Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 73 Hadiah Untuk Mertuaku


__ADS_3

Pasca lamaran bang Fathur kepada mbak Nindya, kehidupan kami berjalan lancar seperti biasanya. Pagi hingga siang aku dan bang Zamy pergi bekerja di rumah sakit yang berbeda. Aku masih menyetir mobil sendiri. Mulai jam 4 sore kami pergi bersama ke klinik Honey Bee.


Badanku sudah berkali-kali dikomentari bang Zamy, karena pipi yang semakin menul-menul. Bang Fathur pun sudah mulai beraktivitas di kampus meski perkuliahan belum dimulai. Mbak Nindya menjaga butik dan sesekali masih ke kebun bersama ayah atau bang Fathur dan Annisa menemani sambil mancing. Annisa sudah mulai masuk TK meski masih pembelajaran daring bersama ibu guru dan teman-temannya. Dan tak terasa usia kehamilanku sudah memasuki akhir trimester kedua.


Pukul 22.30 menit, malam Jumat di Klinik Honey Bee.


Semua pasien sudah selesai diperiksa, tinggal Santi dan Mak Yang duduk bersamaku di ruang praktik. Mereka belum pulang karena menunggu hujan reda. Dari siang tadi cuaca memang sudah mendung. Makanya banyak pasien yang sudah mendaftar berobat lewat whatapp tetapi tidak jadi datang, hujan lebat menjadi salah satu kendalanya.


“Dok, sudah kelihatan belum ya jenis kelamin dedeknya?” Mak Yang bertanya sambil mengelus perutku yang semakin membuncit.


“Belum Mak Yang, dianya masih mau buat mami papinya penasaran.” Aku tersenyum menjawab sambil mengelus-elus perutku. Sebulan sekali aku memang rutin USG di ruang praktik bang Zamy, memantau perkembangan mahkluk titipan Allah di rahimku. Bang Zamy begitu bersemangatnya setiap kali memeriksa, apalagi dia iseng dua bulan kemarin memeriksa untuk melihat jenis kelaminnya. Namun posisi si dedeknya masih belum menampakkan jenis kelamin yang jelas.


“Tapi menurut Mak Yang dedeknya cewek deh Dok, itu perutnya tidak begitu muncung, dan aura bu Dokter juga bertambah cantik sejak hamil. Biasanya itu cewek.” Mak Yang menerka-nerka dengan pertanda yang telah disebutkannya. Aku tersenyum sambil mengusap halus perutku kembali.


“Hehe…, yang penting sehat ya Mak Yang, laki-laki atau perempuan namanya anak rasa sayangnya sama saja, tidak ada beda sama sekali mau laki-laki atau perempuan....” Aku menjawab sembari tersenyum sambil kembali menikmati roti bakar bandung isi keju dan coklat yang dibawa salah satu pasien untukku. Sementara di luar hujan semakin deras saja.


“San, ayo kita pulang saja, sepertinya bakalan awet nih hujannya.” Mak Yang mengajak Santi pulang menerobos hujan. Dia sudah bosan menunggu. Tadi dia mengatakan mau membuat kue talam sepulang dari klinik.


“Nanti saja Mak Yang, masih lebat begini. Atau diantar pakai mobil saja ya, motornya minta tolong mang Ridwan masukkan ke dalam saja.” Aku menawarkan.


“Ah bu Dokter, manja amat Mak Yang mau minta anter pakai mobil, ada jas hujan kok di bawah jok.” Mak Yang berdiri sambil bicara.


“Dok, duluan ya…,” Santi bicara padaku sambil meletakkan handphone ke dalam tasnya.


“Ini dibawa saja rotinya San, Mak Yang.” Aku bicara sebelum mereka pergi.


“Biarlah untuk ibu hamil saja.” Mak Yang menjawab.


“Ih jangaaan, makin melar nanti bumilnya. Ini dibawalah, bagi dua saja ya....” Aku memaksa. Akhirnya Mak Yang dan Santi membagi dua roti dua kotak itu. Separuh coklat dan separuh keju untuk masing-masing.


"Okelah permisi duluan pulang ya dok, terimakasih jajan dan rotinya." Santi bergegas. Sementara Mak Yang sudah melepas sepatunya mengganti dengan sandal klinik.


“Mau kemana Mak Yaaanggg...? Santiii…, masih hujan lebat lho…, atau tunggu sebentar dianterin ayo….” Bang Zamy tiba-tiba keluar dari ruang praktiknya. Kedua tangannya berada di saku saat berjalan santai mendekat.


“Aiiihhh, nggak usah Dok, deket juga rumahnya….” Mak Yang menjawab sambil memasang helm.


“Biar enak tidur kalo kehujanan Dok….” Santi melambaikan tangan ke arah kami yang keluar mengantar. Mereka pulang, menembus hujan lebat di malam hari. Aku menggeleng-gelengkan kepala.


“Dikasih uang jajan tidak?” Bang Zamy bertanya padaku setelah cahaya lampu motor keduanya hilang dalam pandangan.


“Dikasih dong, pasien tadi kan lumayan banyak.” Aku menjawab.


“Dikasih berapa?” Bang Zamy penasaran bertanya lagi.


“Adek kasih tiga ratus per orang. Perawat abang mana? Dari tadi kok tidak kelihatan?" Aku bertanya.


“Sudah pulang, ngacir tadi sehabis abang kasih bonus lima ratus per orang.” Bang Zamy bicara sambil mengeluarkan tangan kanannya. Dia memegang pundakku sambil berjalan.


“Untuk adek mana…?” Aku menadahkan tangan menggodanya. Dia melepaskan pegangan tangannya dan menatapku dengan mata tajamnya.


“Untuk kekasihku tersayang, abang akan kasih yang spesial malam ini.” Matanya mulai menggoda. Dia meraih tanganku yang masih tengadah. Menuntunku masuk ke ruang praktiknya.


"Eh tas adek masih di ruang sana." Aku menunjuk ke ruang praktikku.


"Biarkan saja, kan ada mang Ridwan juga di dekat sana." Bang Zamy menunjuk mang Ridwan yang merapikan koran dan beberapa majalah di meja ruang tunggu sebelah toilet. Aku diam saja mengikutinya masuk ke ruang praktik bang Zamy. Begitu masuk, kulihat komputernya belum dipadamkan meskipun hujan lebat-memang tidak ada kilat dan Guntur, hanya hujan saja.


“Kok belum dipadam?” Aku melepas penasaranku.


“Masih ada satu pasien, pasiennya spesial pakai telor....” Dia mengelus dan mencium kepalaku dari belakang.

__ADS_1


“Asyiiiikkk…,” Aku sudah paham maksudnya. Dia selalu memeriksaku, mulai dari tekanan darah, makanan, pakaian yang kukenakan dan tidurku sangat dikontrolnya. Makanya sejak masalah kami berangsur hilang satu persatu, dia merasa bersyukur sekali karena itu bisa menekan tingkat stressku yang sedang hamil.


Bang Zamy mengunci pintu ruang praktik. Di luar terdengar suara mang Ridwan bicara sendiri menyaksikan hujan lebat, dia merapikan kursi di ruang tunggu depan. Sementara apotik di sebelah ruang praktik Bang Zamy sudah tutup sejak tiga puluh menit yang lalu.


“Berdiri di sini sayang….” Bang Zamy menuntun tanganku menuju timbangan. Aku langsung melepaskan sandal. Ketika kakiku naik, timbangan seketika bergeser cepat ke arah kanan. Bang Zamy tersenyum lebar kembali.


“Hemz…, Tujuh puluh satu setengah…,” Dia bicara sambil menuntunku turun dari timbangan digital itu. Aku tersenyum juga sambil menatapnya, bagaimana mungkin beratku awalnya 55 kilo dan di kehamilan bulan ke enam sudah menjadi sebegitu tingginya. Pantas saja pipiku sering dibilangnya donat jco. Aku kemudian di dudukkannya ke kursi duduknya, sedangkan dia menarik kursi pasien lalu duduk di depanku.


“Buuu..., tolong bilang sama suaminya…, berat badan ibu sudah sangat…, sangat…, sangat berat.” Dia bicara dengan tangan begitu tinggi naiknya mendeskripsikan makna berat yang terucap.


“Terus…?” Aku tersenyum bahagia.


“Bilang sama suami ibu, bilangin istrinya ya..., supaya mengurangi konsumsi nasi, tekwan, bakwan, pempek, enjan dan yang sejenis itu...."


"Hah....?" Mulutku menganga besar.


"Kalau begitu makan apa saya Dok?" Aku memanyunkan wajahku.


"Ganti perbanyak makan protein hewan, ikannya dibanyakin, buah-buahan, sayur-sayuran, dan susu yang banyak yaaa….terussss kurangi menulis novel online malam-malam sambil berbaring, daaannn…, kalau bikin jus buah atau sayur, kurangi susunya….” Bang Zamy bicara sambil membelai jemariku. Matanya lekat menatap mataku. Aku kemudian meletakkan kedua tanganku di kedua bahu kekarnya. Serasa bahagia sekali memiliki seorag suami yang sangat pengertian dan juga perhatian.


“Ibu ada keluhan?” Dia bertanya sambil turun dari kursi pasien, lalu duduk berjongkok di hadapanku. Dagunya bertengger di salah satu pahaku, sedangkan kedua tangannya berada di pinggulku.


“Ada dok.” Aku bicara sambil membelai rambutnya dengan kedua tanganku.


“Apa itu bu?” Bang Zamy mendongak menatapku.


“Suamiku sering sekali minta memeriksakan babynya dengan alatnya sendiri….” Aku cekikikan sendiri, sementara bang Zamy mencubit pipi kiriku. Dia kemudian berdiri dan duduk kembali di kursi pasien di hadapanku.


“Itu bukan pantangan buuu..., suami ibu sangat pengertian, dia membantu kelancaran untuk proses kelahiran nanti. Ibu hamil itu, boleh kok semakin sering “hek-hek’ biar nanti bisa lahiran spontan dengan lancar.” Dia tersenyum lebar sambil menarik hidung mancungku.


“Sekarang ayo berbaring di sini bu….” Laki-laki ganteng itu mengangkat dan menggendongku, meletakkan tubuh beratku ke meja periksa setelah sempat melabuhkan satu kecupan hangat di kening. Aku tersenyum dan menurut saja, hanya membenarkan posisi bantal yang tidak begitu pas dengan kepalaku.


"Maaf bu, jangan pegang-pegang, nanti ada yang salah pegang." Dia usil menggodaku lagi. Aku malah menjewer telinganya dengan lembut. Sementara tangannya sudah mulai menekan dan menggerak-gerakkan transducer berwarna putih itu. Aku menatap monitor di dinding atas. Sudah terdengar suara detak jantung penghuni rahimku.


"Detak jantungnya normal sayang." Bang Zamy bicara serius sambil menatap layar komputer di sebelah kanan kepalaku.


"Alhamdulillah." Aku bersyukur. Dan tanpa terasa air mataku menetes. Nampak di monitor besar, baby di perutku mengemut jempol kanannya. Bibirnya sudah nampak jelas, hidungnya besar, matanya tertutup. Kakinya nampak bergerak, dan aku bisa merasakan tendangan halusnya. Bang Zamy kemudian memantau berat badan, ukuran kepala dan lain-lain dari generasi penerus kami yang masih bersemayam di rahimku.


"Alhamdulillah semuanya normal sayang, perkembangannya bagus." Bang Zamy mengelap gel di perutku dengan beberapa lembar tisu. Senyumnya merekah tiada henti sambil membantuku duduk, turun dan kembali duduk di kursi kerjanya.


"Jenis kelaminnya kelihatan nggak sih tadi sayang?" Aku penasaran. Namun dia tidak segera menjawab. Malah bersenandung riang sambil membereskan perlengkapan praktiknya.


"Belum kelihatan." Dia bicara santai menatapku. Namun aku curiga melihat kerlingan matanya.


"Ah, perasaan orang banyak berbondong-bondong periksa di sini karena USGnya kadang sudah bisa melihat jenis kelamin bahkan saat usia kandungan lima bulan. Abang bohong ya....?" Aku turun dari kursi dan menggelitik pinggangnya.


"Ah lepaskan Bee..., geli ah...." Dia kegelian dan memegang kedua tanganku. Lalu menarikku ke pelukannya yang hangat. Aku merasakan degup jantungnya karena habis kugelitik.


"Apa jenis kelaminnya sih sayang? Sudah kelihatan kan?" Aku menoleh ke wajahnya. Dia tersenyum lebar menampakkan giginya yang putih bersih.


"Masa sih seorang dokter anak tidak bisa menangkapnya?" Dia malah menggodaku tanpa menjawabnya.


"Tadi sih abangnya ngajak ngomong terus, adek jadi tidak konsentrasi lihat monitor." Aku protes. Kucubit paha kanannya dengan gemas.


"Bukan di situ Bee..., geser dikit." Bang Zamy menggodaku lagi.


"Apanya?"


"Cubitanya."

__ADS_1


"Ih....! Memangnya harus dimana?" Aku bertanya lagi meski sudah tahu apa maksudnya.


"Geser sedikit dooonggg...." Dia tersenyum mesum. Aku berbalik dari pelukannya, lalu menggigit hidungnya sampai basah dan meninggalkan bekas gigiku.


"Ih busuuukkk..., ninggalin iler di hidung Dokternya. Ini pasien bayarannya harus dua kali lipat." Bang Zamy mengelap hidungnya dengan telapak tangan kiri. Lalu dia menangkapku dan mendudukkan di atas paha kirinya yang duduk di kursi kerjanya. Dia mengelus-elus perutku, lalu perlahan menciumnya.


"Heyyy..., baby cantik Papiii..., jangan suka menggigit seperti mami ya sayang...." Dia bicara di atas perutku, kemudian tersenyum lebar menatapku.


"Sudah kelihatan?"


"Hemzzz..., hadiah terindah buat neneknya di Mentok yang begitu menginginkan cucu perempuan." Bang Zamy menggendongku dan memutar-mutarkannya sesaat.


"Ibu bisa menjerit kegirangan..., mimpinya punya cucu perempuan akan terwujud." Bang Zamy terus bergerak-gerak menggendongku. Aku tersenyum bahagia. Bagiku mau babyku wanita atau laki-laki semua sempurna. Itulah pemberian Allah yang terindah. Namun ketika melihat kebahagiaan suami tercinta yang bisa memberikan cucu impian ibu kandungnya adalah kebahagian besar pula untukku.


"Awwhhh sakiiittt...." Kakiku terkena pinggiran meja saat dia memutar kembali badanku. Seketika bang Zamy menurunkanku. Aku sedikit tertatih, ujung jari kelingking kananku masih terasa sakit seperti kesemutan. Bang Zamy berjongkok mengelus-ngelusnya.


"Bukan di situ sayang...," Aku merengek manja.


"Lha katanya jari kelingking." Bang Zamy berhenti mengelusnya.


"Iya kelingking yang kanan yang sakit, abang mengelusnya yang kiri...." Aku sengaja bermanja ria. Melihat dia mencemaskan kesakitanku yang sedikit saja, tiba-tiba aku merasa senang. Hihiii.... Aku malah terkikik geli.


"Bee...." Bang Zamy memakai sweaternya, mengambil tas kerja dan mengambil kunci mobil di lacinya. Dia juga mengeluarkan payung lipat dari laci meja kerja. Kemudian ke ruang kerjaku mengambil tas dan handphoneku di meja.


"Kenapa?" Aku bertanya sekembalinya dia dari ruang praktikku.


"Pulang yuk sayang." Dia genit memainkan matanya.


"Kan masih lebat hujannya." Aku sejenak menatap jalanan dengan hujan yang semakin lebat saja.


"Justru itu asyiknya sayang, mau berteriak kencang-kencang tidak apa-apa." Dia berbisik di telingaku. Aku mendesah mengangkat bahu.


"Dasar suami ke...."


"Kereeennn...." Bang Zamy menyambungnya. Padahal aku mau menyebutkan suami kegenitan.


"Tunggu di sini ya abang mengambil payung lagi." Dia berlari menuju mobil dan menjemputku kembali dengan satu payung di tangan kananya.


"Maaanggg...." Bang Zamy memanggil mang Ridwan.


"Yaaa Dok." Mang Ridwan mendekat.


"Kami pamit pulang ya...." Bang Zamy mendekati mang Ridwan dan memberikan selembar seratus ribu.


"Buat beli martabak hangat."


"Terima kasih banyak Dok. Hati-hati ya...."


Kami mengangguk dan berjalan perlahan menuju mobil. Bang Zamy membukakan pintu mobil untukku. Lalu setelah mengelap lengannya yang sedikit basah dengan tisu, dia mulai mengemudikan mobil, membelah jalanan basah untuk segera sampai ke rumah dan saling memberikan kehangatan.


Namun baru saja mobil berhenti di lampu merah, tiba-tiba handphone bang Zamy berdering. Mang Ridwan memanggil.


"Halo mang?"


"Maaf Dok. Barusan datang seorang ibu dibawa pakai motor, katanya baru jatuh dari motor dan pendarahan hebat. Dia selama ini kontrol sama dokter Zamy terus."


Bang Zamy menatapku sejenak, kemudian memutar mobil kembali menuju ke klinik. Nafsunya untuk 'hek-hek' di tengah derasnya hujan seketika mengendor. Sumpah profesi lebih besar memanggilnya daripada sekedar memperturutkan hawa nafsu duniawi. Aku hanya tersenyum dan bangga memiliki suami yang sangat bertanggungjawab.


*****

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2