Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 36 Sahur Romantis


__ADS_3

Tepat pukul 02.45 WIB alarm di handphoneku berbunyi. Aku terbangun dan merasakan masih seperti mimpi, aku tidur dalam selimut yang sama dengan dokter berperawakan tegap yang masih terlelap di sebelahku. Aku perlahan bangkit mendudukkan diri, mengucek-ngucek mata sembari membenarkan rambut dan mencoba mencari ikat rambut yang entah terselip dimana, namun setengah sadar bang Zamy menarik pinggangku dan kembali merebahkanku di lengan kirinya. Aku pun ikut terbaring lagi bersamanya. Tangan kanannya erat memelukku.


"Mau kemana sayang?" Dia bertanya kepadaku, sementara matanya masih terpejam. Aku tak menjawabnya, tangan kiriku malah memegang dagunya yang sedikit ditumbuhi jenggot. Kupencet dan kumainkan pula hidungnya yang mancung. Kutelusuri dengan jari telunjuk kiriku alisnya yang rapi. Alis yang membuat dia semakin tampak manly sekali. Kumainkan pula dengan ibu jari kiriku bibirnya yang begitu menggoda. Merasakan sentuhanku, perlahan matanya membuka. Dia mengecup keningku dengan lembut.


"Mau lagi?" Dia menanyaiku. Aku tersenyum menggeleng.


"Hanya iseng, rasanya spontan saja ingin menelusuri setiap lekuk wajahmu." Aku menjawab perlahan. Bang Zamy kembali menyibak rambutku.


"Apakah abang masih tampan di matamu?" Bang Zamy tersenyum bertanya padaku.


"Tidak!" Aku cepat menjawab.


"Abang tak tampan lagi?"


"Iya."


"Bukankah dari usiamu tiga tahun, kau selalu memamerkan ketampanan abangmu kepada teman-temanmu...?"


"Iya itu dulu...."


"Sekarang?"


"Kau sempurna di hatiku saat ini."


"Aaahhh...!" Bang Zamy berpura-pura pingsan mendengar gombalanku. Aku menutup mukanya dengan selimut lalu berdiri, turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Aku melaksanakan mandi wajib sesuai syariat Islam yang telah kupelajari jauh-jauh hari sebelum pernikahan terjadi.


"Tok! Tok Tok!" Aku mematikan kran air mendengar suara ketukan mendadak.


Tok! Tok Tok!" Ketukan kembali terdengar. Aku buru-buru menyelesaikan sikat gigi.


"Bee..., cepetan dong sayang, abang sudah tidak tahan nih...." Aku membuka pintu kamar mandi, dan mendapati bang Zamy sudah berdiri di atas keset kaki hanya dengan selembar handuk di pinggang.


"Abang kenapa?"


"Sakit perut..., mungkin masuk angin."


"Kurang banyak ACnya kali sayang." Aku terkikik sendiri karena tak ada jawaban lagi. Dia sudah bersemedi di kamar mandi.

__ADS_1


"Sekalian mandi ya sayang, adek mau menyiapkan makan sahurnya." Aku bicara di depan pintu selesai sholat malam dua rakaat. perlahan-lahan dari arah masjid, sudah ada petugas yang membangunkan sahur.


"Oke haniiii...." Terdengar sahutan dari dalam kamar mandi disela-sela suara jatuhnya air keran. Aku membuka pintu kamar dan menghidupkan lampu ruang keluarga juga lampu dapur. Kemudian memanaskan rendang ayam kampung kembali dan menumis sawi manis. Tak lupa menyiapkan sambal cabe ijo ikan teri. Susu hangat dua gelas pun telah pula tersaji. Sepiring buah kupas kukeluarkan dari kulkas. Dan menatanya di meja makan. Setelah semuanya selesai aku ke kamar lagi menemui laki-laki yang semalaman telah bersamaku.


"Baaang..., makan sahur yuk." Aku membuka pintu kamar, namun tidak mendapati bang Zamy di sana. Aku mengetuk pintu kamar mandi, tak ada juga sahutan di sana, aku langsung membukanya, tak ada siapa-siapa. Aku keluar kamar dan memanggil-manggil bang Zamy. Namun tak ada sahutan. Kulihat pintu dapur terbuka. Aku menghidupkan lampu samping dan terkejut mendapati dua ekor kucing berlarian karena kehdiranku.


"Bang Zamy!"


"Iya sayang abang di sini sama Fredy." Aku mendengar suara bang Zamy dari pos jaga.


"Ayo jangan malu-malu..., kita sahur bersama." Bang Zamy menggandeng Fredy dengan santainya.


"Sayang, sudah siap belum menunya?" Bang Zamy memanggilku. Aku tersenyum mempersilahkan Fredy masuk.


"Silahkan Dy, itu sudah siap menu makan sahur ala kadarnya." Aku mempersilahkan Fredy masuk. Bang Zamy menyendok nasi dan lauk bersiap makan. Fredy ikut mengambil nasi dan menu lainnya. Fredy tiba-tiba berdiri membawa nasi dan lauk pauknya.


"Maaf pak, buk dokter. Fredy bawa saja makannya ke pos. Lebih enak sambil berangin-angin." Fredy beralasan.


"Ih di sini saja kita sahur bareng...." Bang Zamy masih membujuknya. Namun Fredy sudah terlanjur turun dari teras samping dengan sepiring nasi di tangannya. Dia tidak membawa air. Aku telah membelikan cangkir plastik biasa, gelas kopi dan cangkir plastik sekali pakai untuknya. Ada dispenser dan galon juga di sana.


"Terima kasih sayang." Aku mengambil sendok di tangannya. Kusuapi pula sesendok dengan penuh rasa sayang. Kemudian bang Zamy mengambil sendok di piringnya. Kami mulai makan lagi. Sambil makan tangan kirinya sesekali mengelus rambut, menepuk pundakku secara halus atau menggelitik pinggang yang membuatku kegelian. Sesekali juga dia membahas aksi kami tadi malam. Aku segera mengalihkan pembicaraan jika sudah sampai ke situ, aku masih merasa malu mengingatnya. Tetapi aku merasakan inilah kebahagiaan sebenarnya. Merasakan benar-benar dicintai sepenuh hati oleh laki-laki yang sangat kusayangi semenjak kecil dahulu. Debaran hangat terus saja kurasakan ketika bersamanya, meski tidak disertai nafsu.


"Hari ini yuk Mairoh belum masuk?" Bang Zamy bertanya sehabis makan.


"Belum sayang, katanya tiga hari." Aku menjawab sambil membawa piring kotor ke wastafel. Bang Zamy mendekatiku.


"Adek tunggu saja di kursi. Biar abang yang cuci piring." Bang Zamy mengecup keningku lagi.


"Ah yang bener?" Aku tersenyum menggoda.


"Demi istri tercinta, apapun abang rela...."


"Oh so sweeetttt banget...." Aku menimpuk bahunya dengan tinjuku berkali-kali, pelan dan penuh rasa sayang. Kupeluk dia sambil memejamkan mata. Bang Zamy tersenyum sambil meneruskan mencuci piring, perlahan aku melepaskan pelukan, dan mengambil serbet lalu mengelap meja makan. Sahur pertamaku dengan status baru sebagai seorang istri dokter Zamy, wakil direktur muda sebuah rumah sakit bonafit, priayang tampan, berkharisma, idaman banyak kaum hawa.


"Yaaanggg...." Bang Zamy memanggilku setelah melepas celemek di badannya. Dia mengelap tangan dengan lap handuk kecil bersih yang digantung dekat tempat cuci piring.


"Kenapa?" Aku menjawab sambil menatapnya.

__ADS_1


"Nanti abang boleh ke kantor tidak? Kata bu Lidya banyak laporan yang harus abang tandatangani." Bang Zamy menatapku.


"Hemzzz..., bukannya masih cuti?" Aku sedikit tak enak hati.


"Iya sih. Tapi abang berpikir bagus juga kalau abang ke kantor seharian. Nanti pulang jam tiga deh, jemput adek, terus kita nyari takjil." Bang Zamy bicara sambil mendekatiku. Aku diam dengan muka tanpa ekspresi.


"Kok cuti-cuti malah bagus di kantor?" Aku heran mendengar kalimatnya.


"Iya, abang takut tidak bisa menahan gejolak sesuatu jika terus bersama bidadari seharian. Masa iya hari pertama puasa langsung wajib bayar kifarat... hehe...." Bang Zamy mencium kepalaku. Aku tersenyum, mengerti maksudnya ingin pergi kerja di hari cuti. Terpikirkan olehku, memang bukan waktu yang pas untuk menikmati bulan madu di bulan ramadhan.


"Oke deh tapi jam tiga ya, jam tiga sudah di rumah." Aku mengancam dengan jariku.


"Iya nyonya..., siap! InsyaAllah jam tiga sudah di rumah."


"Terus nanti adek ngapain seharian? Oh tidak apa-apa, adek mau ajak Nisa sama mbak Nindy ke Istana Mebel." Aku menjawab sendiri pertanyaanku. Bang Zamy tersenyum saja.


"Cari apa ke sana?" Dia bertanya.


"Banyak."


"Waaawww...."


"Iya banyak yaaanggg..., lemari di kamar Nisa dan Mbak Nindy, juga kamar tante Mira mau diganti. Lemari dan tivinya juga mau diganti. Meja belajar Nisa, kursi santai buat tante Mira, Nantilah..., banyak pokoknya, adek juga mau beli meja hias...."


"Hemzzz..., mau pegang ATM abang?"


"Pegang doank...???"


"Ya nggak lah sayang, pakai buat belanja. Pinnya bulan dan tanggal lahir wanita yang sangat abang sayang."


"Tanggal lahir ibu? Berapa?"


"Tanggal lahirmu honeeeyyy...."


"Hemzzz..., masa wanita tersayangnya adek? Harusnya ibu dong." Aku menggodanya.


"Ibu itu urutan pertamanya segala ter. Tersayang, tercinta, terbaik, ter ter ter ter segalanya." Bang Zamy menjawab. Kami berjalan ke kamar lagi, aku merapikan tempat tidur, bang Zamy dengan hapenya, membaca beberapa artikel. Lima menit kemudian, suara sirene panjang telah terdengar, pengurus masjid memberitahukan bahwa sudah masuk waktu imsak. Suara adzan perlahan mengiringi. Bang Zamy bangkit, melepaskan hpnya, berdiri mengambil kain sarung, mengganti baju, mengambil kopiah dan berpamitan pergi ke masjid. Suara kokok ayam perlahan terdengar. Aku pun bergegas untuk sholat Subuh. Pagi segera datang.

__ADS_1


__ADS_2