang sedang diputar. Waktu perlahan beranjak siang. Bang Fathur mulai memacu laju mobilnya lebih cepat lagi.
"Pelan-pelan saja dong Thur, mau kemana sih buru-buru." Betty yang merasakan begitu berharganya waktu bersama duda keren itu merasa terganggu. Dia ingin mobil berjalan perlahan agar dia bisa lebih lama bersama bang Fathur. Namun kebalikannya, melihat gelagat tidak baik dati rekan di kampusnya itu, bang Fathur ingin segera cepat sampai untuk mengantarnya. Sedikitpun tidak ada gairah dan kenyamanan saat ditumpangi gadis di sebelahnya. Hanya karena merasa tidak enak menolak saja, dia terpaksa menaikkannya. Sementara di kampus, story Whatapp beberapa rekannya sudah menampilkan foto-foto saat mereka berdua sebelum naik ke mobil. Bang Fathur tidak menyadari hal itu sama sekali.
*****
Bang Fathur mendesah panjang, lega rasanya saat sudah memasuki gerbang kota Pangkalpinang. Artinya dia akan segera menurunkan penumpang di sebelahnya. Penumpang yang membuatnya tidak nyaman.
"Kita sudah sampai di Selindung bu, rumah ibu dimana?" Bang Fathur bertanya. Betty menurunkan roknya yang dia singkap dan tak laku.
"Dekat gang Jagung ya Thur, kampung Madura." Selesai memoles lipstik merah hatinya Betty menjawab. Dia berkali-kali nampak membasahi bibir dengan lidahnya. Sepertinya itu hanya siasat agar bang Fathur tergoda.
"Ini sebelah mana bu rumahnya, kita sudah dekat masjid gang Jagung." Bang Fathur bertanya lagi. Nampak Betty kembali membasahi bibirnya dengan memain-mainkan lidahnya. Bang Fathur membuang muka.
"Depan lagi sedikit Thur, Kampung Madura. Mampir saja sebentar. Di rumah lagi tidak ada orang juga kok, jadi kamu tak perlu sesungkan itu kepadaku." Betty menawarkan penuh harap. Namun Bang Fathur tersenyum manis menjawab.
"Terima kasih bu, saya lagi buru-buru."
"Kok mendadak mindahin meja tamu?" Dengan alis terangkat bang Fathur bertanya.
"Iya soalnya ganggu jalan banget tuh meja. Bantuin sebentar ya...." Betty masih merayu. Bang Fathur tersenyum sedikit sinis dan lucu.
"Kita sudah dekat warung Mak Nosh bu, rumah ibu mana?" Bang Fathur sudah agak menahan hati. Dia menghela nafas berat dan mengabaikan permohonan Betty.
"Astaghfirullah Thur, sudah kelewatan lima puluh meter lebih, kepalang tanggung tolong anter ke warung sayur di depan ya, tapi nanti dianter lagi dong Thur."
"Saya mau menemui seseorang yang sangat kurindukan bu. Ibu saya antar saja ke warung sayur, nanti ibu jalan kaki saja kan sudah dekat." Bang Fathur memotong. Dia sudah begitu merindukan mbak Nindya, makanya tidak ingin waktunya terbuang sia-sia bersama orang asing yang aneh dan mencoba menggodanya.
"Ya Allah pak, seperti ada saja orang yang dirindukan. Bukankah Bapak sudah cerai?" Betty bertanya setengah memojokkan. Sedikit kaget mendengarnya namun bang Fathur mencoba tetap tenang.
"Yang cerai kan yang lama bu, yang dirindukan ini kekasih baruku."
__ADS_1
"Apa? Bapak sudah punya kekasih baru? Benarkah?" Dengan raut tidak senang Betty bertanya. Nampak benar wajahnya berekspresi tidak suka.
"Iya dong, masa duda keren seperti saya susah move on...." Bang Fathur merasa lega berbicara. Sementara Betty seketika menggigit jempol kiri dengan keras.
"Sudah-sudah-sudah stop, turun di sini saja. Pas ini depan warung sayurnnya." Betty cepat-cepat berbicara. Bang Fathur menghentikan mobilnya persis di depan sebuah motor NMax dengan keranjang rotan sisi kiri kanan membelah tempat duduk di bagian belakang. Di dalamnya masih banyak sayur-mayur. Sementara bu Betty seolah-olah kesulitan membuka pintu yang sudah tidak terkunci itu.
"Susah sekali sih Thor, tolong bukain dong sekali saja." Betty nampak sengaja ingin bang Fathur membukakan pintu. Dengan hati kehilangan separuh keikhlasannya, bang Fathur turun dari kursi kemudi, membukakan pintu untuk Betty yang seketika dengan sengaja menggulirkan kaki kiri agar bisa pura-pura terjatuh dan butuh pegangan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, menahan kepura-puraan mau terjatuh, Betty dengan tangan kiri berpegang ke leher bang Fathur, dan mencium pipi kanan duda keren itu seketika. Noda bibir melekat di pipi Bang Fathur yang segera menurunkan Betty dengan kesal. Dia melepaskan pelukan gadis tua itu dengan sedikit kasar.
"Terima kasih Thur....bye bye..., emmmuachhh...." Dengan tangannya Betty melambai-lambai dan kiss bye ria. Bang Fathur yang kesal kembali masuk ke mobil dan perlahan melaju menuju rumah mbak Nindya, kerinduan dan kegelisahannya ingin seger bertemu tanpa sedikitpun menyadari dari jarak lima meter di bawah seng warung sayuran tadi, seorang wanita menitikkan air mata. Hatinya terasa sakit, sedih, tercabik-cabik merasa rendah diri menatap pakaian yang dikenakannya bergantian dengan setelah rok pendek blezer mewah yang dipakai wanita yang baru saja turun dari mobil yang dikemudikan tunangannya.
"Nin semuanya dua ratus enampuluh tujuh ribu lima ratus dengan sawi Pakchoy sekilo ya." Ibu pemilik warung memberikan uang ke arah mbak Nindy yang masih menatap kagum kepada bu Betty.
"Kamu kenal Betty Nin? Hello?"
"Eh iya bu."
"Kamu kenal bu Betty?" Pemilik warung bertanya.
"Bu Betty siapa?"
"Itu yang barusan kamu pelototin terus dari tadi. Dia masih gadis lho Nin, ASN bagian Tata Usaha di UBB ."
"Owh." Semakin berdenyut hati mbak Nindy terasa perih sampai ke dalam-dalamnya. Tak salah lagi. Mungkin karena dia menangis waktu diajak Fathur berbuat tercelah di kebun, dia jadi meninggalkanku. Batinnya, air matanya jatuh di pipi.
"Eh Nindy kok nangis?" Pemilik warung sayur bertanya heran.
"Siapa yang menangis bu? Nggak kok, wong hanya 'kelelep' debu saja." Mbak Nindya menggosok-gosok matanya. Dia mengambil karung bekas nanas yang tidak terpakai, berpamitan, megantongi uang yang dipegangnya tadi lalu menuju ke motor dan segera berlalu. Motornya yang gagah, nampak begitu tidak sempurna membawa hatinya yang terkoyak. Terkadang dia oleng ke kiri atau ke kanan, bahkan beberapa kali dia hampir bertabrakan, air matanya mengembun, memang tidak berdarah, namun hatinya merasa begitu terluka.
*****
(bersambung...,)
__ADS_1