
Aku dan bang Zamy segera berkemas. Kumasukkan beberapa helai pakaian ke tas berpergian kecil. Persiapanku siapa tahu hasilnya benar-benar kami positif terinfeksi virus corona meski kami sedikitpun tidak merasakan gejalanya. Jika sudah ada persiapan, kami tidak perlu kembali ke rumah atau dianterkan pakaian oleh keluarga. Hatiku berdegup-degup kencang, meski pun dengan status sebagai seorang dokter, aku tetap saja seorang manusia biasa yang saat mengetahui hal-hal mengkhawatirkan seperti itu menjadikan hati menjadi sedikit gundah gulana.
“Sayaaaanggg…, tetap tenang ya, jangan terlalu dipikirkan. InsyaAllah kita tidak apa-apa. Dan…,” Bang Zamy menatapku sejenak, ada kekhawatiran yang coba dia sembunyikan dariku.
“Andaipun kita benar-benar positif, kan bisa nanti kita dikarantina untuk penyembuhan. Usia kita bukan usia rentan dengan virus itu. Imun kita bagus, makan kita selama ini sehat. Apa yang harus dirisaukan. Mungkin saja Shelly positif, tetapi kita kan tidak begitu lama berdekatan dengannya. Di pantai lagi, dengan angin sepoi-sepoi, mana sempat virus singgah ke kita.” Bang Zamy berupaya menghiburku. Aku tersenyum kembali mencoba menenangkan diri.
“Kasihan tuh yang di dalam, kalau maminya cemas, dia nanti ikut cemas.” Bang Zamy menunjuk perutku lagi. Aku seketika menunduk, menatap perutku dan mengelus-elusnya. Inilah yang lebih menjadi kekhawatiranku. Namun aku harus kuat, dan tidak boleh bersikap kekanak-kanakan. Ada satu nyawa dalam rahimku yang membutuhkan ketenangan maminya. Jiwa di kandung badanku ini membutuhkan kedamaian hati ibundanya. Aku harus kuat dan tidak terlalu khawatir. Beberapa lembar pakaian tadi telah selesai kukemas. Charger handphoneku dan bang Zamy telah pula kumasukkan. Aku tidak ingin nanti dilanda kebosanan jika memang kenyataannya kami benar telah terinveksi virus yang berbahaya bagi kesehatan ibu hamil sepertiku.
“Ibu, ayah, dan semuanya, kami akan pergi screening covid-19, jangan khawatirkan kami, kami hanya akan cek dan insyaAllah hasilnya negatif, tapi mungkin butuh waktu 24 jam menerima hasil. Jadi kemungkinan kami langsung menginap semalam agar tidak khawatir akan menularkan kepada yang lainnya..” Aku tersenyum tanpa beban kepada mereka. Tekadku sudah bulat, aku tidak boleh kalah oleh pemikiranku sendiri. Aku harus selalu berpikir positif agar makhluk titipan Allah di rahimku akan tumbuh sesuai pertumbuhannya. Tanpa terganggu oleh kekhawatiranku terhadap sesuatu yang tidak jelas.
“Iya nak, kami menunggu di sini ya, semoga hasilnya negatif.” Ibu masih memelukku meski seharusnya dia mengkhawatirkan penularannya.
“Telpon abang kalau membutuhkan sesuatu ya dek….” Bang Fathur bicara tenang kepadaku.
“Oke bang siap.” Aku menjawabnya.
“Bu, tante Naura dan om Zamy kenapa pergi?” Annisa bertanya kepada mbak Nindya.
“Mereka mau cek dedek di perut tante….” Mbak Nindya menjawab sambil memegang kepala Annisa. Mereka kemudian melambaikan tangan kepada kami yang sudah berada di atas kendaraan. Bang Zamy meminjam mobil ayah dengan kaca gelap karena mobilku dan mobilnya berada di parkiran paling depan. Karena tidak mau ribet bang Zamy mengajakku naik mobil Innova silver tahun tua. Pak Rohim bingung, kenapa di saat suasana ramai kok saya dan bang Zamy malah pergi. Tetapi dia hanya menatap heran sembari tersenyum ramah membukakan pintu teralis pagar untuk kami lewati.
Kemudian kami menuju Rumah Sakit Timah yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan untuk gejala virus corona di wilayah kota Pangkalpinang dan sekitarnya.
*****
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami telah sampai di pelataran parkir rumah sakit. Namun ketika aku akan membuka pintu mau turun, bang Zamy memegang tanganku, menahannya. Matanya sangat jeli menangkap di beberapa titik sudah banyak sekali orang dengan kamera besar di tangan. Bang Zamy meminta hapenha yang tadi kuletakkan di dalam tas. Dia menelpon seseorang.
“Halo Zam? Kamu dimana? Kenapa sudah banyak sekali wartawan menanyakan keberadaanmu?” Dokter Zein mengangkat telpon.
“Iya agak janggal. Tapi kita tidak sedang ada acara kan? Maksudnya di luar ini banyak sekali muka-muka jurnalis. Apakah kita ada acara yang tidak kuketahui?“ Bang Zamy bicara seius sekali.
“Lha kamu yang Wakil Direktur masa iya tanyanya sama saya?” Dokter Zein tergelak kecil. Dia merasa lucu mendengar pertanyaan bang Zamy.
“Iya hehehe..., tapu siapa tahu saja boss besar tidak kasih informasi ke saya.” Bang Zamy menjawab pula.
“Tidak ada Zam, boss juga sedang tidak di tempat kok. Ini Minggu bro, musim covid, kita tidak ada agenda penting yang membutuhkan banyak wartawan.” Dokter Zein mengingatkan.
“Oke oke oke. Saya sedang berada di parkiran nih, tetapi mau langsung pulang saja.” Bang Zamy bicara lagi.
“Oke. Eh nanti jawabnya apa kalau ada yang tanya lagi tentang kamu?" Dokter Zein kembali bertanya.
“Kamu tanya balik saja bro, ada keperluan apa mencari saya, begitu.” Bang Zamy dengan tersenyum menjawab.
__ADS_1
“Oh oke oke oke….” Terdengar jawaban Dokter Zein. Mereka menutup sambungan telepon. Kemudian bang Zamy menatapku.
“Pakai maskernya sayang. Alhamdulillah beruntung sekali kita memakai mobil ayah, jadi tidak ada yang mengenali.” Bang Zamy mengingatkanku, aku seketika menaikan maskerku yang memang sudah tergantung ke leher. Bang Zamy sudah lebih dulu memasangkan maskernya sendiri. Kemudian tanpa mematikan mesin mobil, bang Zamy malah memutar kembali mobilnya keluar dari daerah parkiran. Dia kemudian menelpon ayah.”
“Bagaiamana nak? Selesai? Kok cepat sekali?” Ayah menjawab.
“Tidak yah. Sepertinya ini tidak biasa. Ada orang yang sengaja mau menyebarkan isu bahwa kami terkena covid-19. Di sepanjang pelataran parkir sekarang banyak sekali wartawan yang menunggu kehadiran kami.”
“Owh, begitu ya. Alhamdulillah berarti bisa dipastikan jika kalian tidak apa-apa kan nak?” Ayah bertanya awas.
“Iya yah tidak apa-apa.” Bang Zamy meyakinkan.
“Oh ya yah, jangan pedulikan kalau ada wartawan ke rumah ya, dan tolong bilang ibu dan lainnya, kami akan sembunyi dulu beberapa saat di suatu tempat.” Bang Zamy memnyampaikan pilihannya.
“Kalian mau kemana? Ke rumah yang di klinik?” Ayah bertanya lagi.
“Ah ayah, itu mah sama saja dengan tidak sembunyi. Masyarakat sudah tahu itu rumah kami." Bang Zamy tertawa kecil.
“Terus kemana?” Ayah ingin memastikan.
"Ada lah yah. Yang pasti ayah bersikaplah biasa saja, tidak ada yang perlu dicemaskan terhadap kami oke." Bang Zamy bicara senormal mungkin.
“Oke-oke. Tapi apa kalian punya musuh? Orang yang tidak menyukai kalian?” Ayah masih belum puas menyelidik.
Bang Zamy menyampaikan kecurigaannya.
“Owh…, iya iya iya, masih kasus itu dulu.”
Bang Zamy mematikan handphonenya karena sudah masuk beberapa nomor asing menelpon dan sms juga whatapp. Banyak yang menanyakan apakah benar kami terkena covid-19.
“Yaaanggg…,” Bang Zamy menatapku sesaat.
“Hemzzz…,” Aku hanya mendehem saja.
“Kita istirahat saja sementara ke Puncak yuk.” Bang Zamy menawarkan.
“Terserah abang deh.” Aku langsung menjawab, dan bang Zamy paham benar arti terserahku sama dengan iya. Dia kemudian mengemudikan mobil ke arah hotel yang berada di pusat kota. Kami turun tanpa membuka masker, beruntung di laci ayah ada tersimpan sebuah topi dan kaca mata hitam. Bang Zamy memakainya. Nampak dia seperti seorang artis lagi bersembunyi dari kejaran wartawan. Aku malah terpesona melihatnya. Dia nampak begitu tampan, apalagi saat dia menggenggam jemari tanganku menuju meja resepsionis, hatiku merasakan kami seperti sedang berpetualang. Asyik namun perlu kehati-hatian.
“Bahaya juga ya Di, kalau dokternya sudah kena juga. Padahal itu dokter paling digemari di sini lho….” Seorang petugas resepsionis bicara kepada temannya yang sedang menyusun beberapa map di rak dekat meja mereka.
“Owh yang di facebook barusan ya? Belum ada keterangan resmi dari gugus tugas covid-Babel.” Temannya menjawab tanpa menoleh. Aku dan bang Zamy beroandangan.
__ADS_1
“Padahal istriku mau melahirkan sama dokter Zamy itulah….” Seorang laki-laki yang baru saja meletakkan telpon setelah menutup panggilan ikut nimbrung obrolan teman-temannya.
“Ssssttt….” Petugas yang sedang melayani kami menendang ke arah teman-temannya. Dia memberikan kode agar mereka segera diam. Namun mereka masih asyik saja membahas perihal berita kami terkena corona. Tak tahan lagi, akhirnya bang Zamy membuka masker dan tersenyum kepada mereka.
“Hanya isu, insyaAllah kami tidak terkena covid-19." Dia langsung mematahkan argumen petugas hotel yang malah asyik begosip.
“Owh alhamdulillah….” Mereka ternganga dan malah meminta untuk foto bareng.
Seperti seorang selebritis saja….
Aku membatin.
*****
Aku membaringkan diri di kasur putih kamar nomor 302 hotel Puncak. Sementara bang Zamy masih duduk di kursi sibuk dengan handphonenya. Berkali-kali kulihat dia menelpon orang lain. Sibuk menanyakan beberapa hal berkenaan dengan sidang peradilan Irwan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
“Ini pekerjaan siapa sih yang….?” Aku bertanya kepada bang Zamy yang asyik membaca-baca berita online dengan judul kontroversi. ‘Dokter kandungan dan istrinya diduga terjangkit Covid-19’, Suami Istri Pemilik Klinik Honey Bee Diduga Terjangkit Covid-19’, 'Jangan ke klinik Honey Bee dulu, Kedua dokternya diduga positif corona', Akibat reuni, dokter di klinik Honey Bee memeriksakan diri curiga covid', dan banyak lagi judul-judul yang memang disengaja kontroversi. Bang Zamy menelisik dan screen shot akun-akun dan portal yang sengaja menyebarkan berita fitnah tersebut.
“Ini pasti dari pihak Irwan, dia akan sidang beberapa hari lagi. Mungkin dia berharap kita mencabut laporan. Sayang sekali ini pasti gagal. Besok semua harus abang selesaikan.” Bang Zamy menjawab pasti.
“Tenang saja Beee…, ini tidak akan lama terjadi.” Bang Zamy meletakkan handphonenya ke meja yang berada di samping tempat tidur. Dia kemudian ikut berbaring di sampingku, lalu berbalik, memelukku dengan erat. Dia mengelus rambutku yang sudah tergerai tanpa jilbab. Kami saling tatap, dan entah karena suasana yang berbeda, tiba-tiba saja bang Zamy mulai mendekatiku dengan lenguhan nafas hangat dan berat.
“Main yuk sayang….” Dia meminta langsung.
"Hemzzz...." Aku kembali hanya berdehem sambil tersenyum. Dia yang memang suka sekali hal-hal baru terkadang meminta untuk bercinta di saat-saat yang mengejutkan.
"Hemzzz artinya setuju....," Dia langsung mencium dan mengecup hangat bibir seksiku. Kemudian dia berdiri sejenak sambil melepaskan baju dan celana jeans biru yang dia kenakan. Nampak lagi pemandangan istimewahku, seorang laki-laki dewasa dan tampan berdiri menggodaku dengan hanya mengenakan celana boxer yang lembut. Nampak sekali tumpukan menggiurkan di tempat tersembunyi itu. Aku menelan ludah tanpa sadar.
Lalu perlahan bang Zamy mulai merangkak di kasur mendekatiku. Aku berbalik menghindari tatapan mataku yang mulai nakal ke bagian depan celananya. Namun seketika bang Zamy memelukku dari belakang dan memaksaku menghadap kepadanya.
"Kenapa menutup muka begitu?" Bang Zamy melepaskan tanganku yang menutup wajah bersemu malu.
"Malu...."
"Apa? Malu? Istri abang malu apa mau?" Bang Zamy bercanda sambil tangannya mulai membuka resliting baju gamis yang kukenakan. Lalu dengan nafas mulai memburu, dia mulai bermain dengan dua payudaraku yang menyerupai buah melon, payudara yang terlihat bulat sempurna di segala sisi dan semakin membesar seiring kehamilanku. Aku sesekali memejamkan mata, menikmati nuansa yang hadir di setiap sentuhan tangan dan bibirnya.
Semakin lama, bang Zamy semakin nakal saja. Gigitan-gigitan kecil di dagu dan bibir mulai kubalas dengan hal serupa. Bang Zamy tahu benar lokasi titik rangsangan di tubuhku, dia membangkitkannya dengan tepat dan membuatku semakin bergairah. Ciuman dan gigitan ke tepian bibirku olehnya membuat dadaku terasa panas seakan terbakar. Sentuhan ujung lidahnya mengeksplorasi tepian bibirku terasa sangat nikmat dan merangsang. Hawa dingin di kamar bernuansa putih ini, benar-benar membawaku larut dalam kenyamanan. Bang Zamy terus bereaksi. Tak ada lagi kata apalagi kalimat yang keluar dari mulutnya, hanya lenguhan-lenguhan jantan yang membuatku semakin bernafsu mengimbangi permainannya. Sambil terus menjelajahi tepian bibir bawahku, tangan kirinya melorotkan gamis yang kukenakan melewati bahu. Kubantu dengan hentakan cepat agar gamis segera turun. Kemudian, perlahan-lahan kepala laki-laki tampan bersamaku ini menurun. Dia mulai memainkan putingku menggunakan jentikan jari dan sapuan lidah. Dan nafsuku ikut menggila karena rangsangan penuh gairah. Melihat aku yang sudah menggelinjang geli, dia kemudian mencium daerah erotis di antara rahang dan bahuku. Berkali-kali dia menggigit nakal pada cekungan di antara leher dan tulang selangkaku. Aku kembali merasakan sensasi rangsangan yang kuat. Dan tanpa kami sadari, perlahan semua masalah yang sedang kami hadapi hilang ditelan paduan kemesraan kami. Melihat keagresifannya kali ini, aku perlahan semakin berani mengimbangi rabaan dan usapan bang Zamy di area-area yang menstimulasi daerah genital. Kami semakin terhanyut, terlupakan waktu lampau, waktu tiga bulan lalu saat aku pernah mengenakan gaun pengantin yang sobek dan kotor karena ulah laki-laki yang akan sidang beberapa hari lagi. Pemikiran ke masa lalu sempat hadir karena rumors kami terkena corona. Dan..., setelah lama terbuai dalam pemanasan yang indah, akhirnya bang Zamy memintaku melakukannya, memintaku merubah posisi, berkali-kali, berganti-ganti dengan nafas memburu dan keringat yang basah. Persembunyian sesaat kami dari lensa kamera wartawan tengik mata duitan semakin mengeratkan rasa kasih sayang dan keinginan kami untuk terus bersama melalui badai dan rintangan yang datang saat ini atau mungkin esoknya nanti.
Kami terhempas bersama dalam kenikmatan duniawi....
"Terima kasih sayang, kau semakin seksi sekarang dan sangat erotis di permainan tadi. Aku semakin mencintaimu selalu Bee...." Sebelum merebahkan diri di sampingku bang Zamy berbisik hangat di telinga. Aku beranjak menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun di badan. Bergegas membersihkan diri sebelum kekasihku tercinta meminta sekali lagi.
__ADS_1
*bersambung....*