Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 54 Pendekatan Dirga


__ADS_3

Kakek berjalan santai bersama dokter Nina di lingkungan rumahnya yang luas. Mereka berbicara ringan perihal pekerjaan kantor Nina dan sedikit tingkah mama semasa hidup. Meski mama tempramental, namun banyak juga sisi baik yang masih membahagiakan untuk diingat. Saat mereka berjalan, seorang pelayan laki-laki paruh baya mengikuti langkah mereka membawa handphone dan sebuah jaket kulit hitam milik kakek. Dan pada bagian paling belakang mereka berjalan, Dirga turut serta. Matanya sibuk mencuri pandang ke arah Nina yang siap dengan pakaian olahraga. Mereka telah siap untuk olahraga memanah.


“Sudah lama sekali kita tidak berolahraga bersama ya nak. Sejak mamamu mulai bermasalah dengan kehadiran Mira lagi.” Kakek kembali berbicara. Matanya mengedar ke sekeliling lapangan hijau yang tertata rapi.


“Iya kek, mama jadi malas segala-galanya sejak tante Mira hadir lagi.” Nina menjawab sambil membenarkan topi yang dia kenakan. Dia memasukkan rambutnya yang sebelumnya tergerai kemerahan ke dalam lubang belakang topi. Lehernya yang jenjang semakin membuat mata Dirga kehaluan.


"Waw, seandainya dia pacarku..., owh indahnya duniaaa...," Dirga berdecak kagum.


"Dirgaaa! Bagaimana tentang dia?" Kakek seperti baru mengingat sesuatu langsung bertanya kepada cucunya yang sempat tidak diakuinya itu. Dirga tersenyum bahagia, mendekat ke arah kakek. Dia menyibakkan lengan pak Din.


"Dia sangat cantik kek."


"Maksudmu?"


"Iya kek, dia sangat melampaui kriteriaku. Andainya aku bisa punya istri seperti dia..., oh indahnyaaa...."


"Hah? Dia cantik bagaimana? Apa kau tidak normal? Maksud kakek tentang dia yang katanya mau jual ruko kemarin. Sudah kau hubungi belum?" Kakek kesal melihat Dirga yang seketika tersadar.


"Eh iya iya..., eemmm..., katanya keputusannya tiga hari lagi kek. Dia mau jual sepaket empat ruko semua dia minta diambil alih."


"Apa dia cantik? Pak Handoko cantik?"


"Anu kek, maksudku yang cantik bukan pak Handoko tapi...,"


"Pak Din?" Kakek bertanya memotong. Lalu dia kembali menggandeng Nina berjalan menuju tempat olahraga panahan. Dirga hanya menepuk jidatnya sendiri.


“Bagaimana kabar Sofie?” Kakek bertanya di sela-sela perjalanan.


“Entahlah, kalau fisik sehat, tetapi ketika saya masuk ke rumah sana, semua terasa semakin tidak membahagiakan. Tingkahnya melebihi tingkah mama selama ini. Dia jauh lebih tempramen dari semua wanita yang aku kenal.” Nina bicara sambil menunduk. Dia memasukkan kedua tangan ke saku celana yang dia kenakan.


“Kenapa bisa begitu?” Kakek bertanya heran.


“Saya juga kurang paham kek.” Nina menjawab sambil menendang sepotong kayu kering si atas jalan berkonblok.


“Apa mereka masih sering ribut perkara kehadiranmu?” Kakek bertanya lagi. Mereka nampak akrab sekali.


“Iya. Papa rupanya tidak menginginkanku dari kecil. Dia begitu yakin aku bukan darah dagingnya.” Nina berhenti. Dia mengibas-ngibaskan kedua lengannya.


“Sofie belum jujur juga?” Tanya kakek kembali.


“Entahlah. Ketika kutanya, kata mama papa biologisku sudah mati.” Nina menggoyang-goyangkan pinggangnya ke dua arah berlawanan. Bokongnya yang besar dengan pinggang ramping, semakin membuat Dirga berdecak kagum. Dia mengalihkan pandang ke arah langit. Sekejap saja kemudian kembali terpesona melihat tubuh Nina yang seksi.


“Owh begitu. Kita sudah sampai nak. Pak Din, tolong betulkan posisi target.” Kakek menyuruh pelayan laki-laki yang mendampinginya menuju ke papan target yang nampak miring. Pak Din akan menuju ke sana.


“Biar aku saja kek.” Dirga menyela. Kakek diam saja. Pak Din pun menghentikan langkah. Dirga berlari ke arah target panahan. Dia memasang kembali dengan benar. Berkali-kali kepalanya memastikan semua papan target sudah terpasang dengan benar. Kemudian dia kembali ke dekat kakek. Dia memasang senyum termanis ke arah Nina, namun sedikitpun Nina tidak menggubrisnya. Mulutnya terkunci dengan mata cuek. Seakan Dirga tidak nampak di matanya yang bulat berbinar menambah pesona kecantikannya.


“Pak Din, tolong ambilkan tali stretching…,” Kakek kembali memerintah pelayannya.

__ADS_1


“Biar saya saja kek.” Lagi-lagi Dirga kembali tampil, matanya melirik terus ke arah Nina yang malah tidak menoleh sekalipun kepadanya.


“Ambillah, mengapa kau baik sekali?” Kakek mencurigai Dirga. Nina sepintas memandang ke arah Dirga lalu mengalihkan pandangan dari laki-laki tinggi sedikit berjambang itu.


“Oke.” Dirga menjawab. Namun dia tidak bergerak sama sekali, hanya memindah-mindahkan langkah sekali dua kali. Dia kebingungan dimana harus mengambil tali dimaksud, karena dia jarang sekali olahraga, apalagi panahan seperti ini, dia baru sekali datang ke tempat seperti ini. Tidak mati akal, kemudian dia mencolek lengan pak Din.


“Pak, dimana mengambil talinya?” Dia berbisik. Pak Din tersenyum dan menunjuk ke arah balai-balai yang terbuat dari kayu bernilai fantastis.”


“Terima kasih pak.” Dirga berjalan cepat, menjauhi pak Din dan menuju balai-balai dimaksud. Dia kemudian membuka pintu satu ruangan di samping balai-balai tersebut. Dia lantas ternganga dan kebingungan sendiri lantaran di dalamnya dipenuhi aneka peralatan olahraga. Dia awalnya hanya membayangkan hanya ada satu tali saja yang dimaksud kakek dan Nina. Dia mengalihkan pandang dari peralatan olahraga yang paling jadul sampai ke yang paling canggih ada di sana. Kemudian dia mencari tali. Di dinding dia melihat ada banya tali tergantung. Dia kembali bingung mana tali yang dimaksud kakeknya.


“Yang mana tali stretching ya?” Dia bergumam dalam hati sambil memegang hampir semua jenis tali yang digantung rapi di dinding. Ada tali untuk skipping, Ada tali agak panjang untuk Battle Ropes, ada tali dengan pegangan masih menempel di besi kokoh, empat buah tali untuk olahraga TRX, dua pasang tali karet lebar juga tersangkut rapi, sebuah Resistance band kecil, bahkan ada pula tali pecut untuk menunggang kuda. Dirga bingung sendiri memilihnya.


“Heiii Dirgaaa…, alangkah lamanya mengambil tali stretching sampai lima menit belum kembali.” Kakek berteriak karena kelamaan menunggu.


“Iya-iya kek, ini Dirga bawa.” Dirga menyahut sambil membawa tali yoga elastis berwarna kuning.


“Mana?” Kakek berkerut kening melihat tali yang dibawanya. Nina menoleh dan seketika tertawa sejenak.


“Apakah kita akan Yoga kek?” Nina bertanya kepada kakek, matanya menatap sinis ke arah Dirga yang menggaruk-garuk kepala karena menahan malu.


“Pak Din, tolong kamu ambilkan tali stretching dua ya.” Kakek mendelik ke arah Dirga yang berdiri mematung.


"Ini kamu yoga saja sendiri." Kakek kemudian mengembalikan tali yang dibawa Dirga sebelumnya. Dirga manyun.


“Aku gagal lagi mengambil hati gadis itu…, tapi tenang, masih ada banyak kesempatan.” Dirga membantin sambil melebarkan senyum. Tak sampai semenit pak Din sudah kembali membawa tali stretching yang dimaksud. Lalu kakek dan Nina mulai duduk di hamparan rumput yang rapi, pemanasan dengan menggunakan tali stretching. Dirga bergaya mengikuti tanpa menggunakan tali. Nina menoleh ke arahnya menahan ekspresi keheranan bercampur lucu. Dirga seketika berhenti dan kembali berdiri memasang muka manis, tersenyum mengangguk. Nina mengabaikan, dia malah mengalihkan pandangan. Pak Din terkikik lucu, sementara Dirga kembali meratap lirih.


“Siapa dia kek?” Nina bertanya kepada sang kakek.


“Dirga! Namaku Dirga!” Belum sempat kakek menjawab. Dirga seketika mendekat ke arah Nina dan mengenalkan dirinya sendiri. Nina tak mempedulikan kehadiran Dirga di sampingnya. Dengan tangan terus berolahraga, matanya fokus menatap seseorang yang datang mendekat dari arah pintu sebelah Barat.


“Oh itu, pak Saiful, pak RT di sini.” Kakek menjawab. Wajah Dirga pias melayang. Seakan dia tak menyentuh tanah lagi. Malu rasanya menampakkan muka di hadapan mereka. Lalu pelan-pelan Dirga mundur menahan malu. Dia menyangka Nina menanyakan siapa dirinya. Rupanya dia menanyakan seseorang yang datang dan tak nampak olehnya. Pak Din menutup mulut menahan tawanya. Dirga malah memperlihatkan tinjunya yang bersih ke arah pak Din. Kemudian, saat melihat kehadiran pak RT, kakek menghentikan olahraganya sejenak, Nina tetap melanjutkan melatih ototnya dengan stretching. Beberapa saat dia terus asyik dengan tali sretching, kemudian dia berdiri dan berteriak ke arah sang kakek.


“Kek! Nina latihan kardio sebentar ya.” Dia berteriak lantang.


“Oke!” Kakek menjawab dengan melambaikan tangan.


“Hei kamu juga melakukan siaran radio? Aku suka lagu-lagu romantis lho.” Dirga mendekati Nina yang sudah memulai peregangan. Alisnya naik keheranan menatap Dirga sesaat.


“Sayang sekali aku seorang dokter anak, bukan dokter TeHaTe….” Nina menjawab singkat. Dirga bingung mendengarnya.


“Apa maksudmu?” Dirga kebingungan.


“Kau mungkin perlu ke dokter telinga.” Nina berlalu dan mulai jogging. Di lapangan luas dengan hamparan rumput yang hijau di selingi banyak kembang-kembang bermekaran, Nina menelusuri bagian lapangan yang dikonblok, jogging dengan lincahnya. Nampak sekali kalau dia memang hobi dan tebiasa berolahraga. Sekitara dua ratus meter dari ujung putaran paling timur, dia selalu melihat ke arah pusara mama.


“Pak Din, apa yang salah tadi?” Dirga mendekati pak Din yang seketika tertawa.


“Aduh-duh pak Dirga, dia bilang mau latihan kardio, latihan kardio bukan siaran radio.” Pak Din menjelaskan dengan lantang, Dirga tersenyum miris. Ingin dia menjerit karena terlanjur malu telah banyak melakukan kesalahan.

__ADS_1


“Percuma saja aku mempelajari artikel cara mengejar cinta. Semuanya malah membuatku menjadi tengsin. Malu yang pengen ditangisin…” Dia meratap dalam hati.


“Lebih baik aku pergi saja…,” Pikirnya sambil memutar balik badan akan menuju rumah kakek.


“Hei…, kamu.” Nina memanggil Dirga. Dirga tidak mau dipermalukan lagi. Dia celingak celinguk mencari kalau-kalau ada sosok lain yang dipanggil Nina. Namun tidak ada siapa-siapa selain dia dan pak Din, sedangkan kakek masih asyik berbincang dengan pak RT. Dirga diam seakan cuek dengan panggilan Nina. Dia mau jual mahal.


“Hey kamu, apa kamu mau mendengar saya siaran?” Nina tersenyum menggoda. Dirga menoleh ke arah Nina sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri.


“Iya kamu." Nina mengiyakan. Dia mulai melakukan peregangan otot sesaat dengan angkat besi beban ringan. Setelah dirasa cukup kemudian dia mengambil panahan. Dirga mendekatinya.


"Apa kau bisa memanah?" Nina bertanya sambil sudah siap dengan ancang-ancang melepas busur.


"Shuuttt." Busur pertama terlepas menuju sasaran dan poin anah panah berdiameter 8mm terbuat dari stenless itu menancap pas di warna kuning dalam papan sasaran. Dirga membelalakkan mata.


"Dengan jarak sejauh itu dia bisa menembus angka 10. Ini gadis luar biasa." Batinnya. Pak Din bertepuk tangan bersama kakek yang sudah kembali. Dirga baru ikut bertepuk tangan saat kakek sudah selesai.


"Fokusmu luar biasa." Kakek memuji Nina yang tersenyum lebar. Lalu dia kembali memanahkan empat anak panah lagi semua berada di target berwarna kuning. Hanya satu di warna merah dalam. Kakek puas melihatnya.


"Mau mencoba?" Nina memberikan panahan ke arah Dirga yang masih tercengang takjub.


"Hey, kok bengong. Mau coba memanah?"


"Saya belum pernah mencoba." Dirga jujur.


"Aku rasa tidak akan tepat sasaran." Dirga tidak percaya diri melanjutkan.


"Kau belum mencobanya." Nina menyemangati sambil minum air mineral yang diberikan pak Din.


"Baiklah aku akan mencoba. Dulu semasa di Jakarta, aku sering memanah burung gereja untuk dijadikan lauk ma...,"


"Ceritakan itu nanti sama pak Din." Nina memotong. Dirga memasang wajah ngenes. Dia kecewa lagi. Basa basinya ternyata basi.


"Bagaimana cara melakukannya kek?" Dirga bertanya kepada kakek yang berkacak pinggang menyepelekan.


"Seperti waktu kau menembak burung." Nina menjawab. Lalu dengan sisa rasa malu dan keinginan untuk tampil memperlihatkan keahlian, Dirga mulai bersiap.


"Shuuut!" Busur menjauh dari panahnya. Poin anak panah menancap persis di bonggol akasia yang berjarak semeter lebih dari sasaran. Busur terpental, jatuh ke rumput.


"Hahahaha..., bagooosss..., itu nilainya seratuuusss...." Kakek bertepuk tangan lucu. Dia tertawa terpingkal-pingkal.


"Katanya kau dulu penembak burung gereja...." Nina menggelengkan kepala ke arah Dirga.


"Iya memang. Tapi saya memang belum pernah berhasil menembus satu pun sasaran." Dirga menjawab masam. Wajahnya tertawa sumbang menahan malu. Tapi hatinya sudah riang bukan kepalang. Minimal Nina sudah mau berbicara dengannya. Kesempatan itu ada, batinnya


*****


Nina dengan wajah cantiknya. Dia jutek jika ada yang tidak berkenan di hatinya. Juteknya saja cantik..., gimana kalau.... (adakah readers yang mirip?

__ADS_1



__ADS_2