Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 7 Kisahku


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam kamar, aku langsung membuka brangkasku. Tak kupedulikan kuku kakiku yang merah berdarah. Jejak darahnya bahkan membekas di lantai kamarku. Kumasukkan sandinya tapi karena terburu-buru dan kurang konsentrasi aku salah hingga 3 kali memasukkan sandinya, aku harus menunggu 5 menit lagi untuk mengulang membukanya. Brangkas yang kugunakan selain menyimpan beberapa logam mulia dan uang cash, juga tempatku menyimpan beberapa dokumen penting lainnya. BPKB mobil mewahku, segala ijazah asli dari SD hingga dokter spesialis, akte kelahiran dan buku rekening juga di situ.


5 menit menunggu agar bisa mengakses kembali kode brangkas kumanfaatkan untuk membersihkan jempol kaki yang luka di kamar mandi. Lalu kuambil salep antibiotik dan kututup dengan plester anti lengket. Ada sedikit nyeri namun tak kupedulikan. Keinginanku saat ini adalah mengetahui dengan pasti apa yang baru saja diucapkan ibuku, ibu yang 28 tahun lamanya kusangka ibu kandungku dan kuharap tetap ibu kandungku. Apa mungkin ibu sedang bercanda. Tetapi bagaimana mungkin dia bercanda, sedang saat bicara tadi mimik wajah ibu begitu seriusnya. Bagaimana mungkin bang Zamy, bang Fathur dan bang Rahman bukan saudara kandungku, sedangkan aku 28 tahun sudah mengenalnya sebagai kakak kandung yang begitu menyayangiku. Bagaimana mungkin ayahku bukan ayah kandungku, sedang sejak mampu mengingat, ingatanku tentang ayah selalu baik. Tak sekalipun ayah berkata dan berbuat kasar kepadaku, begitupun dengan ibu. Tak pernah mereka mengabaikan keinginanku. Tak pernah mereka membeda-bedakanku dengan ketiga kakakku. Maka ketika ibu mengatakan aku bukan anak kandung mereka, kurasakan langit seakan runtuh, bumi berhenti berputar dan aku seakan tak mampu merasakan denyut jantungku sendiri. Aku berjalan serasa melayang di udara. Sungguh tak pernah terbayangkan jika aku bukan bagian dari darah daging mereka.


Lima menit berlalu aku memasukkan kembali kombinasi angka sandi brangkasku. Sekali coba langsung bisa. Setelah terbuka aku langsung mengambil akte kelahiran asli yang tidak dilaminating. Secepat kilat kubaca aktenya, yang kucari adalah nama orang tuaku. Karena bila aku anak angkat, anak pungut, anak adopsi atau apalah namanya, tentu nama ayah dan ibu kandungku orang lain, bukan nama ayah dan ibu yang kuanggap kandung selama ini.


Tiba-tiba mataku nanar, sebersit kebahagiaan kembali hadir. Ada harapan bahwa ibu sedang bercanda, besar keinginanku supaya ini adalah bentuk surprise mereka entah dalam rangka apa. Dan aku mengehela nafas panjang ketika membaca nama ayahku di akte kelahiran benar tertulis Rey Farhan dan ibu Yuni Archania. Aku membawa akte kelahiranku kembali ke hadapan mereka semua. Kulihat keluargaku semua diam tanpa kata. Semua menatapku dengan pandangan-pandangan aneh ketika aku keluar kamar dengan akte kelahiran asli di tangan. Aku berdiri persis di hadapan semuanya, berdiri memperlihatkan surat berharga yang kubawa.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian bercandanya keterlaluan sekali, surprise apa yang sedang kalian rencanakan. Di sini ayah, lihatlah ibu, di dokumen resmi milik negara ini, jelas tertulis nama ayah sebagai ayahku dan nama ibu sebagai ibu kandungku. Mana mungkin aku akan percaya omongan ibu tadi....? Aku bicara sambil berurai air mata. Kulihat semua kembali menatapku. Bang Fathur berdiri memegang bahuku, tekanan tangannya mengajak agar aku duduk di sofa. Tetapi aku mengeraskan badanku. Tetap berdiri kokoh memohon klarifikasi pernyataan mereka beberapa menit yang lalu. Aku mendekati ibu yang duduk dilantai dekat pintu menuju ruang makan. Kulihat dia memandang keluar dengan tatapan yang tak kumengerti. Kupegang bahunya, kuhadapkan ke arahku.


"Ibu, Ibu ada apa denganku? Apa yang telah aku perbuat hingga kalian menghukumku seperti ini. Bagaimana mungkin ibu mengatakan aku bukan anak kandung ayah dan ibu. Lihatlah bu, lihatlah di akte kelahiranku ini jelas tertulis nama ibuku adalah nama ibu...." Tangisku makin lebat tak tertahan. Namun ibuku masih diam membisu. Matanya merah, air matanya tak berhenti menangis. Dia merangkulku sesenggukan.


"Nak, inilah yang sebenarnya ayah dan ibu takutkan. Kemarahanmu, ketidakpercayaanmu...." Ibu bicara sambil terisak.


"Ibu tolong katakan kalau ibu hanya bercanda. Aku anak kandung ayah dan ibu kan?" Aku kembali mencoba meyakinkan. Kulihat ayah berdiri dari sofa, berjalan mendekati kami. Bang Rahman duduk lebar dengan tangan bersandar di sofa. Matanya menatap langit-langit ruang keluarga. Sementara bang Fathur duduk mematung menatap meja. Dia menggigit jari jempol kiri, sementara tangan kanannya sibuk memutar-mutar hape. Sedangkan bang Zamy, sesekali menatap iba kepadaku yang masih saja menangis. Dia tidak bergeming dari tempat duduknya. Sesekali dia menghela nafas berat.


"Naura, maafkan kami nak, tetapi ayah dan ibu tidak berbohong, Naura memang bukan anak kandung kami..., tetapi...." Ayah bicara sambil duduk mendekatiku.


"Bagaimana mungkin ayah, ini di akte kelahiran ini jelas ada nama ayah dan ibu." Aku mencoba meyakinkan.


"Iya nak, itu kesalahan kami. Dulu administrasi adopsi di kantor pencatatan sipil begitu berbelit-belit. 2 minggu lebih ibu dan ayahmu bolak-balik menyiapkan dokumen, tetapi masih saja belum lengkap. Sehingga kami putuskan saja, secara administrasi kami berbohong kepada petugas atas data-datanya." Ayah mencoba tetap tenang.


"Kenapa ayah dan ibu baru sekarang mengatakannya? Bukankah jika benar aku anak angkat ayah dan ibu, aku wajib diberitahu saat usia 18 tahun. Kenapa ayah? kenapa Ibu?" Aku masih terisak, bahkan semakin menjadi. Bergantian aku menatap wajah teduh keduanya.


"Iya nak kami memang bersalah. Sudah sejak dulu, bahkan saat kamu masih duduk di bangku SMA, ayah dan ibu berkali-kali ingin mencoba memberitahumu dan kakak-kakakmu. Tetapi begitu banyak pertimbangan. Ayah dan ibu berpikir, jika sebelum bahkan ketika sudah menamatkan SMA sudah kami kasih tahu, kami khawatir nanti semangat belajarmu menurun. Kami tidak ingin kamu terbebani dengan statusmu dalam keluarga ini." Ayah semakin santai menjelaskan. Tangannya bergerak menuntunku dan ibu berbarengan menuju sofa. Aku menurut, begitu juga dengan ibu. Kami duduk di sofa dengan raut wajah yang tegang dan kaku. Aku masih menangis, menunduk mencoba meresapi semua kalimat yang keluar dari mulut ayahku. Kulihat bang Zamy menuangkan teh lagi ke gelasnya lalu menyeruputnya sedikit. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Namun nyata dari gesturenya, dia sedang gelisah. Sejenak hening. Aku meletakkan akte kelahiranku di atas meja.


"Ayah..., ibu..., jadi Naura ini anak siapa? Siapa orang tua biologis Naura?" Aku mencoba bertanya. Perasaanku bergejolak. Ada amarah yang datang tiba-tiba. Entah untuk siapa. Aku juga tidak tahu.

__ADS_1


Ibu meraih tisu, dan mengelapkannya ke wajahku yang dipenuhi air mata. Mataku sudah bengkak. Kuambil lagi beberapa lembar tisu, lalu kubuang ingus yang tiba-tiba meleleh karena tangis. Seperti biasa, aku menghembuskan ingus-ingus ke tisu tadi.


"Sudahlah nak, Naura tidak usah memikirkan lagi siapa orang tua biologismu. Maksud ayah dan ibu agar Naura tahu saja, bahwa Naura bukan saudari kandung abang-abangmu. Walaupun kau bukan anak kandung kami, namun tak sedikitpun rasa sayang berkurang dari kami untukmu, perasaan itu sama nak, kami menyayangimu sama seperti kami menyayangi ketiga kakakmu." Ibu memelukku erat sambil bicara. Aku dan ketiga kakakku hanya terdiam. Mereka sama kagetnya sepertiku. Tak menyangka sama sekali mendapati kenyataan ini. Bahwa dokter cantik yang selalu mereka jaga dari kecil rupanya bukan adik kandung mereka. Lalu kutatap lagi mata ayah dan ibu bergantian.


"Jika kedua orang tua biologisku ayah dan ibu tidak tahu, lantas bagaimana asal mula Naura ada di kehidupan kalian ibu?" Semakin lekat kumenatap mata ibu. Ada kristal bening di ujung matanya. Bertahan, tak ingin jatuh lagi di hadapan anak gadisnya, Naura. Ayah berdehem beberapa kali, tangan kanannya memainkan cincin batu akik kesayangan. Berkali-kali kulihat tangan kanannya mengeluar-masukkan cincin bermata merah menyala. Tak lama kemudian, kulihat ayah kembali memicing-micingkan mata memberi kode ke ibu.


"Ceritanya hampir mirip seperti di sinetron-sinetron nak."


"Ceritakanlah ibu, aku siap mendengarkan." Aku menjawab cepat. Ibu merebahkan kepalaku yang tidak tertutupi jilbab ke bahunya. Tangan kanannya mulai menepuk-nepuk pundakku secara halus.


"Baiklah nak, akan ibu ceritakan secara singkat, bagaimana awal mula kau menjadi bagian penting dalam kehidupan kami." Ibu berhenti sejenak. Kulihat bang Zamy beberapa kali mengangkat telpon, sekretarisnya sudah beberapa kali menelpon. Pasiennya sudah menunggu. Begitu juga denganku, aku yakin sekretarisku sudah menghubungiku berkali-kali. Namun hpku berada di kamar.


"Waktu itu, sekitar 28 tahun yang lalu. Di saat masih mewangi bau tanah basah karena semalaman diguyur hujan deras disertai kilat dan petir..., ibu terbangun dan akan menunaikan sholat malam. Selesai sholat seperti biasanya ibu membaca Alquran dengan suara perlahan agar tidak membangunkan abang-abangmu yang tengah pulas." Ibu kembali berhenti. Tangisku berhenti. Aku fokus mendengarkan kisahku dari ibu. Kulihat raut mukanya. Kuartikan tetesan air matanya, dan semuanya mengandung kebenaran.


"Terus bu?" Aku tak sabar bertanya. Ibu kembali membelai-belai rambutku.


"Baru beberapa menit saja ibu mengaji, tiba-tiba ibu mendengar ada suara mobil meraung, sepertinya menjauh dari arah rumah kita. Ibu menegakkan telinga, namun suara mobil itu sudah sayup-sayup kemudian perlahan menghilang. Ibu lantas melanjutkan mengajinya dan berpikir bahwa itu mungkin mobil tetangga yang sudah mau antri mengisi solar di pom bensin. Waktu itu, timah harganya masih mahal nak, jadi orang-orang banyak yang menimbun solar untuk keperluan tambang inkonvensional. Lalu...."


"Lalu ibu kembali mengaji. Namun beberapa detik kemudian, ibu kembali dikejutkan dengan pekikan suara bayi. Ibu kembali memasang telinga, bahkan melepas mukena agar pendengaran lebih jelas lagi. Tangisan bayi itu semakin menjadi-jadi. Sempat ibu berpikir, itu hanya halusinasi ibu saja, tetapi suaranya semakin nyaring ditengah sepinya jam tiga pagi. Lalu ibu membangunkan ayahmu, mengajak bersama untuk mengintip dan membukakan pintu. Waktu itu juga sedang marak terjadi pembegalan, jadi kami harus waspada. Kami keluar menuju teras, sebelum membuka pintu kami mengintai melalui tirai, dan tidak kelihatan siapa-siapa. Lantas ayahmu membuka pintu. Dan...."


"Apakah aku yang ada di sana bu?"


"Iya nak, kami melihatmu yang langsung berhenti menangis begitu melihat kehadiran kami. Usiamu kurang lebih 4 bulanan. Dan dibawah temaram lampu teras, itulah kali pertama ibu melihat senyummu. Cantik sekali, ibu langsung jatuh hati padamu." Ibu kembali terisak. Dia berurai air mata lagi sambil memelukku erat sekali. Hangat, hangat sekali kurasakan.


"Apa saja yang ada bu? Wasiat atau apalah?" Aku antusias bertanya.


"Tidak ada identitas sama sekali nak. Hanya ada dua lembar kain bayi putih polos sebagai alasmu di atas kardus. Selebihnya pakaian yang sedang engkau kenakan. Baju panjang tanpa singlet, celana panjang selembar tanpa popok atau lainnya. Hanya itu nak, tanpa kaus kaki dan sarung tangan. Tapi begitu ibu menunduk, engkau langsung mengangkat-ngangkat tanganmu seolah ingin segera digendong. Aku segera menggendongmu, membawamu masuk ke dalam kamar. Lalu masih sambil menggendongmu, ibu membongkar buntalan di lemari. Masih banyak pakaian abang-abangmu waktu bayi dulu. Ibu ganti bajumu yang basah karena ludah dan air mata. Ibu oleskan telon abangmu, ibu cari dan pasangkan baju terbaik yang sedikit cocok untuk anak perempuan. Sementara ayahmu langsung ke rumah pak RT yang rumahnya sekitar 1 kilo dari rumah kita, melaporkan tentang penemuan bayi perempuan. Tak berselang lama, pak RT sudah datang dengan pak Lurah dan 2 orang polisi. Mereka mencatat semua kejadian yang kami ceritakan. Sempat engkau akan dibawa polisi ke kantor, namun ibu memohon agar itu tidak dilakukan." Ibu menjelaskan panjang lebar. Aku sudah berhenti menangis.

__ADS_1


"Lalu siapa yang memberikan nama Naura?" Bang Fathur yang bertanya. Semua masih menyimak kisah yang diceritakan ibu tentangku.


"Setelah kejadian itu, ayah dan ibu bolak-balik ke kantor polisi memberikan keterangan yang sama. Seperti berbelit-belit mereka menanganinya. Memang ada tim yang mencoba mencari tahu siapa yang telah meletakkan bayi itu di depan rumah. Namun tak membuahkan hasil karena tak cukup bukti. Sedangkan CCTV kita belum ada waktu itu. Hingga setelah konsultasi dengan beberapa elemen masyarakat ayah ibu resmi mengambil bayi itu sebagai anak. Kami mengakikahkan dengan memotong seekor kambing. Mengundang beberapa kerabat dan kenalan serta orang di sekitar rumah. Kami, ayah dan ibu sepakat memberikan nama pada bayi itu Naura Ghe Divanka yang berarti bunga atau cahaya. Harapan kami semoga dirimu, Naura bisa senantiasa bercahaya dalam kehidupan ini. Tidak ada kesedihan, tidak ada dendam apalagi air mata." Ibu bicara sambil tak henti-hentinya memeluk dan mengelus-elus rambutku. Entah rasa apa yang berkecamuk di hatiku. Sedih, iba, benci, muak kepada orang yang tidak kuketahui dimana rimbanya. Aku galau. Sejenak suasana hening. Kami dengan pikiran masing-masing. Angin malam bertiup perlahan menembus jendela yang sengaja dibiarkan terbuka oleh ayah. Bau aneka bunga bermekaran di bawah jendela menyibak masuk ruangan. Cuaca dingin semakin membuat pikiranku melambung entah kemana. Siapakah yang tega telah membuang darah dagingnya sendiri? Siapakah yang sampai hati meninggalkan bayinya dengan 2 lembar kain selimut putih di atas kardus? Siapa? Siapakah yang tak punya hati itu? Batinku kembali menyalak, namun pada siapa aku akan marah? Kuluapkan saja semua dalam derai air mata.


"Baiklah ibu dan ayah. Terima kasih telah membagi sebuah kisah rahasia ini. Walaupun itu kurasakan sangat terlambat." Aku perlahan bicara.


"Maafkan kami nak. Kami tak ber...."


"Tak ada yang perlu dimaafkan ibu. Tak ada yang salah. Hanya takdirku yang singgah dengan caranya sendiri. Takdirku yang kedinginan mengetuk rumah ayah dan ibu. Bersyukur aku menemukan pintu rumah yang tepat." Aku mencoba menenangkan. Walau sebenarnya hatiku kalut bukan kepalang.


"Baiklah ayah, ibu dan abang semua, Naura akan ke klinik. Silahkan lanjutkan obrolan kalian." Aku berdiri pamit kepada keluargaku. Kasian sudah hampir masuk Isya, pasien pasti sudah gelisah. Padahal ingin sekali aku menanyakan perihal kesepakatan menikahkanku dengan bang Zamy. Siapa yang telah bersepakat untuk menikahkanku. Apakah ayah dan ibu menyembunyikan rahasia lainnya? Aku menepis pertanyaan seputar itu. Rasanya begitu risih dan sungkan untuk dibahas. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan kakak yang sangat peduli kepadaku selama ini.


"Kau pergi dengan siapa nak?" Ibu bertanya ketika melihatku sudah berdiri.


"Aku akan mengantar Naura bu."


"Aku akan mengantar Naura bu."


Serempak bang Fathur dan bang Rahman berdiri menyahut. Bang Zamy melihat ke arah keduanya.


"Kalian istirahatlah, aku akan pergi dengan Naura." Bang Zamy berdiri. Aku menghentikan langkah.


"Tidak usah bang Zamy, Naura pergi sendiri saja. Sekalian nanti mau mampir ke rumah dokter Airin, mau menanyakan hasil rapat pembentukan gugus baru penanganan covid 19." Aku berbohong. Padahal aku sudah tahu hasilnya melalui video call dengan dokter Airin saat di mobil pagi tadi. Aku hanya membuat alasan agar bisa pergi sendiri.


"Sekalianlah dek abang numpang mobilmu. Mobil abang kan di klinik." Bang Zamy mengeluarkan jurus ampuh yang sangat sulit kubantah. Aku berlalu menuju kamarku tanpa membantah lagi. Kemudian masuk kamar mandi untuk mencuci muka, lalu memasang masker, mengganti baju lagi, mengenakan jilbab, kaus kaki, mengambil tas dan memasukkan perlengkapan lain ke dalamnya. Aku mencium tangan kedua orang tuaku, tepatnya orang tua angkatku. Pamit ke bang Fathur dan bang Rahman, lalu menuju garasi karena kuyakin bang Zamy sudah menunggu di mobilku. Suara mesinnya sudah terdengar. Ibu mengantarku sampai pintu.


"Ibu berharap, tidak ada yang berubah dan mempengaruhi kebahagiaanmu karena hal ini. Ibu sangat menyayangimu." Ibu melepasku dengan pelukan hangat.

__ADS_1


"InsyaAllah ibu."


Aku tersenyum. Namun jauh di lubuk hatiku ada luka yang dalam, entah luka untuk siapa.


__ADS_2