
"Baiklah, semuanya sudah siap, mari kita makan." Ibu kemudian mengajak kami makan bersama.
"Zamy! Tolong ambil nasi abangmu di meja sana, tadi dia urung makan gara-gara ketemu Nindya." Ibu menunjuk meja tempat tadi bang Fathur duduk.
"Biar aku saja ibu." Mbak Nindya menawarkan.
"Baiklah nak. Terima kasih ya tanganmu ringan sekali." Ibu berdecak kagum melihat mbak Nindya yang selalu senang membantu.
"Ah ibu tak perlu berterima kasih, hanya mengambil piring saja apa susahnya." Mbak Nindya bergegas dan sekali jalan semua menu yang dibawakan untuk dicoba bang Fathur telah dibawanya ke dekat ibu.
"Sekalian nak tolong letakkan di depan dia duduk." Ibu menunjuk ke arah bang Fathur yang terus menatap gerak-gerik mbak Nindy. Mendengar permintaan ibu, mbak Nindya menatap ibu sejenak kemudian berjalan mengitari kursi menuju tempat bang Fathur duduk.
"Maaf ya pak." Dia menggeserkan hp bang Fathur lebih ke kiri. Nasi diletakkannya di sebelah kanan, lauk kepala kakap di sebelah nasi dengan lalap dan sambel 'calok' atau 'belacin' ada di meja agak ke tengah.
Bang Zamy memundurkan badannya tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Tangan mbak Nindya yang sedikit terangkat saat meletakkan piring menimbulkan aroma wanita yang menggetarkan. Wanita besih tanpa dicampur bau wewangian. Kemudian mbak Nindya pergi menuju wastafel, dia akan mencuci piring.
“Nindy, pergilah dari sana dan duduklah di sini nak, di sebelah ibu.” Ibu yang duduk di sebelah kananku memanggil mbak Nindya.
“Saya sudah makan bu, masih kenyang.” Mbak Nindy menjawab.
“Ayo bu makanlah, tadi sebelum ke sini ibu hanya sempat menyuapi Nisa lho, tadi belum sempat makan.” Nisa membuka rahasia perut ibunya. Mbak Nindya tersenyum malu.
“Tuh Nisanya bilang apa.” Ibu menjawab.
“Ayo mbak makan sama-sama ke sini.” Aku mengajaknya sambil mengisi nasi ke piring ayah, bang Zamy dan Annisa.
“Nanti saja dek, makanlah. Mbak belum lapar.” Mbak Nindy mulai mencuci beberapa perkakas yang tersisa. Yuk Mairoh datang dari menjemur baju di samling rumah.
“Eh eh eh…, Nin…, biarkan saja nanti ayuk yang kerjakan. Makan sana.” Yuk Mairoh menggeser mbak Nindya lebih ke kanan. Mbak Nindy mencuci tangannya. Ibu berdiri dari kursi, kemudian mengambil tangan mbak Nindya, lalu menariknya lagi dan mendudukkannya di sebelahku. Di sebelahnya ada Annisa yang duduk di kursi sebelah bang Zamy. Ayah di sebelah kiri ibu, sedangkan bang Fathur di kursi sebelah kiri ayah.
Ibu menyendok nasi putih dan meletakkan di depan mbak Nindya. Dia tidak berani menatap siapapun yang ada di meja makan kecuali Annisa.
“Hati-hati nak dengan tulang ikannya.” Mbak Nindy yang baru mau makan mengingatkan Annisa.
“Nisa diambilin om Zamy daging ikannya bu.” Nisa makan dengan lahap. Seperti layaknya sebuah keluarga, mereka bersiap makan bersama. Namun sehabis mengambil lauk, mbak Nindya menoleh-noleh ke arah ibu yang berpura-pura tidak melihatnya.
“Bu, hehe…, semuanya. Permisi, saya tidak biasa makan di kursi, enakan sambil duduk di lantai.” Mbak Nindya membawa nasi dan duduk di lantai dapur. Semua sejenak berpandangan dan meneruskan makannya, kecuali ibu yang setelah menambahkan nasi ke piringnya dia pun membawa piring duduk di dekat mbak Nindya.
“Ibu sama sepertimu Nin, lebih enak makan di lantai daripada di kursi.” Ibu duduk di sana sekitar tiga puluh centi dari mbak Nindya. Bang Fathur melirik-lirik ke arah ibu dan mbak Nindy, namun terhalang badan bang Zamy dan ayah. Bang Fathur kemudian menyikut siku ayah yang hanya tersenyum saja melihat tingkah putra sulungnya. Bang Fathur berhenti sejenak di dekatku, lalu menyendok dua potong ikan lagi diletakkannya di mangkok baru. Kemudian dia membawa nasi di piringnya dan ikut duduk bersama ibu dan mbak Nindya. Jiwa agresifnya sejak SMA tidak pernah sembuh, meski sebenarnya dia adalah seorang laki-laki yang sangat setia. Aku dan bang Zamy hanya berpandangan sambil tersenyum. Nisa yang menoleh ke arah bang Fathur diganggu bang Zamy agar segera kembali makan daging ikannya.
“Ibu dan Nindya mengingatkan abang saat kemping dulu….” Bang Fathur ikut duduk, berbasa basi, tersenyum ke ibu yang mengetahui benar gelagat anak sulungnya. Mbak Nindya semakin malu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
“Mungkin kita perlu kemping yah….” Ibu bicara kepada ayah.
“Ide bagus bu, ayo kapan?” Antusias sekali bang Fathur menjawab. Seketika matanya melirik ke pipi mbak Nindya yang tadi tanpa sengaja diciumnya. Hatinya berdebar, tidak ada lagi dia menjaga perasaan ke mbak Vioni. Mungkin dia benar-benar sudah tidak tahan dengan tingkahnya. Hatinya telah sakit dan merasa dimanfaatkan itu lebih dari sekedar dikhianati.
“Ibu mau ambil lauk lagi.” Ibu berdiri dan kembali duduk di kursi. Mbak Nindya menahan nafasnya. Dia merasa sangat malu berada jarak dekat hanya berdua dengan laki-laki yang baru dikenalnya.
__ADS_1
“Nin, bantu menghabiskan ikan yang di mangkok ini ya.” Tanpa menunggu persetujuan bang Fathur meletakkan sepotong ikan ke piring mbak Nindya.
“Aduh pak, nggak usah lagi. Ini masih ada kok.” Mbak Nindya menatap sesaat saja ke bang Fathur.
“Mubazir nanti….” Bang Fathur beralibi. Mau tidak mau mbak Nindya hanya bisa diam.
Padahal kan bisa diletakkan lagi ke kuali dan dipanaskan.
Sambil berpandangan penuh arti melihat tingkah bang Fathur yang seperti ABG labil sedang jatuh cinta, kami melanjutkan makanny. Nisa sudah lama selesai dan dia sudah pergi bermain lagi ke gazebo dan ikan-ikannya. Namun saat menikmati makanan itu, tiba-tiba saja ada telpon ke hp bang Zamy, Joan menelpon.
“Halo Joan?” Bang Zamy menyapa Joan.
“Lu dimana Zam?” Terdengar suara khas Joan yan blak-blakan
“Lagi makan di rumah. Kenapa?”
“Waduh parah gawat Zam, lu ke rumah sakit saja segera.”
“Kenapa dulu, apa yang tejadi…?” Bang Zamy kebingungan bertanya.
“Anu Zam, si Shelly baru menelpon gua, katanya dia positif.” Suara Joan agak khawatir.
“Lu hamilin?”
“Bukanlah.”
“Dia positif covid-19 Zam.”
“Hah? Apa? Beneran lo?” Bang Zamy segera menjauh dari meja makan. Dia keluar mencari nomor tanpa nama yang ngewhatapp saat mereka reuni. Ketemu, lalu bang Zamy menelpon Shelly."
“Shel, bener tidak beritanya dari si Joan kalau kamu positif….”
“Iya Zam, maaf. Benar saya positif terkena virus corona. Sebaiknya kamu segera periksa deh.” Vina menjelaskan. Bang Zamy seketika terdiam, dia kembali mendekatiku duduk.
“Kenapa? Kok kamu jadi pucat begitu?” Aku bertanya kepada bang Zamy yang bernafas berat.
“Kita ke rumah sakit sekarang yuk sayang….” Bang Zamy bicara setenang-tenang mungkin. Namun aku yang sudah hidup dan tidur dengannya sangat mengetahui beda nafas santai dan beratnya.
“Ada apa nak? Kenapa harus ke ruma sakit?” Ibu berdiri, dia sangat mencemaskan anak-anaknya. Bang Fathur dan mbak Nindya ikut berdiri.
“Kenapa dek? Kenapa harus ke rumah sakit?” Mbak Nindya sangat khawatir.
“Anu bu, bang, yah dan mbak Nindy. Beberapa hari yang lalu kita ada reuni dengan teman-teman kuliah waktu di Jogja. Dan ini baru tahu, katanya hasil tes salah satu teman yang hadir waktu itu, si Shelly positif corona, katanya hasil tesnya baru keluar. Adia ada riwayat pulang dadi Jakarta.” Bang Zamy bicara sambil sesekali menatap wajahku. Aku seketika merasakan aliran darahku naik tak beraturan. Serasa kesemutan di bagian kepala, aku melongo tak percaya. Air mataku seketika menetes.
“Eh…, dokter hebat tidak boleh cengeng, kita segera saja ke rumah sakit ya sayang. Segera tes nanti kan ketahuan hasilnya, minimal gelagatnya.” Bang Zamy memegang pundak kiriku. Kemudian dia berjongkok meraba perutku.
“Sehat-sehat ya nak. InsyaAllah mami papinya tidak kenapa-kenapa….” Bang Zamy kemudian menatapku, menghapus air mataku dengan jempol kanannya.
__ADS_1
“Habiskan makannya, lalu kita segera pergi.” Masih dengan berjongkok bang Zamy memegang kedua pahaku yang mulai basah oleh tetesan air mata.
“Apa hari minggu rumah sakit buka Zam?” Mbak Nindya bertanya sambil mencuci tangannya di wastafel.
“Itu bisa diatur kok mbak.” Bang Zamy bicara meyakinkan. Nampak dia tidak ingin ada bagian dari keluarganya yang terlalu khawatir.
“Jangan cemas Naura, insyaAllah kalian tidak terkena kok, ayah yakin itu.” Ayah mencoba menenangkanku. Aku hanya nengangguk.
“Ayo nak bersiaplah, ayah akan menyiapkan mobil.” Ayah kemudian menawarkan.
“Ayah di rumah saja, biar kami pergi berdua.” Bang Zamy bicara begitu demu mewanti-wanti jika memang kami terinfeksi covid-19.
“Tapi bagaimana mungkin kalian hanya berdua saja….” Ibu masih saja mencemaskan.
“Ibu tenang saja, berdoa yang banyak buat kami ya bu. Jangan khawatir, insya Allah aman kan sayang. Yuk jangan nangis lagi yuk. Kita segera ke sana.” Bang Zamy menuntunku berdiri menuju ke kamar. Sementara bang Fathur sambil memegang piring nasinya melangkah akan mengembalikan piring makannya menuju waatafel.
“Klentaaang…,” Mangkok yang berisi sisa sepotong ikan itu menyentuh dinding karena tersenggol kakinya, mangkok tidak pecah namun kuahnya berhamburan bersama potongan tomat dan geprekan serai dan laos. Mbak Nindy segera datang dengan selembar serbet kotak-kotak merah. Dia mengelap kaki bang Fathur seketika tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tidak ada yang mengetahui momen itu karena yang lain masih fokus dengan berita aku dan bang Zamy akan tes covid-19 ke rumah sakit. Bang Fathur memegang rambut mbak Nindya dengan getaran sayang.
"Terima kasih." Dia berterima kasih, namun tidak ada balasan. Mbak Nindya sudah berdiri di wastafel, mencuci serbet yang tadi dilapkannya ke kaki bang Fathur.
*****
Pada saat yang bersamaan, di sebuah kamar hotel mewah di kawasan belakang pasar induk Pangkalpinang.
"Bagaimana? Kau sudah memberitahu kalau kau terinfeksi virus corona?" Laki-laki tua itu bertanya sambil memasangkan resliting celana bahan yang dia kenakan.
"Sudah dong sesuai permintaan bapak." Wanita yang badannya tanpa sehelai benangpun menjawab. Dia mengambil underware ungu berenda-renda cream pekat di dekat kakinya, melemparkan selimut hotel berwarna putih, dan memakai underware sambil berdiri.
"Biar dia merasakan akibat dari berurusan dengan keluargaku." Bapak berkepala botak itu mulai memasangkan jaketnya.
"Editor minta dua puluh lima juta sehalaman penuh." Wanita cantik itu bicara lagi sambil mengenakan baju kaos lembut tanpa BH. Rok hitam dilemparkan laki-laki tua ke arah wanita itu.
"Tidak masalah. Yang pasti setelah pemberitaan di media cetak, media online pasti akan ramai mengikuti. Nah baru kemudian, klinik yang ramai akan berubah seperti kuburan. Tidak ada lagi yang akan datang berobat jika kedua dokternya terkena covid-19." Laki-laki berperut buncit itu terkekeh jahat. Dia menggaruk-garuk ************ sebelah kiri. Kuman di kudis kecilnya sedang menari-nari.
"Setelah aku membantumu, jangan lupakan janjimu untuk segera menikahiku, memberiku sebuah rumah dan mobil."
"Kau tidak inginkan anak juga dariku?"
"Itu terdengar menjijikkan."
"Hahaha..., begitu ya. Ini kasihkan ke editor, pastikan besok ada berita tentang hal ini. Dan suruh tunggu mereka di rumah sakit, mereka pasti akan datang hari ini juga untuk periksa. Pastikan ambil foto yang meyakinkan publik." Laki-laki itu mengenakan kaca matanya. Meletakkan amplop coklat besar berisi uang. Mengambil kunci mobil, ******* sejenak bibir wanita yang tadi menemaninya berbahagia selama dua ronde.
"Sampai jumpa nanti honey, jangan lupa olahraga, pantatmu kurang enerjik goyangannya."
"Siap Boss Qiu" Wanita itu menjawab sambil mematikan handphonenya. Dia lebih baik mengganti kartu baru, daripada harus menerima panggilan masuk dari teman-temannya.
*****
__ADS_1
(bersambung)