Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 74 Sepenggal Kisah


__ADS_3

Aku dan bang Zamy menjemput Annisa di rumah mbak Nindya sebelum pergi ke bandara. Sebelumnya bang Fathur menelpon meminta supaya dijemput di bandara. Dia baru pulang dari Yogyakarta sehabis menjual semua propertinya di sana. Tidak ada lagi yang tersisa selain kenangan manis dan pahit saat dia bersama mbak Vioni dan Royyan.


“Kita mau kemana om, tante?” Annisa bertanya kepada kami ketika sudah selesai memakai sepatu pingnya.


“Menjemput om Fathur, dia ada oleh-oleh untuk Nisa.” Aku menjawab.


"Jangan nakal nanti ya." Mbak Nindya berpesan kepada gadis kecilnya. Nisa hanya mengangguk.


“Om Fathur beli apa ya buat Nisa….” Dia memegang tangan kananku.


“Nisa pernah bilang kepengen sekali beli apa sama om Fathur?” Aku bertanya kepadanya yang langsung tersenyum bahagia.


“Mau beli tas yang bisa diseret-seret pakai roda, seperti punya orang di tivi itu lho tante….” Dia menjawab dengan mata berbinar-binar. Betapa lugunya dia terlihat.


“Owh…, jangan-jangan om Fathur lupa kalau beli itu mah.” Bang Zamy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mendengar omongan bang Zamy, seketika gadis polos itu terdiam.


“Nisa nggak mau ah ikut jemput.” Wajahnya nampak kecewa.


“Eh, ada barusan om Fathurnya bilang sama tante.” Aku memegang tangannya yang tadi sudah mau berbalik.


“Nggak ada memang tasnya, kata om Fathur tadi semua toko masih tutup. Tidak ada yang jual tas beroda.” Bang Zamy masih saja menggoda Annisa saat mengangkat tubuhnya naik ke mobil di belakang sendiri.


“Sudah ah…, kok suka banget liat anak orang nangis.” Aku mencubit pinggang kirinya. Dia tertawa renyah sambil duduk di kursi kemudi. Menoleh sesaat ke Nisa yang merengut ke arahnya.


“Caaa….” Bang Zamy membujuk Annisa yang masih cemberut. Namun Annia mengalihkan pandangan ke luar mobil.


“Annisa yang cantiiiik, keponakan om Zamy sayanh….” Bang Zamy membujuknya.


“Nggak mau.” Matanya mulai berkaca-kaca.


“Maulah….” Bang Zamy menoleh susah payah agar bisa menyentuh dagunya.


“Nggak.” Dia melirik sebentar ke arah bang Zamy yang sedang memasang seat belt. Dia jadi salah tingkah sendiri melihat Nisa hampir menangis. Dia kemudian melambaikan tangan ke mbak Nindya yang masih berdiri di teras samping rumahnya. Kami mulai berjalan.


*****


“Halo om Fathur…, Hah? Apa? Oh tas yang warna ping ada rodanya sudah dibeli? Bagus banget? Wawww…, Oke oke….” Bang Zamy pura-pura meletakkan handphonenya ke kuping sebelah kanan. Annisa seketika mendekatkan telinganya ke arah bang Zamy. Dia berdiri di tengah mobil, kepalanya mendongak ke bang Zamy. Aku tersenyum menatap keduanya bergantian.


“Apa om Zamy menelpon om Fathur?” Nisa tak urung bertanya juga.


“Iya dong.” Bang Zamy menjawab lantang.


“Apa katanya? Sudah belikan Nisa tas bagus yang bisa digeret-geret itu?” Ekpresinya begitu lucu dan berharap.

__ADS_1


“Katanya tadi iya, dia sudah membelikan tante Naura tas ping yang bisa digeret-geret karena ada rodanya itu….” Bang Zamy menatap gadis kecil yang sudah kembali terduduk cemberut di kursi tengah melalui kaca spion tengah.


“Bukan untuk tante Naura….” Muka keponakanku itu kembali menekuk. Matanya sudah basah. Betapa raut wajahnya semakin kecewa saja.


“Untuk siapa?” Bang Zamy tersenyum bertanya setelah kukasih kode agar membujuknya.


“Untuk Annisa itu, pasti om Fathur belinya untuk Nisa. Bukan untuk tante Naura." Si polos tanpa dosa ini mulai basah pipinya dengan air mata. Sia-sia emaknya tadi menabur bedak tabur hampir segenggam.


“Siapa bilang?” Bang Zamy kembali bertanya. Entah sudah cubitan ke berapa, kali ini aku mencubit paha kirinya lebih keras lagi. Dia mengaduh kesakitan. Namun senyumnya tetap mengembang merasa berhasil mengerjai Annisa.


"Sudahlah ah...." Kali ini aku mencubit pipinya, kemudian menoleh ke Nisa. Aku mengelapkan tisu ke pipinya.


“Om Fathur bilang sebelum pergi ke Jogja, katanya mau beliin tas roda untuk Nisaaa..., bukan untuk tante Nauraaa....” Dia mencoba menahan tangis meski air matanya kembali jatuh.


“Owh berarti om salah dengar tadi. Tante Naura berarti tidak dibelikan tas bagus yang bisa digeret-geret ada rodanya sama om Fathur…, kasiaaannn….” Bang Zamy mencubit pipiku sambil menyetir.


“Hahaha…, kan salah kan om. Om pasti salah dengar.” Seketika bocah cantik itu kembali riang. Dia mengelap air matanya dengan punggung telapak tangan kanannya.


“Iya om salah dengar, maafkan om ya Nisa sayang.” Bang Zamy menatap ke spion lagi. Nisa sudah kembali melebarkan senyumnya.


“Om om om...,"


"Iya iya iya...."


“Sudah sudah sudah..., jangan sedih lagiii..., sekarang kan dibelikan yang bagus sama om Fathur.” Bang Zamy ikut terbawa suasana. Usianya masih sangat kecil dulu, mungkin baru bisa mengingatnya, tapi ingatan buruk itu masih disimpannya. Kejahatan orang yang dibayar untuk berpura-pura menjadi neneknya masih melekat di benaknya. Sungguh sangat miris membayangkan semuanya. Bang Zamy menarik nafas dalam.


*****


Cuaca sangat mendung padahal masih jam tiga sore ketika kami pergi menjemput. Setelah hampir satu jam berjalan di tengah kemacetan di jalanan Pangkalpinang, kami sampai ke Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Aku memakaikan Face Shield pada wajah cantiknya Nisa. Kami naik ke ruang penjemputan, mobil diparkir persis di belakang mobil Damri tujuan Muntok. Mobil yang menunggu penumpang di sana tidak boleh lama. Kalau tidak akan segera berbunyi peluit pihak keamanan bandara.


Baru saja kami turun, dari jauh sudah nampak bang Fathur berjalan menuju keluar. Bandara yang mulai ramai tetap menampakkan tubuh gagahnya yang tinggi dan ganteng. Senyumnya sempurna untuk seorang duda keren. Di bahu kirinya sebuah tas tangan hitam tergantung, dengan jemari memegang sebuah kotak besar yang nampak ringan saja. Mengenakan celana jeans halus berwarna hitam dipadukan baju kemeja pendek biru berkotak-kotak kecil dilapisi jaket kulit mahal dengan sepatu sporty dia melangkah dengan cepat menuju ke arah kami. Di tangan kanannya dia menggendong sebuah tas trolley anak-anak berwarna ping dengan karakter Frozen berbungkus plastik kado transparant.


“Om Fathuuurrr...." Nisa berlari menghambur ke pelukan bang Fathur yang seketika duduk membuka kedua tangannya. Aku sempat terharu. Dia tidak seperti seorang duda yang sudah melamar janda beranak satu pula, namun lebih nampak seperti seorang ayah kandung yang lama tidak betemu dengan buah hatinya. Bagi yang tidak tahu, mereka akan menyangka bang Fathur dan Annisa adalah ayah dan anak kandung. Makanya semua penumpang yang kebetulan melintas melihat keduanya berpelukan hangat hanya ikut tersenyum bahagia.


*****


"Om Zamy, betul kan ini punyanya Nisa, bukan punya tante Naura kata om Fathur." Nisa bicara serius kepada bang Zamy yang tersenyum-senyum saja.


"Iya iya iya, om tadi salah dengar." Bang Zamy memegang kepala gadis kecil itu.


"Sayang, terkadang terlintas bayangan seperti ini, Sayang datang ke bandara menjemput abang bersama gadis kecil yang cantik." Bang Zamy berbisik kepadaku. Aku hanya memberikan senyuman tertulusku kepadanya.


"InsyaAllah semua umur panjang, dan mimpimu akan menjadi kenyataan." Aku membalas bisikannya. Bang Fathur yang sejenak ke toilet sudah kembali, kami segera naik mobil. Giliranku sendiri duduk di kursi tengah. Bang Fathur kusuruh duduk di depan, dan Annisa malah mau ikut dipangku calon ayah sambungnya.

__ADS_1


"Tidak bawa virus kan?" Bang Zamy menoleh ke Bang Fathur.


"Sudah berapa kali tuh cek terus sepanjang jalan. New Normal, tapi tetap social distancing. InsyaAllah deh tidak bawa virus...." Bang Fathur bicara sambil menekankan dagunya karena gemas ke kepala Nisa yang wangi.


"Tapi sepertinya abang positif deh virus itu." Aku bicara menyelah.


"Halaaaahhh enak saja." Bang Fathur pura-pura mencibirku.


"Virus cinta sama mbak Nindya?" Aku mendekat ke arahnya bertanya menggoda.


"Nah kalau yang itu poseteeeeppp...." Dia tertawa bahagia. Bang Zamy ikut tersenyum lebar.


*****


Bang Zamy sesaat memundurkan mobilnya dipandu petugas bandara. Kemudian maju melewati jalur kedua. Mobil seketika menurun, memutar dan menuju pintu keluar. Kami mulai asyik bercengkerama di dalam mobil tanpa menyadari sepasang mata, melalui kaca riben jendela mobil Damri yang persis parkir di depan mobil bang Zamy. Wajah putihnya seketika memerah menahan marah melihat kemesraan bang Fathur dan Annisa.


"Kak! Kak! Oi kak. Mano pulo oi sopirnyo ini tadiiii. Kak! Oi kak!" (Kak! Kak, hei Kak. Kemana sih sopirnya ini tadi. Kak! Hei Kak!) Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil Damri yang dinaikinya sudah lebih setengah jam lalu dengan mesin yang hidup. Sopir itu datang setelah membuang puntung rokok ke tong sampah stainles besar di ujung ruangan.


"Ye buk. Ngape buk?" (Iya ibu, kenapa bu?) Sopir bertanya ramah. Dia mendekat melongokkan kepala melalui jendela mobil sebelah kiri tengah yang terbuka.


"Ai lamo pulo nian kau ni datang. Aku idak jadi ke Mentok nah, payulah anter aku ngikuti mobil itu. Mobil yang tadi parkir di sini...." (Aduh lama sekali kau ini datangnya. Aku tidak jadi ke Mentok, ayo antarkan aku mengikuti mobil itu. Mobil yang tadi parkir di sini....) Mulut wanita itu menunjuk ke arah mobil bang Zamy menghilang. Sopir memegang kepalanya bagian belakang, dan mengusap wajahnya yang agak kusam.


"Maaflah buk ye, dak bise Saye. Saye agik nunggu penumpang tige urang agik. Dak enak ditinggel lah janji soal e." (Maaf ya bu, tidak bisa saya. Saya lagi menunggu tiga orang penumpang lagi. Tidak enak ditinggal karena sudah janji.) Sopir itu menjawab. Dia kemudian mengambil kaca mata hitam di saku baju putih seragam Damri yang dia kenakan dan memasangkan di atas kepalanya.


"Nah kau e, kagek kubayar lebih dari tigo wong penumpang kau itu. Payulah." (Aduh kau ya. Nanti akan kubayar lebih dari tiga orang penumpangmu itu. Ayolah.) Wanita itu setengah memaksa. Dia menoleh-noleh ke arah pintu keluar. Sementara mobil kami sudah meninggalkan area bandara.


"Maaf bener bu ok. Kami dak bise. Ini lah langganan lame buk. Ibuk cari mobil lain jaklah ok." (Maaf benar ya bu, Saya tidak bisa. Ini sudah langganan lama bu. Ibu cari mobil lain saja ya.) Sopir menyarankan dengan lembut. Dia kemudian menjauh ke tempat beberapa orang yang juga sedang menunggu penumpang.


"Ai matilah gancang kau ni. Idak beguno nian idup kau ni. Tau mak ini tadi nyesel idak langsung kucegat bae lanang tu tadi." (Aih, cepatlah mati kau ini. Tidak berguna benar hidupmu ini. Kalau tahu begini tadi, aku menyesal tidak langsung mencegat laki-laki itu tadi.) Wanita itu duduk lagi di kursi penumpang dengan kemarahannya. Tiga orang penumpang lain pura-pura tidak mendengar dan melihat wanita itu.


"Ado idak yo travel mobil pribadi di sini?" Wanita itu bicara sambil menelpon bang Fathur. Namun tidak diangkat sama sekali.


"Woi aku ini ngomong dengan kau." Wanita itu menoleh ke laki-laki berusia tiga puluh tahunan di sebelah kanannya duduk. Namun laki-laki itu malah menoleh ke belakang. Dua orang ibu tersenyum geli menatapnya. Merasa tidak ada tanggapan, wanita cantik itu menggertakan gerahamnya geram.


"Tuli galo apo wong Bangka ni?" (Apa tuli semua orang Bangka ini?) Wanita itu bicara sendiri sambil membanting handphonenya ke dalam tas di pangkuannya. Kedua wanita paruh baya di belakang cekikikan.


"Ngapo kau beduo tu laju ketawo-ketawo hah? Ngomongi aku apo?" (Kenapa kalian jadi tertawa-tawa hah? Membicarakanku ya?) Wanita cantik ini semakin gusar. Dia bicara sambil menoleh ke dua orang ibu paruh baya yang jauh di atas usianya sendiri. Namun keduanya malah tidak peduli, dan bahkan semakin besar gelak tawanya.


"Nah lah tuli galo niaaannn wong Bangka niii...." (Nah benar-benar sudah tuli semua orang Bangka ini....) Dia merosotkan badan dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi mobil. Melenguh kesal berkepanjangan.


*****


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2