Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 31 Sah


__ADS_3

Baru saja bang Zamy mendudukkanku di kursi mobil sebelah ibu dan mbak Nindya. Tiba-tiba seorang polisi berlari tergopoh-gopoh ke arah mobil kami.


"Ada apa pak?" Ayah turun menemui pak polisi yang datang.


"Maaf pak tadi lupa. Disebabkan karena kasusnya melibatkan senjata api, kami mau melihat surat kepemilikan beserta izinnya.


"Tunggu ya pak." Ayah mendekatiku melalui jendela sebelah kanan.


"Dimana surat-surat pistolnya nak?" Ayah menanyakan kepadaku. Aku hanya tersenyum kecil.


"Suratnya ada di dalam dompetku yah, baru diperbaharui kok izinnya yang tahun ini...." Aku menjelaskan kepada ayah. Ayah lantas menemui pak polisi lagi.


"Pak, suratnya lengkap. Perpanjangan izinnya juga baru diperbaharui yang tahun ini, tetapi karena kondisinya tadi, dompetnya ada di rumah." Ayah menjelaskan.


"Oh ya, bisa diambil mungkin pak atau diantar saja nanti fotokopinya. Tidak harus hari ini sih, tapi jangan lewat tiga hari. Berkas kita mau naik." Polisi itu memaklumi.


"Iya pak, nanti diusahakan secepatnya kami antar." Ayah menjanjikan.


"Baiklah pak. Eh..., jenis senjatanya apa, bisa kami lihat?" Polisi itu bertanya lagi. Aku lantas mengeluarkan pistol dari dalam gaun pengantinku. Tidak ada lagi peluruh di dalamnya. Polisi itu seketika mundur, dia terkejut.


"Ini pistol biasa pak tetapi asli pabrikan Walther berkaliber tiga puluh dua. Ini bernomor pabrik 3058 AAA dan saya juga resmi terdaftar di Perbakin (Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia)." Aku menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah bu, disimpan lagi pistolnya. Kaliber tiga dua ya bu. Baik, sementara laporannya kami tambahkan jenis senjatanya saja." Lalu polisi itu berlalu meninggalkan kami. Bang Zamy yang diam dari tadi, duduk di sebelah kursi sopir menoleh ke belakang. Dia mengambil pistol di tanganku, mengecek pelurunya, lalu mengelap-ngelap dengan tisu.


"Bagaimana bisa kau langsung mengingat untuk mengambil pistol Bee?" Bang Zamy bertanya sambil meniup-niup bagian hammer dan cyilindernya.


"Spontan saja bang. Malah Naura tidak kepikiran buat menjerit meneriakkan penculikan." Aku tersenyum.


"Barrelnya kok penuh minyak Bee?" Bang Zamy menggumam bertanya sambil mengambil tiga lembar tisu lagi, lalu mengelapkan ke bagian pistol hitam milikku.


"Itu bukan minyak kali bang. Keringat Naura di badan bercucuran." Aku menjawab. Ibu kembali mengelap pelipisku yang berkeringat jagung. Bang Zamy hanya nyengir. Sedangkan mbak Nindya menepis-nepiskan bajunya yang kotor. Ayah sudah pula kembali ke kursi sopir. Kemudian kami meninggalkan kantor polisi, segera menuju rumah. Entah apa yang tersisa di sana. Otakku bertanya-tanya.


***


Dua puluh lima menit kemudian kami sudah tiba di rumahku. Sisa keramaian masih ada. Para tamu undangan mungkin karena dihantui rasa penasaran atas kejadian ini malah belum ada yang pulang. Mereka segera melihat saya dan mbak Nindya. Aku masih memberikan senyum terbaikku kepada tamu undangan yang memang tidak seberapa. Rekan dokterku begitu menyayangkan kejadian ini dan memberikan dukungan agar tetap sabar. Ayah begitu turun dari mobil langsung menemui penghulu. Kulihat ayah seperti menceritakan detail kejadiannya. Penghulu itu mengangguk-angguk. Mbak Nindya begitu turun dari mobil langsung menemui dan memeluk Annisa dan tante Mira yang masih saja menangis. Sedangkan ibu, menemui beberapa undangan dan ikut menceritakan apa yang terjadi. Terakhir kulihat ibu bicara serius dengan yuk Zaidar. Mereka tampak terlibat diskusi penting. Aku tidak tahu. Aku permisi kepada semua yang datang mengerumuniku lalu segera menuju kamar mandi. Aku buang air kecil dan tersenyum sendiri begitu melihat ke kaca di kamar mandi. Wajahku sangat lecek. Riasanku tak beraturan lagi, meskipun kecantikanku tetaplah sama. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Namun baru saja aku mengusap wajahku dengan air, tiba-tiba yuk Zaidar mengetuk pintu kamar mandiku.


"Bu dokter, jangan dibasahi dengan air 'mek-ap'nya ya. Ayo keluarlah, kita betulkan lagi sejenak. Semua sudah kembali duduk siap menunggumu. Pernikahan tetap akan dilangsungkan."


"Hah? Dengan pakaian seperti ini?" Aku yang sudah mengira pernikahan ini batal, segera keluar dari kamar mandi. Ibu masuk kamar dengan mbak Nindya, Annisa dan tante Mira.

__ADS_1


"Semua dimakeup sebentar ya yuk. Biar semua tetap tampil cantik." Ibu mempersilahkan anak buah yuk Zaidar mendadani ketiganya. Sementara aku kembali dirias dengan cekatan oleh yuk Zaidar. Selesai dirias bagian wajah, yuk Zaidar kemudian merapikan aksesoris emas berbentuk dedaunan di atas sanggul dalam jilbabku. Namun meski sudah dirapikan sedemikian rupa, salah satu elemen kemewahan itu tak lagi bisa sempurna. Karena tadi mereka pun ikut berjibaku menyelamatkan diri dari reranting pohon, akar-akar juga segala rumput dan duri. Riasan di kepalaku bahkan sempat mengagetkanku karena tersangkut tunggul yang atasnya sudah menjadi arang. Aku sempat berpikir kalau seseorang telah menarikku.


"Ya Allah bu dokteeerrr..., dokter adalah pengantin wanita tercantik selama ayuk mencontok. Namun dokter juga yang mengalami kejadian paling me'ngenes'kan juga menggelikan. Hihiii...." Yuk Zaidar terkikik kecil.


"Melihatmu pertama kali turun dari mobil tadi, aduuhhh..., antara tegang, kasian juga lucu. Untung ayuk bisa menahan ketawa. Haha...." Yuk Zaidar kembali menambahkan.


"Sudah selesai yuk?" Ibu kembali masuk ke kamar memeriksa kesiapan kami. Bang Zamy masuk dengan pakaian yang sudah rapi. Dia mengambil kopiah yang disangkutkan di pojok belakang pintu. Pakaian pengantin yang dikenakannya pagi tadi tidak kusut sama sekali.


"Sebentar lagi bu." Yuk Zaidar masih menyusun-nyusun ulang jumpsuit bertabur manik-manik di bagian bawah gaun pengantinku.


"Oke berdiri bu dokter." Yuk Zaidar memegang tanganku. Aku menurut saja, segera berdiri sesuai perintah. Yuk Zaidar kemudian memutar-mutar badanku.


"Baju ini tidak jelas lagi warnanya." Yuk Zaidar lekat memandang gaunku. Dia memetik-metikkan telunjuk kanan ke bibirnya. Sedangkan tangan kiri berkacak pinggang dengan santainya.


"Hemzzz..., Tolong pintakan air hangat dan piring kecil tiga buah ya...." Yuk Zaidar meminta asistennya ke dapur. Tak lama kemudian asistennya sudah datang lagi dengan segelas air hangat dan tiga buah piring keramik kecil. Yuk Zaidar kemudian mematahkan satu lipstik berwarna merah hati, meletakkan ke piring dan menekannya dengan jempol tangan. Seketika lipstiknya hancur. Aku memperhatikan dengan hati yang bingung. Benakku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan yuk Zaidar. Setelah airnya sudah benar-benar menyatu dengan patahan lipstik, dia memasukkan tiga jarinya ke air itu, lalu dengan jarak hampir satu meter dia menjentikkan jari-jarinya ke arah gaun yang kukenakan. Aku melihat ke bawah, tempat cipratan kecil itu datang. Sungguh ajaib, baju Pengantinku semakin bersinar dengan cipratan kecil yang membentuk tetesan air yang kecil berwarna merah. Tidak berhenti sampai di situ, yuk Zaidar lantas menghancurkan bedak padat, dicampur sedikit foundation dalam bentuk bedak padat. Lalu seperti langkah sebelumnya, dia kemudian kembali memercikkannya ke arah gaunku bagian dada. Ajaib. Setelah menempel di baju pengantinku, seketika warnamya berubah cream keemasan.


"Sudahlah, cukup dua warna saja yang penting tidak kelihatan lagi bekas terkena tanah." Yuk Zaidar kembali membolak-balikkan badanku. Bang Rahman dan Bayu kemudian datang memotoku dengan busana pengantin yang sedikit unik. Kemudian ibu menjemputku menuju ruang keluarga, tempat akad akan dilaksanakan. Bang Zamy sudah duduk di sana. Di hadapan bang Zamy, berbatasan dengan sebuah meja kecil, papa Ram menatapku dengan segala pikirannya. Aku tidak mendapati mama dan dokter Nina. Tiba-tiba papa bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arahku kemudian duduk berlutut persis di sebelahku.


"Nauraaa..., papa ingin menanyakan sesuatu kepadamu."


"Silahkan pa." Aku menjawab. Kemudian papa berbisik menanyakan sesuatu yang hampir saja membuat aku jatuh pingsan. Namun melihat tatapan matanya, aku hanya mengangguk mengiyakan. Papa kembali ke tempat semula dia duduk. Kemudian penghulu mulai mengetes microphonenya. Lalu dianya mengajak bersama-sama menjadi saksi atas pernikahanku dan bang Zamy. Penghulu meminta bang Zamy dan aku bersyahadat. Papa sebagai wali nikahku. Dokter Malik dan pak Cecep, ketua RTku bertindak sebagai saksi.


"Baiklah bapak ibu yang insyaAllah dirahmati Allah, siang ini, setelah melalui rintangan besar, Naura dan Zamy akan melangsungkan pernikahannya. Mari kita semua menjadi saksi atas bermulanya kehidupan baru kepada calon pengantin." Penghulu memulai bicaranya. Para undangan diam memperhatikan. Mereka para dokter teman bang Zamy dan temanku, beberapa orang jemaah masjid, dan tetangga rumah kiri kananku, lima orang kepala OPD dari Mentok, dan lima orang kepala cabang Bank BUMN di Pangkalpinang, rekanan ayah kerja.


"Iya saya siap dan saya ikhlas."


"Baik, sekarang Naura Ghe Divanka binti Ramli, apakah engkau siap dan ikhlas tanpa paksaan untuk menikah dengan Muhammad Zamy bin Rey Fardan?" Penghulu giliran menanyakan kepadaku. Aku mengangguk.


"Iya saya siap dan ikhlas."


"Alhamdulillah bapak ibu, keduanya akan menikah tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Artinya setelah menikah nanti, hak dan kewajiban, tugas dan tanggung jawab keduanya sebagai suami istri otomatis mengikuti. Sekarang kedua orang tuanya, apakah kalian ridho atas rencana pernikahan keduanya?" Ayah dan ibu langsung mengangguk, begitu juga dengan papa. Kemudian beberapa orang mulai berbisik-bisik mencari sosok mama.


"Apakah ibu calon pengantin wanita sudah meninggal?" Pak Penghulu bertanya.


"Tadi dia hadir, tetapi mungkin agak shock atas kejadian tadi, makanya dia langsung istirahat di rumah. Tetapi dia sangat meridhoi pernikahan ini." Papa menjelaskan. Aku menunduk, aku tahu benar sifat asli mama sekarang.


"Baiklah, saksi sudah siap?" Penghulu memastikan kesiapan kedua saksi. Dokter Malik dan pak Cecep serempak mengangguk.


"Sekarang pak Ram sebagai wali nikah atas putri kandungnya dari pernikahan yang sah. Apakah anda sudah siap mengijabkan?" Pak Penghulu bertanya lagi ke papa.

__ADS_1


"InsyaAllah siap."


"Saya perlu memastikan lagi kepada Zamy sebagai calon pengantin laki-lakinya. Apakah calon mempelai laki-laki siap menjawab? Karena nanti dalam Ijab Qobul harus tidak ada tersela ucapan atau perbuatan lain. Makanya Zamy harus siap."


"InsyaAllah siap." Bang Zamy meyakinkan.


"Pak Ram dan Zamy, apakah kalian sudah sepakat menikahnya Zamy bin Rey Fardan dengan Naura binti Ramli dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang cek lima milyar?" Penghulu memastikan. Bang Zamy langsung mengangguk. Aku terkejut mendengarnya. Bang Zamy hanya mengatakan ingin memberikan mahar seperangkat alat sholat dan sedikit tabungan. Para hadirin banyak yang berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hanya ayah dan ibuku tenang saja. Jujur, uang sebanyak itu bukan hal tabu bagi kami. Karena penghasilan kami semalam saja di tempat praktik bisa mencapai lima belas jutaan kurang lebih jika digabungkan. Jika kami full praktik dalam sebulan bisa dicoba kalikan. Papa menatapku dan Zamy bergantian.


"Sepakat." Papa menjawab pasti setelah melihat anggukan kepalaku. Puluhan pasang mata kembali saling berpandangan. Sungguh mahar yang fantastis bagi mereka.


"Baiklah, Zamy dan pak Ram bersalaman kita akan segera melaksanakan ijab qobul." Papa dan bang Zamy menuruti.


"Bismillah, pak Ram kita akan mulai ya, silahkan...."


"Aku nikahkan dan kawinkan anak kandungku Naura Ghe Divanka denganmu dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang cek sebesar lima milyar rupiah, tunai."


"Aku terima nikahnya dan kawinnya Naura Ghe Divanka binti Ramli dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu, dan semoga Allah selalu memberikan keberkahan kepada kami.”


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


"Sah!"


Lalu Bang Zamy memberikan mahar kepadaku, bang Rahman dan Bayu terus mengabadikan momen demi momen. Aku mencium tangan bang Zamy. Untuk pertama kalinya, ciuman itu menggetarkan relung hatiku. Bang Zamy mengecup keningku di tengah-tengah blitz kamera. Aku merasakan bahagia yang tidak terkira. Senyum kami merekah.


"Alhamdulillahirabbilalamiin..., segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari setitik air, lalu Dia menjadikannya keturunan dan kekerabatan, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat ta’dhim dan kesejahteraan atas junjungan kami Nabi Muhammad saw, seutama-utama penciptaan makhluk dan atas keluarga dan sahabatnya dengan limpahan rahmat ta'dhim serta kesejahteraan yang banyak. Bapak ibu hadirin sekalian, karena kedua mempelai adalah dari kalangan terpelajar, tidak perlu lagi kami berkhutbah panjang lebar, keduanya lebih paham dari kami. Hanya mari kita saling mengingatkan, di tengah badai corona saat ini, mari kita bersama merenung akan lemah dan kecilnya kita sebagai mahkluk Allah. Dengan virus yang kecil itu saja tatanan ekonomi dunia seketika hancur, keimanan kita sedang diuji. Dan sebagai mahkluk sosial mari kita lebih peka lagi terhadap orang-orang yang kekurangan. Dan marilah kita sama-sama mendoakan untuk keberkahan hidup kepada pengantin baru ini. Semoga ke depannya tidak ada lagi kejadian-kejadian tidak diharapkan menimpa keluarga baru ini." Pak Penghulu memberikan khutbah singkat.


"Aamiin" Serentak suara undangan mengamiinkan. Kemudian penghulu masih menyambung sejenak khutbahnya. Lalu ayah berterima kasih kepada semua undangan yang sudah sabar menunggu. Acara dilanjutkan dengan makan dan pembagian souvenir. Tidak ada bersalaman. Dan tanpa berlama-lama setelah mengucap selamat kepada kami, para tamu perlahan bubar, hingga yang tersisa adalah kerabat dan teman-teman yang setia membantu membereskan sisa-sisa acara. Setelah semua rapi, tetangga, kerabat dan rekan sejawat pun sudah berpamitan. Aku melihat papa mendorong kursi roda tante Mira menuju ke villa. Annisa pun sudah berani bergelayut manja kepada papa. Aku ikut bahagia. Ayah dan ibu sudah istirahat di kamar mereka. Yuk Mairoh masih mencuci piring bersama mbak Nindya dan beberapa wanita yang sengaja kusewa. Bang Rahman membawa sepiring makanan dan duduk di gazebo. Bayu dan yuk Zaidar sudah pula pergi setelah membantuku membuka pakaian pengantin. Aku sudah dengan gamisku yang halus berwarna biru lembut bercorak. Betapa melegakannya terbebas dari pakaian berat itu. Sesuai pembicaraan dengan yuk Zaidar, kami akan mengganti kerugian baju pengantinnya dua kali lipat. Jadi sewanya menjadi seratus juta rupiah. Aku masuk ke kamar, ingin sejenak istirahat, tiba-tiba bang Zamy ikut masuk dan memelukku dari belakang. Bang Zamy mendorong pintu dengan kakinya. Suara adzan Dhuhur berkumandang.


"Bee...." Bang Zamy berbisik lembut di telingaku.


"Kenapa?"


"Abang tidak sabar menunggu malam tiba."


"Untuk apa?"


"Kita bermain catur!" Bang Zamy menjawab ketus. Aku tersenyum menoleh menatapnya. Kami beradu pandang. Bang Zamy memelukku dari belakang. Perlahan tangannya mengelus anak rambutku. Desah nafasnya menjadi lain, begitupun denganku. Perlahan dia mengecup keningku lagi dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Zamyyy.... Ayo ke masjid." Terdengar suara ayah di luar. Kami tersenyum dan saling melepaskan.


"Iklan sayang." Bang Zamy meninggalkanku dengan senyuman.


__ADS_2