Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 46 Mama Melewati Batas


__ADS_3

Sabtu pagi di kota Muntok


Sehabis sahur, kami tidak ada lagi yang tertidur, ayah, bang Zamy dan bang Rahman telah bersiap ke masjid untuk sholat Subuh. Sepulangnya mereka dari masjid, kami kumpul seperti biasa di ruang keluarga menikmati pagi sambil bercengkerama.


"Maafkan ibu ya Man karena telah membuat kalian putus." Ibu bicara kepada bang Rahman yang bersandar santai di sofa.


"Tidak masalah bu, antri kok yang mau sama bang Rahman. Kepalang ibu sudah menyeleksi, kita tunggu sampai ada yang benar-benar menerimanya apa adanya, termasuk masa lalunya." Aku menjawab.


"Bettooolll...!" Bang Rahman mengacungkan kedua jempolnya ke arahku.


"Kamu nggak marah kan sama ibu?" Ibu masih saja khawatir. Dia berpindah duduk mendekati bang Rahman.


"Lha nggaklah bu. Masa gitu doang marah? Masih ada serep kok." Bang Rahman berdalih.


"Iya laki-laki itu prinsipnya mati satu tumbuh seribu kan Man?" Ayah menimpali.


"Enak saja." Ibu memukul paha ayah mendengar ayah berbicara.


"Lha kalau satu pergi, cari lagi dong yang lain." Ayah protes.


"Zamy setuju sama ayah." Bang Zamy menimpali, ibu semakin mengomel tidak jelas lagi. Aku hanya tersenyum saja.


*****


Jam enam pagi, kami semua bersiap untuk jogging, bang Zamy telah menyiapkan mobilnya. Meski puasa kami tetap wajib berolahraga, tetapi mengurangi porsinya. Bang Rahman telah kabur ke pasar Muntok, seperti biasa, meski dia sudah ada langganan tukang antar ayam, dan ikan-ikan bagus, sesekali bang Rahman mencari-cari lagi ikan untuk keperluan restonya di pasar Muntok. Lima menit perjalanan, akhirnya kami olahraga di lapangan gelora. Ada beberapa orang yang sudah berlarian di sana. Para pesepeda juga ada beberapa, bercampur anak-anak dan dewasa. Lapangan Gelora ini adalah lapangan terbesar di kota Muntok. Tidak pernah sepi di hari libur. Merupakan tempat yang paling sering dijadikan tempat untuk kegiatan-kegiatan besar. Hampir setiap Sabtu Minggu jika bukan di masa pandemi corona, lapangan ini disulap menjadi pasar malam. Di lapangan ini pula, tempat masa kecil kami biasa menghabiskan hari libur. Naik odong-odong, naik halilintar, naik sarang burung, masuk rumah hantu, menonton motor cross dalam ruangan sempit, makan sosis bakar, bakso tusuk, mengunyah gulali ataupin jajan aneka jualan di pinggir-pinggir acara. Aku masih ingat dulu, ayah menggendongku di atas tengkuknya menyaksikan sulap. Tetapi karena terhalang tubuh orang-orang aku tidak dapat melihatnya. Makanya ayah menaikkanku di atas lehernya. Sementara ketiga kakakku, menyelip-nyelip dan dapat tempat selalu paling depan. Setelah pulang dari sana, kami biasanya akan berceloteh sampai tertidur.


****


Sehabis jogging, kami menyusuri keindahan laut di Tanjung Kalian. Angin pagi sepoi-sepoi masih terasa sangat menyegarkan. Menatap ombak menerpa kerangka kapal Australia yang karam di masa perang dunia ke dua. Saat kami sedang bersantai duduk di pondok datang dua orang remaja tanggung menawarkan ikan hasil pancingan mereka. Ada 3 ekor ikan gerut-gerut besar. Selebihnya ikan gulame selebar tiga jari tujuh ekor.


"Buk beli ikan?" Mereka menawarkan ke ibu. Ibu langsung memegang ikan besar mirip ikan emas itu, masih lengket kelumas asli ikan baru dari laut.


"Berapa? Ini yang tiga ekor gerut-gerut ini saja. Ikan gulame kalian bawa saja." Ibu bicara.


"Berapa saja deh buk." Remaja yang memegang ikan itu menjawab.


"Lho jualan kok berapa saja sih." Ibu tersenyum.


"Seratus lima puluh lah buk semuanya. Itu seekornya pasti lebih satu kilo...." Salah satunya lagi menawarkan.


"Iya deh." Ibu mengiyakan saja. Ikan dikasihkannya ke ibu. Ibu meletakkan ke dekatku duduk. amisnya begitu tercium. Perutku seakan mau mengeluarkan semua yang kumakan sahur tadi. Kucoba menahan agar tidak muntah dengan menelan air ludah. Bang Zamy melihatku, dia segera menyingkirkan ikan di sebelahku. Digantungnya di tiang pondok.


"Yah, mana dompet ayah?" Ibu menadahkan tangan ke ayah yang seketika berdiri. Ayah langsung mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan dan langsung memberikannya ke salah satu remaja itu, membiarkan tangan ibu kosong melompong yang akhirnya diturunkannya sendiri sambil berdecak geli.


"Ini dik, sisanya, om infaq buat kalian berdua." Ayah bicara sambil tersenyum.


"Ini dibawalah juga ya om." Mereka meninggalkan ikan gulame yang tadi ibu tidak inginkan.


"Dibawa saja dik, beneran di rumah semua kurang suka makan ikan gulame." Ibu memberikan kembali ikan dimaksud. Mereka mengambilnya lagi dan berterima kasih lalu pergi.


"Wawww..., ini nanti buat menu berbuka, Naura suka sekali makan kepalanya di masak 'lempah kuning' (makanan khas Bangka)." Ibu berdiri mengambil lagi ikan yang digantung bang Zamy. Aku pun kembali mencium bau amis luar biasa. Kepalaku puyeng, aku tidak bisa menahan muntahku lagi kali ini. Aku berdiri, menjauh ke belakang dan menunduk.


"Whuaakkk...!!! Whuaakkk...!!! Whuuaaakkk...!!!" Mataku berair, bang Zamy berlari ke mobil dan mengambil dua botol air mineral. Ibu mendekatiku, menggosok-gosok tengkukku.


"Minum sayang, berbukalah dan jangan puasa lagi." Bang Zamy nampak khawatir. Dia bahkan menumpahkan air di botol ke tangan kanannya, lalu mencuci mulutku hingga bersih. Setelah itu dia mengeluarkan sapu tangan yang sudah depakainya mengelap keringat, lalu mengelapkan ke wajahku.


"Minum Bee..., minumlah sayang...." Bang Zamy memberikan botol yang baru dibukanya.


"Dari semalam sih ibu mengajaknya dia test pack. Tapi gak jadi gara-gara Zamy sih tidur pulas di pangkuannya..., Anakku, eh menantuku sepertinya sudah hamil. Alhamdulillah ya Allah, aku akan segera pensiun dan miliki cucu lagi..." Ibu memelukku dari belakang, dia begitu bahagia walaupun masih saja sempat ngoceh. Ayah diam saja dengan senyumnya yang berkharisma. Bang Zamy tersenyum menatapku. Dia membuang botol ke tempat sampah.

__ADS_1


"Ayo kita segera pulang saja. Nanti terlalu panas." Ayah mengingatkan.


"Ikannya taruh di bagasi saja. Buntel lagi dengan kantong kresek." Ayah kembali menambahkan. Ibu memegang tanganku menuju mobil. Aku masih merasa agak puyeng duduk di kursi tengah dekat ibu. Ibu memelukku.


"Nggak apa-apa sayang. Mulai besok jangan puasa lagi. Fokus ke badanmu dulu." Ibu menasihati. Aku hanya diam.


"Naura belum pasti hamil bu, mungkin hanya masuk angin biasa." Aku menjawab. Ayah dan bang Zamy sudah masuk mobil pula. Saat duduk di kursi sopir bang Zamy menatapku. Lalu dia meraba di laci depan ayah ada beberapa buah permen kopiko. Diambilnya satu, dibuka bungkusnya, diulurkan kepadaku.


"Nih mau permen?" Mau tidak mau aku pun mengambilnya. Kalau tidak kuambil akan sangat mubazir karena semuanya sedang berpuasa. Kuambil dan secepatnya kumasukkan ke mulutku. Lega rasanya bisa menikmati bau kopi setelah sebelumnya dadaku naik turun menahan bau karena bau amis ikan. Kami segera pulang.


*****


Sesampainya di rumah, bude Marni sudah selesai mencuci piring, dan menyapu rumah.


"Neng dokter apa kabarnya? Sehat kan?"


"Alhamdulillah bude sehat."


"Eh, sudah isi belum?" Bude berbisik kepadaku. Aku hanya tersenyum, dan segera masuk ke kamar tanpa memberikan jawaban yang jelas kepada bude Marni. Bang Zamy sudah menungguku dengan sensitif di tangannya.


"Ayo memastikan saja. Nanti sampai klinik kita USG." Bang Zamy memelukku erat sekali. Aku melepas jilbab dan mengikutinya ke kamar mandi. Dia sudah siap dengan penampung urine.


"Sini adek sendiri saja. Abang tunggu di luar." Aku merasa risih juga dibuatnya.


"Ah nggak apa-apa sayang." Bang Zamy kekeh. Akupun kencing dan memberikan untuk dites. Bang Zamy dengan semangatnya perlahan membuka bungkus sensitif strip lalu tanpa perlu membaca petunjuk lagi, dia mencelupkan ujung bagian secara vertikal. Dan tidak menunggu lama, warna basah pada alat tes secepatnya naik, merah pertama lewat, detik berikutnya muncul garis merah kedua. Bang Zamy spontan memelukku.


"Terima kasih sayang." Dia menciumiku berkali-kali. Ada air mata haru menetes di pipiku dan pipinya. Kemudian dia melepaskanku dan berlari ke dapur.


"Ibuuu...." Ibu yang berdiri dekat wastafel sama bude Marni kaget.


"Kenapa Zam?"


"Terima kasih nak. Ibu bakal segera punya cucu dari kalian...." Ibu berair mata. Begitu bahagianya ibu sampai sesenggukan. Bude Marni bingung dan menghitung-hitung dengan jarinya.


"Tapi kok cepat amat tho neng dok? Belumlah dua minggu nikah kok sudah hamil?" Bude Marni masih kebingungan.


"Top cerrr bude. Hehe...." Ibu menjawab sambil terisak haru.


"Anakmu tapi kan Zam? Eh maaf kelepasan. Maaf neng dok maaf maksud bude itu anak sudah menikah kan bikinnya eh kelepasan lagi. Maaf maaf maaf buk maaf neng, maaf abang...." Bude menampar mulutnya sendiri karena latahnya kumat. Aku tidak tersinggung mendengar pertanyaan bude Marni. Wajar saja jika orang awam seperti bude Marni akan mencurigai kehamilanku yang baru belum genap dua minggu menikah. Namun untuk orang medis seperti bang Zamy, mereka paham betul bahwa usia kehamilan itu dihitung berdasarkan hari pertama menstruasi terakhirku, dan bukan dihitung berdasarkan tanggal kami menikah atau tanggal aku berhubungan intim dengan bang Zamy.


"Iya bude. Itu anak Zamy. Anak kita berdua di dalam pernikahan yang sah."


"Maaf nak maaf bukan maksud...."


"Iya nggak apa-apa bude. Ini terjadi karena masa suburnya Naura pas banget saat kami menikah." Bang Zamy menepuk-nepuk bahu bude Marni yang masih merasa bersalah dan malu. Bude Marni hanya mengangguk-angguk tanpa berani bicara lagi. Ayah ikut ke dapur dan bersyukur ketika mendengar kabar menggembirakan ini. Di tengah-tengah kabar menggembirakan, tiba-tiba handphone bang Zamy berdering. Dia menjauh untuk menjawabnya. Sekitar lima menit dia bicara di garasi dengan seseorang, aku melihat raut wajah bang Zamy berubah. Dia menarik lembut tanganku menuju ke kamar.


"Ada apa bang?" Aku sedikit takut. Bang Zamy menatapku.


"Bee..., surat-surat berharga yang dari pegadaian ditaruh dimana?" Setengah berbisik bang Zamy bertanya.


"Adek taro di laci lemari tengah paling bawah. Kuncinya adek selipkan di kantong jaket biru yang digantung di lemari sebelah kanan." Aku menjelaskan dengan pasti. Karena setelah pulang kerja, malamnya bang Zamy memberikan surat yang lainnya, langsung kusimpan semua di sana, bergabung dengan dokumen lainnya. Tidak mungkin salah.


"Apa yang terjadi bang?" Kenapa?" Aku antusias bertanya. Bang Zamy menarik nafas berat.


"Barusan Diki menelpon dan mengabarkan mamamu sekarang ada di pegadaian." Bang Zamy menjawab datar.


"Sabtu pegadaian buka?" Aku memotong.


"Buktinya ini."

__ADS_1


"Memang kenapa dia di sana?" Aku bertanya lagi.


"Iya anehnya ini kata Diki, mamamu membawa semua dokumen emas yang kita beli, katanya mau diuangkan semua. Setelah mereka cek, semua dokumen berhologram asli." Bang Zamy nampak agak emosi.


"Lha darimana mama tahu? Bagaimana dia bisa masuk?" Aku heran sendiri mendengarnya. Lantas kuambil hp dan mencoba menelpon mama, namun rupanya nomorku sudah diblokir. Aku mencoba menghubungi papa.


"Iya nak kenapa."


"Pa, papa dimana sekarang?"


"Papa di rumah saja nak. Kenapa?"


"Apa ada yang datang ke rumah selagi kami ke Mentok kemarin?"


"Iya ada. Wanita gila itu sudah keluar rumah saat papa masuk. Katanya dia mencari dokumen ruko. Rupanya dia baru tahu ada aset ruko atas nama papa. Tapi tidak papa kasih, dia kemudian pergi begitu saja."


"Kapan pa?"


"Subuh-subuh tadi. Papa kan habis Sahur langsung ke masjid. Papa kunci pintu, kuncinya papa taro di belakang pot kembang yang besar. Papa tutup lagi dengan sepasang sandal."


"Owh."


"Kenapa nak? Apa yang terjadi?"


"Nanti kami ceritakan pa. Sudah dulu ya." Aku mengakhiri telpon dengan papa. Tidak salah lagi, dia pasti kembali lancang masuk rumah, dan mengobrak abrik semua yang dia temukan. Mama sudah sangat keterlaluan. Aku tidak akan memberikan pengampunan lagi. Jika tidak dihentikan, dia akan terus berbuat sesuka hatinya, tanpa memikirkan itu menyakitkan orang lain atau tidak. Mama sama saja. Dia tak akan pernah lagi berubah.


"Terus bagaimana tanggapan pihak pegadaian?" Aku bertanya lagi.


"Abang sih bilang tunggu sebentar, bagaimana tindak lanjutnya. Mereka lagi beralasan menyiapkan berkas. Untuk kembali ambil untuk diuangkan sekarang mereka bilang tidak bisa, karena sesuai sistem harus menunggu minimal tiga bulan. Jadi mereka mengulur waktu dengan alasan yang bisa dilakukan dalam kurun waktu kurang tiga bulan hanya perubahan nama. Dan mamamu setuju untuk itu, merubah atas namanya." Bang Zamy gelisah menjelaskan.


"Jadi bagaimana tindak lanjutnya sekarang bang?" Aku bertanya cemas.


"Abang menunggu persetujuanmu saja sayang. Jika boleh kita beri pelajaran. Kita laporkan saja melalui petugas pegadaian. Diki setuju untuk menelpon polisi karena ada dokumen mencurigakan. Kalau sudah dilapor, polisi bisa segera menangkap mamamu atas nama pencurian dan penipuan." Bang Zamy perlahan berbicaranya. Mungkin dia mencoba agar aku tidak menjadi marah.


"Adek setuju agar mama segera dilaporkan saja. Adek sudah jengah, didiamkan dia semakin melunjak. Dimaafkan dia mengulang kembali. Tingkah lakunya sungguh tidak beradab lagi. Terlalu lancang perbuatannya memasuki dan mengobrak abrik isi kamar meski aku anak kandungnya. Sikapnya sungguh mengecewakan. Berilah dia pelajaran, silahkan penjarakan saja agar dia tidak lagi mengganggu papa dan semuanya." Aku menjadi emosi. Entah apa yang bisa membuat mama bisa kembali menjadi 'manusia'. Semuanya seakan harus dalam kendalinya. Mungkin itu salah satu faktor yang membuat dokter Nina menjadi dokter cantik namun kurang jiwa sosialnya kepada sesama rekan sejawat.


"Kamu yakin Bee?"


"Iya." Aku menjawab pasti. Kemudian bang Zamy segera menghubungi Diki kembali dan menyampaikan agar menahan semua surat berharga yang sudah dicuri mama. Setelah bernegosiasi berdua, kami putuskan untuk segera pulang hari ini, membatalkan rencana untuk pulang sehabis sahur di hari Senin.


"Ibu, ayah kami berdua ada sedikit masalah dengan ibu kandungnya Naura. Jadi mohon pamit untuk pulang sebentar lagi." Bang Zamy menemui ayah dan ibu yang sudah duduk di ruang keluarga.


"Kenapa mendadak sekali?" Ayah bertanya.


"Baru dapat infonya barusan." Bang Zamy menjawab.


"Hadooohhh..., kenapa sih maaf nak ya, kenapa mamamu itu selalu membuat keributan sih?" Ibu jengkel mendengar kami berpamitan.


"Nggak tau bu, mungkin memang sudah wataknya. Naura juga bingung melihatnya." Aku menjawab dengan nada kesal juga.


"Ya sudah, semoga masalah kalian cepat selesai, dan sementara kehamilan Naura masih di triwulan pertama tidak usah pulang dulu ke sini, biar ayah dan ibu yang ke sana." Ayah menjawab bijaksana.


"Oke yah. Terima kasih." Aku segera ke kamar, merapikan kamar, menata kembali pakaian ke dalam koper. Pakaian kotor dan basah yang sudah dicuci bude Marni semua masuk kantong. Dan setelah hampir sejam bersiap, akhirnya kami pun pulang ke Pangkalpinang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Hati-hati Zamy jangan ngebut ya." Ibu berkali-kali mengingatkan.


"Iya bu."


"Sehat-sehat ya cucuku. Nanti ketemu sama oma...." Ibu memeluk dan juga meraba perutku. Aku menjadi malu sendiri. Dan akhirnya jam 10 lebih, kami berbertolak dari Mentok menuju ke Pangkalpinang.

__ADS_1


****


__ADS_2