Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 62 Perlahan Terkuak


__ADS_3

Jam tiga sore, saat kami masih di hotel, Santi dan Mak Yang melaporkan hanya ada tujuh orang pasien yang mendaftar melalui telpon. Dampaknya langsung terlihat. Mak Yang juga menginfokan ada beberapa orang wartawan yang mondar-mandir di sekitar klinik Honey Bee menanyakan keberadaan kami. Mereka tidak menjawabnya.


Kubuka facebook dan memang berseliweran artikel di media online lokal dengan laman-laman gratis dengan akun yang baru dibuat beberapa jam yang lalu, seperti blogspot dan wordpress. Judulnya semakin menjadi-jadi tidak karuan.


‘Pasangan dokter di Klinik Honey Bee nekat buka praktik padahal dicurigai ikut terjangkit corona saat reuni berlangsung’


'Abaikan Corona, Wakil Direktur Rumah Sakit Timah masih buka praktik seperti biasa’.


Begitulah judul-judul menarik pembaca kembali bermunculan di beranda facebook, Beberapa rekan sejawat bahkan sudah konfirmasi langsung dan kami ceritakan yang sebenarnya. Mereka mencoba membantah berita kecurigaan media abal-abal yang menyatakan kami terinveksi virus corona itu melalu caption share atau kolom komentar. Namun kembali akun abal-abal membuat berita dengan judul lainnya. Tujuannya sangat jelas hanya ingin menjatuhkan aku dan bang Zamy. Sudah ada orang yang kami curigai, namun untuk langsung memvonis pelakunya adalah keluarga Irwan kami belum punya cukup bukti. Jika pun kami langsung membuat laporan pencemaran dan perbuatan tidak menyenangkan ke kepolisian, pasti membutuhkan waktu lebih dari tiga hari untuk prosesnya. Namun mantan ketua OSIS saat SMA itu, suamiku yang dewasa, masih mencoba santai menanggapi berita miring. Santai atau berpura-pura tenang demi menenangkanku, aku tidak tahu pasti.


“Kita pulang ke rumah yuk sayang…, ganti baju dan tetap ke klinik. Ini ada empat orang pasien sudah mendaftar online.” Bang Zamy mengajakku pulang sambil memperlihatkan layar hpnya kepadaku.


“Di sana banyak wartawan, apa tidak masalah?” Aku mencoba memberikan pertimbangan.


“Tidak apa-apa, nanti kita jawab saja. Biar abang yang atasi, itu mah gampang.” Bang Zamy bicara sambil mengelus anak-anak rambutku. Tak lupa dia menyinggahkan satu kecupan hangat di pipi kiriku.


“Okelah kalau begitu…,” Aku bangkit dari tempat tidur, meletakkan hp dan menguncir rambut yang tergerai.


“Kok sepertinya agak berat hati meninggalkan hotel?” Bang Zamy menggodaku dengan menggelitik ketiak kanan. Aku menepiskan tangannya karena geli.


“Apa mau ada ronde ke empat?” Dia melanjutkan godaannya.


“Isshhh sok kuat banget deh…,” Aku mengejeknya sambil berdiri, berkemas, kembali mandi dan berganti gamis.”


“Seperti habis bulan madu saja kita ya Bee…, nyewa hotel hanya beberapa jam saja.” Bang Zamy bicara sambil mematikan tivi. Dia mengenakan baju kemeja pendek berwarna biru muda merk Armani.


“Bukan seperti bulan madu sayang, tapi lebih mirip seperti orang lagi selingkuh.” Aku keceplosan.


“Lho kok tau? Mencurigakan istriku niii….” Bang Zamy menatapku dengan tatapan matanya yangbtajam.


Dia hanya bercanda....


“Lha bener kan? Di video-video yang sering viral itu kan biasanya pelakor dilabrak istri sahnya lagi berduaan di hotem. Kan begitu kronologisnya....” Aku menceracau menjelaskan alasan.


“Masa sih?” Bang Zamy kembali mencolekku. Kali ini bagian pinggang.


“Iya.” Aku menjawab ketus sambil bersiap, semuanya sudah selesai dikemas. Bang Zamy sudah mengenakan topinya lagi. Tetapi tidak dengan masker.


“Tidak usah pakai topi lah bang…,” Aku bicara manja ke bang Zamy. Dia seketika menatapku.


“Lho kenapa?”


“Terlalu keren, nanti banyak yang melirik.” Dengan wajah jutek aku menjawab.


“Melirik doang kan? Nggak apa-apa itu mah resiko punya suami tampan….” Dia mencolek pipiku yang sudah agak menul-menul di usia kehamilan memasuki trimester ke dua.


“Halaaahhh sok tampan….” Aku melengos manja.


“Yang penting jiwa dan raga si tampan hanya untuk istrinya seorang….” Dia memelukku dari belakang. Kecupan demi kecupan kembali hadir di pipi kiriku sebelah belakang. Aku menarik tisu hotel dan mengelap bekas ludah yang tersisa. Dia sengaja mencium basah mengganggu. Tak puas menciumku dari belakang, dia menghadangku yang sudah memakai sepatu siap keluar. Tiba-tiba dia melepaskan tas pakaian kecil yang kami bawa di genggamannya, lalu memelukku erat seakan tidak mau melepaskan. Bibirnya kembali mencium hangat bibir sensualku yang berpoles lipstick tipis warna merah agak keoren-orenan. Tangannya memegang belakang kepalaku dengan tangan kanan memegang pipi bawah hingga ujung bibir kiriku.


“Ayo ah kita mau ke klinik jam empat sayang….” Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman nafsunya yang sepertinya kembali bangkit.


“Masih lama Bee, masih ada waktu…, sekali lagi yuk.” Dia menjawab dengan nafas berat.


“Kok tumben nafsu sekali sih bang?” Aku mengerutkan kening menatap matanya yang mulai sayu terbawa nafsu.


“Mungkin efek kebanyakan makan udang A rebus bumbu kemarin….” Dia melepaskan Cardigan Sweater Ping muda yang menutup bagian atas gamisku, meletakkannya sembarangan dan melepaskan sepatuku. Tangannya mengambil tas di tangan kananku, meletakkan kembali di meja rias hotel. Lalu dia perlahan kembali merebahkanku di ujung tempat tidur.


“Eh sayang, sudah jam setengah empat lho….” Aku kembali berusaha menghentikan agresi dadakannya. Dalam pikiranku, aku malas sekali kalau harus mandi lagi. Namun tangannya mengarahkan tanganku memegang ke bagian terpenting kelangsungan generasi kami. Aku merasakan benda itu sudah kembali naik dan membesar kencang.


“Kalau sudah on, susah off lagi yaaang…, ayolah sekali lagi….” Bang Zamy bicara dalam merayuku, dia menghangatkan bibirku berkali-kali dengan ciumannya. Kemudian sambil menciumiku, dia mulai kembali melepaskan resliting gamisku, melorotkannya lagi, dan dengan jilbab yang masih terpasang rapi, aku kembali melayani suami tersayang yang meminta dipuaskan untuk ke empat kalinya sejak masuk ke hotel ini dalam persembunyian sesaat. Kami kembali hilang dalam tatanan masalah duniawi. Yang ada hanyalah lenguhan demi lenguhan tak sadar atas kenikmatan bersatunya raga kami dalam kepolosan.

__ADS_1


Tak menunggu lama, ronde terakhir pergumulan kami pun berakhir, dia tersenyum puas dan bahagia. Betapa hebatnya laki-laki kesayanganku bermain di atas ranjang, aku terkapar sesaat setelah menggelinjang puas meneguk ujung harmoni cinta yang dia berikan. Senyumku ikut mengembang, merasa geli sendiri mengingat masa-masa kesenangan.


Kami kembali mandi dan sholat Ashar di hotel. Dengan sedikit terburu-buru kami pergi meninggalkan hotel Puncak menuju ke klinik tanpa mampir ke rumah dulu. Di perjalanan bang Zamy menelpon ibu mengabarkan kami sedang menuju ke klinik. Sepanjang perjalanan menuju klinik, kulihat bang Zamy bersiul-siul dan berdendang terus, betapa wajahnya semakin bersinar dan Nampak bahagia sekali.


“Bee….” Dia bicara dengan senyum mengembang.


“Ya….”


“Rekornya pecah….”


“Rekor apa?”


“Intensitas dan kualitas ‘hek-hek’ kita.” Dia membahasakan hubungan badan kami dengan hek-hek.


“Iya mengalahkan malam pertama.” Aku menjawab.


“Malam pertama hanya tiga ronde, tadi kan empat.” Dia berbangga.


“Ah sudahlah, bahas yang lain saja.” Aku merasa geli sendiri membayangkan yang sudah terjadi beberapa jam terakhir.


Begitulah perjalanan kami menuju ke klinik diisi dengan obrolan seputar hubungan s€ks kami dan hal lain-lainnya. Bukan hanya saat ini, kami memang sering membahas apa yang sudah kami lakukan berkenaan dengan hubungan s€ksual. Apa yang asyik, apa yang disuka dan kurang disuka, kami saling terbuka karena kami yakin, maraknya perceraian dan konflik rumah tangga sebenarnya bukan hanya karena semata masalah perekonomian, melainkan karena kurang terbukanya pasangan suami istri dalam urusan ranjang. Selain komintmen individu untuk bertahan dalam terpaan badai rumah tangga, hubungan intim sebenarnya mampu menyegarkan kembali pikiran yang kusut dan jiwa yang marah. Saat berhubungan intim, kita akan saling terbuka, jadi peluang untuk mengkomunikasikan banyak hal akan lebih mudah. Namun begitu, ada keintiman di luar s€ks yang harus juga tetap dijaga. Banyak sekali suami yang hanya mendekati istri saat mau berintim s€ks saja, padahal istri itu butuh dipeluk, disentuh dengan kata-kata sayang di saat dia kecapekan. Saya kalau diundang pada beberapa acara seperti seminar parenting selalu menegaskan kepada para suami. Saat dirumah, lepaskan gadget dan dekati keluarga. Peluk dan bermainlah dengan anak tanpa melibatkan hp. Peluklah istri bukan hanya disaat suami mau berintim s€ks saja tetapi di saat dia berpeluh mengurus anak, disaat dia bau keringat habis memasak, menyapu, mengepel dan mencuci piring serta pakaian, di saat dia pusing memikirkan pengaturan keuangan yang selalu kurang dan kurang.


“Lho kok ngelamun? Kita sudah sampai sayang…,” Bang Zamy menyadarkanku.


“Owh iya.” Aku segera meninggalkan narasi di luar kepalaku.


*****


Sesampainya di klinik, benar saja, masih ada tiga orang wartawan online dan cetak yang menunggu kedatangan kami. Begitu kami turun mereka langsung mendekati.


“Halo Dok, saya dari koran Antara, mohon konfirmasinya tentang berita yang sedang viral di internal Bangka Belitung.” Seorang laki-laki ceking sudah mulai merekam menghadang kami dengan kamera di tangan. Dia memperlihatkan ID Card kepada kami.


"Mereka tidak ada yang mau menjawab Dok." Salah satu wartawan menjawab.


“Kalau begitu seharusnya anda kejar ke admin yang memposting beritanya.” Bang Zamy santai menjawab.


“Maaf dok, biar sekalian clear saja. Kami sudah berjam-jam menunggu di sini. Mohon konfirmasinya sedikit saja.” Mereka nampak putus asa juga melihat ketenangan bang Zamy.


“Konfirmasinya besok setelah melihat berita di media cetak.” Bang Zamy menegaskan.


“Kenapa harus menunggu besok Dok?”


“Biar semuanya jelas. Kalau mau menunggu konfirmasi dari saya, ya besok, setelah media cetak terbit.” Bang Zamy tegas menjawab lagi. Kemudian dia langsung masuk ke ruang praktik tanpa mengindahkan lagi pertanyaan wartawan, sama seperti yang aku lakukan. Aku masuk ruang praktik yang sudah disiapkan Santi, mengganti cardigan sweater dengan jas praktik putihku.


“Dok, permisi, ini riwayat medis pasien kita, nambah dua jadi ada Sembilan pasien.” Santi mendekatiku.


“Iya. Tunggu dua menit lagi ya San, kita mulai saja biar cepat pulang.” Aku menjawabnya.


“Iya dok. Hemzzz kenapa ya dok, kok mendadak begini sepinya padahal Minggu. Biasanya minggu banyak yang tidak terlayani pasiennya.” Santi bertanya kepadaku.


“Semuanya akan segera berakhir San, santai saja dan jangan menjawab pertanyaan wartawan.” Aku bicara.


“Oke dok.” Santi pun keluar. Aku mulai membaca riwayat pasien dan tidak sampai dua jam Sembilan pasien yang sudah hadir selesai semua kuperiksa. Sedangkan bang Zamy sudah lama dia mewhatapp saya berpamitan ke kamar rumah belakang sejenak dan menelponnya jika sudah selesai praktik. Aku tidak segera menghubunginya saat selesai dan tidak ada pasien, aku ngobrol dan sempat menceritakan kejadian yang sebenarnya sejak reuni. Kami meyakini betul kalau ini adalah berita sabotase untuk mengancam kami. Namun sejak beritanya heboh di media online, tidak ada satu pun sms konfirmasi dari orang yang sengaja menciptakan kekacauan.


*****


Jam tujuh malam, setelah sholat Magrib di ruang praktik, kami telah tiba di rumah. Nindya, Annisa dan papa ada dirumahku juga.


“Ram, cabut laporanmu tentang pemalsuan identitas dalam pernikahan dan penipuan terhadap Nindya. Jika tidak lihatlah pelajaran pertama untukmu. Klinik anakmu akan menjadi seperti kuburan.” Papa memperlihatkan kepadaku dan bang Zamy bunyi sms yang masuk ke hpnya.


“Jika hanya kasus penculikan, Irwan mungkin hanya dihukum ringan. Cabutlah dan biarkan dia bebas jangan tambahi dengan tuntutan konyolmu. Aku tidak ingin melihat anakku dipecat!” Begitu bunyi lanjutan pesan di hp papa.

__ADS_1


“Kan jelas sekarang siapa pelakunya. Bahkan dengan bukti ini kita bisa memenjarakan om Bayu. Hadaaaiii..., Kepala Dinas botak itu sekarang sudah semakin berani.” Bang Zamy geram sekali dibuatnya. Aku tidak banyak bicara karena tidak begitu paham bagaimana harus menyelesaikannya.


“Hai dek…, jangan cemas semua pasti beres sama Zamy.” Masih dengan wajah riangnya bang Fathur menyapaku. Dia duduk di lengan sofa sebelah kiriku. Aku hanya mengangguk.


“Dek….”


“Kenapa sih bang?” Aku heran melihat tingkahnya bang Fathur yang cengengesan.


“Besok abang akan ikut papamu ke kebun.”


“Ikut papa apa mengikuti mbak Nindy…?” Aku menggodanya.


“Hehehe…. Kata papamu di kebunnya ada sungai tempat mancing ikan. Nah kan abang suka sekali mancing.” Dia masih tersenyum-senyum.


“Iya memang. Dari SMP abang sudah suka memancing cewek-cewek cantik.” Aku menggerutu mencubit bahu kanannya.


“Ah, itu dulu…, abang mah sekarang lebih suka wanita yang dewasa, tidak banyak permintaan, punya anak kecil biar abang tidak terlalu merindukan Oyan, orangnya….”


“Pemaluuuu…, mirip dokter Naura hanya lebih kurus dan hitam sedikit, suaranya pelan, tak berani menatap orang lain….” Aku memotong ucapan bang Fathur melanjutkan. Bang Fathur hanya ternganga malu.


“Merestui tidak?” Tanyanya kepadaku.


“Tergantung ibu.” Aku berdiri, meninggalkan bang Fahur yang tersenyum-ssnyum sedang mengincar mbak Nindya.


*****


Keesokan harinya, aku dan bang Zamy membaca koran di kantor yang berbeda. Benar saja. Salah satu koran harian itu menyajikan halaman depan dengan judul


"Dokter Praktik di Honey Bee Positif Covid-19?’ Kubaca hingga tuntas sampai ke bagian akhir artikel, aku tidak menemukan statemen yang berani mengatakan bahwa kami terinveksi virus mendunia itu. Hanya opini-opini sesat yang mengatakan bahwa salah satu sahabat kami di reuni teman waktu kuliah terjangkit corona, dan ada kemungkinan kami juga kena. Bang Zamy akhirnya membawa koran di tangannya menuju kantor media cetak terbesar di Bangka Belitung yang berada di deretan oplet Roti Boy. Sesampainya di sana bang Zamy langsung disambut dengan beberapa petugas pelayanan. Namun tidak ada satupun yang bisa mengatakan dimana Opid seorang penulis artikel dimaksud.


“Kalau begitu saya mau ke editor departement dong, ketemu siapa saja deh, Je Emnya (GM) ada? Atau Pemred siapa saja yang penting saya mau konfirmasi sumber utama pemberi informasi ini. Itu saja.” Bang Zamy berjalan ke sana ke mari menemui beberapa petugas yang semuanya seperti dengan sengaja menghindar.


Merasa dibaikan, bang Zamy akhirnya menelpon salah satu petinggi di polda yang seketika datang bersama tiga orang anak buahnya.


“Kenapa Dokter?” Polisi itu bertanya santai.


“Saya sudah lama di sini pak, tidak dilayani dengan baik, apakah ada payung hukum yang bisa menyeret semuanya?” Bang Zamy yang emosi seketika menunjuk orang-orang yang tadi membuat dia bolak-balik di ruangan itu tanpa ada kejelasan. Mereka hanya terdiam. Tidak lama kemudian seorang yang seusia bang Zamy keluar dan menemui.


“Maaf pak, ada yang kita bisa bantu?”


“Saya hanya ingin konfirmasi, sumber utama yang membuat berita ini siapa? Mana orangnya.” Bang Zamy menunjuk judul di laman depan koran itu.


“Iya nanti bisa pak.”


“Sekarang saja, karena saya tidak suka hal-hal yang bertele-tele dan dipenuhi. kebohongan-kebohongan. Malu dong pak, memberikan anak istri makan nasi dari berita bohong. Haram!” Bang Zamy menatap tajam seorang yang mendatanginya. Polisi yang bersamanya hanya menyabarkan. Lalu hadir lagi dua orang pegawai yang langsung meminta maaf.


“Maaf pak, kami tidak ada konfirmasi ke Bapak, tetapi menurut berita….”


“Menurut siapa? Satu-satunya media cetak yang memberitakan ini adalah media kalian. Saya menunggu sekarang dari siapa info ini di dapat.” Bang Zamy tegas sekali mengaingatkan pegawai itu.


“Jika saya tidak menemukan jawaban yang jelas. Kita akan bertemu di meja pengadilan.” Bang Zamy menambahkan.


“Iya ya pak. Tunggu sebentar ya pak. Kita izin sebentar.” Ketiga pegawai tadi masuk lagi. Sementara pegawai yang lain menunduk sambil ikut mendengarkan yang terjadi. Tidak lama kemudian, datang lagi pegawai yang pertama dan menyebutkan seorang wanita menelpon dan menginformasikan bahwa dia terkena virus dan ada kemungkinan teman-teman yang bersamanya di reuni juga terjangkit. Dan sempat berkelit-kelit akhirnya mereka menyebutkan bahwa Shellylah yang telah menginformasikan hal tersebut.


“Jangan bertele-tele, Saya hanga butuh nama itu, Shelly dari tadi.” Bang Zamy menggertak pegawai lagi.


“Peringatan ya, malu lah kalian yang suka sekali membuat berita tidak benar hanya demi uang. Beritakanlah yang sebenarnya.” Dia menambahkan. Lalu permisi dan mengisi kantong oknum polisi dengan beberapa lembar uang seratusan untuk ongkos bensin. Lalu dia pulang dan mencoba menelpon Shelly, namun nomor itu selalu tidak aktif.


“Aku akan mencarimu, bahkan di lubang semut sekalipun!” Bisiknya marah


*****

__ADS_1


__ADS_2