
Selesai mengantar ayah dan ibu ke mobil yang disopiri salah satu bawahan ayah di kantor, aku segera bersiap. Acara akan dimulai jam 9 pagi. Aku tidak ingin Direktur mengomeliku hanya karena keterlambatan. Aku harus menjalankan disiplin profesional kedokteran dalam tugasku dengan sebaik-baiknya. Aku bersiap. Sambil berkemas terngiang lagi omongan ibu sebelum pulang ke Mentok kepadaku dan bang Zamy.
"Mungkin memang kalian akan merasa canggung jika ibu selalu membahas tentang pernikahan kalian. 28 tahunan kalian merasa sebagai kakak adik kandung. Tetapi jangan abaikan nak, waktu terus berjalan, ibu dan ayah akan semakin menua. Maka berikanlah kami kebahagiaan di masa tua nanti. Segera pikirkan waktu yang tepat untuk kalian menikah. Berikan kami cucu yang banyak, cucu yang cerdas, cucu yang sholih dan sholihah." Begitu permohonan ibu tadi sebelum pulang ke Mentok.
"Tetaplah saling menjaga, jangan saling mengacuhkan." Kalimat itupun mungkin sudah ribuan kali terucap dari bibir ibu.
"Zamy!"
"Iya ibu."
"Ibu titip adikmu, tolong jaga benar-benar. Kalau dia pulang lewat jam 12 malam, kau harus mengantarkannya. Kau tidur saja di rumah ini, nggak usah pulang ke klinik." Bang Zamy hanya mengangguk.
"Naura!"
"Iya ibu."
"Jaga dirimu, jangan mendiamkan abangmu lagi. Bersikaplah dewasa. Jangan terlalu memikirkan apa pemikiran orang nanti. Toh kehidupan kita, kita yang jalani bukan orang lain." Begitu wejangan yang nyata diulang-ulang oleh ibu. Aku tidak menjawab, namun hanya diam dan sesekali mengangguk.
***
"Tok tok tok!" Tiba-tiba ketukan di pintu kamar mengagetkan lamunanku.
"Naura. Apa sudah siap?" Kudengar suara bang Zamy dari luar kamar.
"Lho? Kenapa tanya Naura bang. Naura bisa nyetir sendiri nanti. Naura ada acara hari ini di rumah sakit." Aku bicara sambil memakaikan kaus kaki tanpa membuka pintu.
"Iya nantikan lewat klinik, tolong anter abang dulu, mobil abang di klinik." Bang Zamy bicara lagi. Sejak ada ayah dan ibu, bang Zamy memang tidak membawa mobilnya ke rumah di Jalan Baru.
"Yaaah..., abang, nanti Naura telat nganter-nganter dulu." Aku menyahut keberatan.
"Lha kan jalannya searah dek. Berhenti 3 detik abang turun ambil mobil. Abang juga mau buru-buru." Bang Zamy kembali memohon.
"Atauuu... abang bawa mobil dinasnya Naura. Kuncinya tuh di gantungan samping tivi." Aku melongokkan kepala dari balik pintu. Muka bang Zamy seketika cemberut. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Nampak wajah kecewa di sana. Namun aku mencoba untuk tidak peduli.
"Aduh Nauraaa..., mau nebeng minta tolong antar ke klinik buat ambil mobil saja pelitnya minta ampun. Apa sih yang dipikirkan." Bang Zamy berlalu dengan wajah kesal dan kecewa. Kulihat dia mengambil jaket yang digantungnya di sofa ruang tamu, memakainya, dan tak lupa mencatelkan tas kerjanya ke bahu, kemudian dia berjalan menuju garasi setelah mengambil kunci mobil dinasku, mobil plat merah dengan 1 baris kursi penumpang. Aku tersenyum. Aku malas pergi dengan bang Zamy soalny sudah janji sama tante Sofie lewat telepon yang disambungkan Irwan. Aku bakalan menjemputnya untuk pergi bersama ke rumah sakit, begitu janjiku karena tante Sofie yang meminta. Tante Sofie rupanya juga diundang atas nama PKK Propinsi, salah satu tim hore formalitas. Aku bergegas. Kucantelkan juga tas ke bahu kiriku. Aku siap menjemput tante Sofie. Namun kuurungkan keberangkatan karena belum mendengar mobil bang Zamy keluar dari garasi. Beberapa menit kemudian karena belum pergi aku mencoba merapi-rapikan lagi jilbab yang kukenakan. Beberapa kali kudengar bang Zamy mencoba starter mobilnya namun gagal. Mobil dinasku sepertinya mogok karena jarang dipakai dan kurang perawatan. Akhirnya karena takut terlambat aku segera menyelesaikan persiapan. Memungut hp beserta charger dan memasukkannya ke tas yang kubawa, aku segera memakai jam tangan mewahku. Lalu dengan agak terburu-buru kupanggil bang Zamy. Maksudnya mau berpamitan untuk berangkat duluan.
"Bang Zamy!" Aku memanggilnya namun tidak ada sahutan.
"Bang Zamy...." Masih tidak ada jawaban. Akhirnya kucari di garasi mobil namun tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Aku kemudian menuju dapur dan mendapati yuk Mairoh sedang masak sambil sekali-kali melihat-lihat hpny. Sepertinya dia masak dengan resep google lagi pikirku.
"Yuk Mairoh, bang Zamy dimana?" Aku bertanya.
"Barusan pergi buk dokter."
"Masa iya yuk,? Barusan dia di garasi menghidupkan mobil swift." Aku mengernyitkan keningku.
"Tadi katanya dia buru-buru, sedangkan mobil dinas bu dokter mogok, ini kuncinya dia kembalikan." Yu Mairoh menunjuk ke meja keramik. Kulihat di samping kompor ada kunci mobilku. Aku memungutnya dan meletakkan kembali ke gantungan.
"Terus dia naik apa tadi yuk?" Aku mulai tak enak hati. Karena kulihat motorku dan motor yuk Mairoh masih ada di garasi.
"Katanya mau lari saja sekalian olahraga dokter." Yuk Mairoh menjawab.
"Kenapa dia tidak pakai motor?" Aku kembali bertanya.
"Bu dokter lupa ya, pak dokter kan masih trauma bawa motor sendiri habis kecelakaan tempo hari." Begitu yuk Mairoh menjawab. Deg! Jantungku berdebar perih. Rasa tak enak hati semakin menjadi. Aku segera ke garasi samping tempat mobil mewahku di parkir. Kuhidupkan mesinnya, lalu tanpa menunggu lama aku meluncur keluar pagar, memasuki jalanan utama di jalan Sudirman. Aku mencoba menyusul bang Zamy. Kutelusuri jalan yang biasa kami lewati. Namun nihil. Aku kembali memutar arah, mencoba menyusuri jalan alternatif lainnya. Aku melewati ruma tante Sofie namun belum berhenti untuk menjemputnya. Kutelusuri seputar jalan Sudirman ke arah klinik juga tak kudapati orang berjalan kaki serupa bang Zamy. Aku semakin panik. Kucoba berkali-kali menghubungi nomor hanphonenya, namun hpnya bahkan tidak aktif. Akhirnya aku ke klinik. Tidak mungkin bang Zamy jalan kaki, pasti dia sudah ada di sana dengan naik kendaraan lainnya, bukankah ada ojol? bukankah ada grab? Kupacu mobilku menuju jalan Bangka tempat klinik Honey Bee berada. Kulihat mang Ridwan setengah berlari mendekatiku yang tergopoh-gopoh.
"Kenapa bu dokter buru-buru? Pak dokter kemana?" Mang Ridwan penjaga klinik sekaligus tukang kebun bang Zamy bertanya.
"Apa dia belum sampai?" Aku malah dibuat tambah kebingungan.
"Tadi pagi-pagi katanya suruh siapin 2 set pakaian kerja, satu set pakaiam tidur, sepasang sepatu dan singlet juga anu..., katanya mau ada kegiatan. Tapi sampai sekarang belum ada." Mang Ridwan menjelaskan.
"Beneran dokter. Itu kopernya sudah dari tadi saya siapkan, saya nenunggu-nunggu di sini tapi bapak belum ada juga." Mang Ridwan menunjuk koper kecil berisikan perlengkapan yang diminta bang Zamy. Aku mencoba menelponnya lagi namun tidak aktif. Aku semakin panik. Kemana dia? Kenapa belum sampai juga. Tiba-tiba Irwan menelpon, aku mencoba mengabaikannya dan berusaha menghubungi bang Zamy, namun lagi-lagi hpnya tidak aktif. Entah sudah panggilan keberapa akhirnya aku menerima panggilan Irwan.
"Halo assalamualaikum Wan?" Aku membuka percakapan.
"Halo Nency sayang, kamu tidak lupa menjemput calon ibu mertuamu kan?" Irwan bercanda yang malah semakin membuatku jengkel.
"Apaan sih kamu? Bilang tante Sofie tunggu sebentar lagi ya. Aku sudah dalam perjalanan." Aku menjawab.
"Cepetan Doraaa..., sudah hampir jam sembilan. Undangannya kan jam sembilan. Nanti teman-teman tante sudah keburu datang duluan...." Kudengar suara tante Sofie menyambung.
"Iya tante maaf. Tunggulah sebentar ya. Atau tante minta tolong anter sama Irwan tante, maaf banget, soalnya Naura ada pekerjaan mendadak. " Aku berbohong.
"Aduhhh..., janganlah Dora, tante tunggu deh ya. Kamu selesaikan saja dulu. Masa tante sudah keren-keren pakai baju terbaik, bakalan naik mobil mewahmu harus naik motor king miliknya Irwan. Teganya kamu...." Tante Sofie merutuk di tengah becandanya.
"Ya sudah tante tunggulah Naura sebentar." Aku menjawab lesu.
"Ditunggu ya dokter cantik." Begitu Irwan mengakhiri.
"Iya iya."
Aku kembali menatap mang Ridwan. Mataku juga awas mencari bang Zamy ke arah ujung-ujung jalan. Kutunggu hingga beberapa menit namun tak kunjung datang. Kucoba berkali-kali menelpon tak juga aktif. Sementara direktur sudah berkali-kali mengirim pesan.
"Bu dokter, acara kita ditunda jadi jam 10 ya, segera datang walaupun acaranya dimundurkan." Aku melirik pesan pak Direktur Rumah Sakit Depati Hamzah Pangkalpinang, pak Ram.
__ADS_1
"InsyaAllah pak." Aku mengetik pesan balasan.
"Jangan telat." Kembali pesan masuk dari beliau.
"Oke pak." Aku menjawab lagi.
"Buruan." Aku membaca saja pesan terakhir pak Ram tanpa berniat membalasnya. Aku keluar klinik dengan perasaan tidak karuan. Ingin sekali aku menjerit, menangis memanggil bang Zamy seperti masa SD dulu saat bang Zamy 3 hari mengikuti kegiatan pramuka tak pulang-pulang. Aku diantar ayah dan ibu ke lokasi karena sakit berpisah lama dengannya. Dulu aku sangat merindukannya. Sama seperti sekarang. Rasanya aku benar-benar merindukan kehadirannya. Aku merasa sangat menyesal menolak dia naik mobilku hanya karena takut merasa tidak nyaman dengan tante Sofie. Kususuri halaman klinik dengan langkah gontai menuju tempat mobilku di parkir. Tanpa kusadari aku menitikkan air mata. Aku bersalah, aku merasa sangat berdosa kepada abangku yang sangat menyayangiku dari kecil.
''Dedek angun..., dedek angun ibu angis..., dedek angun..., dedek angun dedek, iat tu ibu angis acian, angunlah Ula angunlah ibu angis....'" Terngiang-ngiang kembali cerita ibu. Betapa saat itu aku sudah tidak bernyawa lagi. Namun abangku terus saja mencoba membangunkanku. Dia seperti memang ditakdirkan untuk menjadi pelindungku. Namun aku malah selalu mengecewakannya. Air mataku menetes lagi. "Dedek angun..., dedek angun ibu angis..., dedek angun..., dedek angun dedek, iat tu ibu angis acian, angunlah Ula angunlah ibu angis....". Kata-kata itu semakin menggaung di telingaku. Sambil terus menangis aku menyeberang jalan di depan apotik karena mobilku parkir di sana. Tiba-tiba saja, dari arah sebelah kanan sebuah mobil Avanza hitam melaju dengan kencang. Aku terkesiap mati langkah. Lalu seketika ada tangan yang mendorongku dari belakang.
"Awas dokter!" Mang Ridwan berteriak dan terjerambab sehabis mendorongku. Aku segera bangun dan menolong mang Ridwan.
"Mang Ridwan, apa mang Ridwan terluka?" Aku memeriksa sekujur badannya. Alhamdulillah hanya lecet di kedua lutut dan telapak tangan.
"Tidak dokter. Dokter jangan ngelamun di jalanan, bahaya dokter." Mang Ridwan mengingatkanku. Aku mengangguk.
"Terima kasih mang, tanpa bantuan mang Ridwan entah apa yang telah terjadi. Ayo kuobati dulu lukanya." Aku mengajak mang
Ridwan kembali ke klinik.
"Eeeehhh nggak usah dokter. Nanti sesuai petunjuk dokter dulu, mamang akan bersihkan lukanya dengan air hangat bersih, lalu mamang obati sendiri. Kan di belakang ada kotak petigakanya." Mang Ridwan menolakku. Aku hanya mengangguk.
"Baiklah mang Naura ada acara di kantor, Naura pergi dulu." Aku berpamitan kepada mang Ridwan yang langsung pergi ke rumah utama setelah menutup pintu pagar depan klinik. Aku memutar arah, kembali ke jalan belakang Masjid Jamik untuk menjemput tante Sofie yang sudah berkali-kali menelponku.
***
5 menit kemudian, aku parkir di pinggir jalan depan rumah Irwan. Kukeluarkan hp dari dalam tas mau menelpon tante Sofie. Namun baru saja aku mau memencet panggil kulihat di depan pintu tante Sofie sedang memakai sendal hak tinggi. Dia mengenakan seragam PKK berwarna biru keputihan dengan jilbab masuk di kera baju. Tangannya menjinjing sebuah tas merah mahal. Wajah cantiknya nampak berseri-seri dengan lipstik merah merona. Alisnya lurus menanjak meliuk sekali membentuk lengkungan indah di ujung yang semakin mengecil. Alis cokelat kemerahan itu semakin menanda tante Sofie bukan orang kalangan sembarangan. Kulirik lagi cincinnya hampir memenuhi semua jemari tangan. Kupastikan kedua jari manis dan jari tengah masing-masing berisi 2 cincin besar. Kalungnya membandul-bandul sebesar kalung rantai para preman.
Aku membuka pintu dengan remote, tante Sofie tersenyum memandangku. Dia duduk dengan anggunnya, tas tangan diletakkannya di atas kedua paha.
"Maaf tante ya, Naura terlambat menjemput." Aku bicara sambil melajukan kendaraan. Tante Sofie lagi-lagi mengangguk. Kepalanya memutar ke arah mobil bagian belakang. Matanya sibuk melihat segala isi mobil.
"Nggak apa-apa Nora. Yang penting tante sudah dijemput dan bisa merasakan naik mobil mewah begini...." Matanya masih menatap ke segala penjuru mobil. Aku menepis pikiran buruk tentangnya yang terlalu glamor namun kelihatan kampungan.
"Lagian kita juga tidak terlambat tante. Jadwalnya dimundurkan jadi jam sepuluh." Aku menambahkan.
"Hah? Masa begitu?" Dia bertanya langsung.
"Iya barusan pak Dirut bilang." Saya melanjutkan.
"Ah Dirut itu. Siapa namanya, si Ram itu masa iya bisa jadi dirut. Sampah begitu. Ihhh...." Tante Sofie langsung misoh-misoh mengangkat bahu. Aku menatapnya sepintas.
"Memangnya kenapa dengan pak Ram tante? Pak Ram orangnya baik kok." Aku membela.
"Baik apanya? Mungkin pura-pura saja dia baiknya, biar bisa diangkat jadi dirut." Tante Sofie kembali bicara dengan nada membenci.
"Hemmzzz.... Nor...."
"Naura tante...."
"Iya iya Naura. Tante bilangin ya..., tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasiaaa...." Tante Sofie mendekatkan mulutnya ke arah kupingku. Padahal tidak mendekatpun suaranya sudah terdengan sampai radius 10 meter.
"Rahasia apa tante?" Aku sangat penasaran.
"Dulu itu, waktu si Ram masih jadi dokter biasa, dia sudah bertunangan dengan Mira. Pokoknya dari SMA mereka sudah bersama."
"Mira siapa tante?" Aku bertanya lagi.
"Itu tu pacarnya sih Ram...."
"Iya maksudnya dia itu siapa sekarang? Istrinya?" Aku menjelaskan pertanyaanku.
"Bukan. Nah mereka sudah berjanji mau menikah beberapa bulan lagi menunggu habis hari raya. Mira kerja jadi perawat di rumah sakit yang sama dengan Ram waktu itu." Tante Sofie diam, dia menatapku. Lalu terhenti sejenak sambil melihat ke hpnya.
"Terus tante?" Aku semakin penasaran. Karena dalam pandanganku yang merupakan rekankerja sekaligus bawahan beliau sangat profesional dalam bekerja. Punya loyalitas tinggi kepada bawahan.
"Nah terus seperti di film yang lagi heboh itu Nora. Film apa itu judulnya..., emmm.... yang kisah pelakor itu. Film Korea tu Nora.... Apa tu judulnya eh tante lupa...."
"Ya terus kenapa tante? Anggaplah filmnya judulnya ai loph yu." Aku bercanda. Tante Sofie melihat hapenya dengan serius. Kemudian dia bersorak girang.
"Nah ni ni judulnya The World of the Married Nora. Bedanya Ram sama Mira itu belum menikah, mereka masih pacaran. Pacarannya sudah lebih sepuluh tahun Nora, bayangkan. Maklum kan bagaimana orang yang sudah pacaran sepuluh tahun. Kenal semalam saja banyak yang sudah hem hem hem...." Tante Sofie bicara panjang sambil melirikku penuh arti.
"Nah terus tante?" Aku semakin penasaran dengan cerita tante Sofie. Prolognya terlalu panjang.
"Terus..., datanglah si Erlinda itu, mahasiswa magang yang rupanya anak Gubernur waktu itu. Ya..., begitulah tiba-tiba saja mereka dekat. Mulai bersama kemana-mana. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan si Mira kan? Dan puncaknya adalah Mira diputuskan sama si Ram, gak jadi menikahi Mira lalu menikahlah dia dengan Erlinda yang kau tahu Nora?" Tante Sofie kembali mendekatkan mulut ke kupingku.
"Erlinda itu tidak jadi wisuda sampai sekarang. Dia kebelet nikah.... Hahaaaa...." Tante Sofie tertawa. Aku bungkam dan seketika tersentak kaget. Terbayang wajah tante Erlinda yang sudah beberapa kali ke rumah menemui ayah dan ibu untuk menikahkan dokter Nina dengan bang Zamy. Aku ingat bang Zamy lagi.
"Ya Allah bang Zamy...." Aku tak sadar menggumam.
"Kenapa Naura? Zamy siapa? Kenapa dirimu tiba-tiba saja memanggil Zamy?" Tante Sofie serius menatapku.
"Ah tidak apa-apa tante...," Aku berdalih.
"Kita sudah sampai tante, Naura tidak bisa masuk ke tempat parkir jadi berhenti di aini saja, ini kok masih ramai begini padahal kan masih penerapan social distancing dari pemerintah." Aku memarkir mobil di depan jalan ke arah kantin. Tante Sofie turun dan langsung melambai-lambai ke beberapa orang ibu dengan pakaian yang sama dengannya. Sebelumnya tante Sofie mengenakan masker yang sepanjang jalan tadi dipegangnya saja.
__ADS_1
"Terima kasih tumpangannya Nora, nanti pulangnya tante bisa sama mereka." Tante Sofie segera bergabung dengan teman-temannya di bawah tenda halaman rumah sakit. Kulihat sekitar 30 an orang sudah duduk di sana. Akupun mendekat ke arah tenda. Di layar hpku pak Ram sudah memanggil. Aku tidak mengangkatnya karena aku sudah berjalan ke arah pak Ram duduk.
"Assalamualaikum pak...." Aku bersalam di dekat mereka. Kulihat di barisan depan dengan kursi berjarak sekitar 1 meter sudah ada pak walikota, direktur PT. Timah, tbk., Dokter Ricko dari RS.Bhakti Timah tempat kerja bang Zamy. Mereka duduk berderet paling depan di kursi VIP bersama pak Ram. Ada beberapa orang oknum kepolisian dan TNI juga BNPB Bangka Belitung juga hadir di sana. Beberapa orang rekan sejawat pun turut hadir.
"Waalaikumsalam bu dokter...." Mereka serentak berdiri menyambutku. Kami tidak bersalaman, hanya bersidekap saja tangan di dada. Dan tidak menunggu lama, akhirnya acara dimulai. Sambutan demi sambutan bergiliran terdengar. Lalu sesi demi sesi dilalui. Tampilan dengan infocus tentang pentingnya penggunaan masker dan APD yang disumbangkan pun cukup menyita waktu. Hingga tiba di sesi terakhir, sesi serah terima bantuan APD dari PT. Timah, tbk., secara simbolis. Aku berdiri di depan sebagai dokter penerima. Lalu seluruh kamera akan mengambil gambar pada momen itu. Esok hari fotoku dengan senyum termanis akan menghiasi media massa, baik cetak maupun elektronik. Karena sejak bekerja di sana saya, dokter Naura memang menjadi icon segala jenis publisitas rumah sakit. Termasuk poster besar saya di pintu masuk ruang pendaftaran dengan caption "Kejujuran Anda Membantu Diagnosa Kami."
***
Selesai mengikuti rangkaian kegiatan serah terima bantuan APD dalam memerangi covid-19 aku ingin segera istirahat. Tante Sofie bersama teman-temannya masih sibuk selfie-an di bawah tenda, beberapa undangan masih melanjutkan obrolannya. Sementara aku, berjalan gontai menuju mobilku. Namun baru saja hendak masuk mobil, kulihat orang-orang di bawah tenda tadi mendadak gaduh. Kulihat polisi, TNi dan beberapa orang yang tadi sedang berbincang membopong tubuh pak Ram. Aku mengurungkan niat segera pulang dan kembali ke keramaian.
"Pak Direktur pingsan!"
"Pak Ram jatuh!" Begitu aku mendengar suara beberapa orang. Aku segera menyusul, menuju ruang VIP, kulihat dokter Zein dan dokter Akmal tergopoh-gopoh menuju ruang VIP.
"Dokter Zein, dokter Akmal apa yang terjadi?" Aku menyusul langkah cepat mereka. Keduanya menoleh dan memperlambat langkah.
"Pak Direktur tiba-tiba pingsan." Dokter Zein menjawab.
"Sebelumnya beliau mengeluhkan nyeri perut dan punggung bersamaan sebelum pingsan." Dokter Akmal menambahkan.
"Aneurisme aorta...." Dokter Zein bicara lagi.
Tak lama kemudian kami sudah sampai di ruang VIP. Ade 5 dokter dan 2 perawat sudah di sana. Saya tidak masuk karena merasa tidak dipelukan di sana. Hanya menunggu di kursi luar ruangan. Tak lama berselang kulihat dokter Nina berlari dari ujung lorong dan masuk ke ruang VIP.
"Ayah..., yah..., ayah..., sadar yah...." Dokter Nina menangis.
"Dokter Zein, Dokter Ryan tolong ayah saya." Dokter Nina bicara.
"Iya dok, sabar saja. Kami akan melakukan pemindaian untuk memastikan lokasi, ukuran serta tingkat keparahan aneurisma aorta. Siapkan segera, kita lakukan CT scan." Dokter Zein menjelaskan dan memerintahkan.
"Apa iya mengarah ke sana?" Dokter Nina memastikan. Dia menyibakkan anak rambutnya yang sedikit berantakan. Aku melihat dari kaca luar. Bagaimanapun aku ingin tahu keadaannya. Dia atasanku di rumah sakit ini. Kemudian setengah berlari sampai pula tante Erlinda beserta 3 orang keluarga lainnya. Wajah tegang nampak tegang sekali.
"Tante...." Aku menyapa mereka.
"Bagaimana kabar bapak? Sudah siumankah?"
"Itu tanyakan di dalam tante.... Naura belum tahu juga." Aku menjawab. Tante Erlinda tidak bertanya lagi. Dia membuka pintu tempat pak Ram berada dan langsung memanggil suaminya.
"Pa bangun pa..., cepat sadar dong paaa.... makanya sudah mama bilang berkali-kali cepat periksa..., cepat periksa tapi papa malah santai terus...." Tante Erlinda mengomelkan orang yang sedang pingsan. Aku hanya menahan nafas menggelengkan kepala.
"Ibu dan yang lainnya silahkan tunggu diluar, kita mau melakukan tindakan ya bu...." Dokter Zein bicara ke tante Erlinda. Tak lama kemudian semua orang beejakan keluar, pintu dikunci, sementara di dalam hanya ada rombongan dokter Zein yang sedang bekerja.
"Gimana kabar kamu dokter?" Tiba-tiba saja tante Erlina sudah berpindah duduk di dekatku. Aku mengangguk, baru kusalami dia.
"Alhamdulillah sehat tante. Tante sehat?" Aku balik bertanya.
Alhamdulillah sehat. Tapi bapak memang sudah beberapa hari ini mengeluhkan sakit perut dan kadang sakit punggung. Saya sudah bilang agar segera periksa, iya iya saja jawabnya." Mata tante Erlinda terus menatapku. Aku hanya tersenyum walaupun senyumku tak terlihat karena memakai masker.
"Eh kamu sudah lama tidak tidur di rumah kenapa? Apa ada selisih paham sama Nina? Kalian itu harus akur lho ya. Bakalan jadi iparan kalau Nina sudah menikah sama Zamy." Tante Erlinda bertanya.
"InsyaAllah akur kok tan, Naura agak sedikit sibuk sekarang...." Aku mencoba menjelaskan.
"Iya ya, hebat kalian. Kliniknya laris manis. Kata si Nina ramai terus bahkan sampai malam masih ada yang datang berobat."
"Alhamdulillah tante." Aku menjawab. Tiba-tiba pintu ruangan VIP terbuka, seorang perawat keluar dan membawa berkas ke tante Erlinda, persetujuan tindakan.
"Bu kondisi pak Direktur sudah membaik, beliau sudah siuman, sekarang tim kami mau melakukan CT scan namun bapak juga kekurangan darah. Mohon keluarga bisa ke UTD agar bisa donor darah." Perawat Sundari menjelaskan.
"Okelah. Butuh kira-kira berapa kantong?"
"Persiapkan saja 2 kantong dulu."
"Oke." Tante Erlinda berdiri. Dia minta aku menemaninya. Dokter Nina juga ikut beserta 3 anggota keluarga lainnya. Aku menemani mereka menuju UTD. Kembali di jalan beberapa perawat dan rekan sejawat menegurku. Sesampainya di UTD aku menjelaskan kepada petugas jaga yang sudah tahu duluan kondisi pak Direktur. Namanya Direktur batuk pilek saja akan menjadi topik utama pembicaraan di sekitar rumah sakit. Apalagi kalau jatuh pingsan pas ada acara. Beritanya seketika menyebar. Aku duduk di dekat meja resepsionis menunggu mereka donor darah sambil memainkan hp. Tiba-tiba tante Erlinda berteriak keluar ruangan dan melemparkan alat tes darah.
"Bekerja harus profesional dong. Jangan sembarangan dengan data orang. Berbahaya tahu!" Tante Erlinda marah-marah kepada perawat jaga 2 orang yang berusaha menenangkan.
"Maaf ibu, tapi kita sudah melakukannya sebanyak 3 kali tes, hasilnya ya begitu...." Kulihat 2 orang perawat bicara menunduk ketakutan. Aku berusaha menenangkan tante Erlinda dengan mengajaknya duduk di kursi tunggu panjang. Dokter Nina masih di dalam ruangan beserta 1 anggota keluarga lainnya.
"Pergi ke dalam sana. Cek sekali lagi." Tante Erlinda masih marah-marah.
"Baik bu." Kedua perawat masuk lagi ke ruangan.
"Maaf tante, ada masalah apa kalau Naura boleh tahu?" Aku menepuk-nepuk pundak tante Erlinda. Dia menepuk jidatnya berkali-kali. Perlahan dia menatapku.
"Kau juga dokter Naura, bagaimana ini bisa terjadi? Golongan darah tante A, bapak juga A, tiba-tiba saja kok Nina golongan darah B. Ini tidak masuk akal. Aku ingat betul ketika dia masih di inkubator semalam habis dilahirkan, dia golongan darah A, waktu itu dia mengidap hyper bilurubinia. Makanya tante tahu. Kenapa tiba-tiba sekarang menjadi B." Aku terbelalak. Memang tidak masuk akal. Seharusnya kalau orang tua sama-sama golongan darah A kemungkinan anak akan berdarah A atau O, tidak mungkin B atau lainnya.
"Apa mungkin ada kesalahan pada sampel darahnya tadi tante. Atau ketukar dengan keluarga lainnya." Aku bicara ragu-ragu. Soalnya aku tahu kapasitas petugas di UTD ini. Mereka profesional dalam bekerja. Belum sekalipun kejadian mereka salah memberikan hasil cek darah.
"Sudah kuminta berulang kali dan hasilnya tetap B, dan Nina sendiri bilang memang golongan darahnya dari sejak dia periksa darah pertama kali waktu SMP memang B. Dan tante memang tidak pernah membahas soal ini." Tante Erlinda terdiam sesaat. Matanya menatap jauh seakan-akan mengingat-ingat sesuatu.
"Atau ada kemungkinan...." Tante Erlinda tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Apa mungkin...."
"Apa tante?"
__ADS_1
"Jangan-jangan omongan iblis betina itu beneran." Muka tante Erlinda seketika berubah merah padam. Dadanya naik turun menahan emosi. Aku hanya diam. Bingung dengan apa yang dikatakan tante Erlinda.
"Aku harus menemui wanita gila itu. Akan kuhancurkan hidupnya jika omongannya dulu benar terjadi." Dia mengepalkan tangan dan berlari menuju ke ruangan VIP kembali. Aku hanya bingung dan berusaha menyusul tante Erlinda bersama Nina dan tiga anggota keluarga yang bersamanya tadi.